Anda di halaman 1dari 15

BAB 1

LAPORAN PENDAHULUAN TUMOR MYELUM

A. Definisi
Tumor myelum adalah tumor yang berkembang dalam tulang belakang atau
isinya dan biasanya menimbulkan gejala akibat terlibatnya medula spinalis atau radix
saraf. (Hakim, A Adril,2012)
Tumor myelum adalah tumor yang berkembang dalam tulang belakang dari
foramen magnum (c2) dan berkahir pada Vertabra L1. (Shneiderman, Amiran,2012)
B. Anatomi dan fisiologi tulang belakang

a. Tulang belakang adalah susunan terintegrasi dari jaringan tulang, ligamen, otot, saraf
dan pembuluh darah yang terbentang mulai dari dasar tengkorak (basis cranii), leher,
dada, pinggang bawah hingga panggul dan tulang ekor. Fungsinya adalah sebagai
penopang tubuh bagian atas serta pelindung bagi struktur saraf dan pembuluh-
pembuluh darah yang melewatinya.
b. Tulang belakang terdiri dari 4 segmen, yaitu segmen servikal (terdiri dari 7 ruas tulang),
segmen torakal (terdiri dari 12 ruas tulang), segmen lumbal (terdiri dari 5 ruas tulang)
serta segmen sakrococygeus (terdiri dari 9 ruas tulang). Diskus intervertebra terletak
mulai dari ruas tulang servikal ke-2 (C2) hingga ruas tulang sakrum pertama (S1).
c. Di luar susunan tulang belakang, terdapat ligamen yang menjaga posisi tulang belakang
agar tetap kompak dan tempat melekatnya otot-otot punggung untuk pergerakan tubuh
kita. Ligamen dan otot tulang belakang berfungsi sebagai koordinator pergerakan
tubuh.
C. Etiologi
Riwayat genetic terlihat sangat berperan dalam peningkatan insiden pada keluarga
tertentu atau syndromic group (neurofibromatosis). Astrositoma dan neoruependymoma
merupakan jenis yang tersering pada pasien dengan neurofibromatosis tipe 2 yang
merupakan kelainan pada kromosom 22 hemangioblastoma dapat terjadi pada 30% pasien
dengan von hippel-lindou syndrome sebelumnya yang merupakan abnormalitas dari
kromosom 3.
D. Patofiologi
Kondisi patofisiologi akibat tumor medula spinalis disebabkan oleh kerusakan dan
infiltrasi, pergeseran dan dekompresi medula spinalis dan terhentinya suplai darah atau
cairan serebrospinal. Derajad gejala tergantung dari tingkat dekompresi dan kecepatan
perkembangan, adaptasi bisa terjadi dengan tumor yang tumbuh lamban, 85 % tumor
medula spinalis jinak.Terutama tumor neoplasma baik yang timbul ekstramedula atau intra
medula. Tumor sekunder atau tumor metastase dapat juga mengganggu medula spinalis
dan lapisannya serta ruas tulang belakang.Tumor ekstramedular dari tepi tumor
intramedural pada awalnya menyebabkan nyeri akar sarat subyektif. Dengan pertumbuhan
tumor bisa muncul defisit motorik dan sensorik yang berhubungan dengan tingkat akardan
medula spinalis yang terserang. Karena tumor membesar terjadilah penekanan pada
medula spinalis. Sejalan dengan itu pasien kehilangan fungsi semua motor dan sensori
dibawahlesi/tumor. Tumor medula spinalis, yang dimulai dari medula spinalis, sering
menimbulkan gejala seperti pada sentral medula spinalis, termasuk hilang rasa nyeri
segmental dan fungsi temperatur. Tambahan pula fungsi sel-sel tanduk anterior seringkali
hilang, terutama pada tangan. Seluruh jalur sentral yang dekat benda kelabu menjadi
disfungsi. Hilangnya rasanyeri dan sensori suhu dan kelemahan motorik berlangsung
sedikit demi sedikit, bertambah berat dan menurun. Motorik cauda dan fungsi sensorik
yang terakhir akan hilang, termasuk hilang fungsi eliminasi fecal dan urine. (Long C,
Barbara,2010)
E. Klasifikasi Tumor
I. Tumor Intrameduler
1. Ependimoma
Ependimoma merupakan tumor intrameduler yang paling banyak dijumpai. Pada
umumnya dijumpai pada daerah servikal dan serviko-torakal, namun sering kali ia juga
mempunyai tempat predileksi khusus yakni di konus medularis dan filum terminalis
(56%). Ada tumor yang berbentuk fusiform yang biasanya meluas dari medula
oblongata ke konus medularis dan panjang tumor ini dapat mencapai tiga sampai lima
segmen spinal. Gejala awalnya adalah nyeri; gangguan sensorik dan kelemahan motorik
(dapat mulai timbul 2-3 tahun sebelum diagnosa di tegakkan). Usia kasusnya adalah
kelompok 30-40 tahun dan kasus-kasus daerah kauda ekuina didominasi oleh jenis
kelamin laki-laki. Histologi tumor adalah : jenis seluler (40%), epitelial (2%),
miksopapiler (21%), dan campuran (37%). Jenis ganas dari ependimoma ini sangat
jarang dijumpai, dan istilah bagi tumor ini adalah ependimoblastoma.
2. Astrositoma
Astrositoma adalah tumor kedua terbanyak di jumpai sebagai tumor intrameduler,
yang kemudian diikuti oleh astrositoma maligna dan glioblastoma multiforme. Mirip
dengan ependimoma, astrositoma kebanyakan timbul di daerah servikal dan
servikotorakal, sedangkan jarang tumbuh didaerah torakolumbar. Demikian pula gejala
klinisnya, mirip dengan ependimoma, termasuk segala tampilan karena gangguan
traktus kortiko-spinal dan spino-talamikus, paresis, dan nyeri disestetik. Tumor ini
kerap pula di sertai adanya kista atau sirings besar terutama di ujung atas dan bawah
tumor. Kista ini berisi cariran santokhrom yang kaya akan protein dan mempunyai
dinding gliotik yang memisahkannya dari jaringan medula spinalis normal.
3. Hemangioblastoma
Hemangioblastoma merupakan jenis tumor intrameduler yang jarang, sangat
vaskuler dan angka insidens terbanyak adalah pada kelompok usia dekade empat serta
rasio jenis kelamin yang seimbang antara laki-laki dengan wanita. Lokasi preferensinya
adalah didaerah servikal dan serviko-torakal. Hemangioblastoma sangat sering
dibarengi dengan siringomielia dan kista, serta (agak jarang) dengan penyakit Lindau
atau hemangioblastoma kistik serebelum. 60-70% hemangioblastoma terletak
intrameduler dan berlokasi dipermukaan dorsal medula spinalis, 30-40% merupakan
tumor intradural-ekstrameduler yang kerap berada didekat radiks saraf daerah torakal.
Tumor ini dapat didiagnosis dengan mudah melalui pemeriksaan MRI dan angiografi
spinal, dengan tampilan fisik berupa nodul mural yang mengkilat. Presentasi klinisnya
mirip dengan tumor intrameduler lainnya.
4. Oligodendroglioma
Merupakan tumor intrameduler yang sangat jarang. Ia sering kali mengandung
kalsifikasi dan bercampur dengan elemen glia serta kistik. Kadang-kadang suatu
oligodendroglioma intrakranial dikaitkan sebagai asal dari tumor intraspinal ini
melalui proses metastasis lewat rongga subarakhnoid spinal.
5. Lipoma, Dermoid, Epidermoid, dan Teratoma
Kelompok tumor yang jarang ini merupakan lesi kongenital dan dapat timbul pada
bagian tengah medula spinalis anak-anak, dewasa, dan remaja.
1. Lipoma spinal pada usia dewasa umumnya terjadi di daerah servikal dan toraks,
sedangkan pada anak-anak biasanya didaerah lumbo-sakral. Keberadaannya
mempunyai kaitan yang erat dengan abnormalitas kutaneus seperti nevi, dimpel,
hiperpigmentasi kulit, hipertrikosis, angima kapiler, dan lipoma subkutan. Di
samping itu juga kasus ini mempunyai insidensi yang tinggi akan adanya disgrafia.
Investigasi diagnostik dengan MRI menunjukkan sinyal hiperintens yang tinggi pada
T1 dan hipointens pada T2 sesuai dengan jaringan adiposis. Operasi eksisi jarang
dapat total mengingat biasanya lipoma sangat terbenam didalam jaringan pial
medula spinalis, sehingga menyulitkan untuk pengangkatan seluruhnya.
2. Tumor dermoid kebanyakan disertai dengan adanya suatu traktus fistula sinus dan
disgrafisme spinal okulta, dan juga kelainan hiperpigmentasi kulit atau hipertrikosis
sebagian besar tumor jenis ini berlokasi di daerah lumbo-sakral, dan dapat
menampilkan gejala-gejala meningitis bila kista dermoid tersebut pecah dan masuk
ke dalam rongga subarakhnoid. Tindakan operasi untuk mengangkat total biasanya
sulit dilakukan pada kasus di mana kasus tumornya sangat lengket dengan medula
spinalis.
3. Tumor epidermoid juga sering menyertai kasus spina bifida okulta, terutama
dijumpai di daerah torako-lumbal. Tumor epidermid mengandung empat lapisan
kulit normal. Tumor ini dapat timbul akibat tindakan punksi lumbal yang berkurang
atau sebagai sisa dari reparasi meningomielokel.
4. Teratoma merupakan jenis tumor kongenital yang jarang dan ia mempunyai
predileksi daerah konus medularis. Tumor ini mengandung jaringan kulit dan elemen
dermal seperti rambut dan tulang rawan (komponen mesodermal dan endodermal).
Tumor jenis ini mempunyai kecenderungan mengalami degenerasi keganasan
dengan metastasis sistemik.
5. Paraganglioma merupakan tumor (jarang) pada kauda ekuina yang berasal dari
ganglion simpatikus dan medula adrenal, serta secara filogenetis berkaitan dengan
feokromositoma dan tumor glomus karotikus. Insidensi yang terbanyak adalah pada
kelompok usia dekade lima dengan dominasi jenis kelamin laki-laki.
6. Tumor metastasis intrameduler biasanya dijumpai didaerah servikal dan torakal dan
menampilkan gejala mielopatia yang progresif cepat. Tumor primernya yang
terbanyak adalah tumor paru dan kemudian diikuti oleh tumor payudara dan
melanoma.
II. Tumor Ekstrameduler
1. Meningioma
Meningioma merupakan tumor spinal intradural yang paling sering dijumpai, 60-
70% pada daerah toraks dan 10-20% di daerah servikal. Rasio kelamin kasus
dominasi oleh perempuan dengan nilai perbandingan 5:1, dan usia kasus berada pada
kelompok 50-60 tahun. Tumor ini berada intradural-ekstrameduler (khas), dimana
separuhnya berlokasi dilateral dan sisanya didorsal atau diventral. Antara 5-10%
meningioma spinal mempunyai komponen ekstradural dan pada kasus tumor
meningioma multipel umumnya dikaitkan dengan neuro-fibromatosis. Sangat jarang
meningioma spinal timbul bersamaan dengan meningioma intrakranial.
2. Neurinoma, Neurofibroma
Neurinoma (schwannoma) dan neurofibroma merupakan tumor intradural-
ekstrameduler kedua terbanyak. Predileksi lokasi tumor sarung saraf ini yang
terutama adalah didaerah toraks kemudian diikuti oleh servikal dan lumbo-sakral,
serta sangat jarang di daerah serviko-meduler. Kebanyakan tumor sarung saraf
terletak intradural-ekstrameduler (70-80%), dan 10-20% kasus tumor tersebut
meluas keluar dura (dumbbell). Juga kira-kira 10% kasus tumor sarung saraf
berlokasi di epidural atau paraspinal, serta 1% kasus terletak intrameduler (tumor ini
diduga berasal dari sarung saraf perivaskuler). Asal tumor ini biasanya adalah radiks
saraf sensorik, namun radiks ventral atau motorik dapat juga terlibat akibat kompresi
lokal tumor ini. Sebanyak 80% kasus menampilkan keluhan nyeri radikuler dan
disestesia. Gangguan motorik dan disfungsi kandung kemih tampil pada kurang dari
50% kasus. Sebanyak 2,5% tumor sarung saraf spinal intradural adalah ganas dan
sedikitnya separuh dari kasus-kasus ini dijumpai pada penderita neurofibromatosis.
Tumor sarung saraf maligna mempunyai prognosa yang buruk dan jarang dapat
hidup lebih dari satu tahun. Tumor semacam ini perlu dibedakan dengan
schwannoma seluler yang menampilkan gambaran histologis yang agresif tetapi
mempunyai prognosa yang lebih baik.
3. Sarkoidosis
Sarkoidosis adalah salah satu manifestasi dari penyakit sistemik yang dicirikan
sebagai proses infiltrasi granulomatosa nonkaseosa. Kasusnya jarang dijumpai,
dimana klinis keterlibatan medula spinalis dan meningens hanya 1% yaitu berupa:
lesi intrameduler multipel yang disertai arakhnoiditis fokal; tumor intradural-
ekstrameduler dengan efek massa yang hebat serta defisit neurologis fokal atau
mielopatia; atau suatu massa ekstradural yang berasal dari infiltrasi sarkoid medula
spinalis dan dura. Presentasi klinis yang khas adalah paraparesis progresif yang tidak
menimbulkan keluhan sakit. Lokasi yang paling sering terlibat adalah daerah toraks.
Terapi pembedahan pada kasus sarkoidosis adalah laminektomi, biopsi dan bila perlu
dekompresi granuloma serta pemberian steroid topikal.
E. Manifestasi Klinis
1. Foramen Magnum
Gejalanya aneh, tidak lazim,membingungkan, dan tumbuh lambat sehingga sulit
menentukan diagnosis. Gejala awal dan tersering adalah nyeri servikalis posterior yang
disertai dengan hiperestesia dalam dermatom vertebra servikalis kedua (C2). Setiap
aktivitas yang meningkatkan TIK (misal ; batuk, mengedan, mengangkat barang, atau
bersin) dapat memperburuk nyeri. Gejala tambahan adalah gangguan sensorik dan
motorik pada tangan dengan pasien yang melaporkan kesulitan menulis atau memasang
kancing. Perluasan tumor menyebabkan kuadriplegia spastik dan hilangnya sensasi
secara bermakna. Gejala-gejala lainnya adalah pusing, disartria, disfagia, nistagmus,
kesulitan bernafas, mual dan muntah, serta atrofi otot sternokleidomastoideus dan
trapezius. Temuan neurologik tidak selalu timbul tetapi dapat mencakup hiperrefleksia,
rigiditas nuchal, gaya berjalan spastik, palsi N.IX hingga N.XI, dan kelemahan
ekstremitas.
2. Servikal
Menimbulkan tanda-tanda sensorik dan motorik mirip lesi radikular yang
melibatkan bahu dan lengan dan mungkin juga menyerang tangan. Keterlibatan tangan
pada lesi servikalis bagian atas (misal, diatas C4) diduga disebabkan oleh kompresi
suplai darah ke kornu anterior melalui arteria spinalis anterior. Pada umumnya terdapat
kelemahan dan atrofi gelang bahu dan lengan. Tumor servikalis yang lebih rendah (C5,
C6, C7) dapat menyebabkan hilangnya refleks tendon ekstremitas atas (biseps,
brakioradialis, triseps). Defisit sensorik membentang sepanjang tepi radial lengan
bawah dan ibu jari pada kompresi C6, melibatkan jari tengah dan jari telunjuk pada lesi
C7, dan lesi C7 menyebabkan hilangnya sensorik jari telunjuk dan jari tengah.
3.Torakal
Seringkali dengan kelemahan spastik yang timbul perlahan pada ekstremitas bagian
bawah dan kemudian mengalami parestesia. Pasien dapat mengeluh nyeri dan perasaan
terjepit dan tertekan pada dada dan abdomen, yang mungkin dikacaukan dengan nyeri
akibat gangguan intratorakal dan intraabdominal. Pada lesi torakal bagian bawah, refleks
perut bagian bawah dan tanda Beevor (umbilikus menonjol apabila penderita pada posisi
telentang mengangkat kepala melawan suatu tahanan) dapat menghilang.
F. Komplikasi
1. Kerusakan serabut-serabut neuron
2. Hilangnya sensasi nyeri (keadaan parah)
3. Perdarahan metastasis
4. Kekauan, kelemahan
5. Gangguan koordinasi
6. Menyebabkan kesulitan berkemih atau hilangnya pengendalian terhadap kandung
kemih atau sembelit.
7. Komplikasi pembedahan:
1. Pasien dengan tumor yang ganas memiliki resiko defisit neurologis yang besar
selama tindakan operasi.
2. Deformitas pada tulang belakang post operasi lebih sering terjadi pada anak-anak
dibanding orang dewasa. Deformitas pada tulang belakang tersebut dapat
menyebabkan kompresi medula spinalis.
3. Setelah pembedahan tumor medula spinalis pada servikal, dapat terjadi obstruksi
foramen Luschka sehingga menyebabkan hidrosefalus.
G. Penatalaksanaan Diagnostik
1. Radiologi
Modalitas utama dalam pemeriksaan radiologis untuk mediagnosis semua tipe
tumor medula spinalis adalah MRI. Alat ini dapat menunjukkan gambaran ruang dan
kontras pada struktur medula spinalis dimana gambaran ini tidak dapat dilihat dengan
pemeriksaan yang lain.
Tumor pada pembungkus saraf dapat menyebabkan pembesaran foramen
intervertebralis. Lesi intra medular yang memanjang dapat menyebabkan erosi atau
tampak berlekuk-lekuk (scalloping) pada bagian posterior korpus vertebra serta
pelebaran jarak interpendikular. Mielografi selalu digabungkan dengan pemeriksaan
CT. tumor intradural-ekstramedular memberikan gambaran filling defect yang
berbentuk bulat pada pemeriksaan myelogram. Lesi intramedular menyebabkan
pelebaran fokal pada bayangan medula spinalis.
H. Penatalaksanaan Medis
1. Terapi
Penatalaksanaan untuk sebagian besar tumor baik intramedular maupun
ekstramedular adalah dengan pembedahan. Tujuannya adalah untuk menghilangkan
tumor secara total dengan menyelamatkan fungsi neurologis secara maksimal.
Kebanyakan tumor intradural-ekstramedular dapat direseksi secara total dengan
gangguan neurologis yang minimal atau bahkan tidak ada post operatif. Tumor-tumor
yang mempunyai pola pertumbuhan yang cepat dan agresif secara histologist dan tidak
secara total di hilangkan melalui operasi dapat diterapi dengan terapi radiasi post
operasi.
2. Pembedahan
Pembedahan sejak dulu merupakan terapi utama pada tumor medulla spinalis.
Pengangkatan yang lengkap dan defisit minimal post operasi, dapat mencapai 90%
pada ependymoma, 40% pada astrositoma dan 100% pada hemangioblastoma.
Pembedahan juga merupakan penatalaksanaan terpilih untuk tumor ekstramedular.
Pembedahan, dengan tujuan mengangkat tumor seluruhnya, aman dan merupakan
pilihan yang efektif. Pada pengamatan kurang lebih 8.5 bulan, mayoritas pasien
terbebas secara keseluruhan dari gejala dan dapat beraktifitas kembali.
3. Terapi radiasi
Tujuan dari terapi radiasi pada penatalaksanaan tumor medulla spinalis adalah
untuk memperbaiki kontrol lokal, serta dapat menyelamatkan dan memperbaiki fungsi
neurologik. Tarapi radiasi juga digunakan pada reseksi tumor yang inkomplit yang
dilakukan pada daerah yang terkena.
4. Kemoterapi
Penatalaksanaan farmakologi pada tumor intramedular hanya mempunyai
sedikit manfaat. Kortikosteroid intravena dengan dosis tinggi dapat meningkatkan
fungsi neurologis untuk sementara tetapi pengobatan ini tidak dilakukan untuk
jangkawaktu yang lama. Walaupun steroid dapat menurunkan edema vasogenik, obat-
obatan ini tidak dapat menanggulangi gejala akibat kondisi tersebut. Penggunaan
steroid dalam jangka waktu lama dapat menyababkan ulkus gaster, hiperglikemia dan
penekanan system imun dengan resiko cushing symdrome dikemudian hari. Regimen
kemoterapi hanya meunjukkan angka keberhasilan yang kecil pada terapi tumor
medulla spinalis.
BAB 2
Asuhan Keperawatan Teoritis Tumor Myelum
A. Pengkajian tumor myelum
a. Identitas pasien
1. Nama
Terdapat nama lengkap dari pasien penderita penyakit tumor myelum
2. Jenis Kelamin
Penyakit tumor myelum ini lebih banyak di derita oleh laki-laki daripada
perempuan.
3. Usia
Tumor myelum dapat terjadi pada semua usia dan usia terbanyak antara 45-54
tahun.
4. Alamat
Lingkungan tempat tinggal dengan udara yang penuh asap serta lingkungan
yang sering terpajan oleh gas kimia, asap industry
5. Agama
Agama tidak mempengaruhi seseorang terkena penyakit tumor myelum.
6. Suku Bangsa
Tumor myelum jarang sekali ditemukan di benua Eropa, Amerika, ataupun
Oseania.Namun relatif sering ditemukan di berbagai Asia Tenggara dan China.
7. Pekerjaan
Seseorang yang bekerja di pabrik industry akan beresiko terkena tumor myelum,
karena akan sering terpajan gas kimia, asap industry, dan asap kayu.
b. Status kesehatan
1. Keluhan utama
Biasanya didapat keluhan muntah, gangguan menelan( batuk, air liur keluar, nyeri
punggung saat beraktivitas
2. Riwayat Kesehatan Sekarang
Merupakan informasi sejak timbulnya keluhan sampai klien dirawat di RS.
Menggambarkan keluhan utama klien, kaji tentang proses perjalanan penyakit
sampai timbulnya keluhan, faktor apa saja memperberat dan meringankan keluhan
dan bagaimana cara klien menggambarkan apa yang dirasakan, daerah terasanya
keluhan, semua dijabarkan dalam bentuk PQRST. Penderita tumor myelum ini
menunjukkan tanda dan gejala nyeri punggung saat beraktivitas hingga
peradangan dan nyeri, timbul benjolan di daerah samping leher di bawah daun
telinga.
3. Riwayat kesehatan masa lalu: apakah klien pernah terpajan zat zat kimia tertentu,
riwayat tumor pada keluarga, penyakit yang mendahului seperti sklerosis TB dan
penyakit neurofibromatosis, kapan gejala mulai timbul
4. Aktivitas / istirahat, Gejala : kelemahan / keletihan, kaku, hilang keseimbangan.
Tanda : perubahan kesadaran, letargi, hemiparese, quadriplegi, ataksia, masalah
dalam keseimbangan, perubaan pola istirahat, adanya faktor faktor yang
mempengaruhi tidur seperti nyeri, cemas, keterbatasan dalam hobi dan dan latihan
5. Makanan / cairan , Gejala : mual, muntah proyektil dan mengalami perubahan
sklera. Tanda : muntah (mungkin proyektil), gangguan menelan (batuk, air liur
keluar, disfagia)
6. Integritas Ego, Gejala : faktor stres, perubahan tingkah laku atau kepribadian,
Tanda : cemas, mudah tersinggung, delirium, agitasi, bingung, depresi dan
impulsif.
c. Pemeriksaan fisik
a. Kepala : Nyeri / Kenyamanan, Gejala : nyeri kepala dengan intensitas yang
berbeda dan biasanya lama. Tanda : wajah menyeringai, respon menarik dari
rangsangan nyeri yang hebat, gelisah, tidak bisa istirahat / tidur, rambut rontok
b. Sirkulasi, Gejala : nyeri punggung pada saat beraktivitas. Kebiasaan : perubahan
pada tekanan darah atau normal, perubahan frekuensi jantung.
c. Pernapasan, Tanda : perubahan pola napas, irama napas meningkat, dispnea,
potensial obstruksi
d. Neurosensori, Gejala : Amnesia, vertigo, synkop, tinitus, kehilangan pendengaran,
tingling dan baal pad aekstremitas, gangguan pengecapan dan penghidu. Tanda :
perubahan kesadaran sampai koma, perubahan status mental, perubahan pupil,
deviasi pada mata ketidakmampuan mengikuti, kehilangan penginderaan, wajah
tidak simetris, genggaman lemah tidak seimbang, reflek tendon dalam lemah,
apraxia, hemiparese, quadriplegi, kejang, sensitiv terhadap gerakan
e. Pencernaan : Inkontinensia kandung kemih/ usus mengalami gangguan fungsi.
f. Sistem Reproduksi : Amenorhea, , dabetes insipidus.
g. Sistem Motorik : scaning speech, hiperekstensi sendi, kelemahan
h. Keamanan , Gejala : pemajanan bahan kimia toksisk, karsinogen, pemajanan sinar
matahari berlebihan. Tanda : demam, ruam kulit, ulserasi
i. Seksualitas, Gejala: masalah pada seksual (dampak pada hubungan, perubahan
tingkat kepuasan)
B. Diagnosa Keperawatan yang mungkin munul
1. Nyeri
2. Intoleransi aktivitas
3. Ketidakefektifan pola napas
4. Gangguan Eliminasi Urin

C. NCP (Nursing Care Planning)


1. Nyeri b.d inflamasi akibat tumor
Tujuan : pasien mengungkapkan rasa nyaman setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama 2x 24 jam dengan kriteria hasil :
Kriteria hasil : TD : 120/80 mmHg, Nadi : 60-100x/menit, RR : 16-20x/menit, Ekspresi
wajah pasien tampak tenang
Intervensi :
1. Jelaskan kepada pasien tentang penyebab nyeri
2. Berikan tindakan kenyamanan seperti perubahan posisi,masase, kompres
hangat/ dingin sesuai indiakasi
3. Dorong penggunaan teknik relaksasi seperti napas dalam dan berikan
aktivitas hiburan seperti televisi/radio
4. Observasi peningkatan iritabilitas, tegangan otot, gelisah dan perubahan
TTV yang tak dapat dijelaskan
5. Kolaborasi dengan dokter dalm pemberian analgesik
Rasional :
1. Meningkatkan kan sikap kooperatif dari pasien
2. Tindakan alternatif mengontrol nyeri
3. Memfokuskan kembali perhatian.meningkatkan rasa kontrol dan dapat
meningkatkan kemampuan koping
4. Petunjuk nonverbal dari nyeri yang memerlukan intervensi medis dengan
segera
5. Dibutuhkan untuk menghilangkan spasme atau nyeri otot
2. Ketidakefektifan pola napas b.d kelemahan otot pernapasan.
Kriteria hasil: pasien dapat dipertahanakan pola nafas efektif, bebas sianosis, tanda-
tanda vital dalam batas normal, bunyi nafas jelas saat dilakukan
auskultasi, tidak terdapat tanda distress pernafasan
Intervensi :
1. Jelaskan pada pasien tentang penyebab dan cara mengatasi
ketidakefektifan pola napas
2. Pertahankan jalan napas: posisi kepala dalam posisi netral, tinggikan
sedikit kepala tempat tidur jika dapat ditoleransi pasien
3. Ubah posisi atau balik secara teratur,hindari atau batasi posisi telungkup
4. Bantu pasien untuk mengontrol pernapasan jika diperlukan. ajarkan dan
anjurkan pasien untuk melakukan napas dalam
5. Observasi fungsi pernapasan dengan menginstruksikan pasien
melakukan napas dalam
6. Observasi warna kulit adanya sianosis, keabu-abuan
7. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian oksigen kanul atau masker
Rasional :
1. Meningkatkan sikap kooperatif dari pasien
2. Memudahkan fungsi pernapasan dengan menggunakan gravitasi,
meningkatkan ekspansi paru
3. Meningkatkan ventilasi semua bagian paru
4. Bernapas mungkin bukan hanya aktivitas volunter tetapi membutuhkan
usaha secara sadar tergantung pada lokasi trauma yang berhubungan
dengan otot pernapasan.
5. Trauma pada C1-C2 menyebabkan hilangnya fungsi pernapasan secara
menyeluruh
6. Menggambarkan akan terjadinya gagal napas yang memerlukan intervensi
dengan segera
7. Meningkatkan kadar oksigen dalan tubuh

3. Gangguan eliminasi urine (inkotenensia urine) berhubungan dengan gangguan pada


saraf
Tujuan : Pasien mampu mengontrol pengeluaran urine dengan kriteria hasil:
Kriteria hasil: Klien akan melaporkan penurunan atau hilangnya inkontinensia, Tidak
ada distensi kandung kemih
Intervensi :
1. Ajarkan teknik untuk mencetuskan refleks berkemih (rangsangan
kutaneus dengan penepukan suprapubik).
2. Berikan penjelasan tentang pentingnya hidrasi optimal (sedikitnya 2000
cc per hari bila tidak ada kontraindikasi)
3. Bila masih terjadi inkontinensia, kurangi waktu antara berkemih pada
jadwal yang telah direncanakan
4. Observasi pola berkemih pasien
Rasional :
1. Melatih dan membantu pengosongan kandung kemih.
2. Hidrasi optimal diperlukan untuk mencegah infeksi saluran
perkemihan dan batu ginjal
3. Kapasitas kandung kemih mungkin tidak cukup untuk menampung
volume urine sehingga memerlukan untuk lebih sering berkemih
4. Indikasi perkembangan pasien

4.Intoleransi aktivitas b.d kerusakan neuromuskuler ditandai dengan ketidakmampuan


untuk bergerak sesuai keinginan ; paralise, atrofi otot dan kontraktur.
Tujuan : Pasien tidak mengalami kerusakan mobilitas fisik setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama ...x 24 jam dengan kriteria hasil :
Kriteria hasil : mempertahankan posisi fungsi dibuktikan oleh tidak adanya
kontraktur, footdrop, meningkatkan kekuatan bagian tubuh yang sakit /
kompensasi, mendemonstrasikan tehnik / perilaku yang memungkinkan
melakuakn kembali aktivitas
Intervensi :
1. Observasi secara teratur fungsi motorik (jika timbul keadaan syok
spinaledema yang berubah) dengan menginstruksikan pasien untuk
melakukan gerakan seperti mengangkat bahu, memregangkan jari-jari,
menggenggam tangan pemeriksa atau melepas genggaman pemeriksa.
2. Berikan suatu alat agar pasien mampu untuk meminta pertolongan,
seperti bel atau lampu pemanggil.
3. Bantu/lakukan latihan rom pada semua ekstremitas dan sendi, pakailah
gerakan perlahan dan lembut. Lakukan hiperekstensi pada paha secara
teratur (periodik).
4. Letakan tangan dalam posisi (melipat) kedalam menuju pusaran 90
drajat dengan teratur.
5. Pertahankan sendi pada 90 drajat terhadap papan kaki, sepatu dengan
hak yang tinggi dan sebagainya, gunakan rol trokhanter dibawah bokong
selamaberbaring ditempat tidur.
6. Buat rencana aktivitas untuk pasien sehingga pasien dapat beristirahat
tanpa terganggu. Anjurkan pasien untuk berperan serta dalam aktivitas
sesuai dengan kemampuan.
7. Gantilah posisi secara periodik walaupun dalam keadaan duduk.
8. Observasi rasa nyeri, kemerahan, bengkak, ketegangan otot jari.
Rasional :
1. Mengevaluasi keadaan secara khusus (gangguan sensorik-motorik dapat
bermacam-macam dan atau tak jelas. Pada beberapa lokasi trauma
mempengaruhi tipe dan pemilihan intervensi.
2. Membuat pasien memiliki rasa aman, dapat mengatur dan mengurangi
ketakutan karena ditinggal sendiri.
3. Meningkatkan sirkulasi, mempertahankan tonus otot dan mobilisasi
sendi, meningkatkan mobilisasi dan mencegah kontraktur dan atrofi
otot.
4. Mencegah kontraktur pada daerah bahu.
5. Mencegah footdroop dan rotasi eksternal pada paha.
6. Mencegah kelelahan, memberikan kesempatan untuk berperan
serta/melakukan upaya yang maksimal.
7. Mengurangi tekanan pada salah satu area dan meningkatkan sirkulasi
perifer.
8. Banyak sekali pasien dengan trauma saraf servikal mengalami
pembentukan trombus karena gangguan sirkulasi perifer, immobilisasi
dan kelumpuhan flaksid
DAFTAR PUSTAKA
Hakim, A Adril. Permasalahan Serta Penanggulangangn Tumor Otak Dan Sumsum
Tulang Belakangi. . http://www.USU-digitallibrary.com. 2006.
Long C, Barbara. Perawatan Medikal Bedah. Volume 2. Bandung: Yayasan IAPK
Pajajaran; 1996
Nursalam. 2001. Proses dan Dokumentasi Keperawatan Konsep dan Praktek. Jakarta:
Medika Salemba
Smeltzer Suzanne C. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Brunner & Suddarth. Alih
bahasa Agung Waluyo, dkk. Editor Monica Ester, dkk. Ed. 8.Volume 3. Jakarta : EGC; 2010
Padmosantjojo, R.M, Keperawatan bedah saraf, bagian bedah saraf, FKUI, 2012
Brunner & Sudarth, 2009, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Ed 8 Vol 3 , EGC,
jakarta
Lynda Juall Carpenito, Alih bahasa Yasmin Asih, 1997, Diagnosa Keperawatan , ed 6,
EGC, Jakarta
Marilyn E. Doenges, et al, 1997, Rencana Asuhan Keperawatan, EGC, jakarta
Sylvia A. Price, Alih bahasa Adji Dharma, 1995 Patofisiologi, konsep klinik proses-
proses penyakit ed. 4, EGC, Jakarta

Anda mungkin juga menyukai