Anda di halaman 1dari 4

KONSEP DASAR LUPUS ERITEMATOSUS SISTEMIK ( SLE )

PENGERTIAN
Lupus Eritematosus Sistemik adalah suatu penyakit autoimun yang kronik melibatkan berbagai organ atau sistem dalam tubuh
dengan manifestasi klinis bervariasi dari yang ringan sampai berat. Menyerang lebih banyak wanita daripada laki-laki dengan
perbandingan 9 : 1. Penyakit ini seringkali berawal pada akhir masa remaja atau awal masa dewasa .
ETIOLOGI
Sampai saat ini penyebab LES belum diketahui,diduga faktor genetik,infeksi,dan lingkungan ikut berperan pada patofisiologi LES.
Namun LES timbul sebagai manifestasi dari kelompok penyakit seperti Skleroderma , Polimiositis, Arthritis Rhematoid serta
gangguan-gangguan pembentukan sel antinuklear antibodi ( ANA ). Antibodi ini berperan dalam pembentukan kompleks imun
sehingga mencetuskan penyakit implamasi imun sistemik dengan kerusakan multiorgan. Berbagai faktor resiko yang bisa
menimbulkan LES antara lain :
1. Faktor resiko genetik meliputi jenis kelamin, umur, etnik, dan keturunan.
2. Faktor resiko hormon
3. Faktor sinar ultra violet
4. Imunitas
5. Obat
6. Infeksi
7. Stress
MANIFESTASI KLINIS
Untuk menemukan gejala klinis yang khas pada LES sangatlah membingungkan karena perjalanan penyakitnya sangatlah
bervariasi. Penyakit dapat timbul mendadak disertai tanda-tanda terkenanya berbagai sistem dalam tubuh :
1. Gejala muskuluskeletal
Gejala pada organ ini 90 – 93 % terdapat dalam kasus LES yaitu berupa Arthritis atau Artralgia yang paling sering terkena
ialah sendi interfalangeal proximal tangan, pergelangan tangan, siku, bahu, lutut dan pergelangan kaki. Keluhan terhadap
klien terdapatnya rasa nyeri tanpa menyebabkan deformitas kontraktor atau ankilosis.
2. Gejala mukokutan
Terdapatnya kelainan kulit, rambut atau selaput lendir ditemukan 85 % pada kasus LES. Kelainannya dapat berupa ruam kulit
berbentuk kupu-kupu ( butterfly rash ) yang agak edimatus pada kedua pipi dan hidung. Pada rambut dapat terjadi kerontokan
bila sinar matahari memperburuk keadaan serta selaput lendir akan mengalami ulserasi yang cukup parah.
3. Ginjal
Kira-kira 65 % pada penderita LES akan mengalami gangguan pada ginjalnya, tetapi hanya 25 % menjadi berat. Ada 2 macam
kelainan patologis pada ginjal yaitu :
~ Nefritis Lupus Difus, merupakan kelainan yangpaling berat.
~ Nefritis Lupus Membranosa, sangat jarang ditemukan yang mana perjalanan penya
kitnay bisa berlangsung cepat atau lambat tapi progresif
4. Kardiovaskuler
Kelainan jantung dapat berupa perikarditis ringan sampai berat, Iskemia Miokard dan Endokarditis verukosa.
5. Paru-paru
Trjadinya Effusi Pleura Unilateral ringan karena seringnya ditemukan sel LE dalam cairan pleura.
6. Saluran pencernaan
Nyeri abdomen terdapat pada 25 % kasus LES mungkin disertai mual dan diare. Gejala bisa hilang bila gangguan sistemiknya
mendapat pengobatan adekuat.
7. Kelenjar getah bening
Pembesaran kelemjar getah bening sering ditemukan 50 % pada penderita LES, biasanya berupa Limpadenopati Difus.
8. Kelenjar Parotis
Kelenjar parotis membesar pada 6 % kasus LES.
9. Susunan saraf pusat
Gejala-gejala yang ditimbulkannya meliputi perubahan tingkah laku ( depresi, psikosis ), kejang kejang, gangguan saraf otak.
10. Susuna saraf tepi
Neuropati periper terjadi berupa gangguan sensorik dan motorik biasanya bersifat sementara saja.
11. Mata
Kelainan mata dapat berupa konjungtivitis, edema peri orbital, perdarahan subkonjungtiva dan kelainan pada badan retina.
PATOFISIOLOGI / PATOGENESIS
Gangguan fungsi sel T merupakan predisposisi terhadap infeksi virus dan pembentukan autoantibodi. Adanya gangguan fungsi sel
T tadi merupakan adanya infeksi virus kronik. Virus yang masuk ke dalam sel berintegrasi dengan berbagai sel lainnya yang
akibatnya menimbulkan rangsanmgan terhadap tubuh membentuk autoantibodi terhadap komponen inti sel misalnya DNA,
Nukleoprotein, RNA. Adapun antibodi secara bersama-sama membentuk kompleks imun yang beredar dalam sirkulasi akan
mengendap pada berbagai macam organ dengan akibat terjadinya fiksasi komplemen pada tenpat bersangkutan. Peristiwa in
menyebabkan aktivasi kompleman yang menghasilkan substansi penyebab timbulnya reasi radang. Reaksi radang inilah yang
menyebabkan timbulnya keluhan atau gejala pada organ / tempat bersangkutan.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan Laboratorium
~ test ANA ( anti nuklear antibodi ) memiliki sensitifitas yang tinggi namun spesifisitas
yang rendah.
~ anti ds DNA ( double stranded ) test ini sangat spesifik untuk LES
~ antibodi anti Smith, antibodi spesifik terdapat pada 20 – 30 % pasien

1
~ anti RNP ( Ribo Nukleo Protein ).
~ anti SS DNA ( single strended ).
Pasien dengan anti ss DNA positif cenderung menderita Nephritis.
~ test sel LE
positif pada Artritis, skleroderma, obat dan bahan kimia lain.
2. pemeriksaan khusus
~ Biopsi ginjal
~ Biopsi kulit
PENATALAKSANAAN
1. penatalaksanaan umum
a. mengurangi kelelahan
b. hindari perubahan cuaca karena akan mempengaruhi proses inflamasi
c. hindari stress dan trauma fisik
d. diet yang sesuai atau seimbang
e. hindari pajanan sinar matahari
f. hindari pemakaian kontrasepsi atau obat yang mengandung hormon estrogen
2. penatalaksanaan medikamentosa
a. LES derajat ringan
~ aspirin dan obat anti inflamasi non steroid
~ golongan obat anti malaria
~ bila gagal dapat ditambah prednison dengan dosis 2,5 – 5 mg/hari
dosis dapat dinaikkan 20 % secara bertahap tiap 1-2 minggu sesuai kebutuhan
b. LES derajat berat
~ pemberian steroid sistemik merupakan pilihan pertama dengan dosis sesuai dengan
kelainan organ sasaran yang terkena.
PROGNOSIS
Dengan diagnosis dini dan penatalaksanaan yang mutakhir maka 80 – 90 % pasien dapat mencapai harapan hidup 10 tahun
kualitas hidup yang hampir normal
DAFTAR PUSTAKA
1.Arief mansjoer dkk.1999.Kapita selekta kedokteran jilid I edisi 3.Jakarta Media
Aesculapius FKUI
2.Sylvia A.priece dan Lorraine M.Wison .1995.Pathofisiologi konsep klinis proses
penyakit edisi 4 buku 2.Jakarta.ECG
3.Susan MartinTucker dkk.1998.Standar perawatan pasien edisi V volume3.Jakarta
ASUHAN KEPERAWATAN LES
A.Pengkajian
1.Biodata
2.Riwayat kesehatan
3.Pemeriksaan Fisik
a.Sistem muskuloskletal
-arthritis non deformitas
- sendi hangat dan bengkak
b.Sistem ginjal
- hematuria
- protein uria
- edema
- hipo proteinemia
c.Sistem cardiovaskuler
- perikarditis
- cardiomegali
- vaskulitis: nekrosis arteri-arteri kecil
d.Sistem integumen
- sensitivitas terhadap sinar matahari
- kemerahan atua eritema (butterflly) diatas pipi dan tulang hidung.
- alopesia parsial
- ulserasi oral atau nasal
e.sistem pernfasan
- pleuritis
- infiltrasi parenkim paru
- perdarahan pulmoner
f. Sistem pencernaan
- peritonitis
g. Sistem SSP
- neuritis
- sakit kepala
- kejang

2
h. Sistem okular
- konjungtivitis
- Fotofobia
- Diplopia
i. Perubahan prilaku
- perubahan kepribadian
- depresi
- psikosis
Diagnose keperawatan
Dalam membuat diagnose keperawatan LES banyak menyangkut berbagai organ tubuh karena mengenai hampir semua
sistem tubuh .Tetapi prioritas masalah yang dapat menjadikan bahan pembelajaran adalah :
Diagnose I
Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan keterlibatan sendi
Hasil yang diharapkan :
- Klien dapat melakukan pergerakan secara terarah pada seluruh ekstremitas
-Tidak terdapat pembengkakan/trauma atau adanya keluhan peningkatan nyeri
karena pergerakan .
Intervensi keperawatan :
-Kaji tingkatan nyeri pada sendi /otot
-Pantau kemampuan bergerak ,pembengakakan dan keterbatasan rentang gerak
-Berikan suatu latihan rentang gerak terhadap sendi-sendi yang tidak sakit atau
batasi kemampuan terhadap aktifitas.
-Berikan /anjurkan kompres hangat pada area /lokasi tekanan nyeri pada sendi yang
terlokalisasi
Diagnose II
Resiko intoleransi aktifitas berhubungan denga kelelahan dan artralgia
Hasil yang diharapkan :
-Klien berkemampuan dalam perawatan diri sesuai toleransi
-Melakukan/mencari suatu bantuan sesuai kebutuhan
-kemandirian terhadap peningkatan kemampuan tingkat aktifitas
Intevensi keperawatan :
- Kaji tingkat aktifitas dan rentang gerak dari ekstremitas yang sakit
- Berikan /anjurkan membentuk lingkungan yang aman
- Tingkatkan aktifitas secara perlahan ;berikan rentang gerak terhadap sendi-sendi
yang sakit setiap 4 jam
- Tingkatkan ambulasi sesuai toleransi ,pergunakan alat pembantu seperti tongkat
sesuai kebutuhan
Diagnose III
Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan akibat pengaruh sistem integumen
Hasil yang diharapkan :
-Keadaan umum ; warna,suhu,integritas kulit berada dalam keadaan normal
-Klien dalam pemahaman terhadap perawatan kulit mengerti
-Ikut serta/berpartisipasi dalam mengatasi berbagai keluhan kelainan kulit dan
membran mukosa
Intervensi keperawatan:
-Kaji status integumen; observasi kulit dan membran mukosa terhadap warna,
suhu, turgor ,edema, tanda-tanda infeksi dan kemerahan
-Anjurkan pemakaian sabun dan kream non alergik serta higiene oral
-Bantu klien dalam mengubah posisi dengan sering dan menggerakkan kaki dan
tungkai untuk meningkatkan aliran balik vena
-Anjurkan ambulasi sesegera mungkin
-Kolaborasi pemberian steroid topikal dan salep anti biotik sesuai indikasi
Diagnose IV
Gangguan Citra tubuh berhubungan dengan perubahan penampilaqn fisik
Hasil yang diharapkan :
-Klien mengungkapkan pemahaman proses penyakit serta rencana tindakan yang
dilakukan
-Memulai anjuran untuk Koping pada perubahan citra tubuh
-Menerapkan perilaku yang dipelajari dalam menanggulangi perasaan stres
Intervensi keperawatan
-Berikan penjelasan yang terarah sebagai dasar penguatan penjelasan dokter
terhadap proses penyakit nya,pengobatan,remisi dan eksaserbasi serta luruskan
tentang kesalahan konsep
-Anjurkan klien untuk mengekspresikan perasaan dan perhatian ,dengarkan dengan
penuh perhatian
-Identifikasi pola penanganan dan kekuatan yang telah berhasil dilakukan pada

3
pengalaman sebelumnya
-Tingkatkan komunikasi dengan orang terdekat
-Bantu dalam meningkatkan gambaran diri
Diagnose V
Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan perubahan sistem imun dan terafi
Steroid
Hasil yang diharapkan :
-Kondisi kesehatan tetap normal
-Nilai –nilai laboratorium dalam batas normal
-Integritas kulit klien normal
Intervensi keperawatan :
-Pantau suhu tubuh terhadap status febris
-Pertahankan kebersihan lingkungan dan kebersihan perseorangan dengan baik
-Berikan nutrisi dan masukan cairan yang optimal /seimbang
-Pantau pemeriksaan LED,protein C-reaktif,urinalisis dankultur terhadap
anda-tanda sepsis
-Kolaborasi dalam pemberian obat anti piretik dan anti biotik sesuai indikasi
pantau keefektifan dan efek samping .