Anda di halaman 1dari 15

Laboratorium Geologi Teknik dan Hidrogeologi 2014

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Hidrologi (berasal dari Bahasa Yunani:, Hydrologia, "ilmu air") adalah cabang ilmu
Geografi yang mempelajari pergerakan, distribusi, dan kualitas air di seluruh Bumi,
termasuk siklus hidrologi dan sumber daya air.
Menurut Undang Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air (UU No.
7/2004) mendefinisikan air tanah sebagai air yang terdapat dalam lapisan tanah atau
batuan di bawah permukaan tanah.
Air bawah permukaan adalah segala bentuk aliran air hujan yang mengalir di bawah
permukaan tanah sebagai akibat struktur perlapisan geologi, beda potensi kelembaban
tanah, dan gaya gravitasi bumi. Air bawah permukaan tersebut biasa dikenal dengan air
tanah (Asdak, 2002). Air yang berada di bawah muka air pada umumnya disebut air
tanah, dan lajur di bawahnya disebut sebagai lajur jenuh.
Pengenalan dan pemahaman mengenai pemetaan muka air tanah serta hidrologi
sangat penting pada suatu daerah sebagai dasar pemahaman tentang pemetaan muka air
tanah secara regional . Pemetaan muka air tanah berguna untuk mengetahui alah aliran air
dan keadaan bawah permukaan. Hidrogeologi merupakan metode pemahaman tentang air
tanah baik dari segi fisik, kimia, maupun penyebaran serta kelayakan untuk dikonsumsi
oleh masyarakat disekitarnya. Oleh karena itu, mahasiswa melakukan pemetaan muka air
tanah untuk memetakan air tanah berdasarkan kapling masing-masing sekaligus untuk
menambah pengetahuan mahasiswa

I.2 Maksud dan tujuan


Maksud dari pembuatan laporan poster pemetaan muka air tanah ini adalah untuk
mempelajari dan mengaplikasikan pemetaan muka air tanah dari berbagai aspek kemudian
diaplikasikan untuk pembelajaran mata kuliah sekaligus praktikum Hidrogeologi.
Tujuan dari pembuatan laporan ini adalah untuk pembuatan peta geologi, lintasan,
geomorfologi, dan pola pengaliran. Serta pembuatan peta anion, kation, kelayakan, dhl,
tds, dan pH.

Kelompok 6
Laboratorium Geologi Teknik dan Hidrogeologi 2014

1.3 Lokasi dan Kesampaian Daerah


Lokasi pengambilan sampel dan pemetaan air tanah berada di Kecamatan
Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Perjalanan
dimulai dari kampus UPN “Veteran” Yogyakarta melalui ringroad utara, lalu sampai
perempatan jalan godean belok kanan lurus hingga perempatan daerah Nanggulan, Kulon
Progo lalu belok kanan lalu sampai pada lokasi. Lokasi ini ditempuh dengan kendaraan
bermotor kira-kira membutuhkan waktu perjalanan selama kurang 90 menit dari Kampus
UPN “Veteran” Yogyakarta

KETERANGAN :

= LOKASI
SAMPLING

Gambar 1.1 Lokasi Kesampaian Penelitian

I.4 Alat dan Bahan


Alat yang digunakan dalam melakukan pemetaan ini dibagi menjadi 2, yaitu alat
yang digunakan pada saat pengambilan data dan saat analisis data.
a. Pengambilan data
a. Palu
b. Kompas
c. Meteran
d. Botol sampel
e. HCl

Kelompok 6
Laboratorium Geologi Teknik dan Hidrogeologi 2014

b. Analisis Data
a. pH meter
b.

Kelompok 6
Laboratorium Geologi Teknik dan Hidrogeologi 2014

Studi Pustaka Pembelajaran geologi regional

Pengumpulan Data  Pengambilan sampel air


 Pengeplotan sumur
 Pengambilan kedudukan
lapisan dan kontak batuan
 Penghitungan MAT

Analisis sampel air dari 50 sumur untuk


Analisis Data Sampel Air menganalisis Ph, TDS dan DHL

Perhitungan kandungan kimia sampel air,


pembuatan peta kation dan anion.
Pembuatan Peta Pembuatan peta geologi, geomorfologi,
lintasan dan pola pengaliran, serta peta
MAT dan flow net.

Poster yang terdiri dari kumpulan


Output Data
peta, dan Laporan Lapangan

Gambar 1.1 Diagram alir metode penelitian


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Geologi Regional


Fisiografi jawa tengah dibagi 5 Zona Fisigrafi (Van Bemmelen)
- dataran pantai utara jawa
- Zona pegunungan serayu utara

Kelompok 6
Laboratorium Geologi Teknik dan Hidrogeologi 2014

- Zona depresi tengah denga kelompok gunung kuarter


- Zona pegunungan serayu selatan
- Zona pegunungan selatan
Secara umum kecamatan Dono Harjo termasuk daerah formasi yogyakarta
(WARTONO 1974) Yang terdiridari endapang vulkanik kuarter merapi batuannya breksi,
sisipan lava, endapan aluvial dan endapan lahar yang yang diendapkan pada kala pliosen –
plistosen dengan lingkungan pengendapan darat . satuan ini menumpang secara tidak
selaras diatas semua formasi yang lebih tua.
Berdasarkan system umur yang ditentukan oleh penyusun batuan stratigrafi regional
menurut Wartono Rahardjo dkk(1977), Wirahadikusumah (1989), dan Mac Donald dan
partners (1984), daerah penelitian dapat dibagi menjadi 4 formasi, yaitu :
a. Formasi Nanggulan
Formasi Nanggulan mempunyai penyusun yang terdiri dari batu pasir, sisipan lignit,
napal pasiran dan batu lempungan dengan konkresi limonit, batu gamping dan tuff, kaya
akan fosil foraminifera dan moluska dengan ketebalan 300 m. berdasarkan penelitian
tentang umur batuannya didapat umur formasi nanggulan sekitar eosen tengah sampai
oligosen atas. Formasi ini tersingkap di daerah Kali Puru dan Kali Sogo di bagian timur
Kali Progo. Formasin Nanggulan dibagi menjadi 3, yaitu
1. Axinea Beds
Formasi paling bawah dengan ketebalan lapisan sekitar 40 m, terdiri dari abut pasir,
dan batu lempung dengan sisipan lignit yang semuanya berfasies litoral, axiena bed ini
memiliki banyak fosil pelecypoda.
2. Yogyakarta beds
Formasi yang berada di atas axiena beds ini diendapkan secara selaras denagn
ketebalan sekitar 60 m. terdiri dari batu lempung ynag mengkonkresi nodule, napal, batu
lempung, dan batu pasir. Yogyakarta beds mengandung banyak fosil poraminifera besar
dan gastropoda.
3. Discocyclina beds
Formasi paling atas ini juga diendapkan secara selaras diatas Yogyakarta beds denagn
ketebalan sekitar 200m. Terdiri dari batu napal yang terinteklasi dengan batu gamping dan
tuff vulakanik, kemudian terinterklasi lagi dnegan batuan arkose. Fosil yang terdapat pada
discocyclina beds adalah discocyclina.
b. Formasi Andesit Tua

Kelompok 6
Laboratorium Geologi Teknik dan Hidrogeologi 2014

Formasi ini mempunyai batuan penyusun berupa breksi andesit, lapili tuff, tuff, breksi
lapisi , Aglomerat, dan aliran lava serta batu pasir vulkanik yang tersingkap di daerah
kulon progo. Formasi ini diendapkan secara tidak selaras dengan formasi nanggulan
dengan ketebalan 660 m. Diperkirakan formasi ini formasi ini berumur oligosen – miosen.
c. Formasi Jonggrangan
Formasi ini mempunyai batuan penyusun yang berupa tufa, napal, breksi, batu lempung
dengan sisipan lignit didalamnya, sedangkan pada bagian atasnya terdiri dari batu gamping
kelabu bioherm diselingi dengan napal dan batu gamping berlapis. Ketebalan formasi ini
2540 meter. Letak formasi ini tidak selaras dengan formasi andesit tua. Formasi
jonggrangan ini diperkirakan berumur miosen. Fosil yang terdapat pada formasi ini ialah
poraminifera, pelecypoda dan gastropoda.
d. Formasi Sentolo
Formasi Sentolo ini mempunyai batuan penyusun berupa batu pasir napalan dan batu
gamping, dan pada bagian bawahnya terdiri dari napal tuffan. Ketebalan formasi ini sekitar
950 m. Letak formasi initak selaras dengan formasi jonggrangan. Formasi Sentolo ini
berumur sekitar miosen bawah sampai pleistosen.
Sedang menurut Van Bemellen Pegunungan Kulon Progo dikelompokkan menjadi
beberapa formasi berdasarkan batuan penyusunnya. Formasi tersebut dimulai dari yang
paling tua yaitu sebagai berikut :
a. Formasi Nanggulan
Formasi Nanggulan mempunyai penyusun yang terdiri dari batu pasir, sisipan lignit,
napal pasiran dan batu lempungan dengan konkresi limonit, batu gamping dan tuff, kaya
akan fosil foraminifera dan moluska dengan ketebalan 300 m. berdasarkan penelitian
tentang umur batuannya didapat umur formasi nanggulan sekitar eosen tengah sampai
oligosen atas. Formasi ini tersingkap di daerah Kali Puru dan Kali Sogo di bagian timur
Kali Progo. Formasin Nanggulan dibagi menjadi 3, yaitu
a. Axinea Beds
Formasi paling bawah dengan ketebalan lapisan sekitar 40 m, terdiri dari abut pasir,
dan batu lempung dengan sisipan lignit yang semuanya berfasies litoral, axiena bed ini
memiliki banyak fosil pelecypoda.
b. Yogyakarta beds
Formasi yang berada di atas axiena beds ini diendapkan secara selaras denagn
ketebalan sekitar 60 m. terdiri dari batu lempung ynag mengkonkresi nodule, napal, batu

Kelompok 6
Laboratorium Geologi Teknik dan Hidrogeologi 2014

lempung, dan batu pasir. Yogyakarta beds mengandung banyak fosil poraminifera besar
dan gastropoda.
c. Discocyclina beds
Formasi paling atas ini juga diendapkan secara selaras diatas Yogyakarta beds denagn
ketebalan sekitar 200m. Terdiri dari batu napal yang terinteklasi dengan batu gamping dan
tuff vulakanik, kemudian terinterklasi lagi dnegan batuan arkose. Fosil yang terdapat pada
discocyclina beds adalah discocyclina.
b. Formasi Andesit Tua
Formasi ini mempunyai batuan penyusun berupa breksi andesit, lapili tuff, tuff, breksi
lapisi , Aglomerat, dan aliran lava serta batu pasir vulkanik yang tersingkap di daerah
kulon progo. Formasi ini diendapkan secara tidak selaras dengan formasi nanggulan
dengan ketebalan 660 m. Diperkirakan formasi ini formasi ini berumur oligosen – miosen.
c. Formasi Jonggrangan
Formasi ini mempunyai batuan penyusun yang berupa tufa, napal, breksi, batu lempung
dengan sisipan lignit didalamnya, sedangkan pada bagian atasnya terdiri dari batu gamping
kelabu bioherm diselingi dengan napal dan batu gamping berlapis. Ketebalan formasi ini
2540 meter. Letak formasi ini tidak selaras dengan formasi andesit tua. Formasi
jonggrangan ini diperkirakan berumur miosen. Fosil yang terdapat pada formasi ini ialah
poraminifera, pelecypoda dan gastropoda.
d. Formasi Sentolo
Formasi Sentolo ini mempunyai batuan penyusun berupa batu pasir napalan dan batu
gamping, dan pada bagian bawahnya terdiri dari napal tuffan. Ketebalan formasi ini sekitar
950 m. Letak formasi initak selaras dengan formasi jonggrangan. Formasi Sentolo ini
berumur sekitar miosen bawah sampai pleistosen
e. Forasi Alluvial dan gumuk pasir
Formasi ini iendapan secara tidak selaras terhadap lapisan batuan yang umurnya lebih
tua. Litologi formasi ini adalah batu apsr vulkanik merapi yang juga disebut formasi
Yogyakarta. Endapan gumuk pasir terdiri dari pasir – pasir baik yang halus maupun yang
kasar, sedangkan endapan alluvialnya terdiri dari batuan sediment yang berukuran pasir,
kerikir, lanau dan lempung secara berselang – seling.

II.2 Dasar teori

Kelompok 6
Laboratorium Geologi Teknik dan Hidrogeologi 2014

Kedudukan muka airtanah yang diketahui kedalamannya dari permukaan tanah


pada suatu tempat,akan mempunyai ketinggian tertentu dari muka air laut (sea level). Jika
ketinggian muka airtanah dari muka air laut ini dijumpai pada tempat yang lain,maka akan
didapatkan kontur airtanah yang mempunyai harga equipotensial yang tertentu. Harga
equipotensial atau harga energi potensial (Ep) mempunyai rumus :
Ep = m.g.h

Dimana : m = massa
G = gavitasi
H = ketinggian

Sehingga suatu kontur airtanah akan mempunyai harga equipotensial yang berbeda
dengan kontur yang lain. Dari ketiga factor diatas maka airtanah akan mengalir
equipotensial yang tinggi ke rendah.
Secara teoritis,arah aliran (flow line) air tanah diangap tegak lurus dengan kontur airtanah
atau garis equipotensial.
Pada akhirnya,kombinasi dari keduanya yaitu garis kontur airtanah (equipotensial)
dan arah aliran airtanah (flow line) akan menghasilkan suatu jarring-jaring dari airtanah
atau disebut flow net.
Garis equipotensial adalah merupakan garis imajiner/k khayal yang
menghubungkan titik-titik head yang mempunyai ketinggian yang sama dibawah
permukaan.
Flow net/jaring- jaring aliran,garis-garis aliran berjumlah tak terhingga,namun
dalam penggambaranya hanya sebagian saja yang ditampilkan.
Adapun kegunaan flow net adalah
 Untuk mengetahui arah aliran airtanah
Dapat digunakan untuk mengestimasi kuantitas air yang mengalir melalui suatu
akifer (dengan persamaan darcy)

Kelompok 6
Laboratorium Geologi Teknik dan Hidrogeologi 2014

BAB III
PEMBAHASAN
III. 1 Alat dan Bahan
Adapun alat-alat yang digunakan oleh tim, antaralain adalah :
- Peta topografi
- Meteran
- Botol sampel
- Kompas
- GPS

Kelompok 6
Laboratorium Geologi Teknik dan Hidrogeologi 2014

III.2 Langkah kerja


Adapun tahapan cara kerja yang dilakukan oleh tim penyusun adalah :
1. Cari titik sumur gali,dilapangan dan plotkan posisinya pada peta topografi.
2. Ukur elevasi titik-titik sumur,kedalaman airtanah di sumur dari permukaan tanah
dan hitung tinggi muka airtanah dari permukaan air laut.
Caranya :
i. Ukur tinggi bibir sumur (elevasi sumur thd datum)
ii. Ukur muka airtanah disumur tersebut dengan meteran (kedalaman
m.a.t dari bibir sumur)
iii. Jika a = elevasi bibir sumur terhadap datum
B = kedalaman m.a.t dari bibir sumur
Maka ketinggian m.a.t= a – b
3. Kemudian ambil sample air dalam sumur tersebut untuk test kimia airtanah
4. Untuk sungai diukur elevasi muka air sungainya
5. Jika menentukan mata air,maka tentukan arah alirannya,jika memungkinkan ukur
debitnya dengan wadah berukur dan stopwatch
6. Setelah diketahui ketinggian muka airtanah pada sumur gali kemudian plotkan
harga-harga ketingian tersebut pada pete topografi
7. Kemudian baru dibuat kontur muka airtanah dengan intrapolasi/ekstrapolasi dan
perhatikan juga hokum-hukum untuk pembuatan kontur muka airtanah
8. dari pola kontur tentukan arah alirannya

Secara umum, Kualitas kimia Air tanah di daerah Wates dan sekitarnya memenuhi
Standar air Minum. Berdasarkan peta penyebaran kimia dari air tanah diketahui kandungan
unsur Fe menurunkan konsentrasi tinggi di lokasi – lokasi tertentu.air tanah degan
kandungan zat besi tinggi biasanya berasal dari air sumur yang dalam. Dalam sistem
hidrologeologi merapi air tanah ini dikandung oleh akuifer yang terbentuk oleh endapan
merapi pertengahan.hal ini disebabkan air tanah yang di ambil ( dipompa ) kepermukaan
akanmelewati lapisan yang memisahkan antara endapan merapi pertengahan dengan
endapan merapi muda yaitu lapisan lempung yang banyak mengandung zat besi yang
mengalami oksidasi

Kelompok 6
Laboratorium Geologi Teknik dan Hidrogeologi 2014

Air tanah yang terdapat di lereng merapi pada ketinggian 300 m kandungan Fe dan Mn
lebih tinggi dari kandungan air tanah di bagian yang lebih jauh dari puncak gunung ini.
Kandungan kedua unsur akan berbeda pada daerah – daerah yang litologinya terdiri dari
lava ( endapan merapi tua )
Tingkat keasaman ( ph air ) tesebar dan mengelompok pada daerah – daerah
tertentu degan kadar yang masih layak untuk digunakan dan di konsumsi,di beberapa
daerah Ph dapat bernilai tinggi dikarenaka pembuata sumur yang kurang tepat misalnya
saja pembutan sumur yang bersebelahan WC dan Kandang ayam, sehingga air tanah
tercemar oleh bakteri coli.arah aliran air tanah secara dominan mengarah kebagian selatan
dikarenakan faktor topografi seperti ketinggian. Kemudian menebar keberbagai arah denga
ketinggian yang relatif lebih rendah yang membentuk pola pengaliran radial di permukaan.

III.3 Peta Kimia Air


Secara umum, kualitas kimiawi airtanah di daerah Guwosari dan Desa Ringinharjo,
Kecamatan Srandakan , Kabupaten Bantul D.I Yogyakarta memenuhi standar air minum.
Kandungan kation utama seperti , Ca (kalsium), Mg (magnesium) Na (natrium), dan K
(kalium) maupun anion utama seperti Cl (khlorida), HCO3 (bikarbonat),dan SO4 (sulfat)
berada pada kisaran yang diperbolehkan untuk dikonsumsi walaupun ada sebagian daerah
yg memiliki kandungan So4 yg tinggi.
Airtanah yang terdapat di daerah Desa Guwosari dan Desa Ringinharjo, Kecamatan
Srandakan, Kabupaten Bantul, D.I Yogyakarta, pada ketinggian elevasi paling tinggi 110 m
dan paling rendah 40 m.

III.4. Peta PH , DHL, TDS & Hr (Kesadahan)

Tingkat keasaman (pH) air tersebar dan mengelompok daerah – daerah tertentu dengan
kadar yang masih layak untuk digunakan dan dikonsumsi, sehingga pada daerah telitian
yaitu pada Desa Guwosari dan Desa Ringinharjo , Kecamatan Srandakan, Kabupaten
Bantul , D.I Yogyakarta pada daerah tersebut ph yang ada semuanya layak untuk
dikonsumsi karna ph berkisar mulai dari 6-8, Pada pembuatan peta DHL, TDS dan Hr
(kesadahan) diketahui bahwa daerah Kecamatan Srandakan air yang ada dapat/layak untuk
digunakan, hal itu berdasar dengan melihat masih berada dibawah nilai yang

Kelompok 6
Laboratorium Geologi Teknik dan Hidrogeologi 2014

diperbolehkan. Pada peta kesemua daerah sudah mencakup suatu daerah yang mengandung
DHL, TDS dan Hr (kesadahan) yang layak dengan ketentuan kandungan :
DHL = kurang dari 1000 mg/l
TDS = kurang dari 1000 mg/l

III.5. Peta MAT Dan Peta Overlay

Arah aliran air tanah secara dominan mengarah kebagian selatan dikarenakan faktor
topografi, seperti ketinggian misalnya. Kemudian menyebar keberbagai arah dengan
ketinggian yang relatif lebih rendah. Semakin tinggi muka air tanahnya maka untuk
membuat suatu sumur diperlukan pengeboran yang dalam pula dan semakin rendah muka
air tanahnya maka untuk pengeboran sumur yang dibuat tidak begitu dalam. Hal tersebut
dapat dilihat dari penampang muka air tanah pada peta.
Secara umum dari hasil pembuatan peta overlay didapatkan bahwa secara keseluruhan
daerah Desa Guwosari dan Desa Ringinharjo Kecamatan srandakan , Kabupaten Bantul ,
D.I Yogyakarta memiliki air tanah yang dapat dikonsumsi Hal tersebut diketahui setelah
dilakukan overlay antara peta Cl, Mg, SO4 dan Ca.

BAB VI
KESIMPULAN

Dari hasil interpretasi dan pembuatan peta maka dapat menarik kesimpulan:
Pada umumnya kandungan air tanah pada daerah Desa Guwosari dan Desa
Ringinsari, Kecamatan Srandakan , Kabupaten Bantul , D.I Yogyakarta memenuhi
standar air minum dan diperbolehkan untuk di konsumsi, Dari hasil analisa kami
menyimpulkan, bahwa daerah telitian kami,berdasarkan data peta kesadahan, data
peta pH, peta DHL ,peta Cl, peta SO4 peta Mg, peta Ca, peta TDS, akan tetapi

Kelompok 6
Laboratorium Geologi Teknik dan Hidrogeologi 2014

terdapat beberapa bagian yg tidak layak konsumsi akibat dari tingginya kandungnn
Cl pada daerah tersebut.Sedangkan untuk kandungan Kation Na, Mg,
Ca.Sedangkan untuk kandungan Anion HCO3 dan SO4 layak untuk diminum.
Dari hasil overlay semua peta dapat disimpulkan bahwa 100% Desa
Guwosari dan Desa Ringinsari tidak layak untuk diminum.

DAFTAR PUSTAKA

Pratiknyo, Puji dan Staff Assisten. 2010. “Buku panduan praktikum Hidrogeologi, Jurusan
Teknik Geologi, Fakultas Tekonologi Mineral, Universitas Pembangunan Nasional
‘Veteran’ Yogyakarta 2010”. Yogyakarta : Indonesia.

Kelompok 6
Laboratorium Geologi Teknik dan Hidrogeologi 2014

LAMPIRAN

Kelompok 6
Laboratorium Geologi Teknik dan Hidrogeologi 2014

Kelompok 6