Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Pada beberapa dekade terakhir, kemajuan ilmu kedokteran sangat berpengaruh


pada perawatan kesehatan dan akan mempengaruhi pertumbuhan populasi lanjut usia.
Di Indonesia, jumlah jiwa anggota keluarga umur 60 tahun ke atas, secara nasional
tahun 2009 diperkirakan sebanyak 15.504.089 jiwa atau 6,8% dari seluruh jiwa dalam
keluarga (BKKBN,2009). Menurut Lembaga Demografi Universitas Indonesia,
persentase jumlah penduduk berusia lanjut pada tahun 1985 adalah 3,4% dari total
penduduk dan pada tahun 2000 mencapai 7,4%. Data Perserikatan Bangsa-Bangsa
(PBB) menyatakan bahwa peningkatan warga berusia lanjut di Indonesia merupakan
yang tertinggi di dunia, yaitu 414% hanya dalam waktu 35 tahun (1990-2025),
sedangkan tahun 2020 mencapai 25,5 juta jiwa (Soejono,2006).

Akibat populasi usia lanjut yang meningkat maka akan terjadi transisi
epidemiologi yaitu bergesernya pola penyakit dari penyakit infeksi dan gangguan gizi
menjadi penyakit-penyakit degeneratif, diabetes, hipertensi, neoplasma, dan penyakit
jantung koroner. Konsekuensi dari peningkatan warga usia lanjut adalah meningkatnya
jumlah pasien geriatri dengan kerakteristiknya yang berbeda dengan warga usia lanjut
atau dewasa muda. Karakteristik pasien geriatrik adalah multipatologi, menurunnya
daya cadangan faali, berubahnya gejala dan tanda penyakit dari yang klasik,
terganggunya status fungsional pasien geriatri, dan kerap terdapat gangguan nutrisi,
gizi kurang atau buruk (Soejono,2006).

Jika karena sesuatu hal pasien geriatri mengalami kondisi akut seperti infeksi,
maka seringkali akan timbul gangguan fungsi kognitif, depresi, imobilisasi,
instabilisasi, dan inkontinensia (atau lazim disebut sebagai geriatric giants). Keadaan
akan semakin rumit jika secara psikososial terdapat hendaya seperti neglected atau
miskin (finansial). Sehingga pendekatan untuk pasien geriatri harus bersifat holistik
dan paripurna, yaitu bio-psiko-sosial, juga dari sisi kuratif, reehabilitatif , preventif,
dan promotif (Soejono,2006). Pendekatan klinis yang lazim dikerjakan seperti
anamnesis, pemeriksaan fisik, dan penunjang ditambah pengkajian untuk mendeteksi
gangguan yang terutama sering terdapat pada usia lanjut yaitu fungsi kognitif dan
afek, mobilitas, gait, keseimbangan, kontinens, nutrisi, penglihatan dan pendengaran.
Pengkajian status fungsional untuk mengatasi hendaya menjadi penting karena sering
hal ini yang menjadi skala prioritas penyelesaian masalah (Supartondo,2001).

1
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana latihan Fisik dan kognitif pada lansia?
2. Bagaimana latihan fisik dan tes kognitif dan pada lansia?
3. Bagaimana Interpretasi hasil latihan kognitif pada lansia?

C. TUJUAN
1. Mengetahui latihan Fisik dan kognitif pada lansia?
2. Mengetahui latihan fisik dan tes kognitif pada lansia?
3. Mengetahui Interpretasi hasil latihan kognitif pada lansia?

2
BAB II

PEMBAHASAN
A. Definisi:
Lansia adalah periode dimana organisme telah mencapai kemasakan
dalam ukuran dan fungsi dan juga telah menunjukkan kemunduran sejalan dengan
waktu. hilangnya kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan
mempertahankan fungsi normalnya secara perlahan-lahan sehingga tidak dapat
bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang terjadi  penyakit
degeneratif Untuk meningkatkan kualitas hidup lansia, diwaktu senggang
sebaiknya dilakukan latihan untuk pemeliharaan kesehatan bagi lansia.Tujuan
melakukan latihan bagi lansia agar kesehatan dan kesegaran jasmani dan rohani
menjadi baik

a. Persiapn Latihan

Pemeriksaan diri sebelum latihan, lansia perlu memeriksakan diri agar lansia tidak
sedang sakit atau selama latihan tidak akan timbul gangguan pada kesehatan
latihan.

a) Hal-hal yang perlu diperhatikan:


a. Perhitungkan kemampuan fisik

b. Lakukan latihan pemanasan cukup lama sebelum latihan


inti

c. Perhatikan kemampuan awal sebelum memulai


program latihan
d. Jangan menjatuhkan kepala kebelakang

e. Jangan melakukan hipeekstensi pada punggung pada


saat posisi berdiri

f. Jangan lakukan gerakan cepat pada kepala


g. Hindari beban berlebihan

b) Sasaran

a) flexibilitas
3
b) kekuatan otot

c) Latihan fisik untuk lansia

a. Aktifitas aerobik:jogging , melompat, bersepeda,


senam dan berenang

b. Lakukan gerakan kepala kesamping dan kedepan

c. Ulangi gerakan sebanyak 8-16 kali

d. Kelenturan dapat dilatih dengan melakukan aktifitas fisik

e. Latihan menggunakan bebean yang bertujuan untuk memperkuat


otot dan tulang

f. Latihan bagi lansia yang sakit atau lumpuh, yaitu:

g. Latihan Aktif

h. Latihan untuk melakukan tahanan

d) Latihan pasif
Perlu diperhatikan:

a. haikan beban perlahan

b. Hindari cedera

c. Latihan 3 kali perminggu atau manula wanita 2 kali


perminggu

d. Bagi penderita hipertensi, jantung atau masalah peredaran


darah sebaiknya tubuh menggunakan beban waktu jalan

e. Mereka yang memiliki masalah pada leher, punggung dan lengan


jangan menggunakan beban

a. Aktivitaslatihanlainyangdapatdilakukan lansia:

1) Olahraga

2) Berkebun

4
3) Beternak,

4) Rekreasi,

b. Hubungan latihan fisik dengan kesehatan

f. Hubungan latihan fisik dengan kematian

g. Hubungan latihan fisik dengan jantung

h. Hubungan latihan fisik dengan kolesterol

i. Hubungan latihan fisik dengan diabetes melitus

j. Hubungan latihan fisik dengan arhitis

k. Hubungan latihan fisik dengan osteoporosis

Manfaat latihan fisik diantaranya

a. Mengurangi terhadap resiko kematian lebih cepat

b. Meningkatkan kekuatan otot jantung sehingga


mengurangi resiko penyakit jantung

c. Menjaga keseimbangan berat badan lansia dimasa lansia

d. Mencegah terjadinya kontraktur atau kekakuan sendi


sendi pada lansia

e. Mempertahankan fungsi tulang

f. Mengurangi resiko terjadinya kanker

Latihan Fisik Pada Lansia

Hal yang perlu diperhatikan

1. Perhitungkan kemampuan fisik

2. Lakukan proporsi latihan secara bertahap, teratur dan

5
sistematis

3. Jangan menjauhkan tangan kebelakang

4. Jangan melekungkan tubuh secara berlebihan pada posisi lansia


sedang berdiri

5. Jangan melakukan gerakan cepat pada kepala

6. Hindari beban yang berlebihan

7. Sehabis melakukan latihan, lakukan pendinginan

Tujuan latihan fisik pada lansia

1) Fleksibelitas

2) Kekuatan otot

3) Latihan fisik pada lansia


hal - hal yang perlu diperhatikan

a. Naikan beban secara perlahan

b. Hindari cedera dengan cara melakukan gerakan secara perlahan,


bertahap, lakukan 10 kali ulangan

c. Lakukan latihan 3 kali seminggu atau 2 kali seminggu

d. Bagi penderita hipertensi, jantung dan permasalahan peredaran darah


sebaiknya tidak menggunakan beban waktu berjalan

e. Lansia memiliki masalah pada leher, lengan dan punggung jangan


menggunakan beban

f. Lakukan pengulangan (rutin ) sehingga lama beban yang


dipakai terasa lebih ringan

Contoh Latihan Fisik Yang DI Lakukuan Sendiri


1. Berlari-lari kecil sebanyak 50 langkah, lalu disambung dengan berjalan 50
langkah, ulangi sebanyak 5 kali pada hari pertama

2. Pada latihan berikutnya ditingkatkan 1 kali sampai mencapai

6
10 kali gabungan lari-jalan

3. Selanjutnya lakukan perubahan yaitu berlari-lari 50 langkah disambung


dengan berjalan 40 langkah, lakukan dengan mengulangi 5 kali juga, setiap
kali latihan ditingkatkan dengan satu kali sehingga mencapai 10 kali
gabungan lari-jalan

Cara Latihan Fisiki Menurut Dokter

1. Latihan ini kelihatannya mudah tapi bagi lansia latihan ini lumayan sulit, jadi
sebaiknya latihan ini dilakukan didekat tembok agar bila mau jatuh bisa
langsung berpegangan

2. Dengan mengangkat satu kaki setinggi kira-kira 10 cm, kemudian


menggerakkan kedepan, samping dan kebelakang secara teratur dan jangan
terlalu cepat menggerakan kaki yang diangkat tersebut

3. Karena latihan fisik ini tubuh tidak cepat leleah sehingga bisa saja
latihan mengangkat beban ringan ( seperti menggunakan barbell
maksimal 1 kg)
4. Gerakan-gerakan nya pada intinya adalah mengangkat tangan atau kaki
melawan gravitasi bumi, latihan ini secara berulang sampai titik letih
dirasakan.

5. Keseluruhan terapi yang dilakukan dalam fisik ini berdurasi sekitar 5-


10 menit, sebaiknya dilakukan 2-3 kali/minggu

AKTIVITAS DAN SENAM LANSIA

A. Aktivitas Lansia
Pada dasarnya pelayanan sosial lanjut usia (Lansia), selalu mengacu
kepada terpenuhinya kebutuhan lanjut usia (Lansia) yang meliputi kebutuhan
biologis, psikologis, sosial, intelektual dan spiritual serta kegiatan pengisian
waktu luang. Selain itu, dapat bermanfaat untuk memperpanjang usia harapan
7
hidup dan produktivitas lanjut usia serta terwujudnya kesejahteraan sosial
lanjut usia yang diliputi rasa tenang, tenteram, bahagia, dan mendekatkan diri
kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Sampai sampai saat ini, pelayanan sistem Panti atau institusi masih
menjadi salah satu alternatif pelayanan lanjut usia, khususnya bagi lanjut usia
yang kurang mampu secara sosial ekonomi. Pelayanan sistem institusi dalam
banyak hal menjadi model pelayanan yang dapat diadopsi oleh keluarga dan
masyarakat dalam menyelenggarakan pelayanan social lanjut usia.

Disadari, bahwa kehidupan dalam institusi terkadang monoton dan rutinitas


sehingga membuat para lanjut usia merasa jenuh atau bosan tinggal dan hidup
selamanya di dalam Panti atau institusi. Kondisi tersebut sangat berpengaruh
pada upaya pengembangan bakat, minat dan potensi lanjut usia, maka oleh
sebab itu perlu diadakan berbagai kegiatan positip untuk mengisi waktu-waktu
luang, dan perlu dirancang berbagai kegiatan atau aktivitas yang sesuai dengan
minat, bakat dan kemampuan lanjut usia (lansia).

Besaran kegiatan pelayanan dalam Institusi biasanya berkisar pada :

1) Program Rutin, yaitu Program yang secara terus menerus diberikan


kepada Lanjut Usia, seperti : pelayanan makan dan minum, tempat
tinggal (asrama), pakaian, pemeriksaan kesehatan, bimbingan
Agama, bimbingan olah raga, bimbingan sosial kelompok dan
perorangan (Konseling), dan sebagainya hingga pada pelayanan
Pemulasaran (pemakaman jenazah).
2) Program atau kegiatan terobosan, yakni program pelayanan Lanjut
Usia yang dirancang di luar program rutin yang bertujuan untuk

8
melengkapi atau mendukung program rutin dimaksud, seperti :
kegiatan pengisian atau pemanfaatan waktu luang.

Kondisi pelayanan pengisian waktu luang dari masing-masing Panti


(Institusi) dapat dipilah menjadi beberapa bagian, yaitu : pelayanan
ketrampilan, kesenian, kepustakaan, olah raga, rekreasi, beternak,
berkebun, dan sebagainya.

Pemanfaatan waktu luang merupakan suatu upaya untuk memberikan


peluang dan kesempatan bagi Lansia (Potensial) untuk mengisi waktu
luangnya dengan berbagai kegiatan atau aktivitas yang positif, bermakna,
dan produktif bagi dirinya maupun orang lain. Kegiatan-kegiatan yang
mereka lakukan harus sesuai dengan minat, bakat, dan potensi yang
mereka miliki.
Berikut ini gambaran mengenai kondisi pelayanan waktu luang yang telah
diberikan Panti (Institusi) di seluruh Indonesia terhadap lansia dan
harapan lansia, sebagai berikut :

1) Rincian kegiatan Bimbingan ketrampilan berkebun yang sudah umum


di lakukan Panti (Institusi), yaitu : menanam ketela, pohon mangga,
tanaman obat, bunga hias, palawija, sayuran, pisang, nanas, rambutan,
palawija, jagung, dan sebagainya.
2) Rincian kegiatan bimbingan ketrampilan kerajinan tangan, yaitu :
membuat tusuk sate, sarana sembahyang, menganyam (bambu, rotan,
dsb), membuat sapu (lidi, ijuk, dsb), menyulam, membuat keset,
membuat telur asin, membuat krupuk karak dari sisa nasi, merangkai
bunga, menjahit, kristik, membuat batu nisan, tukang urut, taplak,
roti/kue.

B. Senam Lansia

9
1) Pengertian

Senam merupakan suatu cabang olahraga yang melibatkan performa


gerakan yang membutuhkan kekuatan, kecepatan dan keserasian gerakan
fisik yang teratur. Bentuk modern dari senam ialah : Palang tak seimbang,
balok keseimbangan, senam lantai. Bentuk-bentuk tersebut konon
berkembang dari latihan yang digunakan oleh bangsa Yunani kuno untuk
menaiki dan menuruni seekor kuda dan pertunjukan sirkus.

Senam biasa digunakan orang untuk rekreasi, relaksasi atau menenangkan


pikiran, biasanya ada yang melakukannya di rumah, di tempat fitness, di
gymnasium maupun di sekolah. Sekarang, sejak kecil banyak anak sudah
terbiasa diajarkan senam, baik oleh orang tua, maupun oleh pengajar
olahraga di sekolah.

Senam sangat penting untuk pembentukan kelenturan tubuh, yang


menjadi arti penting bagi kelangsungan hidup manusia. Senam ada
berbagai macam, diantaranya senam lantai, senam hamil, senam aerobik,
senam pramuka, Senam Kesegaran Jasmani (SKJ), dll. Biasanya di
sekolah dasar, guru-guru mengajarkan senam-senam yang mudah dicerna
oleh murid, seperti SKJ dan senam pramuka. Namun ketika beranjak
remaja, banyak orang melakukan senam aerobik, ataupun senam lain
termasuk meditasi untuk menenangkan diri.

Senam lansia adalah olahraga ringan dan mudah dilakukan, tidak memberatkan
yangditerapkan pada lansia. Aktifitas olahraga ini akan membantu tubuh agar tetap
bugar dan tetapsegar karena melatih tulang tetap kuat, memdorong jantung bekerja
optimal dan membantumenghilangkan radikal bebas yang berkeliaran di dalam
tubuh.

10
2) Jenis-jenis senam lansia yang biasa diterapkan, meliputi :

1. Senam kebugaran lansia


2. Senam otak
3. Senam osteoporosis
4. Senam hipertensi
5. Senam diabetes mellitus
6. Olahraga rekreatif/jalan santai.

3) Manfaat senam lansia

1. Memperlancar proses degenerasi karena perubahan usia.


2. Mempermudah untuk menyesuaikan kesehatan jasmani dalam
kehidupan (adaptasi).
3. Fungsi melindungi, yaitu memperbaiki tenaga cadangan dalam
fungsinya terhadap bertambahnya tuntutan, misalya sakit. Sebagai
4. Sebagai Rehabilitas Pada lanjut usia, senam lansia dapat mencegah
atau melambatkankehilangan fungsional

5. Senam lansia disamping memiliki dampak positif terhadap


peningkatan fungsi organtubuh juga berpengaruh dalam
meningkatkan imunitas dalam tubuh manusia setelahlatihan teratur

6. jantung waktu istirahath yaitu kecepatan denyut nadi sewaktu


istirahat.

4) Prinsip Senam lansia


1. Gerakannya bersifat dinamis (berubah-ubah).
2. Bersifat progresif (bertahap meningkat).

11
3. Adanya pemanasan dan pendinginan pada setiap latihan
4. Lama latihan berlangsung 15-60 menit
5. Frekuensi latihan perminggu minimal 3 kali dan optimal 5kali

5) Langkah –Langkah Senam Lansia


1. Latihan kepala dan leher
- Lihat keatas kemudian menunduk sampai dagu ke dada.
- Putar kepala dengan melihat bahu sebelah kanan lalu sebelah kiri.
- Miringkan kepala ke bahu sebelah kanan lalu kesebelah kiri.

2. Latihan bahu dan lengan


- Angkat kedua bahu ke atas mendekati telinga, kemudian turunkan
kembali perlahan-lahan.
- Tepukan kedua telapak tangan dan renggangkan lengan kedepan lurus
dengan bahu.
- Pertahankan bahu tetap lurus dan kedua tangan bertepuk kemudian
angkat lengan keatas kepala.
- Satu tangan menyentuh bagian belakang dari leher kemudian raihlah
punggung sejauh mungkin yang dapat dicapai. Bergantian tangan kanan
dan kiri.
- Letakan tangan di punggung kemudian coba meraih keatas sedapatnya.
3. Latihan tangan
- Letakan telapak tangan diatas meja. Lebarkan jari-jarinya dan tekan
kemeja.
- Baliklah telapak tangan. Tariklah ibu jari melintasi permukaan telapak
tangan untuk menyentuh jari kelingking. Kemudian tarik kembali.

12
- Lanjutkan dengan menyentuh tiap-tiap jari dengan ibu jari dan kemudian
setelah menyentuh tiap jari.
- Kepalkan tangan sekuatnya kemudian renggangkan jari-jari selurus
mungkin.
4. Latihan punggung
- Dengan tangan disamping bengkokan badan kesatu sisi kemudian kesisi
yang lain.
- Letakan tangan dipinggang dan tekan kedua kaki, putar tubuh dengan
melihat bahu kekiri dan kekanan.
- Tepukan kedua tangan dibelakang dan regangkan kedua bahu ke
belakang.
5. Latihan pernafasan
- Duduklah di kursi dengan punggung bersandar dan bahu relaks.
- Letakkan kedua telapak tangan pada tulang rusuk. Tarik nafas dalam-
dalam maka terasa dada mengambang.
- Sekarang keluarkan nafas perlahan-lahan sedapatnya. Terasa tanganakan
menutupkembali.

A. LATIHAN KOGNITIF PADA LANSIA


1. Perubahan Kognitif Pada Lansia
Proses penuaan menyebabkan kemunduran kemampuan otak. Diantara kemampuan
yang menurun secara linier atau seiring dengan proses penuaan adalah:

a. Daya Ingat (memori), berupa penurunan kemampuan penamaan (naming) dan


kecepatan mencari kembali informasi yang telah tersimpan dalam pusat
memori (speed of information retrieval from memory).
b. Intelegensia Dasar (fluid intelligence) yang berarti penurunan fungsi otak
bagian kanan yang antara lain berupa kesulitan dalam komunikasi non verbal,
pemecahan masalah, mengenal wajah orang, kesulitan dalam pemusatan
perhatian dan konsentrasi.
2. Defenisi Demensia
13
Dimensia adalah penurunan kemampuan mental yang biasanyaberkembang
secara perlahan, dimana terjadi gangguan ingatan, fikiran, penilaian dan
kemampuan untuk memusatkan perhatian, dan bisa terjadi kemunduran
kepribadian. Pada usia muda, demensia bisa terjadi secara mendadak jika cedera
hebat, penyakit atau zat-zat racun (misalnya karbon monoksida) menyebabkan
hancurnya sel-sel otak.

1. Kondisi Demensia
Kondis igangguan kognitif pada lanjut usia dengan berbagai jenis gangguan seperti
mudah lupa yang konsisten, disorientasi terutama dalam hal waktu, gangguan
pada kemampuan pendapat dan pemecahan masalah, gangguan dalam
hubungan dengan masyarakat, gangguan dalam aktivitas di rumah dan minat
intelektual serta gangguan dalam pemeliharaan diri.

2. Tanda Dan Gejala


1) Kesukaran dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari
2) Pelupa
3) Sering mengulang kata-kata
4) Tidak mengenal dimensi waktu, misalnya tidur di ruang makan
5) Cepat marah dan sulit di atur.
6) Kehilangan daya ingat
7) Kesulitan belajar dan mengingatin formasi baru
8) Kurang konsentrasi
9) Kurang kebersihan diri
10) Rentan terhadap kecelakaan: jatuh
11) Mudah terangsang
12) Tremor
13) Kurang koordinasi gerakan.
3. Pengenalan Dini Demensia
Pengenalan dini demensia berarti mengenali :

1) Kondisi normal (mengidentifikasi BSF dan AAMI): kondisi kognitif pada


lanjut usia yang terjadi dengan adanya penambahan usia dan bersifat
wajar. Contoh: keluhan mudah – lupa secara subyektif, tidak ada gangguan
kognitif ataupun demensia.
14
2) Kondisi pre-demensia (mengidentifikasi CIND dan MCI): kondisi
gangguan kognitif pada lanjut usia dengan cirri mudah lupa yang makin
nyata dan dikenali (diketahui dan diakui) oleh orang dekatnya. Mudah lupa
subyektif dan obyektif serta ditemukan performa kognitif yang rendah
tetapi belum ada tanda-tanda demensia.
3) Kondisi demensia : kondisi gangguan kognitif pada lanjut usia dengan
berbagai jenis gangguan seperti mudah lupa yang konsisten, disorientasi
terutama dalam hal waktu, gangguan pada kemampuan pendapat dan
pemecahan masalah, gangguan dalam hubungan dengan masyarakat,
gangguan dalam aktivitas di rumah dan minat intelektual serta gangguan
dalam pemeliharaan diri.
3. Strategi Latihan Kognitif
a. Menurunkan cemas
b. Tehnik relaksasi
c. Biofeed back, menggunakan alat untuk menurunkan cemas dan memodifikasi
respon perilaku.
d. Systematic desenzatization. Dirancang untuk menurunkan perilaku yang
berhubungan dengan stimulus spesifik misalnya karena ketinggian atau perjalanan
melalui pesawat. Tehnik ini meliputi relaksasi otot dengan membayangkan situasi
yang menyebabkan cemas.
e. Flooding. Klien segera diekspose pada stimuli yang paling memicu cemas (tidak
dilakukan secara berangsur – angsur) dengan menggunakan bayangan/imajinasi.
f. Pencegahan respon klien. Klien didukung untuk menghadapi situasi tanpa
melakukan respon yang biasanya dilakukan.
4. Terapi Kognitif
a. Latihan kemampuan social meliputi : menanyakan pertanyaan, memberikan
salam, berbicara dengan suara jelas, menghindari kiritik diri atau orang lain
b. Aversion therapy : therapy ini menolong menurunkan perilaku yang tidak
diinginkan tapi terus dilakukan. Terapi ini memberikan stimulasi yang membuat
cemas atau penolakan pada saat tingkah laku maladaptive dilakukan klien.
c. Contingency therapy: Meliputi kontrak formal antara klien dan terapis tentang apa
definisi perilaku yang akan dirubah atau konsekuensi terhadap perilaku itu jika
dilakukan. Meliputi konsekuensi positif untuk perilaku yang diinginkan dan
konsekuensi negative untuk perilaku yang tidak diinginkan.
15
B. TES KOGNITIF DAN INTERPRETASI LATIHAN KOGNITIF PADA LANSIA
1. Tes kognitif MMSE

Nama Responden : Nama Pewawancara :

Umur Responden : Tanggal Wawancara :

Pendidikan : Jam mulai :

MINI MENTAL STATE EXAMINATION (MMSE)

Nilai Nilai
Maksimum Responden

ORIENTASI

5
Sekarang (hari-tanggal-bulan-tahun) berapa dan musim apa?

5 Sekarang kita berada di mana?

(Nama rumah sakit atau instansi)

(Instansi, jalan, nomor rumah, kota, kabupaten, propinsi)

REGISTRASI

3 Pewawancara menyebutkan nama 3 buah benda, misalnya:


(bola, kursi, sepatu). Satu detik untuk tiap benda. Kemudian
mintalah responden mengulang ketiga nama benda tersebut.

Berilah nilai 1 untuk tiap jawaban yang benar, bila masih salah
ulangi penyebutan ketiga nama tersebut sampai responden dapat
mengatakannya dengan benar:

Hitunglah jumlah percobaan dan catatlah : ______ kali

ATENSI DAN KALKULASI

5 Hitunglah berturut-turut selang 7 angka mulai dari 100 ke bawah.


Berhenti setelah 5 kali hitungan (93-86-79-72-65). Kemungkinan
lain ejaan kata dengan lima huruf, misalnya 'DUNIA' dari akhir ke
awal/ dari kanan ke kiri :'AINUD'

Satu (1) nilai untuk setiap jawaban benar.

MENGINGAT

3 Tanyakan kembali nama ketiga benda yang telah disebut di atas.

Berikan nilai 1 untuk setiap jawaban yang benar

BAHASA

9 a. Apakah nama benda ini? Perlihatkan pensil dan


arloji (2 nilai)

b. Ulangi kalimat berikut :"JIKA TIDAK, DAN ATAU


TAPI" (1 nilai)

c. Laksanakan 3 perintah ini :

16
Peganglah selembar kertas dengan tangan kananmu,
lipatlah kertas itu pada pertengahan dan letakkan di
lantai (3 nilai)

d. Bacalah dan laksanakan perintah berikut

"PEJAMKAN MATA ANDA" (1 nilai)

e. Tulislah sebuah kalimat ! (1 nilai)

f. Tirulah gambar ini ! (1 nilai)

Jam selesai :

Tempat
wawancara :

Gambar 1. Mini Mental State Examination (MMSE) (Setiati,2007).

2. Teknik pemakaian dan penilaian MMSE


MMSE menggunakan instrumen berbentuk berbagai pertanyaan. Daftar pertanyaan terdapat
pada gambar 1. Cara penggunaannya adalah sebagai berikut (Folstein, 1975;
Setiati,2007):
a. Penilaian Orientasi (10 poin)
Pemeriksa menanyakan tanggal, kemudian pertanyaan dapat lebih spesifik jika ada bagian
yang lupa (misalnya :”Dapatkah anda juga memberitahukan sekarang musim apa?”). Tiap
pertanyaan yang benar mendapatkan 1 (satu) poin. Pertanyaan kemudian diganti dengan
,”Dapatkah anda menyebutkan nama rumah sakit ini (kota, kabupaten, dll) ?”. Tiap
pertanyaan yang benar mendapatkan 1 (satu poin).
b. Penilaian Registrasi (3 poin).
Pemeriksa menyebutkan 3 nama benda yang tidak berhubungan dengan jelas dan lambat.
Setelah itu pasien diperintahkan untuk mengulanginya. Jumlah benda yang dapat
disebutkan pasien pada kesempatan pertama dicatat dan diberikan skor (0-3). Jika pasien
tidak dapat menyebutkan ketiga nama benda tersebut pada kesempatan pertama, lanjutkan

17
dengan mengucapkan namanya sampai pasien dapat mengulang semuanya, sampai 6 kali
percobaan. Catat jumlah percobaan yang digunakan pasien untuk mempelajari kata-kata
tersebut. Jika pasien tetap tidak dapat mengulangi ketiga kata tersebut, berarti pemeriksa
harus menguji ingatan pasien tersebut. Setelah menyelesaikan tugas tersebut, pemeriksa
memberitahukan kepada pasien agar mengingat ketiga kata tersebut, karena akan
ditanyakan sebentar lagi.
c. Perhatian dan kalkulasi (5poin)
Pasien diperintahkan untuk menghitung mundur dari 100 dengan selisih 7. hentikan setelah 5
angka. Skor berdasarkan jumlah angka yang benar. Jika pasien tidak dapat atau tidak
dapat mengerjakan tugas tersebut, maka dapat digantikan dengan mengeja kata ”DUNIA”
dari belakang. Cara menilainya adalah menghitung kata yang benar. Contohnya jika
menjawab “AINUD” maka diberi nilai 5, tetapi jika menjawab “AINDU” diberi nilai 3.
d. Ingatan (3poin)
Pasien diperintahkan untuk mengucapkan 3 kata yang diberikan sebelumnya kepada pasien
dan disuruh mengingatnya. Pemberian skor dihitung berdasarkan jumlah jawaban yang
benar.
e. Bahasa dan praktek (9 poin)

Penamaan : Pasien ditunjukkan arloji dan diminta menyebutkannya. Ulangi dengan


menggunakan pensil. Skor 1 poin setiap nama benda yang benar (0-2).

Repetisi (pengulangan) : Pasien diminta untuk mengulangi sebuah kalimat yang


diucapkan oleh penguji pada hanya sekali kesempatan. Skor 0 atau 1.

Perintah 3 tahap : pasien diberikan selembar kertas kosong, dan diperintahkan, ” Taruh
kertas ini pada tangan kanan anda, lipat menjadi 2 bagian, dan taruh di lantai”. Skor 1
poin diberikan pada setiap perintah yang dapat dikerjakan dengan baik (0-3).

Membaca : Pasien diberikan kertas yang bertuliskan ”Tutup mata anda” (hurufnya harus
cukup besar dan terbaca jelas oleh pasien. Pasien diminta untuk membaca dan melakukan
apa yang tertulis. Skor 1 diberikan jika pasien dapat melakukan apa yang diperintahkan.
Tes ini bukan penilaian memori, sehingga penguji dapat mendorong pasien dengan
mengatakan ”silakan melakukan apa yang tertulis” setelah pasien membaca kalimat
tersebut.

18
Menulis : Pasien diberikan kertas kosong dan diminta menuliskan suatu kalimat. Jangan
mendikte kalimat tersebut, biarkan pasien menulis spontan. Kalimat yang ditulis harus
mengandung subjek, kata kerja dan membentuk suatu kalimat. Tata bahasa dan tanda
baca dapat diabaikan.

Menirukan : pasien ditunjukkan gambar segilima yang berpotongan, dan diminta untuk
menggambarnya semirip mungkin. Kesepuluh sudut harus ada dan ada 2 sudut yang
berpotongan unruk mendapatkan skor 1 poin. Tremor dan rotasi dapat diabaikan.

3. Interpretasi penilaian MMSE


Setelah dilakukan penilaian, skor dijumlahkan dan didapatkan hasil akhir. Hasil yang
didapatkan diintrepetasikan sebagai dasar diagnosis. Ada beberapa interpretasi yang bisa
digunakan. Metode yang pertama hanya menggunakan single cutoff, yaitu abnormalitas
fungsi kognitif jika skor <24. metode lain menggunakan range. Jika skor <21
kemungkinan demensia akan meningkat, sedangkan jika skor >25 kecil kemungkinan
demensia.

Interpretasi lainnya memperhitungkan tingkat pendidikan pasien. Pada pasien dengan


tingkat pendidikan rendah (di bawah SMP) ambang batas abnormal diturunkan menjadi
21, pada tingkat pendidikan setingkat SMA abnormal jika skor <23, pada tingkat
perguruan tinggi skor abnormal jika <24.

Berat ringannya gangguan kognitif dapat diperkirakan dengan MMSE. Skor 24-30
menunjukkan tidak didapatkan kelainan kognitif. Skor 18-23 menunjukkan kelainan
kognitif ringan. Skor 0-17 menunjukkan kelainan kognitif yang berat (Folstein, 1975).

Tabel 1. Interpretasi MMSE (Folstein, 1975).


Metode Skor Interpretasi

Single Cutoff <24 Abnormal

Range <21 Kemungkinan demesia lebih besar


>25 Kemungkinan demesia lebih kecil

Pendidikan 21 Abnormal pada tingkat pendidikan kelas 2 SMP


<23 Abnormal pada tingkat pendidikan SMA
<24 Abnormal pada tingkat pendidikan Perguruan Tinggi

Keparahan 24-30 Tidak ada kelainan kognitif


18-23 Kelainan kognitif ringan
0-17 Kelainan kognitif berat

19
4. Tes Kognitif Abbreviated Mental Test Score (AMT)
SETIAP JAWABAN BENAR MENDAPAT SKOR SATU POIN

1. Umur

2. Waktu (jam)

3. Alamat lengkap (pertanyaan diulang saat akhir wawancara)

4. Tahun

5. Nama rumah sakit, institusi atau alamat rumah (tergantung tempat wawancara)

6. Mengenal 2 orang (misalnya dokter, perawat, istri, dll)

7. Tanggal lahir

8. Tahun Perang Dunia I mulai

9. Nama raja sekarang

10. Menghitung mundur dari 20 ke 1

Total skor

SKOR KURANG DARI 6 MENUNJUKKAN ADANYA DEMENSIA

Gambar 2. Daftar pertanyaan pada AMT

5. Interpretasi AMT
Perkiraan penggunaan waktu pelaksanaan harus diperhatikan, karena waktu
penilaian lebih panjang pada penderita dengan kelainan kognitif daripada yang tidak.
Oleh sebab itu, dikembangkan beberapa instrumen untuk menilai fungsi kognitif pada
penderita lanjut usia dengan waktu yang lebih pendek daripada MMSE. Salah satu
instrumen yang dikembangkan adalah Abbreviated Mental Test Score (AMT)
(MacKenzie,1996; Tangalos,1996). AMT mempunyai sensitifitas dan spesivisitas yang
lebih rendah dalam mendeteksi adanya kelainan kognitif daripada MMSE. AMT
tampaknya kurang menyenangkan, meskipun lebih mudah dan cepat untuk digunakan.
(Tombaugh,1992; MacKenzie,1996). Interpretasi skor pada AMT adalah jika skor AMT
<6 menunjukkan adanya demensia.

The Abbreviated Mental Test (AMT) lebih singkat, terdiri dari 10 soal yang
digunakan untuk skrining kelainan. Tes ini terdiri dari 10 pertanyaan yang diseleksi
berdasarkan nilai diskriminatif dari Mental Test Score yang lebih panjang. AMT
termasuk komponen-komponen yang mengikuti memori baru dan lama, atensi, dan
orientasi. Skor <8 merupakan batas yang menunjukkan defisit kognitif yang bermakna.

20
Tes ini menunjukkan secara cepat penilaian beratnya penyakit dibandingkan tes yang
lebih panjang. Tes ini mampu mendeteksi perubahan kognisi yang berhubungan dengan
perkembangan pasca operatif pada delirium. Pada pasien usia lanjut, tes ini dapat
dikerjakan dalam 3 menit.

Terdapat versi 4 pertanyaan AMT (AMT4), dengan pertanyaan tentang umur, tanggal
lahir, tempat, dan tahun saja. Tes ini lebih cepat, lebih mudah digunakan, dan lebih
mudah diingat oleh pemeriksa. Sehingga lebih meningkatkan kemungkinan penggunaan
tes ini secara rutin pada pasien usia lanjut di rumah sakit yang sibuk atau di UGD.

21
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Lansia adalah periode dimana organisme telah mencapai kemasakan dalam
ukuran dan fungsi dan juga telah menunjukkan kemunduran sejalan dengan waktu
Aktivitas Lansia sehingga pada usia senja di butuhkan Latihan Fisik dan
latihan kognitif yang di berikan berupa pelayanan sosial lanjut usia
(Lansia), selalu mengacu kepada terpenuhinya kebutuhan lanjut usia
(Lansia) yang meliputi kebutuhan biologis, psikologis, sosial, intelektual
dan spiritual serta kegiatan pengisian waktu luang. Selain itu, dapat
bermanfaat untuk memperpanjang usia harapan hidup dan produktivitas
lanjut usia serta terwujudnya kesejahteraan sosial lanjut usia yang diliputi
rasa tenang, tenteram, bahagia, dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang
Maha Esa.

B. SARAN
Dalam penulisan makalah yang berjudul ” Latihan Fisik Pada Lansia Dan
Membantu Latihan Fisik Kognitif Pada Lansiam ”nantinya makalah ini dapat berguna
bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya. Namun penulis menyadari
dalam penulisan makalah ini masih bnyak terdapat kekurangan baik dalam penulisan
maupun penyusunannya. Oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun
sangat penulis harapkan untuk kesempurnaan makalah di masa yang akan datang.

22
Daftar Pustaka
 Akses Pada tanggal 21 januari 2018 [ INTERNET] di
https://www.scribd.com/document/347226004/Makalah-Latihan-Kognitif-Pada-
LansiaUploaded by ferysetiani on May 03, 2017

 Akses Pada tanggal 21 januari 2018 [ INTERNET] di


https://www.academia.edu/28947231/Makalah_Aktivitas_Senam_LansiaMakalah
Aktivitas Senam Lansia UPLOADED BY Mira Noviyanti

23