Anda di halaman 1dari 6

SURAT KEPUTUSAN

No.
TENTANG KEBIJAKAN
PENULISAN RESEP MEMUAT 7 ELEMENT
DIREKTUR RS PERMATA KELUARGA LIPPO CIKARANG

MENIMBANG : a. Bahwa dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan Rumah Sakit


Permata Keluarga Lippo Cikarang, maka diperlukan penyelenggaraan
pelayanan Farmasi yang bermutu tinggi;
b. Bahwa agar pelayanan Farmasi di Rumah Sakit Permata Keluarga
Lippo Cikarang dapat terlaksana dengan baik, perlu adanya kebijakan
Direktur Rumah Sakit Permata Keluarga Lippo Cikarang,
c. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam a
dan b, perlu ditetapkan dengan keputusan Direktur Rumah Sakit
Permata Keluarga Lippo Cikarang.
MENGINGAT : a. undang-undang Republik Indonesia nomor 36 tahun 2009 tentang
kesehatan.
b. undang-undang Republik indonesia nomor 44 tahun 2009
tentang Rumah Sakit.
c. keputusan menteri kesehatan Republik Indonesia nomor
1197/MENKES/ SK/X/2004 tentang standar pelayanan kefarmasian di
rumah sakit.

MEMUTUSKAN
MENETAPKAN :
PERTAMA : keputusan direktur rumah sakit permata keluarga lippo cikarang tentang kebijakan
penulisan resep memuat 7 element
KEDUA : kebijakan penulisan resep memuat 7 element dirumah sakit permata keluarga lippo
cikarang sebagaimana tercantum dalam lampiran keputusan ini
KETIGA : keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkannya, dan apabila dikemudian hari ternyata
terdapat kekeliruan dalam penetapan ini akan diadakan perbaikan sebagaimana
mestinya.
LAMPIRAN

KEBIJAKAN PENULISAN RESEP MEMUAT 7 ELEMEN

Elemen pemesanan / penulisan resep yang lengkap :

1. Data identifikasi pasien yang akurat


2. Elemen dari pemesanan/penulisan resep.
3. Bilamana nama generik atau nama dagang diperlukan
4. Prosedur khusus pemesanan obat LASA
5. Tindakan yang harus diambil bila pemesanan obat tidak lengkap, tidak terbaca, atau tidak jelas.
6. Jenis pemesanan tambahan yang diijinkan seperti pada pesanan dan setiap elemen yang dibutuhkan
dalam pemesanan yang emergensi, dalam daftar tunggu (standing) automatic stop
7. Pemesanan obat secara verbal atau melalui telepon : write back, read back, reconfirmation.

Penjelasan :

1. Identifikasi data pasien :


a. Rawat inap : Nama lengkap, TTL, Nomor rekam medis, diberi gelang identitas pasien.
b. Rawat jalan : Nama lengkap, Nomor rekam medis.
2. Elemen penulisan resep
a. Identifikasi dokter : Nama, SIP, alamat rumah dan praktik, NO. Telepon, Hari & jam
praktek.
b. Inscriptio : Nama kota tempat praktek, tanggal penulisan resep.
c. Invocatio : Tanda R/ sebagai tanda pembuka penulisan resep.
d. Praescriptio / Ordinatio : Nama obat, jumlah & kekuatan obat, cara pembuatan, bentuk
sediaan obat yang dipilih dan jumlahnya.
e. Signatura : Aturan penggunaan obat (frekuensi, jumlah perkali pakai, waktu obat
diminum, dan informasi lain yang diperlukan)
f. Identifikasi pasien : Nama pasien pada bagian “pro”, bila penderita anak-anak atau
lansia perlu dituliskan umurnya, sebaiknya cantumkan pula berat badan pasien dan
alamat pasien.
g. Penutup : Tanda penutup dan tanda tangan dokter penulis resep.
3. Nama Generik atau nama dagang diperlukan
a. Obat generik digunakan untuk pasien BPJS dan pasien Trauma Center.
b. Obat nama dagang digunakan untuk pasien PT dan pasien Asuransi.

4. Prosedur khusus pemesanan obat LASA.


LASA (Look alike Sound Alike), obat yang memiliki kemasan mirip atau obat yang memiliki
nama terdengar mirip. Contoh : Ceftazidime vs Cefepim, Calme Eye Drops vs Calme Ear Drop
(kemasan mirip), Proneuron vs Forneuron, Klorpromazin vs Klorpropamid.
PENANGANAN :
a. Permintaan tertulis :
1. Tambahan merk dagang dan nama generiknya pada resep, terutama untuk obat-obat
yang “langganan” bermasalah.
2. Tulis secara jelas menggunakan huruf tegak kapital.
3. Hindari singkatan-singkatan yang membuat bingung.
4. Tambahkan bentuk sediaan juga di resep, misalnya Levofloxacin 500 mg; sediaan tablet
dan infusnya sama-sama 500 mg.
5. Sertakan kekuatan obat.
6. Sertakan petunjuk penggunaan.
7. Tambahkan juga tujuan/indikasi pengobatan, supaya semakin jelas.
8. Pihak dokter yang meresepkan obat diharapkan menulis nama obat yang dapat dibaca
dengan jelas oleh pembaca resep, atau menggunakan fasilitas resep yang dicetak
elektronik tanpa tulis tangan jika memang sudah tersedia.
9. Menggunakan tall-man lettering, penebalan, atau warna huruf berbeda pada pelabelan
nama obat, misalnya :
CefOTAXIM vs CefTRIAXON
InTRIZIN vs IntERZINC
MefiNAL vs MefiNTER, dsb
b. Permintaan Lisan.
1. Batasi permintan verbal, hanya untuk obat-obatan tertentu, misalnya hanya dalam
keadaan emergency.
2. Sebisa mungkin menghindari order obat secara lisan terutama melalui telepon,
kemungkinan kesalahan mendengar sangat tinggi.
3. Diperlukan teknik mengulang permintaan, dibacakan lagi permintaannya, jadi ada
kroscek.
c. Bagi tenaga kesehatan
1. Apoteker mengidentifikasi obat yang diresepkan dengan teliti, disesuaikan dengan
nama dagang, nama generik, indikasi, serta kekuatan sediannya.
2. Apoteker mengetahui dengan pasti persediaan obat-obatan yang termasuk kategori
LASA.
3. LASA disimpan dengan jarak yang berjauhan satu sama lain.
4. Tidak menyimpan obat-obat LASA secara alfabet, tetapi di tempat terpisah, misalnya
obat fast moving.
5. Cocokkan indikasi resep dengan kondisi pasien sebelum dispensing atau administrating.
6. Membuat strategi pada obat yang penyebab errornya diketahui, misalnya pada obat yang
kekuatannya berbeda atau pada obat yang kemasannya mirip.
7. Laporan error yang aktual dan potensial (berpeluang terjadi error)
8. Diskusikan penyebab terjadinya error dan strategi ke depannya.
9. Sewaktu penyerahan, tunjukkan obat sambil memberikan informasi, supaya pasien
mengetahui wujud obatnya dan untuk mereview indikasinya.
10. Di rumah sakit, panitia farmasi dan terapi (PFT) bisa membuat kebijakan untuk obat-
obat ini. Misal, aturan penulisan obat atau logo obat-obat LASA.
5. SOP bila resep tidak terbaca atau tidak jelas
a. Resep yang diterima oleh petugas apotek dilakukan identifikasi kelengkapan resep, yaitu :
- Tanggal resep, nama dokter, nomor resep, nama pasien, tanggal lahir pasien.
- Aturan pakai (frekuensi, dosis, rute pemberian) ditulis dengan jelas.
- Resep obat dari golongan Narkotika dan Psikotropika harus dibubuhi dengan tandatangan
yang lengkap, alamat & nomor telepon yang dapat dihubungi dari dokter yang menuliskan
resep.
- Tidak menggunakan istilah dan singkatan sehingga mudah dibaca dan tidak
disalahgunakan.
b. Resep yang kurang jelas penulisannya didiskusikan terlebih dahulu bersama staf apotek dan
membaca hystori pengobatan pasien.
c. Jika resep belum jelas maka apoteker mengkonfirmasikan ke nurse station dan meminta perawat
yang menangani pasien tersebut agar melihat status pemberian obat.
d. Jika resep belum jelas maka menghubungi dokter untuk memperoleh kejelasan resep.
e. Apabila dokter tidak dapat dihubungi maka dapat menghubungi ke Manager Pelayanan dan
Penunjang Medik untuk selanjutnya meneruskan informasi ke dokter atau dokter jaga apakah
resep tersebut obatnya harus diganti.
f. Apabila sudah mendapatkan kejelasan dari dokter, maka perawat secepatnya mengkonfirmasikan
resep ke instalasi farmasi untuk segera dilayani dan disiapkan obatnya.

6. Jenis pemesanan tambahan yang diijinkan.


a. RS mengidentifikasi petugas yang kompeten yang diijinkan untuk menuliskan resep atau
memesan obat-obatan.
b. Dalam situasi emergensi, RS mengidentifikasi petugas tambahan yang diijinkan untuk
menuliskan resep/pesanan obat.
c. Obat yang diijinkan bila elemen resepnya lengkap :
- Obat emergensi . Epinefrin, Lidocain, Sulfas Atropin, Ephedrin. Resep emergensi (darurat)
diberi tanda CITO ! atau cito (digaris bawahi atau diberi tanda seru) pada bagian atas resep
diparaf. Selain CITO, bisa juga menggunakan URGENT (penting), STATIM (penting),
atau PIM (Periculum In Mora = berbahaya bila ditunda)
- Obat automatic stop order (Narkotik, sedatif, hipnotik, antikoagulan). Obat-obat ini harus
jelas aturan pakainya, bila saat penggunaan tidak sesuai dengan aturan pakai, apoteker
dapat menghentikan obat.

7. Pemesanan obat secara verbal atau melalui telepon


a. Tuliskan pesanan obat yang disampaikan oleh staff medis dilembar resep.
b. Bacakan kembali pesanan obat yang telah ditulis kepada staff medis.
c. Setelah staff medis datang minta resep asli nama, tanggal dan paraf/tandatangan staff medis.