Anda di halaman 1dari 13

III.

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus sampai dengan Oktober 2016.
Pembuatan dan pengujian alat dilaksanakan di Laboratorium Produksi dan
Manajemen Alat Mesin Pertanian, Program Studi Teknik Pertanian, Universitas
Andalas, Padang.

3.2 Bahan dan Alat


Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah besi plat dengan
ketebalan 3 mm, besi strip dengan ketebalan 3 mm, mur, baut, karet dan 250 kg
jagung varietas BIMA 20. Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah
meteran, bor, martil, kunci kombinasi, peralatan las, gergaji besi, stopwatch dan
timbangan.

3.3 Metode Penelitian


Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen
kemudian menguji eksperimen yang telah dilakukan.

3.3.1 Identifikasi Masalah


Identifikasi yang perlu diperhatikan adalah masalah teknis saat
mengoperasikan mesin pemipil jagung. Menurut Aswanda (2014), dari hasil uji
mesin pemipil jagung ini dihasilkan persentase kerusakan hasil pipilan sebesar 6,1
%. Kerusakan hasil terjadi karena jagung yang masuk ke dalam corong mendapat
gesekan dari mata pemipil yang terbuat dari besi dan memiliki sudut, sehingga
menyebabkan biji jagung rusak dan pecah. Gigi pemipil yang terbuat dari besi
juga menyebabkan sebagian tongkol jagung hancur sebelum mencapai corong
pengeluaran akibat kerasnya tekanan yang ditimbulkan pada saat proses
pemipilan.
Kecepatan rpm mesin yang memutar silinder pemipil juga menjadi salah
satu faktor terjadinya kerusakan hasil karena tidak adanya perlakuan rpm yang
berbeda pada saat pengambilan data dilakukan, sehingga persentase kerusakan
yang dihasilkan belum mencapai nilai SNI yaitu 5 %.
2

Dalam pengambilan data dilakukan perlakuan rpm dan kadar air yang berbeda
dalam proses pemipilan untuk mendapatkan hasil yang lebih bagus dengan 5 kali
pengulangan dan pada tiap ulangan digunakan jagung sebanyak 3 kg. Untuk
perlakuan kadar air ada 3, yaitu 14 %, 18 % dan 22 %, dan untuk perlakuan rpm
dilakukan pada 400 rpm, 500 rpm, dan 600 rpm.

3.3.2 Penyempuranaan Ide


Ide-ide yang muncul kemudian disempurnakan untuk melakukan
modifikasi terhadap silinder pemipil jagung. Karet ban dipilih sebagai bahan
pembuatan gigi pemipil jagung karena memiliki nilai elastisitas yang lebih tinggi
dibandingkan dengan besi. Silinder pemipil dirancang dapat dipasang dan dilepas,
sehingga ketika karet gigi pemipil habis dapat diganti dengan yang baru.

3.3.3 Analisis Rancangan Fungsional


Komponen penyusun mesin pemipil jagung terdiri dari beberapa bagian,
yaitu (Aswanda, 2014) :
(1) Rangka utama, merupakan penyangga atau penopang dari semua komponen
alat. Gambar rangka utama dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Rangka Utama


Sumber : Aswanda (2014)
(2) Silinder pemipil, berfungsi sebagai pemipil jagung agar jagung terlepas dari
tongkol dan keluar melalui corong pengeluaran. Gambar silinder pemipil dapat
dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Silinder Pemipil


Sumber : Aswanda (2014)
3

(3) Hopper, berfungsi sebagai tempat untuk memasukan jagung ke dalam ruang
pemipil. Gambar hopper dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4.Hopper
Sumber : Aswanda (2014)
(4) Corong pengeluaran, berfungsi sebagai tempat keluarnya jagung hasil pipilan.
Gambar corong pengeluaran dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Corong Pengeluaran


Sumber : Aswanda (2014)
(5) Motor listrik, berfungsi sebagai sumber tenaga dengan daya 0,5 HP digunakan
untuk menyalurkan tenaga. Gambar motor listrik dapat dilihat pada Gambar 6.

Gambar 6. Motor Listrik


Sumber : Aswanda (2014)
3.3.4 Analisis Rancangan Struktural
Silinder pemipil dibuat dari besi plat dan dibuat lubang pada kedua
ujungnya untuk dimasukkan besi as 1 inchi sebagai poros. Karet ban sebagai
pemipil dipasang pada permukaan silinder yang nantinya berfungsi untuk
pemipilan jagung dari tongkolnya. Penggunaan bahan karet ban bertujuan untuk
4

mengurangi persentase kerusakan jagung pada saat pemipilan. Silinder pemipil


dapat dilihat pada Gambar 7.

Gambar 7. Silinder Pemipil


Silinder pemipil memiliki ukuran panjang 60 cm dan diameter 13
cm.Volume silinder dapat dihitung dengan :
V = π x r 2 𝑥 l .......................................................................................................(1)
dengan :
V = volume silinder (m3 )
r = jari-jari silinder ( m )
l = panjang silinder (m)
V =π(0,065 m)2 x 0,6 m
= 0,00254 m3
Gaya (F) yang bekerja untuk memipil jagung dapat dihitung dengan
menggunakan persamaan :
τ = Fpb x bb x R.......................................................................................(2)
dengan :
𝜏 = torsi yang bekerja (N.m)
Fpb = gaya untuk melepas satu biji jagung (N/biji jagung)
bb = banyaknya biji yang akan dipipil dalam satu baris
R = jari-jari silinder pemipil rancangan (m)
diketahui :
Fpb = 2,96 N
bb = 28
R = 0,065 m
𝜏 = 2,96 N x 28 x 0,065 m
= 5,38 N.m
5

Daya yang dibutuhkan dapat dihitung berdasarkan persamaan torsi di atas


dengan menggunakan rumus :
P = τ x 2 . π . rpm....................................................................................(3)
dengan :
P = daya (watt)
Rpm = rpm pemipil rancangan
𝜏 = torsi yang bekerja (N.m)
diketahui :
𝜏 = 5,38 N.m
Rpm = 600 (Syarief dan Kumendong, 1997)
P = (τ x 2 . π . rpm) / 60
= (5,38 N.m x 2 x 3,14 x 600) / 60
= 332,840 N.m / detik
= 332,840 watt
= 0,45 HP
Menurut Firmansyah dkk. (2011) rpm motor listrik bernilai 1500,
sedangkan rpm silinder pemipil yang akan dipakai pada alat ini bernilai 400, 500
dan 600. Jadi untuk perbandingan pulley yang dipakai dapat ditentukan dengan
persamaan :
n1 . d1 = n2 . d2 ........................................................................................(4)
Daya motor listrik sebagai sumber tenaga penggerak silinder pemipil jagung dapat
dihitung dengan persamaan :
Ppemipil
Pmotor = .................................................................................(5)
η

dengan :
Ppemipil = daya (watt)
η = efisiensi penerusan daya (%)
Asumsi = efisiensi penerusan daya pada transmisi puli–sabuk (98%)
diketah ui :
Ppemipil = 332,840 watt
Ppemipil 332,840 watt
Pmotor = = = 339,632 watt = 0,46 HP
η 98%
6

Untuk menghitung daya rencana dapat digunakan persamaan :


diketahui :
𝑓𝑐 = 1,5
Pd = 𝑓𝑐 . P (kW) …………………………………………………………(6)
= 1,5 x 0,339 kW
= 0,508 kW
dengan :
𝑓𝑐 = faktor Koreksi
Pd = daya Rencana (kW)
P = daya yang ditransmisikan (kW)
Momen rencana dapat dihitung dengan menggunakan persamaan :
𝑃𝑑
T1 = 9,74 x 105 x …………………………………………………...(7)
𝑛1
0,508 𝑘𝑊
T1 = 9,74 x 105 x = 329.861 kg.mm
1500
𝑃𝑑
T2 = 9,74 x 105 x 𝑛2 …………………………………………………...(8)
0,508 𝑘𝑊
T2 = 9,74 x 105 x = 824,653 kg.mm
600

dengan :
T1 dan T2 = momen rencana (kg.mm)
Pd = daya rencana (kW)
n1 = rpm mesin
Bahan poros yang digunakan dalam penelitian ini adalah baja karbon
konstruksi jenis S45C dengan kekuatan tarik 58 kg/ 𝑚𝑚2 , dengan faktor
keamanan 𝑆𝑓1 6 dan 𝑆𝑓2 2 (Sularso dan Soga, 1987). Menghitung tegangan geser
dengan persamaan :
τb
τa = .......................................................................................(9)
Sf 1 x Sf2

dengan :
τa = tegangan geser poros (kg/mm2 )
τb = kekuatan tarik (kg/mm2 )
Sf 1 x Sf2 = faktor keamanan (Sf 1 = 6 dan Sf2 = 2)
7

Jadi, tegangan geser poros :


τb
τa =
Sf 1 x Sf2

58 kg/mm2
τa = = 4,83kg/mm2
6x2
Maka, diperoleh faktor tumbukan (Kt) = 1,5 dan faktor lenturan (Cb) = 1,5.
Perhitungan poros dapat dihitung menggunakan persamaan berikut :
1
5,1 3
𝑑𝑠1 = ( 𝜏 𝑥 𝐾𝑡 𝑥 𝐶𝑏 𝑥 𝑇1) ………………………………………….(10)
𝑎
1
5,1 3
𝑑𝑠1 = (4,83 𝑘𝑔/mm2 𝑥 1,5 𝑥 1,5 𝑥 329,861 𝑘𝑔. 𝑚𝑚) = 2,30 mm
1
5,1 3
𝑑𝑠2 = ( 𝜏 𝑥 𝐾𝑡 𝑥 𝐶𝑏 𝑥 𝑇2) ………………………………...……….(11)
𝑎
1
5,1 3
𝑑𝑠2 = (4,83 𝑘𝑔/mm2 𝑥 1,5 𝑥 1,5 𝑥 824,653 𝑘𝑔. 𝑚𝑚) = 2,57 mm

dengan :
𝑑𝑠1 𝑑𝑎𝑛 𝑑𝑠2 = Diameter poros rencana (mm)
Kt = faktor tumbukan
Cb = faktor lentur
T1 dan T2 = momen rencana (kg.mm)
Berdasarkan perhitungan poros di atas diperoleh sabuk V = tipe A, nilai
rpm = 1500, diameter minimal pulley (dp) = 95 mm, dan tinggi belt = 9 mm.
Diameter lingkaran dapat dihitung dengan persamaan berikut :
𝐷𝑝 = 𝑑𝑝 𝑥 𝑖 ……………………………………………………………(12)
= 95 𝑥 2,5
= 237,5 mm
𝑑𝑘 = 𝑑𝑝 + (2 𝑥 (0,5 𝑥 𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖 𝑏𝑒𝑙𝑡)) ………………………………...(13)
= 95 + (2 x (0,5 x 9 mm)) = 104 mm
𝐷𝑘 = 𝐷𝑝 + (2 𝑥 (0,5 𝑥 𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖 𝑏𝑒𝑙𝑡)) ………………………………...(14)
= 237,5 + (2 x (0,5 x 9 mm)) = 246,5 mm
Diameter naf atau bos (mm) dapat dihitung dengan persamaan :
5
𝑑𝐵 ≥ 𝑥 𝑑𝑠1 + 10 (𝑚𝑚) ……………………………………………(15)
3
5
𝑑𝐵 ≥ 𝑥 2,3 + 10 (𝑚𝑚)
3
8

𝑑𝐵 ≥ 13,8 mm
𝑑𝐵 = 13,8 mm
5
𝐷𝑏 ≥ 𝑥 𝑑𝑠2 + 10 (𝑚𝑚) ……………………………………………(16)
3
5
𝐷𝑏 ≥ 𝑥 2.57 + 10 (𝑚𝑚)
3

𝑑𝐵 ≥ 14,2 mm
𝑑𝐵 = 14,2 mm
Untuk menghitung kecepatan sabuk dapat dihitung menggunakan
persaman :
𝜋 𝑥 𝑑𝑝 𝑥 𝑛1
𝑉 = ( 60 𝑥 1000 ) ………………………………………………………(17)
3,14 𝑥 95 𝑥 1500
𝑉= ( ) = 7,45 m/s
60 𝑥 1000

Validasi, 7,45 𝑚/𝑠 ≤ 30 𝑚/𝑠


Nilai validasi dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut :
𝑑𝑘+𝐷𝑘
𝐶− ( ) > 0 ……………………………………………………..(18)
2
104 𝑚𝑚+246,5 𝑚𝑚
350 𝑚𝑚 − ( )>0
2

350 𝑚𝑚 − 175,25 𝑚𝑚 > 0


174,75 > 0
Maka, dipilih sabuk –V tipe standar dengan nilai = 1,37 pada rpm = 1500 dan
nilai 𝑃0 = 1,5 𝑘𝑊.
Untuk perhitungan panjang keliling dapat dihitung dengan persamaan :
𝜋 1
𝐿 = 2𝑐 + 𝑥 (𝑑𝑝 + 𝐷𝑝) + 𝑥 (𝐷𝑝 − 𝑑𝑝)2 ……………………….(19)
2 4𝐶
3,14 1
𝐿 = 2 𝑥 350 + 𝑥 (95 + 237,5) + 𝑥 (237,5 − 95)2
2 4 𝑥 350
1
𝐿 = 700 + 1,57 𝑥 (332,5) + 𝑥 (20206,25)
1400

𝐿 = 1236,5 𝑚𝑚
dengan :
L = panjang keliling (mm)
C = prediksi jarak sumbu poros (mm)
Maka, diperoleh nomor nominal sabuk –V = 49 dan panjang sabuk dalam tabel =
1245 mm (nilai yang mendekati panjang keliling (L) di dalam tabel).
9

Jarak sumbu poros, C (mm) dapat dihitung dengan persamaan :


𝑏 = 2𝐿 − 3,14 𝑥 (𝐷𝑝 + 𝑑𝑝) …………………………………………..(20)
𝑏 = 2 𝑥 (1245) − 3,14 𝑥 (237,5 + 95)𝑚𝑚
𝑏 = 1445,95 𝑚𝑚
𝑏+ √𝑏 2 −8 𝑥 (𝐷𝑝−𝑑𝑝)2
𝐶= ……………………………………………….(21)
8

1445,95+ √1445,952 −8 𝑥 (237,5−95)2


𝐶= 8
1445,95+ √2090771,4−8 𝑥 (110556,25)
𝐶= 8

𝐶 = 318,03 𝑚𝑚
Sudut kontak (∅) dan faktor koreksi (𝐾∅ ) dapat dihitung dengan
persamaan :
57 𝑥 (𝐷𝑝−𝑑𝑝)
∅ = 180° − ……………………………………………....(22)
𝐶
57 𝑥 (237,5−95)
∅ = 180° − 350 𝑚𝑚

∅ = 156,8°
∅ = 157°
Maka, diperoleh nilai 𝐾∅ = 0,94
Untuk menghitung jumlah sabuk dapat dihitung dengan menggunakan
persamaan :
𝑃𝑑
𝑁= …………………………………………………………….(23)
𝑃0 𝑥 𝐾∅
0,508 𝑘𝑊
𝑁= 1,5 𝑘𝑊 𝑥 0,94

𝑁 = 0,36 𝑘𝑊
Jumlah sabuk (N) = 1 buah dan daerah penyetelan sumbu poros ∆𝐶𝑖 = 20 mm,
∆𝐶𝑡 = 40 𝑚𝑚.
Diameter poros yang didapatkan dari hasil perhitungan di atas adalah
𝑑𝑠1 = 2,3 mm dan 𝑑𝑠2 = 2,57 mm. Tetapi pada pembuatan alat, poros yang
digunakan berukuran 2,54 cm atau 1 inci dan ukuran tersebut sudah berada di atas
nilai yang didapatkan dari perhitungan diameter poros. Ukuran diameter poros
rancangan digunakan lebih besar dari nilai perhitungan bertujuan agar disaat poros
beroperasi lebih aman dan menghindari poros patah.
10

3.4 Pelaksanaan Penelitian

3.4.1 Tahap Modifikasi Alat


Tahap ini diawali dengan kegiatan perancangan silinder pemipil dengan
menggunakan software Solid Works, setelah perancangan pembuatan komponen
alat yang telah dirancang dapat dibuat, yakni silinder pemipil dilanjutkan dengan
pemasangan keseluruhan komponen tersebut pada kerangka alat yang telah ada.

3.4.2 Tahap Pengujian


1. Penelitian Pendahuluan
Penelitian pendahuluan dilakukan untuk melihat waktu pemipilan,
efisiensi alat pemipil. Hal ini dilakukan sebelum penelitian utama dilakukan, agar
tidak terjadi penyimpangan ketika penelitian utama dilaksanakan.
2. Penelitian Utama
Uji ini menggunakan metode uji kinerja pemipil dari komponen yang telah
dimodifikasi, kerja alat ini yaitu pemipilan dilakukan secara manual dengan
memasukkan jagung ke dalam hopper, sehingga terjadi gesekan antara silinder
pemipil dengan jagung yang menyebabkan biji jagung terlepas dari tongkolnya,
pemipilan dilakukan satu per satu untuk mengurangi risiko kerusakan hasil.
3.5 Pengamatan

3.5.1 Pengukuran Kadar Air Jagung


Sebelum proses pemipilan jagung dilakukan, kadar air jagung terlebih
dahulu harus diukur. Perlakuan untuk kadar air ada 3, yaitu 14 %, 18 %, dan 22
%. Kadar air dapat dihitung dengan menggunakan alat Grain Moisture Tester
yang telah dikalibrasi.

3.5.2 Kapasitas Kerja


Kapasitas kerja mesin pemipil jagung dapat dihitung dengan menggunakan
persamaan berikut :
BT
Kp = .................................................................................................(25)
T
11

dengan :
Kp = Kapasitas kerja (kg/jam)
BT = Berat jagung yang terpipil (kg)
T = Total waktu (jam)

3.5.3 Persentase Kerusakan Hasil


Kategori kerusakan hasil yang diamati pada pengamatan ini yaitu biji
jagung yang pecah setelah melewati proses pemipilan. Secara matematis
persentase kerusakan hasil pemipilan jagung dapat kita hitung dengan
menggunakan persamaan berikut :
BR
% KH = BT x 100 % ................................................................................(26)

dengan :
% KH = Kerusakan Hasil (%)
BR = Berat jagung yang rusak (kg)
BT = Berat jagung yang terpipil (kg)

3.5.4 Persentase Jagung yang Terpipil


Menurut SNI efisiensi pemipilan minimum adalah 90 %, maka nilai
persentase dari hasil pemipilan jagung yang terpipil akan dibandingkan dengan
nilai SNI tersebut. Persentase jagung yang terpipil dapat dihitung dengan
persamaan berikut :
BT
% HP = BT + BK x 100 %.................................................................................(27)

dengan :
% HP = Persentase jagung yang terpipil (%)
BT = Berat jagung yang terpipil (kg)
BK = Berat jagung yang tidak terpipil (kg)

3.5.5 Persentase Jagung yang Tidak Terpipil


Persentase jagung yang tidak terpipil dapat dihitung dengan menggunakan
persamaan berikut :
BK
% JTP = x 100 %........................................................................................(28)
BK + BT
12

dengan :
% JTP = Persentase jagung yang tidak terpipil (%)
BK = Berat jagung yang tidak terpipil (kg)
BT = Berat jagung yang terpipil (kg)

3.5.6 Tingkat Kehilangan


Pengamatan ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kehilangan sampel
setelah menggunakan mesin pemipil jagung. Dalam pengamatan ini dapat
digunakan rumus :
M− Mt− Mtt
%L= x 100 % ......................................................................(29)
M

dengan :
%L = Persentase kehilangan (%)
M = Berat awal jagung yang digunakan (kg)
Mt = Berat jagung yang terpipil (kg)
Mtt = Berat yang tidak terpipil (kg)

3.3.5 Uji Statistik


Pengamatan uji statistik dilakukan untuk melihat pengaruh serta interaksi
yang terjadi pada perlakuan yang diberikan terhadap varietas. Program yang
digunakan untuk uji statistik ini yaitu SPSS 17. Uji statistik untuk pengamatan
yang dilakukan terdiri dari dua hipotesis yaitu :
- Ho = Perlakuan rpm dan kadar air atau tidak berbeda nyata terhadap
hasil pemipilan jagung.
- H1 = Perlakuan rpm dan kadar air berpengaruh terhadap hasil
pemipilan jagung.
Untuk menganalisa hipotesis diatas maka dilakukan pengolahan data dengan
menggunakan program SPSS 17, dengan ketentuan sebagai berikut :
- Jika nilai signifikan > 0,05, maka hasil pengamatan dengan perlakuan
rpm dan kadar air tidak berbeda nyata, sehingga Ho diterima.
- Jika nilai signifikan < 0,05, maka hasil pengamatan dengan perlakuan
rpm dan kadar air berbeda nyata, sehingga Ho ditolak.
13