Anda di halaman 1dari 42

BAGIAN I

DASAR-DASAR PENENTUAN HUBUNGAN KEKERABATAN


Studi mengenai kekerabatan merupakan bagian dari studi sistematik (Da-

vis dan Heywood, 1973). Menurut banyak ahli, sistematik meliputi studi menge-

nai identifikasi, taksonomi, tata nama, keanekaragaman organisma, dan studi me-

ngenai berbagai hubungan kekerabatan antara organisma. Studi taksonomi adalah

studi tentang klasifikasi yang mencakup prinsip dasar, prosedur dan aturan-aturan-

nya. Kata taksonomi pertama kali diusulkan oleh De Candole pada tahun 1813.

Dalam sistematik, kekerabatan memiliki dua pengertian, kekerabatan fene-

tik dan kekerabatan filogenetik. Menurut Davis dan Heywood (1973), dalam prak-

teknya lebih umum digunakan kekerabatan fenetik dengan alasan: 1) untuk pene-

rapan klasifikasi secara filogenetik tidak tersedia bukti-bukti yang cukup sebagai

penunjang pelaksanaan sistem klasifikasi tersebut, 2) bila cukup banyak sifat-sifat

yang dipertimbangkan, biasanya kekerabatan fenetik akan menggambarkan keke-

rabatan filogenetik, seperti kekerabatan yang dilukiskan oleh Pulle (1952) dan

Hutchinson (1959).

Untuk menentukan jauh-dekatnya hubungan kekerabatan fenetik antara

takson-takson organisma (tumbuhan/hewan) satu sama lain, Davis dan Heywood

(1973) mengusulkan dengan cara menentukan kesamaan (resemblance atau simi-

larity) antara takson-takson organisma tersebut secara berpasangan. Untuk keper-

luan ini hanya digunakan sifat-sifat morfologi. Gould (1968) berpendapat bahwa

sifat-sifat morfologi dapat digunakan untuk pengenalan dan menggambarkan ke-

kerabatan tingkat jenis. Jumlah sifat yang digunakan diusahakan sebanyak mung-

kin, sekurang-kurangnya 40 sifat. Alternatif sifat yang mungkin ada pada organis-

suplemen vertebrata 1
ma tersebut diberi kode secara numerik: 1, 2, 3, dst sebagai pembeda. Khusus un-

tuk organisma yang tidak memiliki sifat yang ditampilkan diberi kode 0.

Menurut Sokal dan Sneth (1963), Davis dan Heywood (1973) ada tiga cara

menentukan kesamaan atau similaritas, yaitu dengan mencari: 1) koefisein asosi-

asi, 2) koefisien korelasi, dan 3) jarak taksonomi.

1. Mencari Koefisien Asosiasi

Untuk keperluan ini Davis dan Heywood (1973) menggunakan rumus

yang diusulkan oleh Sneath (1957), yaitu:

Ns
S= Ns + Nd

dimana S = koefisien asosiasi organisma (tumbuhan/hewan) yang satu terhadap


yang ke dua atau yang lain
Ns = Jumlah sifat yang sama
Nd = Jumlah sifat yang berbeda

2. Mencari Koefisien Korelasi

Untuk keperluan ini Sokal dan Sneath (1963) menggunakan rumus yang

secara umum dipakai dalam bidang statistik, seperti yang terdapat pada karya

Sokal dan Rohlf (1973) sebagai berikut:

(∑ Yx) x (∑ Yy)
∑ Yx Yy - n
rxy =
2 2 2 2
(∑ Yx - ∑ Yy) x (∑ Yx - ∑ Yy)
n n
dimana rxy = koefisien korelasi antara tumbuhan/hewan yang pertama dengan
yang kedua atau yang lain
Yx = sifat-sifat tumbuhan/hewan pertama
Yy = sifat-sifat tumbuhan/hewan kedua atau yang lain
n = jumlah sifat-sifat yang digunakan

suplemen vertebrata 2
3. Mencari Jarak Taksonomi antara Masing-Masing Takson
Jarak taksonomi dapat dihitung dengan menggunakan cara statistik fungsi

diskriminasi linear (Merrison, 1976), yaitu analisis diskriminan bertahap (Dixon,

1977). Takson-takson pada tumbuhan/hewan dianggap berupa titik-titik (points)

yang terletak pada sebuah bidang datar. Masing-masing titik dibatasi nilai koor-

dinatnya (absis X dan ordinat Y). Nilai koordinat tersebut digunakan untuk meng-

hitung jarak taksonomi antara takson-takson organisma, dengan menggunakan

rumus:

dxy = (Xx – Xy)2 + ( Yx – Yy)2


dimana dxy = jarak taksonomi tumbuhan/hewan pertama dengan yang ke dua
X = letak takson tumbuhan/hewan menurut absis X
Y = letak takson tumbuhan menurut ordinat Y
x = takson tumbuhan/hewan pertama
y = takson tumbuhan/hewan ke dua

Hasil penghitungan kekerabatan yang digambarkan oleh similaritas seba-

suplemen vertebrata 3
gai koefisien asosiasi, koefisien korelasi, dan jarak taksonomi digunakan sebagai

dasar pengelompokan (clustering) takson-takson organisma. Hasilnya merupakan

sebuah sistem klasifikasi.

Untuk keperluan ini Sokal dan Sneath (1963) mengusulkan rumus sebagai

berikut:

rPQ

rpq =
(2 + 2 rp) x ( 2 + 2 rq)

dimana rpq = koefisien asosiasi/korelasi/jarak taksonomi setelah pengelompokan


P = pasangan tumbuhan/hewan pertama (P1 + P2)
Q = pasangan tumbuhan/hewan ke dua (Q1 + Q2)
rPQ = jumlah koefisien asosiasi/korelasi/jarak taksonomi, yaitu:
r P1 Q1 + r P1 Q2 + r P2 Q1 + r P2 Q2
rp = koefisien asosiasi/korelasi/jarak taksonomi pasangan tumbuhan/
hewan pertama
rQ = koefisien asosiasi/korelasi/jarak taksonomi pasangan tumbuhan/
hewan ke dua

PENGELOMPOKAN BERDASARKAN KOEFISIEN ASOSIASI

suplemen vertebrata 4
(Contoh 1)

LANGKAH-LANGKAH PENGELOMPOKAN

1. Membuat daftar dan memberikan kode secara numerik terhadap karakter/

sifat-sifat morfologi dari setiap organisma (tumbuhan dan hewan) yang di

amati. Misal: X1 Simetri tubuh

1. Simetris

2. Asimetris

X2 Bentuk tubuh:

1. Menggepeng tegak

2. Memanjang silindris

X3 Letak Mata

1. Pada salah satu sisi kepala

2. Pada kedua sisi kepala

dst ….. s/d 41 karakter

2. Menghitung dan Membuat Matriks Koefisien Asosiasi (rumus pada hal 2)

Jenis Orgn 1 2 3 4 5 6
1 1.0 - - - - -
2 0.367 1.0 - - - -
3 0.360 0.497 1.0 - - -
4 0.232 0.397 0.407 1.0 - -
5 0.352 0.420 0.402 0.360 1.0 -
6 0.285 0.322 0.312 0.235 0.650 1.0

Pasangan yang paling erat kesamaannya adalah yang memiliki koefisien

similaritas tertinggi, yaitu pasangan 2.3 dan pasangan 5.6.

suplemen vertebrata 5
Penyelesaian menggunakan rumus yang tercantum pada halaman 4.

r (2+3) (5+6) = r 2.5 + r 2.6 + r 3.5 + r 3..6

(2 + 2.r 2.3) (2 + 2. r 5..6)

= 0.420 + 0.322 + 0.402 + 0.312 = 0.463

(2 + 2. 0.497) (2 + 2. 0.650)

r (2+3) .1 = r 1.2 + r 1.3 = 0.367 + 0.360 = 0.420

(2 + 2. r 2.3) (2 + 2.0.497)

r (5+6) .1 = r 1.5 + r 1.6 = 0.352 + 0.285 = 0.351

(2 + 2. r 5.6) (2 + 2.0.650)

r (2+3) .4 = r 2.4 + r 3.4 = 0.397 + 0.407 = 0.465

(2 + 2. r 2.3) (2 + 2.0.497)

r (5+6) .4 = r 4.5 + r 4.6 = 0.360 + 0.235 = 0.328

(2 + 2. r 5.6) (2 + 2.0.650)

Matriks koefisien similaritas 2:

Jenis Orgn 1 2’ 3’ 4
1 1.0 - - -
2’ 0.420 1.0 - - 2’ = 2+3
3’ 0.351 0.463 1.0 - 3’ = 5+6
4 0.232 0.465 0.328 1.0

Pasangan yang paling erat kesamaannya adalah pasangan 2’.4

r (2’+4) .1 = r 1.2’ + r 1. 4 = 0.420 + 0.232 = 0.381

(2 + 2. r 2’.4) (2 + 2.0.465)

suplemen vertebrata 6
r (2’+4) .3’ = r 2’.3’ + r 3’. 4 = 0.463 + 0.328 = 0.462

(2 + 2. r 2’.4) (2 + 2.0.465)

Matriks koefisien similaritas 3:

Jenis Orgn 2’’ 1 3’


2’’ 1.0 2’’ = 2’ + 4
1 0.381 1.0
3’ 0.462 0.351 1.0

Pasangan yang paling erat kesamaannya adalah pasangan 2’’.3’

r (2’’+3’) .1 = r 2’’.1 + r 3’1 = 0.381 + 0.351 = 0.428

(2 + 2. r 2’’.3’) (2 + 2.0.462)

Matriks koefisien similaritas 4:

Jenis Orgn 3’’ 1


3’’ 1.0 3’’ = 2’’ + 3’
1 0.428 1.0

suplemen vertebrata 7
3. Mengelompokkan berdasarkan koefisien asosiasi

1.0 1 2 3 4 5 6

0.8

0.650
0.6

0.465 0.462
0.4 0.428

0.2

0.0

Gambar 1.1 Pengelompokan 6 Jenis Organisma berdasarkan koefisien asosiasi (r)

suplemen vertebrata 8
PENGELOMPOKAN BERDASARKAN KOEFISIEN KORELASI

(Contoh 2)

LANGKAH-LANGKAH PENGELOMPOKAN

1. Membuat daftar dan memberikan kode secara numerik terhadap karakter/

sifat-sifat morfologi dari setiap organisma (tumbuhan dan hewan) yang di

amati (seperti contoh 1).

2. Menghitung dan Membuat Matriks Koefisien Korelasi (rumus pada hal 3

Jenis Orgn 1 2 3 4 5 6
1 1.0 - - - - -
2 0.989 1.0 - - - -
3 0.981 0.994 1.0 - - -
4 0.952 0.978 0.969 1.0 - -
5 0.990 0.967 0.990 0.984 1.0 -
6 0.974 0.990 0.981 0.986 0.995 1.0

Pasangan yang paling erat kesamaannya adalah yang memiliki koefisien

similaritas tertinggi, yaitu pasangan 2.3 dan pasangan 5.6.

Penyelesaian menggunakan rumus yang tercantum pada halaman 4.

r (2+3) (5+6) = r 2.5 + r 2.6 + r 3.5 + r 3.6


(2 + 2. r 2.3) (2 + 2. r 5.6)
= 0.967 + 0.990 + 0.990 + 0.981 = 0.0,985
(2 + 2. 0.994) (2 + 2. 0.955)

r (2+3) .1 = r 1.2 + r 1.3 = 0.989 + 0.981 = 0.987


(2 + 2. r 2.3) (2 + 2.0.994)
r (5+6) .1 = r 1.5 + r 1.6 = 0.990 + 0.974 = 0.983
(2 + 2. r 5.6) (2 + 2.0.995)
r (2+3) .4 = r 2.4 + r 3.4 = 0.978 + 0.969 = 0.975
(2 + 2. r 2.3) (2 + 2.0.994)

suplemen vertebrata 9
r (5+6) .4 = r 4.5 + r 4.6 = 0.984 + 0.986 = 0.986
(2 + 2. r 5.6) (2 + 2.0.995)

Matriks koefisien similaritas 2:

Jenis Orgn 1 2’ 3’ 4
1 1.0 - - -
2’ 0.987 1.0 - - 2’ = 2+3
3’ 0.983 0.985 1.0 - 3’ = 5+6
4 0.952 0.975 0.986 1.0

Pasangan yang paling erat kesamaannya adalah pasangan 1.2’


r (1+2’) .3’ = r 1.3’ + r 2’..3’ = 0.983 + 0.985 = 0.987
(2 + 2. r 1.2’) (2 + 2.0.987)
r (1+2’) .4 = r 1.4 + r 2’. 4 = 0.952 + 0.975 = 0.967
(2 + 2. r 1.2’) (2 + 2.0.987)

Matriks koefisien similaritas 3:

Jenis Orgn 2’’ 1 3’


1’ 1.0 - - 1’ = 2’ + 4
3’ 0.987 1.0 -
4 0.967 0.986 1.0
Pasangan yang paling erat kesamaannya adalah pasangan 2’.3’
r (2’+3’) .4 = r 2’.4 + r 3’.4 = 0.967 + 0.986 = 0.980
(2 + 2. r 1’..3’) (2 + 2.0.987)

Matriks koefisien similaritas 4:

Jenis Orgn 1’’ 4


1’’ 1.0 - 1’’ = 2’ + 3’
4 0.980 1.0

suplemen vertebrata 10
3. Mengelompokkan berdasarkan koefisien korelasi
1.0 1 2 3 5 6 4

0,994 0,995
0.990
0,987

0.980 0,980

0,970

0,960

0,950

0,000

Gambar 1.2 Pengelompokan 6 Jenis Organisma berdasarkan koefisien korelasi


(r)

PENGELOMPOKAN BERDASARKAN JARAK TAKSONOMI

(Contoh 3)

LANGKAH-LANGKAH PENGELOMPOKAN

1. Memilih sifat-sifat yang berperanan dalam menentukan letak titik-titik pada

bidang datar sesuai dengan batas garis absis X dan garis ordinat Y. Titik-titik

suplemen vertebrata 11
dimaksudkan sebagai takson tingkat jenis yang data sifat-sifat morfologi dan

sitologinya digunakan dalam proses penghitungan. Penomoran sifat seperti

pada contoh 1 dan 2)

2. Mencari Letak Jenis-Jenis pada Bidang Datar menurut Sumbu Koordinat


hasilnya seperti padaTabel berikut.

Jenis Nilai Tengah Koordinat


Organisme X Y
1 5.679 26.228
2 27.224 - 11.515
3 19.989 - 1.423
4 - 19.824 - 5.367
5 - 33.314 - 2.101
6 - 39.401 - 5.821

Berdasarkan jenis-jenis tersebut, dapat dihitung jarak taksonomi satu sama

lain. Rumus yang digunakan seperti pada halaman 3. Hasil yang diperoleh seperti

pada Tabel berikut.

Matriks Jarak Taksonomi Enam Jenis Organisma satu sama lain

Jenis Orgn 1 2 3 4 5 6
1 0.0 - - - - -
2 43.459 0.0 - - - -
3 31.134 12.417 0.0 - - -
4 40.603 47.448 40.008 0.0 - -
5 48.197 30.538 23.307 13.880 0.0 -
6 55.311 66.867 59.522 19.582 7.133 0.0

Matriks jarak taksonomi dibagi 100 sebagai koefisien similaritas 1 :

suplemen vertebrata 12
Jenis Orgn 1 2 3 4 5 6
1 1.0 - - - - -
2 0.434 1.0 - - - -
3 0.311 0.124 1.0 - - -
4 0.406 0.474 0.400 1.0 - -
5 0.481 0.305 0.233 0.139 1.0 -
6 0.553 0.669 0.595 0.196 0.071 10

Pasangan yang paling erat kesamaannya adalah yang memiliki koefisien

similaritas terkecil, yaitu pasangan 2.3 dan pasangan 5.6.

Penyelesaian menggunakan rumus yang tercantum pada halaman 4.

r (2+3) (5+6) = r 2.5 + r 2.6 + r 3.5 + r 3.6


(2 + 2. r 2.3) (2 + 2. r 5.6)
= 0.305 + 0.669 + 0.233 + 0.595 = 0.821
(2 + 2. 0.124) (2 + 2. 0.071)

r (2+3) .1 = r 1.2 + r 1.3 = 0.434 + 0.0,311 = 0.496


(2 + 2. r 2.3) (2 + 2.0.124)
r (5+6) .1 = r 1.5 + r 1.6 = 0.481 + 0.553 = 0.707
(2 + 2. r 5.6) (2 + 2.0.071)
r (2+3) .4 = r 2.4 + r 3.4 = 0.474 + 0.400 = 0.583
(2 + 2. r 2.3) (2 + 2.0.124)
r (5+6) .4 = r 4.5 + r 4.6 = 0.139 + 0.196 = 0.229
(2 + 2. r 5.6) (2 + 2.0.071)

Matriks koefisien similaritas 2:

Jenis Orgn 1 2’ 3’ 4
1 1.0 - - -
2’ 0.496 1.0 - - 2’ = 2+3
3’ 0.707 0.821 1.0 - 3’ = 5+6
4 0.406 0.583 0.229 1.0

suplemen vertebrata 13
Pasangan yang paling erat kesamaannya adalah pasangan 3’.4
r (3’+4) .1 = r 1.3’ + r 1.4 = 0.707 + 0.406 = 0.787
(2 + 2. r 3’.4) (2 + 2.0.229)
r (3’+4) .2’ = r 2’.3’ + r 2’. 4 = 0.821 + 0.583 = 0.875
(2 + 2. r 3’.4) (2 + 2.0.229)

Matriks koefisien similaritas 3:

Jenis Orgn 1 2’ 3’’


1 1.0 - - 3’’ = 3’ + 4
2’ 0.496 1.0 -
3’’ 0.787 0.875 1.0

Pasangan yang paling erat kesamaannya adalah pasangan 1.2’


r (1+2’) .3 = r 1.3’’ + r 2’.3 = 0.787 + 0.895 = 0.973
(2 + 2. r 1.2’) (2 + 2.0.496)

Matriks koefisien similaritas 4 :

Jenis Orgn 1’’ 4


1’ 1.0 - 3’’ = 1 + 2’
3’’ 0.973 1.0

3. Mengelompokkan berdasarkan jarak taksonomi


1.0 1 2 3 4 5 6
0.071
0.139

0.2

0.4 0.496

suplemen vertebrata 14
0.6

0.787
0.8

0.973

0.10

Gambar 1.2 Pengelompokan 6 Jenis Organisma berdasarkan koefisien korelasi


(r)

BAGIAN II

KARAKTER PENTING UNTUK IDENTIFIKASI

KELAS PISCES

Topik : Identifikasi Ikan Tulang Keras

Alat dan Bahan: Beberapa jenis ikan, mikroskop, loupe, penggaris/jangka sorong

Langkah Kerja:

1. Pengamatan karakter-karakter ikan, yang meliputi:

a. Keadaan Kepala (Caput):

1) Bentuk kepala (pipih, lonjong, membulat, yang lain)

2) Ukuran kepala (kecil, sedang, besar, yang lain)

3) Mulut (bentuk, letak, ukuran)

4) Rahang (bentuk, ada gigi /tidak, barbel/sungut)

5) Mata (bentuk, letak, jumlah, ukuran, yang lain)

suplemen vertebrata 15
6) Nostril (berhubungan dengan cavum oris/rongga mulut atau tidak)

7) Memiliki operculum/tutup insang atau tidak

b. Keadaan Tubuh (Trunkus):

1) Bentuk tubuh (silindris, pipih, oval, atau yang lain)

2) Simetri tubuh (simetris, tidak simetris)

3) Sisik (ukuran: kecil, sedang, besar, keberadaan pada tubuh: menutupi selu-

ruh tubuh, sebagian tubuh, tidak ada, tipe-tipe sisik: sikloid, stenoid, ganoid,

plakoid, osmoid, jumlah sisik)

5) Sirip pada tubuh (macam, jumlah masing-masing sirip, bentuk/tipe, letak

pada tubuh, rumus jari-jari sirip)

6) Garis lateral/gurat sisi (linea lateralis): bentuk, letak pada tubuh

c. Keadaan Ekor (Cauda): bentuk/tipe, rumus jari-jari sirip

d. Keadaan skeleton (endoskeleton atau eksoskeleton, tulang rawan atau tulang

sejati)

e. Karakter lain (misal anatomi) yang dapat digunakan untuk identifikasi

2. Pengukuran tubuh ikan

a. Panjang seluruhnya: Jarak garis lurus antara ujung kepala bagian paling termi-

nal sampai ujung sirip ekor bagian paling ujung.

b. Panjang biasa: jarak garis lurus antara ujung kepala bagian paling terminal sam-

pai pangkal sirip ekor.

c. Panjang bahagian di muka sirip dorsal: jarak antara kepala bagian terminal sam-

pai pangkal jari-jari pertama sirip dorsal.

d. Panjang batang ekor: jariak miring antara ujung dasar sirip anal dan pangkal

jari-jari tengah dari sirip ekor.

suplemen vertebrata 16
e. Panjang dasar sirip dorsal: jarak antara pangkal jari-jari pertama sampai jari-jari

terakhir bertemu dengan badan. Jarak ini diukur melalui dasar sirip.

f. Tinggi badan: diukur dari tempat tertinggi pada badan ikan.

g. Tinggi batang ekor: diukur pada batang ekor pada tempat yang terendah.

3. Penghitungan jari sirip

Pada ikan yang memiliki sirip berpasangan, penghitungan jari-jari siripnya

dilakukan pada sjrip yang terletak sebelah kiri. Penetapan bagian kiri ikan, dapat

dilakukan dengan cara menjauhkan posisi kepala dari tubuh Saudara.

Jari-jari ikan terbagi dalam 2 macam yaitu jari-jari keras dan lemah. Jari-

jari keras tidak berbuku-buku, pejal (tidak berlobang), keras, tidak dapat dibeng-

kokkan, dan ujungnya runcing. Jari-jari lemah mudah dibengkokkan, berbuku-

buku, mungkin sebagian keras atau mengeras, pada satu sisinya dapat bergerigi,

dan ujungnya bercabang/tidak.

a. Jari-jari keras: jumlahnya digambarkan dengan angka Romawi, meskipun jari-

jari itu pendek sekali atau rudimenter. Contohnya, jika sirip dorsal terdiri atas

10 jari-iari keras maka ditulis D.X.

b. Jari-jari lemah: jumlahnya ditulis dengan angka Arab. Jika jari-jari paling de-

pan, biasanya pendek dan ujungnya tak bercabang (rudimenter) maka tidak di-

hitung, tetapi jika panjang walaupun tak bercabang tetap dihitung. Contoh, jika

sirip dorsal terdiri atas 10 jari-jari keras dan 8 jari-jari lemah maka rumus jari

siripnya menjadi D.X.8.

Namun jika seandainya sirip dorsal yang berjari-jari keras terpisah dari

yang berjari-jari lemah, sehingga dapat dikatakan bahwa sirip dorsal ada dua buah

maka rumus jari siripnya menjadi D1.X. D2.8

suplemen vertebrata 17
1) Jari-jari terakhir dari sirip dorsal dan sirip anal.

Pada sirip dorsal dan anal, jika dua jari-jari terakhir bercabang (seringkali

kelihatannya sebagai dua jari yang berdekatan) maka dihitung sebagai satu jari-

jari lemah.

2) Jari-jari sirip ekor

Biasanya rumus sirip ekor menggambarkan jumlah jari-jari lemah berca-

bang. Pada ikan yang ekornya berjari-jari bercabang, maka jumlah jari-jari sirip

ini ditetapkan sebanyak jumlah jari-jari yang bercabang ditambah 2.

3) Jari-jari sirip yang berpasangan

Pada sirip yang berpasangan dihitung semua jari-jarinya, termasuk yang

terletak pada sisi paling bawah atau paling sebelah dalam dari pangkal sirip. Oleh

karena itu untuk kegiatan ini seringkali diperlukan loupe. Seringkali ditemukan

bahwa jari-jari pertama sirip yang agak besar didahului olen sebuah jari-jari kecil

yang merapat ke jari-jari besar tersebut, sehingga sebelum menghitung jari-jari

sirip maka dilakukan terlebih dahulu usaha pemisahannya. Jari-jari yang berukur-

an kecil tersebut untuk sirip dada tetap dihitung, tetapi jika ditemukan pada sirip

perut maka tidak perlu dihitung.

4) Jari-jari sirip yang bersatu

Jika sirip perut bersatu menjadi satu sirip, maka biasanya masih tetap dike-

tahui bahwa sirip tersebut sebenarnya terdiri atas dua sirip. Oleh karena itu jari-

jari sirip yang dihitung hanya salah satu sirip saja.

4. Penghitungan Sisik

a. Pada garis lateral/gurat sisi (Linea Lateralis)

Bentuk linea literalis ikan bervariasi, ada yang hanya memiliki satu garis

suplemen vertebrata 18
tetapi ada juga yang lebih, ada yang lurus dan ada yang bengkok, melengkung ke

atas dan ke bawah. Jika seandainya ikan tidak memiliki linea literalis maka dihi-

tung jumlah sisik di mana umumnya letak linea literalis tersebut berada. Penghi-

tungan sisik pada linea literalis dimulai pada sisik yang terletak di belakang leng-

kung bahu yang sama sekali tidak menyentuh lengkung bahu tersebut dan bera-

khir pada pangkal ekor atau pada ruas tulang belakang bagian ekor yang terakhir.

Tempat ini dengan mudah dapat ditetapkan dengan cara menggoyang-goyangkan

sirip ekor dan pada pelipatan pangkal sirip ekor tersebut terletak ruas tulang bela-

kang yang dimaksud. Sisik yang terletak di atas pelipatan ini tidak dihitung.

b. Di atas dan di bawah garis lateral/gurat sisi (linea lateralis)

 Cara menghitung sisik tersebut dengan menarik garis tegak lurus dari awal

sirip dorsal pertama sampai pertengahan dasar perut.

 Jika cara pertama tidak bisa karena garis tersebut melalui dasar sirip perut,

maka cara menghitung sisik yaitu dengan cara mengambil garis tegak mulai

dari dasar/akhir sirip perut menuju awal sirip dorsal.

 Cara lain yaitu dengan menentukan jumlah sisik di atas linea lateralis dimu-

lai pada permulaan sirip dorsal dan dihitung miring ke bawah dan ke bela-

kang, sedangkan sisik di bawah linea lateralis dimulai pada permulaan sirip

anal dan dihitung miring ke atas dan ke depan.

Pada semua cara tersebut, sisik yang terletak tepat pada linea lateralis

tidak dihitung.

5. Tulang-tulang Tambahan Tutup Insang

Insang ditutupi oleh tulang penutup insang. Pada ikan-ikan tertentu, sisi

suplemen vertebrata 19
bawah tulang tutup insangnya terdapat selaput tutup insang yanq diperkuat dan

digerak-gerakkan o!eh tambahan tutup insang yang terletak di dalamnya. Untuk

identifikasi perlu diketahui jumlah tulang-tulang tambahan tutup insang tersebut.

Gambar 2.1 Letak Sirip Tubuh dan Macam Jari-Jari Penyusun Sirip. D/dorsal: si-
rip punggung; D1: sirip punggung pertama (pada ikan yang bersirip
punggung dua keping); P/pektoral: sirip dada; V/ventral: sirip perut;
A/anal: sirip dubur; C/caudal: sirip ekor ; a: jari-jari keras; b: jari-jari
lemah.

suplemen vertebrata 20
Gambar 2.2 Cara Pengukuran Tubuh Ikan. a: panjang tubuh seluruhnya; b: pan-
jang biasa; c: panjang bagian muka sirip punggung; d: panjang ba-
tang ekor; e: panjang dasar sirip punggung, f: tinggi badan; g: tinggi
batang ekor.

Gambar 2.3 Cara Pengukuran Tubuh Ikan. A: pangkal kepala; B: keping tutup in-
sang depan; C: keping tutup insang; D: keeping tutup insang bawah;
E: keping tutup insang antara; F: tulang-tulang tambahan tutup in-
sang; D1: sirip punggung pertama; P: sirip dada; V: sirip perut.

suplemen vertebrata 21
a b c

Gambar 2.4 Cara Penghitungan Sisik pada Gurat Sisi (Linea lateralis).

Gambar 2.5 Macam-macam Bentuk dan Tempat Letaknya Sungut

suplemen vertebrata 22
Gambar 2.6 Bentuk-bentuk Sirip Ekor. A: bentuk sabit; B: bercagak; C: berping-
giran berlekuk; D: berpinggiran tegak; E: bundar atau membundar;
F: meruncing; G: berpinggiran berlekuk kembar.

Gambar 2.7 Macam-Macam Posisi Linea lateralis.

suplemen vertebrata 23
BAGIAN III
KARAKTER PENTING UNTUK IDENTIFIKASI
KELAS AMPHIBIA

Topik : Identifikasi Amphibia

Alat dan Bahan: Beberapa jenis hewan Amphibia, loupe, penggaris/jangka sorong

Langkah Kerja:

1. Pengamatan karakter-karakter Amphibia meliputi:

a. Keadaan Kepala (Caput) Bagian Dorsal, Cavum Oris dan Moncong

1) Gigi vomer: ada/tidak. Gigi vomer terletak diantara 2 choane dan gigi mak-

sila, berbentuk kerucut (konus), ukuran lebih besar dibanding gigi maksila.

2) Ujung lidah: meruncing atau membulat, bercabang/bifida atau tidak, berle-

suplemen vertebrata 24
kuk/bertakik atau tidak, sempit atau lebar

3) Kelenjar paratoid: ada atau tidak, memanjang atau membulat. Bagian pos-

terior kelenjar paratoid diikuti oleh suatu bintil yang membesar atau tidak.

Ukuran panjang dibanding dengan ukuran lebar, atau ukuran lebar diban-

ding dengan ukuran panjangnya bagaimana?

4) Alur parietal: ada atau tidak

5) Alur supraorbital: ada atau tidak

6) Mata, diameternya berapa?

7) Membran timpani, diameternya berapa?

8) Kelopak mata bagian atas: ada kulit menanduk atau tidak

9) Moncong menonjol melampaui/tidak melampaui rahang bawah.

suplemen vertebrata 25
b. Keadaan Ekstremitas Anterior dan Posterior (Jari-jari tangan dan kaki)

1) Selaput renang pada jari-jari tangan dan kaki: ada atau tidak

2) Jumlah jari-jari tangan dan kaki yang berselaput (berapa jari yang bebas dari

selaput)

3) Selaput renang pada bagian luar jari-jari kaki ke-5 dan sepanjang tepi luar

lengan bawah dan kaki-kakinya: ada atau tidak

4) Ujung jari-jari tangan dan kaki membentuk discus yang besar, sedikit mele-

bar, tumpul, atau lancip, ujung jari pertama tungkai depan tidak mencapai

atau mencapai diskus jari kedua jika dilekatkan

5) Alur circum marginal pada ujung jari-jari: ada atau tidak

6) Tulang rawan intercalari diantara 2 ruas jari-jari terujung: ada atau tidak

7) Subarticular tubercle pada jari-jari tangan dan kaki: ada atau tidak

8) Metacarpal tubercle pada jari-jari tangan: ada atau tidak

9) Metatarsal tubercle pada jari-jari kaki: ada atau tidak

10) Sendi tibiotarsal bila dilipat ke arah tubuh dapat melampaui ujung mon-

cong, mencapai: tungkai depan, bahu, tympanum, mata atau antara mata

dan lubang hidung

11) Tungkai: ada atau tidak

c. Gelang pectoralis (bahu)

Kedudukan tulang rawan epicoracoid satu terhadap yang lain.

1) Tipe archifera, tulang rawan epicoracoid yang sebelah menutupi yang lain

2) Tipe firmisterna, tulang rawan epicoracoid saling bertemu di tengah mem-

bentuk satu garis

suplemen vertebrata 26
d. Karakter-karakter lain, antara lain:

1) Ada tidaknya lipatan supratimpanum 4) Warna tubuh

2) Ada tidaknya lipatan dorsolateral 5) dst …………..

3) Kulit berbintil-bintil kasar atau halus

Gambar 3.1 Struktur Umum Cavum Oris Katak (Sumber: Tanner, 1968:8). A: Ra-
hang Atas; a: Choane; b: Gigi maksila; c: Gigi vomer; d: Lubang eus-
tachius; e: Esophagus; f: Lubang kantung suara (ô); g: Glottis; B: Ra-
hang Bawah; h: Lidah bifida; i: Langit-langit; j: Bibir atas; k: Bibir
bawah.

A B
Gambar 3.2 Struktur Gelang Pectoralis Pada Katak (Sumber: Berry: 1975:19).A:
Gelang pectoralis archifera; B Gelang pectoralis firmisterna; a: Tu-
lang rawan epicoracoid; b: Episternum; c: Omosternum; d: Precora-
coid; e: Coracoid; f: Mesosternum; g: Xiphisternum, h: Scapula.

suplemen vertebrata 27
A B

C
Gambar 3.3 Jari-jari Kaki dan Tangan (Sumber: Berry, 1975: 20, 24, 29). A: Jari-
Jari Kaki; B: Jari-Jari Tangan; C: Ujung Jari-Jari; a: Selaput renang; b:
Ujung jari-jari tangan yang membentuk discus; c: Tonjolan metakar-
pal; d: Tonjolan metatarsal; e: Subartikular tuberkel; f: Ultimate pha-
lang; g: Penultimate phalang; h: Tulang rawan interkalari; i: ‘Circum
marginal groove’; j: Penonjolan kulit yang berukuran besar.

Gambar 3.4 Bagian Dorsal Kepala (Sumber, 1975? 25). a: Kelenjar paratoid; b:
Alur supraorbital; c: Alur parietal; d: Kelenjar paratoid yang berderet.

suplemen vertebrata 28
Gambar 3.5 Morfologi Katak (Sumber: Berry, 1975:18). a: Moncong; b: Tympa-
num; c: Lipatan supratympanum; d: Lipatan dorsolateral; e: ‘Subarti-
cular tubercle’; f: ‘Outer metacarpal tubercle’ ; g: ‘Inner metacarpal
tubercle’; h: Femur; i: Tibia; j: Tarsus; k: Metatarsus; l: Tibiotarsal;
m: ‘Inner metatarsa’l; n: ‘Outer metatarsal’.

suplemen vertebrata 29
BAGIAN IV
KARAKTER PENTING UNTUK IDENTIFIKASI
KELAS REPTILIA

Topik : Identifikasi Reptilia

Alat dan Bahan: Beberapa jenis hewan Reptilia, loupe, penggaris/jangka sorong

Langkah Kerja:

1. Pengamatan karakter-karakter Reptilia meliputi:

a. Keadaan Kepala (Caput)

1) Ukuran: kecil/sedang/besar (bandingkan dengan trunkusnya)

2) Bentuk: piramidal/segitiga

3) Warna bagian dorsal dan ventral: gelap/terang/yang lain ………

4) Moncong tumpul/lancip

5) Rahang: bersatu/tidak, bergigi/tidak, bentuk gigi: tumpul/runcing, ukuran

gigi: sama/tidak sama

6) Lidah: pendek/panjang, runcing/tumpul, licin/kasar, berlekuk/bercabang

7) Mata: kecil/besar, kelopak mata atas/palpebra superior dan kelopak mata

bawah/palpebra inferior: dapat digerakkan/tidak

8) Membran timpani: menonjol/masuk ke dalam

9) Lubang hidung pada: ujung moncong/sisi dorsal moncong

10) Bagian dorsal dan ventral ditutupi atau tidak oleh: sisik/bintil-bintil/penon-

jolan/karapaks/plastron. Sisik/karapaks/plastron: simetris/tidak, bentuk si-

sik/karapaks/plastron: sikloid/tetragonal/heksagonal/polygonal/uniform

suplemen vertebrata 30
b. Keadaan Leher (Serviks/Kolum)

1) Ukuran: pendek/sedang/panjang (bandingkan dengan trunkusnya)

2) Warna bagian dorsal, ventral, lateral: gelap/terang/yang lain ………………

3) Bagian dorsal dan ventral ditutupi atau tidak oleh: sisik/bintil-bintil/penon-

jolan/karapaks/plastron. Sisik/karapaks/plastron: simetris/tidak, bentuk si-

sik/karapaks/plastron: sikloid/tetragonal/heksagonal/polygonal/uniform

c. Keadaan Badan (Trunkus)

1) Ukuran: pendek/sedang/panjang (bandingkan dengan trunkusnya)

2) Bentuk badan: silindris/pipih dorsoventral/pipih arah lateral

3) Warna bagian dorsal, ventral, lateral: gelap/terang/yang lain ……….

4) Bagian dorsal dan ventral ditutupi atau tidak oleh: sisik/bintil-bintil/penon-

jolan/karapaks/plastron. Sisik/karapaks/plastron: simetris/tidak, bentuk si-

sik/karapaks/plastron: sikloid/tetragonal/heksagonal/polygonal/uniform

5) Ada ekstremitas atau tidak, jari-jari: kuat/tidak, semua bercakar/tidak, berse-

laput/tidak, jari-jari terujung: panjang/ramping, berbentuk: silinder/memipih

6) Lubang preanal/femoral: ada/tidak ada

d. Keadaan Ekor (Cauda)

1) Ukuran: pendek/panjang, rapuh/tidak rapuh

2) Bentuk: silindris/pipih

3) Warna bagian dorsal, ventral, lateral: gelap/terang/yang lain ……………

suplemen vertebrata 31
BAGIAN V
KARAKTER PENTING UNTUK IDENTIFIKASI
KELAS AVES

Topik : Identifikasi Aves

Alat dan Bahan: Beberapa jenis hewan Aves, loupe, penggaris/jangka sorong

Langkah Kerja:

1. Pengamatan karakter-karakter Aves meliputi:

a. Keadaan Kepala (Caput)

1) Ukuran paruh: pendek/panjang/besar/ramping/kokoh

2) Ukuran mata: kecil/besar

3) Bentuk paruh: runcing/tumpul/melengkung/lurus

4) Pola warna bulu kepala dan sekitar mata: sama/tidak sama, bila sama/tidak

sama jelaskan warnanya!

5) Warna iris mata dan paruh: sama/tidak sama, bila sama/tidak sama jelaskan

warnanya!

6) Bulu jambul di bagian atas kepala: ada/tidak, berwarna-warni/tidak, tampak

jelas/tidak, tebal/tipis, mengumpul/menyebar

b. Keadaan Leher (Serviks/Kolum)

1) Ukuran: pendek/panjang

2) Pola warna bulu leher bagian dorsal dan ventral: sama/tidak sama, bila

sama/tidak sama jelaskan warnanya!

3) Bulu tali leher: ada/tidak

suplemen vertebrata 32
c. Keadaan Badan (Trunkus)

1) Warna bulu badan bagian dorsal dan ventral: sama/tidak sama, bila sama/

tidak sama jelaskan warnanya!

2) Warna bulu sayap: sama dengan bulu badan/tidak sama, bila sama/tidak

sama jelaskan warnanya!

3) Warna kaki: gelap/terang

4) Ukuran kaki: pendek/panjang

5) Jari-jari kaki: berselaput/tidak, melengkung/mendatar,

6) Tipe kaki: memanjat/mencengkeram/berenang/berjalan

d. Keadaan Ekor (Cauda)

1) Ukuran: pendek/panjang

2) Warna bulu ekor: sama dengan bulu badan/tidak sama, bila sama/tidak

sama jelaskan warnanya!

Gambar 4.1. Contoh sketsa lapangan untuk burung Gelatik

suplemen vertebrata 33
Gambar 4.2

Keterangan :

1. Rahang atas paruh 16. Bahu atau lekukan sayap


2. Rahang bawah paruh 17. Perut
3. Dahi 18. Penutup sayap
4. Kekang 19. Punggung
5. Daerah malar atau kumis 20. Sisi perut
6. Dagu 21. Bulu
7. Lingkar mata 22. Bulu sekunder
8. Mahkota 23. Penutup ekor bagian atas
9. Alis 24. Bulu primer
10. Garis mata 25. Ekor
11. Kerongkongan 26. Penutup ekor bagian bawah atau bagian ventral
12. Penutup telinga 27. Paha
13. Tengkuk 28. Tungkai atau tarsus
14. Dada 29. Jari atau kaki
15. Mantel 30. Kuku/cakar

suplemen vertebrata 34
Gambar 4.3

Keterangan :

A Plumae 1 Rachis, lanjutan calamus


B Plumulae 2 Vexillum, terbentuk oleh barbae dan barbulae
C Filoplumae 3 Barbae
4 Barbae dan barbulae
5 Calamus (Tangkai bulu)

Gambar 4.4 Tipe-tipe Paruh dan Kaki Aves

suplemen vertebrata 35
BAGIAN VI
KARAKTER PENTING UNTUK IDENTIFIKASI
KELAS MAMMALIA

Topik : Identifikasi Mammalia

Alat dan Bahan: Beberapa jenis hewan Mammalia, loupe, penggaris/jangka sorong

Langkah Kerja:

1. Pengamatan karakter-karakter morfologi Mammalia meliputi:

a. Keadaan Kepala (Caput)

1) Ukuran kepala: kecil/sedang/besar

2) Rahang atas dan rahang bawah: memiliki gigi, taring, gading atau tidak,

jumlah gigi rahang atas dan rahang bawah, taring, gading: sama/tidak, jelas-

kan jumlahnya masing-masing!

3) Daun telinga: kecil/sedang/besar

4) Bertanduk/tidak, bila bertanduk ukurannya: pendek/panjang, bentuk tanduk:

lurus/melengkung/bercabang

5) Rambut pada kepala: pendek/panjang, tipis/tebal, modifikasi rambut: ada/

tidak

6) Memiliki kantung pipi/tidak

b. Keadaan Leher (Serviks)

1) Ukuran: pendek/panjang

2) Warna rambut yang menutup leher: sama/tidak sama dengan rambut yang

menutup badan

3) Rambut pada leher: pendek/panjang, tipis/tebal, modifikasi rambut: ada/

tidak

suplemen vertebrata 36
c. Keadaan Badan (Trunkus)

1) Ukuran badan: kecil/sedang/besar

2) Rambut pada badan: pendek/panjang, tipis/tebal, modifikasi rambut: ada/

tidak

3) Warna rambut yang menutup badan: sama/tidak sama, bila sama/tidak sama

jelaskan warnanya!

4) Kelenjar mammae: ada/tidak, tampak/tidak tampak

5) Organ kelamin jantan: tampak nyata/tidak

6) Ekstremitas anterior dan posterior: pendek/panjang/kecil/besar, bercakar/

berkuku/berselaput, dapat dipergunakan untuk memegang/tidak

7) Badan berpunuk/berkantung

d. Keadaan Ekor (Kauda)

1) Ukuran ekor: pendek/sedang/panjang/lurus/melingkar, diameter kecil/besar

2) Rambut pada ekor: pendek/panjang, tipis/tebal, modifikasi rambut: ada/

tidak

3) Warna rambut yang menutup ekor: sama/tidak sama dengan rambut yang

menutup badan

2. Pengamatan karakter-karakter anatomi Mammalia meliputi:

a. Keadaan Gigi:

1) Susunan gigi pada rahang atas dan bawah pada hewan muda dan dewasa:

sama/tidak sama.

2) Bentuk gigi yang menyusun rahang atas dan bawah: sama/tidak sama

3) Jumlah gigi yang menyusun rahang atas dan bawah: sama/tidak sama.

berapa jumlah masing-masing jenis giginya?

suplemen vertebrata 37
4) Rumus gigi dari setiap spesimen hewan: sama/tidak sama? Tuliskan

rumusnya!

b. Keadaan sistem pencernaan dan sistem genetalia

1) Perhatikan sistem pencernaan makanan terutama lambung, intestin, dan

rektum. Antara mammalia yang satu dengan yang lain: sama/tidak sama Bila

susunan lambungnya tidak sama, jelaskan perbedaannya! (dalam hal:

bentuk, susunan, ukuran)

2) Tipe uterus: dupleks/bipartitus/bicornis/simpleks

suplemen vertebrata 38
Gambar 5.1 Macam-macam tanduk. A: Pronghorn; B-D: Tanduk kosong; E-I:
Rangga/Tanduk rusa/Tanduk tulang

A B

Gambar 5.2 A: Tanduk Biri-biri; B: Pronghorn Antelop; C: Tanduk Rusa

suplemen vertebrata 39
Gambar 5.3 Geligi pada Mammalia. A: Gigi seri/Incisivus; B: Gigi taring/Cani-
nus; C: Geraham pertama/Premolar; D: Geraham/Molar, sebagai
contoh dipergunakan gigi Anjing

I II

Gambar 5.4. Keadaan susunan gigi Mammalia. I: Gigi Susu; II: Gigi Permanen;
A: Gigi seri/Insisivus; B: Gigi taring/Kanini; C: Geraham pertama/
Premolar; D: Geraham/Molar , sebagai contoh dipergunakan susunan
gigi Anjing.

suplemen vertebrata 40
Gambar 5.5 Tipe-tipe Uterus. A: Uterus dupleks; B: Uterus bipartitus; C: Uterus
simpleks; D: Uterus bikornis. 1: ostia; 2: oviduk; 3: uterus; 4:
vagina; 5: kornu uteri.

suplemen vertebrata 41
DAFTAR PUSTAKA

Djuhanda, T. 1983. Analisa Struktur Vertebrata Jilid I dan II. Bandung: penerbit
Armico.

Inawati, S.U. 1983. Penerapan Komputer Di Bidang Sistematik. Makalah Kongres


Nasional Biologi VI, tanggal 17-19 Juli 1983 di Surabaya.

Jordan, E.L. 1984. Chordate Zoology and Elements of Animal Physiology. Ram
Nagar, New Delhi: S.Chand & Company LTD.

Mac Kinnon, J. 1990. Field Guide to the Birds of Jawa and Bali. Yogyakarta:
Gajah Mada University Press.

Saanin, H. 1995. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan 1 dan 2. Bogor: Penerbit
Binacipta.

Soewasono, 1989. Zoologi/Anatomia Comparativa. Yogyakarta: diterbitkan oleh


Laboratorium Anatami Hewan, Jurusan Zoologi, Fakultas Biologi,
Universitas Gajah Mada.

Storer & Usinger. 1983. General Zoology. New Delhi: Tata McGraw-Hill Pu-
blishing Company LTD.

suplemen vertebrata 42