Anda di halaman 1dari 16

F.1.

Upaya Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat

Laporan Kegiatan Pelayanan Kesehatan Masyarakat Primer


(PMKP) dan Usaha KesehatanMasyarakat (UKM)

F1. Upaya Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat

PENYULUHAN CACINGAN PADA ANAK

Oleh:

dr. Aji Dwijayanto

Pendamping:

dr. Hj. Dahlia Abbas

PUSKESMAS BARA BARAYYA

KOTA MAKASSAR

PROVINSI SULAWESI SELATAN

PERIODE OKTOBER 2017-FEBRUARI 2018

1
F.1. Upaya Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat

HALAMAN PENGESAHAN

Nama : dr. Aji Dwijayanto

Judul Laporan : Penyuluhan Cacingan Pada Anak

Laporan tentang Penyuluhan Penyakit Cacingan Pada Anak telah disetujui guna
melengkapi tugas Dokter Internsip dalam Pelayanan Kesehatan Masyarakat Primer
(PKMP) dan Usaha KesehatanMasyarakat (UKM) di bidang Upaya Promosi
kesehatan dan pemberdayaan masyarakat.

Makassar, Januari 2018

Mengetahui,

Pendamping Dokter Internsip

dr. Hj. Dahlia Abbas

2
F.1. Upaya Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat

LAPORAN KEGIATAN
UPAYA PROMOSI KESEHATAN DAN PEMBERDAYAAN
MASYARAKAT
PENYULUHAN CACINGAN PADA ANAK

A. LATAR BELAKANG
Kebutuhan gizi merupakan kebutuhan yang sangat penting dalam
membantu proses pertumbuhan dan perkembangan pada bayi dan anak, mengingat
manfaat gizi dalam tubuh dapat membantu proses pertumbuhan dan perkembangan
anak, serta mencegah terjadinya berbagai penyakit akibat kurang gizi dalam tubuh.
Adapaun salah satu penyebab dari gangguan status gizi adalah penyakit cacingan.
Bila status gizi buruk akan menyebabkan gangguan gizi, anemia, gangguan
pertumbuhan dan tingkat kecerdasan anak menurun.
Sekitar 40 hingga 60 persen penduduk Indonesia menderita cacingan dan
data WHO menyebutkan lebih dari satu milliar penduduk dunia juga menderita
cacingan. Sebagian besar penderita cacingan hidup di wilayah kumuh. Dan
penderita di kalangan anak sekolah pun masih cukup tinggi. Menurut survei yang
pernah dilakukan oleh Sub Direktorat Penanggulangan dan Pencegahan Diare,
Cacingan, dan ISPL, Departemen Kesehatan Jakarta di suatu daerah terutama pada
anak Sekolah Dasar (SD) menyebutkan sekitar 49,5 persen dari 3160 siswa di 13
SD ternyata menderita cacingan. Siswa perempuan memiliki prevalensi lebih tinggi
yaitu 51,5 persen dibandingkan dengan siswa laki-laki yang hanya 48,5 persen.
Studi pendahuluan yang dilaksanakan di salah satu sekolah kota Surabaya, tepatnya
di sekolah Al Mustofa Surabaya, pada bulan Januari 2009 pernah terjadi satu kasus
penyakit cacingan. Yaitu dari 5 siswa yang diperiksa ada salah satu siswa yang
positif terdapat telur cacing.

Sebelum anak terkena cacingan, terlebih dahulu telur cacing keluar dari
perut manusia bersama feses. Jika limbah manusia itu dialirkan ke sungai atau got,
maka setiap tetes air akan terkontaminasi telur cacing. Jika air yang telah tercemar

3
F.1. Upaya Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat

dipakai oleh orang lain untuk menyirami tanaman atau aspal jalan, telur-telur itu
naik ke darat. Begitu air mengering, mereka menempel pada butiran debu.

Telur lainnya terbang ke tempat-tempat yang sering dipegang tangan


manusia. Lewat interaksi sehari-hari, mereka bisa berpindah dari satu tangan ke
tangan lain. Karena menular lewat makanan, sehingga dapat menelan telur cacing
dari sayuran mentah yang dicuci kurang bersih, ketika menetas cacing tersebut akan
tinggal di usus halus dan akan tinggal di perut anak tersebut. Setelah mencapai umur
2 - 3 bulan, cacing akan menjelma menjadi seekor cacing betina dewasa yang siap
bertelur dan akan membuat siklus baru buat cacing-cacing generasi berikutnya.

Setelah terinfeksi akan mengalami kekurangan hemoglobin (Hb) hingga 12


gr persen dan akan berdampak terhadap kemampuan darah membawa oksigen ke
berbagai jaringan tubuh, termasuk ke otak. Akibatnya, penderita cacingan terserang
penurunan daya tahan tubuh serta metabolisme jaringan otak. Bahkan dalam jangka
panjang, penderita akan mengalami kelemahan fisik dan intelektualitas. Jika anak-
anak sudah terinfeksi cacing, baisanya akan menunjukkan gejala keterlambatan
fisik, mental dan seksual.

B. PERMASALAHAN DI MASYARAKAT
Di Indonesia penyakit kecacingan tersebar luas di pedesaan maupun di
perkotaan. Hasil survei infeksi kecacingan di sekolah dasar (SD) di beberapa
propinsi menunjukan prevalensi sekitar 60% – 80%, sedangkan untuk semua umur
berkisar antara 40% – 60%. Hasil survei pada tahun 2002 dan 2003 pada 40 sekolah
dasar pada 10 propinsi di Indonesia menunjukan prevalensi berkisar antara 2,2% –
96,3%. Hasil penelitian menunjukan prevalensi kecacingan ditemukan pada semua
golongan umur, namun tertinggi pada usia anak SD yakni 90 – 100%. (Marleta,
Harijani dan Marwoto, 2005). Kasus kecacingan pada wilayah kerja puskesmas
Bara – Baraya tergolong tinggi hal ini disebabkan antara lain kondisi iklim yang
sesuai untuk pertumbuhannya, kondisi sanitasi lingkungan dan higiene perorangan
yang buruk serta keadaan sosial ekonomi dan pendidikan yang rendah.

4
F.1. Upaya Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat

C. PEMILIHAN INTERVENSI
Oleh karena permasalahan yang terjadi diatas, maka diadakan kegiatan
penyuluhan mengenai kecacingan pada anak dengan membiasakan cuci tangan
pakai sabun, pola hidup bersih dan sehat, memakai alas kaki, menggunting kuku
secara teratur dan tidak buang air besar sembarang tempat.

D. PELAKSANAAN
Pada tanggal 18 Desember 2017 dilakukan Penyuluhan tentang Pencegahan
Cacingan Pada Anak di Puskesmas Bara Baraya Makassar dengan menggunakan
metode leaflet dengan peserta sekitar 20 ibu yang memiliki anak anak di Puskesmas
Bara Baraya Makassar.

Materi yang diberikan berupa

1. Pengertian tentang penyakit cacingan


2. Gejala Cacingan Pada Anak
3. Penyebab Cacingan Pada Anak
4. Pencegahan Cacingan Pada Anak
5. Pengobatan Cacingan Pada Anak

Setelah dilakukan penyuluhan, para peserta dapat melakukan tanya jawab


dengan narasumber. Ibu – ibu yang memiliki anak diharapkan dapat lebih mudah
dan lebih mengerti tentang Pencegahan Cacingan Pada Anak sehingga tidak
megganggu pertumbuhan dan perkembangan anak.

E. EVALUASI
1. Kesimpulan

Setiap warga yang mengikuti penyuluhan menunjukkan antusias yang


baik dan dengan semangat mendapatkan edukasi tentang penyakit kecacingan
dan pencegahannya. Warga juga mendapatkan edukasi tentang 7 langkah cuci
tangan bersih. Hal ini membuktikan bahwa warga sadar akan pentingnya
mencegah penyakit kecacingan pada anak.

5
F.1. Upaya Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat

2. Saran

 Kegiatan penyuluhan upaya promosi kesehatan dan pemberdayaan


masyarakat sebaiknya diperluas cakupannya. Tidak hanya berhenti pada
edukasi pencegahan kecacingan, tetapi juga pada edukasi tentang sanitasi,
kebersihan rumah tangga, dan lain-lain.
 Perlu dilakukan monitoring atau follow up untuk memastikan bahwa
masyarakat telah berperan aktif dalam melaksanakan pencegahan
kecacingan pada anak.

6
F.1. Upaya Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian cacingan

Cacingan adalah penyakit yang disebabkan oleh jenis cacing-cacing khusus


yang ditularkan melalui tanah dan sarana penularan lainnya. Tempat bersarang
cacing-cacing ini di dalam tubuh manusia pun berbeda, ada yang bersarang di usus
halus seperti cacing gelang dan cacing tambang. Ada juga yang bermukim di usus
besar seperti cacing cambuk.

Cacingan merupakan penyakit khas daerah tropis dan sub-tropis, dan biasanya
meningkat ketika musim hujan. Pada saat tersebut, sungai dan kakus meluap, dan
larva (masa hidup setelah telur) cacing menyebar ke berbagai tempat yang sangat
mungkin dapat bersentuhan dan masuk ke dalam tubuh manusia. Larva cacing yang
masuk ke dalam tubuh perlu waktu 1-3 minggu untuk berkembang. Manusia
merupakan hospes beberapa nematoda usus. Sebagian besar nematoda ini
menyebabkan masalah kesehatan.

B. Penyebab Penyakit Cacingan

Penyakit infeksi cacing dapat di sebabkan oleh beberapa jenis cacing,


dintaranya adalah Ascaris lumbricoides yang menyebabkan askariasis, Necator
americanus dan Ancylostoma duodenale yang menyebabkan necatoriasis dan
anchilostomiasis, Enterobius vermicucularis yang menyebabkan
enterobiasis,Trichuris trichiura (Trichocephalus dispar, cacing cambuk) yang
menyebabkan trichuriasis, Strongyloides stercoralis yang menyebabkan
strongiloidiasisTrichinella spiralis (Trichina worm, cacing trichina) yang
menyebabkan, Toxocara canis (dog worm) dan Toxocara cati (cat worm) umunya
menginfeksi hewan (anjing dan kucing) tapi kadang-kadang cacing ini dapat hidup
pada manusia sebagai parasit yang mengembara(erratic parasit) yang menyebabkan
penyakit viceral larva migrans, Ancylostoma braziliense dan Ancylostoma

7
F.1. Upaya Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat

caninum yang menyebabkan creeping eruption pada manusia dan cacing-cacing


jenis lain yang dapat menginfeksi manusia .

C. Jenis Cacing

1.Cacing Gelang (Ascaris lumbricoides)

Manusia merupakan satu-satunya hospes (tempat hidup) cacing ini. Cacing


jantan berukuran 10 – 30 cm, sedangkan betina 22 – 35 cm, pada stadium dewasa
hidup di rongga usus halus, cacing betina dapat bertelur sampai 100.000 – 200.000
butir sehari, terdiri dari telur yang dibuahi dan telur yang tidak dibuahi. Dalam
lingkungan yang sesuai, telur yang dibuahi tumbuh menjadi bentuk infektif dalam
waktu kurang lebih 3 minggu. Bentuk infektif ini bila tertelan manusia, akan
menetas menjadi larva di usus halus, larva tersebut menembus dinding usus menuju
pembuluh darah atau saluran limfa dan dialirkan ke jantung lalu mengikuti aliran
darah ke paru-paru menembus dinding pembuluh darah, lalu melalui dinding
alveolus masuk rongga alveolus, kemudian naik ke trachea melalui bronchiolus dan
broncus. Dari trachea larva menuju ke faring, sehingga menimbulkan rangsangan
batuk, kemudian tertelan masuk ke dalam esofagus lalu menuju ke usus halus,
tumbuh menjadi cacing dewasa. Proses tersebut memerlukan waktu kurang lebih 2
bulan sejak tertelan sampai menjadi cacing dewasa

2.Cacing Tambang

Cacing tambang Hospes parasit ini adalah manusia, Cacing dewasa hidup
di rongga usus halus dengan giginya melekat pada mucosa usus. Cacing betina
menghasilkan 9.000 – 10.000 butir telur sehari. Cacing betina mempunyai panjang
sekitar 1 cm, cacing jantan kira-kira 0,8 cm, cacing dewasa berbentuk seperti huruf
S atau C dan di dalam mulutnya ada sepasang gigi. Daur hidup cacing tambang
adalah sebagai berikut, telur cacing akan keluar bersama tinja, setelah 1 – 1,5 hari
dalam tanah, telur tersebut menetas menjadi larva rabditiform. Dalam waktu sekitar
3 hari larva tumbuh menjadi larva filariform yang dapat menembus kulit dan dapat
bertahan hidup 7–8 minggu di tanah. Setelah menembus kulit, larva ikut aliran
darah ke jantung terus ke paru-paru. Di paru-paru menembus pembuluh darah

8
F.1. Upaya Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat

masuk ke bronchus lalu ke trachea dan laring. Dari laring, larva ikut tertelan dan
masuk ke dalam usus halus dan menjadi cacing dewasa. Infeksi terjadi bila larva
filariform menembus kulit atau ikut tertelan bersama makanan.

3.Cacing Cambuk

Manusia merupakan hospes cacing ini. Cacing betina panjangnya sekitar 5


cm dan yang jantan sekitar 4 cm. Cacing dewasa hidup di kolon asendens dengan
bagian anteriornya masuk ke dalam mukosa usus. Satu ekor cacing betina
diperkirakan menghasilkan telur sehari sekitar 3.000 – 5.000 butir. Telur yang
dibuahi dikelurkan dari hospes bersama tinja, telur menjadi matang (berisi larva dan
infektif) dalam waktu 3 – 6 minggu di dalam tanah yang lembab dan teduh. Cara
infeksi langsung terjadi bila telur yang matang tertelan oleh manusia (hospes),
kemudian larva akan keluar dari telur dan masuk ke dalam usus halus sesudah
menjadi dewasa cacing turun ke usus bagian distal dan masuk ke kolon asendens
dan sekum. Masa pertumbuhan mulai tertelan sampai menjadi cacing dewasa betina
dan siap bertelur sekitar 30 – 90 hari.

4.Cacing Gelang

Sering kembung, mual, dan muntah-muntah. Kehilangan nafsu makan


dibarengi diare, akibat ketidakberesan di saluran pencernaan. Pada kasus yang
berat, penderita mengalami kekurangan gizi. Cacing gelang yang jumlahnya

9
F.1. Upaya Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat

banyak, akan menggumpal dan berbentuk seperti bola, sehingga menyebabkan


terjadinya sumbatan di saluran pencernaan.

D. Penularan Cacingan

Penularan kecacingan secara umum melalui dua cara

1. Anak buang air besar sembarangan – Tinja yang mengandungi telur cacing
mencemari tanah – Telur menempel di tangan atau kuku ketika mereka
sedang bermain– Ketika makan atau minum, telur cacing masuk ke dalam
mulut – tertelan – kemudian orang akan cacingan dan seterusnya terjadilah
infestasi cacing.
2. Anak buang air besar sembarangan – tinja yang mengandung telur cacing
mencemari tanah – dikerumuni lalat – lalat hinggap di makanan atau
minuman – makanan atau minuman yang mengandungi telur cacing masuk
melalui mulut – tertelan – dan selanjutnya orang akan cacingan – infestasi
cacingpun terjadi.

siklus masuknya penyakit kecacingan pada tubuh manusia melaui dua cara yaitu
Pertama : telur yang infektif masuk melalui mulut, tertelan kemudian masuk
usus besar , beberapa lama hari kemudian menetas jadi larva lalu menjadi
dewasa dan berkembang biak. Kedua : telur menetas ditanah lalu menjadi larva
infektif kemudian masuk melalui kulit kaki atau tangan menerobos masuk ke
pembuluh darah terus ke jantung berpindah paru-paru, lalu terjerat di

10
F.1. Upaya Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat

tenggorakan masuk kerongkongan lalu usus halus kemudian menjadi dewasa


dan berkembang biak.

E. Pencegahan Penyakit Cacingan

 Cucilah tangan sebelum makan.

 Budayakan kebiasaan dan perilaku pada diri sendiri, anak dan keluarga
untuk mencuci tangan sebelum makan. Kebiasaan akan terpupuk dengan
baik apabila orangtua meneladani. Dengan mencuci tangan makan akan
mengeliminir masuknya telur cacing ke mulut sebagai jalan masuk pertama
ke tempat berkembang biak cacing di perut kita.

 Pakailah alas kaki jika menginjak tanah. Jenis cacing ada macamnya. Cara
masuknya pun beragam macam, salah satunya adalah cacing tambang
(Necator americanus ataupun Ankylostoma duodenale). Kedua jenis cacing
ini masuk melalui larva cacing yang menembus kulit di kaki, yang
kemudian jalan-jalan sampai ke usus melalui trayek saluran getah bening.
Kejadian ini sering disebut sebagai Cutaneus Larva Migran (dari namanya
ini kita sudah tahu lah apa artinya; cutaneus: kulit, larva: larva, migrant:
berpindah). Nah, setelah larva cacing sampai ke usus, larva ini tumbuh
dewasa dan terus berkembang biak dan menghisap darah manusia. Oleh
sebab itu Anda akan anemia. *Lha wong berbagi darah dan hidup dengan
cacing

 Gunting dan bersihkan kuku secara teratur. Kadang telur cacing yang
terselip di antara kuku Anda dan selamat masuk ke usus Anda dan
mendirikan koloni di sana.

 Jangan buang air besar sembarangan dan cuci tangan saat membasuh. Setiap
kotoran baiknya dikelola dengan baik, termasuk kotoran manusia. Di negara
kita masih banyak warga yang memanfaatkan sungai untuk buang hajat.
Dengan perilaku ini maka kotoran-kotoran ini akan liar tidak terjaga,
sehingga mencemari lingkungannya. Dan, jika lingkungan sudah cemar,

11
F.1. Upaya Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat

penularan sering tidak pandang bulu. Orang yang sudah menjaga diri
sebersih mungkin sekalipun masih dapat dihinggapi parasit cacing ini.

 Bertanam atau Berkebunlah dengan baik. Ambillah air yang masih baik
untuk menyiram tanaman. Agar air ini senantiasa baik maka usahakan
lingkungan sebaik mungkin. Menjaga alam ini termasuk bagian dalam
merawat kesehatan.

 Peduli lah dengan lingkungan, maka akan dapat memanfaatkan hasil yang
baik. Jika air yang digunakan terkontaminasi dengan tinja manusia, bukan
tidak mungkin telur cacing bertahan pada kelopak-kelopak tanaman yang
ditanam dan terbawa hingga ke meja makan.

 Cucilah sayur dengan baik sebelum diolah. Cucilah sayur di bawah air yang
mengalir. Mengapa demikian? Ya, agar kotoran yang melekat akan terbawa
air yang mengalir, di samping itu nilai gizi sayuran tidak hilang jika dicuci
di bawah air yang mengalir. Cara mengolah sayuran yang baik dapat Anda
lihat di artikel Cerdas mengolah Sayuran : Menjamin Ketersediaan Nutrisi.

 Hati-hatilah makan makanan mentah atau setengah matang, terutama di


daerah yang sanitasinya buruk. Perlu dicermati juga, makanan mentah tidak
selamanya buruk. Yang harus diperhatikan adalah kebersihan bahan
makanan agar makanan dapat kita makan sesegar mungkin sehingga enzim
yang terkandung dalam makanan dapat kita rasakan manfaatnya. Ulasan
saya tentang makanan mentah yang menyehatkan dapat dilihat pada artikel
Diet Sunda ini.

 Buanglah kotoran hewan hewan peliharaan kesayangan Anda seperti kucing


atau anjing pada tempat pembuangan khusus

 Pencegahan dengan meminum obat anti cacing setiap 6 bulan, terutama bagi
Anda yang risiko tinggi terkena infestasi cacing ini, seperti petani, anak-
anak yang sering bermain pasir, pekerja kebun, dan pekerja tambang (orang-
orang yang terlalu sering berhubungan dengan tanah.

12
F.1. Upaya Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat

F. Pengobatan Penyakit Cacingan

 Penanganan untuk mengatasi infeksi cacing dengan obat-obatan merupakan


pilihan yang dianjurkan. Obat anti cacing Golongan Pirantel Pamoat
(Combantrin dan lain-lain) merupakan anti cacing yang efektif untuk
mengatasi sebagian besar infeksi yang disebabkan parasit cacing.

 Intervensi berupa pemberian obat cacing ( obat pirantel pamoat 10 mg / kg


BB dan albendazole 10 mg/kg BB ) dosis tunggal diberikan tiap 6 bulan
pada anak SD dapay mengurangi angka kejadian infeksi ini pada suatu
daerah

 Paduan yang serasi antara upaya prevensi dan terapi akan memberikan
tingkat keberhasilan yang memuaskan, sehingga infeksi cacing secara
perlahan dapat diatasi secara maksimal, tuntas dan paripurna

Makassar, Januari 2018

Peserta Pendamping

(dr. Aji Dwijayanto) (dr. Hj. Dahlia Abbas)

13
F.1. Upaya Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat

LAPORAN KEGIATAN

Nama Peserta dr. Aji Dwijayanto Tanda tangan:

Nama Pendamping dr. Hj. Dahlia Abbas Tanda tangan:

Nama Wahana Puskesmas Bara Barayya

Tujuan Pelaksanaan Melakukan Penyuluhan penyakit kecacingan

Hari/Tanggal Senin/ 18 Desember 2017

Waktu 08.00 WITA

Tempat Puskesmas Bara Barayya

Jumlah Pasien 20

14
F.1. Upaya Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat

DAFTAR PUSTAKA

1. Agustina. 2000. Telur Cacing Ascaris Lumbricoides pada Tinja dan Kuku
Anak Balita serta pada tanah di Kecamatan Paseh Kabupaten Bandung,
Jawa Barat
2. Arikunto, S. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Rineka
Cipta, Jakarta
3. Azwar A 1993. Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan, Mutiara, Jakarta
4. Bakta IM. 1995. Aspek Epidemiologi Infeksi Cacing Tambang Pada
Penduduk Dewasa Desa Jagapati Bali, Jurnal Medika, Jakarta
5. Brown 1983. Dasar Parasitologi Klinis, Penerjemah Rukmono, Jakarta
6. Budiarto E 2003. Metodologi Penelitian Kedokteran, EGC, Jakarta
7. Depkes RI, 1998. Pedoman Program Pemberantasan Penyakit Kecacingan,
Jakarta
8. Dirjen P2M & PL 1998. Pedoman Program Pemberantasan Penyakit
Kecacingan, Depkes RI, Jakarta
9. Entjang I 2001. Ilmu Kesehatan Masyarakat, Citra Aditya Bakti, Bandung
10. Fatmandini A.S 1998. Infeksi Cacingan Usus yang Ditularkan Melalui
Tanah Kaitannya dengan Perilaku Anak dan Status Gizinya di SD Negeri
Sleman, Program Pasca sarjana, Universitas Gajah Mada, Yogjakarta FKUI,
2010. Parasitologi Kedokteran, Jakarta.
11. Gandahusada S. Ilahude H, Herry D dan Pribadi W 2004, Parasitologi
Kedokteran. FK UI, Jakarta
12. Ginting L. 2005. Faktor-faktor yang mempengaruhi Infestasi Kecacingan
anak SD di Kecamatan Sei Bingai Kabupaten Langkat, Program Pasca
sarjana, Universitas Indonesia, Jakarta.
13. Ginting. 2008. Faktor-faktor Yang Berhubungan dengan Kejadian
Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar di Desa Tertinggal, Kecamatan
Pangururan Kabupaten Samosir, Universitas Sumatera Utara.

15
F.1. Upaya Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat

14. Hadidjaja P 1994. Masalah Penyakit Kecacingan di Indonesia dan


Penanggulangannya, Majalah Kedokteran Indonesia, Jakarta
15. Helmy D. 2000. Penyakit cacing di Unit Pemukiman Transmigrasi Propinsi
Bengkulu
Pada Anak Sekolah Dasar, Media Litbang Kesehatan, Jakarta
16. Hidayat,T., 2002. Kesehatan Lingkungan Higine perseorangan dan
Intensitas penyakit kecacingan dengan status gizi pada anak sekolah dasar
di kota Mataram. Thesis Program Pasca Sarjana, UGM, Yokyakarta.
17. Nelson (1994). Ilmu Kesehatan Anak. Bagian ke – 2. EGC. Jakarta.
18. Mahzumi W. 2000. Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Angka
Kecacingan Dalam Program Pemberian Obat Cacing Anak Usia Sekolah,
Program Pasca Sarjana UGM, Yogjakarta.

16