Anda di halaman 1dari 28
MAKALAH TUGAS AKHIR STUDI PENGARUH SISTEM STRUKTUR LANTAI BETON BERTULANG TERHADAP BIAYA KONSTRUKSI DUDUN ANUGERAH

MAKALAH TUGAS AKHIR

STUDI PENGARUH SISTEM STRUKTUR LANTAI BETON BERTULANG TERHADAP BIAYA KONSTRUKSI

DUDUN ANUGERAH WADI NRP 3107100109

Dosen Pembimbing:

Ir. Retno Indryani, MS Endah Wahyuni, ST, MSc, PhD

JURUSAN TEKNIK SIPIL Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya 2011

1

STUDI PENGARUH SISTEM STRUKTUR LANTAI BETON BERTULANG TERHADAP BIAYA KONSTRUKSI Oleh: Kata kunci: Sistem struktur
STUDI PENGARUH SISTEM
STRUKTUR LANTAI BETON
BERTULANG TERHADAP BIAYA
KONSTRUKSI
Oleh:
Kata kunci: Sistem struktur lantai, Sistem
Konvensional, Flat Slab, Biaya konstruksi,
Floor Column Mode
Dudun Anugerah Wadi
Dosen Pembimbing:
Ir. Retno Indryani, MS.
Endah Wahyuni, ST., MSc., PhD
BAB 1
PENDAHULUAN
Abstrak
Sekitar 40-60 % biaya konstruksi
diserap oleh material. Hal ini membuat efisiensi
material sangat diperlukan untuk menurunkan
biaya konstruksi. Sementara itu, sekitar 60%
material yang digunakan di Indonesia adalah
beton bertulang. Penggunaan beton bertulang
menyebabkan pemilihan sistem struktur lantai
beton bertulang yang tepat dapat memberikan
keuntungan yang bernilai ekonomi. Selain
dikarenakan pemilihan sistem struktur lantai,
penghematan juga dapat diperoleh dari
pemilihan bentang yang efektif .
Penelitian ini mencoba mengkorelasikan
hubungan antara sistem struktur lantai beton
bertulang terhadap biaya konstruksi. Sistem
struktur lantai yang dipilih untuk dianalisa
adalah sistem konvensional (two way slab
supported by beam) dan sistem flat slab. Tiap
sistem struktur lantai tersebut selanjutnya
dimodelkan menggunakan bentang yang
berbeda dimulai dari 4x4 meter hingga 8x8
meter. Pemodelan floor column model dipilih
untuk pemodelan struktur sebagai persyaratan
dalam tahap desain dan analisa struktur.
Setelah analisa struktur selesai, dilakukan
perhitungan biaya berdasarkan hasil
perencanaan tersebut. Perhitungan biaya dalam
penelitian ini mengacu pada indeks harga
satuan yang tercantum dalam SNI DT 91-0008-
2007 tentang Tata Cara Perhitungan Harga
Satuan Pekerjaan Beton untuk Bangunan
Gedung dan Perumahan.
Dari hasil analisa data, didapatkan
bahwa sistem struktur lantai flat slab selalu
memiliki biaya yang lebih tinggi daripada sistem
konvensional. Bentang 6 meter memberikan
biaya terendah untuk kedua jenis sistem struktur
lantai. Untuk sistem struktur lantai
konvensional, urutan bentang mulai dari yang
1.1 Latar Belakang

memiliki biaya terendah adalah 6 meter, 4 meter, 5 meter, 7 meter, dan 8 meter. Untuk sistem struktur lantai flat slab, urutannya adalah 6 meter, 8 meter, 7 meter, 4 meter, dan 5 meter.

Beton merupakan salah satu material yang paling banyak digunakan dalam dunia konstruksi. Di Indonesia, hampir 60% meterial yang digunakan dalam pekerjaan konstruksi adalah beton (concrete), yang pada umumnya dipadu dengan baja (composite) atau jenis lainnya (Mulyono, 2004: 135). Perpaduan ini biasa disebut sebagai beton bertulang. Berbeda dengan baja yang harus dibuat di pabrik, pembuatan beton untuk keperluan praktis misalnya rumah tinggal tidak memerlukan sumber daya berkeahlian khusus dalam pembuatannya. Hal ini membuat material beton semakin populer dan semakin banyak digunakan dalam dunia konstruksi.

Di sisi lain, penggunaan material beton sebagai salah satu unsur penting dalam sebuah proyek ternyata berpengaruh signifikan terhadap total biaya proyek. Lebih dari separuh total biaya proyek diserap oleh material yang digunakan (Nugraha dkk, 1985). Menurut Ritz (1994), material memiliki konstribusi sebesar 40-60% dalam biaya proyek. Hal ini menyebabkan efisiensi material sangat diperlukan untuk menurunkan total biaya konstruksi. Dengan efisiensi biaya material, maka penghematan terbesar telah dilakukan (Damodara, 1999).

Biaya material sendiri merupakan hasil dari kombinasi dua variabel berbeda. Kedua variabel ini adalah harga satuan material dan volume pekerjaan. Harga satuan material lebih banyak ditentukan oleh mekanisme pasar yaitu hukum permintaan dan penawaran. Artinya, pelaku konstruksi tidak bisa mengubah harga yang telah ditetapkan pasar. Berbeda dengan hal ini,

2

Dalam ekonomi konstruksi, dikenal dua versi penghematan yang dikategorikan berdasarkan tujuan dilakukannya penghematan
Dalam ekonomi konstruksi, dikenal dua versi
penghematan yang dikategorikan berdasarkan
tujuan dilakukannya penghematan tersebut. Dua
versi ini adalah versi kontraktor dan versi owner
(Asiyanto, 2003:46).
Yang dimaksud dengan versi owner adalah
upaya-upaya yang dilakukan untuk menekan
biaya konstruksi baik itu pada tahap pra
konstruksi maupun tahap konstruksi dengan
tujuan menurunkan nilai kontrak. Dengan
menurunkan nilai kontrak, maka sebuah proyek
akan dapat menjadi lebih layak secara finansial
karena memiliki biaya investasi yang lebih kecil.
Ekonomi konstruksi versi kontraktor
memiliki tujuan yang berbeda. Yang dimaksud
dengan versi kontraktor adalah upaya yang
dilakukan baik itu pada masa pra konstruksi
maupun masa konstruksi yang bertujuan untuk
mengendalikan pembiayaan, agar dapat
memperoleh laba yang direncanakan dan
menghindari resiko kerugian.
Berdasarkan pengertian di atas, upaya untuk
menggunakan jenis sistem struktur lantai serta
bentang yang tepat dapat dikategorikan sebagai
versi owner. Dengan menggunakan sistem
struktur lantai yang tepat serta bentang yang
efektif, maka nilai kontrak akan menurun dan
sebuah proyek akan menjadi lebih layak secara
finansial.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah dipaparkan di
atas, maka dapat dirumuskan suatu perumusan
masalah. Rumusan masalah utama pada
penelitian ini adalah:
“Bagaimana pengaruh sistem struktur lantai
beton bertulang terhadap biaya konstruksi?”
Dari permasalahan utama ini, kemudian
dapat disusun detail permasalahan untuk
menjawab permasalahan utama. Detail
permasalahan dari penelitian ini adalah:
1. Berapa usulan dimensi komponen
sistem struktur lantai konvensional dan
flat slab untuk masing-masing bentang?
2. Berapa biaya konstruksi untuk masing-
masing sistem struktur lantai?
3. Berapa bentang yang memberikan biaya
konstruksi termurah untuk masing-
masing sistem struktur lantai?

volume pekerjaan relatif lebih dapat dikendalikan oleh perencana. Dalam sistem struktur beton, volume pekerjaan dipengaruhi oleh desain perencanaan yang nantinya akan menentukan dimensi dari struktur beton itu sendiri.

Penggunaan beton sebagai material menyebabkan perencana harus cermat dalam memilih sistem struktur lantai yang tepat. Yang dimaksud dengan sistem struktur lantai disini adalah jenis struktur berdasarkan komponen penyusun strukturnya (balok, pelat, drop panel, dsb). Dalam perencanaan sistem struktur lantai beton dikenal empat jenis sistem yang umum digunakan oleh para perencana. Keempat sistem tersebut adalah sistem konvensional, sistem flat slab, sistem flat plate, dan sistem joist atau waffle. Sebagai studi awal, penelitian ini hanya akan mengambil dua jenis sistem struktur lantai yakni sistem konvensional dan sistem flat slab.

Sejauh ini, penggunaan kedua sistem ini yakni sistem konvensional dan sistem flat slab hanyalah berdasarkan pada permintaan owner, arsitek, maupun konsultan perencana. Pertimbangan ekonomis seringkali tidak dilibatkan dalam pemilihan kedua sistem struktur lantai tersebut sehingga keputusan yang diambil bukanlah merupakan keputusan ekonomis.

Selain berasal dari perbedaan sistem struktur lantai, penghematan biaya juga dapat berasal dari pemilihan bentang yang tepat untuk masing- masing sistem struktur lantai. Bentang yang lebih besar tentu akan menyebabkan dimensi dari komponen struktur lantai menjadi lebih besar. Penulangan yang lebih banyak juga diperlukan pada bentang yang lebih besar. Dengan kata lain, pemilihan bentang yang berbeda akan mempengaruhi biaya konstruksi. Oleh karena itu, penelitian ini juga akan mencoba menerapkan kedua tipe struktur tersebut yakni sistem konvensional dan flat slab kedalam lima bentang yang berbeda yakni 4x4 m, 5x5 m, 6x6 m, 7x7 m, dan 8x8 m.

Dengan dua variabel tersebut, yakni jenis sistem struktur lantai dan penggunaan bentang berbeda, diharapkan dapat diketahui seberapa besar pengaruh sistem struktur lantai beton bertulang konvensional dan flat slab terhadap biaya konstruksi. Dengan demikian, efisiensi biaya material beton dapat diwujudkan di dalam proyek.

3

1.3 Batasan Masalah . Batasan-batasan masalah pada penelitian ini adalah: a) Sistem struktur lantai beton
1.3 Batasan Masalah
. Batasan-batasan masalah pada penelitian ini
adalah:
a) Sistem struktur lantai beton
bertulang yang dimaksud dalam
penelitian ini adalah sistem yang
membentuk pelat dua arah dimana
perbandingan bentang panjang dan
pendeknya adalah kurang dari 2
(dua). Walaupun demikian, akan
1.
2.
terdapat beberapa bentang sisa yang
akan membentuk pelat satu arah.
Pelat tersebut terdapat dalam
bentang 5x5 m, 6x6 m, dan 7x7 m.
b) Penelitian ini
tidak
mempertimbangkan pengaruh segi
arsitektural dalam bangunan.
1.5 Manfaat Penelitian
c) Mutu beton yang digunakan dalam
penelitian ini adalah f’ c 31,2 Mpa
Adapun
manfaat
dari
(K350).
penelitian ini adalah:
d) Yang dimaksud dengan biaya
konstruksi dalam penelitian ini
adalah biaya yang akan berubah
ketika sistem struktur lantai dan
bentang berubah. Biaya tersebut
adalah biaya pembuatan beton,
pembesian, dan pembuatan
bekisting.
1.
2.
e) Tinggi dari lantai ke plafond (tinggi
lantai) ditentukan sebesar 4 meter
agar perbandingan yang dilakukan
lebih objektif.
3.
f) Analisa kekuatan struktur yang akan
dilakukan hanya menggunakan
beban arah gravitasi yakni beban
mati serta beban hidup lantai
perpustakaan tanpa meninjau beban
gempa.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
g) Analisa biaya kostruksi dilakukan
menggunakan indeks harga satuan
yang tercantum dalam SNI DT 91-
2.1 Pendahuluan
0008-2007.
h) Sistem pelat yang dipilih untuk
dianalisa ditetapkan merupakan
sistem pelat menerus.
1.4 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan utama dari dilakukannya
penelitian ini adalah:
“Untuk mengetahui pengaruh sistem struktur
lantai terhadap biaya konstruksi.”

Dari tujuan utama ini, dapat diketahui pula detail tujuan yang disusun berdasar detail permasalahan. Detail tujuan penelitian ini adalah:

Untuk mendapatkan usulan dimensi komponen sistem struktur lantai konvensional dan flat slab untuk masing-masing bentang.

Untuk mengetahui biaya konstruksi untuk masing-masing sistem struktur lantai.

3. Untuk mengetahui bentang yang memberikan biaya paling murah untuk tiap sistem struktur lantai.

dilakukannya

Dapat menjadi pertimbangan baik bagi perencana maupun owner ketika memilih jenis sistem struktur lantai sehingga pemilihan yang dilakukan bernilai ekonomi.

Dapat menjadi pertimbangan untuk perencana ketika menentukan bentang yang ekonomis untuk masing masing sistem struktur lantai.

Sebagai landasan bagi penelitian selanjutnya yang terkait

Material merupakan komponen yang penting dalam menentukan biaya sebuah proyek. Lebih dari separuh biaya proyek diserap oleh pemakaian material dalam proyek (Nugraha dkk, 1985). Hal ini menyebabkan efisiensi material amat diperlukan guna memperkecil biaya proyek.

Material yang digunakan dalam proyek dapat digolongkan menjadi dua golongan (Gavilan dan Bernold, 1994), yaitu:

1. Consumable Material, merupakan material yang pada akhirnya akan

4

menjadi bagian dari struktur fisik bangunan. 2. Non Consumable Material, merupakan material penunjang dalam proses
menjadi bagian dari struktur fisik
bangunan.
2.
Non
Consumable Material,
merupakan material penunjang
dalam proses konstruksi dan bukan
menjadi bagian dari fisik bangunan
ketika bangunan tersebut telah
selesai.
Defleksi yang relatif dapat dikontrol,
membuat sistem ini sangat populer dan lebih
fleksibel untuk berbagai tipe partisi. Lendutan
yang berlebihan seringkali menyebabkan partisi
tertentu seperti kaca tidak dapat digunakan di
dalam bangunan.
2.2.2 Sistem struktur lantai flat plate
Sistem
Struktur
Lantai
Beton
Flat plate (pelat datar) adalah pelat beton
pejal dengan tebal merata yang mentransfer
beban secara langsung ke kolom pendukung
tanpa bantuan balok atau kepala kolom atau
drop panel (ACI-308-08/ PCA EB708).
Gambar 2.4 Sistem Flat Plate
(sumber: ACI-308-08/ PCA EB708)
2.2.3 Sistem struktur lantai flat slab
Sistem Flat Slab adalah sistem lantai flat
plate yang diperkuat dengan mempertebal pelat
di sekeliling kolom (drop panel), dan dengan
penebalan kolom di bawah pelat (kepala kolom/
capital). Biasanya, perbandingan antara
panjang-panjang drop panel dan capital dibatasi
sebagai berikut : lx < ly < 2lx (Caprani, 2007).
Gambar 2.5 Sistem Flat Slab
(Sumber: ACI-308-08/ PCA EB708)
Gambar 2.6 Batasan Panjang Drop Panel dan
Capital (Sumber: Caprani, 2007)
Lendutan pada flat slab maupun flat plate
terjadi sepanjang tepi pelat karena pelat tidak
ditumpu oleh balok (Timoshenko, 1959). Hal ini
seperti yang terlihat pada gambar 2.5.
Konsekuensi dari hal ini adalah sistem flat slab
maupun sistem flat plate kurang cocok untuk
partisi yang peka terhadap lendutan seperti kaca.

2.2

Bertulang

Beton bertulang adalah beton yang ditulangi dengan luas dan jumlah tulangan yang tidak kurang dari nilai minimum yang diisyaratkan dengan atau tanpa prategang dan direncanakan dengan asumsi bahwa kedua material bekerja bersama sama dalam menahan gaya yang bekerja (SNI 03-2847-2002 ps. 3.13)

Pada struktur gedung yang menggunakan beton bertulang terdapat empat jenis sistem struktur lantai yang umum digunakan dalam perencanaan. Keempat sistem ini adalah sistem konvensional, sistem flat slab, sistem flat plate, dan sistem joist atau waffle. Keempat sistem ini memiliki keunggulan dan kelemahan masing- masing.

2.2.1 Sistem struktur lantai konvensional

Sistem konvensional atau yang biasa disebut sebagai sistem struktur lantai biasa adalah sistem lantai yang memiliki pelat dan balok sebagai komponen penyusunnya.

yang memiliki pelat dan balok sebagai komponen penyusunnya. Gambar 2.2 Two way Beams Supported Slab (sumber:
yang memiliki pelat dan balok sebagai komponen penyusunnya. Gambar 2.2 Two way Beams Supported Slab (sumber:

Gambar 2.2 Two way Beams Supported Slab (sumber: ACI-308-08/ PCA EB708) Keunggulan dari pemakaian sistem jenis ini adalah defleksi yang terjadi hanya di daerah lapangan. Penggunaan sistem ini akan menyebabkan defleksi di daerah tepi amat kecil. Hal ini seperti yang dijelaskan oleh Timoshenko (1959) dalam gambar berikut ini:

dijelaskan oleh Timoshenko (1959) dalam gambar berikut ini: Gambar 2.3 Lendutan pada Sistem Konvensional (Sumber:
Gambar 2.3 Lendutan pada Sistem Konvensional (Sumber: Timoshenko, 1959)
Gambar 2.3 Lendutan pada Sistem Konvensional
(Sumber: Timoshenko, 1959)

5

a) Biaya material Gambar 2.7 Lendutan pada Flat Slab (Sumber: Timoshenko, 1959) b) Biaya upah
a) Biaya material
Gambar 2.7 Lendutan pada Flat Slab
(Sumber: Timoshenko, 1959)
b) Biaya upah tenaga kerja
c) Biaya peralatan
2.2.4 Sistem struktur lantai joist/ waffle
Sistem lantai waffle slab adalah sistem balok
T dengan jarak yang dekat (Charif, 2010).
a) Biaya upah supervisi
b) Biaya upah keamanan
Gambar 2.8 Sistem Joist/ Waffle
(Sumber: ACI-308-08/ PCA EB708)
Keunggulan sistem ini yang paling menonjol
terletak pada ketahanannya terhadap getaran.
Sistem ini akan sangat cocok jika digunakan
pada bangunan yang memerlukan peredam
getaran tinggi seperti lantai dansa (getaran
berasal dari langkah manusia), pabrik (getaran
dari mesin) dan laboratorium yang tidak
mengijinkan getaran. Sistem ini juga sangat
diperlukan untuk bangunan gedung yang
memiliki persyaratan tinggi terhadap getaran
seperti hi-tech semiconductor factories yang
memiliki kepekaan terhadap getaran hingga di
tingkat nano (Oktora, 2010).
2.3.2
RAB = ∑ (Volume x Harga Satuan Pekerjaan)
2.3 Analisa Biaya Konstruksi
Analisa biaya konstruksi atau yang biasa
disebut dengan ABK adalah suatu cara
perhitungan harga satuan pekerjaan konstruksi,
yang dijabarkan dalam perkalian indeks bahan
bangunan dan upah kerja dengan harga bahan
bangunan dan standar pengupahan pekerja,
untuk menyelesaikan persatuan pekerjaan
konstruksi (Khalid, 2008).
2.3.3 Analisa harga satuan
2.3.1 Biaya konstruksi
Biaya konstruksi proyek merupakan
penjumlahan antara biaya langsung (direct cost)
dan biaya tidak langsung (indirect cost) dalam
proyek.
2.3.3.1 Metode BOW (Burgerlijke
Openbare Werken)
2.3.1.1 Biaya langsung (direct cost)

Biaya langsung adalah biaya yang berhubungan langsung dengan pelaksanaan proyek konstruksi. Contoh dari biaya langsung adalah:

2.3.1.2 Biaya tidak langsung (indirect cost)

Biaya tidak langsung adalah biaya yang tidak berhubungan langsung dengan keberlangsungan proyek, namun keberadaannya tetap dibutuhkan. Contoh dari biaya tidak langsung ini adalah:

Rencana anggaran dan biaya (RAB)

Menurut Ibrahim (1993), yang dimaksud rencana anggaran biaya (begrooting) suatu bangunan atau proyek adalah perhitungan banyaknya biaya yang diperlukan untuk bahan dan upah, serta biaya-biaya lain yang berhubungan dengan pelaksanaan bangunan atau proyek tersebut.

Rencana Anggaran dan Biaya atau yang sering disebut RAB merupakan dokumen rencana biaya proyek yang diperoleh dari perkalian antara harga satuan pekerjaan dengan volume pekerjaan.

(sumber: Administrasi Kontrak dan Anggaran Borongan)

Salah satu metode yang dapat digunakan dalam penyusunan urutan pekerjaan ini adalah Work Breakdown Structure (WBS).

Perhitungan harga satuan pekerjaan di Indonesia umumnya dapat dibagi menjadi tiga kelompok metode. Tiga metode tersebut adalah metode BOW, SNI, dan lapangan.

BOW ialah suatu ketentuan dan ketetapan umum yang ditetapkan Dir. BOW tanggal 28 Februari 1921 Nomor 5372 A pada zaman Pemerintahan Belanda (Khalid, 2008).

6

2.4.1 Pembebanan Pembebanan yang akan diberikan kepada sebuah struktur harus disesuaikan dengan fungsi dari bangunan
2.4.1 Pembebanan
Pembebanan yang akan diberikan kepada
sebuah struktur harus disesuaikan dengan fungsi
dari bangunan gedung tersebut. Beberapa jenis
beban yang bekerja pada sebuah struktur adalah:
beban mati, beban hidup, beban gempa dan
beban angin.
2.4.2 Sistem struktur gedung
Perbedaan jenis struktur gedung maupun
sistem struktur akan menyebabkan perbedaan
baik dalam prosedur perencanaan maupun
kontrol perencanaan.
2.4.2.1 Struktur gedung
Pembagian keteraturan gedung diatur dalam
SNI 03-1726-2002. Adapun penggolongannya
adalah sebagai berikut:
a) Struktur gedung beraturan
b) Struktur gedung tidak beraturan
2.4.2.2 Sistem struktur
Sistem struktur yang digunakan pada
perancangan gedung merupakan hal yang perlu
diperhatikan. Faktor daya tahan terhadap gempa
mengharuskan suatu bangunan gedung memiliki
sistem struktur yang sesuai berdasar SNI-03-
1726-2002. Pembagian sistem struktur menurut
wilayah gempanya dibagi menjadi tiga yakni
wilayah gempa resiko rendah, resiko menengah,
dan resiko tinggi.
BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Tahapan Penelitian
Tahapan
penelitian
dalam
tugas
akhir
ini
1. Peraturan Beton Bertulang Indonesia
(PBI) 1971
secara
garis
besar
dapat
dijelaskan
sebagai
berikut:
2. SNI 03-2847-2002 Tata Cara
Perhitungan Struktur Beton untuk
Bangunan Gedung.
1.
Latar belakang.
2.
Identifikasi masalah.
3.
Perumusan masalah
3. Pedoman Perancangan Pembebanan
Indonesia Untuk Rumah dan Gedung
(PPIUG) 1987.
4.
Studi literatur.
5.
Pembatasan kriteria desain.
6.
Penentuan bentang antar kolom.
4. RSNI 03-1727-2002 mengenai
pembebanan dan faktor reduksi.
7.
Penentuan tata letak kolom.
8.
Perencanaan struktur.
5. ACI 318-08 (American Concrete
Institute) khusus untuk pendetailan
Beton Bertulang.
9.
Analisa struktur menggunakan software
SAP 2000.
10.
Kontrol desain.

2.3.3.2 Metode SNI (Standar Nasional Indonesia)

Analisa biaya konstruksi yang kedua adalah analisa biaya yang menggunakan indeks berdasarkan SNI. Untuk pekerjaan beton, perhitungan biaya konstruksi umumnya mengacu pada SNI DT-91-0008-2007 tentang tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan beton untuk bangunan gedung dan perumahan.

2.3.3.3 Metode lapangan

Yang dimaksud dengan metode lapangan adalah metode yang dimiliki oleh kontraktor sendiri. Kontraktor umumnya membuat harga penawaran berdasarkan analisa yang tidak seluruhnya berpedoman pada analisa BOW maupun analisa SNI. Para kontraktor lebih cenderung menghitung harga satuan pekerjaan berdasarkan dengan analisa mereka sendiri yang didasarkan atas pengalaman terdahulu dalam menyelesaikan suatu pekerjaan konstruksi, walaupun tidak terlepas dari analisa BOW ataupun analisa SNI (Khalid, 2008).

2.3.4 Perhitungan volume pekerjaan

Menurut Ibrahim (2003), yang dimaksud dengan volume suatu pekerjaan ialah menghitung jumlah banyaknya volume pekerjaan dalam satu satuan. Volume juga disebut sebagai kubikasi pekerjaan. Volume (kubikasi) suatu pekerjaan, bukanlah merupakan volume (isi sesungguhnya), melainkan jumlah volume bagian pekerjaan dalam satu kesatuan.

2.4 Peraturan Perencanaan Bangunan

Desain sebuah bangunan gedung umumnya direncanakan sesuai dengan peraturan perancangan antara lain:

7

11. Perhitungan harga satuan pekerjaan 12. Perhitungan volume pekerjaan. 13. Perhitungan biaya. 14. Analisa Bentang
11. Perhitungan harga satuan pekerjaan
12. Perhitungan volume pekerjaan.
13. Perhitungan biaya.
14. Analisa Bentang Ekonomis
15. Kesimpulan.
Alur tahapan penelitian seperti yang telah
dijelaskan di atas dapat dilihat pada gambar 3.1.
Latar Belakang
Identifikasi Masalah
Perumusan Masalah
Studi Literatur
Pembatasan kriteria desain
Penentuan Bentang Antar Kolom
BAB 4
ANALISA STRUKTUR
Penentuan Tata Letak Kolom
4.1 Data Perencanaan
Perencanaan Struktur
Sistem Konvensional
Sistem Flat Slab
Analisa Struktur Menggunakan
Software SAP2000
A
Tipe Bangunan
Zone Gempa
Lebar Bangunan
Panjang Bangunan
Mutu Beton (fc’)
Mutu Baja (fy)
Mutu Sengkang (fy)
4.2 Pembebanan
Gambar 3.1 Diagram Alir Tahapan Penelitian
1. Beban Gravitasi
a. Beban Mati
Berat sendiri beton bertulang
= 2400 kg/m 3
2
Adukan finishing beton bertulang= 42
kg/m
2
Tegel
= 24
kg/m
2
Plafond+rangka
= 18
kg/m
2
Plumbing
= 40
kg/m
B
B
A B Not OK Kontrol Desain Hasil Ok Perhitungan Harga Satuan Perhitungan Volume Perhitungan Biaya
A
B
Not OK
Kontrol
Desain
Hasil
Ok
Perhitungan Harga Satuan
Perhitungan Volume
Perhitungan Biaya
Analisa Bentang dan Sistem
Ekonomis
Kesimpulan

Gambar 3.1 Diagram Alir Tahapan Penelitian (Lanjutan)

Struktur yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah sistem struktur berbahan beton bertulang dengan data perencanaan sebagai berikut:

: Perpustakaan (2 lantai) : (tidak diperhitungkan) : 16 m : 16 m : 31.2 MPa : 400 MPa : 300 MPa

8

1 h min 16 x4 0.25 m 25 cm = 732 kg/m2 Untuk balok luivel,
1
h min 16 x4 0.25 m 25 cm
= 732
kg/m2
Untuk balok luivel, dimensi balok adalah:
1
h min
8 l
A
B
C
D
E
4.3.1.3 Kolom
Tebal pelat rencana
Tinggi tiap tingkat
: 12 cm
: 400 cm
400.00
400.00
400.00
400.00
1
4KA1
4KB1
4KB1
4KB1
4KA1
Untuk
bentang
4
meter,
perhitungan
4PkA
4PkB
4PkB
4PkA
400.00
pembebanan berdasarkan PPIUG 1983
2
Tabel 2.1 adalah sebagai berikut:
4KB1
4KB2
4KB2
4KB2
4KB1
Beban Mati
4PkB
4PkC
4PkC
4PkB
400.00
Pelat = 4 x 4 x 0.12 x2400 = 4608 kg
3
4KB2
4KB2
4KB2
4KB1
4KB1
4PkB
4PkC
4PkC
4PkB
400.00
Plafon + rangka
Balok induk x
= 4 x 4 x 18 = 288 kg
= 4 x 0.18x 0.25 x 2400
=
4
432
kg
4KB1
4KB2
4KB2
4KB2
4KB1
Balok induk y
= 4 x 0.18 x 0.25 x 2400
=
4PkA
4PkA
4PkB
4PkB
400.00
432
kg
4KA1
4KA1
5
Keramik
= 4 x 4 x 0.01 x 24
=
3.84
kg
Spesi (2 cm)
= 4 x 4 x 0.02 x 21
=
6.72
kg
Plumbing
= 4 x 4 x 40 kg/m
=
640 kg
Pelat
Berat Total = 6410.56
kg
Berdasarkan PPIUG 1983 tabel 3.1
Beban Hidup
Lantai Perpustakaan = 4 x 4 x 732 kg/m 2 x 0.8 =
9369
kg
Berat Total = 9369 kg
Jadi berat total → W
= 1,2 x DL + 1,6 x LL
Balok
= 1,2 (6410.56) +
1,6
(9369)
= 22726.8 kg
Menurut
SNI
03-2847-2002
Ps.
11.3.2.2
diberikan faktor reduksi sebesar (ф=0.65).
1
h min
Mutu beton
=
31.2 Mpa =
31.2
x 10.2
=
16 l
318.2 kg/cm 2
Untuk fy selain 400 Mpa, nilainya harus
fy
W 22726.8
700 . Jadi, untuk mutu
Rencana Awal → A
=
=
Φ fc'
0.65 * 318.2
2
=109.88 cm

b. Beban Hidup Lantai Perpustakaan

4.3 Preliminary Desain 4.3.1 Sistem konvensional

Untuk lebih mempermudah dalam mengidentifikasi komponen sistem struktur lantai, maka dilakukan penamaan. Penamaan tersebut seperti yang terlihat pada gambar 4.1 berikut.

Gambar 4.1 Penamaan Komponen Struktur Konvensional

4.3.1.1

Perkiraan tebal pelat minimum dihitung berdasarkan SNI 03-2847-2002 pasal 11.5.3(2). Berdasarkan pasal ini, maka tebal pelat rencana untuk semua bentang dicoba sebesar 12 cm.

4.3.1.2

Penentuan tinggi balok minimum (h min ) dihitung berdasarkan SNI 03-2847-2002 Psl. 11.5.2.3.b dimana bila persyaratan ini telah dipenuhi maka tidak perlu dilakukan kontrol terhadap lendutan.

dikalikan dengan 0.4+

baja 400 Mpa dan mutu beton 31.2 Mpa dimensi dari balok bentang 4 meter adalah sebagai berikut:

kg

9

2 → Dimensi awal b 2 = 109.88 cm dengan b = 10.482 cm ≈
2
Dimensi awal
b 2 = 109.88 cm
dengan
b = 10.482 cm ≈ 30 cm
kolom
adalah
Jadi
dimensi
kolom
bentang
4
meter
digunakan 30/30 cm.
4.3.2 Sistem flat slab
cm.
Untuk
lebih memudahkan dalam
mengidentifikasian, maka dilakukan penamaan
komponen sebagai berikut:
4.3.2.3 Kolom
masing bentang.
A
B
C
D
E
400.00
400.00
400.00
400.00
4fsA1
4fsB1
4fsB1
4fsB1
4fsA1
1
DP4c
DP4b
DP4b
DP4b
DP4c
Tebal pelat rencana
Tinggi tiap tingkat
: 12 cm
: 400 cm
4PfsA
4PfsA
4PfsA
4PfsA
400.00
DP4
DP4
DP4
Untuk
bentang
4
meter,
4fsB2
4fsB2
4fsB2
4fsB1
4fsB1
2
DP4b
DP4b
4PfsA
4PfsA
4PfsA
4PfsA
400.00
Beban Mati
DP4
DP4
DP4
4fsB1
4fsB1
3
4fsB2
4fsB2
4fsB2
DP4b
DP4b
Pelat
4608 kg
4PfsA
4PfsA
4PfsA
4PfsA
400.00
= 4 x 4 x 18 kg/m 3 = 288
DP4
DP4
DP4
4fsB1
4fsB1
4
4fsB2
4fsB2
4fsB2
DP4b
Plafon + rangka
Drop panel
DP4b
= 470.4 kg
4PfsA
4PfsA
4PfsA
4PfsA
400.00
Keramik
= 4 x 4 x 0.01 x 24= 3.84
DP4c
DP4b
DP4b
DP4b
DP4c
5
4fsA1
4fsA1
Spesi (2 cm)
4fsB1
4fsB1
4fsB1
6.72 kg
Gambar 4.2 Penamaan Komponen Sistem Flat
Slab
Plumbing
= 4 x 4 x 40 kg/m 2 = 640
Berat Total = 6016.96 kg
4.3.2.1 Pelat
Berdasarkan PPIUG 1983 tabel 3.1
Tebal minimum pelat tanpa balok interior
yang menghubungkan tumpuan-tumpuannya dan
mempunya rasio bentang panjang terhadap
Beban Hidup
bentang pendek yang tidak lebih dari dua harus
memenuhi ketentuan SNI 03-2847-2002 pasal
= 9370
kg
Berat Total
11.5.3.
Jadi berat total →
Untuk tebal pelat tanpa balok interior dengan
fy = 400 Mpa, tebal pelat diisyaratkan:
W
= 1,2 x DL + 1,6 x LL
= 1,2 (6016.96) + 1,6 (9370)
= 22212 kg
Ln
Menurut
SNI
03-2847-2002
Ps.
h
36
diberikan faktor reduksi sebesar (ф=0.65).
Dengan demikian, tebal pelat untuk bentang
400 cm adalah 400/36 = 11.11 ≈ 12 cm.
Mutu beton
=
31.2 Mpa =
31.2 x
10.2
318.2 kg/cm 2
4.3.2.2 Drop panel
Lebar drop panel harus direncanakan ≥1/6 L
bentang bersih dari as kolom ke kolom. Tebal
drop panel harus direncanakan ≥1/4 h pelat dan
≤1/4 jarak tepi kolom ke tepi drop panel.

Dengan demikian, untuk bentang 4 meter

tebal pelat rencana 12 cm, lebar drop

panel adalah 1/6*400 = 67 cm ≈ 70 cm dari as

sehingga lebar drop panel keseluruhan 140 cm. Tebal drop panel tidak boleh

kurang dari ¼ x 12 = 3 cm dan tidak boleh lebih dari ¼ x 40 = 10 cm. Dengan dua ketentuan di atas, maka diambil tebal drop panel adalah 10

Untuk perencanaan kolom, perlu dihitung dahulu pembebanan yang terjadi untuk masing-

perhitungan

pembebanan berdasarkan PPIUG 1983 Tabel 2.1 adalah sebagai berikut:

= 4 x 4 x 0.12 x2400 kg/m 3 =

kg

= 1.4 x 1.4 x 0.1 x 2400 kg/m 3

kg

= 4 x 4 x 0.02 x 21 kg/m 2 =

kg

Lantai Perpustakaan = 4 x 4 x 732 kg/m 2 x 0.8

11.3.2.2

=

= 9370 kg

10

W 2 3  100   12      12 
W
2
3
 100
 12  
12 
 100
=
= 1 +
− 1  x 
x
4
− 6   12  + 4 
+ 
− 1
  x   12  
18
 
25
25
25 
18  
25
Φ fc'
 
k =
 100
12 
22212
1 +
− 1  x 
18
 
25
=107.394cm 2
2 Menghitung momen inersia:
b 2 = 107.394 cm
b = 10.36 cm
≈ 30 cm
Balok: K b h 3 = x 2.747x 18 x 25 3 =
63288.612 cm 3
Jadi
dimensi
kolom
bentang
4
meter
Pelat: Ly x Hf 3 = 382x 12 3 /12 = 55008
12
α m = I balok /I pelat = 63288.612/55080 = 1.171
Balok Tepi:
400.00
PkB
be = bw + L/12 = 18 + (400/12) = 52 cm
be = bw + 6 hf = 18 + (6x12) = 90 cm
be = bw + 0.5 x jarak bersih ke balok berikutnya
= 18 + (400/2) = 218 cm
maka dipilih be = 52 cm
2
3
 52
 12  
12 
 52
1 +
− 1  x 
x
4
− 6   12 
+ 
− 1
  x   12  
18
 
25
25
+ 4 
25
18  
25
Gambar 4.3 Pelat Tipe 1
 
 
k =
 52
12 
1 +
− 1  x 
18
 
25
= 400 MPa
= 31.2 MPa
= 12 cm
Menghitung momen inersia:
= 400 – 18= 382 cm
= 400 – 18 = 382 cm
Balok: K b h 3 = 1/12 x 2.075 x 18 x 25 3 =
25163 cm 3
= Ln/Sn = 1 (pelat dua arah)
Pelat: Ly x Hf 3
= 382.5 x 12 3 /12 = 55008
12
bw
/I pelat = 47297.90112/55080 = 0.458
be
α m = I balok
h
hw
f
Dari perhitungan didapat α m = (α m +α m +α m +α m ) /
4 = (1.171+1.171+1.171+0.458) / 4 = 0.99275
Dikarenakan nilai tersebut memenuhi kriteria
0.2 < α m <2, maka tebal pelat harus memenuhi:
2
3
 be
hf
 be
1
+ 
1
 x   hf  
x
4
6
  hw hf  +
4
+ 
1
bw
hw
 hw
bw
x    hw hf  
fy
 be
hf
L ×
0.8 +
1 + 
1
x 
n
bw
hw
1500
 
h =
1
36
+
5
βα
[
0.2]
m
Nilai h 1 tersebut tidak boleh kurang dari 12 cm.
Dengan demikian, tebal pelat tipe 4PkA
minimum adalah:
400 
382.5
×
  0.8
+
1500 
h =
= 10.25
1
36
+
5 1 0.9565
x
[
0.2
]

Rencana Awal A

0.65 * 318.2

Dimensi awal

digunakan 30/30 cm.

4.4 Analisa Struktur Sistem Konvensional 4.4.1 Perhitungan pelat

Pelat Tipe 4PkB (Pelat Konvensional Bentang

4 meter tipe B)

Mutu baja

Mutu Beton Tebal pelat rencana

Ln

Sn

β

Mencari bentang efektif:

Nilai be adalah nilai terkecil dari:

be = bw + 8 Hf= 18 + (8x12) = 114 cm be = L/4 = 400/4 = 100 cm maka dipilih be 100 cm

Menghitung nilai k:

k =

Dimana :

be= lebar efektif, harga minimum (cm) bw= lebar balok (cm) hf= tebal rencana pelat (cm) hw= tinggi balok (cm)

 

 

= 2.071

= 2.747

11

Jadi tebal pelat tipe 4PkB diambil adalah 12 cm. Mu = Mn= 8615352 = 10769191
Jadi
tebal pelat tipe 4PkB diambil adalah 12 cm.
Mu =
Mn=
8615352 = 10769191 Nmm
φ
0,8
Perhitungan penulangan pelat tipe 4PkA
Mn
10769191
N
Rn
=
=
= 2.393
= 2.4
Data-data perencanaan untuk penulangan atap:
2
2
2
bdx
1000x75
mm
MPa
a) Dimensi plat: 4 x 4 m 2
b) Tebal plat: 120 mm
1
2m
×
Rn
ρ
=
1 −
1
=
perlu
c) Tebal decking: 40 mm
m
fy
d) Diameter tulangan rencana: 10 mm
e) Mutu tulangan baja: 400 MPa
1
 2
×
15.083
×
2.393
  1 −
1
=
f) Mutu beton: 31.2 MPa
15.083
 400
g) dx = 120 – 40 – ½ (10) = 75 mm
h) dy = 120 – 40 – 10 – ½ (10) = 65 mm
0.006299
Perhitungan nilai β 1 :
Dari perhitungan sebelumnya telah didapat:
ρ max = 0.75ρb = 0.75 x 0.03343 = 0.02507
β 1 = 0.85-8 ( ) 0.8408
1.4
ρ min =
1.4 = 0.0035
Menentukan batasan tulangan:
fy
= 400
0.85β1
fc 
'
600
karena
ρ
b
=
=
fy
600
+
fy
ρ
min <ρ perlu <ρ max
= ρ. b .d
As perlu
0.85
x
0.8408 31.2 
x
600
ρb
=
= 0.03343
= 0.006299 x 1000 x 75
400
600
+
400
= 472.4438 mm 2
= 2 x tebal pelat = 2 x 120 = 240 mm
S max
ρ max = 0.75ρb = 0.75x 0.03343 = 0.02507
Dipasang tulangan lentur φφφφ10-100
As pakai 709.676 mm 2
1.4
ρ min =
1.4 = 0.0035
fy
= 400
Perhitungan tulangan tumpuan & lapangan
arah Y identik dengan arah X
m
= fy / 0.85 f’c = 400/ (0.85x31.2) = 15.083
Kebutuhan tulangan susut
Dengan
mengunakan
koefisien
momen
PBI
1971 tabel 13.3.2 didapat persamaan momen
sebagai berikut : (Iy/Ix = 1)
Mlx
= 0.001.qu.Lx 2 .X : 0.001x1666 x 382 2 x 36
Rasio tulangan susut sesuai dengan SNI 03-
2847-2002 ps 9.12 adalah 0.0018 dengan jarak
tidak boleh lebih dari lima kali tebal pelat atau
450 mm.
=
8637921 Nmm
4.4.2 Perhitungan balok
Mtx
= -0.001.qu.Lx 2 .X : 0.001x1666x382 2 x36
=
-8637921 Nmm
Perhitungan balok 4A1-B1
Mly
= 0.001.qu.Lx 2 .X : 0.001x1666x382 2 x36 =
8637921 Nmm
A
B
Mty
= -0.001.qu .Lx 2 .X : 0.001x1666x382 2 x36
=
-8637921 Nmm
400.00
Dimana : Mlx
= Momen lapangan arah x
Mly
= Momen lapangan arah y
PkA
P
Mtx
= Momen tumpuan arah x
Mty
= Momen tumpuan arah y
X
= Nilai konstanta dari tabel PBI
Gambar 4.6 Balok Tipe 4A1-B1
Perhitungan penulangan tumpuan dan
lapangan arah X
Data perencanaan
Mutu Bahan = Baja ( fy )
= 400
MPa
Beton ( f’c ) = 31.2
MPa
Mu = 8615352 Nmm

12

Selimut beton = 40 mm diameter Mu 14150666 Rn = = = 2.665 MPa Ukuran
Selimut beton
= 40 mm
diameter
Mu
14150666
Rn =
=
=
2.665 MPa
Ukuran
tulangan
balok
16
mm
2
2
φ
.b.d
0,8.180.192
(rencana)
Ukuran
tulangan
sengkang
diameter
10
mm
fy
400
(rencana)
m
=
= 15.0829
0,85 . f'c = 0,85.31.2
Perhitungan penulangan lentur balok tipe A
Dari hasil perhitungan analisa struktur dengan
SAP 2000 versi 14.1 didapat :
1
2.
m Rn
.
=
(1
1
(
))
=
0.00703
ρ perlu
m
fy
Mu
tumpuan maksimum = -23819372 Nmm
Mu
lapangan maksimum = 14150666 Nmm
As perlu =
ρ
.
b
.
d = 0,00703. 180
.
192
=
243.226 mm 2
Tulangan tumpuan
d’ = 40 + 10 + ½.16 = 58 mm
d = 250 mm – 58 mm = 192 mm
Untuk f’c = 31.2 MPa
=0,85–0.008.(f’c–30)= 0.8404
Dipakai : As 283.8704 mm 2 …….(4-D10)
β
Untuk Tulangan Tekan : 50 % tulangan tarik
Maka untuk tulangan tekan :
2-D13
(As
=
258.06
mm 2 ).
Untuk Struktur lentur tanpa beban aksial,maka
koefisien reduksi kekuatan
Penulangan geser
Ø = 0,8
Ketentuan perhitungan tulangan geser adalah:
0,85.
f c
'
600
=
.
)
=
1. Vu
0,5
φ
Vc
Tidak
perlu
ρ b
fy
ß1.( 600 + fy
penulangan geser.
0.033431
ρ
= 0,75. ρ b = 0,75 x 0.033431= 0.02507
2. 0,5 φ Vc < Vu < φ Vc → Dipakai
tulangan geser minimum.
max
ρ
= 1,4 / fy = 1,4 / 400 = 0,0035
min
3. φVc < Vu < φ (Vc + Vs min ) →
Diperlukan tulangan geser.
Balok dianalisa menggunakan penampang
persegi bertulangan tunggal dengan tulangan
tekan = 50 % tulangan tarik.
Tulangan tumpuan
4. φ (Vc+V Smin ) < Vu ≤ →
Perlu tulangan geser.
φ(Vc
+
1
3
Direncanakan :
Nilai Vu yang bekerja langsung diambil dari
analisa struktur menggunakan SAP 2000. Untuk
balok tipe 4A1-B1, nilai Vu adalah 28719 N.
Mu = 23819372 Nmm
Perhitungan
kemampuan
beton
menahan
Mu
23819372
Rn =
=
= 3.89 MPa
geser
2
2
φ
.b.d
0,8.180.192
fy
400
Vc
=
√ . 180 192
m
= 15.0829
= 0,85 . f'c
= 0,85.31.2
32174
1
2.
m Rn
.
(1
1
(
))
= 0,01057
0.5 φ Vc = 0.5 x 0.6 x 32174 = 9652.2 N
ρ perlu =
m
fy
φ Vc = 19304
As
perlu = ρ.b.d = 0,01057.180.192 = 365.455
2
mm
28719
Vs min =
Vu tump
Vc
=
32174
Dipakai: As =
387.09 mm 2 …….(3-D13)
φ
0,6
Untuk Tulangan Tekan : 50 % tulangan tarik
Vs min = 15691 N
Maka untuk tulangan tekan : 4-D10
(As
=
φ(Vc
+
1
fc'.bw.d)
283.87
mm 2 )
3
0.6(32174
+
1
31.2.180.192)
=
57912 N
3
Tulangan lapangan
(perlu tulangan geser)

fc'.bw.d)

13

Direncanakan menggunakan dua tulangan polos diameter 8 mm. Dengan demikian, luas tulangan geser adalah 8
Direncanakan menggunakan dua tulangan polos
diameter 8 mm. Dengan demikian, luas tulangan
geser adalah 8 2 100 2
Perhitungan kolom menggunakan program bantu
PCA Column. Perhitungan kolom untuk kolom
4KA1 adalah sebagai berikut:
φ
Vn > Vu
Data Perencanaan Kolom 4KA1 (didapatkan
dari program bantu SAP2000)
19304 + φ Vs > 28719
Pu max
φ
Vs > 28719 – 19304
Mu max
Vu max
= 42, 371 KN
= 6.65 KNm
= 3067 N
φ
Vs > 9415 N
Vs > 15692 N
Asumsi ρ perlu = 0.015
As perlu = 0.015 x 300 x 300 = 1350 mm
Digunakan tulangan 8D-16
S
< 100 x 300 x 192 / 15692 = 367 mm
As pakai = 1600
Menurut SNI 03-2847-2002 ps 25.7.5 batas
maksimum spasi sengkang adalah d/2 atau 600
ρ pakai = 1600/ 90000 = 0.0177
mm.
d/2 = 192 / 2 = 96 mm = 9.6 cm
dipasang s = 75 mm
Langkah selanjutnya adalah memasukkan data
tersebut ke dalam program bantu PCA Column
sehingga didapatkan diagram interaksi.
Kebutuhan sengkang di luar sendi plastis
Vu = 24918 N
Direncanakan menggunakan dua tulangan polos
diameter 8 mm. Dengan demikian, luas tulangan
geser adalah 8 2 100 2
Dari diagram interaksi tersebut terlihat bahwa
untuk Pu dan Mu max yang didapatkan dari
SAP2000, kolom 30x30 dengan tulangan yang
telah direncanakan kuat memikul beban dan
momen tersebut sehingga kolom dapat dipakai.
Perhitungan tulangan geser untuk kolom
Vu Max = 3067 N
φ
Vn > Vu
19304 + φ Vs > 24918
Vc dihitung sesuai rumus yang terdapat dalam
SNI 03-2847-2002 pasal 13.3.1.2
φ
Vs > 24918 – 19304
) ′
(1 +
φ
Vs > 5614 N
14
6
Vs > 9357 N
42.371
1 +
300.244
14.300.300 √31.2
6
70382
S
< 100 x 300 x 192 / 9357 = 615 mm
φ Vc = 42229 N
Agar lebih praktis, sengkang di luar sendi plastis
dipasang sengkang dengan jarak 2x jarak pasang
pada sendi plastis yakni 150 mm.
0.5 φ Vc = 21114 N
Karena 0.5 φ Vc > Vu
4.4.3 Perhitungan kolom
Maka tulangan geser tidak diperlukan. Namun,
untuk keperluan praktis pemasangan di

14

lapangan, akan dipasang tulangan geser sesuai dengan SNI 03-2847-2002 pasal 9.10.5 Mu Tumpuan Mu Lapangan
lapangan, akan dipasang tulangan geser sesuai
dengan SNI 03-2847-2002 pasal 9.10.5
Mu Tumpuan
Mu Lapangan
= 238042000 Nmm
= 28910000 Nmm
Penulangan tumpuan
4.5 Analisa Struktur Sistem Flat Slab
4.5.1 Perhitungan pelat
Tulangan rencana = D 22
d
= 220 – 20 – (1/2 x 22)
Perhitungan tebal eqivalen
= 189 mm
d’
= h – d = 220 – 189 = 31 mm
L panel
h
Perhitungan nilai β 1 :
L panel+L drop panel . h pelat
L drop panel
1000
+
panel . (h pelat+h drop panel)
β 1 = 0.85-8 ( f ' c-30 ) 0.8408
Menentukan batasan tulangan:
L panel+L drop
0.85β1
fc
'
600
ρ
b
=
=
400x400
h
fy
600 +
fy
(400x400)+(140x140) . 12
0.85 0.8408 31.2
x
x
600
140 x 140
ρb
=
+
(400x400)+(140x140) .(12+10) 10.69+1.09 12 cm
=
0.03343
400
600
+
400
Perancangan pelat
ρ max = 0.75ρb = 0.75x 0.03343 = 0.02507
Pembebanan pada pelat:
1.4
ρ
min =
=
1.4 = 0.0035
Beban mati ( DL )
fy
400
Berat sendiri plat = 0,12 x 2400= 288 Kg/m 2
Berat plafond+rangka= 11 + 7=
18 Kg/m 2
m = fy / 0.85 f’c = 400/ (0.85x31.2) = 15.083
δ = As’ / As = 0.5
Finishing (2 cm)= 2 x 21=
42 Kg/m 2
Berat ducting & plumbing=
40 Kg/m 2
Rn
=
Berat keramik= 1 x 24=
24 Kg/m 2 +
(1
δ
)
Mu
(1
0.5)238042000
DL= 412 Kg/m 2
=
= 4.16
φ
bd
^2
0.8 1000 189^2
x
x
Beban hidup (LL)
Ruang perpustakaan: LL =
732 Kg/m 2
Kombinasi pembebanan (qu)
1
2m
×
Rn
ρ
1
1
δ =
=
m
fy
qu
= 1,2 DL + 1,6 LL
= 1,2 x 412 + 1,6 x 716
1
2
×
15.083
×
4.16
= 1666 Kg/m 2
1
1
= 0.0114
Data perencanaan
Mutu Beton = 31.2 Mpa
Mutu Baja = 400 Mpa
Selimut Beton = 20 mm (SNI 03-2847-2002 Ps
15.083
400
δ
Mu
ρ
'
=
=
φ
fy d
(
d
')
bd
9.7.1)
Tebal Pelat = 12 cm
H drop panel = 10 cm
Dimensi drop panel = 140 x 140 cm 2
Dimensi Kolom = 30 x 30 cm.
Momen yang digunakan pada perencanaan pelat
menggunakan momen rata-rata pada masing-
masing arah.
0.5 238042000
x
ρ
'
=
= 0.0125
0.8 400(189
x
31)1000 189
x
ρ = ρδ + ρ’ = 0.0114 + 0.0125 = 0.0238
Dari perhitungan sebelumnya telah didapat:
Perencanaan pelat arah sumbu X bentang 4
meter
ρ max = 0.75ρb = 0.75 x 0.03343 = 0.02507
1.4
ρ
min =
=
1.4 = 0.0035
400
Penulangan lajur kolom
fy
karena
Dari
perhitungan
SAP
2000
v.
14.2
ρ
min <ρ perlu <ρ max
untuk lajur kolom di dapatkan momen:
= ρ. b .d
As perlu
=
0.0238 x 1000 x 189

15

= 4507 mm 2 0.5 28910000 x ρ ' = = 0.0015 S = 2
=
4507 mm 2
0.5 28910000
x
ρ
'
=
= 0.0015
S
= 2 x tebal pelat = 2 x 120 = 240 mm
max
0.8 400(189
x
31)1000 189
x
Dipasang tulangan lentur D22-80
As pakai = 4654 mm 2
Tulangan atas minimum yang harus dipasang
menerus sepanjang bentang arah X
¼ x As = ¼ x 4654 = 1163.5 mm 2
Tulangan bawah minimum yang harus dipasang
menerus sepanjang bentang arah X
1/3 x As = 1/3 x 4654 = 1535.82 mm 2
As’ = ρ’ x b x d
= 0.0125 x 1000 x 189 = 2354 mm 2 >
1535.82 mm 2 (OK)
Dipasang tulangan lentur D22-140
As pakai = 2715.09 mm 2
ρ = ρδ + ρ’ = 0.0013 + 0.0015 = 0.0028
Dari perhitungan sebelumnya telah didapat:
ρ max = 0.75ρb = 0.75 x 0.03343 = 0.02507
1.4
ρ min =
1.4 = 0.0035
fy
= 400
karena
ρ perlu <ρ min <ρ max
As perlu = ρ. b .d
= 0.0035 x 1000 x 189
= 661.5 mm 2
Penulangan lapangan
Tulangan rencana = D 22
d
= 220 – 20 – (1/2 x 22)
=
189 mm
d’
= h – d = 220 – 189 = 31 mm
Perhitungan nilai β 1 :
1 = 0.85-8 ( f ' c-30 ) 0.8408
Menentukan batasan tulangan:
β
1000
S max = 2 x tebal pelat = 2 x 120 = 240 mm
Dipasang tulangan lentur D10-80
As pakai = 851.61 mm 2
Tulangan atas minimum yang harus dipasang
menerus sepanjang bentang arah X
¼ x As = ¼ x 851.61 = 212.9 mm 2
Tulangan bawah minimum yang harus dipasang
menerus sepanjang bentang arah X
1/3 x As = 1/3 x 851.61 = 281.036 mm 2
ρ b fc 
0.85β1
'
600
As’ = ρ’ x b x d
=
=
fy
600
+
fy
0.85 0.8408 31.2
x
x
600
= 0.0035 x 1000 x 189 = 661.2 mm 2 >
281.036 mm 2 (OK)
Dipasang tulangan lentur D10-80
ρb
=
=
0.03343
400
600
+
400
As pakai = 851.61 mm 2
Penulangan lajur tengah
ρ max = 0.75ρb = 0.75x 0.03343 = 0.02507
1.4
ρ min =
1.4 = 0.0035
fy
= 400
Dari perhitungan SAP 2000 v. 14.2 untuk lajur
tengah di dapatkan momen:
m = fy / 0.85 f’c = 400/ (0.85x31.2) = 15.083
Mu Tumpuan = 55578000 Nmm
Mu Lapangan = 22534000 Nmm
δ
= As’ / As = 0.5
Penulangan tumpuan
Tulangan rencana = D 22
Rn
=
d
= 220 – 20 – (1/2 x 22)
(1
δ
)
Mu
(1
0.5)28910000
=
=
0.5058
=
189 mm
φ
bd
^2
0.8 1000 189^2
x
x
d’
= h – d = 220 – 189 = 31 mm
Perhitungan nilai β 1 :
1
2m
×
Rn
β 1 = 0.85-8 ( f ' c-30 ) 0.8408
ρ
δ =
1
1
=
1000
m
fy
Menentukan batasan tulangan:
0.85β1
fc 
'
600
1
2
×
15.083
×
0.5058
ρ
b
=
=
1
1
=
fy
600
+
fy
15.083
400
0.85 0.8408 31.2
x
x
600
0.0013
ρb
=
=
0.03343
400
600
+
400
δ
Mu
ρ
' =
=
φ
fy d
(
d
')
bd
ρ max = 0.75ρb = 0.75x 0.03343 = 0.02507

16

1.4 Tulangan rencana = D 22 ρ min = = 1.4 = 0.0035 d =
1.4
Tulangan rencana = D 22
ρ
min =
=
1.4 = 0.0035
d
= 220 – 20 – (1/2 x 22)
fy
400
= 189 mm
m
= fy / 0.85 f’c = 400/ (0.85x31.2) = 15.083
d’
= h – d = 220 – 189 = 31 mm
δ
= As’ / As = 0.5
Perhitungan nilai β 1 :
Rn
=
β
1000
(1
δ
)
Mu
(1
0.5)55578000
1 = 0.85-8 ( f ' c-30 ) 0.8408
Menentukan batasan tulangan:
=
= 0.9724
φ
bd
^2
0.8 1000 189^2
x
x
0.85β1
fc 
'
600
ρ
b
=
=
fy
600
+
fy
1
2m
×
Rn
0.85 0.8408 31.2
x
x
600
ρ
δ =
1
1
=
ρb
=
=
0.03343
m fy
400
600
+
400
1 2
×
15.083
×
0.9724
1
1
  ρ max = 0.75ρb = 0.75x 0.03343 = 0.02507
=
15.083
400
1.4
 ρ min =
=
1.4 = 0.0035
0.0025
fy
400
δ
Mu
m = fy / 0.85 f’c = 400/ (0.85x31.2) = 15.083
ρ
' =
=
φ
fy d
(
d
')
bd
δ
= As’ / As = 0.5
Rn
=
0.5 55578000
x
ρ
'
=
= 0.0029
(1
δ
)
Mu
(1
0.5)22534000
0.8 400(189
x
31)1000 189
x
=
= 0.3943
φ
bd
^2
0.8 1000 189^2
x
x
ρ = ρδ + ρ’ = 0.0025 + 0.0029 = 0.0054
1
2m
×
Rn
ρ
1
1
Dari perhitungan sebelumnya telah didapat:
δ =
=
m fy
ρ max = 0.75ρb = 0.75 x 0.03343 = 0.02507
1 2
×
15.083
×
0.3943
1
1
=
1.4
15.083
400
ρ
min =
=
1.4 = 0.0035
fy
400
0.001
karena
δ
Mu
ρ
ρ
'
=
=
min <ρ perlu <ρ max
φ
fy d
(
d
')
bd
As
= ρ. b .d
perlu
= 0.0054 x 1000 x 189
0.5 22534000
x
= 1017.84mm 2
ρ
'
=
= 0.0012
S
= 2 x tebal pelat = 2 x 120 = 240 mm
0.8 400(189
x
31)1000 189
x
max
Dipasang tulangan lentur D16-160
As pakai = 1200 mm 2
ρ = ρδ + ρ’ = 0.001 + 0.0012 = 0.0022
Tulangan atas minimum yang harus dipasang
menerus sepanjang bentang arah X
Dari perhitungan sebelumnya telah didapat:
¼
x As = ¼ x 1200 = 300 mm 2
Tulangan bawah minimum yang harus dipasang
menerus sepanjang bentang arah X
ρ max = 0.75ρb = 0.75 x 0.03343 = 0.02507
1.4
1/3
x As = 1/3 x 1200 = 400 mm 2
ρ min =
=
1.4 = 0.0035
As’
= ρ’ x b x d
= 0.0035 x 1000 x 189 = 661.5 mm 2 > 400
fy
400
karena
mm
2 (OK)
ρ
perlu <ρ min <ρ max
Dipasang tulangan lentur D13-150
= ρ. b .d
As perlu
As pakai = 774.18 mm 2
= 0.0035 x 1000 x 189
= 661.5 mm 2
Penulangan lapangan
S
= 2 x tebal pelat = 2 x 120 = 240 mm
max

17

Dipasang tulangan lentur D10-80 As pakai = 851.61 mm 2 Tulangan atas minimum yang harus
Dipasang tulangan lentur D10-80
As pakai = 851.61 mm 2
Tulangan atas minimum yang harus dipasang
menerus sepanjang bentang arah X
¼ x As = ¼ x 851.61 = 212.9 mm 2
Tulangan bawah minimum yang harus dipasang
menerus sepanjang bentang arah X
1/3 x As = 1/3 x 851.61 = 281.036 mm 2
As’ = ρ’ x b x d
= 0.0035 x 1000 x 189 = 661.2 mm 2 >
281.036 mm 2 (OK)
Dipasang tulangan lentur D10-80
As pakai = 851.61 mm 2
Vu + γv Mu Cab
Vu Ab =
Ac
Jc
272.9
0.312 + 0.4x730.4x0.235
Vu Ab =
=3299.60 kg
0.0283
Vu
γv Mu Ccd
Vu cd =
Ac -
Jc
272.9 0.4x730.4x0.235
Vu cd =
=- 1550.2 kg
0.312 -
0.0283
N
Φ
Vc
= Φ x 1/6 x f’c^0.5 x bo x d
= 0.75 x 1/6 x 31.2^0.5 x 1000 x 167
= 116601.4 N
Penulangan pelat arah sumbu Y identik
dengan perhitungan di atas.
4.5.2 Perhitungan kolom
Penulangan geser pelat
Data Perencanaan Kolom bentang 4 meter
Dari perhitungan SAP 2000 v 14.2 di
Dimensi kolom
dapat
Tebal pelat
Mutu Beton
Vu = 272,9 kg
Mu = 730,4 kgm
Mutu Baja
Tulangan utama
C'
Selimut Beton
C-1
Sengkang
= 30x30 cm
= 120 mm
= 31.2 Mpa
= 400 Mpa
= D-16
= 40 mm
= ϕ 10
C-CD
C-AB
D
A
L
kolom
= 4000 mm
B
C-2
C
B
4FsA1 adalah sebagai berikut:
C1+d
Kolom
C'
Penampang
Kritis
Pu max
Gambar 4.8 Penampang kritis kolom sejauh
d/2 dari muka kolom
Mu max
= 36.116 KN
= 7.304 KNm
d = 220 – 20 – 22 – 0.5*22 = 167
c1 = c2 = 0.3 m
Asumsi ρ perlu = 0.015
As perlu = 0.015 x 300 x 300 = 1350 mm
Digunakan tulangan 8D-16
As pakai = 1600
c cd + c ab = c1 + d
ρ pakai = 1600/ 90000 = 0.0177
c1 + d = 0.3 + 0.167 = 0.467 = 0.47 m
c’ cd = c’ ab = 0.235 m
A c = 2d (c 1 +c 2 +2d)
A c = 2x0.167(0.3+0.3+2x0.167)
A c = 0.312 m 2
Perhitungan tulangan geser untuk kolom
Jc = d (c1+d) 3 + (c1+d) 3 + d (c2+d)(c1+d) 2
6 6
2
Vu Max = 2729 N
Jc =
0.167 (0.3+0.167) 3 + (0.3+0.167) 3 + 0.167 (0.3+0.167)(0.3+0.167) 2
6 6
2 SNI 03-2847-2002 pasal 13.3.1.2
Jc = 0.0028+0.016+0.0085 = 0.0283 m 4
1
1
γ v = 1-
= 0.4
Vc (1+
x bw d
c1+d
2
0.5
Nu
14Ag )x √f'c 6
1+
3 2 1+
c2+d
3
0.5

Jadi Vu yang dipakai adalah 3299.60 kg = 32996

Karena Vu < Φ Vc maka tidak perlu penulangan geser.

Perhitungan kolom menggunakan program bantu PCA Column. Perhitungan kolom untuk kolom

Langkah selanjutnya adalah memasukkan data tersebut ke dalam program bantu PCA Col sehingga didapatkan diagram interaksi.

Vc dihitung sesuai rumus yang terdapat dalam

18

36.116 4. Volume balok induk dan balok anak x 300.250 69823 N 14.300.300 x √31.2
36.116
4. Volume balok induk dan balok anak
x 300.250 69823 N
14.300.300 x √31.2
6
yang berpotongan, yang dihitung
menerus adalah balok induknya.
Dengan urutan di atas, maka contoh
perhitungan volume pekerjaan beton sistem
konvensional untuk bentang 4x4 meter adalah
sebagai berikut:
Perhitungan volume pekerjaan beton bentang
4x4 meter.
Volume kolom
Jenis kolom
(lihat gambar 4.1)
Dimensi kolom
Jumlah kolom
Tinggi lantai
tinggi balok)
= 4KA1, 4KB1, 4KB2
= 30 x 30 cm
= 25 x 2 lantai
= (tinggi plafond +
BAB 5
ANALISA BIAYA
Volume kolom
2 = 19.13 m 3
Volume pelat
= ( 4 + 0.25) = 4.25 m
= 0.3 x 0.3 x 4.25 x 25 x
Tipe pelat
Tebal pelat
Dimensi pelat
Pelat berdimensi sama
Bagian yang termasuk kolom
= 4PkA, 4PkB,
4PkC (lihat
gambar 4.1)
= 12 cm
= 4x4 meter
= 16 buah
= 0.3 x 0.3 x
0.12
x 25 = 0.27 m 3
Volume pelat
(4x4x16x0.12)-0.27 =30.45 m 3
=
Volume balok
Tipe balok
= 4A1-B1, 4B1-C1, 4B2-C2
(lihat gambar 4.1)
Tinggi balok
= 0.25-tebal pelat = 0.25-0.12 =
0.13 m
Lebar balok
Panjang balok
= 0.18 m
= 4 – (2 x 0.5 kolom) = 4 – 0.3
1. Volume untuk kolom dihitung penuh.
= 3.7
2. Volume pelat dihitung seluruh luasan
dikurangi bagian yang termasuk dalam
kolom.
Jumlah balok
Volume balok
= 32 buah
= 0.13x0.18x3.7x32 = 2.77 m 3
3. Volume balok adalah panjang balok
dikurangi dengan bagian yang termasuk
dalam kolom, tinggi balok dikurangi
dengan tebal pelat.
Jadi, total volume pekerjaan beton sistem
konvensional bentang 4x4 adalah
19.13+30.45+2.77 = 52.35 m 3

Vc 1+

φ Vc = 41894 N

0.5 φ Vc = 20947 N

Karena 0.5 φ Vc > Vu

Maka tulangan geser tidak diperlukan. Namun, untuk keperluan praktis pemasangan di lapangan, akan dipasang tulangan geser sesuai dengan SNI 03-2847-2002 pasal 9.10.5.1 bahwa setiap komponen struktur non prategang harus diikat dengan sengkang diameter 10 mm dengan jarak tidak boleh lebih dari 16db atau 48d sengkang sepanjang bentang.

5.1 Perhitungan Volume

5.1.1 Perhitungan volume sistem konvensional

Perhitungan volume sistem konvensional didasarkan pada komponen struktur yang menyusun sistem konvensional itu sendiri. Sistem konvensional terdiri dari pelat, kolom, dan balok. Oleh karena itu perhitungan volumenya juga akan meliputi ketiga komponen tersebut.

5.1.1.1 Perhitungan volume pekerjaan beton sistem konvensional

Perhitungan volume untuk pekerjaan beton sistem konvensional memiliki urutan perhitungan sebagai berikut:

19

Contoh perhitungan volume pekerjaan beton untuk bentang yang lain ditabelkan dalam tabel 5.1 di bawah
Contoh perhitungan volume pekerjaan beton
untuk bentang yang lain ditabelkan dalam tabel
5.1 di bawah ini:
Jumlah pelat
Bagian kolom
= 16
= 0.3 x 0.3 x 25 = 2.25
m
= (4 x 4 x 16) – 2.25 =
4x4 meter
Luas permukaan
253.75 m 2
No
Timesing
Dimension (m)
Squaring (m 3 )
Description
1
2/25
0.3
19.13
Kolom 4kA1, 4kB1,
Bekisting balok
0.3
4kB2
Tinggi balok
4.25
Lebar balok
2
16/
4
30.45
Pelat 4PkA, 4PkB,
Panjang balok
= 0.25 – 0.12 = 0.13 m
= 0.18 m
= 4 – 0.3 = 3.7 m
4
4PkC
0.12
3
32/
0.13
2.77
Balok 4A1-B1, 4B1-
Luas permukaan
Jumlah balok = 32
=
(32x0.13x3.7)x2
+
0.18
C1, 4B2-C2
(32x0.18x3.7) =
3.7
Total Volume Beton
52.35
= 30.78 + 21.31 = 52.10
Tabel 5.1 Perhitungan Volume Pekerjaan Beton
Sistem Konvensional 4x4 meter
2
m
Keterangan:
Contoh perhitungan volume pekerjaan bekisting
untuk bentang yang lain ditabelkan dalam tabel
5.6 berikut:
Timesing
= banyaknya elemen yang
berdimensi sama.
Tabel 5.6 Perhitungan Volume Pekerjaan
Bekisting Sistem Konvensional 4x4 meter
Dimension
4x4 meter
Squaring
No
Timesing
Dimension (m)
Number of Side
Squaring (m 2 )
Description
1
2/25
0.3
4 240.00
Kolom 4kA1,
Description
= dimensi dari elemen.
= kuantitas elemen.
= keterangan elemen yang
4
4PkB1, 4PkB2
diukur.
Total volume bekisting kolom
240.00
2
16/
4
1 253.75
Pelat 4PkA,
4
4PkB, 4PkC
5.1.1.2 Perhitungan volume pekerjaan
bekisting sistem konvensional
Total volume bekisting pelat
253.75
3
32/
0.13
2 30.78
Balok 4A1-B1,
3.7
4B1-C1, 4B2-C2
4
32/
0.18
1 21.31
Urutan
perhitungan
pekerjaan
bekisting
3.7
adalah:
Total volume bekisting balok
52.10
1. Luas permukaan untuk kolom dihitung
penuh.
5.1.1.3 Perhitungan volume pekerjaan
pembesian sistem konvensional
2. Luas permukaan pelat dihitung seluruh
luasan dikurangi bagian yang termasuk
dalam kolom.
3. Luas permukaan balok adalah panjang
balok dikurangi dengan bagian yang
termasuk dalam kolom, tinggi balok
dikurangi dengan tebal pelat.
Pedoman perhitungan bengkokan minimum
tulangan disesuaikan dengan peraturan tentang
kait standar dan detail tulangan yang
dibengkokan sesuai SNI 03-2847-2002 ps. 9.1
4. Luas permukaan balok induk dan balok
anak yang berpotongan, yang dihitung
menerus adalah balok induknya.
Rekapitulasi perhitungan volume pekerjaan
pembesian untuk sistem konvensional
ditampilkan dalam tabel berikut:
Berikut ini merupakan contoh perhitungan
pekerjaan bekisting untuk bentang 4x4 meter:
Tabel 5.16
Rekapitulasi Perhitungan Volume Pekerjaan
Pembesian Sistem Konvensional
Bekisting kolom
No
Bentang
Volume (kg)
Dimensi kolom
Panjang kolom
Jumlah kolom
Luas permukaan
= 240 m 2
Bekisting pelat
= 30 x 30 cm
= 4.25 m
= 25 x 2 lantai
= 0.3 x 4.25 x 4 x 25 x 2
1
4 meter
7616.06
2
5 meter
10422.66
3
6 meter
7612.51
4
7 meter
11489.30
5
8 meter
14792.29
Dimensi pelat
= 4 x 4 meter
5.1.2 Perhitungan volume pekerjaan
sistem flat slab

20

Lebar drop panel = 1.4x1.4 m Jumlah drop panel = 9 buah Volume drop panel
Lebar drop panel = 1.4x1.4 m
Jumlah drop panel = 9 buah
Volume drop panel = 0.1x1.4x1.4x9 –
(0.3x0.3x0.1x9) = 1.68 m 3
Tipe drop panel
= DP4c (lihat gambar
4.2)
1. Volume untuk kolom dihitung penuh.
2. Volume pelat dihitung seluruh luasan
dikurangi bagian yang termasuk dalam
kolom.
Tebal drop panel
Lebar drop panel
= 0.1 m
= 0.7 x 0.7m
Jumlah drop panel = 4 buah
3. Volume drop panel adalah panjang drop
panel x lebar drop panel dikalikan
dengan tebal dan dikurangkan dengan
bagian yang termasuk dalam kolom.
Tebal drop panel tidak
memperhitungankan bagian yang
termasuk di dalam pelat.
Volume drop panel = 0.1x0.7x0.7x4 –
(0.3x0.3x0.1x4) = 0.16 m 3
Tipe drop panel
= DP4b (lihat gambar
4.2)
Tebal drop panel
Lebar drop panel
= 0.1 m
= 0.7x1.4 m
Jumlah drop panel = 12 buah
Volume drop panel = 0.1x0.7x0.14x12 –
(0.3x0.3x0.1x12) = 1.07 m 3
Jadi, total volume pekerjaan beton sistem flat
slab bentang 4x4 adalah
18.45+30.45+1.68+0.16+1.07= 51.815 m 3
Contoh perhitungan volume pekerjaan beton
sistem flat slab untuk bentang yang lain
selanjutnya ditabelkan dalam tabel berikut ini:
= 4fsA1, 4fsB1, 4fsB2
Tabel 5.17 Perhitungan Volume Pekerjaan
Beton Sistem flat slab bentang 4x4 meter
= 30 x 30 cm
= 25 x 2 lantai
= (tinggi plafond +
4x4 meter
No
Timesing
Dimension (m)
Squaring (m 3 )
Description
1
2/25
0.3
18.45
Kolom 4kfsA1,
0.3
4kfsB1, 4kfsB2
4.1
2
16/
4
30.45
= ( 4 + 0.1) = 4.1 m
= 0.3 x 0.3 x 4.1 x 25 x
4
Pelat 4PfsA
0.12
3
9/
1.4
1.68
1.4
DP4
0.1
4
4/
0.7
0.16
DP4c
0.7
= 4PfsA, 4PfsB,
4PfsC (lihat
gambar 4.2)
= 12 cm
= 4x4 meter
= 16 buah
= 0.3 x 0.3 x
0.1
5
12/
0.7
1.07
DP4b
1.4
0.1
Total Volume Beton
51.81
5.1.2.2 Perhitungan volume pekerjaan
bekisting sistem flat slab
Berikut ini merupakan contoh perhitungan
pekerjaan bekisting untuk bentang 4x4 meter:
=
= DP4 (lihat gambar
= 30 x 30 cm
= 4.25 m
= 25 x 2 lantai
= 0.3 x 4.25 x 4 x 25 x 2
= 0.1 m
Bekisting Kolom
Dimensi kolom
Panjang kolom
Jumlah kolom
Luas permukaan
= 240 m 2

5.1.2.1 Perhitungan volume pekerjaan beton sistem flat slab

Perhitungan volume untuk pekerjaan beton sistem flat slab memiliki urutan perhitungan sebagai berikut:

Dengan urutan di atas, maka contoh perhitungan volume pekerjaan beton sistem flat slab untuk bentang 4x4 meter adalah sebagai berikut:

Perhitungan volume pekerjaan beton sistem flat slab bentang 4x4 meter.

Volume kolom Jenis kolom (lihat gambar 4.2) Dimensi kolom Jumlah kolom Tinggi lantai tinggi drop panel)

Volume kolom 2 = 18.45 m 3 Volume pelat Tipe pelat

Tebal pelat Dimensi pelat Pelat berdimensi sama

Bagian yang termasuk kolom 0.12 x 25 = 0.27 m 3 Volume pelat (4x4x16x0.12)-0.27 =30.45 m 3 Volume drop panel

Tipe drop panel

4.2)

Tebal drop panel

21

Bekisting pelat Dimensi pelat = 16x16 meter Tabel 5.22 Volume Pekerjaan Bekisting Sistem Flat Slab
Bekisting pelat
Dimensi pelat
= 16x16 meter
Tabel 5.22 Volume Pekerjaan Bekisting Sistem
Flat Slab Bentang 4x4 meter
Jumlah pelat = 1
4x4 meter
Bagian kolom
= 0.3 x 0.3 x 25 = 2.25
No
Timesing
Dimension (m)
Number of Side
Squaring (m 2 )
Description
1
2/25
0.3
4
240.00
Kolom 4fsA1,
2
m
4
4fsB1, 4fsB2
Total volume bekisting kolom
240.00
Bagian drop panel
x
DP4 = (9 x 1.4 x 1.4)-(9
=
2
16/
4
1
224.64
Pelat 4PfsA
0.3
x
0.3)
4
Total volume bekisting pelat
224.64
16.83
m 2
3
9/
1.4
1
16.83
DP4
1.4
DP4c = (4 x 0.7 x 0.7)-
4
9/
0.1
4
5.04
DP4
(4 x 0.3 x 0.3) = 1.6 m 2
1.4
4
4/
0.7
1
1.60
DP4c
DP4b
=
(12
x
0.7
x
0.7
5
4/
0.1
4
1.12
DP4c
1.4)-(12 x 0.3 x 0.3)
=
0.7
10.68
m 2
6
12/
0.7
1
10.68
DP4b
1.4
Luas permukaan
=
(16
x
16)
2.25 –
7
12/
0.7
2
1.68
DP4b
0.1
16.83
– 1.6 – 10.68
8
12/
1.4
2
3.36
DP4b
2
0.1
= 224.64 m
Total volume bekisting drop panel
40.31
Bekisting drop panel
DP4 (lihat gambar 4.2)
Tebal drop panel
Lebar drop panel
Jumlah
= 0.1 m
= 1.4 m
= 9
5.1.2.3 Perhitungan volume pekerjaan
pembesian sistem flat slab
Bagian yang termasuk kolom = 9 x 0.3 x 0.3 =
0.81
m 2
Luas permukaan
= (9 x 1.4 x 1.4) + (9 x
4
x 1.4 x 0.1) – 0.81 =17.64+5.04-0.81 =21.87
2
m
DP4c (lihat gambar 4.2)
Tebal drop panel
Lebar drop panel
Jumlah
= 0.1 m
= 0.7 x 0.7 m
= 4
Prinsip perhitungan pekerjaan pembesian sistem
ini sama dengan sistem konvensional. Pedoman
perhitungan bengkokan minimum tulangan
disesuaikan dengan peraturan tentang kait
standar dan detail tulangan yang dibengkokan
sesuai SNI 03-2847-2002 ps. 9.1 Contoh
perhitungan volume pekerjaan pembesian untuk
sistem flat slab ditabelkan dalam tabel 5.27
berikut:
Bagian yang termasuk kolom = 4 x 0.3 x 0.3 =
0.36
m 2
Luas permukaan
= (4 x 0.7 x 0.7) + (4 x
Tabel 5.27 Perhitungan Volume Pekerjaan
Pembesian Sistem Flat Slab Bentang 4 meter
4
x 0.7 x 0.1) – 0.36 = 2.72 m 2
FLAT SLAB BENTANG 4x4 METER
Lokasi Besi
Besi Beton
Jumlah Besi Beton
Stirrup/ Beugel
No
Bentuk Besi Beton
Beton
Φ (mm)
L (mm)
Jumlah
10 (mm)
13 (mm)
16 (mm)
19 (mm)
22 (mm)
25 (mm)
28 (mm)
32 (mm)
8 (mm)
10 (mm)
13 (mm)
1 Pelat
22
2880
450
0.4924022
2 Pelat
22
2880
258
0.2823106
DP4b (lihat gambar 4.2)
Tebal drop panel
Lebar drop panel
Jumlah
3 Drop panel
22
2848
180
0.1947724
4 Kolom
16
8440
200
0.33922
= 0.1 m
= 0.7 x 1.4 m
= 12
5 Kolom
10
960
844
0.063604
6 Pelat
22
1440
600
0.3282682
7 Pelat
22
1440
172
0.0941035
8 Drop panel
22
1444
120
0.065836
9 Pelat
22
2880
86
0.0941035
Bagian yang termasuk kolom = 12 x 0.3 x 0.3 =
10 Pelat
16
2640
300
0.15916
11 Pelat
13
2640
320
0.112075
1.08
m 2
12 Pelat
10
2640
4900
1.015476
Luas permukaan
= (12 x 0.7 x 1.4) + (2 x
13 Pelat
16
1320
150
0.03979
14 Pelat
13
1320
160
0.028019
12 x 0.7 x 0.1) + (2 x 12 x 1.4 x 0.1) –1.08 =
15 Pelat
22
1440
100
0.0547114
16 Pelat
22
1440
100
0.0547114
15.72
m 2
17 Drop panel
22
1144
70
0.0304256
Total (m3)
1.0155
0.1401
0.5382
0.0000
1.6916
0.0000
0.0000
0.0000
0.0000
0.0636
0.0000
Luas total
drop
panel
=
Berat Jenis (Kg/m3)
7850
7850
7850
7850
7850
7850
7850
7850
7850
7850
7850
Berat (Kg)
7971.49
1099.74
4224.64
0
13279
0
0
0
0.00
499
0
Berat Total Besi Beton (Kg)
27074.57
21.87+2.72+15.72=40.31 m 2
Contoh perhitungan volume pekerjaan bekisting
untuk sistem flat slab ditabelkan dalam tabel
5.2 Perhitungan Harga Satuan Pekerjaan
5.22.
Harga satuan pekerjaan yang digunakan
dalam penelitian ini adalah harga satuan kota
Surabaya tahun 2011 yang mengadopsi indeks
dari SNI DT-91-0008-2007.

22

Tabel 5.38 Perhitungan Biaya Konstruksi Sistem Flat Slab No Bentang Jenis Pekerjaan Satuan Volume Nilai
Tabel 5.38 Perhitungan Biaya Konstruksi
Sistem Flat Slab
No
Bentang
Jenis Pekerjaan
Satuan
Volume
Nilai HSPK
Biaya
3
1
4 meter
Beton Struktur
m
51.811
Rp773,258.00
Rp40,063,270.24
2
Bekisting Kolom
m
240.000
Rp271,705.00
Rp65,209,200.00
2
Bekisting drop panel
m
40.310
Rp271,705.00
Rp10,952,428.55
2
Bekisting Pelat
m
224.640
Rp271,705.00
Rp61,035,811.20
Pembesian
Kg
27074.570
Rp11,180.51
Rp302,707,501.25
Total
Rp479,968,211.24
Total Biaya
Rp527,965,032.36
3
2
5 meter
Beton Struktur
m
55.153
Rp773,258.00
Rp42,647,343.82
2
Bekisting Kolom
m
183.680
Rp271,705.00
Rp49,906,774.40
2
Bekisting drop panel
m
58.610
Rp271,705.00
Rp15,924,630.05
2
Bekisting Pelat
m
218.790
Rp271,705.00
Rp59,446,336.95
Pembesian
Kg
28522.444
Rp11,180.51
Rp318,895,471.71
Total
Rp486,820,556.93
Total Biaya
Rp535,502,612.62
3
3
6 meter
Beton Struktur
m
60.411
Rp773,258.00
Rp46,713,443.69
2
Bekisting Kolom
m
119.520
Rp271,705.00
Rp32,474,181.60
2
Bekisting drop panel
m
45.360
Rp271,705.00
Rp12,324,538.80
2
Bekisting Pelat
m
220.000
Rp271,705.00
Rp59,775,100.00
Pembesian
Kg
25164.482
Rp11,180.51
Rp281,351,747.59
Total
Rp432,639,011.68
Total Biaya
Rp475,902,912.84
3
4
7 meter
Beton Struktur
m
72.625
Rp773,258.00
Rp56,157,765.59
2
Bekisting Kolom
m
134.460
Rp271,705.00
Rp36,533,454.30
2
Bekisting drop panel
m
124.458
Rp271,705.00
Rp33,815,725.04
2
Bekisting Pelat
m
146.400
Rp271,705.00
Rp39,777,612.00
Pembesian
Kg
26075.973
Rp11,180.51
Rp291,542,678.61
Total
Rp457,827,235.54
Total Biaya
Rp503,609,959.09
3
5
8 meter
Beton Struktur
m
78.663
Rp773,258.00
Rp60,826,794.05
2
Bekisting Kolom
m
151.200
Rp271,705.00
Rp41,081,796.00
2
Bekisting drop panel
m
39.870
Rp271,705.00
Rp10,832,878.35
2
Bekisting Pelat
m
226.840
Rp271,705.00
Rp61,633,562.20
Pembesian
Kg
24843.410
Rp11,180.51
Rp277,761,996.31
Total
Rp452,137,026.92
Total Biaya
Rp497,350,729.61
5.4 Analisa Perbandingan Biaya
Tabel 5.37 Perhitungan Biaya Konstruksi
Sistem Konvensional
Dari tabel 5.37 dan 5.38 pada sub bab 5.3
sebelumnya, maka dapat dibuat grafik
No
Bentang
Jenis Pekerjaan
Satuan
Volume
Nilai HSPK
Biaya
3
1
4 meter
Beton Struktur
m
52.346
Rp773,258.00
Rp40,476,623.03
perbandingan antara biaya konstruksi dengan
2
Bekisting Kolom
m
240.000
Rp271,705.00
Rp65,209,200.00
bentang struktur. Grafik tersebut ditunjukkan
2
Bekisting Balok
m
52.096
Rp289,705.00
Rp15,092,471.68
2
Bekisting Pelat
m
253.750
Rp271,705.00
Rp68,945,143.75
sebagai berikut:
Pembesian
Kg
7616.060
Rp11,180.51
Rp85,151,437.74
Total
Rp274,874,876.20
Total Biaya
Rp302,362,363.82
3
2
5 meter
Beton Struktur
m
54.014
Rp773,258.00
Rp41,766,370.98
2
Bekisting Kolom
m
194.880
Rp271,705.00
Rp52,949,870.40
2
Bekisting Balok
m
80.068
Rp289,705.00
Rp23,196,099.94
2
Bekisting Pelat
m
254.408
Rp271,705.00
Rp69,123,789.79
Pembesian
Kg
10422.663
Rp11,180.51
Rp116,530,691.46
Total
Rp303,566,822.57
Total Biaya
Rp333,923,504.83
3
3
6 meter
Beton Struktur
m
53.338
Rp773,258.00
Rp41,243,725.90
2
Bekisting Kolom
m
126.720
Rp271,705.00
Rp34,430,457.60
2
Bekisting Balok
m
65.856
Rp289,705.00
Rp19,078,812.48
2
Bekisting Pelat
m
254.560
Rp271,705.00
Rp69,165,224.80
Pembesian
Kg
7612.510
Rp11,180.51
Rp85,111,744.19
Total
Rp249,029,964.97
Total Biaya
Rp273,932,961.47
3
4
7 meter
Beton Struktur
m
63.195
Rp773,258.00
Rp48,866,077.97
2
Bekisting Kolom
m
144.180
Rp271,705.00
Rp39,174,426.90
2
Bekisting Balok
m
70.479
Rp289,705.00
Rp20,418,118.70
2
Bekisting Pelat
m
254.178
Rp271,705.00
Rp69,061,297.64
Pembesian
Kg
11489.298
Rp11,180.51
Rp128,456,211.37
Total
Rp305,976,132.57
Gambar 5.1 Grafik Perbandingan Biaya
Konstruksi
(Sumber: Analisa Data)
Total Biaya
Rp336,573,745.83
3
5
8 meter
Beton Struktur
m
78.228
Rp773,258.00
Rp60,490,040.20
2
Bekisting Kolom
m
162.000
Rp271,705.00
Rp44,016,210.00
Gambar
5.1
menunjukkan
grafik
2
Bekisting Balok
m
87.300
Rp289,705.00
Rp25,291,246.50
perbandingan
antara
bentang
dengan
biaya
2
Bekisting Pelat
m
253.750
Rp271,705.00
Rp68,945,143.75
Pembesian
Kg
14792.292
Rp11,180.51
Rp165,385,369.93
Total
Rp364,128,010.38
Total Biaya
Rp400,540,811.41

Penelitian ini hanya akan memperhitungkan beberapa jenis pekerjaan yang akan berubah ketika sistem struktur lantai dan bentang struktur berubah.

Pekerjaan yang dimaksud di atas adalah pekerjaan pembuatan beton mutu K350 (31.2 Mpa), pekerjaan pembuatan bekisting untuk kolom, pelat, balok, serta pekerjaan pembesian besi polos dan ulir.

Pekerjaan lain seperti finishing, pemasangan dinding, atap, dll dianggap tidak akan merubah pola biaya yang akan terjadi.

Selain itu, penelitian ini juga menganggap HSPK pekerjaan bekisting drop panel adalah sama dengan HSPK pekerjaan pelat. Hal ini dikarenakan bentuk dari drop panel lebih menyerupai pelat daripada balok maupun kolom. SNI DT-91-0008-2007 juga tidak mencantumkan indeks untuk pekerjaan bekisting drop panel secara jelas.

5.3 Perhitungan Biaya Konstruksi

Berikut ini adalah hasil perhitungan biaya konstruksi untuk kelima bentang sistem struktur lantai konvensional dan flat slab yang diuji cobakan.

23

konstruksi untuk masing-masing sistem struktur lantai. Dari grafik tersebut, dapat diketahui biaya konstruksi untuk
konstruksi untuk masing-masing sistem struktur
lantai.
Dari grafik tersebut, dapat diketahui biaya
konstruksi untuk masing-masing tipe struktur
lantai beton bertulang. Grafik tersebut juga
menunjukkan bentang yang memberikan biaya
konstruksi termurah untuk masing-masing
sistem struktur lantai.
Biaya konstruksi untuk sistem struktur lantai
konvensional dimulai dari yang termurah adalah:
(1) Bentang 6 meter dengan total biaya sebesar
Rp. 273.932.961,47, (2) Bentang 4 meter
dengan total biaya sebesar Rp. 302.362.363,82,
(3) Bentang 5 meter dengan total biaya sebesar
Rp. 333.923.504,83, (4) Bentang 7 meter
dengan total biaya sebesar Rp. 336.573.745, 83,
(5) Bentang 8 meter dengan total biaya sebesar
Rp. 400.540.811, 41.
Biaya konstruksi untuk sistem struktur lantai
flat slab dimulai dari yang termurah adalah: (1)
Bentang 6 meter dengan total biaya sebesar Rp.
475.902.912,84, (2) Bentang 8 meter dengan
total biaya sebesar Rp. 497.350.729, 61, (3)
Bentang 7 meter dengan total biaya sebesar Rp.
503.609.959,09, (4) Bentang 4 meter dengan
total biaya sebesar Rp. 527.965.032,36, (5)
Bentang 5 meter dengan total biaya sebesar Rp.
535.502.612,62.
Dengan demikian, bentang termurah baik
pada sistem struktur lantai konvensional maupun
sistem struktur lantai flat slab adalah bentang 6
meter.
5.5 Pembahasan
Pada sistem struktur lantai konvensional,
bentang 4 meter memberikan biaya pertengahan
jika dibandingkan dengan keempat bentang yang
lain. Dari bentang 4 meter, grafik biaya beranjak
naik untuk bentang berikutnya yakni 5 meter.
Hal ini sesuai dengan logika desain dimana
bentang yang lebih panjang tentu akan
menghasilkan dimensi struktur yang lebih besar.
1.
Hal berbeda terjadi untuk bentang
selanjutnya yakni bentang 6 meter. Berbeda
dengan bentang 4 meter dan 5 meter yang
beranjak naik lantaran bentang bertambah
panjang, bentang 6 meter justru memberikan
2.

biaya yang lebih murah bahkan lebih murah dari bentang 4 meter.

Untuk bentang selanjutnya yakni bentang 7 dan 8 meter, grafik kembali mempunyai pola yang sama dengan bentang 4 dan 5 meter sebelumnya. Biaya bertambah tinggi ketika bentang bertambah panjang. Hal yang menarik adalah bentang 7 meter ternyata memiliki biaya yang tidak jauh berbeda dengan bentang 5 meter. Hal ini tentu dapat dijadikan pertimbangan bagi para perencana.

Sistem struktur lantai flat slab memiliki pola grafik yang serupa namun memiliki sedikit perbedaan dengan sistem struktur lantai konvensional. Bentang 4 meter masih menjadi bentang pertengahan jika dibandingkan dengan biaya keempat bentang yang lain. Selanjutnya, grafik beranjak naik untuk bentang yang lebih panjang yakni 5 meter.

Mirip dengan sistem struktur lantai konvensional, bentang 6 meter masih memberikan biaya termurah untuk sistem struktur lantai flat slab. Namun, pola grafik selanjutnya tidak sama dengan sistem struktur lantai konvensional. Bentang 7 meter yang pada sistem struktur lantai konvensional memiliki biaya yang hampir sama dengan bentang 5 meter, pada sistem struktur lantai flat slab justru lebih murah. Hal ini tentu menarik untuk dicermati karena hal tersebut menunjukkan bahwa dimensi yang lebih besar belum tentu memiliki biaya yang lebih tinggi.

Perbedaan juga terdapat pada bentang selanjutnya yakni bentang 8 meter. Biaya konstruksi yang pada sistem struktur lantai konvensional beranjak naik, pada sistem struktur lantai flat slab justru menurun. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa sistem struktur lantai flat slab cocok untuk bentang yang panjang dan beban yang berat.

Selain penjelasan di atas, gambar 5.1 juga menunjukkan beberapa hal diantaranya:

Biaya sistem struktur lantai flat slab selalu lebih mahal jika dibandingkan dengan sistem struktur lantai konvensional untuk semua bentang yang diujikan.

Bentang yang lebih panjang tidak selalu menghasilkan biaya yang lebih mahal, begitu pula sebaliknya

24

bentang yang lebih pendek tidak selalu memberikan biaya yang lebih murah. 3. Biaya konstruksi dan
bentang yang lebih pendek tidak
selalu memberikan biaya yang lebih
murah.
3. Biaya konstruksi dan bentang
struktur tidak memiliki korelasi
yang berbanding lurus.
Untuk bentang yang sama, biaya beton
struktur sistem flat slab lebih rendah daripada
biaya pada sistem konvensional. Dengan kata
lain, sistem flat slab dapat dikatakan lebih
unggul dalam komponen biaya beton struktur.
Komponen kedua adalah komponen
bekisting. Untuk biaya komponen ini, tidak
didapatkan pola berbanding lurus. Pola yang
terlihat pada gambar 5.2 dan 5.3 di atas adalah
kurva. Bentang pendek dan bentang panjang
sama-sama menghasilkan biaya yang tinggi.
Bentang 6 meter menjadi bentang dengan biaya
bekisting terendah untuk kedua jenis sistem
struktur lantai.
Secara keseluruhan, biaya komponen
bekisting sistem konvensional lebih mahal
daripada sistem flat slab. Hal ini dikarenakan
sistem konvensional memiliki balok yang
membuat volume pekerjaan bekisting sistem
konvensional lebih besar. Sistem flat slab hanya
memiliki pelat sehingga volume pekerjaan
bekistingnya lebih sedikit.
Gambar 5.2 Grafik Perbandingan Biaya
Sistem Struktur Lantai Konvensional
Berdasarkan Komponen Penyusun.
(Sumber: Analisa Data)
Keunggulan sistem flat slab ini
sesungguhnya juga akan berdampak besar
terhadap waktu pengerjaan struktur. Bekisting
sistem flat slab yang sederhana, akan membuat
proses pengerjaan bekisting lebih cepat daripada
sistem konvensional. Namun, hal ini tidak akan
dibahas lebih jauh pada penelitian ini karena
penelitian ini hanya menyoroti biaya.
Komponen terakhir dalam perhitungan biaya
adalah komponen pekerjaan pembesian. Biaya
pekerjaan pembesian tidak memiliki hubungan
dengan bentang sistem struktur. Bertambahnya
bentang struktur tidak selalu menyebabkan biaya
pekerjaan pembesian bertambah.
Gambar 5.3 Grafik Perbandingan Biaya
Sistem Struktur Lantai Flat Slab
Berdasarkan Komponen Penyusun.
(Sumber: Analisa Data)
Namun, volume pekerjaan pembesian
sebenarnya memiliki variabel tambahan yang
sangat tergantung dengan bentang. Variabel
tersebut adalah panjang penyaluran. Sistem
struktur flat slab terbagi dalam 8 daerah.
Kedelapan daerah tersebut adalah lajur kolom
daerah tumpuan arah X dan Y, lajur kolom
daerah lapangan arah X dan Y, lajur tengah
daerah tumpuan arah X dan Y, dan lajur tengah
daerah lapangan arah X dan Y. Pembagian
daerah ini menyebabkan tulangan harus diputus
dan perlu ditambah panjang penyaluran.
Bentang yang memiliki sedikit daerah
pemutusan akan membuat panjang penyaluran

Lebih jauh, berikut akan di paparkan analisa grafik perbandingan biaya konstruksi berdasarkan komponen penyusunnya. Komponen penyusun yang dimaksud adalah biaya yang telah disebutkan dalam sub bab sebelumnya yakni biaya beton struktur, biaya bekisting, dan biaya pembesian.

Gambar 5.2 dan 5.3 di atas menunjukkan biaya berdasarkan komponen penyusunnya. Dari gambar tersebut, terlihat bahwa pada setiap struktur lantai, biaya yang paling rendah adalah biaya beton struktur. Biaya ini memiliki pola yang dapat disebut sebagai berbanding lurus (linear). Biaya beton struktur terus bertambah naik seiring dengan bertambahnya bentang struktur tersebut.

25

semakin sedikit sehingga biaya juga akan 1. semakin rendah. Secara keseluruhan, dapat dikatakan bahwa pekerjaan
semakin
sedikit
sehingga
biaya
juga
akan
1.
semakin rendah.
Secara keseluruhan, dapat dikatakan bahwa
pekerjaan pembesian sistem flat slab lebih tinggi
daripada sistem konvensional. Hal ini juga
dikarenakan sistem flat slab membuat pelat yang
pada sistem konvensional merupakan struktur
sekunder menjadi struktur primer. Struktur
primer menyebabkan pelat sistem flat slab harus
ditulangi menerus sepanjang bentang baik
daerah tekan maupun daerah tarik. Pada sistem
struktur lantai konvensional hal ini tidak terjadi.
Daerah lapangan hanya ditulangi pada daerah
tarik. Penggunaan tulangan pada pelat flat slab
juga menggunakan tulangan ulir atau deformed.
2.
Jika dicermati lebih jauh, walaupun volume
pekerjaan pembesian lebih besar, sistem flat slab
sebenarnya memiliki keunggulan jika
dibandingkan dengan sistem konvensional.
Keunggulan tersebut adalah bentuk tulangan
sistem flat slab yang sederhana. Hal ini tentu
akan menghemat waktu dalam pengerjaannya.
Pada sistem konvensional, komponen biaya
tertinggi ditempati oleh pekerjaan bekisting dan
pekerjaan pembesian. Berbeda dengan hal ini,
komponen pekerjaan yang menghasilkan biaya
tinggi pada sistem flat slab hanyalah pekerjaan
pembesian. Oleh karena itu, jika menginginkan
biaya yang lebih rendah untuk sistem flat slab,
maka yang perlu dilakukan adalah menekan
biaya pekerjaan pembesian.
535.502.612,62.
3.
Kekurangan sistem flat slab dalam volume
pekerjaan pembesian sebenarnya tidak terlalu
menjadi masalah. Saat ini, para kontraktor lebih
sering menggunakan tulangan 2 lapis daripada
memilih untuk menggunakan tulangan yang
dibengkokan oleh pekerja. Hal ini dilakukan
untuk menghemat waktu.
6.2 Saran
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
1.
6.1 Kesimpulan
Dari keseluruhan studi pengaruh sistem
struktur lantai beton bertulang ini, maka dapat
ditarik beberapa kesimpulan. Kesimpulan
tersebut adalah:
2.

Biaya konstruksi untuk sistem struktur lantai konvensional dimulai dari yang termurah adalah: (1) Bentang 6 meter dengan total biaya sebesar Rp. 273.932.961,47, (2) Bentang 4 meter dengan total biaya sebesar Rp. 302.362.363,82, (3) Bentang 5 meter dengan total biaya sebesar Rp. 333.923.504,83, (4) Bentang 7 meter dengan total biaya sebesar Rp. 336.573.745, 83, (5) Bentang 8 meter dengan total biaya sebesar Rp. 400.540.811, 41.

Biaya konstruksi untuk sistem struktur lantai flat slab dimulai dari yang termurah adalah: (1) Bentang 6 meter dengan total biaya sebesar Rp. 475.902.912,84, (2) Bentang 8 meter dengan total biaya sebesar Rp. 497.350.729, 61, (3) Bentang 7 meter dengan total biaya sebesar Rp. 503.609.959,09, (4) Bentang 4 meter dengan total biaya sebesar Rp. 527.965.032,36, (5) Bentang 5 meter dengan total biaya sebesar Rp.

Bentang yang memberikan biaya konstruksi termurah untuk masing- masing sistem struktur lantai baik sistem konvensional maupun flat slab adalah 6 meter.

Berdasarkan keseluruhan hasil analisa serta pembahasan pada penelitian ini, maka dapat diajukan beberapa saran untuk perbaikan dan penyempurnaan penelitian selanjutnya yang terkait dengan penelitian ini. Saran tersebut adalah:

Agar biaya konstruksi yang akan dibandingkan lebih sempurna, hendaknya penelitian selanjutnya mengikutsertakan beban lain dalam analisa struktur seperti beban gempa, beban angin, dan beban arah horizontal lainnya.

Pemilihan tulangan yang dibutuhkan diharapkan sedekat mungkin dengan kebutuhan tulangan. Penggunaan

26

tulangan sebenarnya juga dibatasi oleh diameter yang dijual di pasaran. Hal ini sangat tergantung pada
tulangan sebenarnya juga dibatasi oleh
diameter yang dijual di pasaran. Hal ini
sangat tergantung pada keputusan
engineer apakah berani menjamin
analisa strukturnya benar, sehingga
berani mengambil tulangan yang sangat
dekat dengan kebutuhan hasil analisa.
Djojowirono, S. 1984. Manajemen
Konstruksi.Yogyakarta.
El-Dardiry, E., Wahyuni, E., Ji, T., Ellys, BR.
2002. Improving FE models of a long-
3. Selain biaya, perlu dibandingkan pula
beberapa variabel lain seperti waktu dan
mutu.
span flat concrete floor using natural
frequency measurements. Computers
and Structures 80 (2002) 2145–2156
Gavilan, R.M and Bernold, R.E. 1994. Source
Evaluation of Solid Waste in Building
Construction. Journal of Construction
Engineering and Management. Pp
536-552.
1998;76(9):175–9.
Ibrahim, B. 2003. Rencana dan Estimate Real
of Cost. Jakarta: Penerbit Bumi Aksara,
cetakan keempat.
Mulyono, Tri. 2004. Buku Teknologi Beton.
Yogyakarta: Andy Offset.
Niron, JW. 1992. Pedoman Praktis Anggaran
2008. Building Code Requirements for
dan Borongan Rencana Anggaran
Biaya Bangunan. Jakarta: CV. Asona,
cetakan kesembilan.
Nugraha, Paulus, Natan, Ishak, dan Sutjipto R.
1985. Manajemen Proyek Konstruksi,
Tata Cara Perhitungan Harga Satuan
Pekerjaan Beton untuk Bangunan
Gedung dan Perumahan SNI DT-91-
0008-2007.
Vol 1-4. Surabaya.
Purwono, R, Tavio. 2009. Tata cara
perhitungan struktur beton untuk
bangunan gedung (SNI 03-2847-
2002). Surabaya: ITS Press.
Ritz, George. 1994. Total Construction Project
Management. Mac Graw -Hill Book
Company
Standar Nasional Indonesia (SNI 03-2847-
2002). 2002. Tata Cara Perhitungan
Struktur Beton untuk Bangunan
Gedung. Surabaya: ITS Press.
Tenriajeng. A. T. 2004. Administrasi Kontrak
dan Anggaran Borongan. Depok:
Penerbit Gunadarma.
Timoshenko, S. Woinowsky, Krieger. 1959.
Theory of Plates and Shells. McGraw-
Hill Book Company, 2nd Ed.
The Key Succesfull Project
Management. Journal of Management
in Engineering Vol. 15 No.2 January,
1999. Page 30.
Bandung.

Daftar Pustaka

Allen JD. 1998. Reengineering the design and construction process. Struct Eng

American Concrete Institute (ACI 318-08).

Structural Concrete and Commentary. ACI committee 318. Farmington Hills. Arch-aria. 2008. Beberapa langkah dalam membangun rumah impian, <URL:

http://architectaria.com/.html> Asiyanto. 2003. Construction Project Cost management. Jakarta: PT Pradnya Paramita. Badan Standardisasi Nasional Indonesia. 2007.

Badan Standardisasi Nasional Indonesia. 1989. Tata Cara Perhitungan Pembebanan untuk Bangunan Rumah dan Gedung RSNI-3 03-1727-1989. Brata, Yudo. 2010. Analisis dan Perencanaan Flat Slab Berdasarkan Peraturan ACI 318-2005. Medan: Universitas Sumatera Utara. Caprani, Collin. 2007. RC Flat Slab. Dublin:

Third Year Civil Technician Diploma, University College Dublin. Charif, A. 2010. One Way Joist/ RibbedSlab. Saudi Arabia: Univesity of King Saud. Damodara U, Kini. 1999. Material Management:

Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik. 1977. Peraturan Beton Bertulang Indonesia 1971 NI-2.