Anda di halaman 1dari 16

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menyatakan kebijakan pembangunan kewilayahan di Jawa Barat

berdasarkan pada potensi, kegiatan produksi, dan aglomerasi pusat pemukiman. Adapun skenario
pengembangan wilayah yakni mencapai target penataan ruang dan pengembangan ekonomi.

Untuk itu wilayah pengembangan Jawa Barat ditetapkan dalam 6 kawasan, yakni Bodebekpunjur (Bogor,
Depok, Bekasi, Puncak, Cianjur) dan sekitarnya, Purwasuka (Purwakarta-Subang-Karawang), Cekungan
Bandung, Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan), Priangan timur-
Pangandaran, serta Sukabumi dan sekitarnya.

Rencana pola ruang di Jawa Barat, Heryawan membaginya dalam beberapa kawasan yakni kawasan
lindung, kawasan budidaya, kawasan industri, kawasan wisata dan kawasan strategis. Untuk kawasan
lindung, Pemprov Jabar menetapkan 45 persen dari luas wilayah sebagai kawasan lindung.

Ada 4 kabupaten yang memiliki kawasan lindung terluas, yakni Garut (78,7 persen), Bandung (60,5
persen), Cianjur (59,6 persen) dan Bandung Barat (59,2 persen). “Kebijakan kami yakni mempertahankan
kawasan resapan air dan mengendalikan pemanfatan ruang,” kata Heryawan di Gedung Negara Pakuan,
Selasa 16 Maret 2010.

Berdasarkan pada Undang-Undang No.26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, disebutkan bahwa
Kawasan Strategis yakni kawasan yang memiliki nilai strategis sehingga penataan ruangnya harus
menjadi prioritas. Ada sejumlah alasan kenapa sebuah kawasan disebut sebagai strategis, yakni untuk
kepentingan pertahanan keamanan, penunjang pertumbuhan ekonomi, kegiatan sosial budaya,
pendayagunaan sumberdaya alam, kepetingan untuk menjaga fungsi dan daya dukung lingkungan.
Menurut Heryawan ke depan, pengembangan kawasan industri baru akan diarahkan di wilayah Jawa
Barat bagian timur, yakni wilayah pengembangan Ciayumajakuning. Sedangkan untuk pengembangan
industri wisata atau parawisata akan dilakukan beberapa zona; zona utara untuk wisata agro-industri-
budaya pesisir, zona tengah untuk wisata alam-kota-pendidikan-kerajinan-budaya dan zona selatan untuk
ekowisata dan wisata pantai.

“Sehingga dengan itu akan tumbuh berkembang ciri khas masing-masing wilayah yang menjadi daya
tarik minat turis datang ke sebuah wilayah,” ujar Heryawan.

Awal 2017, Pertumbuhan Ekonomi


Jabar di Atas Nasional
Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Republika/Yogi Ardhi
Gedung Sate Bandung

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Provinsi Jabar, memberikan andil cukup besar untuk


menjaga pertumbuhan ekonomi dan tingkat harga pada level nasional. Karena, Jawa Barat
menjadi sebagai salah satu provinsi yang mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Menurut Deputi Gubernur Bank Indonesia Erwin Rijanto, kinerja pertumbuhan ekonomi Jawa
Barat pada Tw-I 2017 pun menunjukkan prestasi yang membanggakan. Yakni, kinerja ekonomi
di atas nasional, mencatatkan angka pertumbuhan PDRB sebesar 5,24 persen.

"Provinsi Jabar berkinerja Terbaik” secara nasional utamanya di dalam aspek tata kelola yang
government," ujar Erwin dalam acara Serah Terima Jabatan Kepala Perwakilan Bank Indonesia
Provinsi Jawa Barat di KpWi BI Jawa Barat, Senin petang (22/5).

Menurut Erwin, hal tersebut juga sejalan dengan prestasi cemerlang Jawa Barat yang secara
konsisten meraih penghargaan dua kali berturut-turut sebagai. Jawa Barat, dari sisi inflasi,
kenaikan tarif khususnya angkutan udara mendorong inflasi Jawa Barat ke angka 3,92 persen
(yoy) pada April 2017 dari 2,75 persen (yoy) pada akhir 2016.

Kondisi inflasi di Jawa Barat ini, kata dia, masih lebih rendah dibanding inflasi nasional, dimana
kondisi tersebut terbantu oleh deflasi volatile foods seiring masih berlangsungnya masa panen
raya sejumlah komoditas. Ke depan, pengendalian volatile foods perlu terus dijaga melalui
kontinuitas sinergi dan koordinasi yang solid antara Kantor Perwakilan Bank Indonesia dan
pemerintah daerah.

"Salah satu upaya yang dilakukan dengan memperkuat Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID),
"katanya.

Untuk mendorong akselerasi perekonomian Jawa Barat ke depan, kata dia, terdapat beberapa
potensi pengembangan yang dapat diprioritaskan. Yakni, meningkatkan efisiensi pertanian,
pariwisata, industri kreatif baik traditional maupun high value dan upgrading ke med-high tech
industri seperti otomotif, elektronika, mesin listrik dan petrokimia.

Hal ini, kata dia, sejalan dengan upaya mendorong pertumbuhan daerah yang berkualitas, dan
kontinuitas implementasi program pengembangan sektor riil melalui pengembangan komoditas
unggulan daerah dan fasilitasi pemberdayaan UMKM perlu terus dijaga. Ia berharap, tetap
terjalin sinergi antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan Bank Indonesia.

Ini Segudang Potensi di Jawa Barat yang


Menggiurkan bagi Investor Timur Tengah
6 Oktober, 2017 - 18:29

BANDUNG RAYA
Deddy Mizwar dan Alwi Shihab/HUMAS PEMPROV JABAR

Alwi Shihab selaku Utusan Khusus Presiden RI untuk Negara-Negara Timur Tengah dan Negara Anggota Organisasi Kerjasama Islam
(OKI) mencicipi teh Jawa Barat bersama Wakil Gubernur Deddy Mizwar.*

"THINK Investment, Think West Java," merupakan tema yang sangat tepat diangkat
pada 'West Java Investor Forum,' yang dihadiri jajaran Islamic Corporation for the
Development of the Private Sector (ICD), Islamic Development Bank (IDB), para
Pimpinan Group Businessman Forum "THIQAH", serta para Investor atau Calon
Investor dari sejumlah negara Timur Tengah, Negara- Negara Anggota OKI dan ASEAN,
untuk saling mengenal terkait peluang bisnis di Jawa Barat.
Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar menambahkan Jawa Barat merupakan surga
investasi di Indonesia. Pemprov pun memiliki visi besar kedepan untuk mewujudkan
Provinsi Jawa Barat sebagai lokasi penanaman modal terbaik di Asia Tenggara tahun
2025.
"Ada beragam faktor yang menjadikan Jawa Barat memiliki daya tarik yang begitu
memikat bagi para investor. Salah satunya yakni, Provinsi Jawa Barat memiliki potensi
Sumber Daya Manusia yang sangat besar, bahkan terbesar di Indonesia," katanya di
hadapan para peserta forum yang digelar di Aula Barat Gedung Sate, Jl. Diponegoro No.
22 Bandung, Jumat 6 September 2017.
Pada tahun pada tahun ini, jumlah penduduk Jawa Barat diproyeksikan telah mencapai
47,38 juta jiwa, dengan jumlah angkatan kerja sekitar 18,79 juta orang. Itulah sebabnya,
Jawa Barat memiliki pasar, atau 'Market Size' yang besar.
Jawa Barat memiliki kontribusi mencapai 13,08% terhadap GDP Indonesia atau
menduduki peringkat ketiga terbesar setelah DKI Jakarta dan Jawa Timur, bahkan pada
Sektor Manufaktur kontribusi Jawa Barat terhadap GDP mencapai 43,03%.
"Selain itu, Jawa Barat juga menjadi salah satu dari dua Provinsi di Pulau Jawa yang
mampu mencatatkan trend kinerja ekonomi yang positif pada triwulan II 2017, dimana
perekonomian Jawa Barat tumbuh sebesar 5,29% atau berada di atas LPE nasional
sebesar 5,01%, diiringi dengan inflasi yang terkendali yaitu sebesar 4,31%," paparnya.
Adapun, peningkatan pertumbuhan ekonomi Jawa Barat ditopang oleh tiga sektor
utama, yaitu sektor manufaktur dengan kontribusi mencapai 42%, diikuti sektor
Perdagangan, dan Agrikultur.
Terkait dengan investasi di Jawa Barat, Deddy menginformasikan bahwa sampai
dengan Semester I Tahun 2017, Jawa Barat masih menjadi provinsi tujuan Penanaman
Modal Asing (PMA) terbesar pertama di Indonesia, dengan nilai investasi sebesar 33,21
Triliun Rupiah atau sekitar 2,49 Miliar US Dolar, sekaligus menjadi provinsi tujuan
Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) terbesar kedua di Indonesia, dengan nilai
investasi sebesar 20,89 Triliun Rupiah atau sekitar 1,57 Miliar US Dolar.
Dengan demikian, sebut Deddy, total realisasi investasi PMA dan PMDN di Jawa Barat
pada Semester I Tahun 2017 sebesar 54,11 Triliun Rupiah atau sekitar 4,06 Miliar US
Dolar, dengan jumlah proyek sebanyak 4.018 proyek LKPM dan penyerapan tenaga
kerja sebanyak 101.452 orang.
Sebagai perbandingan, pada tahun 2016 total realisasi investasi PMA dan PMDN Wajib
LKPM di Jawa Barat sebesar 105,34 Triliun Rupiah, dengan jumlah proyek sebanyak
7.192 proyek LKPM dan penyerapan tenaga kerja sebanyak 367.228 orang.
Selanjutnya Deddy menyebutkan pula bahwa sampai dengan Semester I Tahun 2017,
peringkat lima besar Kabupaten/Kota yang paling diminati oleh para investor PMA
yaitu Kabupaten Karawang sebesar 41,71%, Kabupaten Bekasi sebesar 32,69%,
Kabupaten Bogor sebesar 6,23%, Kabupaten Cirebon sebesar 3,69%, dan Kab.
Purwakarta sebesar 3,52%.
Sedangkan untuk PMDN Kabupaten/Kota yang paling diminati yaitu Kota Bogor
sebesar 21,91%, Kabupaten Karawang sebesar 21,36%, Kabupaten Bekasi sebesar
16,24%, Kab. Sumedang sebesar 10,53%, dan Kabupaten Bandung sebesar 5,67%.
Menurut Sektor Usahanya, investasi asing di Jawa Barat paling besar ditanamkan pada
sektor Industri Kendaraan Bermotor dan Alat Transportasi lain dengan rasio 34,45%,
Industri Logam, Mesin dan Elektronika sebesar 13,51%, Industri Kimia dan Farmasi
sebesar 7,43%, Industri Karet dan Plastik sebesar 7,31%, serta Industri Mineral Non
Logam sebesar 6,14%.
Sementara itu, investasi dalam negeri Wajib LKPM di Jawa Barat paling banyak
ditanamkan pada sektor Industri Kertas dan Percetakan dengan rasio 20,68%,
Transportasi, Gudang dan Komunikasi sebesar 19,83%, Industri Tekstil sebesar 12,05%,
Perumahan, Kawasan Industri dan Perkantoran sebesar 10,40%, serta Industri
Makanan sebesar 8,10%.
"Sejauh ini, jumlah investasi dari negara-negara Timur Tengah di Jawa Barat masih
terbilang rendah. Sepuluh negara dengan investasi terbesar di Jawa Barat, diduduki
oleh Jepang, Singapura, Belanda, Taiwan, Hongkong, Perancis dan British Virgins
Island. Menyusul kemudian Malaysia, Korea Selatan dan Tiongkok," Sebut Deddy.
"Oleh sebab itu, melalui ajang West Java Investor Forum hari ini, kami mengundang
para investor dari negara-negara Timur Tengah, Negara-Negara ASEAN dan Anggota
OKI lainnya, untuk menjadi bagian dari pelaku bisnis di Jawa Barat, mulai dari
manufaktur, konstruksi, pertanian hingga pariwisata," ajaknya.
Tak sampai disitu, Deddy juga menyebutkan terdapat sejumlah peluang investasi utama
di Jawa Barat yang dapat dielaborasi pada ajang ini, seperti: Proyek pengembangan
jalur kereta api LRT Bandung Metropolitan Area dan jalur kereta api Tanjungsari-
Kertajati-Arjawinangun, Proyek pembangunan pelabuhan internasional Patimban dan
Indonesia Halal Hub Logistik, Proyek pengembangan Bandara Internasional Jawa Barat
(BIJB Kertajati) dan Bandara Nusawiru di Pangandaran.
Ada pula pengembangan kawasan Industri yang berada di daerah Depok, Bekasi dan
Karawang, Proyek pengembangan Legok Nangka Solid Waste Treatment and Disposal,
Sistem penyediaan air bersih kawasan Cirebon Raya, proyek Pembangkit Listrik Tenaga
Air Mini (PTLM) Cikembang, serta Kawasan Wisata (Hotel, Restoran dan fasilitas
pendukung lainnya) di kawasan Geopark Ciletuh-Palabuhanratu.
Sejalan dengan kebijakan Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat
juga memiliki komitmen yang kuat untuk menghadirkan kemudahan usaha dan terus
mendorong terpeliharanya iklim usaha yang kondusif di Jawa Barat, sehingga
diharapkan dapat memperluas kesempatan kerja dan mendorong percepatan
pertumbuhan ekonomi inklusif yang lebih merata.
"Hal ini antara lain kami upayakan melaui inovasi penerapan 3-Hours Investment
Licensing Service, dimana investor dapat memperoleh ijin pembangunan proyek
investasi di kawasan industri dalam waktu 3 jam, penguatan daya dukung infrastruktur,
ketersediaan energi, kepastian waktu dan biaya, menghilangkan hambatan usaha, serta
dukungan lainnya untuk meningkatkan investasi di Jawa Barat," katanya.
Adapun di sektor pariwisata, selain Pantai Pangandaran yang sudah dikenal, Jawa Barat
juga masih memiliki garis pantai yang membentang sepanjang 400 km di wilayah
selatan Jawa Barat, yang keindahannya tidak kalah dengan pantai-pantai di Bali.
Bahkan, di kawasan Geopark Ciletuh-Palabuhanratu tidak lama lagi akan ditetapkan
menjadi UNESCO Global Geopark. Disini terdapat pantai-pantai yang indah dengan
kualitas ombak kelas dunia yang menjadi primadona bagi peselancar dalam dan luar
negeri.
"Semoga rangkaian kegiatan West Java Investor Forum yang terdiri atas 3 (tiga) bagian
besar, yaitu Business Forum, Business Matching, dan Site Visit ke lokasi proyek
investasi dapat berjalan lancar, dapat memberikan gambaran bagi para Investor terkait
dengan peluang investasi di Jawa Barat, serta menjadi pintu masuk untuk
meningkatkan penanaman modal di Jawa Barat," harapnya.
Alwi Shihab, selaku Utusan Khusus Presiden RI untuk Negara-Negara Timur Tengah
dan Negara Anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI), mengatakan bahwa Pemerintah
Provinsi Jawa Barat sangat membantu, dalam memfasilitasi semua apa yang diinginkan
investor. Ia pun berharap forum ini bisa menjadi jembatan untuk bisa mengetahui lebih
lanjut, karena Jawa Barat adalah tempat investasi yang baik.
Alwi pun menyebutkan, bahwa IDB selaku lembaga keuangan internasional memiliki
anggaran USD 5 miliar untuk diinvestasikan. Anggaran tersebut juga berpeluang untuk
digunakan di beberapa proyek strategis di Jawa Barat.
Dia menekankan, negara-negara di Timur Tengah cukup tertarik untuk berinvestasi di
Jawa Barat. Alwi mengungkapkan bahwa dari segi budaya, hingga potensi sumber daya
alamnya, menjadi keunggulan tersendiri.
"Jabar adalah tempat yang mereka minati dari kultur, lebih dekat ke jiwa orang Timur
Tengah, ketimbang investasi di Bali. Ini keunggulan harus ditunjukan," tambah Alwi.
"Sekarang kita bersama-bersama Pemda memberi penjelasan apa saja yang menjadi
prioritas dan diberikan pada investor, dalam rangka memuluskan rencana mereka,"
imbuh Dia.
CEO Islamic Corporation for the Development Khaled Al Aboodi menuturkan bahwa
pertumbuhan ekonomi di Jawa Barat cukup menggairahkan. Dia sangat meyakini,
pengusaha asal Timur Tengah bisa menanamkan modalnya di sejumlah proyek di Jawa
Barat.
"Pertumbuhan ekonomi yang sedang terjadi di Jabar sangat bagus dalam investasi. Saya
pikir ini bisa dimanfaatkan oleh negara-negara di Timur Tengah untuk lebih berani
menanamkan investasi di Jawa Barat," pungkas Khaled.

Banyak Infrastruktur Perhubungan Strategis di Jawa Barat


Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan. Foto : ADE/Targetabloid.co.id
Rabu, 17 September 2014 | 23:09

0
Add
0
in Share
0
Bandung, targetabloid.co.id – Dalam rangka peringatan Hari Perhubungan Nasional, Pemprov Jawa
Barat melalui Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan memaparkan berbagai aset dan infrastruktur
perhubungan strategis di Jawa Barat seperti : Bandara Internasional Jawa Barat Kertajati, Kab.
Majalengka, Pelabuhan Internasional Cilamaya, Kab. Karawang, dan Pelabuhan Laut di Jabar
Selatan, Pangadaran dan Pelabuhan Ratu.
Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan mengakui, bahwa saat ini Jawa Barat mempunyai berbagai
proyek besar dalam rangka memajukan sarana transportasi seperti : Bandara Internasional Jawa
Barat Kertajati, dan Pelabuhan Internasional Cilamaya.
"Pembangunan BIJB, kini telah dilaksanakan kesepakatan bersama Kementerian Perhubungan RI
dengan Pemprov Jabar. Isi kesepakatan tersebut, memuat kesepakatan bersama tentang
penyelenggaraan bandara baru di Kabupaten Majalengka, proyek besar ini harus kita dukung
pembangunannya guna menopang perekonomian Jawa Barat," aku Ahmad Heryawan, Rabu
(17/09/2014).
Ahmad Heryawan menambahkan, Untuk pembangunan pelabuhan laut, Pemprov Jabar telah
bekerja sama dengan Kementerian Perhubungan dengan melakukan beberapa studi kelayakan dan
penggalangan investor. Sementara untuk pengembangan pelabuhan laut regional Pemprov Jabar
telah membuat studi kelayakan pelabuhan laut regional di wilayah Jabar bagian selatan, dan
penyusunan master plan pelabuhan laut.
"Kita sudah melakukan beberapa studi kelayakan dan membahas masalah investor dan
pengelolaannya. Pelabuhan laut regional di wilayah Jabar selatan yaitu di Pelabuhan ratu, Kabupaten
Sukabumi,” tambahnya.
Sedangkan untuk masalah aset perkeretaapian, Pemprov Jabar bersama Kementerian
Perhubungan sedang membangun shortcut dari Cibungur, Kab. Purwakarta ke Tanjung Rasa, Kab.
Subang sepanjang 10,4 KM yang direncanakan dapat beroperasi pada tahun 2016.

Bandara Adalah Kunci Kemajuan Geopark Cileutuh


21 September 2017 Admin 0 Comments Geopark Ciletuh, Iwa karniwa, Sukabumi

Terasjabar.co – Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengajukan dua lokasi untuk pembangunan bandara
baru di Sukabumi, sesuai permintaaan Kementerian Perhubungan RI. Seperti dilansir dari laman resmi
Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Bandara tersebut akan menjadi infrastruktur transportasi yang mendorong kegiatan perekonomian dan
pariwisata di Sukabumi.

Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Barat, Dedi Taufik, mengatakan dua lokasi untuk bandara
ini sebagai pengganti dari pengembangan bandara yang sebelumnya direncanakan didirikan di Citarate.

Bandara yang akan dikembangkan ini akan menunjang akomodasi kawasan Geopark Ciletuh dan
Palabuhanratu.
Dedi mengatakan awalnya Pemprov Jabar berharap Kementerian Perhubungan RI bisa
mengembangkan bandara di Citarate yang lokasinya dekat dengan kawasan Palabuhanratu. Namun
karena lokasinya dianggap terlalu jauh dari tempat-tempat strategis terutama Kota Sukabumi, Pemprov
Jabar disarankan mencari lokasi lain.

“Karena lokasi Citarate yang dianggap terlalu jauh, kami mengajukan dua lokasi baru, yaitu Cikembar
dan Warung Kiara. Surat pengajuannya segera dikirim,” kata Dedi di Bandung.

Dedi mengatakan dua lokasi tersebut memiliki kriteria yang sesuai dengan permintaan Kementerian
Perhubungan RI. Selama ini Jawa Barat bagian selatan didorong untuk memiliki bandara baru
mengingat potensi ekonomi dan pariwisata yang tinggi.

“Kementerian inginnya lokasi bandara di Jabar kawasan selatan ini juga mendekati ke Kota Sukabumi,
tidak lebih dari 30 kilometer. Kemudian untuk lahan di Warung Kiara, ada sekitar 200-400 hektare
yang harus dibebaskan karena statusnya Hak Guna Usaha,” tuturnya.

Dedi mengatakan dua lokasi yang diajukan juga memiliki hambatan karena di sekitarnya berdiri
sejumlah menara Sutet. Karenanya, proyek pembangunan bandara tersebut harus dikoordinasi juga
dengan Kementerian ESDM.
Untuk menyiasati keberadaan menara Sutet di sekitar dua lokasi ini, katanya, di antaranya dengan
hanya melakaukan satu arah penerbangan, baik lepas landas maupun mendarat, yakni dari arah selatan
dan utara.

Setelah kementerian memutuskan lahan yang akan didirikan menjadi bandara, katanya, langkah
selanjutnya adalah melakukan studi kelayakan dan penyusunan masterplan bandara. Dedi mengatakan
kementerian akan bergegas menetapkan lokasi sesuai keinginan Presiden Joko Widodo supaya bandara
di Sukabumi itu segera dibangun.

Sekda Jabar Iwa Karniwa mengatakan bandara yang representatif sangat dibutuhkan di Sukabumi
untuk mendongrak aktivitas kawasan wisata Geopark Ciletuh dan Pelabuhanratu.

“Kalau mau Geopark Ciletuh maju, mau tidak mau, harus ada bandara di sana,” katanya.

Iwa mengatakan Kementerian Perhubungan pun sebelumnya menyetujui rencana pembangunan


bandara di kawasan selatan Sukabumi untuk mendongkrak sektor pariwisata, terutama di Geopark
Ciletuh. “Bandara harus ada supaya bisa dipakai pesawat komersial, untuk terus mengembangkan
sektor pariwisata di sana,” ujarnya.
Iwa mengatakan kini semakin banyak warga lokal, termasuk wisatawan, yang memilih moda
transportasi udara karena dapat mengirit waktu perjalanan, dibandingkan jalur darat atau laut. Selain
itu, transportasi udara ini dapat menjadi penghubung antara Jawa Barat dengan negara-negara di dunia.

Iwa pun memastikan jika pemerintah hendak membangun bandara baru lagi di Sukabumi maka
pihaknya bersiap untuk mengucurkan anggaran untuk keperluan infrastruktur penunjang. “Dari
sekarang juga alokasi anggaran untuk kawasan Sukabumi sudah kita anggarkan terus,” katanya

Jabar Jantung Industri Nasional

Sumber: Koran Jakarta

BANDUNG – Pemerintahan baru perlu memperkuat potensi sektor industri di Jawa Barat (Jabar) karena
kontribusi Jabar dari sektor industri sangat besar. Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, Jabar merupakan
provinsi dengan jumlah industri terbanyak.

Dari 74 kawasan industri yang tersebar di Indonesia, 40 di antaranya berlokasi di Jabar. Dari sisi luasan wilayah,
dari 31.000 ha luas industri di Tanah Air, 23.000 ha di antaranya berada di Jabar.

“Jadi, bisa dibilang Jabar merupakan jantung industri nasional dengan mengendalikan lebih dari 50 persen
kontribusi sektor industri terhadap perekonomian nasional,” kata Ketua Kamar Dagang Industri (Kadin) Jabar,
Agung Suryamal Sutisno, di Bandung, akhir pekan kemarin.

Berkat sektor industri inilah, kata dia, Jabar menjadi penyumbang produk domestik bruto (PDB) ketiga terbesar
atau mencapai 14,07 persen setelah DKI Jakarta (16,40 persen) dan Jawa Timur (14,88 persen).

Kendati Jabar memegang kendali sektor industri nasional, tidak berarti provinsi ini telah terbebas dari ancaman
yang bisa melumpuhkan aktivitas industrinya. Salah satu masalah saat ini ialah soal infrastruktur yang memang
telah menjadi isu klasik. Namun, dengan daerah potensial seperti Jabar, pemerintah lebih sigap menciptakan
pembangunan. Hal itu dimaksudkan agar masalah tersebut tidak menjadi kendala bagi Jabar untuk terus
memberikan sumbangsih sektor industrinya bagi perekonomian nasional.
Agung meyebutkan bahwa masalah infrastruktur masih menjadi kendala utama di Jabar. Belum tersedianya
pelabuhan laut serta pelabuhan darat (bandara) sangat memengaruhi gerak distribusi produk dan komponen
pendukung dunia usaha.

Masalah itu kian lengkap jika menilik krisis pada sektor energi, sistem teknologi pada industri yang masih
didominasi oleh teknologi rendah, dan industri perakitan sehingga negara tujuan ekspor tidak mengalami
perubahan.

Hal lain ialah perkembangan industri penyedia barang antara sehingga kebergantungan pada impor (termasuk
impor bahan baku) dapat dikurangi (memperhatikan resistensi fluktuasi kurs).

Akibatnya, perkembangan sejumlah lapangan usaha di sektor industri pada awal tahun 2014 mengalami
penurunan. Misalnya, industri percetakan turun 10,8 persen, industi tekstil minus 8,3 persen, industri bahan
kimia dan barang dari bahan kimia turun 2,2 persen, industri peralatan listrik turun 2,2 persen, serta industri
barang galian bukan logam turun 2 persen.

“Persoalan-persoalan tersebut sangat serius. Kami berharap kepada presiden yang baru untuk memperkuat
industri di Jabar. Kami tidak menuntut yang lebih. Kami hanya meminta peran nyata pemerintah untuk mengatasi
masalah industri di Jabar demi optimalisasi kontribusi kami terhadap bangsa,” ungkapnya.

Perlu Proteksi

Sementara itu, Ketua Forum Ekonomi Jabar, Jajat Priatna Purwita, berpendapat liberalnya bea masuk berdampak
pada membanjirnya barang impor. Rata-rata tarif Indonesia hanya 6,6 persen. Hal ini sangat jauh jika
dibandingkan dengan Korea yang mencapai 12,1 persen, Brasil 13,7 persen, Tiongkok 9,1 persen, dan India 13
persen.

Selain itu, perlindungan industri dalam negeri mestinya diperkuat dengan mencegah ekspor barang mentah
melalui proses hilirisasi dan industri bernilai tambah. Ekspor barang mentah berdampak pada kian terbatasnya
pasokan bagi industri dalam negeri. “Pemerintah baru perlu memberikan proteksi terhadap industri dalam
negeri,” jelas dia.

Menanggapi hal itu, Menteri Perindustrian, MS Hidayat, mengatakan pemerintah telah mengimplementasikan
program pembangunan ekonomi di Jabar melalui restrukturisasi permesinan untuk industri tekstil, produk tekstil
dan alas kaki, serta memfasilitasi penyusunan Master Plan Pengembangan Wilayah Jabar Bagian Timur,
termasuk wilayah Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan), Sumedang, dan Ciamis.

1. Provinsi Jawa Barat menjadi provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia, yaitu
sebesar 45,5 juta orang atau sekitar 20% dari total penduduk nasional. Jumlah penduduk tersebut
didominasi oleh jumlah penduduk usia produktif sebesar 70% dari total penduduk di Jawa Barat
dengan kecenderungan yang terus meningkat.
2. Rata-rata pangsa Ekonomi Jawa Barat terhadap Ekonomi Nasional menempati posisi peringkat
tiga terbesar dengan porsi sebesar 13,4%.
3. Rata-rata Pertumbuhan Ekonomi Jawa Barat sejak tahun 2008 hingga tahun 2014 relatif stabil
sebesar 5,79% (yoy). Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Jawa Barat tahun 2015 diperkirakan
masih berada dibawah pola historisnya pada kisaran 4,8 – 5,2% (yoy).
4. Ekonomi Jawa Barat ditopang oleh 3 (tiga) sektor utama, yaitu Industri Pengolahan dengan
pangsa 44%, Perdagangan dengan pangsa 15% dan Pertanian dengan pangsa 9%.
5. Sementara itu, sejak tahun 2010 hingga triwulan III 2015, nilai investasi yang ditanamkan ke
Jawa Barat mengalami tren peningkatan hingga mengungguli nilai investasi DKI Jakarta dan
Jawa Timur.
6. Pada sisi eksternal, ekspor Jawa Barat didominasi oleh produk Tekstil (23%), Elektronik (19%),
Mesin (9%) dan Kimia (8%). Jenis produk yang diekspor sebagian besar merupakan produk low
tech (45%) & medium tech (40%). Adapun tujuan utama ekspor adalah ASEAN (20%), USA
(19%), Eropa (15%) dan Jepang (12%).
7. Sementara itu pada sisi lain, inflasi Jawa Barat terus mengalami pola tren penurunan. Inflasi
Jawa Barat pada akhir tahun 2015 diperkirakan pada kisaran 2,4-2,7% (yoy).
8. Pada sektor perbankan, perkembangan kredit Jawa Barat mengalami tren pertumbuhan yang
melambat pada tahun 2015 seiring dengan perlambatan ekonomi yang terjadi. Sementara itu,
pertumbuhan aset dan DPK cenderung tumbuh meningkat dibanding tahun sebelumnya. Rasio
kredit produktif terhadap total kredit di Jawa Barat masih lebih rendah dibandingkan dengan
Jawa Timur dan DKI Jakarta. Sektor Industri Pengolahan dan Sektor Perdagangan, Hotel &
Restoran masih mendominasi sebagai tujuan utama penyaluran kredit di Jawa Barat.
9. Pada perkembangan sistem pembayaran, Pertumbuhan perputaran uang tunai, nominal RTGS
dan nominal Kliring di Jawa Barat pada tahun 2015 mengalami perlambatan seiring dengan
perlambatan ekonomi yang terjadi. Sementara itu, net-inflow Jawa Barat tahun 2015 mencapai
Rp 34,36 triliun, masih meningkat dari tahun sebelumnya.
10. Pertumbuhan ekonomi Jawa Barat yang masih relatif stabil dengan tren inflasi yang cenderung
menurun memberikan dampak positif berupa penurunan tingkat kemiskinan Jawa Barat yang
terjadi secara konsisten dari tahun 2007 ke tahun 2014.
11. Tren tingkat pengangguran Jawa Barat juga menurun. Tenaga kerja banyak terserap di sektor
perdagangan (25%), sektor industri (21%) dan sektor pertanian (20%).

Program KPw BI Provinsi Jawa Barat

1. Melanjutkan komitmen Bank Indonesia untuk memperkuat posisi Kantor Perwakilan di daerah,
bersama ini kami sampaikan program-program strategis yang telah kami lakukan pada tahun
2015.
2. Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Jawa Barat Triwulanan. Buku KEKR yang
dipublikasikan secara triwulanan berisi mengenai perkembangan terkini : (1) Makroekonomi; (2)
Inflasi; (3) Stabilitas Sistem Keuangan; (4) Sistem Pembayaran; (5) Keuangan Daerah; (6)
Ketenagakerjaan; (7) Kesejahteraan; dan (8) Prospek Perekonomian.
3. Program Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Pada tahun 2015, TPID Provinsi Jawa Barat
telah menyusun Roadmap Pengendalian Inflasi Jawa Barat untuk kurun waktu 2015 s.d. 2024
yang berfokus pada 6 (enam) hal, antara lain : (1) Sumber Daya Manusia; (2) Infrastruktur &
Logistik; (3) Konektivitas; (4) Kelembagaan; (5) Tata Niaga dan (6) Teknologi.
4. Program strategis TPID berikutnya adalah pengembangan website Priangan (Portal Informasi
Harga Pangan). Pada tahun 2015, website Priangan dikembangkan dengan membangun sistem
Early Warning System (EWS) berbasis Short Messages Service (SMS). Melalui peringatan
berbentuk SMS kepada para pemangku kebijakan, informasi adanya gejolak harga yang
signifikan dapat segera diketahui, sekaligus mengambil langkah efektif dalam upaya
mengantisipasinya.
5. Program strategis KPw BI Provinsi Jawa Barat berikutnya adalah West Java Incorporated (WJI).
Pelaksanaan berbagai program kerja WJI tahun 2015, antara lain : Peningkatan Kualitas Data
Base, Sosialisasi WJI, Penguatan Internal WJI, High Level Meeting WJI, Industri Visit,
penyusunan Booklet & Handbook of Investment, Business Matching & Market Study di Belgia.
6. Terkait dengan pengembangan ekonomi daerah berbasis UMKM, KPw BI Provinsi Jawa Barat
juga memiliki beberapa program strategis yang telah dilakukan pada tahun 2015, antara lain :
Program Klaster Terintegrasi.
7. Pada tahun 2015, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Prov. Jawa Barat mengembangkan 2 (dua)
klaster terintegrasi baru, yaitu : (1) Sapi Potong Kec. Cikelet, Kab. Garut & (2) Klaster Sayuran
Kec. Lembang, Kab. Bandung Barat disamping pengembangan klaster yang sudah berjalan,
antara lain : (1) Sapi Potong di Kec. Purabaya, Kab. Sukabumi & (2) Klaster Sayuran Kec.
Pangalengan, Kab. Bandung.
8. Melalui program klaster ini, Bank Indonesia memberikan Bantuan Teknis kepada para pelaku
UMKM, antara lain: (1) Pelatihan Manajemen Pengelolaan Sapi dan Body Shape Condition
Score; (2) Pelatihan Good Farming Practices. Selain itu, Bank Indonesia juga memberikan
Bantuan Fisik, antara lain: Rumah Semai, Rain Shelter, Kandang komunal, Instalasi biogas dan
Sumur Artesis.
9. Selain itu, program berikutnya adalah Wirausaha Bank Indonesia (WUBI). Pada tahun 2015,
para peserta WUBI memperoleh berbagai macam program, antara lain : (1) Pelatihan Good
Manufacturing Practice dan HACCP, (2) Pelatihan Manajemen Keuangan dan Perpajakan, (3)
Pelatihan Akuntansi dan Akses Permodalan, (4) WUBI Festival, dan (5) Business Matching dan
Study Market ke Belgia dan Belanda (4 peserta WUBI).
10. Sebagai bentuk komitmen Bank Indonesia untuk juga turut mengembangkan ekonomi syariah di
daerah, KPw Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat bersama dengan CIES (Center for Islamic
Economic Studies) juga meluncurkan program PUSPA (Pendampingan UMKM Syariah oleh
Praktisi dan Akademisi) yang bertujuan untuk melakukan pendampingan kepada UMKM
Syariah dengan tenaga pendamping oleh para mahasiswa yang sudah terlebih dahulu dibina oleh
akademisi dan praktisi.
11. Terkait dengan pengelolaan sistem pembayaran, kami juga telah melaksanakan berbagai program
pada tahun 2015. Program yang pertama adalah Sosialisasi PBI No.17/3/PBI/2015 tentang
Kewajiban Penggunaan Rupiah di Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia kepada
masyarakat, perusahaan, perbankan dan asosiasi pengusaha di Jawa Barat.
12. Program berikutnya adalah Layanan Keuangan Digital (LKD) dan Gerakan Nasional Non Tunai
(GNNT) dengan implementasi program di Ponpes Al-Ittifaq dan Ponpes Daarut Tauhiid dalam
rangka untuk memperluas akses layanan keuangan kepada masyarakat unbanked dan
underbanked, serta turut mendorong gerakan nasional non tunai dan pengembangan ekonomi
syariah.

Prospek dan Tantangan Perekonomian Jawa Barat

1. Mencermati dinamika perekonomian dunia dan nasional, prospek pertumbuhan ekonomi Jawa
Barat pada tahun 2016 diperkirakan pada kisaran 5,1% - 5,5% (yoy).
2. Di sisi lain, inflasi Jawa Barat pada tahun 2016 diperkirakan sebesar 3,1%-3,5% atau berada
pada target inflasi nasional sebesar 4 ± 1% (yoy).
3. Sebagaimana telah disampaikan sebelumnya bahwa tantangan global ke depan bukan berarti
lebih mudah, namun dengan kekuatan bersama kita harus optimis dapat menghadapinya. Salah
satunya melalui peningkatan daya saing Jawa Barat di sektor utama yaitu sektor industri
pengolahan. Data terkini pada triwulan III 2015 memperlihatkan bahwa output sektor Industri
Pengolahan Jawa Barat menyumbangkan 27% output sektor Industri Pengolahan Nasional. Hal
ini menandakan bahwa peningkatan kinerja dan produktivitas pada sektor industri pengolahan
Jawa Barat memiliki peranan yang sangat strategis bagi pengembangan perekonomian Indonesia
secara jangka panjang.
4. Oleh karena itu, pemerintah daerah diharapkan dapat melakukan percepatan pembangunan yang
mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang yang tinggi dan stabil di Jawa Barat.
Berdasarkan kajian growth diagnostic yang telah kami lakukan, setidaknya terdapat 5 (lima) hal
kebijakan yang akan sangat mendukung pencapaian pertumbuhan ekonomi jangka panjang yang
tinggi dan stabil di Jawa Barat, yaitu (1) Kebijakan pembangunan pelabuhan internasional; (2)
Kebijakan pembangunan bandara internasional; (3) Kebijakan peningkatan produktivitas
pertanian; (4) Kebijakan peningkatan kapasitas listrik; dan (5) Kebijakan akselerasi
pembangunan modal manusia.
5. Sebagaimana juga telah disampaikan di depan, kekuatan investasi PMA dan PMDN ke Jawa
Barat terus meningkat dan bahkan dapat melebihi DKI Jakarta dan Jawa Timur. Namun
demikian, peran perbankan dalam mendukung kinerja investasi di Jawa Barat masih perlu
ditingkatkan. Berdasarkan data yang kami olah, outstanding total deposito perbankan Jawa Barat
pada tahun 2014 telah mencapai level Rp 131 trilyun. Dari Total Deposito tersebut, tingkat
utilisasi untuk keperluan investasi melalui kredit investasi hingga tahun 2014 baru mencapai
39% dari total deposito tersebut. Hal ini menandakan bahwa sebesar 61% dana deposito
perbankan Jawa Barat masih digunakan untuk keperluan non investasi.
6. Di sisi lain, Bank Indonesia melalui arah kebijakan Bank Indonesia 2016 akan terus mendukung
pencapaian stabilitas moneter, sistem keuangan dan sistem pembayaran.
7. Sementara itu di Jawa Barat, Bank Indonesia melalui Kantor Perwakilan Bank Indonesia
Provinsi Jawa Barat akan senantiasa membantu melalui kajian dan penelitian untuk
pengembangan ekonomi daerah, bersama-sama pemerintah melalui Forum Koordinasi
Pengendalian Inflasi (FKPI) untuk menjaga tingkat inflasi Jawa Barat pada tingkat yang rendah
dan stabil, termasuk juga melalui Forum Pengembangan Ekonomi Jawa Barat (West Java
Incorporated) untuk mengakselerasi daya saing ekonomi Jawa Barat pada 3 pilar : pilar pertama
Investasi, pilar kedua Perdagangan, Industri dan Pariwisata dan pilar ketiga pembiayaan.

*Dikutip dari Pidato Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat dalam Pertemuan
Tahunan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat 7 Desember 2015