Anda di halaman 1dari 72

HUBUNGAN AKTIVITAS FISIK DAN AKTIVITAS

KOGNITIF TERHADAP KEJADIAN DEMENSIA


PADA LANSIA DI KELURAHAN SUKABUMI
SELATAN TAHUN 2012

Laporan Penelitian ini ditulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
SARJANA KEDOKTERAN

Oleh :
Dian Fithria Hidayaty
NIM :109103000031

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
JAKARTA
1433 H / 2012 M

i
ii
iii
iv
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Puja dan puji syukur disampaikan kehadirat Allah SWT, yang telah
memberikan nikmat dan karunia sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi
dengan judul “Hubungan Aktivitas Fisik dan Aktivitas Kognitif terhadap Kejadian
Demensia Pada Lansia di Kelurahan Sukabumi Selatan Tahun 2012” walaupun
dalam bentuk yang sederhana.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi
Muhammad saw, yang telah mewarnai cakrawala baru pada peradaban umat
manusia sehingga dengan itu penulis memperoleh nuansa untuk membedakan
antara yang haq dan yang bathil.
Dengan terselesainya skripsi ini, penulis menyampaikan penghargaan yang
setinggi-tingginya dan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada semua
pihak yang telah membantu demi terselesaikannya penelitian ini, khususnya
kepada :

1. Prof. Dr (hc). dr. M.K. Tadjudin Sp.And selaku Dekan Fakultas


Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Terima
kasih untuk semua dukungan serta memberikan masukan untuk penelitian
saya.
2. DR. dr. Syarief Hasan Lutfie, Sp.KFR selaku Kepala Program Studi
Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, atas segala
dukungan serta pemberian izin untuk sidang skripsi saya.
3. dr. Rachmania Diandini, MKK dan dr. Hendro Birowo, Sp.S selaku dosen
pembimbing penelitian saya, Terima kasih untuk ilmu, bimbingan, saran,
dukungan dan do’a yang dokter berikan dari awal sampai selesainya
skripsi ini. Terima kasih telah banyak menyediakan waktu, tenaga dan

v
pikiran untuk memberikan bimbingan, arahan, dan nasihat kepada penulis
selama penelitian dan penyusunan laporan penelitian ini.
4. drg. Laifa Annisa Hendarmin, Ph.D selaku penanggungjawab riset
Program Studi Pendidikan Dokter 2009, yang telah banyak
“menyadarkan” saya dengan mem-follow-up di setiap akhir modul untuk
mempercepat penyelesaiaan penelitian ini.
5. dr. Erike Anggraini S, M.Pd dan dr. Isa Multazam Noor, Sp.KJ selaku
penguji yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk menjadi penguji
pada sidang skripsi ini dan memberikan koreksi dan saran yang telah
memperkaya diri ini dengan banyak ilmu.
6. Untuk Bapak Ibnu Sofa selaku Lurah beserta staff Kelurahan Sukabumi
Selatan, kader-kader puskesmas, ketua-ketua RW dan ketua-ketua RT
serta lansia-lansia di Kelurahan Sukabumi Selatan yang telah bersedia
menjadi responden. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada
saya sehingga terealisasilah penelitian ini. Terima kasih untuk kerjasama,
bantuan, dan do’anya.
7. Drs. H. Abdul Muhit, MM sebagai ayah penulis dan Hj. Susanti sebagai
ibu penulis, terima kasih atas dukungan dan do’a dari kalian, betapa
bersyukurnya saya menjadi buah hati kalian. Adik-adikku yang bawel tapi
baik, terima kasih atas keramaian yang kalian ciptakan.
8. Sahabat-sahabatku tersayang Adinda, Angelia, Ayesha, Eka, Lia,
Rahmatul, Resti, serta teman-teman seperjuangan Adelita, Reani, Ibnu
dan Wildan terima kasih untuk semuanya.
9. Seluruh staff di Program Studi Pendidikan Dokter FKIK UIN Syarif
Hidayatullah, terutama mba pipit yang bersedia untuk direpotkan oleh
kami para mahasiwa. Terima kasih banyak atas jasa-jasanya.

Ciputat, 18 September 2012

Penulis

vi
ABSTRAK
Dian Fithria Hidayaty. Program Studi Pendidikan Dokter. Hubungan Aktivitas
Fisik Dan Aktivitas Kognitif Terhadap Kejadian Demensia Pada Lansia Di
Kelurahan Sukabumi Selatan. 2012
Saat ini di seluruh dunia jumlah lansia di perkirakan mencapai 500 juta dan pada
tahun 2025 akan mencapai 1,2 milyar. Seiring meningkatnya usia, risiko
terjadinya demensia juga mengalami peningkatan. Salah satu faktor risiko yang
berkaitan dengan demensia adalah aktivitas fisik, dan aktivitas kognitif. Lansia
yang melakukan aktivitas baik fisik maupun kognitif dapat menurunkan risiko
demensia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan aktivitas fisik,
kognitif dan karakteristik responden terhadap kejadian demensia pada lansia di
Kelurahan Sukabumi Selatan. Penelitian ini menggunakan kuesioner dari
Verghese untuk aktivitas fisik dan kognitif, serta menggunakan kuesioner Mini
Mental State Examination untuk diagnosis demensia. Desain penelitian yang
digunakan adalah cross sectional selama bulan Juli-Agustus 2012. Pengambilan
sampel menggunakan cluster random sampling dengan responden 101 lansia.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa lansia yang menderita demensia adalah
kelompok dengan aktivitas fisik rendah (64,8%) dengan p = 0,024 (OR = 2,715)
dan aktivitas kognitif rendah (46,3%), dengan p = 0,008 (OR = 3,640). Dengan
demikian, aktivitas fisik dan aktivitas kognitif yang cukup dapat menurunkan
risiko demensia.

Kata Kunci : Demensia, aktivitas fisik, dan aktivitas kognitif.

ABSTRACT
Dian Fithria Hidayaty. Medicine Study Programe. Correlation between physical
and cognitive activities with dementia of the elderly in the South Sukabumi
Village. 2012
Today, the number of elderly in the world reach 500 million, and in 2025 will
reach 1.2 billion. With increasing age, the risk of dementia also increased. One of
the risk factors associated with dementia is a physical and cognitive activity.
Elderly who involve physical and cognitive activities may decrease the risk of
dementia. This research’s aim to know the correlation between physical and
cognitive activities and characteristic of subject with dementia of the elderly in the
South Sukabumi Village. This research use Verghese’s questionaires for the
physical and cognitive activities and use Mini Mental State Examination for
diagnostic dementia. This research use cross sectional design during July until
August 2012. The method of sampling is cluster random sampling with total of
responden is 101. The result showed that the elderly who suffer from dementia is
group with low physical activity (64,8%) with p value = 0,024 (OR = 2,175) and
low cognitive activity (46,3%) with p value = 0,008 (OR = 3,640). So, physical
activity and cognitive activity can reduce the risk of dementia.

Keyword : Dementia, physical activity, and cognitive activity.

vii
DAFTAR ISI

LEMBAR PERNYATAAN………………………………………………… ii
LEMBAR PERSETUJUAN………………………………………………... iii
LEMBAR PENGESAHAN………………………………………………… iv
KATA PENGANTAR……………………………………………………… v
ABSTRAK…………………………………………………………………... vii
ABSTRCT…………………………………………………………………... vii
DAFTAR ISI……………………………………………………….............. viii
DAFTAR TABEL………………………………………………….............. x
DAFTAR GAMBAR………………………………………………….......... xi
DAFTAR LAMPIRAN…………………………………………………...... xii
BAB 1. PENDAHULUAN…………………………………………….. 1
1.1. Latar Belakang………………………………………… 1
1.2. Rumusan Masalah……………………………………... 3
1.3. Hipotesis……………………………………………….. 3
1.4. Tujuan Penelitian……………………………………..... 3
1.5. Manfaat Penelitian……………………………………... 4
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA……………………………………… 5
2.1. Lanjut usia……………………………………………... 5
2.1.1. Definisi Lanjut Usia…..………………………. 5
2.1.2. Proses Menua………………………………..... 5
2.1.3. Perubahan yang Terjadi pada Berbagai Sistem
Tubuh pada Proses Menua…………................. 6
2.2. Demensia………………………………………………. 9
2.2.1. Definisi…………………………….………….. 9
2.2.2. Epidemiologi…………………….……………. 10
2.2.3. Klasifikasi Demensia…………...…………….. 10
2.2.4. Patobiologi dan Patogenesis..………………... 12
2.2.5. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan
Demensia……………………………………... 14
2.2.6. Diagnosis……………………………………... 18
2.3. Kerangka Konsep…………………………………….... 22
2.4. Definisi Operasional………………………………….... 24
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN…………………………….. 25
3.1. Jenis dan Desain Penelitian………………………........ 25
3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian………………………...... 25
3.3. Populasi dan Sampel……...…………………………… 25
3.4. Cara Kerja Penelitian…………..…………………........ 26

viii
3.5. Managemen Data… ..............................................................27
3.6. Etik Penelitian… ...................................................................28
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN .......................................................29
4.1. Gambaran Karakteristik Responden… .................................29
4.2. Gambaran Kejadian Demensia… .........................................30
4.3. Gambaran Aktivitas Fisik dan Aktivitas Kognitif…….. 31
4.4. Hubungan Umur dengan Demensia….……………...... 33
4.5. Hubungan Jenis Kelamin dengan Demensia………...... 33
4.6 Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Demensia……. 34
4.7. Hubungan Aktivitas Fisik dan Aktivitas Kognitif
dengan Demensia……………………………………... 35
4.8. Keterbatasan Penelitian.........................................................36
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN .......................................................37
5.1. Kesimpulan… .......................................................................37
5.2. Saran… .................................................................................38
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................39
LAMPIRAN ..........................................................................................................41

ix
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1. Kemunduran dan Kelamahan Lansia.……………………….. 9


Tabel 2.2 Penyakit Penyebab Demensia… ..................................................17
Tabel 4.1. Distribusi Responden Menurut Karakteristik Responden 29
pada Lansia di Kelurahan Sukabumi Selatan Tahun 2012…..

Tabel 4.2. Distribusi Responden Menurut Kategori Tingkat Pendidikan 30


pada Lansia di Kelurahan Sukabumi Selatan Tahun
2012…………………………………………………………..
Tabel 4.3. Distribusi Kejadian Demensia pada Lansia di Kelurahan 31
Sukabumi Selatan Tahun 2012……...………………………..
Tabel 4.4. Distribusi Responden Menurut Aktivitas Fisik dan Aktivitas 31
Kognitif pada Lansia di Kelurahan Sukabumi Selatan Tahun
2012…………………………………………………………..
Tabel 4.5. Presentase Aktivitas Fisik Lansia .................................................32
Tabel 4.6. Presentase Aktivitas Kognitif Lansia ...........................................32
Tabel 4.7. Distribusi Rata-rata Umur Responden dengan Kejadian
Demensia pada Lansia di Kelurahan Sukabumi Selatan
Tahun 2012………………………….……………………….. 33
Tabel 4.8. Distribusi Responden Menurut Jenis Kelamin dengan
Kejadian Demensia pada Lansia di Kelurahan Sukabumi
Selatan Tahun 2012………………………………………….. 33

Tabel 4.9. Distribusi Responden Menurut Tingkat Pendidikan dengan


Kejadian Demensia pada Lansia di Kelurahan Sukabumi
Selatan Tahun 2012………………………………………….. 34

Tabel 4.10. Distribusi Responden Menurut Aktivitas Fisik dengan


Kejadian Demensia pada Lansia di Kelurahan Sukabumi
Selatan Tahun 2012………………………………………….. 35

x
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Mini Mental State Examination.......................................................20

xi
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Kuisioner. ...................................................................................... 41


Lampiran 2 Data Hasil Uji Statistik. .................................................................47
Lampiran 3 Surat Perizinan .............................................................................. 59
Lampiran 4 Riwayat Penulis. ........................................................................... 60

xii
1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Lanjut usia (lansia) adalah kelompok penduduk yang berumur 60 tahun atau
lebih.1 Saat ini di seluruh dunia jumlah lanjut usia diperkirakan mencapai 500 juta
dan diperkirakan pada tahun 2025 akan mencapai 1,2 milyar. Di Indonesia sendiri
pada tahun 2000, jumlah lansia meningkat mencapai 9,99% dari seluruh penduduk
Indonesia (22.277.700 jiwa) dengan umur harapan hidup usia 65-70 tahun dan
pada tahun 2020 diperkirakan akan mencapai 30 juta orang dengan umur harapan
hidup 70-75 tahun.2
Demensia adalah gangguan fungsi intelektual dan memori didapat yang
disebabkan oleh penyakit otak, dan tidak berhubungan dengan gangguan tingkat
kesadaran.3 Insidensi demensia meningkat secara bermakna seiring meningkatnya
usia. Setelah usia 65 tahun, prevalensi demensia meningkat dua kali lipat setiap
pertambahan usia 5 tahun. Secara keseluruhan prevalensi demensia pada populasi
berusia lebih dari 60 tahun adalah 5,6 %. Saat ini usia harapan hidup mengalami
peningkatan, hal ini diperkirakan akan meningkatkan pula prevalensi demensia,
dan di seluruh dunia di perkirakan lebih dari 30 juta penduduk menderita
demensia dengan berbagai sebab.4 Di Indonesia sendiri, menurut data profil
kesehatan yang di laporkan oleh Departemen Kesehatan tahun 1998, terdapat 7,2
% populasi usia lanjut 60 tahun keatas menderita demensia. Peningkatan angka
kejadian kasus demensia berbanding lurus dengan meningkatnya harapan hidup
suatu populasi.2
Beberapa faktor risiko yang berkaitan dengan demensia adalah aktivitas
fisik, dan aktivitas kognitif.2 Aktivitas untuk mengisi waktu senggang pada lansia
dapat menurunkan risiko demensia. Jenis aktivitas tersebut melibatkan fungsi
kognitif dan fisik. Pada lansia yang melakukan aktivitas melibatkan fungsi
kognitif dapat menurunkan risiko demensia.5 Penelitian dr.R.W.Bowers dari
Universitas Bowling Green menunjukkan, setelah 10 minggu jogging, pada

1
2

mereka yang semula hanya duduk saja, ternyata meningkatkan daya ingat dan
daya pikir lebih tajam.6
Demensia juga berkaitan dengan umur dan jenis kelamin. Sekitar 5 % usia
lanjut 65-70 tahun menderita demensia dan meningkat dua kali lipat setiap 5 tahun
mencapai lebih 45 % pada usia di atas 85 tahun. Penyakit ini adalah penyebab
yang paling umum dari gangguan intelektual yang berat pada orang lanjut usia.2
Penelitian di Jakarta Barat rata-rata umur lansia dengan demensia adalah 70,03
tahun, sedangkan lansia yang tidak demensia memiliki rata-rata umur 66,08
tahun.7 Pengaruh umur dengan kejadian demensia adalah semakin meningkatnya
umur, semakin tinggi pula risiko demensia.8 Demensia terjadi lebih tinggi pada
wanita dibanding pria. Penderita demensia pada usia 65 dan 69 tahun sekitar 1,4%
pria dan 1,5% wanita, pada usia 70 dan 74 tahun sekitar 3,1% pria dan 2,2%
wanita, pada usia antara 75 dan 79 sekitar 5,6% pria dan 7,1% wanita , pada usia
antara 80 dan 84 sekitar 10,2% pria dan 14,1% wanita, dan pada usia 85 atau lebih
sekitar 19,6% pria dan 27,5% wanita.9 Kejadian demensia pada pria dibandingkan
wanita ternyata wanita lebih banyak mengalami demensia, akan tetapi tidak ada
perbedaan signifikan antara jenis kelamin dengan demensia.7 Tingkat pendidikan
memiliki hubungan dengan kejadian demensia pada lansia. Lansia dengan
pendidikan rendah lebih berpeluang mengalami demensia dibanding lansia dengan
pendidikan tinggi.7
Pada penderita demensia terjadi penurunan daya ingat terutama memori
jangka pendek, perubahan kepribadian yang bermanifestasi menjadi perilaku yang
tidak sopan, berkurangnya interaksi sosial, depresi, paranoid dan lain sebagainya.
Selain itu terdapat pula perubahan dalam cara mempertimbangkan dan
mempersepsikan sesuatu, kemampuan berbahasa dan perilaku motorik. Hal ini
sangat berpengaruh terhadap kualitas kehidupan lansia.
Jumlah lansia di Kelurahan Sukabumi Selatan tercatat sebanyak 538
orang, namun belum pernah ada penelitian yang melihat berapa prevalensi
demensia di daerah ini. Demensia pada lansia bila dideteksi dan dicegah sejak dini
dapat membuat golongan usia lanjut tersebut tetap bisa menjalani hidup dengan
optimal dengan produktivitas yang relatif baik di usianya.
3

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah pada penelitian ini adalah:
Apakah ada hubungan antara aktivitas fisik dan kognitif dengan kejadian
demensia pada lansia di Kelurahan Sukabumi Selatan Tahun 2012?

1.3 Hipotesis
Berdasarkan latar belakang di atas, hipotesis pada penelitian ini adalah:
Ada hubungan antara aktivitas fisik dan kognitif dengan kejadian demensia pada
lansia di Kelurahan Sukabumi Selatan Tahun 2012.

1.4 Tujuan Penelitian


1.4.1 Tujuan Umum
Mengetahui hubungan antara aktivitas fisik dan kognitif terhadap kejadian
demensia pada lansia di Kelurahan Sukabumi Selatan Tahun 2012.
1.4.2 Tujuan Khusus
a. Mengetahui gambaran karakteristik responden (umur, jenis kelamin
dan tingkat pendidikan) pada lansia di Kelurahan Sukabumi Selatan
Tahun 2012
b. Mengetahui prevalensi Demensia pada lansia di Kelurahan Sukabumi
Selatan Tahun 2012
c. Mengetahui gambaran aktivitas fisik pada lansia di Kelurahan
Sukabumi Selatan Tahun 2012
d. Mengetahui gambaran aktivitas kognitif pada lansia di Kelurahan
Sukabumi Selatan Tahun 2012
e. Mengetahui hubungan antara aktivitas fisik terhadap kejadian
demensia pada lansia di Kelurahan Sukabumi Selatan Tahun 2012
f. Mengetahui hubungan antara aktivitas kognitif terhadap kejadian
demensia pada lansia di Kelurahan Sukabumi Selatan Tahun 2012
g. Mengetahui hubungan antara karakteristik responden (umur, jenis
kelamin dan tingkat pendidikan) terhadap kejadian demensia pada
lansia di Kelurahan Sukabumi Selatan Tahun 2012
4

1.5 Manfaat Penelitian


1.5.1 Subyek Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan
pengetahuan subyek penelitian mengenai hubungan aktivitas fisik,
aktivitas kognitif, dan karakteristik responden (umur, jenis kelamin dan
tingkat pendidikan) terhadap kejadian demensia pada lansia di Kelurahan
Sukabumi Selatan tahun 2012.
1.5.2 Kelurahan Sukabumi Selatan
Penelitian ini dapat memberikan informasi atau masukan tentang
hubungan aktivitas fisik, aktivitas kognitif, dan karakteristik responden
(umur, jenis kelamin dan tingkat pendidikan) terhadap kejadian demensia
pada lansia di Kelurahan Sukabumi Selatan tahun 2012 sebagai bahan
pertimbangan dalam intervensi penyuluhan atau pelayanan khusus pada
lansia yang dapat dilakukan untuk mempertahankan atau memperbaiki
status kesehatan lansia di Kelurahan Sukabumi Selatan.
1.5.3 Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Hasil Penelitian ini dapat dijadikan masukan dan pertimbangan dalam
membuat kebijakan-kebijakan dibidang kesehatan di masa mendatang
khususnya dalam penatalaksanaan penderita demensia pada lansia. Hasil
penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi data dasar bagi penelitian
selanjutnya.
1.5.4 Peneliti
a. Melalui penelitian ini peneliti dapat menerapkan dan memanfaatkan
ilmu yang didapat selama pendidikan dan menambah pengetahuan dan
pengalaman dalam membuat penelitian ilmiah.
b. Menambah pengetahuan peneliti tentang hubungan aktivitas fisik,
aktivitas kognitif, dan karakteristik responden (umur, jenis kelamin
dan tingkat pendidikan) terhadap kejadian demensia pada lansia di
Kelurahan Sukabumi Selatan tahun 2012.
5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Lanjut Usia

2.1.1 Definisi Lanjut Usia


Lanjut usia adalah kelompok penduduk yang berusia 60 tahun ke atas.10 Ada
beberapa pembagian lansia, antara lain menurut WHO, Depkes RI, dan menurut
pasal 1 Undang – undang No.4 tahun 1965. Departemen Kesehatan RI membagi
lansia sebagai berikut : kelompok menjelang usia lanjut (45-54 tahun) sebagai
masa vibrilitas, kelompok usia lanjut (55-64 tahun) sebagai presenium, kelompok
usia lanjut (≥ 65 tahun) sebagai senium.2 Sedangkan menurut pasal 1 Undang-
Undang No. 4 tahun 1965 : “Seseorang dinyatakan sebagai orang jompo atau usia
lanjut setelah yang bersangkutan mencapai usia 55 tahun, tidak mempunyai atau
tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-hari, dan
menerima nafkah dari orang lain”.11
Berdasarkan World Health Organization (WHO), usia lanjut dibagi
menjadi empat kriteria berikut : usia pertengahan (middle age) ialah kelompok
usia 45 sampai 59 tahun, usia lanjut (elderly) antara 60-74 tahun, usia tua (old)
antara 75-90 tahun, usia sangat tua (very old) di atas 90 tahun. 1

2.1.2 Proses Menua


Kesehatan lansia dipengaruhi proses menua. Proses menua didefinisikan sebagai
perubahan yang terkait waktu, bersifat universal, intrinsik, progresif, dan
detrimental. Keadaan ini menyebabkan kemampuan beradaptasi terhadap
lingkungan dan kemampuan bertahan hidup berkurang. Proses menua setiap
individu dan setiap organ tubuh berbeda, hal ini dipengaruhi gaya hidup,
lingkungan, dan penyakit degeneratif.12
Proses menua merupakan suatu perubahan progresif pada organisme yang
telah mencapai kematangan intrinsik dan bersifat irreversibel serta menunjukkan
adanya kemunduran sejalan dengan waktu. Proses alami yang disertai dengan
adanya penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial akan saling berinteraksi

5
6

satu sama lain. Proses menua yang terjadi pada lansia secara linier dapat
digambarkan melalui tiga tahap yaitu, kelemahan, keterbatasan fungsional,
ketidakmampuan, dan keterhambatan yang akan dialami bersamaan dengan proses
kemunduran.12

2.1.3 Perubahan yang Terjadi pada Sistem Tubuh pada Proses Menua
Proses menua pada berbagai organ seperti sistem endokrin, kardiovaskular,
respirasi, gastrointestinal, penginderaan, muskuloskeletal, komposisi tubuh, otak,
ginjal dan saluran kemih pada lansia dijelaskan sebagai berikut :
a. Sistem Endokrin
Toleransi glukosa terganggu (gula darah puasa meningkat 1 mg/dl/dekade;
gula darah post prandial meningkat 10 mg/dl/dekade), insulin serum
meningkat, HbA1c meningkat, IGF-1 berkurang, penurunan yang bermakna
pada dehidroepiandrosteron (DHEA), penurunan terstosteron bebas maupun
yang bioavailable, penurunan hormon T3, peningkatan hormon paratiroid,
penurunan produksi vitamin D oleh kulit, ovarian failure disertai menurunnya
hormon ovarium, serta peningkatan kadar homosistein serum.13
b. Kardiovaskular
Tidak ada perubahan frekuensi jantung saat istirahat, penurunan frekuensi
jantung maksimum, berkurangnya pengisian ventrikel kiri, berkurangnya sel
pacu jantung (pacemaker) di nodus SA, hipertrofi atrium kiri, kontraksi dan
relaksasi ventrikel kiri bertambah lama, menurunnya respon inotropik,
kronotropik, lusitropik, terhadap stimulasi beta adrenergik, menurunnya curah
jantung maksimal, menurunnya hipertrofi sebagai respon terhadap
peningkatan volume dan tekanan, peningkatan atrial natriuretic peptide
(ANP) serum, lapisan subendotel menebal dengan jaringan ikat, ukuran dan
bentuk yang irregular pada sel-sel endotel, fragmentasi elastin pada lapisan
media dinding arteri, serta peningkatan resistensi vaskular perifer.13
c. Tekanan Darah
Peningkatan tekanan darah sistolik, tanpa diikuti perubahan pada tekanan
darah diastolik, berkurangnya vasodilatasi yang dimediasi beta adrenergik,
akan tetapi vasokonstriksi yang dimediasi alfa adrenergik tidak berubah, serta
terganggunya perfusi autoregulasi ke otak.10
7

d. Paru – Paru
Meningkatnya volume residual, berkurangnya efektivitas batuk dan fungsi
silia, peningkatan diameter trakea dan saluran pernafasan atas, penurunan
massa jaringan paru, penurunan tekanan maksimum ekspirasi dan inspirasi,
berkurangnya kekuatan otot-otot pernapasan, serta kekakuan dinding dada.13
e. Hematologi
Berkurangnya cadangan sumsum tulang akibat kebutuhan yang meningkat,
attenuated retikulosis terhadap pemberian eritropoietin.13
f. Ginjal
Penurunan massa ginjal sebanyak 25%, menurunnya kapasitas konsentrasi dan
dilusi, berkurangnya sekresi akibat pembebanan asam, meningkatnya
ketergantungan prostaglandin ginjal untuk mempertahankan perfusi, serta
menurunnya aktivasi vitamin D.13
g. Regulasi suhu tubuh
Berkurangnya vasokonstriksi dan vasodilatasi pembuluh darah kutaneus,
berkurangnya produksi keringat, dan meningkatnya suhu inti untuk mulai
berkeringat.12
h. Otot
Massa otot berkurang secara bermakna karena berkurangnya serat otot,
infiltrasi lemak ke berkas otot, peningkatan kelemahan, dan berkurangnya laju
metabolisme basal.12
i. Tulang
Melambatnya penyembuhan fraktur, berkurangnya massa tulang, dan
berkurangnya formasi osteoblast tulang.12
j. Sistem Saraf Perifer
Hilangnya neuron motor spinal, berkurangnya sensasi getar terutama di kaki,
berkurangnya sensitivitas terhadap suhu.13
k. Sistem Saraf Pusat
Berkurangnya massa otak, berkurangnya aliran darah otak dan terganggunya
perfusi, berkurangnya myelin dan total lemak di otak, berubahnya
neurotransmitter termasuk dopamin dan serotonin, meningkatnya aktivitas
monoamine oksidase, melambatnya proses sentral dan waktu reaksi.13
8

l. Gastrointestinal
Berkurangnya ukuran dan aliran darah hati, terganggunya klirens obat oleh
hati, terganggunya respon cedera pada mukosa lambung, berkurangnya
kontraksi kolon yang efektif, dan berkurangnya absorbsi kalsium.13
m. Penginderaan
Terganggunya adaptasi gelap, pengeruhan pada lensa, ketidakmampuan untuk
fokus pada benda-benda jarak dekat (presbyopia), berkurangnya sensitivitas
terhadap kontras, berkurangnya lakrimasi, deteksi penghidu berkurang 50%,
berkurangnya rasa haus dan terganggunya kontrol haus oleh endorpin,
meningkatnya respon ambang vestibuler dan berkurangnya jumlah sel rambut
pada organ korti, hilangnya nada berfrekuensi tinggi secara bilateral, defisit
pada proses sentral, kesulitan untuk membedakan sumber bunyi, dan
terganggunya kemampuan membedakan target dari sumber bunyi.13
n. Jaringan Adiposa
Meningkatnya aktivitas aromatase dan peningkatan kemungkinan lipolisis.12
o. Sistem Imun
Berkurangnya imunitas yang dimediasi sel, rendahnya afinitas produksi
antibodi, meningkatnya autoantibodi, berkurangnya hipersensitivitas tipe
lambat, terganggunnya fungsi makrofag, atrofi organ timus dan hilangnya
hormon timus, serta berkurangnya produksi sel B oleh sumsum tulang.12
p. Fungsi Kognitif
Kemampuan meningkatkan fungsi intelektual berkurang, berkurangnya
efisiensi transmisi saraf di otak yang menyebabkan proses informasi melambat
dan banyak informasi hilang selama proses transmisi, berkurangnya
kemampuan untuk mengakumulasi informasi baru dan mengambil informasi
dari memori, kemampuan mengingat kejadian masa lalu lebih baik
dibandingkan kemampuan mengingat kejadian yang baru saja terjadi.12
Akibat perubahan fisiologis lansia mengalami beberapa kemunduran dan
kelemahan, serta implikasi klinik berupa penyakit kronik dan infeksi. Hal ini
digambarkan pada Tabel 2.1.
9

Tabel 2.1 Kemunduran dan kelemahan lansia


Kemunduran dan Kelemahan Lansia
1. Pergerakan dan kestabilan terganggu
2. Intelektuan terganggu (demensia)
3. Isolasi diri (depresi)
4. Inkontinensia dan impotensia
5. Defisiensi imunologis
6. Infeksi, konstipasi, dan malnutrisi
7. Latrogenesis dan insomnia
8. Kemunduran penglihatan, pendengaran, pengecapan, pembauan,
komunikasi, dan integrasi kulit
9. Kemunduran proses penyembuhan
Sumber : Masalah kesehatan pada golongan lanjut usia, oleh R. Boedhi
Darmodjo (Arisman,2004)

2.2 Demensia

2.2.1 Definisi
Beberapa definisi demensia dikemukakan sebagai berikut:

a. Sindroma demensia dapat didefinisikan sebagai deteriorasi atau kemunduran


kapasitas intelektual yang diakibatkan oleh penyakit di otak. Sindrom ini
ditandai oleh gangguan kognitif, emosional, dan psikomotor. Diagnostic and
Statistical Manual of Mental Disorder (DSM) IIIR menambahkan bahwa agar
dapat digolongkan sebagai demensia, kemunduran fungsi luhur yang diderita
harus sedemikian rupa sehingga mengganggu pekerjaannya, aktivitas sosial
atau hubungan dengan orang lain.12
b. DSM IV (1994) mendefinisikan demensia sebagai sindrom yang diakibatkan
oleh banyak kelainan yang ditandai oleh gangguan tingkat intelektual yang
sebelumnya lebih tinggi. Gangguan mencakup memori dan bidang kognitif
lainnya (termasuk berbahasa, orientasi, kemampuan konstruksional, berfikir
abstrak, kemampuan memecahkan persoalan dan praksis) dan harus cukup
berat sehingga mengganggu kemampuan okupasional atau sosial atau
keduanya. Perubahan kepribadian dan afek sering dijumpai.12
c. Demensia adalah suatu sindrom yang terdiri dari gejala-gejala gangguan daya
kognitif global yang tidak disertai gangguan derajat kesadaran, namun
bersamaan dengan perubahan tabiat yang dapat berkembang secara mendadak
atau sedikit demi sedikit pada tiap orang dari semua golongan usia.14
10

d. Demensia adalah gangguan fungsi intelektual dan memori didapat yang


disebabkan oleh penyakit otak, yang tidak berhubungan dengan gangguan
tingkat kesadaran. Pasien demensia harus mempunyai gangguan memori
selain kemampuan mental lain seperti berpikir abstrak, penilaian, kepribadian,
bahasa, praksis, dan visuospasial. Defisit yang terjadi harus cukup berat
sehingga mempengaruhi aktivitas kerja dan sosial secara bermakna.3
e. Demensia adalah suatu sindroma klinis dengan terjadinya kemunduran
intelektual. Demensia pada umumnya melibatkan deteriorasi pada memori
satu atau lebih fungsi intelektual lain seperti bahasa, berpikir tempat dan
orientasinya, pemecahan masalah, dan berpikir abstrak.15

2.2.2. Epidemiologi
Demensia cukup sering dijumpai pada lansia, menimpa sekitar 10 % kelompok
usia di atas 65 tahun dan 47% kelompok usia di atas 85 tahun. Pada sekitar 10-20
% kasus demensia bersifat reversibel atau dapat diobati.12 Secara keseluruhan
prevalensi demensia pada populasi berusia lebih dari 60 tahun adalah 5,6 %.3
Data dari pemeriksaan otopsi menunjukkan bahwa demensia Alzheimer,
jenis multi-infark serta jenis campuran (Alzheimer+multi-infark) merupakan
penyebab yang paling sering dijumpai. Prevalensi Alzheimer lebih tinggi pada
wanita dan demensia multi-infark lebih banyak dijumpai pada pria.12 Penyebab
tersering demensia di Amerika Serikat dan Eropa adalah penyakit Alzheimer,
sedangkan di Asia diperkirakan demensia vaskular merupakan penyebab tersering
demensia. Demensia lain yang lebih jarang adalah demensia tipe Lewy body,
demensia fronto-temporal (FTD), dan demensia pada penyakit Parkinson.3

2.2.3. Klasifikasi Demensia

Demensia diklasifikasikan menjadi 6 , yaitu :

a. Penyakit Alzheimer
Demensia Alzheimer adalah jenis yang paling umum dari demensia, dan
disebabkan oleh berkurangnya sel otak. Demensia Alzheimer merupakan
penyakit keturunan, oleh sebab itu cenderung muncul pada keluarga.
Walaupun bersifat genetik, tidak berarti semua keluarga akan mendapatkan
11

penyakit ini. Pada penyakit ini, sel di dalam area otak yang mengendalikan
fungsi mental dan memori dihancurkan oleh protein abnormal yang tersimpan
di dalam otak. Orang dengan penyakit Alzheimer juga mempunyai tingkat
bahan kimia otak yang kurang dari normal disebut neurotransmitter sebagai
pengendali fungsi penting otak. Penyakit Alzheimer tidak tetap dan tidak
diketahui perawatannya, akan tetapi, pengobatan dapat memperlambat
progresivitas penyakit.
b. Demensia Vaskular
Demensia vaskular merupakan jenis demensia yang paling umum dan
disebabkan oleh peredaran darah yang lemah ke otak. Pada multi infark
demensia, beberapa stroke ringan atau infark muncul di tempat aliran darah
beredar minimal ke bagian otak. Peningkatan demensia vaskular dapat terjadi
pada langkah langkah yang tidak diketahui. Dengan demensia jenis ini,
pengendalian tekanan darah yang baik, tidak mengkonsumsi rokok,
pengendalian penyakit yang dapat menyebabkan gangguan vaskular dapat
membantu menghambat kemajuan penyakit ini.
c. Penyakit Parkinson
Penderita penyakit ini secara khas mengalami kekauan otot, bermasalah pada
saat berbicara, dan tremor. Demensia dapat berkembang secara lambat pada
penyakit ini, tetapi tidak semua orang dengan penyakit parkinson mempunyai
demensia. Pemikiran, memori, perkataan, dan pengambilan keputusan paling
mungkin berpengaruh.
d. Lewy Body Dementia
Penyakit demensia jenis ini disebabkan cadangan protein mikroskopik
abnormal di dalam sel saraf, disebut lewy body, cadangan protein ini
menghancurkan sel dari waktu ke waktu. Cadangan ini dapat menyebabkan
gejala khas dari penyakit Parkinson, seperti kekakuan otot dan tremor, seperti
halnya demensia serupa dengan penyakit Alzheimer. Lewy body dementia
lebih mempengaruhi pemikiran, perhatian dan konsentrasi dibandingkan
bahasa dan memori. Seperti penyakit Alzheimer, lewy body dementia tidak
tetap dan tidak diketahui tatalaksananya. Penggunaan obat-obatan pada
12

penyakit Alzheimer dapat bermanfaat untuk beberapa orang dengan penyakit


ini.
e. Alcohol-related dementia
Kerusakan otak dapat disebabkan oleh konsumsi alkohol yang terlalu banyak.
Hal penting untuk orang dengan jenis demensia ini adalah berhenti total
mengkonsumsi alkohol, agar penyakit ini tidak berkembang lebih lanjut.
f. Pick disease (frontotemporal demensia/FTD)
Pick disease adalah bentuk keanehan yang jarang merusak sel di bagian depan
otak. Perubahan kepribadian dan perilaku pada umumnya lebih dulu muncul
dibandingkan permasalahan bahasa dan kehilangan memori.

2.2.4. Patobiologi Dan Patogenesis


Komponen utama patologi penyakit Alzheimer adalah plak senilis dan neuritik,
neurofibrillary tangles, hilangnya neuron/sinaps, degenerasi granulovakuolar, dan
Hirano bodies. Plak neuritik mengandung b-amyloid ekstraseluler yang dikelilingi
neuritis distrofik, sementara plak difus (nonneuritik) adalah istilah yang kadang
digunakan untuk deposisi amiloid tanpa abnormalitas neuron. Deteksi adanya Apo
E di dalam plak B-amyloid dan studi mengenai ikatan high avidity antara Apo E
dengan B-amyloid menunjukkan bukti hubungan antara amiloidogenesis dan Apo
E. Plak neuritik juga mengandung protein komplemen, mikroglia yang teraktivasi,
sitokin-sitokin, dan protein fase akut, sehingga komponen inflamasi juga diduga
terlibat pada pathogenesis penyakit Alzheimer. Gen yang mengkode the amyloid
precursor protein (APP) terletak pada kromosom 21, menunjukkan hubungan
potensial patologi penyakit Alzheimer dengan sindrom down (trisomy-21), yang
diderita oleh semua pasien penyakit Alzheimer yang muncul pada usia 40 tahun.3
Diagnosis penyakit Alzheimer dapat ditegakkan dengan adanya plak
senilis dalam jumlah tertentu. Jumlah plak meningkat seiring bertambahnya usia,
dan plak ini juga muncul di jaringan otak usia lanjut yang tidak demensia. Hal ini
juga dilaporkan bahwa satu dari tiga orang berusia 85 tahun yang tidak demensia
mempunyai deposisi amyloid yang cukup di korteks serebri untuk memenuhi
kriteria diagnosis penyakit Alzheimer, namun apakah ini mencerminkan fase
preklinik dari penyakit masih belum diketahui.3
13

Neurofibrillary tangles merupakan struktur intraneuron yang mengandung


tau yang terhiperfosforilasi pada pasangan filamen heliks. Individu usia lanjut
yang normal juga diketahui mempunyai neurofibrillary tangles di bebrapa lapisan
hipokampus dan korteks entohirnal, tapi struktur ini jarang ditemukan di
neokorteks pada seseorang tanpa demensia. Neurofibrillary tangles ini tidak
spesifik untuk penyakit Alzheimer dan juga timbul pada penyakit lain, seperti
subacute sclerosing panencephalitis (SSPE), demensia pugilistika (boxer’s
dementia), dan the parkinsonian dementia complex of Guam.3
Pada demensia vaskular patologi yang dominan adalah adanya infark
multipel dan abnormalitas sunstansia alba. Infark jaringan otak yang terjadi
setelah stroke dapat menyebabkan demensia bergantung pada volume total korteks
yang rusak dan hemisfer mana yang terkena. Umumnya demensia muncul pada
stroke yang mengenai beberapa bagian otak/multi-infract dementia/atau hemisfer
kiri otak. Sementara abnormalitas substansia alba (diffuse white matter disease
atau leukoaraiosis atau penyakit Binswanger) biasanya terjadi berhubungan
dengan infark lakunar. Abnormalitas substansia alba ini dapat ditemukan pada
pemeriksaan MRI pada daerah subkorteks bilateral, berupa gambaran hiperdens
abnormal yang umumnya tampak di beberapa tempat. Abnormalitas substansia
alba ini juga dapat timbul pada suatu kelainan genetik yang dikenal sebagai
cerebral autosomal dominant artheriopathy with subaortical infarcts and
leukoencephalopathy/CADASIL, yang secara klinis terjadi demensia yang
progresif yang muncul pada dekade kelima sampai ketujuh kehidupan pada
beberapa anggota keluarga yang mempunyai riwayat migrain dan stroke berulang
tanpa hipertensi.3
Petanda anatomis pada fronto-temporal dementia (FTD) adalah terjadinya
atrofi yang jelas pada lobus temporal dan/atau frontal, yang dapat dilihat pada
pemeriksaan pencitraan saraf (neuroimaging) seperti MRI dan CT. Atrofi yang
terjadi terkadang sangat tidak simetris. Secara mikroskopis selalu didapatkan
gliosis dan hilangnya neuron, serta pada beberapa kasus terjadi pembengkakan
dan penggelembungan neuron yang berisi inklusi sitoplasma. Sementara pada
demensia dengan lewy body, sesuai dengan namanya, gambaran neuropatologinya
adalah adanya lewy body di seluruh korteks, amigdala, korteks singulata, dan
14

substansia nigra. Lewy body adalah cytoplasmic inclusion intraneuron yang


terwarnai dengan periodic acid-Schiff (PAS) dan ubiquitin, yang terdiri dari
neurofilamen lurus sepanjang 7 sampai 20 nm yang dikelilingi material amorfik.
Lewy body dikenali melalui antigen terhadap protein neurofilamen yang
terfosforilasi, ubiquitin, dan protein presinaps yang disebut alfa-synuclein. Jika
pada seorang penderita demensia tidak ditemukan gambaran patologis selain
adanya lewy body maka kondisi ini disebut diffuse lewy body disease, sementara
bila ditemukan juga plak amiloid dan neurofibrillary tangles maka disebut varian
Lewy body dari penyakit Alzheimer.3
Defisit neurotransmitter utama pada penyakit Alzheimer, juga pada
demensia tipe lain, adalah sistem kolinergik. Walaupun sistem noradenergik dan
serotonin, somatostatisn-like reactivity, dan corticotropin-releasing factor juga
berpengaruh pada penyakit Alzheimer, defisit asetilkolin tetap menjadi proses
utama penyakit dan menjadi target sebagian besar terapi yang tersedia saat ini
untuk penyakit Alzheimer.3

2.2.5. Faktor – Faktor Yang Berhubungan Dengan Demensia

a. Aktivitas Fisik Dan Aktivitas Kognitif


Pada penelitian Verghese, dkk (2003) dilaporkan bahwa demensia
berhubungan dengan berkurangnya partisipasi dalam mengisi waktu senggang.
Jenis aktivitas harus melibatkan fungsi kognitif dan fisik. Kegiatan fisik yang
dapat dilakukan antara lain bermain tenis, bersepeda, berjalan kaki, atau
mengerjakan pekerjaan rumah. Sedangkan kegiatan yang menggunakan fungsi
kognitif, yaitu membaca buku atau koran, menulis, mengisi teka teki silang,
permainan kartu, partisipasi dalam kelompok diskusi, atau memainkan alat
musik.5
Kegiatan olahraga dapat menenangkan pikiran, memperbaiki daya
ingat, mengurang kecemasan dan depresi. Selain itu, olahraga dapat menolong
otak untuk berfungsi dengan baik secara intelek. Pengaruh olahraga terhadap
kesehatan mental dijelaskan pada teori sebagai berikut 4 :
1. Endogenous Opioids
15

Dalam tubuh manusia, adanya satu sistem hormon yang berfungsi sebagai
morfin disebut “endogenous opioids”. Reseptornya terdapat di dalam
hipotalamus dan sistem limbik otak, daerah yang berhubungan dengan
emosi dan tingkah laku manusia. Sistem hormon ini, salah satunya adalah
beta-endorfin, bukan hanya mengurangi rasa nyeri dan memberikan
kekuatan, tetapi juga menambah daya ingat, menormalkan selera seks,
tekanan darah, dan ventilasi. Saat berolahraga, kelenjar pituitari
menambah produksi beta-endorfin dan sebagai hasilnya beta-endorfin naik
di dalam darah kemudian dialirkan juga ke otak, sehingga mengurangi
nyeri, cemas, depresi, dan perasaan letih.
2. Gelombang Otak Alfa
Penelitian Dr. James Wiese melaporkan bahwa selama olahraga, ada
penambahan gelombang alfa di otak. Gelombang alfa di otak ini sudah
lama diketahui berhubungan dengan rileks dan keadaan santai seperti pada
waktu bermeditasi. Gelombang alfa ini terlihat pada seseorang yang
jogging dari 20-30 menit, dan tetap dapat diukur setelah olahraga tersebut
berakhir. Para peneliti mengemukakan bahwa bertambahnya kekuatan
gelombang alfa memberikan kontribusi kepada kejiwaan, termasuk
berkurangnya kecemasan dan depresi.
3. Penyalur Saraf otak
Olahraga akan memperlancar transmisi saraf di dalam otak manusia. Dr.
Charles Ransford menyampaikan dalam penelitiannya, bahwa olahraga
dapat meningkatkan tingkat norepinefrin, dopamin, dan serotonin di dalam
otak, dengan demikian mengurangi depresi. Telah terbukti bahwa
neurotransmitter seperti norepinefrin dan serotonin terlibat dalam depresi
dan skizofrenia. Penelitian menunjukkan bahwa stress dan depresi
berhubungan dengan berkurangnya norepinefrin di dalam otak atau
tergangguanya norepinefrin dan serotonin terjadi pada seseorang yang
depresi. Penelitian juga menunjukkan bahwa olahraga manambah
norepinefrin dan serotonin dalam otak. Dengan dasar ini maka
disimpulkan bahwa berkurangnya depresi pada mereka yang berolahraga
disebabkan meningkatnya kadar norepinefrin atau serotonin di delam otak.
16

b. Tingkat pendidikan
Pada beberapa penelitian melaporkan bahwa tingkat pendidkan berhubungan
signifikan dengan kejadian demensia. Menurut The Canadian Study of Health
and Aging Tahun 1994 dalam Purnakarya tahun 2008 dijelaskan bahwa lansia
dengan tingkat pendidikan yang rendah berpeluang 4 kali mengalami
demensia dibandingkan lansia berpendidikan tinggi.7
c. Umur
Umur merupakan faktor risiko utama terhadap kejadian demensia. Hubungan
ini berbanding lurus yaitu semakin meningkatnya umur semakin tinggi pula
risiko kejadian demensia. Satu dari 50 orang pada kelompok umur 65-70
tahun berisiko demensia, sedangkan satu dari lima orang pada kelompok umur
lebih dari 80 tahun berisiko demesia.4
d. Jenis Kelamin
Tidak ada perbedaan signifikan antara jenis kelamin dengan kejadian
demensia, hal ini menunjukkan bahwa laki-laki maupun perempuan memiliki
peluang yang sama untuk berkembangnya demensia.4
e. Genetik
Beberapa pasien demensia memiliki gen demensia. Namun, sebagian orang
yang memiliki gen demensia hanya sedikit yang berkembang gen nya menjadi
demensia.4
f. Riwayat penyakit
Penyakit infeksi dan metabolisme yang tidak ditangani serta diabaikan dapat
memicu terjadinya demensia. Penyebab demensia dibagi menjadi 3 kelompok
meliputi demensia idiopatik, demensia vaskular, dan demensia sekunder.
Penyakit penyebab demensia dikemukakan pada table 2.2
17

Tabel 2.2 Penyakit Penyebab Demensia

A. Demensia „ideopatik” Degenerasi primer terutama di


(gangguan degeneratif primer atau metabolik) pariotemporal
1. A. Penyakit Alzheimer (AD)
B. Demensia senilis jenis Alzheimer (SDAT)
2. Penyakit pick Degenerasi primer terutama di
lobus frontal
3. A. Khorea Huntington Degenerasi primer terutama
B. Parkinsonisme dengan demensia subkortikal
C. Palsy supranukler progresif
D. Sklerosis lateral amiotropik (ALS) dengan
demensia
4. Lain – lain
B. Demensia vaskular
1. Demensia multi – infark
A. Subkortikal (status lakuner)
B. Kortikal
C. Campuran kortikal subkortikal
2. Infark yang letaknya strategis
3. Ensefalopati hipertensif
Penyakit Binswanger
4. Demensia hipoksis / hemodinamik
5. Perdarahan otak non – traumatik dengan
demensia
6. Bentuk campuran
C. Demensia sekunder
1. Infeksi
2. Metabolik dan endokrin
3. Gangguan nutrisi
4. Gangguan autoimun
5. Intoksikasi
6. Trauma
7. Stress
Sumber : Lumbantobing (1997)

g. Kebiasaan merokok
Satu batang rokok yang dibakar mengeluarkan sekitar 4.000 bahan kimia
seperti nikotin, gas karbon monoksida, nitrogen oksida, hidrogen sianida,
amonia, dan lain-lain. Secara singkat, bahan-bahan ini dibagi menjadi dua
golongan besar yaitu komponen gas dan komponen padat. Komponen padat
dibagi menjadi nikotin dan tar. Tar adalah kumpulan dari ratusan atau bahkan
ribuan bahan kimia dalam komponen padat asap rokok setelah dikurangi
nikotin dan air. Tar ini mengandung bahan-bahan karsinogen yang dapat
menyebabkan kanker. Tar pada rokok juga dikaitkan dengan kerusakan
kromosom pada manusia. Penelitian pada binatang percobaan menemukan
bahwa asap rokok menyebabkan perubahan genetik, gangguan kromosom,
menghambat perbaikan DNA yang rusak serta mengganggu sistem enzimatik.
18

Selain itu dampak rokok terhadap jantung, paru-paru, dan sistem vascular
dapat meningkatkan risiko demensia.4
h. Riwayat benturan di kepala
Seseorang yang mengalami cedera berulang pada kepala atau kecelakaan
mobil meningkatkan risiko demensia.16 Luka pada kepala yang parah atau
berulang-ulang berada pada risiko lebih tinggi dari perkembangan demensia.
Hal ini karena benturan atau cedera kepala menyebabkan proses penyakit pada
individu yang peka. Orang yang sudah menderita luka kepala serius karena
tinju cenderung akan menderita satu jenis demensia, dikenal sebagai demensia
pugilistica, hal ini serupa dengan demensia disebabkan timbul beserta luka di
kepala.16
i. Asupan zat gizi
Gizi dilihat sebagai salah satu faktor untuk mencegah penyakit Alzheimer atau
jenis demensia lain. Bayak penelitian menunjukkan bahwa stress oksidatif dan
akumulasi radikal bebas terlibat dalam patofisiologi penyakit. Radikal bebas
yang melampaui batas bertanggung jawab terhadap peroksidasi lemak
berlebihan, hal ini dapat mempercepat proses degenerasi saraf. Harapan hidup
meningkat terutama berhubungan dengan menurunnya patologi penyakit
degeneratif, terutama memperlambat munculnya penyakit degeneratif otak.17

2.2.6. Diagnosis
Evaluasi terhadap pasien dengan kecurigaan demensia harus dilakukan dari
berbagai segi, karena selain menetapkan seorang pasien mengalami demensia atau
tidak, juga harus ditentukan berat ringannya penyakit, serta tipe demensianya. Hal
ini berpengaruh pada penatalaksanaan dan prognosisnya.3 Kriteria diagnosis
demensia mencakup :

1. Kemampuan intelektual menurun sedemikian rupa sehingga mengganggu


pekerjaan dan lingkungan. Pasien dengan gangguan kognitif tanpa bukti
adanya kemunduran fungsional yaitu kinerja di pekerjaan dan di
masyarakat tidak terganggu, tidak memenuhi kriteria demensia menurut
DSM IV. Pasien ini sering diklasifikasikan dengan berbagai sebutan,
benign senescent forgetfulness atau age associated memory. Pada follow-
19

up, banyak dari pasien ini kemudian ternyata menderita demensia yang
progresif.

2. Defisit kognitif selalu melibatkan fungsi memori, biasanya didapatkan


gangguan berfikir abstrak, menganalisis masalah, gangguan pertimbangan,
afasia, apraksia, kesulitan konstruksional dan perubahan kepribadian.

3. Pasien dalam keadaan sadar.

a. Anamnesis
Waktu mengambil anamnesis, banyak segi kemampuan mental atau fungsi
luhur yang dapat dinilai. Waktu menanyakan alamat, pekerjaan, riwayat
pendidikan, keadaan keluarga, telah dapat diperoleh kesan mengenai memori,
kelancaran berbicara, kooperasi, dan cara mengucapkan kata.
Dari keluarga dan orang yang dekat dengan pasien, dapat diperoleh
data mengenai mulainya serta cepatnya perburukan gejala, gangguan
kepribadian, tingkah laku, serta adanya depresi. Perlu ditelusuri melalui
anamnesis dan aloanamnesis mengenai kesulitan dalam pekerjaan, dan
kesulitan dalam pergaulan. Apakah pasien menjadi tidak suka berkonversasi,
meninggalkan hobinya atau minatnya, suka tersesat di lingkungan yang sudah
dikenal, perubahan kepribadian, menjadi mudah kesal, humor berkurang.
Telusuri perjalanan demensianya, apakah mendadak, lambat laun, gradual,
seperti anak tangga/step-wise, progresif, stasioner. Telusuri apakah ada
keluhan lain atau gejala lain dan bagaimana perjalanannya, misalnya:
hemiparesis, afasia dan nyeri kepala.
b. Pemeriksaan Keadaan Mental
Dari bentuk gangguan mental tidak jarang kita dapat menduga diagnosis
etiologi. Tes mental harus mencakup penilaian atensi, orientasi, memori
jangka pendek dan jangka panjang, berbahasa, praksis, hubungan visuospasial,
berhitung dan pertimbangan.
Instrumen untuk menyaring keadaan mental yang cukup digemari oleh
neurologi adalah Mini Mental State Examination (MMSE), oleh Folstein dkk,
1975.18
20

Gambar 1 . Mini Mental State Examination

Sumber : Folstein, dkk. 1975

Data ini diperoleh dari jawaban responden pada kuesioner Mini Mental
State Examination dengan total nilai 30, kemudian akan dihitung nilainya dan
diklasifikasikan menjadi 2 kategori yaitu demensia dengan nilai 0 – 24 dan tidak
demensia dengan nilai 25 – 30.
c. Pemeriksaan Fisik Dan Neurologis
Pemeriksaan fisik dan neurologis pada pasien dengan demensia dilakukan
untuk mencari keterlibatan sistem saraf dan penyakit sistemik yang mungkin
dapat dihubungkan dengan gangguan kognitifnya. Umumnya penyakit
Alzheimer tidak menunjukkan gangguan sistem motorik kecuali pada tahap
lanjut. Kekakuan motorik dan bagian tubuh aksial, hemiparesis,
parkinsonisme, mioklonus, atau berbagai gangguan motorik lain umumnya
timbul pada demensia frontotemporal, lewy body dementia, atau demensia
multi-infark. Penyebab sistemik seperti defisiensi vitamin B12, intoksikasi
logam berat, dan hipotiroidisme dapat menunjukkan gejala yang khas. Yang
21

tidak boleh dilupakan adalah adanya gangguan pendengaran dan penglihatan


yang menimbulkan kebingungan dan disorientasi pada pasien yang sering
disalahartikan sebagai demensia.19
d. Pemeriksaan Penunjang
Umumnya dilakukan pemeriksaan darah berikut : hitung darah tepi, elektrolit
serum (termasuk kalsium), glukosa, ureum kreatinin, funsi hepar, fungsi tiroid,
kadar vitamin B12 di serum, serologi terhadap sifilis. Tes lain atas indikasi,
dapat mencakup laju endap darah, foto rontgen toraks, analisis urin, pungsi
lumbal.19
22

2.3 Kerangka Konsep

Asupan Zat Gizi Stress Peroksidasi Mempercepat


yang kurang oksidatif lemak proses
berlebihan degenerasi
saraf
Genetik

Riwayat Menimbulkan
benturan proses
di kepala penyakit

Endogenous
Daya
opioids (B-
ingat ↓
endorfin)↓

Aktivitas Fisik dan Gel alfa di otak ↓


Aktivitas Kognitif↓ Depresi
&kecemasan DEMENSIA
Norepinefrin,

dopamine,
Tingkat
serotonin ↓
Pendidikan,
jenis
kelamin,
umur
ideopatik
Riwayat
vaskular
Penyakit
sekunder

Kebiasaan Kandungan bahan Gangguan pada


Merokok kimia (nikotin, tar, CO) vaskular

Demensia dapat diperngaruhi oleh asupan zat gizi yang kurang, riwayat penyakit,
genetik, riwayat benturan di kepala, kebiasaan merokok, tingkat pendidikan,
umur, jenis kelamin, serta aktivitas fisik dan aktivitas kognitif. Asupan gizi seperi
karbohidrat, protein, lemak, dan vitamin yang kurang akan menimbulkan stress
oksidatif, yang akan menimbulkan peroksida lemak berlebih, dan akibatnya akan
mempercepat proses degenerasi saraf, hal ini merupakan risiko untuk demensia.
Seseorang yang mempunyai gen demensia juga berrisiko mengalami demensia.
Riwayat benturan di kepala yang akan menimbulkan proses penyakit juga
merupakan faktor risiko demensia. Penyakit infeksi dan metabolisme yang tidak
ditangani serta diabaikan dapat memicu terjadinya demensia. Penyebab demensia
23

dibagi menjadi 3 kelompok meliputi demensia idiopatik, demensia vaskular, dan


demensia sekunder. Rokok mengandung bahan kimia berbahaya seperti tar,
nikotin dan gas karbon monoksida yang mengakibatkan terganggunya
vaskularisasi ke otak. Aktivitas fisik dan kognitif yang kurang akan menurunkan
B-endorfin sehingga akan menurunkan daya ingat. Aktivitas yang kurang ini juga
akan menurunkan gelombang alfa di otak dan dapat menurunkan norepinefrin,
dopamine dan serotonin, hal ini dapat meningkatkan depresi dan kecemasan yang
akan menyebabkan demensia. Tingkat pendidikan rendah, jenis kelamin
perempuan dan usia tua juga dapat menyebabkan demensia. Penelitian ini lebih
menekankan untuk mengetahui hubungan aktivitas fisik, aktivitas kognitif dan
karakteristik responden seperti umur, jenis kelamin dan tingkat pendidikan
terhadap demensia pada lansia di Kelurahan Sukabumi Selatan.
24

2.4 Definisi Operasional

No Variabel Definisi Cara ukur Alat ukur Skala Hasil ukur


ukur
1 Demensia deteriorasi Wawancara MMSE Ordinal 1.Demensia
atau (Mini : nilai ≤ 24
kemunduran Mental State 2.Tidak
kapasitas Examination demensia :
intelektual ) niali 25 –
diakibatkan 30
oleh penyakit (Folstein,
di otak. dkk, 1975)
Sindrom ini
ditandai oleh
gangguan
kognitif,
emosional, dan
psikomotor.
2 Aktivitas Frekuensi wawancara Kuesioner Ordinal 1.Aktifitas
fisik aktivitas fisik (verghese, fisik
yang dkk, 2003) rendah <
dilakukan 11
responden 2.Aktivitas
dalam 2 bulan fisik baik
terakhir ≥ 11
sebelum
wawancara
3 Aktivitas Frekuensi wawancara Kuesioner Ordinal 1.Aktifitas
kognitif aktivitas (verghese, kognitif
responden dkk, 2003) rendah <
yang 12
melibatkan 2.Aktivitas
funsi otak kognitif
dalam 2 bulan baik ≥ 12
terakhir
sebelum
wawancara
4 Karakteristik Umur wawancara Kuesioner Ordinal 1.60 – 69
responden tahun
2.≥ 70 tahun
Jenis Kelamin wawancara Kuesioner Nominal 1.Laki – laki
2.Wanita
Tingkat wawancara Kuesioner Ordinal 1.Rendah ≤
Pendidikan 9 tahun
(tidak
tamat SD,
tamat SD,
dan tamat
SMP)
2.Tinggi > 9
tahun
(tamat
SMA dan
tamat
perguruan
tinggi)
25

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis dan Desain Penelitian


Jenis penelitian yang dipergunakan adalah penelitian analitik dengan
desain cross sectional untuk mengetahui hubungan aktivitas fisik, aktivitas
kognitif, dan karakteristik responden (umur, jenis kelamin dan tingkat
pendidikan) dengan kejadian demensia pada lansia di Kelurahan Sukabumi
Selatan tahun 2012
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Sukabumi Selatan, Kecamatan
Kebon Jeruk, Jakarta Barat, mulai Bulan Juli sampai Agustus 2012.
3.3 Populasi dan Sampel
Populasinya yaitu lansia berumur ≥ 60 tahun di Kelurahan Sukabumi
Selatan dengan pembatasan populasi berdasarkan kriteria inklusi dan
kriteria eksklusi. Jumlah sampel sebanyak 101 diambil pada tanggal 15 –
17 Agustus 2012. Pengambilan sample dilakukan dengan cara Cluster
Random Sampling. Jumlah sampel dihitung dengan rumus :

N=

Keterangan :

N = jumlah sample

Zα = kesalahan tipe I ditetapkan sebesar 5%, maka Zα bernilai 1,96

Zβ = kesalahan tipe II ditetapkan sebesar 20%, maka Zβ bernilai 0,84

P2 = proporsi demensia, berdasarkan kepustakaan 0,24

Q2 = 1- P2 =1 – 0,24 = 0,76

P1 – P2 = ditetapkan sebesar 0,2

P1 = P2 + 0,2 = 0,24 + 0,2 = 0,44

25
26

Q1 = 1- P1 = 1- 0,44 = 0,56

P = (P1+P2) / 2 = ( 0,44 + 0,24)/2 = 0,34

Q = 1-P = 1- 0,6 = 0,66

N=

N = 62

Sampel minimum sebanyak 62, peneliti menggunakan cara pengambilan


sampel metode cluster random sampling dan mendapatkan sampel di RW
08 yang berjumlah 56 lansia, dan di RW 02 yang berjumlah 36 lansia, jadi
jumlah responden keseluruhan ada 92 lansia, jika ditambah 10 % = 101
lansia.

3.4 Cara Kerja Penelitian


3.4.1 Kriteria Sampel
a. Kriteria Inklusi
Lansia berusia ≥ 60 tahun di Kelurahan Sukabumi Selatan
Bisa berbahasa Indonesia
Tidak mampu berkomunikasi secara tertulis dan verbal (buta huruf,
tuli)
Bersedia menjadi responden
Responden berada di tempat pada saat pengumpulan data.
b. Kriteria Eksklusi
Lansia yang tidak kooperatif
3.4.2 Variabel
Variabel yang akan diteliti berupa variabel univariat, dengan demensia
sebagai variabel terikat dan aktifitas fisik, aktifitas kognitif, umur, jenis
kelamin dan tingkat pendidikan sebagai variabel bebas.
27

3.4.3 Skema Penelitian

Lansia di Kelurahan Sukabumi Selatan

Mengisi kuesioner karakteristik responden


(data pribadi responden)

kuesioner aktivitas fisik dan aktivitas


kognitif (Verghese, dkk , 2005)

Tes demensia ( MMSE)

Analisis

3.5 Managemen Data

3.5.1. Pengumpulan Data


Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen penelitian.
Instrumen dalam penelitian ini adalah :

1) Kuesioner Mini mental State Examination (MMSE)


2) Kuesioner aktivitas fisik dan aktivitas kognitif (Verghese, dkk, 2003)
3) Kuesioner karakteristik responden (umur, jenis kelamin serta tingkat
pendidikan).
3.5.2. Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan dengan memasukkan data ke dalam program
komputer Statistical Package for Social Science (SPSS) untuk diolah lebih
lanjut dengan tahapan coding, editing, structuring, entry, dan cleaning.
3.5.3. Analisa Data
Jenis masalah pada penelitian ini adalah analitik komparatif kategorik
tidak berpasangan. Analisis untuk jenis masalah seperti ini yang dapat
digunakan adalah uji Chi Square, Fisher.
28

3.6 Etik Penelitian


Etik penelitian yang kami lakukan dalam penelitian ini yaitu
1. Membuat surat keterangan penelitian dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
2. Mengajukan permohonan penelitian kepada Kelurahan Sukabumi Selatan
Selatan dengan melengkapi persyaratan yang diminta
3. melakukan informed concent kepada responden, agar tidak melanggar hak-
hak dan privasi responden
4. Menjaga kerahasiaan responden
29

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4. 1 Gambaran Karakteristik Responden


Penelitian ini dilakukan pada l01 lansia di Kelurahan Sukabumi Selatan yang
dilakukan pada RW 002 yang berjumlah 36 dan RW 008 yang berjumlah 56 serta
ditambahkan 10% menjadi 101 lansia, dengan kisaran umur 60-80 tahun. Tidak
ada lansia yang masuk kriteria eksklusi ataupun menolak untuk menjadi
responden. Kemampuan responden menjawab kuesioner dipengaruhi daya ingat
dan daya dengar responden. Penelitian ini dilakukan baik pada lansia laki – laki
maupun lansia perempuan. Tingkat pendidikan lansia di Kelurahan Sukabumi
Selatan bervariasi, mulai dari yang paling rendah adalah tidak tamat SD dan
paling tinggi adalah tamat perguruan tinggi. Analisis univariat karakteristik
responden dapat dilihat pada table 4.1.

Tabel 4.1 Distribusi Responden Menurut Karakteristik Responden pada Lansia di


Kelurahan Sukabumi Selatan Tahun 2012
Karakteristik responden Jumlah (101) Presentase(%)
Umur
1. 60-69 56 55,4
2. ≥ 70 45 44,6
Jenis kelamin
1. Laki-laki 51 50,5
2. Perempuan 50 49,5
Tingkat Pendidikan
1. Tidak tamat SD 20 19,8
2. Tamat SD 36 35,6
3. Tamat SMP 5 5,0
4. Tamat SMA 30 29,7
5. Tamat Perguruan Tinggi 10 9,9

Jumlah lansia paling banyak pada kelompok umur 60-69 tahun yaitu
sebanyak 56 orang (55,4%), diikuti dengan pada kelompok umur ≥ 70 tahun
sebanyak 45 lansia (44,6). Hasil ini tidak jauh beda dengan penelitian Purnakarya
di Jakarta Barat bahwa lansia pada kelompok umur 60-69 tahun sebanyak 59,6%
6
, demikian juga penelitian Handjani di Jakarta bahwa lansia pada kelompok umur

29
30

60 – 69 tahun sebanyak 64,6 %.20 Distribusi jenis kelamin responden tidak


mengalami perbedaan yang signifikan. Responden laki-laki jumlahnya lebih
banyak yaitu 51 orang ( 50,5%) sedangkan responden perempuan sebanyak 50
orang (49,5%). Distribusi tingkat pendidikan responden umumnya adalah tamat
SD sebanyak 36 orang (35,6%) dan yang paling sedikit adalah tamat SMP
sebanyak 5 orang (5%). Hal ini sesuai dengan data di Kelurahan Sukabumi
Selatan bahwa lansia umumnya berpendidikan rendah yaitu tidak tamat SD, tamat
SD dan Tamat SMP.

Tabel 4.2 Distribusi Responden Menurut Kategori Tingkat Pendidikan Pada


Lansia Di Kelurahan Sukabumi Selatan Tahun 2012
Tingkat Pendidikan Jumlah (101) Presentase(%)
Rendah 61 60,4
Tinggi 40 39,6

Tingkat pendidikan responden dikategorikan menjadi tingkat pendidikan


rendah yaitu apabila responden mengikuti pendidikan selama ≤ 9 tahun atau tidak
tamat SD, tamat SD, dan tamat SMP, sedangkan tingkat pendidikan tinggi yaitu
apabila responden mengikuti pendidikan selama > 9 tahun atau tamat SMA dan
tamat perguruan tinggi. Distribusi kategori tingkat pendidikan responden
umumnya pendidikan rendah sebanyak 61 orang (60,4%) sedangkan tingkat
pendidikan tinggi sebanyak 40 orang (39,6%). Hasil ini sama dengan penelitian
Purnakarya pada tahun 2008 di Jakarta Barat bahwa sebesar 62,5 % lansia
berpendidikan rendah dengan rincian lansia yang tidak tamat SD (36,2%), tamat
SD 21,3%, dan tamat SMP (7,8%).7

4. 2 Gambaran Kejadian Demensia

Demensia adalah status klinis dengan terjadinya kemunduran intelektual.


Demensia pada umumnya melibatkan deteriorasi pada memori satu atau lebih
fungsi intelektual yang lain seperti bahasa, berpikir tempat dan orientasinya,
pemecahan masalah, dan berpikir abstrak .7
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan responden sebanyak 101 lansia,
ditemukan sebanyak 54 lansia (53,5 %) mengalami demensia dan selebihnya
sebanyak 47 lansia (46,5%) tidak demensia. Kejadian ini lebih rendah
31

dibandingkan penelitian demensia di Jakarta oleh Handajani pada tahun 2006,


yaitu lansia yang mengalami demensia sebesar 62,5 %.20 Akan tetapi hasil
penelitian ini lebih tinggi dibandingkan penelitian Purnakarya di Jakarta Barat
yaitu sebesar 47,5% lansia yang mengalami demensia.15

Tabel 4.3 Distribusi Kejadian Demensia Pada Lansia Di Kelurahan Sukabumi


Selatan Tahun 2012
Variabel Dependen Jumlah (101) Persentase (%)
Demensia 54 53,5
Tidak Demensia 47 46,5

4.3 Gambaran Aktivitas Fisik dan Aktivitas Kognitif


Hasil penelitian menunjukkan Nilai terendah aktifitas fisik pada lansia adalah 3
dan nilai tertinggi aktivitas fisik pada lansia adalah 14. Sedangkan nilai terendah
aktivitas kognitif pada lansia adalah 4 dan nilai tertinggi aktivitas kognitif pada
lansia adalah 16. Gambaran nilai aktivitas fisik dan aktivitas kognitif pada lansia
dapat dilihat pada table 4.4

Tabel 4.4 Distribusi Responden Menurut Aktivitas Fisik dan Aktivitas Kognitif
Pada Lansia Di Kelurahan Sukabumi Selatan Tahun 2012
Variabel Independen Jumlah (101) Presentase (%)
Aktivitas Fisik
1. Rendah 54 53,5
2. Tinggi 47 46,5
Aktivitas Kognitif
1. Rendah 34 33,7
2. Tinggi 67 66,3

Hasil penelitian ini didapatkan nilai aktivitas fisik rendah sebanyak 54


lansia (53,5%). Hal ini sesuai dengan penelitian Purnakarya bahwa jumlah lansia
yang beraktivitas fisik rendah lebih besar dibanding lansia dengan aktivitas
tinggi.7 Sedangkan nilai aktivitas kognitif rendah pada penelitian ini sebesar 34
lansia (33,7%). Hal ini tidak sesuai dengan penelitian Purnakarya di Jakarta
bahwa aktivitas rendah lebih tinggi dibanding aktivitas tinggi.7
Hasil Penelitian menunjukkan bahwa berjalan kaki (23.8%) merupakan
aktivitas fisik yang paling dominan pada lansia di Kelurahan Sukabumi Selatan,
sedangkan aktivitas yang memiliki nilai terendah adalah berenang (0,8 %). Hal ini
32

dikarenakan perbedaan budaya di Negara Barat tempat Verghese melakukan


penelitian dan di Indonesia. Hasil seperti di atas tergambar dalam tabel berikut :

Tabel 4.5. Presentase Aktivitas Fisik Lansia

No. Aktivitas Fisik %


1 Senam 10.1
2 Bersepeda 7.3
3 Aktivitas dengan kelompok 9.9
4 Badminton/Tenis meja 8.1
5 Berenang 1.0
6 Berjalan kaki 23.6
7 Menaiki tangga/menanjak 12.3
8 Mengerjakan pekerjaan rumah 16.9
9 Mengasuh bayi/balita 10.8

Aktivitas kognitif yang paling dominan yaitu partisipasi dalam kelompok


diskusi (37,8 %). Berdasarkan hasil wawancara, sebagian besar lansia
menyebutkan bahwa partisipasi dalam kelompok diskusi ini adalah mengikuti
pengajian yang diadakan di musholla/ masjid di lingkungan sekitar. Sedangkan
aktivitas bermain alat music tidak mendapatkan presentase sama sekali (0%)
dikarenakan tidak ada lansia yang melakukan aktivitas ini. Hal ini dikarenakan
budaya di Kelurahan Sukabumi Selatan berbeda dengan budaya di Negara Barat
tempat Verghese melakukan penelitian.

Tabel 4.6 Presentase Aktivitas Kognitif Lansia

No. Aktivitas Kognitif %


1 Bermain catur 12.5
2 Membaca 29.7
3 Menulis 14.5
4 Mengisi TTS 5.5
5 Bermain alat music 0
6 Partisipasi dalam kelompok diskusi 37.8
33

4.4. Hubungan Antara Umur Dengan Kejadian Demensia

Tabel 4.7 Distribusi Umur Responden dengan Kejadian Demensia pada Lansia di
Kelurahan Sukabumi Selatan Tahun 2012

Variabel Demensia Rasio Odds (95 % CI) p value


Independen Tidak Demensia Demensia
n (%) n (%)
Umur
60 – 69 45 (95,7) 11 (20,4) 87,955 (18,417 - 420.044) 0,000*
≥ 70 2 (4,3) 43 (79,6)
Catatan : *) analisis chi-square

Dari hasil analisis didapatkan sebanyak 11 lansia (20,4%) pada kelompok


umur 60-69 tahun dan sebanyak 43 lansia (79,6%) pada kelompok umur ≥ 70
mengalami demensia. Hasil uji statistic didapatkan nilai p = 0,000, berarti ada
hubungan bermakna antara umur dengan kejadian demensia. Hasil penelitian ini
sama dengan penelitian Purnakarya di Jakrta Barat yang melaporkan ada
hubungan umur lansia dengan demensia.7 Hasil rasio odds yaitu sebesar 88,
berarti lansia yang berumur ≥ 70 tahun memiliki kemungkinan 88 kali untuk
mengalami demensia dibandingkan lansia usia 60-69 tahun.
Kejadian demensia meningkat seiring meningkatnya umur lansia sesuai
laporan Alzheimer’s disease tahun 2007. Hal ini dapat dijelaskan karena berat otak
dan sel – sel neuron berkurang saat seseorang memasuki masa lansia, sehingga
lansia mengalami kemunduran sebesar 20-45 % dalam kecepatan menulis tangan,
memasang kancing dan memotong dengan pisau. Selain itu, lansia menjadi lebih
lambat mengolah informasi, menurunnya daya ingat jangka pendek, berkurangnya
kemampuan otak untuk membedakan stimulus atau rangsang yang datang dan
kemampuan kalkulasi 18

4.5. Hubungan antara Jenis Kelamin dengan Kejadian Demensia


Tabel 4.8 Distribusi Responden Menurut Jenis Kelamin dengan Kejadian
Demensia pada Lansia di Kelurahan Sukabumi Selatan Tahun 2012
Jenis Demensia Rasio Odds (95 % CI) p value
Kelamin Tidak Demensia Demensia
n (%) n (%)
Laki-laki 25 (53,2) 26 (48,1) 1,224 (0,559 – 2,678) 0,759*
Perempuan 22 (46,8) 28 (51,9)
*analisis chi-square
34

Hasil analisis hubungan jenis kelamin dengan kejadian demensia diperoleh


bahwa ada sebanyak 26 lansia (48,1%) laki-laki dengan demensia. Sedangkan
diantara lansia perempuan, ada 28 lansia (51,9%) dengan demensia. Hasil uji
statistik diperoleh nilai p = 0,759, berarti tidak ada perbedaan signifikan antara
lansia laki-laki maupun perempuan. Penelitian ini sama dengan penelitian
demensia di Jakarta Barat oleh Purnakarya tahun 2008.7 Dari hasil ini
disimpulkan bahwa laki-laki maupun perempuan memiliki peluang yang sama
untuk mengalami demensia.

4.6. Hubungan Antara Tingkat Pendidikan dengan Kejadian Demensia

Tabel 4.9 Distribusi Responden Menurut Tingkat Pendidikan dengan Kejadian


Demensia pada Lansia di Kelurahan Sukabumi Selatan Tahun 2012
Tingkat Demensia Rasio Odds (95 % CI) p value
Pendidikan Tidak Demensia Demensia
n (%) n (%)
Tinggi 27 (57,4) 13 (24,1) 4,258 (1,819 – 9,968) 0,001*
Rendah 20 (42,6) 41 (75,9)
Catatan : *)analisis chi-square

Hasil analisis hubungan tingkat pendidikan dengan kejadian demensia


diperoleh bahwa ada sebanyak 41 lansia (75,9%) dengan tingkat pendidikan
rendah, dan 13 lansia (24,1%) dengan tingkat pendidikan tinggi mengalami
demensia. Hasil uji statistic diperoleh nilai p = 0,001, maka dapat disimpulkan ada
hubungan bermakna antara tingkat pendidikan dengan demensia. Hasil rasio odds
yaitu sebesar 4,258, berarti lansia yang berpendidikan rendah memiliki
kemungkinan 4,3 kali untuk mengalami demensia dibandingkan lansia yang
berpendidikan tinggi. Hasil penelitian ini sama dengan penelitian Purnakarya
tahun 2008 bahwa lansia berpendidikan rendah memiliki peluang 4 kali
mengalami demensia dibanding lansia berpendidikan tinggi.7
35

4.7 Hubungan antara Aktivitas Fisik dan Aktivitas Kognitif dengan Kejadian
Demensia

Tabel 4.10 Distribusi Responden Menurut Aktivitas Fisik dengan Kejadian


Demensia pada Lansia di Kelurahan Sukabumi Selatan Tahun 2012
Variabel Demensia Rasio Odds (95 % CI) p value
Independen Tidak Demensia
Demensia
n (%) n (%)
Aktivitas Fisik
1. Tinggi 28 (59,6) 19 (35,2) 2,715 (1,211 – 6,084) 0,024*
2. Rendah 19 (40,4) 35 (64,8)
Aktivitas Kognitif
1. Tinggi 38 (80,9) 29 (53,7) 3,640 (1,209 – 2,387) 0,008*
3. Rendah 9 (19,1) 25 (46,3)
*analisis chi-square

Hasil Penelitian pada 101 responden menemukan sebanyak 35 lansia


(64,8%) dengan nilai aktivitas fisik rendah dan sebanyak 19 lansia (35,2%)
dengan nilai aktivitas fisik tinggi mengalami demensia. Hasil uji statistik
didapatkan nilai p = 0,014, berarti hubungan bermakna antara aktivitas fisik
dengan kejadian demensia. Hasil penelitian ini didukung penelitian Verghese,dkk
tahun 2003 yang melaporkan bahwa kejadian demensia behubungan dengan
berkurangnya partisipasi dalam mengisi waktu senggang dengan aktivitas fisik.5
Menurut Kuantaraf, dkk tahun 1996 memaparkan bahwa kegiatan aktivitas fisik
seperti olahraga dapat menenangkan pikiran, memperbaiki daya ingat,
mengurangi kecemasan dan depresi. Selain itu, olahraga dapat menolong otak
untuk berfungsi dengan baik secara intelektual.6 Hasil rasio odds yaitu sebesar
2,715, berarti lansia dengan aktivitas rendah memiliki kemungkinan 3 kali untuk
mengalami demensia dibandingkan lansia yang berpendidikan tinggi.
Sebanyak 25 lansia (46,3%) dengan nilai aktivitas kognitif rendah dan
sebanyak 29 lansia (53,7%) dengan nilai aktivitas kognitif tinggi mengalami
demensia. Hasil uji statistik didapatkan p = 0,004, berarti ada hubungan bermakna
antara aktivitas kognitif dengan demensia. Hasil penelitian ini didukung oleh
penelitian Karp, dkk (2006) yang melaporkan bahwa komponen mental, fisik, dan
social dalam mengisi waktu luang dapat menurunkan kejadian demensia. Karp,
dkk juga menjelaskan bahwa aktivitas kognitif berfungsi melatih otak untuk
menjaga fungsi kognitif dan memperlambat berkembangnya demensia.21 Hasil
36

rasio odds yaitu sebesar 3,640, berarti lansia dengan aktivitas kognitif memiliki
kemungkinan 4 kali untuk mengalami demensia dibandingkan lansia dengan
aktivitas kognitif tinggi.

4.8 Keterbatasan Penelitian


Penelitian tentang demensia di Kelurahan Sukabumi Selatan belum pernah
dilakukan sebelumnya. Keterbatasan ini menyebabkan peneliti sulit untuk
membandingkan hasil penelitian dengan penelitian lain yang sejenis. Peneliti lebih
banyak membandingkan hasil penelitian yang dilakukan kota-kota lain bahkan
negara-negara lain yang mungkin karakteristiknya berbeda dengan kelurahan
Sukabumi Selatan.
Desain pada penelitian ini adalah desain cross sectional (potong lintang).
Desain ini memiliki beberapa kelemahan yaitu pengamatan variabel independen
dan variabel dependen diamati pada waktu yang bersamaan saat pengumpulan
data saja. Hal ini mengakibatkan kekuatan hubungan antarvariabel independen
dengan variabel dependen ditegakkan berdasarkan asumsi dari responden.
Kuesioner untuk mengukur demensia pada responden menggunakan alat
ukur Mini Mental State Examination (MMSE) (Folstein,dkk, 1975). Alat ukur ini
dipakai untuk skrining demensia. Hasil nilai MMSE dapat bias, karena
berpengaruh terhadap pendidikan. Orang dengan demensia apabila berpendidikan
tinggi, nilai MMSE dapat tinggi sedangkan orang yang tidak demensia apabila
berpendidikan rendah, nilai MMSE rendah.7
Kuesioner yang digunakan untuk menilai aktivitas fisik dan aktivitas
kognitif yaitu kuesioner Verghese yang dibuat berdasarkan aktivitas lansia di
Negara Barat. Hal ini dapat menjadi bias, dikarenakan penelitian yang dilakukan
di Kelurahan Sukabumi Selatan ini, sangat kental dengan budaya Timur,
khususnya dalam hal aktivitas.
Demensia dapat disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah
depresi dan benturan kepala yang dapat menyebabkan pseudodemensia. Hal ini
tidak dicantumkan oleh penulis di kuesioner ataupun ditanyakan penulis pada saat
wawancara.
37

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Dari hasil penelitian pada lansia di Kelurahan Sukabumi Selatan pada tahun 2012
dapat disimpulkan bahwa :

5.1.1 Gambaran karakteristik responden (umur, jenis kelamin dan tingkat


pendidikan) didapatkan mayoritas kelompok umur 60 – 69 (55,4%) ,
tingkat pendidikan rendah (60,4%), dan jumlah yang berimbang antara
jenis kelamin laki-laki dan perempuan.
5.1.2 Prevalensi Demensia adalah sebesar 53,5 %
5.1.3 Mayoritas responden (53,5%) memiliki aktivitas fisik rendah dan sebagian
besar responden memiliki aktivitas kognitif tinggi (66.3%)
5.1.4 Terdapat hubungan bermakna antara aktivitas kognitif dengan demensia (p
= 0,008), Risk Rasio 2,715, 95 % Cl (1,211 – 6,084)
5.1.5 Terdapat hubungan bermakna antara aktivitas fisik dengan demensia (p =
0,024) Risk Rasio (3,640), 95 % Cl (1,209 – 2,387)
5.1.6 Hubungan antara karakteristik responden (umur, jenis kelamin dan tingkat
pendidikan) dengan kejadian demensia adalah sebagai berikut :
a. Terdapat hubungan bermakna antara umur dengan kejadian demensia
(p = 0,000), Risk Rasio (87,955), 95 % CI (18,417 - 420.044).
b. Tidak terdapat hubungan bermakna antara jenis kelamin dengan
kejadian demensia (p = 0,759).
c. Terdapat hubungan bermakna antara tingkat pendidikan dengan
demensia (p = 0,001), Risk Rasio (4,258), 95 % CI (1,819 – 9,968)

37
38

5.2 Saran
5.2.1 Bagi Dinas Kesehatan atau puskesmas di Kelurahan Sukabumi Selatan
agar memberi perhatian terhadap aktivitas fisik dan aktivitas kognitif.
Perhatian tersebut dapat dilakukan dengan mengembangkan penyuluhan
mengenai aktivitas fisik dan aktivitas kognitif yang baik untuk
menurunkan kejadian demensia.
5.2.2 Bagi Dinas Kesehatan di Kelurahan Sukabumi Selatan perlu
mengembangkan program kegiatan lansia yang mencakup aktivitas fisik
dan aktivitas kognitif lansia seperti senam lansia rutin, pengajian lansia
dan pengadaan posbindu
5.2.3 Kepada pihak yang berminat mengembangkan penelitian ini lebih lanjut
dengan penggunaan sampel yang lebih besar, dengan studi case control
atau cohort maupun eksperimen untuk melihat pengaruh aktifitas fisik,
aktivitas kognitif, maupun faktor faktor lain yang berkaitan dengan
demensia.
39

DAFTAR PUSTAKA

1. WHO. Neurology : Age and Dementia [Online] 2005 [Cited 2012 Feb 10].
Available from:URL http://who.int/en
2. Departemen Kesehatan RI.. Pedoman Pembinaan Kesehatan Usia Lanjut
bagi Petugas Kesehatan. Jakarta : Direktorat Bina Kesehatan Keluarga;
2001
3. Setiati S, Harimurti K, Govinda A. Proses Menua dan Implikasi Kliniknya
dalam Sudoyo, Aru W. Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Badan Penerbit
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2006
4. Alzheimer‟s Association. 2007. Alzheimer‟s Facts and Figures 2007.
Diunduh dari : www.dementia-in-europe. 21 Januari 2012.
5. Verghese J, Lipton RB, Katz MJ at al. Leisure Activities and the Risk of
Dementia in the Elderly. The New England Journal of Medicine [Serial
Online] 2003 June 19 [Cited 2012 Jan 20]; . Available from:URL:
http://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMoa022252
6. Kuantara KL, Jonathan K.. Olahraga Sumber kesehatan. Bandung:
Percetakan Advent Indonesia; 1996
7. Purnakarya I. Analisa Pola Makan dan Faktor Lainnya yang Berhubungan
dengan Kejadian Demensia Pada Lansia di Wilayah Jakarta Barat,
(Tesis). Program Pasca Sarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat FKM UI,
Depok; 2008
8. Alzheimer‟s Association. Alzheimer‟s Facts and Figures. Diunduh dari :
http://www.alznyc.org/news/March/2007/alzFS.asp. 20/1/2012
9. McNamara, Patrick. Dementia : History and Incidence Volume
1.California: Praeger; 2011
10. Hardywinoto, S. Panduan Gerontologi : Tinjauan Dari Berbagai Aspek.
Jakarta : PT Gramedia; 2005
11. Mubarak, WI, dkk. Ilmu Keperawatan Komunitas Konsep dan Aplikasi
Buku 2. Jakarta: Salemba Medika; 2009
40

12. Lumbantobing. Neurogeriatri. Jakarta : Balai Penerbit Fakultas


Kedokteran Universitas Indonesia; 2011
13. Arisman. Gizi dalam Daur Kehidupan: Buku Ajar Ilmu Gizi. Jakarta: EGC;
2004
14. Mardjono M, Sidharta P. Neurologi Klinis Dasar. Jakarta : Dian Rakyat;
2010
15. Ravaglia G, Forti P, Maioli F, at al. Plasma amino acid concentrations in
patients with amnestic mild cognitive impairment or Alzheimer disease.
The American Journal of Clinical Nutrition [Serial Online] 2004 August
[Cited 2012 Jan 21]; 80(2). Available from:URL:
http://ajcn.nutrition.org/content/80/2/483.full.pdf+html
16. Boustani M, et al. Health care for dementia. Diunduh
www.ncbi.nlm.nih.gov. 10/3/2012
17. Nourhashemi F, Guyonnet SG, Andrieu S. Alzheimer Disease : protective
factors. The American Journal of Clinical Nutrition [Serial Online] 2000
Feb [Cited 2012 Jan 20]; 71(2). Available from:URL:
http://ajcn.nutrition.org/content/71/2/643s.full?sid=2582c62a-a51d-45ed-
89bb-8003e9bfc5e0
18. Folstein, MF, Folstein, SE, Mchugh, PR. Mini-mental state - practical
method for grading cognitive state of patients for clinician. Journal of
Psychiatric Research 1975;12:189–98.
19. Lumbantobing. Kecerdasan Pada Usia Lanjut dan Demensia. Jakarta :
Balai Penerbit FKUI; 2006
20. Handajani, YS. Indeks Pengukuran Disabilitas dan Prediksi Kualitas
Hidup Pada Masyarakat Usia Lanjut di DKI Jakarta, (Disertasi). Program
Pasca sarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat FKM UI. Depok; 2006
21. Karp A., Stephanie PG, Wanga H, et al. Mental Physical and Social
Components Leisure Activities Equally Contribute to Decrease Dementia
Risk. Dementia and Geriatric Disorder, 21:65-73; 2006.
41

Lampiran 1 Kuesioner

Nama Responden : (ibu/Bapak) …………………….

Kode Responden : 0……..

HUBUNGAN AKTIVITAS FISIK DAN AKTIVITAS KOGNITIF


TERHADAP KEJADIAN DEMENSIA DI KELURAHAN SUKABUMI
SELATAN TAHUN 2012

PERSYARATAN PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN

Tujuan dan tahapan penelitian ini telah dijelaskan kepada saya. Saya memahami
bahwa penelitian ini dibuat untuk perkembangan pengetahuan ilmiah dan semua
prosedur tidak menyalahi kode etik.

Saya telah membaca dan memahami isi lembar informasi dan persetujuan ini.
Saya mengerti bahwa saya tidak terpaksa untuk berpartisipasi dalam penelitian ini.
Saya mengerti bahwa semua informasi yang saya berikan terjamin
kerahasiaannya.

Saya setuju untuk berperan serta dalam penelitian ini.

Nama :………………………………………………

Tanda Tangan : ……………………………………………...

Nama Pendamping (jika ada) : ……………………………………………

Tanda Tangan Pendamping : ……………………………………………

Tanggal Wawancara : 15 / 16 / 17 Agustus 2012


42

Lampiran 1 Kuesioner (lanjutan)

A. DATA RESPONDEN
1. Kode responden :………………………………………
2. Nama :………………………………………
3. Alamat : ……………………………………
4. Nomor Telepon/Hp : ……………………………………
5. Jenis Kelamin : 1. Laki – laki
2. Perempuan

6. Tanggal lahir :…….…………(lihat kartu identitas)

7. Umur :…………………….tahun

8. Pendidikan formal terakhir :

1) Tidak sekolah/tidak tamat SD


2) Tamat SD atau sederajat
3) Tamat SMP atau sederajat
4) Tamat SMU atau sederajat
5) Tamat akademi atau perguruan tinggi

9. Status pernikahan :

1. Menikah 2) Duda/Janda 3) Tidak menikah

10. Pekerjaan semasa aktif :

1. Tidak bekerja / rumah tangga

2. Wiraswasta

3. Pegawai swasta

4. PNS/BUMN/TNI/POLRI 5. Lainnya, sebutkan ……………


43

Lampiran 1 Kuesioner (lanjutan)

B. AKTIVITAS FISIK (Verghese,dkk, 2003, dengan modifikasi)

No Jenis Y/ Frekuensi

aktivitas fisik T Setiap Beberapa Sekali Sebulan

hari hari dalam sekali,

dalam seminggu kadang2/

seminggu tidak pernah

1 Senam

2 Bersepeda

3 Aktivitas

dengan

Kelompok

4 Badminton/te

nis meja

5 Berenang

6 Berjalan kaki

7 Menaiki

tangga/mena

njak

8 Mengerjakan

pekerjaan

rumah

9 Mengasuh

bayi / balita
44

Lampiran 1 Kuesioner (lanjutan)

C. AKTIVITAS KOGNITIF (Verghese,dkk, 2003, dengan modifikasi)

No Jenis aktivitas Y Frekuensi

kognitif / Setiap Beberapa Sekali Sebulan

T hari hari dalam sekali,

dalam seminggu kadang-

seminggu kadang

/ tidak

pernah

1 Bermain catur

2 Membacabuku/kor

an/majalah

3 Menulis

4 Mengisi tts

5 Bermain music

6 Berpartisipasi

dalam kelompok

diskusi
45

Lampiran 1 Kuesioner (lanjutan)

KUESIONER 2

MINI MENTAL STATE EXAMINATION (MMSE)

Skor Skor

Maks Lansia

1. Orientasi

Sekarang (hari), (tanggal), (bulan), (tahun), dan 5

(musim) apa?

Sekarang kita berada di mana ? 5

(jalan), (kelurahan), (kecamatan), (kota), (propinsi)

2. Registrasi

Pewawancara menyebutkan 3 nama benda, 1 detik untuk 3

satu benda. Kemudian mintalah responden mengulang

tiga nama benda tersebut. Berilah skor 1 untuk setiap

jawaban yang benar. Bila masih salah, ulanglah

penyebutan ke-3 nama benda tersebut sampai responden

dapat mengulanginya sampai benar. Hitunglah jumlah

percobaan dan catatlah (Buku – Mangkuk – Payung)

3. Atensi dan Kalkulasi

Hitunglah berturut – turut selang 7 mulai dari 100 ke 5

bawah. Berilah angka untuk setiap jawaban yang benar.

Berhentilah setelah 5 hitungan (93, 86, 79, 72, 65) atau

kemungkinan lain, ejalah kata “kartu” dari akhir ke awal


46

(u – t – r – a – k)

4. Mengingat

Tanyalah kembali nama ke – 3 benda yang telah

disebutkan di atas. Berilah 1 angka untuk setiap jawaban 3

yang benar

5. Bahasa

a) Apakah nama benda – benda ini ? 2

(perlihatkan 2 benda, misalnya pulpen dan arloji)

b) Ulanglah kalimat berikut : 1

“jika tidak, dan atau tapi”

c) Laksanakan 3 buah perintah ini : 3

Ambil kertas dengan tangan kananmu

Lipatlah kertas itu pada pertengahan

Letakkanlah kertas itu di lantai

d) Baca dan laksanakan perintah berikut : 1

“PEJAMKAN MATA ANDA”

e) Tulislah sebuah kalimat(kalimat harus mengandung 1

subjek dan objek dan harus mempunyai makna)

f) Tirulah gambar ini

JUMLAH SKOR
47

Lampiran 2 Data Hasil Uji Statistik

1. Distribusi Responden Menurut Karakteristik Responden Pada Lansia Di


Kelurahan Sukabumi Selatan Tahun 2012
1.1. Distribusi Responden Menurut Umur Pada Lansia Di Kelurahan
Sukabumi Selatan Tahun 2012

umur_baru

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid 60 - 69 56 55.4 55.4 55.4

70 - 79 45 44.6 44.6 100.0

Total 101 100.0 100.0

1.2 Distribusi Responden Menurut Jenis Kelamin Pada Lansia Di Kelurahan


Sukabumi Selatan Tahun 2012

Jenis Kelamin Responden

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Perempuan 50 49.5 49.5 49.5

Laki-laki 51 50.5 50.5 100.0

Total 101 100.0 100.0


48

Lampiran 2 Data Hasil Uji Statistik

1.3 Distribusi Responden Menurut Tingkat Pendidikan Pada Lansia Di


Kelurahan Sukabumi Selatan Tahun 2012

pendidikan_2

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid rendah 61 60.4 60.4 60.4

tinggi 40 39.6 39.6 100.0

Total 101 100.0 100.0


49

Lampiran 2 Data Hasil Uji Statistik

2. Distribusi Responden Menurut Aktivitas Fisik dan Aktivitas Kognitif


Pada Lansia Di Kelurahan Sukabumi Selatan Tahun 2012
2.1 Distribusi Responden Menurut Aktivitas Fisik Pada Lansia Di Kelurahan
Sukabumi Selatan Tahun 2012

Aktivitas Fisik Responden

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid rendah 54 53.5 53.5 53.5

tinggi 47 46.5 46.5 100.0

Total
101 100.0 100.0
50

Lampiran 2 Data Hasil Uji Statistik

2.2 Distribusi Responden Menurut Aktivitas Kognitif Pada Lansia Di


Kelurahan Sukabumi Selatan Tahun 2012

Aktivitas Kognitif Responden

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid rendah 34 33.7 33.7 33.7

tinggi 67 66.3 66.3 100.0

Total 101 100.0 100.0


51

Lampiran 2 Data Hasil Uji Statistik

3. Distribusi Kejadian Demensia Pada Lansia Di Kelurahan Sukabumi


Selatan Tahun 2012

Skor Demensia

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid demensia 54 53.5 53.5 53.5

tidak demensia 47 46.5 46.5 100.0

Total 101 100.0 100.0


52

Lampiran 2 Data Hasil Uji Statistik

4. Hubungan Antara Umur Dengan Kejadian Demensia

Case Processing Summary

Cases

Valid Missing Total

N Percent N Percent N Percent

umur_baru * Skor Demensia 101 100.0% 0 .0% 101 100.0%

umur_baru * Skor Demensia Crosstabulation

Skor Demensia

demensia tidak demensia Total

umur_baru 60 - 69 Count 11 45 56

Expected Count 29.9 26.1 56.0

% within Skor Demensia 20.4% 95.7% 55.4%

70 - 79 Count 43 2 45

Expected Count 24.1 20.9 45.0

% within Skor Demensia 79.6% 4.3% 44.6%

Total Count 54 47 101

Expected Count 54.0 47.0 101.0

% within Skor Demensia 100.0% 100.0% 100.0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value Df sided) sided) sided)

Pearson Chi-Square 57.791a 1 .000

Continuity Correctionb 54.780 1 .000

Likelihood Ratio 67.680 1 .000

Fisher's Exact Test .000 .000

Linear-by-Linear
57.219 1 .000
Association

N of Valid Casesb 101

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 20.94.
53

Lampiran 2 Data Hasil Uji Statistik

Risk Estimate

95% Confidence Interval

Value Lower Upper

Odds Ratio for UMUR_1 (70-


87.955 18.417 420.044
79 / 60-69)

For cohort Skor Demensia =


4.865 2.853 8.293
demensia

For cohort Skor Demensia =


.055 .014 .216
tidak demensia

N of Valid Cases 101

5. Hubungan Jenis Kelamin Dengan Demensia


Case Processing Summary

Cases

Valid Missing Total

N Percent N Percent N Percent

Jenis Kelamin Responden *


101 100.0% 0 .0% 101 100.0%
Skor Demensia

Jenis Kelamin Responden * Skor Demensia Crosstabulation

Skor Demensia

demensia tidak demensia Total

Jenis Kelamin Responden Perempuan Count 28 22 50

Expected Count 26.7 23.3 50.0

Laki-laki Count 26 25 51

Expected Count 27.3 23.7 51.0

Total Count 54 47 101

Expected Count 54.0 47.0 101.0


54

Lampiran 2 Data Hasil Uji Statistik

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value Df sided) sided) sided)

Pearson Chi-Square .256a 1 .613

Continuity Correctionb .094 1 .759

Likelihood Ratio .256 1 .613

Fisher's Exact Test .691 .380

Linear-by-Linear
.253 1 .615
Association

N of Valid Casesb 101

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 23.27.

Risk Estimate

95% Confidence Interval

Value Lower Upper

Odds Ratio for Jenis Kelamin


Responden (Perempuan / Laki- 1.224 .559 2.678
laki)

For cohort Skor Demensia =


1.098 .763 1.581
demensia

For cohort Skor Demensia =


.898 .590 1.366
tidak demensia

N of Valid Cases 101

6. Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Demensia


Case Processing Summary

Cases

Valid Missing Total

N Percent N Percent N Percent

pendidikan_2 * Skor
101 100.0% 0 .0% 101 100.0%
Demensia
55

Lampiran 2 Data Hasil Uji Statistik

pendidikan_2 * Skor Demensia Crosstabulation

Skor Demensia

demensia tidak demensia Total

pendidikan_2 rendah Count 41 20 61

Expected Count 32.6 28.4 61.0

% within Skor Demensia 75.9% 42.6% 60.4%

tinggi Count 13 27 40

Expected Count 21.4 18.6 40.0

% within Skor Demensia 24.1% 57.4% 39.6%

Total Count 54 47 101

Expected Count 54.0 47.0 101.0

% within Skor Demensia 100.0% 100.0% 100.0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value Df sided) sided) sided)

Pearson Chi-Square 11.701a 1 .001

Continuity Correctionb 10.347 1 .001

Likelihood Ratio 11.899 1 .001

Fisher's Exact Test .001 .001

Linear-by-Linear
11.585 1 .001
Association

N of Valid Casesb 101

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 18.61.
56

95% Confidence Interval

Value Lower Upper

Odds Ratio for TINGKAT_PENDIDIKAN


(RENDAH / TINGGI) 4.258 1.819 9.968

For cohort Skor Demensia = demensia


2.068 1.280 3.341

For cohort Skor Demensia = tidak demensia


.486 .320 .738

N of Valid Cases 101

7. Hubungan Aktivitas Fisik Dengan Demensia


Case Processing Summary

Cases

Valid Missing Total

N Percent N Percent N Percent

Aktivitas Fisik Responden *


101 100.0% 0 .0% 101 100.0%
Skor Demensia

Crosstab

Skor Demensia

tidak
demensia demensia Total

Aktivitas Fisik Responden Rendah Count 35 19 54

Expected Count 28.9 25.1 54.0

Tinggi Count 19 28 47

Expected Count 25.1 21.9 47.0

Total Count 54 47 101

Expected Count 54.0 47.0 101.0


57

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig.


Value df sided) sided) (1-sided)

Pearson Chi-Square 6.008a 1 .014

Continuity Correctionb 5.068 1 .024

Likelihood Ratio 6.061 1 .014

Fisher's Exact Test .017 .012

Linear-by-Linear Association 5.948 1 .015

N of Valid Casesb 101

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 21.87.

b. Computed only for a 2x2 table

Risk Estimate

95% Confidence Interval

Value Lower Upper

Odds Ratio for Aktivitas Fisik


2.715 1.211 6.084
Responden (rendah / tinggi)

For cohort Skor Demensia =


1.603 1.076 2.389
demensia

For cohort Skor Demensia =


.591 .383 .910
tidak demensia

N of Valid Cases 101

8. Hubungan Aktivitas Kognitif Dengan Demensia

Case Processing Summary

Cases

Valid Missing Total

N Percent N Percent N Percent

Aktivitas Kognitif Responden *


101 100.0% 0 .0% 101 100.0%
Skor Demensia
58

Skor Demensia

tidak
demensia demensia Total

Aktivitas Kognitif Responden Rendah Count 25 9 34

Expected
18.2 15.8 34.0
Count

Tinggi Count 29 38 67

Expected
35.8 31.2 67.0
Count

Total Count 54 47 101

Expected
54.0 47.0 101.0
Count

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df (2-sided) sided) sided)

Pearson Chi-Square 8.293a 1 .004

Continuity Correctionb 7.122 1 .008

Likelihood Ratio 8.562 1 .003

Fisher's Exact Test .006 .003

Linear-by-Linear Association 8.211 1 .004

N of Valid Casesb 101

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 15.82.

Risk Estimate

95% Confidence Interval

Value Lower Upper

Odds Ratio for Aktivitas


Kognitif Responden (rendah / 3.640 1.477 8.973
tinggi)

For cohort Skor Demensia =


1.699 1.209 2.387
demensia

For cohort Skor Demensia =


.467 .257 .849
tidak demensia

N of Valid Cases 101


59

Lampiran 3 Surat Perizinan


60

Lampiran 4 Riwayat Penulis

1. Identitas :

Nama : Dian Fithria Hidayaty

Jenis Kelamin : Perempuan

Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 21 Mei 1992

Agama : Islam

Alamat : Jalan Arteri Pos Pengumben Rt 005 Rw 08 No. 9


Sukabumi Selatan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat,
11560

E-mail : dr_dianfithria@yahoo.com

2. Riwayat Pendidikan :
1997 – 2003 : Sekolah Dasar Islam Al-Falah II pagi
2003 – 2006 : Madrasah Tsanawiyyah Al-Falah
2006 – 2009 : Sekolah Menengah Atas Negeri 78 Jakarta
2009– Sekarang : Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas
Kedokteran Dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.