Anda di halaman 1dari 11

PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK (TAK)

STIMULASI PERSEPSI : HALUSINASI


DI WISMA MATSWAPATI RSJ.Prof.Dr.SOEROJO MAGELANG
Disusun untuk memenuhi tugas praktik keperawatan jiwa

Oleh :
TRIO RAHADI WICAKSANA
070116B067

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS NGUDI WALUYO
UNGARAN
2017
TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK

Topik : Terapi Aktivitas Kelompok Sensori Persepsi


Sub Topic : Mengenal Halusinasi
Sasaran : Pasien Dengan Haslusinasi
Tempat : Wisma Matswapati RSJ Prof.Dr.Soerojo Magelang
Waktu : 30 menit

A. Tujuan
1. Tujuan Instruksional Umum
Klien dapat mengontrol halusinasinya.
2. Tujuan Instruksional Khusus
a. Klien mampu menceritakan halusinasi sesuai dengan ( Isi halusinasi,
jenis, frekuensi, durasi, waktu halusinasi muncul ).
b. Klien mampu menanggapi peserta TAK yang lain.
c. Klien mampu menceritakan perasaannya mengenai halusinasi.

B. Latar Belakang
Dalam kehidupan nyata pada dasarnya manusia menyadari bahwa
perilakunya akan menimbulkan akibat timbal balik. Dibandingkan makhluk
lain manusia mampu berfikir dan meningkatkan sifat adaptif dengan cara-cara
yang masuk akal. Maka manusia normal merupakan manusia yang memiliki
kesadaran diri, merenungkan masa lalu, masa depan, kehidupan, kematian
serta manusia yang memiliki rasa moral, dalam artian manusia adalah
makhluk yang beretika. Manusia adalah makhluk yang berbudaya dan
bermasyarakat.
Gangguan jiwa adalah gangguan yang ditandai oleh terganggunya pikiran,
perasaan, atau tingkah laku. Gangguan tersebut menimbulkan penderitaan dan
terganggunya fungsi sehari-hari (personal, social, pekerjaan) baik bagi
penderitanya maupun maupun lingkungan. Gangguan jiwa dapat mengenai
siapa saja, tanpa mengenal umur, ras, agama, maupun status sosial ekonomi.
Gangguan jiwa bukan disebabkan oleh kelemahan pribadi maupun lemah
iman. Banyak masyarakat yang belum mengerti konsep sehat jiwa dan
gangguan jiwa, sehingga muncul kepercayaan atau mitos yang salah. Pada
akhirnya timbulah stigma negative kepada penderita gangguan jiwa, yang
memperburuk keadaan dan proses pemulihan dari penderitanya.
Terapi modalitas merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengisi
waktu luang dan menambah wawasan. Jenis terapi modalitas meliputi :
Psikodrama, Terapi Aktifitas Kelompok, Terapi music, Terapi berkebun,
Terapi dengan Binatang, Terapi Okupasi, Terapi Kognitif.
Terapi aktivitas kelompok merupakan salah satu terapi modalitas yang
dilakukan perawat kepada sekelompok klien yang memepunyai masalah
keperawatan yang sama. Aktivitas digunakan sebagai terapi, dan kelompok
digunakan sebagai target asuhan. Dimana kelompok adalah kumpulan
individu yang memiliki hubungan satu dengan yang lain, saling bergantung
dan mempunyai norma yang sama (Stuart dan Laraia, 2001). Anggota
kelompok mungkin datang dari berbagai latar belakang yang harus ditangani
sesuai dengan keadaannya, seperti agresif, takut, kebencian, kompetitif,
kesamaan, kesukaan, dan menarik. ( Yalom, 1995 dalam Stuart dan Laraia,
2001).
Terapi aktivitas kelompok di Wisma Matswapati RSJ Prof.Dr.Soerojo
Magelang ditujukan kepada pasien dengan halusinasi. Dari 14 pasien yang
berada di Wisma Matswapati yang mengalami halusinasi saat ini berjumlah 8
orang pasien.

C. Seleksi Pasien
1. Kondisi pasien kooperatif
2. Klien perubahan persepsi : halusinasi
3. Jumlah pasien 4 orang
4. Pasien yang bersedia untuk TAK
5. Proses seleksi dilakukan sehari sebelum pelaksaan
a. Berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan
b. Berdasarkan observasi perilaku sehari-hari klien yang di kelola oleh
perawat
c. Melakukan kontrak pada klien untuk mengikuti kegiatan TAK yang
akan dilakukan
d. Menetapkan bersama klien dan perawat untuk topik, tempat, waktu
kegiatan

D. Jadwal Kegiatan
1. Tempat Pelaksanaan TAK
Dilakukan di ruang aktivitas Wisma Matswapati
2. Lama Pelaksanaan TAK
Waktu yang dibutuhkan 30 menit
3. Waktu Pelaksanaan
Kamis, 24 agustus 2017

E. Jumlah peserta
Jumlah peserta :4
1. Tn. J
2. Tn. I
3. Tn. M
4. Tn. S

F. Metode
1. Diskusi

G. Media dan Alat


1. Kertas
2. Bolpoint
H. Pengorganisasian
1. Leader (Trio Rahadi Wicaksana)
a. Menjelaskan tujuan dan peraturan sebelum kegiatan dimulai.
b. Mampu memotivasi anggota untuk aktif dalam kelompok dan
memperkenalkan dirinya.
c. Mampu memimpin terapi aktifitas kelompok dengan baik dan tertib.
d. Menjelaskan permainan.
2. Co Leader (Bambang Sugiarto)
a. Menyampaikan informasi dari fasilitator ke leader tentang aktifitas
pasien.
b. Mengingatkan leader jika kegiatan menyimpang.
c. Mengatur alur permainan.
3. Fasilitator (Ardhi, Dwi Oka, dan Dimas)
a. Memfasilitasi pasien yang kurang aktif.
b. Berperan sebagai role play bagi pasien selama kegiatan.
4. Observer (Baiq Dewi)
a. Mengobservasi jalannya proses kegiatan.
b. Mencatat perilaku verbal dan non verbal pasien selama kegiatan
berlangsung.
I. Setting
1. Terapis dan klien duduk bersama dalam lingkungan.
2. Ruangan nyaman dan tenang.

Keterangan :

= Leader

= Co Leader

= Fasilitator

= Observer

= Pasien
J. Program Antisipasi
1. Penanganan pasien yang tidak aktif saat aktifitas kelompok.
a. Memanggil nama pasien.
b. Memberi kesempatan kepada pasien tersebut untuk menjawab sapaan
perawat atau pasien yang lain.
2. Bila pasien meninggalkan permainan tanpa pamit:
a. Panggi nama pasien.
b. Tanya alasan pasien meninggalkan permainan.
c. Berikan penjelasan tentang tujuan permainan dan beritahukan kepada
pasien bahwa pasien dapat melaksanakan keperluannya, setelah itu
pasien diperbolehkan kembali lagi.
3. Bila ada pasien lain ingin ikut:
a. Berikan penjelasan bahwa permainan ini ditujukan pada pasien
tertentu.
b. Katakan pada pasien lain bahwa ada permainan lain yang mungkin
dapat diikuti oleh pasien tersebut.
c. Jika pasien memaksa, beri kesempatan untuk masuk dengan tidak
member peran pada permainan tersebut.

K. Langkah Kegiatan
1. Persiapan
a. Membuat kontrak dengan klien yang sesuai dengan indikasi : pasien
halusinasi.
b. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan.

2. Orientasi
a. Salam terapeutik
1. Salam dari terapis kepada klien.
2. Terapis memperkenalkan diri.
b. Evaluasi atau validasi
Menanyakan perasaan klien saat ini, menanyakan TAK yang dilakukan
kemarin.
c. Kontrak
1) Terapis menjelaskan topic TAK, waktu dan tempat pelaksanaan
TAK, tujuan TAK. Klien dapat mengenal halusinasinya.
2) Terapis menjelaskan atauran main TAK :
a. Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus minta
izin kepada terapis.
b. Klien harus berkonsentrasi.
c. Setiap klien mengikuti kegiatan TAK dari awal sampai selesai.

3. Tahap Kerja
a. Terapis mengajak klien untuk saling memperkenalkan diri (nama
lengkap dan nama panggilan).
b. Setiap kali klien selesai memperkenalkan diri, terapis memberikan
reinforcement seperti tepuk tangan.
c. Terapis meminta anggota kelompok bercerita secara bergiliran tentang
halusinasinya dari mulai isi, jenis, waktu, frekuensi, respon dan semua
akan mendengarkan, dan bergantian untuk bercerita.
d. Setiap kali klien menceritakan halusinasinya, minta peserta lain untuk
menanggapinya.
e. Terapis menyimpulkan TAK nya.

4. Tahap Terminasi
a. Evaluasi
1. Evaluasi Subjektif
Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK.
2. Evaluasi Obyektif
Terapis mengobservasi mengenai kemampuan klien dalam
menceritakan halusinasi.
b. Tindak Lanjut
Terapis menganjurkan klien untuk dapat mengontrol halusinasinya dan
memasukkan ke jadwal kegiatan harian.
c. Kontrak yang akan datang
1. Menyepakati topik yang akan datang.
2. Menyepakati mengenai waktu, tempat.

L. Evaluasi dan Dokumentasi


1. Evaluasi
Evaluasi dilakukan saat proses TAK khususnya pada tahap kerja.
Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan
TAK. Untuk TAK stimulasi sensori persepsi, kemampuan klien yang
diharapkan adalah mengikuti kegiatan, respon terhadap cerita teman, dan
perasaan disaat mengontrol halusinasi.
FORMULIR YANG DI EVALUASI
TAK Stimulasi Persepsi Sensori ( Halusinasi )
Kemampuan Personal/Halusinasi

Menyebut Menyebut Menyebutkan


Menyebut Menyebut frekuensi saat
Nama waktu situasi
No isi perasaan saat berhalusinasi
Klien terjadi Halusinasi
halusinasi berhalusinasi
Halusinasi muncul

1.
2.

3.
4.

5.

6.

7.

8.

Petunjuk :
a. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama.
b. Untuk setiap klien beri penilaian kemampuan mengenal halusinasi : isi,
waktu, situasi, dan perasaan saat halusinasi muncul. Beri tanda √ jika klien
mampu dan perhatikan tanda x jika klien tidak mampu.

2. Dokumentasi
Dokumentasi kemampuan yang dimiliki klien saat TAK pada catatan
proses keperawatan setiap klien. Anjurkan klien mengidentifikasi
halusinasi yang timbul dan menyampaikan kepada perawat.
M. Daftar Pustaka
Keliat, Budi Anna. (2004). Keperawatan jiwa : terapi aktivitas kelompok
Jakarta : EGC
Keliat. A.B. 2011. Keperawatan jiwa komunitas. Jakarta : EGC
Anonim.2010. Persepi dan Sensori. Jakarta : EGC