Anda di halaman 1dari 17

Perkembangan Ekonomi Daerah Jambi

1. PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI JAMBI TRIWULAN I-2017

Perekonomian Provinsi Jambi yang diukur berdasarkan besaran Produk Domestik


Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku triwulan I-2017 mencapai Rp46,06
triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp33,13 triliun. Ekonomi Provinsi
Jambi triwulan I-2017 terhadap triwulan I-2016 tumbuh 4,27 persen (y-on-y),
mengalami percepatan dibanding periode yang sama pada tahun 2016 yang sebesar 3,53
persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh lapangan usaha
Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 9,84 persen. Sedangkan dari sisi
pengeluaran oleh Ekspor Barang dan Jasa yang tumbuh 9,77 persen.  Ekonomi
Provinsi Jambi triwulan I-2017 terhadap triwulan sebelumnya menurun sebesar 1,44
persen (q-toq). Dari sisi produksi, penurunan ini disebabkan oleh lapangan usaha
Konstruksi yang mengalami penurunan hingga minus 12,66 persen. Sebaliknya
lapangan usaha Pertambangan dan Penggalian mengalami pertumbuhan positif sebesar
5,31 persen. Sedangkan dari sisi pengeluaran Ekspor Barang dan Jasa tumbuh sebesar
5,32 persen.  Struktur ekonomi Provinsi Jambi pada triwulan I-2017 didominasi oleh
lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yang memberikan kontribusi
terbesar terhadap PDRB, yakni sebesar 30,56 persen. Sementara pada sisi pengeluaran,
PDRB banyak digunakan untuk Komponen Ekspor Barang dan Jasa sebesar 68,26
persen serta Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga, yaitu sebesar 44,49
persen. Namun terkoreksi oleh Komponen Impor Barang dan Jasa sebagai pengurang
berperan 37,53 persen.

A. PDRB MENURUT LAPANGAN USAHA


Pertumbuhan Ekonomi Triwulan I-2017 terhadap Triwulan I-2016 (y-on-y) Ekonomi
Provinsi Jambi triwulan I-2017 dibanding triwulan I-2016 (y-on-y) tumbuh 4,27 persen,
didukung oleh semua lapangan usaha. Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Penyediaan
Akomodasi dan Makan Minum sebesar 9,84 persen, diikuti Informasi dan Komunikasi
sebesar 9,07 persen. Lapangan usaha Pertanian, Kehutanan dan Perikanan serta Jasa
Kesehatan dan Kegiatan Sosial masing-masing tumbuh 8,67 persen dan 7,39 persen.
Struktur PDRB Provinsi Jambi menurut lapangan usaha atas dasar harga berlaku pada
triwulan I-2017 tidak menunjukkan pergeseran secara signifikan. Pertanian, Kehutanan
dan Perikanan; Pertambangan dan Penggalian; serta Perdagangan Besar dan Eceran;
Reparasi Mobil dan Sepeda Motor mendominasi PDRB Provinsi Jambi dengan share
masing-masing 30,56 persen; 17,80 persen; serta 11,67 persen. Bila dilihat dari
penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi triwulan I- 2017 (y-on-y),
lapangan usaha Pertanian, Kehutanan dan Perikanan menjadi sumber pertumbuhan
tertinggi sebesar 2,29 persen; diikuti Industri Pengolahan sebesar 0,39 persen;
Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor; serta Informasi dan
Komunikasi masing-masing sebesar 0,34 persen dan 0,31 persen.
Pertumbuhan Ekonomi Triwulan I-2017 terhadap Triwulan IV-2016 (q-to-q)

Pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi triwulan I-2017 terhadap triwulan IV-2016 turun
sebesar 1,44 persen. Pertumbuhan tersebut didorong oleh pertumbuhan lapangan usaha
Pertambangan dan Penggalian sebesar 5,31 persen; diikuti Real Estate yang tumbuh
sebesar 0,83 persen; serta pertumbuhan Pertanian, Kehutanan dan Perikanan tumbuh
sebesar 0,24 persen. Sebaliknya, beberapa lapangan usaha justru mengalami kontraksi,
antara lain Konstruksi menurun sebesar 12,66 persen dan Pengadaan Air, Pengelolaan
Sampah, Limbah mengalami kontraksi 8,20 persen

B. PDRB MENURUT PENGELUARAN


Pertumbuhan Ekonomi Triwulan I-2017 terhadap Triwulan I-2016 (y-on-y) Dari sisi
pengeluaran, pertumbuhan ekonomi triwulan I-2017 terhadap triwulan I-2016 (y-on-y)
tertinggi terjadi pada komponen Ekspor Barang dan Jasa sebesar 9,77 persen; diikuti
komponen Impor 6,37 persen. Kemudian diikuti oleh Pengeluaran Konsumsi Rumah
Tangga (PKRT) yang mencapai 4,33 persen dan Pembentukan Modal Tetap Bruto
(PMTB) sebesar 2,88 persen. Sebaliknya, komponen Grafik 2. Sumber Pertumbuhan
PDRB Menurut Lapangan Usaha Grafik 3. Pertumbuhan PDRB q to q Menurut
Lapangan Usaha Berita Resmi Statistik No.26/05/15/Th.XI, 5 Mei 2017 3 Perubahan
Inventori dan Pengeluaran Konsumsi Pemerintah mengalami penurunan masing-masing
sebesar 154,54 persen dan 2,27 persen. Struktur PDRB Provinsi Jambi menurut
pengeluaran atas dasar harga berlaku triwulan I-2017 tidak menunjukkan perubahan
yang berarti. Aktivitas permintaan akhir masih didominasi oleh Komponen Ekspor yang
mencakup lebih dari separuh PDRB Provinsi Jambi (68,26 persen). Komponen lainnya
yang memiliki peranan besar terhadap PDRB secara berturutturut adalah Pengeluaran
Konsumsi Rumah Tangga (44,49 persen); Pembentukan Modal Tetap Bruto (20,16
persen); serta Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (5,02 persen). Sedangkan Komponen
Impor Barang dan Jasa sebagai faktor pengurang sebesar 37,53 persen.
Bila dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi triwulan I-
2017 (y-on-y), maka komponen Pengeluaran Ekspor merupakan komponen dengan
sumber pertumbuhan tertinggi, namun terkoreksi Impor, sehingga Ekspor Neto tumbuh
sebesar 14,56 persen. Sebaliknya, komponen Perubahan Inventori justru memberi andil
negatif sebesar 2,29 persen.

Ekonomi Provinsi Jambi triwulan I-2017 terhadap triwulan IV-2016 (q-to-q) tumbuh
sebesar minus 1,44 persen, disebabkan oleh pertumbuhan komponen yang negatif antara
lain Pengeluaran Konsumsi Pemerintah dan Perubahan Inventori (minus 58,07 persen
dan minus 53,49 persen). Sebaliknya, komponen-komponen yang tumbuh positif antara
lain Ekspor dan Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (tumbuh sebesar 5,32 persen
dan 0,15 persen).
PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI JAMBI TRIWULAN II-2017

EKONOMI PROVINSI JAMBI TRIWULAN II-2017 TUMBUH 1,82


PERSENDIBANDING TRIWULAN I-2017
Perekonomian Provinsi Jambi yang diukur berdasarkan besaran Produk Domestik
Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku triwulan II-2017 mencapai Rp 46,59
triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp 33,73 triliun.
Secara kumulatif (c-to-c), semester I-2017 pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi
mencapai 4,27 persen, lebih cepat dibanding semester I-2016 yang mencapai 3,54
persen. Pertumbuhan tertinggi pada sisi produksi oleh lapangan usaha Penyediaan
Akomodasi dan Makan Minum sebesar 9,52 persen, diikuti Informasi dan Komunikasi
(8,10 persen). Sedangkan pada sisi pengeluaran, Pengeluaran Lembaga Non Profit
Rumah Tangga (LNPRT) tumbuh sebesar 5,86 persen, diikuti oleh Ekspor Barang dan
Jasa (5,24 persen).
Jika dibandingkan dengan triwulan II-2016 (y-on-y), ekonomi Provinsi Jambi triwulan
II-2017 tumbuh 4,29 persen, lebih cepat dibanding periode yang sama pada tahun 2016
yang sebesar 3,55 persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh
lapangan usaha Informasi dan Komunikasi sebesar 9,86 persen. Dari sisi Pengeluaran
oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Non Profit Rumah Tangga yang
tumbuh 7,92 persen.
Ekonomi Provinsi Jambi triwulan II-2017 terhadap triwulan sebelumnya meningkat
sebesar 1,82 persen (q-to-q). Dari sisi produksi, pertumbuhan ini disebabkan oleh
lapangan usaha Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor yang
tumbuh 5,33 persen. Kemudian diikuti oleh lapangan usaha Transportasi dan
Pergudangan dengan pertumbuhan 5,03 persen. Sedangkan dari sisi Pengeluaran
Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah tumbuh tinggi (25,87 persen) karena
pencairan gaji keempat belas PNS/TNI/POLRI serta peningkatan belanja barang dan
jasa, serta belanja modal pemerintah.
Struktur ekonomi Provinsi Jambi pada triwulan II-2017 didominasi oleh Pertanian,
Kehutanan, dan Perikanan yang memberikan kontribusi terbesar terhadap PDRB, yakni
sebesar 29,10 persen. Diikuti oleh Pertambangan dan Penggalian sebesar 17,54 persen.
Sementara pada sisi pengeluaran, PDRB banyak digunakan untuk Ekspor, Konsumsi
Rumah Tangga, serta Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), yaitu sebesar 64,24
persen; 45,29 persen; serta 21,45 persen.

A. PDRB MENURUT LAPANGAN USAHA


Pertumbuhan Ekonomi Triwulan II-2017 terhadap Triwulan II-2016 (y-on-y)
Ekonomi Provinsi Jambi triwulan II-2017 dibanding triwulan II-2016 (y-on-y) tumbuh
4,29 persen. Pertumbuhan didukung oleh semua lapangan usaha. Pertumbuhan tertinggi
dicapai oleh Informasi dan Komunikasi sebesar 9,86 persen; diikuti Penyediaan
Akomodasi, Makan, dan Minum sebesar 9,22 persen. Kemudian Transportasi dan
Pergudangan serta Jasa Kesehatan masing-masing tumbuh sebesar 7,06 persen dan 7,02
persen.
Struktur PDRB Provinsi Jambi menurut lapangan usaha atas dasar harga berlaku pada
triwulan II-2017 tidak menunjukkan perubahan yang berarti. Pertanian, Kehutanan dan
Perikanan; Pertambangan dan Penggalian; serta Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi
Mobil dan Sepeda Motor masih mendominasi PDRB Provinsi Jambi dengan share masing-
masing 29,10 persen; 17,54 persen; serta 12,28 persen. Bila dilihat dari penciptaan sumber
pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi triwulan II-2017 (y-on-y), lapangan usaha Pertanian,
Kehutanan dan Perikanan menjadi sumber pertumbuhan tertinggi sebesar 1,16 persen; diikuti
Perdagangan Besar danEceras; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sebesar 0,54 persen; serta
Industri Pengolahan sebesar 0,42 persen.
Pertumbuhan Ekonomi Triwulan II-2017 terhadap Triwulan I-2017 (q-to-q)

Pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi triwulan II-2017 terhadap triwulan I-2017


sebesar 1,82 persen. Pertumbuhan tersebut didorong oleh pertumbuhan lapangan usaha
Perdagangan sebesar 5,33 persen; diikuti pertumbuhan Transportasi dan Pergudangan
yang tumbuh sebesar 5,03 persen. Pertumbuhan berikutnya terjadi pada Informasi dan
Komunikasi sebesar 4,48 persen.
PDRB MENURUT PENGELUARAN
Pertumbuhan Semester I-2017 (c-to-c)
Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi semester I tahun 2017 sebesar 4,27 persen
terutama didorong oleh komponen Pengeluaran LNPRT tumbuh sebesar 5,86 persen.
Kemudian Komponen Ekspor dengan pertumbuhan 5,24 persen. Berikutnya adalah
komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga 4,59 persen.
Struktur Ekonomi Provinsi Jambi semester I-2017 menurut pengeluaran didominasi
oleh. Komponen Ekspor (64,24 persen), diikuti Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (45,29
persen) diikuti komponen PMTB (21,45 persen). Bila dilihat dari penciptaan sumber
pertumbuhan ekonomi Jambi semester I tahun 2017, Komponen Ekspor menjadi sumber
pertumbuhan tertinggi, yakni sebesar 3,67 persen (sementara Semester I-2016 justru memberi
andil negatif). Kemudian diikuti Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga memberi andil
pertumbuhan sebesar 2,03 persen. Sedangkan Komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto
memberi andil sebesar 0,61 persen.

Pertumbuhan Ekonomi Triwulan II-2017 terhadap Triwulan II-2016 (y-on-y)

Dari sisi Pengeluaran, pertumbuhan ekonomi triwulan II-2017 terhadap triwulan II-
2016 terjadi pada hampir semua komponen. Pertumbuhan tertinggi dicapai Komponen
Pengeluaran Konsumsi LNPRT sebesar 7,92 persen; diikuti Pengeluaran Konsumsi
Rumah Tangga sebesar 4,85 persen; serta Pengeluaran Konsumsi Pemerintah sebesar
3,62 persen, dan PMTB sebesar 2,26 persen. Struktur PDRB Provinsi Jambi menurut
pengeluaran atas dasar harga berlaku triwulan II-2017 tidak menunjukkan perubahan
yang berarti. Aktivitas permintaan akhir masih didominasi oleh Komponen Ekspor
Barang dan Jasa yang mencapai lebih separuh PDRB Provinsi Jambi, namun terkoreksi
oleh adanya Impor Barang dan Jasa. Komponen lainnya yang memiliki peranan besar
terhadap PDRB secara berturut-turut adalah Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga
serta Pembentukan Modal Tetap Bruto. Bila dilihat dari penciptaan sumber
pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi triwulan II-2017 (y-on-y), maka Komponen
Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga merupakan komponen dengan sumber
pertumbuhan tertinggi, yakni sebesar 2,14 persen; diikuti Ekspor yang memberi andil
0,67 persen. Pembentukan Modal Tetap Bruto juga memberi andil positif terhadap
pertumbuhan y-on-y sebesar 0,48 persen.

Pertumbuhan Ekonomi Triwulan II-2017 terhadap Triwulan I-2017 (q-to-q)

Ekonomi Provinsi Jambi triwulan II-2017 terhadap triwulan I-2017 (q-to-q) tumbuh
sebesar 1,82 persen. Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan komponen Pengeluaran
Konsumsi Pemerintah yang tumbuh sangat signifikan (25,87 persen). Diikuti oleh
pertumbuhan Pengeluaran Konsumsi LNPRT serta PMTB yang masing-masing
mencapai 6,21 persen dan 5,53 persen.

2. Inflasi

Pada Triwulan II-2017, inflasi Provinsi Jambi tercatat 3,82% (yoy), lebih tinggi
dibandingkan triwulan sebelumnya (2,85% yoy) namun lebih rendah dibandingkan
inflasi nasional (4,37% yoy). Inflasi Provinsi Jambi merupakan komposit dari inflasi
Kota Jambi sebesar 3,72% (yoy) dan inflasi Kabupaten Bungo sebesar 4,79% (yoy).
Kenaikan tingkat inflasi di Provinsi Jambi utamanya disebabkan oleh kenaikan inflasi
pada kelompok administered prices menjadi sebesar 7,44% (yoy), lebih tinggi
dibandingkan triwulan sebelumnya (2,40% yoy). Kenaikan inflasi juga terjadi pada
bahan pangan bergejolak (volatile foods) yang mengalami inflasi sebesar 0,87% (yoy),
lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya (0,16% yoy).
Sementara inflasi inti tercatat mengalami penurunan dari triwulan sebelumnya
(4,28% yoy) menjadi sebesar 3,44% (yoy) pada triwulan laporan.
Berdasarkan kelompoknya, tingginya inflasi Kota Jambi utamanya disebabkan oleh
inflasi yang terjadi pada kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar sebesar
6,96% (yoy) dengan kontribusi inflasi sebesar 1,53%, dari sebelumnya mengalami
inflasi 4,07% (yoy) pada Triwulan I-2017, serta secara triwulanan mengalami inflasi
sebesar 2,73% (qtq). Kenaikan inflasi kelompok tersebut dipicu oleh inflasi sub
kelompok bahan bakar, penerangan, dan air sebesar 15,32% (yoy) dan secara triwulanan
mengalami inflasi sebesar 7,01% (qtq).
Sementara itu, Inflasi tahunan Bungo pada Triwulan II-2017 tercatat 4,79% (yoy), lebih
tinggi bila dibandingkan inflasi triwulan sebelumnya (4,00% yoy), untuk inflasi
triwulanan Bungo pada Triwulan II-2017 tercatat 1,39% (qtq), lebih rendah
dibandingkan inflasi triwulanan pada triwulan sebelumnya (1,51% qtq).
Inflasi Provinsi Jambi pada Triwulan III-2017 diperkirakan berada pada kisaran 3,59% -
3,99% (yoy), masih berada pada kisaran target inflasi nasional 2017 pada kisaran 4 ±1%
(yoy). Kenaikan inflasi pada Triwulan III-2017 utamanya berasal dari pemberian gaji
ke-13 untuk ASN/TNI/POLRI, sehingga diperkirakan akan akan meningkatkan
komoditas inti biaya, selain itu memasuki tahun ajaran pendidikan baru diperkirakan
akan meningkatkan biaya komoditas pendidikan dan komoditas yang terkait.
Kenaikan administered price akan berasal dari peningkatan tarif angkutan udara serta
cukai rokok. Sedangkan kenaikan harga beberapa bahan pangan dan hortikultura seiring
momen Idul Adha diperkirakan relatif terbatas. Inflasi Kota Jambi pada Triwulan III-
2017 diperkirakan berada pada kisaran 2,97% - 3,37% (yoy), sedangkan inflasi Bungo
diperkirakan berada pada kisaran 4,84% - 5,34% (yoy).
Pada Triwulan II-2017, inflasi Provinsi Jambi tercatat 3,82% (yoy), lebih tinggi
dibandingkan triwulan sebelumnya (2,85% yoy) namun lebih rendah dibandingkan
inflasi nasional (4,37% yoy). Inflasi Provinsi Jambi merupakan komposit dari inflasi
Kota Jambi sebesar 3,72% (yoy) dan inflasi Kabupaten Bungo sebesar 4,79% (yoy).
Kenaikan tingkat inflasi di Provinsi Jambi utamanya disebabkan oleh kenaikan inflasi
pada kelompok administered prices menjadi sebesar 7,44% (yoy), lebih tinggi
dibandingkan triwulan sebelumnya (2,40% yoy). Kenaikan inflasi juga terjadi pada
bahan pangan bergejolak (volatile foods) yang mengalami inflasi sebesar 0,87% (yoy),
lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya (0,16% yoy).
Sementara inflasi inti tercatat mengalami penurunan dari triwulan sebelumnya
(4,28% yoy) menjadi sebesar 3,44% (yoy) pada triwulan laporan.
Berdasarkan kelompoknya, tingginya inflasi Kota Jambi utamanya disebabkan oleh
inflasi yang terjadi pada kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar sebesar
6,96% (yoy) dengan kontribusi inflasi sebesar 1,53%, dari sebelumnya mengalami
inflasi 4,07% (yoy) pada Triwulan I-2017, serta secara triwulanan mengalami inflasi
sebesar 2,73% (qtq). Kenaikan inflasi kelompok tersebut dipicu oleh inflasi sub
kelompok bahan bakar, penerangan, dan air sebesar 15,32% (yoy) dan secara triwulanan
mengalami inflasi sebesar 7,01% (qtq).
Sementara itu, Inflasi tahunan Bungo pada Triwulan II-2017 tercatat 4,79% (yoy), lebih
tinggi bila dibandingkan inflasi triwulan sebelumnya (4,00% yoy), untuk inflasi
triwulanan Bungo pada Triwulan II-2017 tercatat 1,39% (qtq), lebih rendah
dibandingkan inflasi triwulanan pada triwulan sebelumnya (1,51% qtq).
Inflasi Provinsi Jambi pada Triwulan III-2017 diperkirakan berada pada kisaran 3,59% -
3,99% (yoy), masih berada pada kisaran target inflasi nasional 2017 pada kisaran 4 ±1%
(yoy). Kenaikan inflasi pada Triwulan III-2017 utamanya berasal dari pemberian gaji
ke-13 untuk ASN/TNI/POLRI, sehingga diperkirakan akan akan meningkatkan
komoditas inti biaya, selain itu memasuki tahun ajaran pendidikan baru diperkirakan
akan meningkatkan biaya komoditas pendidikan dan komoditas yang terkait.
Kenaikan administered price akan berasal dari peningkatan tarif angkutan udara serta
cukai rokok. Sedangkan kenaikan harga beberapa bahan pangan dan hortikultura seiring
momen Idul Adha diperkirakan relatif terbatas. Inflasi Kota Jambi pada Triwulan III-
2017 diperkirakan berada pada kisaran 2,97% - 3,37% (yoy), sedangkan inflasi Bungo
diperkirakan berada pada kisaran 4,84% - 5,34% (yoy).

3. Pendapatan per Kapita

Untuk mengukur tingkat kesejahteraan penduduk Kota jambi dapat dilihat melalui
Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita, dimana pendapatan per kapita
penduduk Kota Jambi terus meningkat sebesar 11,20%. PDRB per kapita Harga Berlaku
Rp. 22.182.674 PDRB per kapita Harga Konstan Rp. 7.048.182.

Analisa yang digunakan untuk menggambarkan klasifikasi tiap kabutapaen/ kota di


wilayah provinsi jambi. Analisis ini didasarkan pada dua indikator utama yaitu : rata –
rata pertumbuhan ekonomi dan rata – rata perndapata per kapita . Analisi ini membagi
empat klasifikasi daerah yang masing – masing memiliki karakteriskit berbeda – beda
yaitu:

- Kuadran I yaitu daerah maju dan cepat tumbuh (high growth and high income)
Merupak daerah yang memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi dan pendapatan
per kapita yang lebih tinggi dibanding rata –rata provinsi.
- Kuadran II yaitu daerah maju tapi tertekan ( low growth but high income)
Merupakan daerah yang memiliki pertumbuhan ekonominya lebih rendah tapi
pendapatan per kapita lebih tinggi di banding rata – rata provinsi.
- Kuadran III yaitu daerah berkembang cepat ( high growth but low income)
Merupakan daerah dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi tapi
pendapatan per kapitanya lebih rendah dibanding rata – rata provinsi
- Kuadran IV yaitu daerah relatif tertinggal ( low growth and low income)
Merupakan daerah yang pertumbuhan ekonominya maupun pendapatan per
kapitanya lebih rendah di banding rata – rata provinsi.

4. Pertumbuhan penduduk

Penduduk sebagai salah satu variabel pembangunan baru mendapat perhatian ketika
Maltus (1709) dalam bukunya An Essay on the Principle of Population yang
mengingatkan pada dunia bahwa pertambahan penduduk lebih cepat dibandingkan
dengan kemampuan untuk mempertahankan hidup. Penduduk cenderung bertambah
menurut pola progresi geometrik, sementara persediaan pangan meningkat menurut
progresi aritmetrik. Perhatian para ekonom terhadap variabel demografi dalam konteks
pembangunan semakin meningkat, walau baru sebatas pada memasukkan pertumbuhan
angkatan kerja sebagai salah satu variabel eksogen dalam model pertumbuhan ekonomi.
Pertengahan abad 20 para ekonom mulai mengamati berbagai faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan penduduk, mereka mulai sadar bahwa pertumbuhan
penduduk berpengaruh terhadap berbagai aspek (ekonomi, sosial, budaya, politik dan
lingkungan) sehingga dibuat suatu model interaksi variabel demografi dalam
perencanaan pembangunan. Jumlah penduduk terus meningkat, tahun 2005 dengan
kepadatan sekitar 2.192/Km2 atau setiap Km2 terdapat 477 rumah tangga dan setiap
rumah tangga dihuni oleh sekitar 4–5 orang. Bila kondisi ini tidak tersentuh oleh
kebijakan secara terintegratisi dengan berbagai sektor dan tidak dikelola secara lintas
bidang, maka kota Jambi akan menghadapi masalah sosial ekonomi yang sangat besar
yang berimplikasi pada terhambatnya pencapaian proses pembangunan jangka panjang.

Kondisi Historis Sebagai ibu kota provinsi yang memiliki sarana dan prasarana ekonomi
yang relatif lebih baik dibandingkan 9 kabupaten lainnya dan akses menuju ke kota ini
cukup lancar, baik melalui darat maupun udara berdampak pada mobilitas penduduk
yang merupakan salah satu komponen pertumbuhan penduduk. Perkembangan kondisi
kependudukan kota Jambi selama kurun 1995–2005 yang menunjukkan pertumbuhan
rata-rata sebesar 2,79% pertahun. Namun secara historis selama 10 tahun terakhir
memperlihatkan pertumbuhan yang fluktuatif. Kondisi ini diduga disebabkan oleh
migrasi masuk dan keluar. Pertambahan penduduk alamiah tetap menunjukkan
kecenderungan dengan persentase yang menurun. Dari aspek jenis kelamin terlihat
bahwa proporsi penduduk laki-laki jauh lebih besar dibandingkan perempuan. Selama
waktu 10 tahun terdapat permasalahan penduduk antara lain : (a).
pengangguran/lapangan kerja; (b), penduduk miskin; dan (c), meningkatnya
kriminalitas. Persebaran penduduk yang kurang merata dapat mempengaruhi
aksesbilitas penduduk terhadap pelayanan dan berbagai kebijakan pemerintah lainnya.
Dalam hal pola persebaran penduduk selama kurun waktu 1995-2005 tidak mengalami
pergeseran yang berarti. Kota Jambi yang berpenduduk 343.072 jiwa pada tahun 1995
secara umum tersebar dilima kecamatan (Kota Baru, Jambi Selatan, Jelutung,
Telanaipura dan Jambi Timur). Suatu hal yang menarik untuk dicermati bahwa
penduduk Kecamatan Pasar Jambi cenderung berkurang, baik secara absolut maupun
persentase. Hal ini mengindikasikan bahwa pasar Jambi dengan luas wilayah hanya
1,95% dari luas kota Jambi tidak lagi menyenangkan/ kondusif sebagai kawasan tempat
tinggal yang juga sebagai kawasan perdagangan. Sedangkan dua kecamatan lainnya
(Danau Teluk dan Pelayangan) hanya dihuni masing-masing sekitar 3,09 % dan 3,39 %
dari jumlah penduduk tahun 1995. Persentase ini cenderung menurun (2,67 % dan 2,96
%) pada tahun 2005. Dari aspek kepadatan penduduk selama kurun waktu 1995-2005,
terlihat semakin padat. Tahun 1995 setiap Km2 kota Jambi dihuni oleh 1.670 jiwa dan
lebih terkosentrasi di Kecamatan Jelutung dan Pasar Jambi. Sepuluh tahun kemudian
kepadatan penduduk meningkat sekitar 31,26 % atau 2.192/km2 yang terkosentrasi di
Kecamatan Jelutung dan Jambi Timur. Sejalan dengan pertumbuhan penduduk yang
diikuti oleh peningkatan jumlah unit rumah tangga berdampak pada kepadatan
bangunan rumah pada setiap Km2 lahan di kota Jambi. Selama kurun waktu 1995-2005
jumlah rumah tangga bertambah sebanyak 33.701 unit rumah atau meningkat sekitar
5,20 % per tahun, sementara kepadatan rumah tangga dari 316 unit/Km2 pada tahun
1995 menjadi 477 unit/Km2 atau meningkat sekitar 5,09 % per tahun.

Yang harus dicermati dengan benar oleh para perencana pembangunan daerah, yang
sekaligus menentukan keberhasilan pembangunan yaitu :

1. Penduduk dimasa depan akan semakin berpendidikan Penduduk yang makin


berpendidikan dan sehat akan membentuk sumber daya manusia yang makin produktif.
Tantangan yang dihadapi adalah bagaiman menciptakan lapangan kerja yang memadai.
Sebab bila tidak, pengangguran terdidik akan semakin bertambah dan hal ini merupakan
pemborosan terhadap investasi di sektor pendidikan, disamping kemungkinan implikasi
sosial lainnya.

2. Penduduk makin sehat dan angka harapan hidup meningkat Usia harapan hidup yang
tinggi dan proporsi penduduk lanjut usia semakin besar menuntut suatu kebijakan yang
serasi dengan perubahan tersebut kearah pola penyantunan keluarga ke institusi
pemerintah. Suatu tantangan yang dihadapi, bagaimana memanfaatkan penduduk lanjut
usia yang masih potensial (kaya pengetahuan dan pengalaman).

3. Proporsi penduduk perkotaan semakin meningkat Peningkatan status sosial ekonomi


selalu diikuti oleh aktivitas urbanisasi, sehingga penduduk perkotaan tumbuh dengan
cepat. Hal ini menuntut penambahan fasilitas di perkotaan yang pada akhirnya
mempengaruhi keadaan dan perkembangan fisik kota.

4. Jumlah Rumah Tangga (RT) meningkat dengan ukuran makin kecil Perubahan pola
kelahiran dan kematian akan berpengaruh pada struktur RT. Dimasa depan ukuran RT
makin kecil, namun jumlahnya makin banyak, sehingga dibutuhkan areal permukiman.
Sementara kota Jambi hanya memiliki luas 205,38 Km2 .

5. Mobilitas penduduk makin tinggi Secara internal intensitas mobilitas penduduk


makin tinggi, hal ini menuntut jaringan prasarana yang makin baik dan luas. Juga
berimplikasi pada pergeseran normanorma masyarakat (ikatan keluarga dan
kekerabatan) yang dalam jangka panjang berdampak perubahan sosial budaya
masyarakat.

5. Tenaga Kerja

Solow (1956) yang mengintrodusir pentingnya faktor tenaga kerja dalam pembangunan
ekonomi. Solow mengkritik formulasi Harold-Domar dari kelompok Keynesian yang
hanya menggunakan pendekatan akumulasi modal terhadap pertumbuhan ekonomi.
Disebutkan bahwa teori pertumbuhan Solow mematahkan formulasi Harold-Domar
berdasarkan pendekatan Diminishing Return to Individual Factor of Production (Debraj,
1998). Dengan asumsi pertumbuhan tenaga kerja ditentukan secara eksogen dalam
pertumbuhan ekonomi, Solow menjabarkan bahwa ketika stok modal tumbuh dengan
tingkat pertumbuhan yang lebih cepat dari pertumbuhan tenaga kerja, maka jumlah
pertambahan modal yang diciptakan oleh setiap tenaga kerja akan meningkat. Oleh
karena pertambahan modal ini digunakan oleh setiap tenaga kerja, maka marginal
product of capital akan menurun. Menurut Gray (1992), tujuan penciptaan kesempatan
kerja berkaitan erat dengan pertimbangan pemerataan pendapatan, mengingat bagian
terbesar kelompok penduduk yang tergolong penganggur sekaligus merupakan
golongan yang berpenghasilan rendah. Dan terdapat golongan penganggur terdidik yang
hidup dari bantuan keluarga sambil menunggu kesempatan kerja dengan tingkat upah
yang memenuhi harapannya, biasanya kesempatan kerja di sektor pemerintah.
Manurung (2001) menyatakan bahwa pada negara berkembang, Tenaga kerja (KL)
masih merupakan faktor produksi yang sangat dominan. Penambahan tenaga kerja
umumnya sangat berpengaruh terhadap peningkatan output. Yang menjadi persoalan
adalah sampai berapa banyak penambahan tenaga kerja yang akan meningkatkan
output. Hal ini tergantung dari seberapa cepat terjadinya The Law Diminishing Return
(TDLR), sedangkan cepat lambatnya proses TDLR sangat ditentukan oleh kualitas
sumber daya manusia dan keterkaitan dengan kemajuan teknologi (T) produksi. Selama
sinergi antara TK dan teknologi maka penambahan TK akan memacu pertumbuhan
ekonomi, dengan demikian dapat dikatakan pada saat terjadi pertumbuhan ekonomi
disisi lain juga akan terjadi penyerapan tenaga kerja Tenaga kerja di Provinsi Jambi
masih didominasi tenaga kerja yang berpendidikan rendah yaitu (SMP Kebawah), ini
ditunjukkan dari dari jumlah tenaga kerja yang paling banyak bekerja pada kelompok
tersebut. Namun, jika dilihat dari pergerakan jumlah tenaga kerja yang bekerja menurut
jenjang pendidikan tenaga kerja yang berpendidikan strata satu dan sekolah menengah
atas mengalami peningkatan yang cukup besar. Peningkatan jumlah tenaga kerja
berdasarkan tingkat pendidikan tersebut merupakan gambaran dari peningkatan
sumberdaya manusia kita, selain itu juga menggambarkan standar dari jumlah
kesempatan kerja yang ada.
Seiring dengan peningkatan jumlah tenaga kerja yang berpendidikan terlihat adanya
penurunan tenaga kerja pada kelompok tenaga kerja yang berpendidikan rendah hal ini
disebabkan selain karena adanya regenerasi tenaga kerja yang ada dan kesempatan kerja
yang tersedia. Jika dilihat tren pergerakannya maka kondisi ini akan terus berlanjut
untuk tahun tahun yang akan datang. Dari analisa dapat ditarik kesimpulan bahwa
kebutuhan pada pasar tenaga kerja sudah mulai beralih dan berorientasi pada
sumberdaya atau skill dan tingkat pendidikan yang lebih tinggi.