Anda di halaman 1dari 9

Ridwan Kamil dan

Tantangan Ekonomi
Kerakyatan
Pasar sejatinya merupakan salah satu kutub
ekonomi masyarakat dengan medan magnet
berupa reaksi penawaran dan permintaan.

Analogi sederhana ini menunjukkan bagaimana pasar


berpengaruh cukup besar pada berbagai aspek kehidupan
masyarakat, terutama dalam upaya pemenuhan kebutuhan
melalui konsumsi, dan pengangkatan kesejahteraan dengan
adanya rotasi/perputaran uang. Meski pasar telah menjadi salah
satu penopang kehidupan masyarakat, akan tetapi keberadaannya
lambat laun mulai ditinggalkan. Kemunculan pasar modern yang
diokupasi oleh perusahaan, lantas menyingkirkan peran pasar
umum (tradisional) oleh karena kekurangannya yang dimiliki. Ya,
manajemen pasar oleh perusahaan mampu memberikan
kenyamanan bagi pengunjung daripada sekedarberinteraksi
dengan tujuan ekonomi.

Dari tahun ke tahun, perkembangan pasar modern di Indonesia


terus mengalami peningkatan. Jumlah pasar modern di Indonesia
mencapai 23.000 unit dengan rincian 14.000 unit minimarket
dan 9.000 unit supermaket. Sedangkan jumlah pasar tradisional
di Indonesia adalah sebanyak 13.450 unit dengan sekitar 12,6 juta
pedagang kecil. Berdasarkan hasil studi AC Nielsen tahun 2007,
jumlah pasar modern di Indonesia tumbuh sebesar 31,4% per
tahun. Berbanding terbalik, pasar tradisional justru terus
mengalami penyusutan sebesar 8% per tahun. Apabila keadaan
tersebut terus dibiarkan, lama-kelamaan pasar tradisional akan
tenggalam, ribuan bahkan jutaan pedagang kecil akan kehilangan
mata pencahariannya.

Komparasi antara pasar dan toko modern di Cicaheum, Bandung


Revitalisasi: Solusi
Tunggal Pemerataan
Kesempatan Berekonomi
antara Pasar dan
Korporasi?

R idwan Kamil selaku Walikota Bandung telah memasukkan

gagasan untuk meningkatkan ekonomi lokal/UMKM ke dalam


visinya. Sebagai walikota terpilih, RK berkewajiban untuk
melaksanakan mekanisme revitalisasi pasar sebagai perwujudan
visi yang dicanangkan tersebut. Revitalisasi pasar ini ditujukan
untuk menyamakan kedudukan antara pasar tradisional di region
Kota Bandung untuk memiliki kondisi yang setara dengan toko
(terutama yang berjejaring) modern.

Ridwan Kamil melalui PD Pasar Bermartabat (BUMD Kota


Bandung) berusaha mengonversi iklim interaksi di pasar supaya
tidak hanya bermotif ekonomi, tetapi juga interaksi sosial positif.
Penambahan fasilitas berupa kafe dan foodcourt dipastikan akan
menciptakan suasana baru, dimana pengunjung bisa betah untuk
berlama-lama di pasar yang kini sekaligus menjelma sebagai
tempat nongkrong. Nantinya, PD Pasar akan menyediakan lapak
bagi pedagang tetap, serta menambah lapak bagi pedagang baru.
Kedua pedagang ini nantinya akan menempati petak-petak lapak
yang telah ditentukan, tanpa adanya pembedaan. Adanya akses
internet melalui WiFi gratis juga dipastikan dapat
mendigitalisasikan pasar supaya pemerintah dapat memantau
ketersediaan stok bahan pangan, juga memanjakan masyarakat
yang kini mulai didominasi generasi muda. Apalagi melalui
redesain bentuk bangunan fisik pasar yang lebih ergonomis, maka
minat masyarakat agar berbelanja di pasar bisa meningkat.

Kota Bandung tercatat memiliki 40 pasar tradisional. Diantara 40


pasar tersebut, 27 diantaranya terkendala teknis berupa tidak
adanya sertifikat hak milik atas PD Pasar. Oleh karena tidak
adanya sertifikat kepemilikan yang jelas, kedua puluh tujuh pasar
tersebut terhambat proses pemindahannya secara administratif
yang turut berdampak pada kemajuan proses revitalisasi.
Beberapa pasar — seperti pasar Sarijadi, telah dilakukan
revitalisasi sehingga dampak dari kebijakan ini dapat dipantau
dalam beberapa waktu mendatang.

Akan tetapi, upaya pemerintah kota Bandung tidak cukup hanya


dengan melakukan revitalisasi di pasar tradisional.
Restrukturisasi dan reorganisasi PD Pasar juga perlu dilakukan
untuk menangani pegawai negeri inkompeten dan terindikasi
melakukan praktek KKN. Seperti pada kasus terbaru di badan PD
Pasar, ditemukan adanya tindak pidana korupsi yang merugikan
pihak pedagang pasar. Total korupsi sebesar Rp. 1,6 miliar berasal
dari pungutan biaya perpanjangan izin penggunaan kios di 27
pasar atau sekitar 17 ribu kios pedagang. Pengadaan Surat
Penempatan Tempat Berusaha (SPTB) yang harusnya dikenai
tarif sebesar Rp. 22 ribu nyatanya digelembungkan oleh oknum
internal BUMD tersebut hingga Rp. 120 ribu. Belum lagi bea balik
nama yang dikenakan hingga tiga kali lipat dari semula Rp. 400
ribu. Pihak yang dirugikan? Tentu para pedagang.

KEIN Tawarkan Ekonomi Kerakyatan 2.0 Bagi


Industri Kreatif
Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance

Share 0 Tweet Share 0 0 komentar


Foto: Dok. Istimewa

Jakarta - Bekraf mengadakan preparatory meeting untuk persiapan menjelang World


Conference on Creative Economy (WCCE) yang dilaksanakan di Bandung pada 4-7
Desember 2017 yang lalu. Dalam kesempatan tersebut, KEIN yang diwakili oleh Irfan
Wahid sebagai Ketua Kelompok Kerja Industri Kreatif ikut mengambil bagian dan
menjadi salah satu pembicara di sesi panel preparatory meeting tersebut.

Irfan Wahid, yang lebih akrab disapa Ipang Wahid, dalam presentasinya menawarkan
usulan menarik yang selanjutnya dikenal dengan konsep ekonomi kerakyatan 2.0.
Percepatan pertumbuhan industri kreatif membutuhkan trajectory (lintasan) yang baru
untuk memastikan industri kreatif tumbuh lebih besar dari yang diharapkan.

"Optimisme ini berlandaskan pada fakta bahwa masih banyak potensi-potensi


perekonomian Indonesia yang selama ini belum digali," kata Irfan kepada detikFinance,
Kamis (14/12/2017).

Ekonomi kerakyatan 2.0 berlandaskan pada nilai dasar dari bangsa Indonesia yaitu
gotong royong yang mengutamakan kolaborasi. Menurut Irfan Wahid, industri kreatif
tidak bisa berjalan sendiri, ada beberapa industri yang sangat erat hubungannya
dengan industri ini di antaranya adalah industri pariwisata dan industri pedesaan.

Kedua industri ini pada satu sisi membutuhkan "sentuhan" kreatif dari para pelaku
industri kreatif, sedangkan di sisi lain industri kreatif masih membutuhkan pasar yang
baru untuk berkembang. Berkolaborasinya ketiga industri tersebut secara otomatis akan
membuat UMKM menjadi tulang punggungnya (99.9% pelaku usaha di Indonesia
berbentuk UMKM), sehingga akan membuat ketiga industri tersebut tumbuh semakin
cepat.

Selanjutnya, Irfan Wahid menjelaskan bahwa butuh sebuah pull factor (faktor penarik)
yang akan berperan sebagai lokomotif yang akan ikut menarik "gerbong" ketiga industri
tersebut untuk tumbuh bersama. Irfan memberi contoh bahwa yang berpotensi menjadi
salah satu pull factor adalah budaya Indonesia.

Hal ini dikarenakan dengan 1.340 suku bangsa, 1.211 bahasa, dan 16.056 pulau
menjadikan kebudayaan Indonesia menjadi salah satu yang paling kaya di dunia.
Contoh negara yang berhasil menerapkan ini adalah Korea Selatan. Korea Selatan
menggunakan pendekatan Korean Wave/Hallyu sebagai pull factor yang akhirnya
menghasilkan K-Pop yang mendunia. (hns/hns)

Bandung Bangkitkan Ekonomi


Rakyat Berbasis Pariwisata
By
Endy Poerwanto
-
Feb 12, 2015
0
505

Share on Facebook
Tweet on Twitter

CHIANG RAI, BISNISWISATA.CO.ID: Walikota Bandung Ridwan Kamil terus


mengembangkan Ekonomi Kerakyatan Kreatif. Salah satunya membangkitkan
ekonomi masyarakat dengan berbasis pariwisata. Gagasannya membuat sebuah
area yang dikonversi . Yang semula merupakan area yang kurang bermanfaat,
dibuat menjadi sebuah Kebun Bunga.

“Kota Bandung adalah kota wisata dengan kunjungan wisatawan sebanyak


enam juta turis pertahun. Namun banyak masyarakat hidup di bawah
kesejahteraan. Dengan adanya kebun bunga yang multi destinasi, membuat
masyarakat di sekitarnya akan berkembang dari sisi perekonomian dan
kesejahteraannya,” paparnya di sela-sela kunjungannya ke Chiang Rai,
Thailand, Kamis (12/2). Kunjungan ini, untuk studi banding rencana
pembangunan kebun bunga terpadu di Bandung.
Diungkapkan Kang Emil, sapaan akrab Ridwan kamil, Perkebunan Bunga multi
destinasi ini akan dibangun di Bandung Timur, Bandung Utara, Bandung Selatan
dan Bandung Barat. Masing-masing satu Perkebunan Bunga Terpadu. ‘’Yang
akan kita kerjakan adalah sepuluh hektar dulu di Bandung Timur,’’ ungkapnya
seperti dilansir laman Republika.co.id

Sesaat usai meninjau Mae Fah Luang Garden di Doi Tung, Chaing Rai, Walikota
Ridwan Kamil langsung melakukan pertemuan internal dengan sejumlah kepala
dinas dan anggota dewan serta tim teknis, mematangkan rencana pembuatan
kebun bunga ini di Bandung. ‘’Targetnya adalah dalam enam bulan ke depan
atau bulan Agustus, sudah bisa dilakukan Ground Breaking,’’ tegas Kang Emil.

Dikatakan, lahan yang akan dibangun perkebunan dan Taman Bunga terpadu
itu merupakan lahan milik TNI, melalui Yon Zipur 9. Dengan kehadiran kebun
bunga di tempat itu, tentunya masyarakat sekitar akan berkembang secara
ekonomi dan kesejahteraan. ‘’Pergeseran pusat ekonomi yang kini banyak di
tengah, kita arahkan ke Bandung Timur,’’ tandas Kang Emil yang menurutnya
sudah mendapat restu dari KSAD.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, Herlan JS


menambahkan kehadiran Kebun Bunga akan menambah destinasi wisata di
Kota Bandung. “Bandung khan identik dengan Kota Kembang. Tapi selain di
Cihideung, belum ada tempat yang benar-benar menjadi ciri khas atau identitas
sebagai Kota kembang,” tandasnya.