Anda di halaman 1dari 151

EVALUASI KESESUAIAN LAHAN DAN PENGEMBANGAN

SISTEM INFORMASI BUDIDAYA TAMBAK UDANG


PT. INDONUSA YUDHA PERWITA

Aninda Wisaksanti Rudiastuti

SEKOLAH PASCA SARJANA


INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN

SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis “EVALUASI KESESUAIAN LAHAN


DAN PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI BUDIDAYA TAMBAK UDANG
PT. INDONUSA YUDHA PERWITA” adalah karya saya dengan arahan dari
komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan
tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang
diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain, telah disebutkan dalam teks
dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka pada bagian akhir dari tesis ini.

Bogor, Agustus 2011

Aninda Wisaksanti Rudiastuti

C552080091
RINGKASAN

ANINDA W. RUDIASTUTI. Evaluasi Kesesuaian Lahan dan Pengembangan


Sistem Informasi Budidaya Tambak Udang PT. Indonusa Yudha Perwita.
Dibimbing oleh JONSON L. GAOL dan EDDY SUPRIYONO.

Pemilihan lokasi adalah kepentingan mendasar untuk menunjang


keberhasilan budidaya. Evaluasi kesesuaian lahan tambak PT. IYP yang masih
aktif berproduksi, didasarkan pada ketiadaan informasi kesesuaian lahan, dan
banyaknya tambak di Pantura Jawa yang telah gagal serta menyebabkan
kerusakan lingkungan. Pengembangan Sistem Informasi Budidaya Tambak
Udang dilakukan untuk mendukung modernisasi pengelolaan data budidaya
tambak PT. IYP. Dalam manajemen budidaya, data teknis berperan penting,
sehingga diperlukan proses penanganan yang ringkas dan cepat untuk
mendukung proses evaluasi sebagai langkah sehat yang dapat meningkatkan
efisiensi dan produktivitas. Evaluasi dipermudah oleh sistem informasi yang
berperan sebagai media penyimpan, pengaman dan pengolah data budidaya
tambak menjadi informasi, sehingga mampu mendukung proses pengambilan
keputusan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kesesuaian lahan tambak
PT. IYP, mengembangkan sistem informasi pengelolaan budidaya tambak, dan
menganalisis hubungan kesesuaian lokasi usaha dan keberhasilan operasional
budidaya tambak
Evaluasi kesesuaian lahan tambak PT. IYP dilakukan dengan
pembobotan dan pengharkatan pada multikriteria biofisik dan peraturan
mengenai kawasan sempadan pantai. Perancangan sistem informasi diawali
dengan analisis terhadap kebutuhan, kemudian dilakukan implementasi dari hasil
rancangan sistem informasi dengan bahasa pemrograman Visual Basic 6.0. Data
budidaya dituangkan dalam database dengan model data relasional, dan dikelola
dengan menggunakan MySQL. Sistem informasi yang dibangun memiliki
aktivitas input data, pemrosesan, dan menghasilkan output berupa informasi
dalam bentuk grafik dan tabel. Proses input dan output diawali dengan pemilihan
kolam sebagai identitas spasial data budidaya. Pemrosesan data yang dilakukan
dalam sistem informasi ini adalah operasi matematis atau kalkulasi, akumulasi
data deret waktu, dan perbandingan data antar kolam.
Hasil evaluasi kesesuaian lahan menggambarkan bahwa secara biofisik,
lahan tambak PT. IYP terletak dalam kelas “sangat sesuai” dan “cukup sesuai”.
Luasan lahan tambak yang berada dalam kelas “sangat sesuai” adlah seluas
11,71 ha (51,26 %) dan kelas “cukup sesuai 11,13 ha (48,74%). Berdasarkan
peraturan perlindungan kawasan pesisir yang tertuang dalam Keppres 32/ 1990,
lahan tambak PT. IYP kategori kelas “cukup sesuai” berada pada kawasan
sempadan pantai. Batas utara lahan tambak PT. IYP berada pada garis pantai
dan tidak memiliki jalur hijau selebar 200 m. Kurang tepatnya lokasi
menyebabkan tambak terkena dampak abrasi secara terus menerus.
Sistem Informasi Budidaya Tambak Udang PT. IYP dibangun untuk
mendukung manajemen yang sehat, terutama pengelolaan data budidaya secara
otomatis yang dibutuhkan sebagai tool untuk memudahkan proses evaluasi
keberhasilan budidaya . Fungsi utama sistem informasi yang dikembangkan
adalah memasukkan data (input), mengolah data, serta menghasilkan output.
Proses input data dibagi menjadi input formasi data dan input data budidaya.
Input formasi data bertujuan untuk mendefinisikan jenis dan kelompok data yang
memiliki kemungkinan untuk diperbaharui dan penggunaannya berulang. Input
data budidaya dikelompokkan menjadi data kualitas air, data plankton, data
pakan, data sampling, data panen. Pemrosesan data dalam sistem informasi
mencakup akumulasi data deret waktu, perbandingan antar kolam, dan operasi
matematis atau penghitungan dengan formula. Proses akumulasi data deret
waktu bertujuan untuk memantau fluktuasi data budidaya khususnya kualitas air
(pH, salinitas, DO), perbandingan data antar kolam atau secara spasial dilakukan
untuk mengevaluasi kondisi budidaya beberapa kolam produksi (perbandingan
padat tebar, hasil panen atau pertumbuhan bobot udang). Operasi matematis
atau penggunaan formula digunakan untuk menghasilkan informasi mengenai
padat tebar, survival rate (SR), feeding convertion ratio (FCR), hasil sampling,
total pakan harian, akumulasi jumlah pakan, pertumbuhan bobot udang harian
(ADG), dan nilai produksi/ ha dalam waktu singkat.
Kemampuan Sistem Informasi Budidaya Tambak Udang PT. IYP dalam
efisiensi pengolahan data menjadikannya sebagai tool yang efektif dalam proses
evaluasi dan pengambilan keputusan. Perbedaan Sistem Informasi Budidaya
Tambak Udang PT. IYP dengan metode pengelolaan data secara manual
terletak pada beberapa hal yang sekaligus menjadi keunggulan yakni
penyimpanan data yang ringkas dalam satu database, sistem informasi dapat
bersifat statis dan dinamis, kemudahan dan efisiensi waktu dalam proses
updating, manipulasi, penelusuran, serta pengolahan data budidaya menjadi
output yang mudah diinterpretasi oleh user, fleksibilitas penggunaan data,
kemudahan transmisi data, dan tersedianya fungsi pengamanan data.
Variasi nilai produksi tambak PT. IYP yang dapat ditampilkan secara
cepat pada sistim informasi menunjukkan bahwa produksi kolam tambak PT.
IYP pada Blok 1 dan 4 lebih rendah dari kolam pada Blok 2 dan 3. Berdasarkan
evaluasi kesesuaian lahan, tambak pada Blok 2 dan 3 berada pada kelas “sangat
sesuai” sedangkan Blok 1 dan 4 berada pada kelas “cukup sesuai”.
Kesesuaian wilayah usaha tambak berpengaruh terhadap hasil produksi
yang dicapai. Pemanfaatan informasi kesesuaian lahan tambak serta
pengelolaan data budidaya melalui sebuah sistem informasi yang sekaligus
berperan sebagai decision making tools, diharapkan dapat memperbaiki kinerja
tambak dan meningkatkan hasil produksi usaha tambak.
ABSTRACT

ANINDA WISAKSANTI RUDIASTUTI. Land Suitability Evaluation and Shrimp


Culture Information System Development of PT. Indonusa Yudha Perwita.
Supervised by JONSON LUMBAN GAOL AND EDDY SUPRIYONO.

Utilization of GIS excess in land suitability analysis and Shrimp Culture


Information System development of PT Indonusa Yudha Perwita (PT. IYP) are
based on the absence of land suitability information and the lack of computerized
data management. The study is designed to evaluate land suitability of PT. IYP’s
ponds, to develop information system for aquaculture data management, and to
analyze relation of land suitability of ponds and aquaculture operational success.
The analysis of land suitability is performed by using multicriteria biophysical, and
constraint factors like legislation to protect mangroves as buffer zone along
coastline. Information system is built through requirement analysis stages,
system design, and system development. The result of land suitability analysis is
that 11.13 ha ponds area of PT. IYP located in moderately suitable class, and the
rest 11.71 ha is very suitable. Due to government regulation in Keppres no. 32/
1990, the moderately suitable area is designated as coastal greenbelt of
mangrove. Shrimp Culture Information System of PT. IYP is able to provide
efficiency, especially in time and data storage. Its capability in data processing,
including, spatial comparison, temporal variation, and algebra application (FCR,
SR, ADG, etc.), provides efficiency in evaluating shrimp culture activities. Lower
yield from ponds locating on moderately suitable area than that from ponds in
very suitable land is revealed as relation land suitability of PT. IYP to its
production value.

Keywords: GIS, Land Suitability, Shrimp Culture Information System


© Hak Cipta milik IPB, tahun 2011

Hak Cipta dilindungi Undang- undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan
atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau
tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar
IPB

Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh Karya tulis


ini dalam bentuk apapun tanpa izin IPB
RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Semarang pada tanggal 3 Juni 1985 dari ayah Ir.
Thomas Aquinas Gatot R., MM dan ibu Ir. Astuti Nurtjahyati. Penulis merupakan
putri pertama dari tiga bersaudara.
Pendidikan sarjana ditempuh di program studi Ilmu dan Teknologi Kelautan,
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, dan lulus pada
tahun 2008. Penulis bekerja sebagai staf laboratorium Penginderaan Jauh dan
Sistem Informasi Geografi Kelautan, Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan,
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, sejak tahun
2008.
EVALUASI KESESUAIAN LAHAN DAN PENGEMBANGAN
SISTEM INFORMASI BUDIDAYA TAMBAK UDANG
PT. INDONUSA YUDHA PERWITA

Aninda Wisaksanti Rudiastuti

Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Sains pada
Mayor Teknologi Kelautan

SEKOLAH PASCA SARJANA


INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011
HALAMAN PENGESAHAN

Judul : Evaluasi Kesesuaian Lahan dan Pengembangan Sistem Informasi

Budidaya Tambak Udang PT. Indonusa Yudha Perwita

Nama : Aninda Wisaksanti Rudiastuti

NRP : C552080091

Mayor : Teknologi Kelautan (TEK)

Disetujui

Komisi Pembimbing

Dr. Ir. Jonson L.Gaol, M.Si Dr. Ir. Eddy Supriyono, M.Sc
Ketua Anggota

Diketahui,

Ketua Mayor Dekan Sekolah Pascasarjana IPB

Dr. Ir. Djisman Manurung, M.Sc Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc.Agr

Tanggal Ujian: 25 Agustus 2011 Tanggal Lulus:


Penguji Luar Komisi : Dr. Ir. Vincentius P. Siregar, DEA
PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas

segala berkat, rahmat dan karunia-Nya sehingga karya ilmiah berjudul “Evaluasi

Kesesuaian Lahan dan Pengembangan Sistem Informasi Budidaya Tambak

Udang PT. Indonusa Yudha Perwita” berhasil diselesaikan. Penelitian ini disusun

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Mayor

Teknologi Kelautan, Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor.

Dalam kesempatan ini, penulis menghaturkan ucapan terima kasih kepada

yang terhormat :

1. Bapak Dr. Ir. Jonson L. Gaol, M.Si selaku ketua komisi pembimbing atas

segala ilmu, bimbingan, arahan, tuntunan, saran dan motivasi selama

masa perkuliahan, penelitian, penyusunan hingga penulisan tesis.

2. Bapak Dr. Ir. Eddy Supriyono, M.Sc selaku anggota komisi pembimbing

atas setiap ilmu khususnya di bidang budidaya, bimbingan, saran, arahan

dan motivasi selama penelitian, penyusunan dan penulisan tesis.

3. Bapak Dr. Ir. Vincentius P. Siregar, DEA selaku dosen dan penguji luar

komisi atas ajaran, saran serta masukkan dalam penulisan tesis.

4. Bapak Dr. Ir. Djisman M. Manurung, M.Sc selaku koordinator mayor

Teknologi Kelautan yang telah memberikan masukkan dalam penulisan

tesis

5. Bapak Prof. Dr. Enang Harris atas informasi dan saran mengenai lokasi

penelitian

6. Bapak Dilip Sathyanathan, pengelola tambak PT. Indonusa Yudha

Perwita, yang bersedia memberikan kesempatan untuk melakukan

penelitian, dan memberikan pengetahuan serta data mengenai budidaya

tambak yang sangat penting dalam menunjang penulisan tesis.


7. Bapak Anung, selaku pengelola administrasi tambak PT. Indonusa Yudha

Perwita.

8. Bapak Chris Ferdian Z. atas segala bantuan, bimbingan dan masukkan

dalam menyelesaikan rancangan sistem informasi budidaya tambak.

9. Orang tua tercinta Th. Aq. Gatot R dan Astuti Nurtjahyati, serta adik- adik

penulis Cecilia Dinda dan Severianus Sony, atas segala doa, cinta dan

kasih sayang, perhatian, motivasi, kebersamaan serta dukungan atas

segala hal dalam kehidupan.

10. Teman- teman yang telah memberikan banyak dukungan, bantuan, dan

saran dalam proses penelitian dan penulisan tesis ini, khususnya Anggi

Afif Muzaki, Daniel Siahaan, Indra Verdian Karif, I. Rizki, Abie Ariyo,

Yohan S.,Fina Mariany, dan Mbak Mufida. Motivator dan pemberi

semangat, Franky Hamonangan Sitinjak.

11. Rekan mayor Teknologi Kelautan angkatan 2008, Pak Paharuddin, Pak

Vito Yuwono, Pak Yuliyanto, Pak Jusron Ali R., Pak Aguinaldo Hendrik

Suikeno, Pak Juni W., Zulham, atas motivasi dan dukungannya.

12. Keluarga besar Sekolah Pasca Sarjana Mayor Teknologi Kelautan 2008

atas pengalaman, kebersamaan, dan persahabatan selama masa studi.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat dalam pengembangan ilmu di bidang

kelautan dan perikanan.

Bogor, Agustus 2011

Aninda Wisaksanti Rudiastuti


DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI ...................................................................................... xiii

DAFTAR TABEL ............................................................................... xvi

DAFTAR GAMBAR ........................................................................... xvi

DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................ xix

I. PENDAHULUAN ........................................................................ 1

1.1 Latar belakang ...................................................................... 1

1.2 Perumusan masalah ............................................................. 2

1.3 Tujuan penelitian................................................................... 3

1.4 Manfaat penelitian ................................................................. 4

II. TINJAUAN PUSTAKA ............................................................... 5

2.1 Budidaya tambak .................................................................. 5

2.2 Sistem budidaya tambak udang intensif ................................ 5

2.3 Udang vannamei ................................................................... 6

2.3.1 Klasifikasi udang vannamei ......................................... 7

2.4 Pengembangan lokasi budidaya tambak di pesisir ............... 8

2.5 Kesesuaian lokasi usaha tambak .......................................... 9

2.5.1 Sumber air dan kualitasnya .......................................... 10

2.5.2 Karakteristik tanah ....................................................... 11

2.5.3 Topografi ...................................................................... 12

2.5.4 Curah hujan ................................................................. 13

2.5.5 Pasang surut ................................................................ 13

2.6 Data ..................................................................................... 14

2.7 Informasi .............................................................................. 14

xiii
2.8 Database ............................................................................. 15

2.8.1 Database relasional..................................................... 15

2.9 Sistem informasi .................................................................. 16

2.10 Sistem Informasi Geografis ................................................. 17

2.10.1 Komponen SIG ........................................................ 18

2.10.2 Format data SIG ...................................................... 19

2.11 SIG dalam akuakultur .......................................................... 20

III. METODOLOGI ........................................................................... 23

3. 1 Waktu dan lokasi penelitian .................................................. 23

3.2 Alat dan data penelitian ........................................................ 23

3.3 Metode pengumpulan data................................................... 23

3.4 Metode penelitian ................................................................. 29

3.4.1 Data spasial ................................................................ 29

3.4.2 Data kualitas air pesisir ............................................... 29

3.4.3 Data kualitas sumber air budidaya .............................. 29

3.4.4 Data budidaya tambak PT. Indonusa Yudha Perwita ... 30

3.5 Metode pengolahan dan analisis data ................................... 30

3.5.1 Evaluasi kesesuaian lahan tambak PT. Indonusa


Yudha Perwita.............................................................. 31

3.5.2 Pengembangan Sistem Informasi Budidaya


Tambak Udang PT. IYP............................................... 33

3.5.2.1 Pembentukan database................................... 33

3.5.2.2 Perancangan Sistem Informasi Budidaya


Tambak Udang PT. IYP................................... 34

3.5.2.3 Evaluasi Sistem Informasi Budidaya


Tambak Udang PT. IYP.................................... 40

3.5.3 Pemanfaatan sistem informasi dalam pengkajian


kesesuaian lahan dengan keberhasilan operasional
budidaya tambak PT.Indonusa Yudha Perwita ........... 40

xiv
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ...................................................... 43

4.1 Deskripsi umum wilayah pesisir Indramayu.......................... 43

4.2 Tambak udang PT. Indonusa Yudha Perwita ....................... 43

4.2.1 Sejarah singkat tambak PT. Indonusa Yudha


Perwita ........................................................................ 44

4.2.2 Kegiatan budidaya udang vannamei di PT. Indonusa


Yudha Perwita ............................................................. 44

4.2.3 Tahapan kegiatan budidaya udang vannamei ............. 46

4.3 Karakteristik biofisik pesisir Kecamatan Patrol, Indramayu .. 53

4.4 Kesesuaian lahan budidaya tambak di kecamatan Patrol .... 55

4.5 Evaluasi kesesuaian lahan tambak


PT. Indonusa Yudha Perwita................................................ 58

4.6 Sistem Informasi Budidaya Tambak Udang PT. IYP ............ 64

4.6.1 Aktivitas Sistem Informasi Budidaya Tambak Udang


PT. IYP ....................................................................... 66

4.6.2 Evaluasi Sistem Budidaya Tambak Udang


PT. IYP ....................................................................... 78

4.7 Pemanfaatan sistem informasi dalam pengkajian kesesuaian


lahan dengan keberhasilan operasional tambak
PT. Indonusa Yudha Perwita................................................ 81

V. SIMPULAN DAN SARAN ........................................................ .. 83

5.1 Simpulan ............................................................................ .. 83

5.2 Saran ................................................................................ .. 84

DAFTAR PUSTAKA.......................................................................... 85

LAMPIRAN ....................................................................................... 90

xv
DAFTAR TABEL

Halaman

1. Kualitas air tambak udang ........................................................ 11

2. Hubungan antara tekstur tanah dengan kelayakannya


sebagai lahan tambak .............................................................. 12

3. Alat penelitian .......................................................................... 26

4. Data penelitian ......................................................................... 26

5. Matriks kesesuaian lahan budidaya tambak ............................. 32

6. Pemrosesan data budidaya dalam Sistem Informasi


Pengelolaan Budidaya Tambak PT. IYP (a) dan (b)................... 38

7. Jadwal kegiatan harian dalam kegiatan budidaya .................... 51

8. Luas kelas kesesuaian lahan tambak PT. IYP ......................... 58

9. Faktor penyusun kesesuaian lahan tambak PT. IYP ................ 58

10. Perbedaan pengelolaan data secara manual dan dengan


Sistem Informasi Budidaya Tambak Udang PT.IYP ................. 79

xvi
DAFTAR GAMBAR

Halaman

1. Diagram alir perumusan masalah ............................................ 4

2. Udang vannamei (L.vannamei) ................................................ 8

3. Data, proses dan informasi ...................................................... 14

4. Kunci primer dan kunci asing dalam hubungan antar relasi ..... 16

5. Komponen sistem informasi dalam aktivitas sistem informasi .. 17

6. Skema proses perencanaan dengan SIG ................................ 18

7. Komponen Sistem Informasi Geografis .................................... 19

8. Tipe data Sistem Informasi Geografis ...................................... 20

9. Lokasi penelitian ...................................................................... 24

10. Peta tata letak tambak PT. Indonusa Yudha Perwita ............... 25

11. Skema integrasi seluruh kriteria dan faktor pembatas dalam


penentuan kesesuaian lahan budidaya tambak ....................... 33

12. Format tabel data budidaya dalam database tambak


PT. IYP .................................................................................... 35

13. Diagram ER Sistem Informasi Budidaya Tambak Udang


PT. IYP .................................................................................... 36

14. Aktivitas sistem informasi pengelolaan budidaya tambak


PT. IYP .................................................................................... 39

15. Diagram alir penelitian ............................................................. 41

16. Kolam dalam masa pembuangan air dan pengeringan (a),


Saluran pembuangan di tengah kolam (b).................................. 48

17. Proses pemasangan kincir.......................................................... 49

18. Vitamin udang dalam masa pembesaran di tambak PT. IYP


(a) Wheat Gluten, TOP S, Pro 2; (b) BioVit Aquatic................... 51

19. Kesesuaian lahan tambak Kecamatan Patrol, Indramayu ........ 57

20. Kesesuaian lokasi tambak PT. Indonusa Yudha Perwita


berdasarkan faktor biofisik ....................................................... 59

xvii
21. Kesesuaian lokasi tambak PT. Indonusa Yudha Perwita
berdasarkan faktor biofisik dan peraturan perlindungan
kawasan pesisir ....................................................................... 61

22. Kondisi bagian depan tambak yang terkikis abrasi..................... 63

23. Sistem Informasi Pengelolaan Budidaya Tambak PT. IYP ....... 65

24. Alur proses input dan output Sistem Informasi Budidaya


Tambak Udang PT. IYP.............................................................. 66

25. Layar menu input formasi data dalam Sistem Informasi


Budidaya Tambak Udang PT. Indonusa Yudha Perwita............ 68

26. Menu input lima jenis data budidaya dalam Sistem Informasi
Budidaya Tambak Udang PT. Indonusa Yudha Perwita............ 70

27. Evaluasi proses budidaya periode Maret- Juli 2009


menggunakan Sistem Informasi Budidaya
Tambak Udang PT. IYP ........................................................... 73

28. Evaluasi data kualitas air budidaya periode Maret- Juli 2009
berdasarkan Sistem Informasi Budidaya Tambak
Udang PT. IYP ......................................................................... 75

29. Grafik fluktuasi hasil produksi dari kolam tambak PT. Indonusa
Yudha Perwita ......................................................................... 77

xviii
DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1. Stasiun pengambilan data kualitas air pesisir Kabupaten


Indramayu................................................................................ 91

2. Stasiun pengambilan data kualitas sumber air budidaya


tambak PT. Indonusa Yudha Perwita ....................................... 92

3. Metode pengukuran dan foto alat pengambilan data


kualitas air ............................................................................... 93

4. Peta awal tambak PT. Indonusa Yudha Perwita ...................... 99

5. Kualitas sumber air tawar dan air laut budidaya tambak


PT. Indonusa Yudha Perwita ................................................... 99

6. Peta garis pantai dan buffer jarak dari pantai .......................... 100

7. Tabel data dan peta sebaran salinitas pesisir .......................... 101

8. Peta aliran sungai di Kecamatan Patrol ................................... 103

9. Data curah hujan ..................................................................... 104

10. Peta penggunaan lahan (Landuse) Kecamatan Patrol .............. 105

11. Peta kualitas tanah Kecamatan Patrol ..................................... 105

12. Peta aksesibilitas dan buffer jalan ............................................ 107

13. Grafik ramalan pasang surut air laut di stasiun Cirebon ........... 107

14. Peta kesesuaian lahan Kecamatan Patrol dengan faktor


pembatas ................................................................................. 108

15. Panduan penggunaan Sistem Informasi BudidayaTambak


Udang PT. Indonusa Yudha Perwita ........................................ 109

16. Tabel output Sistem Informasi Budidaya Tambak Udang


PT. Indonusa Yudha Perwita .................................................. 133

17. Tabel hasil produksi kolam tambak PT. Indonusa Yudha


Perwita .................................................................................... 135

xix
1

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Usaha budidaya udang di Indonesia diawali dengan budidaya udang windu

(Penaeus monodon) dan udang putih (Penaeus merguiensis). Introduksi udang

vannamei dilakukan pertama kali pada tahun 2001. Introduksi udang vannamei

dilakukan dengan maksud membangkitkan kembali usaha pertambakan udang

karena budidaya udang windu masih banyak menemui kendala. Udang vannamei

dipilih sebagai komoditi budidaya salah satunya adalah karena sifat Spesific

Patogen Free (SPF). Hasil produksi budidaya udang vannamei menurut data

statistik perikanan tahun 2009 dalam Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya

(2009) mencapai 170.969 ton dan merupakan jenis udang dengan tingkat

produksi tertinggi dibandingkan dengan jenis udang lainnya.

Usaha budidaya tambak tersebar hampir diseluruh daerah pesisir dengan

tingkat pemanfaatan yang berbeda. Menurut Departemen Kelautan dan

Perikanan (2005), tingkat pemanfaatan lahan di Jawa Barat untuk budidaya air

payau mencapai taraf 91,11%. Menurut Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya

(2009) hingga tahun 2009 tingkat pemanfaatan lahan untuk tambak di Indonesia

mencapai 606.680 ha atau 57,91% dari seluruh lahan budidaya.

Budidaya tambak memiliki komponen keruangan serta perbedaan

karakteristik biofisik dan sosial ekonomi dari setiap lokasi. Banyak usaha

budidaya tambak intensif belum memanfaatkan kelebihan sistem informasi

geografis dalam melakukan pemilihan lokasi dan pengelolaan budidaya, dimana

hal tersebut penting dilakukan untuk menghindari kegagalan usaha. Kebutuhan

informasi spasial bagi pengambil keputusan untuk mengevaluasi karakteristik

biofisik dan sosial ekonomi sebagai bagian dari perencanaan pengelolaan

budidaya, dilayani dengan baik oleh Sistem Informasi Geografis (Kapetsky dan
2

Travaglia 1995). Kelebihan SIG sebagai sistem informasi berbasis keruangan

pun dapat digunakan sebagai dasar dalam membangun sistem informasi

pengelolaan budidaya. Sistem informasi pengelolaan budidaya tambak udang

dapat memudahkan proses manajemen dan evaluasi budidaya untuk

pengambilan keputusan.

1.2 Perumusan masalah

Keberadaan usaha budidaya tambak PT. Indonusa Yudha Perwita (PT.IYP)

di pesisir kecamatan Patrol, menimbulkan pertanyaan mengenai kesesuaian

lahan dan proses pengelolaan data kegiatan budidaya dalam usaha tambak yang

masih berproduksi. Hal tersebut didasarkan pada kondisi tambak di Pantai Utara

Jawa yang sebagian besar telah mengalami kegagalan dan menyebabkan

kerusakan lingkungan, khususnya di pesisir Indramayu yang terkena abrasi

(Bapeda Indramayu 2007). Evaluasi kesesuaian lahan terhadap tambak yang

masih berproduksi berkaitan dengan pernyataan Pillay dan Kutty (2005) yakni

untuk keberhasilan usaha budidaya, maka pemilihan lokasi menjadi suatu

kepentingan yang mendasar. Evaluasi dilakukan untuk mengkaji pengaruh

kesesuaian lokasi terhadap keberhasilan produksi yang telah dicapai. Proses

evaluasi dilakukan dengan memanfaatkan kelebihan Sistem Informasi Geografis

(SIG). Sistem Informasi Geografis telah banyak digunakan dalam proses

pemilihan lokasi budidaya tambak (Salam dan Ross 2000; Nath et al. 2000;

Salam et al. 2003). Fungsi SIG adalah sebagai uji dasar dalam mempelajari

lingkungan dan memungkinkan manajer menguji konsekuensi dari berbagai

langkah sebelum terjadi kesalahan pengambilan keputusan (Kapetsky dan

Travaglia 1995). Pengetahuan yang kurang memadai tentang area potensial

sering menjadi hambatan pembangunan akuakultur yang rasional dan berjangka

waktu panjang (Aguilar-Manjarrez dan Ross 1993).


3

Manajemen budidaya mencakup semua aspek teknis, seperti penggunaan air

dan kualitasnya, komoditi budidaya, proses produksi, hingga identifikasi dan

pemecahan masalah produksi. Penanganan data budidaya secara konvensional

menyebabkan proses evaluasi data membutuhkan waktu lama. Hal tersebut

tentunya cukup menghambat, mengingat evaluasi bukanlah hal utama yang

sangat diperlukan, namun merupakan suatu langkah sehat yang sangat

membantu dalam meningkatkan efisiensi dan produktivitas (Meade 1989).

Proses evaluasi terhadap kegiatan budidaya akan dipermudah dengan adanya

suatu sistem informasi. Sistem informasi berperan sebagai pengaman data dari

setiap kolam tambak, dan sebagai alat pemroses data budidaya menjadi suatu

informasi yang mendukung proses pengambilan keputusan.

Penggunaan SIG untuk mengevaluasi kembali suatu lokasi budidaya tambak,

sekaligus sebagai acuan dalam pengelolaan data budidaya belum banyak

dilakukan, sehingga perlu dicoba untuk diterapkan pada tambak yang masih

berproduksi. Selama menjalankan proses produksi, PT. IYP belum memiliki

informasi mengenai kesesuaian lahan untuk lokasi tambaknya, selain itu, metode

pengelolaan data budidaya pun masih dilakukan secara manual. Perumusan

masalah dituangkan dalam diagram alir pada Gambar 1.

1.3 Tujuan penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

- Mengevaluasi kesesuaian lokasi budidaya tambak udang PT. IYP

- Mengembangkan sistem pengelolaan data budidaya tambak PT. IYP

- Menggunakan sistem informasi dalam pengkajian kesesuaian lahan dan

keberhasilan operasional budidaya tambak PT. IYP


4

1.4 Manfaat penelitian

Manfaat yang dapat diperoleh adalah :

- Informasi kesesuaian lokasi budidaya tambak PT. Indonusa Yudha Perwita

- Sistem informasi pengelolaan budidaya tambak yang dihasilkan dapat

digunakan sebagai tool dalam manajemen, evaluasi, serta early warning

system usaha budidaya tambak.

Tambak
PT. IYP

Manajemen data
budidaya dilakukan
secara konvensional

Hasil evaluasi
Tidak
kesesuaian
sesuai Kendala dalam proses
lahan?
evaluasi kegiatan
budidaya

Sesuai Pengelolaan data budidaya


dalam bentuk sistem informasi

Hubungan kesesuaian
Output  dapat digunakan
lokasi terhadap hasil
untuk mengevaluasi
produksi sebagai
keberhasilan operasional
ukuran keberhasilan
tambak
operasional

Gambar 1. Diagram alir perumusan masalah


5

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Budidaya tambak

Budidaya tambak merupakan kegiatan pemeliharaan untuk memperbanyak

(reproduksi), menumbuhkan serta meningkatkan mutu biota akuatik di dalam

suatu kolam, dan agar dapat diperoleh suatu hasil yang optimal maka perlu

disiapkan suatu kondisi tertentu yang sesuai bagi komoditas yang akan

dipelihara (Effendi 2009). Dahuri et al. (1997) menyatakan bahwa agar budidaya

perairan dapat berkelanjutan dan optimal, maka pemilihan lokasi harus dilakukan

secara benar dan menurut pada kaidah- kaidah ekologis dan ekonomi.

2.2 Sistem budidaya tambak udang intensif

Sistem budidaya udang yang diterapkan di Indonesia ada beberapa tingkatan

yaitu tradisional, semi intensif dan sistem intensif. Perbedaan yang menonjol dari

ketiga tingkatan tersebut adalah pada segi pengaturan lingkungan hidup, jenis

pakan, padat tebar, modal dan luas lahan, serta pengendalian hasil.

Budidaya sistem intensif umumnya dikembangkan pada daerah non-pasang

surut, tambak dapat diairi, dikeringkan dan dipersiapkan secara lengkap sebelum

masa penebaran benih, dan sistem tambak ini banyak dikembangkan pada lokasi

yang jauh dari laut, dimana daerahnya bersalinitas rendah. Sistem ini umum

dikembangkan pada daerah Asia dan di Eropa yang sedang mencoba untuk

meningkatkan produktivitas. Sistem intensif mempunyai petakan yang lebih kecil

antara 0,2 - 0,5 ha, menggunakan kincir, penggantian air dilakukan 3 - 4 hari

sekali, dan untuk memudahkan, pengelolaan air dan pengawasan ditangani

tenaga ahli dan didukung teknik yang canggih mulai awal penanaman,

pemeliharaan sampai pasca panen. Padat tebar benur udang vannamei secara

intensif dapat lebih tinggi dari padat tebar udang windu, yakni >70 ekor/ m2

(Midlen dan Redding 2000; Jory dan Cabrera 2003; Amri dan Kanna 2008)
6

Usaha peningkatan produksi udang vannamei dapat dilakukan melalui

pemberian pakan yang tepat baik secara kualitas maupun secara kuantitas, yang

merupakan syarat untuk mendukung pertumbuhan udang (Tahe 2008). Pakan

buatan berkualitas tinggi dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan nutrisional dari

spesies yang dibudidayakan, dimana pemberian pakan secara menyeluruh ada

dibawah pengawasan manusia. Budidaya udang intensif dilakukan dengan teknik

yang canggih dan memerlukan input biaya yang besar, sebagai imbangan dari

input tinggi, maka dapat dicapai volume produksi yang sangat tinggi pula

(Chamberlain 1991; Effendi 1998; Midlen dan Redding 2000; Jory dan Cabrera

2003; Amri dan Kanna 2008).

2.3 Udang vannamei

Udang vannamei termasuk pada famili Penaidae yaitu udang laut. Udang

vannamei berasal dari Perairan Amerika Tengah. Negara di Amerika Tengah dan

Selatan seperti Ekuador, Venezuela, Panama, Brasil, dan Meksiko sudah lama

membudidayakan jenis udang yang juga dikenal dengan nama pacific white

shrimp.

Vannamei banyak diminati, karena memiliki banyak keunggulan antara lain,

relatif tahan penyakit, pertumbuhan cepat (masa pemeliharaan 100 - 110 hari),

padat tebar tinggi, sintasan pemeliharaan tinggi dan Feed Convertion Ratio

rendah (Hendrajat et al. 2007). Tingkat kelulushidupan vannamei dapat

mencapai 80 - 100% (Duraippah et al. 2000), dan menurut Boyd dan Clay (2002),

tingkat kelulushidupannya mencapai 91%. Berat udang ini dapat bertambah lebih
2
dari 3 gram tiap minggu dalam kultur dengan densitas tinggi (100 udang/m ).

Ukuran tubuh maksimum mencapai 23 cm. Berat udang dewasa dapat mencapai

20 gram dan diatas berat tersebut, L.vannamei tumbuh dengan lambat yaitu
7

sekitar 1 gram/ minggu. Udang betina tumbuh lebih cepat daripada udang jantan

(Wyban et al. 1995).

Udang vannamei termasuk hewan omnivora yang mampu memanfaatkan

pakan alami yang terdapat dalam tambak seperti plankton dan detritus yang ada

pada kolom air sehingga dapat mengurangi input pakan berupa pelet.

Kandungan protein pada pakan untuk udang vannamei relatif lebih rendah

dibandingkan udang windu. Menurut Briggs et al. (2004), udang vannamei

membutuhkan pakan dengan kadar protein 20-35%.

Budidaya udang vannamei sangat dipengaruhi oleh faktor internal atau

eksternal lingkungan tambak. Kualitas benih, persiapan tambak, manajemen

kualitas air, manajemen pakan, maupun cuaca sangat menentukan keberhasilan

budidaya udang. Manipulasi manajemen budidaya sangat diperlukan untuk

meningkatkan produksi udang putih, salah satunya adalah dengan manipulasi

kepadatan tebar (Wardiyanto 2008).

2.3.1 Klasifikasi Udang Vannamei

Klasifikasi udang vannamei (Gambar 2) menurut Boone (1931) adalah :

Kingdom: Animalia

Phylum: Arthropoda

Subphylum: Crustacea

Class: Malacostraca

Order: Decapoda

Suborder: Dendrobranchiata

Family: Penaeidae

Genus: Litopenaeus

Species: L. vannamei
8

Gambar 2. Udang vannamei (L.vannamei)

2.4 Pengembangan lokasi budidaya tambak di pesisir

Upaya pembukaan lahan budidaya tambak beserta pengembangannya

seharusnya memperhatikan peraturan seperti tertuang dalam UU no. 5/1990 Bab

I Pasal 5 yaitu :

a. perlindungan sistem penyangga kehidupan

b. pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta

ekosistemnya

c. pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya.

Pertimbangan bagi lahan pesisir untuk usaha pertambakan ditentukan oleh

kualitas dan karakteristik tanah kolam, kualitas dan kuantitas sumber air (asin

dan tawar), kemudahan pengisian dan pembuangan air khususnya dengan

memanfaatkan pasang surut, topografi, kondisi klimatologi daerah pesisir dan

hulu (Pillay dan Kutty 2005).

Wilayah Pantai Utara Jawa adalah contoh pesisir yang telah mengalami

tingkat pemanfaatan lahan untuk budidaya air payau sebesar lebih dari 90%,

namun kerusakan ekosistem mangrove yang parah telah menyebabkan

kegagalan dalam pengembangannya. Kegagalan budidaya udang cukup tinggi

karena kegiatan tersebut tidak mempertimbangkan daya dukung tambak dan

hanya berorientasi pada peningkatan produksi. Pola budidaya tambak udang


9

yang berorientasi pada optimalisasi produksi menjadi salah satu penyebab

tingginya tingkat kegagalan akibat terjangkit virus dan penyakit atau kualitas

udangnya terus menurun (Nurdjana 2005).

2.5 Kesesuaian lokasi usaha tambak

Kesesuaian lahan (land suitability) merupakan kecocokan (adaptability) suatu

lahan untuk tujuan penggunaan tertentu, melalui penentuan nilai (kelas) lahan

serta pola tata guna tanah yang dihubungkan dengan potensi wilayahnya,

sehingga dapat diusahakan penggunaan lahan yang lebih terarah berikut usaha

pemeliharaan kelestariannya (Hardjowigeno 2001). Kapetsky dan Travaglia

(1995) menekankan bahwa investor yang tertarik dalam bidang pengembangan

budidaya juga membutuhkan informasi spasial khususnya pada saat pemilihan

lokasi dari beberapa alternatif pilihan lokasi yang memiliki perbedaan

karakteristik biofisik dan sosial ekonomi. Penilaian kesesuaian lahan merupakan

suatu penilaian secara sistematik dari lahan dan menggolongkannya ke dalam

kategori berdasarkan persamaan sifat atau kualitas lahan yang mempengaruhi

kesesuaian lahan bagi suatu usaha tertentu (Bakosurtanal 1996).

Menurut Rossiter (1996), evaluasi kesesuaian lahan sangat penting dilakukan

karena lahan memiliki sifat fisik, sosial, ekonomi dan geografi yang bervariasi

atau dengan kata lain lahan diciptakan tidak sama. Adanya variasi sifat tersebut

dapat mempengaruhi penggunaan lahan yang sesuai, diantaranya untuk

budidaya tambak.

Lokasi budidaya tambak di pesisir harus memperhatikan keberadaan dan

kelestarian mangrove, karena kawasan mangrove memiliki peranan yang sangat

penting, maka diperlukan pengelolaan yang pada dasarnya memberikan

legitimasi agar dapat tetap lestari. Penetapan jalur hijau mangrove sebagai

pelindung daerah pesisir dituangkan dalam Surat Keputusan Bersama Menteri


10

Pertanian dan Menteri Kehutanan Nomor KB.550/264/Kpts/4/1984 dan Nomor

082/Kpts-II/1984, yang menyebutkan bahwa lebar sabuk hijau mangrove adalah

200 m. Surat Keputusan tersebut kemudian dijabarkan melalui Surat Edaran

Nomor 507/IV-BPHH/1990 tentang penentuan lebar sabuk hijau hutan mangrove,

yaitu sebesar 200 meter di sepanjang pantai dan 50 m disepanjang tepi sungai.

Keputusan tersebut diperkuat dengan Keputusan Presiden No.32 tahun 1990

tentang pengelolaan kawasan lindung, yakni lebar jalur hijau (m) adalah 130 x

rata- rata tunggang air pasang purnama (tidal range).

Beberapa komponen penting yang harus diperhatikan guna mewujudkan

keberhasilan usaha tambak yaitu pasokan air, topografi, tipe tanah, vegetasi,

elevasi, serta pengaruh aliran sungai dan banjir (Rabanal et al. 1976, diacu

dalam Abdurrahman 2004). Faktor yang perlu dipertimbangkan dalam penentuan

kesesuaian lokasi tambak, antara lain:

2.5.1 Sumber air dan kualitasnya

Salah satu faktor yang menunjang kelangsungan usaha tambak udang

adalah sumber air laut. Laut adalah sumber utama pemasok air bagi

pertambakan air payau. Pasokan air tawar untuk tambak dapat diperoleh dari

aliran sungai, saluran irigasi untuk sawah, dan sumur air tanah (Poernomo 1992).

Tambak dibangun dipinggir pantai untuk kemudahan pengairan, yakni

pengisian dengan air laut atau air payau (Kordi dan Tancung 2007). Tambak

udang biasanya dikembangkan di kawasan intertidal, pada area terlindung dekat

sungai, muara sungai, dan area mangrove. Selain sebagai sumber pasokan air,

kedekatan tambak dengan pantai bertujuan untuk mencapai kesempurnaan

pengeluaran air limbah. Hal tersebut akan berpengaruh terhadap proses

pengeringan dasar tambak yang lebih baik, dengan catatan bahwa lokasi

disepanjang pantai tidak berlumpur karena proses siltasi (Pillay dan Kutty 2005).
11

Diluar kuantitas pasokan air yang cukup, kualitas air perlu diperhatikan dalam

usaha tambak. Persyaratan mutu air tambak untuk budidaya udang ditampilkan

dalam Tabel 1.

Tabel 1. Kualitas air tambak udang


Nilai
No Parameter Satuan Ditoleransi Optimum
A. Fisika
1 Temperatur (****) °C 23 – 33 26 – 30
2 Salinitas (**) ‰ 10,0 – 35,0 15,0 – 20,0
B. Kimia
3 Oksigen terlarut (DO) (*) mg/l 3 4,0 – 8,0
4 pH (****) 6,0 – 9,0 7,5 – 8,5
5 BOD (**) mg/l < 45 < 10
6 NH3 (amonia) (***) Ppm 0,1 0
7 Nitrit (NO2) (**) Ppm < 0,5 0
8 Alkalinitas (***) mg/l  20 80 – 120
9 Organofosfat (***) Ppm < 0,10 0
Sumber: (*)Boyd (1991); (**)Wyban dan Sweeny (1991); (***)Effendi (2003);
(****)Amri dan Kanna (2008)

2.5.2 Karakteristik tanah

Tanah yang baik untuk pertambakan adalah liat berpasir atau liat berlumpur.

Tanah tambak umumnya terbentuk dari hasil endapan (alluvial), sehingga

kesuburannya sangat ditentukan oleh jenis dan kualitas material yang

diendapkannya (Afrianto dan Liviawaty 1991). Kualitas tanah tambak berperan

penting dalam usaha budidaya tambak, bukan hanya karena pengaruhnya

terhadap produktivitas maupun kualitas air yang berada diatasnya, namun juga

karena faktor kesesuaiannya untuk konstruksi pematang dan selokan disekitar

tambak (Pillay dan Kutty 2005).

Kemampuan tambak dalam menahan volume air didalamnya dipengaruhi

oleh karakteristik tanah. Tekstur dan porositas adalah dua properti fisik yang

paling penting, dimana tekstur bergantung pada proporsi konstituen tanah

partikel pasir, lempung dan liat. Tanah dengan tekstur liat (clay), lempung
12

berlumpur (silty clay), lempung berliat (clay loam), lempung liat berlumpur (silty

clay loam) dan liat berpasir (sandy clay) lebih sesuai untuk konstruksi tambak.

Hal ini dikarenakan tekstur tersebut memiliki luas permukaan yang lebih besar

dan dengan demikian dapat menyerap lebih banyak nutrien dan menahan

kemudian melepaskan kembali untuk pembentukan bahan organik dalam tambak

(Pillay dan Kutty, 2005). Karakteristik tekstur tanah ditunjukkan dalam Tabel 2.

Pada tambak udang intensif diperlukan dasar tambak yang kompak dan keras

agar kualitas dasar tambak dapat dipertahankan selama periode pemeliharaan.

Tabel 2. Hubungan antara tekstur tanah dengan kelayakannya sebagai lahan


tambak
Tekstur tanah Permeabilitas Kepadatan Kelayakan
Liat (Clay) Kedap air Cukup Sangat baik
Liat berpasir (Sandy
Kedap air Baik Baik
clay)
Lempung (Loam) Semi kedap air Sedang Sedang
Silty Semi kedap air Jelek - baik Jelek
Peaty Kedap air Jelek Buruk
Sumber: Afrianto dan Liviawaty (1991)

2.5.3 Topografi

Usaha budidaya tambak sebaiknya memilih lokasi yang datar dan tidak lebih

tinggi dari pasang tertinggi atau lebih rendah dari surut terendah. Hal tersebut

berkaitan dengan kemudahan dalam penggalian dan perataan tanah, pergantian

air tambak dan pengeringan serta menghindari kesulitan dalam pengelolaan air

(Poernomo 1992). Pada tanah bergelombang dimungkinkan terjadinya

penggalian tanah yang banyak dan menyebabkan lapisan tanah yang subur

terbuang. Tanah yang datar umumnya memiliki tingkat kelerengan sekitar 0 –

3% (Jamulya dan Sunarto 1996).


13

2.5.4 Curah hujan

Daerah yang ideal untuk dijadikan lahan tambak adalah daerah dengan curah

hujan 2000 mm/ tahun dengan bulan kering 2 -3 bulan. Apabila curah hujan

melebihi 2000 mm/ tahun dan tidak terdapat bulan kering atau hujan sepanjang

tahun, maka akan menimbulkan masalah besar. Kondisi seperti ini sangat

penting untuk diperhatikan, agar tambak dapat berproduksi lebih baik dan stabil,

untuk memperbaiki sifat fisik tanah, meningkatkan mineralisasi bahan organik,

dan menghilangkan bahan toksik seperti H2S, serta untuk menumbuhkan pakan

alami dalam tambak, maka perlu dilakukan pengeringan dasar tambak secara

rutin menjelang penebaran benur, yang mana semua hal tersebut memerlukan

bulan kering (Soeseno 1988)

2.5.5 Pasang surut

Dua hal yang berkenaan dengan pasang surut adalah proses pemasukkan

dan pembuangan air dalam proses produksi tambak. Pola pasang surut air akan

mempengaruhi tipe dan manajemen tambak serta biaya operasinya. Agar

kelancaran pengelolaan terjamin baik perlu diperhatikan agar tambak terletak

pada lokasi dimana pasang- surutnya menguntungkan (Poernomo 1992).

Kisaran fluktuasi pasang surut air laut yang dianggap memenuhi persyaratan

untuk tambak adalah 1,7 – 2 meter. Jika suatu daerah memiliki fluktuasi pasang

surut lebih dari dua meter, maka daerah tersebut membutuhkan pematang ekstra

kuat untuk menahan air pasang. Daerah dengan tunggang pasut lebih rendah

dari 1,7 meter menyebabkan kurangnya suplai air untuk memenuhi kebutuhan

tambak, namun masih dapat dijadikan sebagai tambak, dengan memanfaatkan

pompa untuk membantu mengalirkan air dari dan ke dalam tambak

(Martosudarmo dan Ranoemihardjo 1992). Gedrey et al. (1984), diacu dalam

Pillay dan Kutty (2005) mengestimasi bahwa konstruksi dan pengoperasian


14

usaha tambak dengan sistem pompa akan lebih ekonomis daripada tambak yang

bergantung pada pasang surut.

2.6 Data

Data merupakan sekumpulan fakta mentah yang mewakili kejadian yang

berlangsung dalam organisasi atau lingkungan fisik sebelum ditata dan diatur ke

dalam bentuk yang dapat dipahami dan digunakan orang (Laudon dan Laudon

1998). Data dapat diolah lebih lanjut untuk menjadi sesuatu yang lebih

bermakna, dan selanjutnya disimpan dalam database.

2.7 Informasi

Informasi memiliki pengertian berbeda dengan data. Informasi merupakan

hasil olahan data sehingga lebih bermakna. Hoffer et al. (2005) menyatakan

bahwa informasi adalah data yang telah diproses sedemikian rupa sehingga

meningkatkan pengetahuan seseorang yang menggunakannya. Informasi dapat

sangat berarti bagi penerimanya dan bermanfaat dalam pengambilan keputusan

saat ini atau di masa mendatang (Davis 1999). Pemrosesan data menjadi

sebuah informasi (Gambar 3) dapat melalui beberapa tahap seperti peringkasan,

pererataan, penyajian dalam bentuk grafik, atau pemrosesan lainnya, dengan

tujuan memudahkan interpretasi bagi pengguna (Kadir 2009).

PROSES
Data - Peringkasan Informasi
- Penyajian grafik
- Pengolahan
- Transformasi

Gambar 3. Data, proses, dan informasi


15

2.8 Database

Database adalah kumpulan terorganisir dari data yang secara nalar saling

berkaitan (Hoffer et al. 2005). Menurut Prahasta (2009) database atau basis data

adalah kumpulan data non-redundant yang saling terkait satu sama lainnya,

dalam usaha membentuk bangunan informasi yang penting (enterprise) dan

dapat digunakan bersama oleh sistem aplikasi yang berbeda. Penerapan

database dalam suatu sistem informasi dinamakan database sistem, yaitu

sebuah sistem informasi yang mengintegrasikan kumpulan data yang saling

berhubungan, dan membuatnya tersedia untuk beberapa aplikasi (Kadir 2008).

Komponen- komponen utama dalam sebuah sistem database adalah perangkat

keras (hardware), sistem operasi, database, sistem pengelola database (DBMS),

pemakai (user), dan aplikasi (perangkat lunak) lainnya (optional) (Fathansyah

2002).

Database dikelola dengan perangkat lunak yang memungkinkan pengguna

memakai, memelihara dan mengakses sumberdaya data secara efisien yakni

DBMS atau Database Management System. Kelebihan penggunaan DBMS

adalah mengurangi duplikasi data dan untuk keamanan data (Mulyanto 2009).

Kecenderungan peningkatan penggunaan DBMS adalah dalam pengelolaan data

SIG dan data non-spasial. Hampir semua Sistem Informasi Geografis yang

bersifat komersil turut menyertakan beberapa bentuk dari DBMS (Aronoff 1991).

2.8.1 Database Relasional

Database relasional adalah jenis database yang menggunakan model data

relasional, dan merupakan jenis database yang sering digunakan saat ini. Model

database relasional terdiri dari data yang direpresentasikan dalam bentuk tabel

yang terdiri dari sejumlah baris dan kolom, yang ternormalisasi dengan field kunci

sebagai penguhubung relasional antar tabelnya. Model data relasional memiliki


16

beberapa kelebihan, antara lain cenderung mudah diakses, fleksibel, mudah

dikembangkan strukturnya, serta operasi penambahan atau pengurangan yang

diberlakukan tidak menyebabkan anomali atau perubahan hubungan antar tabel

(Prahasta 2009).

Kadir (2009) mengungkapkan bahwa setiap tabel dalam database model

relasional dapat berhubungan yang dibentuk melalui mekanisme kunci primer

(primary key) dan kunci asing (foreign key). Kunci primer berperan sebagai

identitas yang unik dari setiap record, sedangkan kunci asing adalah kolom yang

berperan sebagai penghubung dengan kunci primer di tabel lain (Mulyanto 2009).

Ilustrasi hubungan antar tabel dalam model database relasional ditunjukkan

dalam Gambar 4.

Kunci primer Nomer_Mahasiswa Nama Tanggal_Lahir Kelamin


55 Ridwan 20/03/1991 Pria
56 Sari 3/1/1992 Wanita
57 Ida 22/7/1991 Wanita
58 Slamet 19/9/1991 Pria

Kunci primer
Kunci tamu

Nomer_Mahasiswa Kode_MK Nilai


53 DB001 A
54 P1001 B
55 DB001 B
Kunci tamu 55 DB001 A

Kode_MK Nama_MK SKS


DB001 Pengenalan Database 3
DB002 Pemrograman Database 3
P1001 Dasar Multimedia 2
Kunci primer P1002 Pemrograman Multimedia 3

Gambar 4. Kunci primer dan kunci asing dalam hubungan antar relasi

2.9 Sistem Informasi

Sistem informasi didefinisikan sebagai sistem yang mengumpulkan,

memproses, menyimpan, menganalisis, dan menyebarkan informasi untuk tujuan

yang spesifik (Turban et al. 1999). Komponen dalam sistem informasi adalah
17

manusia, perangkat keras, perangkat lunak, data, dan jaringan. Sistem Informasi

memiliki beberapa aktivitas yaitu input, proses, output, penyimpanan, dan

pengendalian. Input merupakan proses memasukkan data. Pemrosesan dalam

sistem informasi adalah melakukan pengolahan data dengan operasi

matematika. Aktivitas output memberikan hasil dalam bentuk laporan, gambar,

grafik, berkas, audio maupun video. Mekanisme penyimpanan dalam sistem

informasi adalah aktivitas menyimpan data dan informasi secara teratur untuk

digunakan kemudian (O‟Brien 2005). Komponen sistem informasi dalam aktivitas

sistem informasi dituangkan dalam Gambar 5.

Sumber: O‟Brien (2005)


Gambar 5. Komponen sistem informasi dalam aktivitas sistem informasi

Tujuan sistem informasi menurut Budihar (1995) adalah menyediakan dan

mensistematisasikan informasi yang merefleksikan seluruh kegiatan yang

diperlukan untuk mengendalikan operasi organisasi. Kegiatan dalam sistem

informasi adalah mengambil, mengolah, menyimpan,dan menyampaikan

informasi yang diperlukan untuk mengoperasikan seluruh aktifitas di dalam

organisasi. Dalam perancangan sistem informasi, dunia nyata ditransformasikan


18

dengan menggunakan sejumlah perangkat konseptual yakni model ER (Entity

Relationship) sehingga menjadi suatu diagram relasi antar entitas (Prahasta

2009).

2.10 Sistem Informasi Geografis (SIG)

Sistem Informasi Geografi adalah sistem berbasis komputer yang digunakan

untuk menyimpan dan memanipulasi informasi bereferensi geografis (Aronoff

1991). Definisi SIG menurut Burrough (1986), serta Kapetsky dan Travaglia

(1995) adalah integrasi dari perangkat keras komputer, perangkat lunak, data

geografi dan personil yang didesain untuk mencapai efisiensi guna memperoleh,

menyimpan, memanipulasi, mengambil kembali, menganalisis, menampilkan dan

melaporkan semua bentuk informasi bereferensi geografis untuk memenuhi

suatu tujuan tertentu. SIG merupakan sistem yang mampu mendukung (proses)

pengambilan keputusan (terkait aspek) spasial dan mampu mengintegrasikan

deskripsi lokasi dengan karakteristik- karakteristik fenomena yang ditemukan di

lokasi tersebut (Gistut 1994, diacu dalam Prahasta 2009). Perencanaan dengan

SIG berkaitan dengan kondisi dunia nyata di awal dan akhir proses, hal ini

diilustrasikan pada Gambar 6.

Data
Real Sources
World

Data
Users Management

Analysis

Sumber: Modifikasi Aronoff (1991)


Gambar 6. Skema proses perencanaan dengan SIG
19

2.10.1 Komponen SIG

SIG memiliki empat rangkaian kemampuan dasar untuk menangani data

bereferensi geografis yaitu input data, manajemen data, manipulasi dan analisis

data, dan output (Prahasta 2009). Definisi input data adalah mengkonversi data

dari format awal menjadi format yang dapat diterima dan digunakan dalam SIG.

Manajemen data mencakup fungsi - fungsi yang diperlukan untuk menyimpan

dan mengambil kembali data dari basis data. Manipulasi dan analisis data

menentukan informasi yang dapat diperoleh melalui SIG. Output merupakan

keluaran yang dihasilkan atau fungsi pelaporan dari SIG yang lebih baik dalam

mutu, ketelitian dan kemudahan penggunaan. Output yang dihasilkan dapat

berbentuk peta, tabel, nilai atau teks dalam format hardcopy atau softcopy

(Aronoff 1991).

Menurut Gistut (1994), diacu dalam Prahasta (2001), Sistem Informasi

Geografis memiliki beberapa komponen seperti perangkat keras, perangkat

lunak,data dan informasi geografi, pengguna serta manajemen (Gambar 7).

DATA MANIPULATION
& ANALYSIS

DATA DATA
INPUT OUTPUT

DATA
MANAGEMENT

Sumber: Gistut (1994), diacu dalam Prahasta (2001)


Gambar 7. Komponen Sistem Informasi Geografis
20

2.10.2 Format data SIG

Pada dasarnya terdapat dua jenis sistem SIG yakni sistem vektor dan raster.

Kedua sistem ini membedakan bagaimana data spasial direpresentasikan dan

disimpan yaitu data raster atau data vector (Nath et al. 2000). Dalam sistem

vektor dan raster, digunakan „sistem koordinat geografis‟ untuk menampilkan

ulang suatu bentuk ruang (Aronoff 1991). Pembedaan jenis data SIG dituangkan

dalam Gambar 8.

Data
GIS Vektor

Data Spasial

Data Data
SIG Raster

Data Non Spasial/


Data Atribut

Gambar 8. Tipe data Sistem Informasi Geografis

Nath et al. (2000) memaparkan bahwa data spasial dengan format vektor

didefinisikan dan direpresentasikan sebagai “titik”, “garis”, dan “poligon”. Lokasi

pompa di tambak direpresentasikan sebagai titik, sungai atau jalan sebagai garis,

sedangkan poligon umum digunakan untuk menggambarkan area seperti ladang.

Pada data raster, ruang direpresentasikan oleh grid yang seragam, dimana

setiap sel memiliki deskriptor unik berdasarkan sistem koordinat (Gambar 8).

2.11 SIG dalam akuakultur

Meaden dan Kapetsky (1991) menjelaskan tentang penggunaan SIG

dibidang perikanan antara lain: 1) Perencanaan zonasi sumberdaya air; 2)


21

Pemetaan zonasi spesies biota air; 3) Pengaruh lingkungan terhadap produksi

ikan secara intensif; 4) Identifikasi daerah dimana inovasi kegiatan perikanan

kemungkinan menyebar. SIG dapat digunakan untuk memprediksi atribut dari

suatu lokasi khusus dan/ atau untuk menempatkan semua lokasi dengan atribut

tertentu. Penggunaan SIG sebagai teknik untuk analisis sumberdaya dan

pemilihan lokasi berperan penting dalam pengembangan budidaya (Aguilar-

Manjarrez dan Ross 1993). SIG telah banyak diterapkan untuk sektor budidaya

skala regional atau nasional (Kapetsky et al. 1988; Meaden dan Kapetsky 1991;

Nath et al. 2000). Sejumlah penelitian telah mengeksploitasi kapasitas

pemodelan dari SIG, yaitu pembangunan model lokasi budidaya ikan di Red

River Delta, Vietnam (Tran dan Demaine 1996), pembangunan model lokasi

budidaya udang di Meksiko (Aguilar-Manjarrez 1996), manajemen akuakultur di

pesisir Thailand (Jarayabhand 1997), dan lokasi potensi budidaya udang dan

ikan di Bangladesh (Salam dan Ross 2000). Manajemen sumberdaya perairan

suatu area yang belum terintegrasi dengan ekonomi pedesaan, dapat dibangun

untuk memenuhi peningkatan permintaan terhadap protein ikan di suatu area.

Dalam hal tersebut, pembentukan berdasarkan suatu pengambilan keputusan

terstruktur dan skema perencanaan dapat dilayani dengan baik oleh SIG (Salam

et al. 2003).
23

III. METODOLOGI

3.1 Waktu dan lokasi penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret - Oktober 2010. Lokasi

penelitian berada di tambak udang vannamei milik PT. Indonusa Yudha Perwita

(PT. IYP), Desa Patrol Lor, Kecamatan Patrol, Kabupaten Indramayu, Propinsi

Jawa Barat. Peta kecamatan Patrol ditunjukkan dalam Gambar 9, dengan peta

tata letak tambak PT. IYP ditunjukkan pada Gambar 10.

3.2 Alat dan data penelitian

Alat yang digunakan dalam penelitian, beserta spesifikasi, sumber dan

fungsinya dijabarkan dalam Tabel 3. Seluruh data penelitian dicantumkan dalam

Tabel 4.

3.3 Metode pengumpulan data

Data penelitian terbagi atas data primer dan data sekunder. Data primer

diukur pada saat survey lapangan, mencakup data kualitas sumber air budidaya,

kualitas air pesisir, posisi geografis serta dokumentasi kegiatan budidaya, kondisi

tambak dan pesisir. Data sekunder berupa data spasial yang digunakan dalam

penyusunan kesesuaian lahan tambak, dan data budidaya tambak milik PT. IYP.

Pengelompokkan data secara terperinci dituangkan dalam Tabel 4.


24

Gambar 9. Lokasi penelitian


25

Gambar 10. Peta tata letak tambak PT. Indonusa Yudha Perwita
26

Tabel 3. Alat penelitian


Alat Spesifikasi Fungsi

Perangkat Komputer dan kelengkapannya Media input, pengolahan data


keras dan pencetak output
(hardware)

Perangkat ErMapper 6.4, Arc GIS 9.3, Pembuatan peta dasar, basis
lunak Ms.Visual Basic 6.0, Navicat, data, sistem informasi berbasis
(software) MySQL,Ms.Office spasial,dan laporan

GPS Garmin 12XL Pengambilan data posisi


geografis

Refraktometer Atago Pengukuran nilai salinitas

pH meter Tupech Pengukur pH perairan

DO meter/ Metode titrasi winkler


Metode membutuhkan Botol Winkler,pipet,
titrasi erlenmeyer,suntikan (pengganti Pengukuran kadar oksigen
winkler buret), gelas ukur, MnSO4H2O, terlarut
NaOH + KI, H2SO4 pekat,
Na2S2O3 dan amilum

Termometer Pengukur suhu perairan

Test kit Aqua BASE Pengukur alkalinitas

Test kit Aqua NITE Pengukur konsentrasi nitrat

Test kit Aqua AM Pengukur konsentrasi amoniak

Aerator Aerasi sampel air untuk


pengukuran BOD5

Botol BOD Botol gelap (berbungkus polybag) Penyimpan sampel air untuk
pengukuran BOD5

Botol sampel, Penyimpan sampel air serta


es batu dan alat dan bahan untuk titrasi
coolbox winkler

Kapal Transportasi pengambilan


data suhu dan salinitas pesisir
27

Tabel 4. Data penelitian


Metode
Kelompok Jenis Sumber Fungsi Periode
perolehan
Suhu
Salinitas
Sumber air
DO laut dan air
Maret
pH tawar yang Penyusun
Data kualitas sumber 2010
Alkalinitas digunakan Sistem
air budidaya
dalam Informasi
Amoniak kegiatan Budidaya
BOD5 budidaya Tambak
Organo PT. Juni
phospat Indonusa 2010
Kegiatan Yudha
budidaya Perwita
Tambak PT.
Peralatan Maret
Dokumentasi IYP, Patrol,
budidaya 2010
Indramayu
Produk
budidaya
Data primer Koordinat
(survey kolam
lapangan) tambak
Koordinat
batas tambak
Penyusun
Koordinat Maret
layout
bangunan dan Juni
Tambak PT. tambak
dalam 2010
Data fisik tambak IYP, Patrol, PT.Indo
tambak
Indramayu nusa
Koordinat
Yudha
saluran inlet,
Perwita
outlet dan
anco
Contoh
Maret
ukuran kolam
2010
tambak
Pesisir
Data kualitas air Salinitas kecamatan Oktober
pesisir pesisir Patrol, 2010
Indramayu
Citra Landsat
10
7 ETM+
BTIC Evaluasi Oktober
Path/Row:
kesesuaian 2006
121/064
lahan untuk
Data GeoEye Google Earth 2010
lokasi
Peta BAPEDA tambak PT. 2006
Data administrasi Indramayu Indonusa
Data spasial Pusat
sekunder Peta Yudha
Penelitian Perwita
kelerengan 1990
Tanah dan
(topografi)
Agro Klimat
Peta Satuan Pusat
lahan Penelitian
1990
(Tekstur dan Tanah dan
jenis tanah Agro Klimat
28

Peta Rupa
Bumi
Tahun
Indonesia Bakosurtanal
2005
Kabupaten
Indramayu
Data curah 2006-
BMKG
hujan 2010
Survey
lapangan
Data pasang (Siahaan
2010
surut 2010) dan
Dishidros
TNI AL
Denah awal
tambak
Nama kolam
dan blok
Data fisik tambak
tambak
Ukuran
kolam
tambak
pH, Salinitas
Dissolved Laboratorium
Data Oxygen (DO) budidaya PT.
kualitas Suhu Indonusa
Yudha Penyusun
air Alkalinitas Sesuai
Perwita Sistem
(fisika- catatan
Bahan Informasi
kimia) organik total data
Budidaya
Data (TOM) manual
Tambak
operasional PT. Indo
Amoniak PT.
budidaya nusa
Indonusa
Plankton Yudha
Data Yudha
Bakteri Perwita
kualitas Perwita
air (jumlah total
(biologi) bakteri dan
bakteri vibrio)
Gudang
Data Jumlah dan
pakan PT.
pakan jenis pakan
IYP
Data Padat tebar
awal Sumber
produksi benur Kantor
Data panen
Data nilai produksi PT. IYP
akhir
produksi Final ABW
29

3.4 Metode penelitian

3.4.1 Data spasial

Citra Landsat 7 ETM+ terkoreksi radiometrik dan geometrik, diklasifikasi,

kemudian digunakan dalam survey lapangan. Penggabungan hasil analisis citra

dengan survey lapangan digunakan untuk memperbaharui dan mengkoreksi

seluruh peta kriteria penyusun kesesuaian lahan untuk tambak. Hasil survey

lapangan berupa posisi geografis digunakan dalam proses registrasi data Google

Earth guna pembuatan ulang layout tata letak tambak.

3.4.2. Data kualitas air pesisir

Pengambilan data kualitas air dikawasan pesisir kecamatan Patrol, mencakup

salinitas dan suhu. Data salinitas pesisir digunakan untuk memperoleh sebaran

salinitas kecamatan Patrol, sebagai salah satu kriteria dalam penentuan

kesesuaian lahan tambak. Sebaran stasiun pengambilan data kualitas air pesisir

dilampirkan dalam Lampiran 1.

3.4.3 Data kualitas sumber air budidaya

Pengambilan data kualitas sumber air budidaya tambak PT. IYP dilakukan

pada sumber air tawar (pompa air tanah) dan sumber air laut. Pengukuran

terhadap nilai pH, suhu, salinitas, DO, amoniak, nitrit dan alkalinitas dilakukan

secara in-situ, sedangkan pengukuran nilai organofosfat dan BOD5 masing-

masing dilakukan di Laboratorium Residu dan Bahan Kimia, Departemen

Pertanian dan Laboratorium Proling IPB. Stasiun pengambilan data kualitas

sumber air budidaya dicantumkan pada Lampiran 2, sedangkan gambar alat dan

metode yang digunakan dalam pengukuran nilai kualitas air pesisir dan sumber

air budidaya dilampirkan dalam Lampiran 3.


30

3.4.4 Data budidaya tambak PT. IYP

Catatan data budidaya tambak PT. IYP mencakup data kualitas air, data

pakan, data plankton, data sampling dan data panen. Keseluruhan data budidaya

dari laboratorium dan kantor PT. IYP, digunakan untuk membangun database

Sistem Informasi Budidaya Tambak Udang PT. IYP.

3.5 Metode pengolahan dan analisis data

3.5.1 Evaluasi kesesuaian lahan tambak PT. Indonusa Yudha Perwita

Penentuan kesesuaian lahan untuk lokasi tambak PT. IYP menggunakan

kriteria biofisik sebagai faktor pendukung kemudian dievaluasi dengan faktor

pembatas yakni regulasi pemerintah mengenai kawasan sempadan pantai dan

sungai. Kriteria kesesuaian lahan budidaya tambak mengacu pada matriks dalam

Tabel 5, sedangkan kelas kesesuaian dibagi menjadi 4 (FAO 1976), yakni:

Kelas S1  Sangat Sesuai

Kawasan ini didefinisikan sebagai kawasan tanpa faktor pembatas yang serius

untuk suatu penggunaan lahan tambak secara lestari, atau hanya memiliki

pembatas yang kurang berarti dan atau tidak berpengaruh nyata dalam

keberlangsungan usaha tambak.

Kelas S2  Cukup Sesuai

Kawasan ini tergolong memiliki faktor pembatas yang agak serius sebagai lokasi

usaha tambak yang lestari. Pembatas tersebut dapat mengurangi produktivitas

lahan atau keuntungan yang diperoleh. Dibutuhkan suatu strategi masukan yang

lebih untuk mengusahakan lahan kelas ini agar menjadi lebih produktif.

Kelas S3  Sesuai Bersyarat

Kawasan ini memiliki pembatas serius , namun masih mungkin untuk diatasi. Hal

ini berarti kawasan ini dapat ditingkatkan menjadi sesuai untuk lahan tambak,
31

apabila dilakukan dengan introduksi teknologi yang lebih modern dalam

menjalankan usaha tambak.

Kelas N  Tidak Sesuai

Kawasan ini memiliki penghambat serius yang menjadikannya tidak mungkin

untuk dijadikan kawasan usaha tambak.

Penentuan nilai kesesuaian lahan tambak dilakukan dengan metode

pembobotan dan pengharkatan (skor). Pemberian bobot dilakukan terhadap

setiap parameter atau kriteria penyusun kesesuaian lahan, sedangkan skor

diberikan pada masing- masing variabel dari kriteria tersebut. Sistem pemberian

skor mengacu pada Kapetsky dan Nath (1997) yakni pemberian skor 4 untuk

kriteria yang sangat sesuai (S1), skor 3 untuk kriteria cukup sesuai (S2), skor 2

untuk kriteria sesuai marjinal atau sesuai bersyarat (S3), dan skor 1 untuk kriteria

yang tidak sesuai permanen (N). Nilai kesesuaian lahan diperoleh melalui

penjumlahan dari hasil perkalian bobot dan skor seluruh kriteria penyusun

kesesuaian lahan. Secara matematis, nilai kesesuaian lahan dituliskan dalam

rumus:

N=

Keterangan : N = Nilai total kesesuaian lahan

Wi = Bobot (weight)

Si = Nilai (skor)

Klasifikasi nilai total kesesuaian lahan yang diperoleh menggunakan metode

pengkelasan natural breaks atau jenks. Pengkelasan nilai ini dilakukan dalam

pemrosesan dengan perangkat lunak ArcGIS. Teknik integrasi seluruh kriteria

dan faktor pembatas dalam penentuan kesesuaian lahan untuk budidaya tambak

diilustrasikan dalam Gambar 11.


32

Tabel 5. Matriks kesesuaian lahan budidaya tambak


Kelas Kesesuaian Lahan Tambak
No Kriteria Bobot
S1 Skor S2 Skor S3 Skor N Skor

1 Landuse 20 Sawah, 4 Kebun, hutan 3 Hutan lindung, 2 Pemukiman 1


tambak, rawa area dan industri
tegalan, pertambangan pabrik
belukar, hutan
pantai

2 Jenis Tanah 15 Aluvial pantai 4 Histosol, 3 Regosol 2 Regosol 1


Andosol gleihumus

3 Jarak dari pantai (m) 15 200 – 300 4 300 - 4000 3 <200 2 > 4000 1

4 Jarak dari sungai (m) 10 50 – 500 4 500 - 1000 3 <50; 1000 - 3000 2 >3000 1

5 Aksesibilitas (m) 10 < 1000 4 1000 - 2000 3 2000 – 3000 2 >3000 1

6 Tekstur tanah 10 Clay 4 Sandy clay 3 Loam 2 Silty 1

7 Kelerengan lahan (%) 10 0–3 4 3,0 - 6 3 6,0- 9 2 >9,0 1

8 Curah hujan (mm/th) 5 1000 – 2000 4 2000 - 36000 3 <1000 2 >3600 1

9 Salinitas 5 12,0 – 20 4 20,0 - 30 3 5,0 - 12; 30 - 45 2 <5; > 45 1


Sumber : Modifikasi Poernomo (1992)
33

Landuse

Jarak dari
pantai

Jarak dari
sungai

Jenis tanah Pendugaan awal Hasil akhir


kesesuaian lahan kesesuaian
untuk tambak lahan tambak
Curah hujan
secara biofisik PT. IYP
Tekstur
tanah

Salinitas
Faktor pembatas :
Kelerengan
Keppres 32/1990 dan Surat Edaran Departemen Kehutanan No.
lahan 507/ IV-BPPH/ 1990 tentang pengelolaan kawasan lindung yakni
lebar jalur hijau 200 m di sempadan pantai dan 50 m di
sempadan sungai.
Aksesibilitas

Gambar 11. Skema integrasi seluruh kriteria dan faktor pembatas dalam
penentuan kesesuaian lahan budidaya tambak

3.5.2 Pengembangan Sistem Informasi Budidaya Tambak Udang PT. IYP

3.5.2.1 Pembentukan database

Database tambak PT. IYP (db_tambak) dirancang mengikuti model data

relasional. Dalam pengelolaan database tambak digunakan perangkat lunak

DBMS MySQL.

Dalam pembentukan database untuk sistem informasi, data budidaya tambak

PT. IYP dikelompokkan menjadi data fisik tambak, data operasional budidaya,

dan data panen. Data fisik tambak berupa identitas kolam disimpan dalam tabel

kolam (tbl_kolam) dan tabel blok (tbl_blok). Data budidaya yang mencakup data

operasional dan panen, didefinisikan dalam beberapa tabel sesuai dengan format

catatan manual data budidaya milik PT. IYP, yakni:

a. data kualitas air (tbl_data_harian),

b. data pakan (tbl_pakan_harian),


34

c. data plankton (tbl_plankton_harian),

d. data sampling (tbl_sampling),

e. data jenis plankton (tbl_jenis_plankton),

f. data jenis pakan (tbl_jenis_pakan),

g. data status anco (tbl_jenis_anco),

h. data waktu pemberian pakan (tbl_waktu),

i. data panen (tbl_panen),

Data non budidaya turut disertakan dalam database, yakni data pengguna sistem

informasi (tbl_user), dan data penyusun indeks kesesuaian wilayah

(tbl_curah_hujan dan tbl_ikw).

Dalam database tambak PT.IYP, setiap tabel memiliki kunci primer. Kunci

primer dalam setiap tabel pada database tambak PT. IYP adalah nomor data, hal

ini dikarenakan nomor input data tidak mengalami pengulangan. Ilustrasi

database tambak PT. IYP dituangkan dalam Gambar 12.

3.5.2.2 Perancangan Sistem Informasi Budidaya Tambak Udang PT. IYP

Metode perancangan Sistem Informasi Budidaya Tambak PT.IYP

mengadopsi metodologi klasik yang umum digunakan dalam mengembangkan

sistem informasi atau System Development Life Cycle (SDLC). Metodologi ini

mencakup kegiatan analisis kebutuhan, perancangan sistem, pembuatan sistem

dan implementasi rancangan sistem informasi dengan menggunakan bahasa

pemrograman Visual Basic 6.0.

Sistem Informasi Budidaya Tambak Udang PT. IYP dibangun berdasarkan

kebutuhan terhadap modernisasi pengelolaan, efisiensi, dan kemudahan

penyimpanan data budidaya, otomatisasi penanganan data budidaya, efisiensi

waktu pengolahan data budidaya menjadi informasi untuk mengevaluasi kondisi

budidaya, serta kebutuhan akan pengamanan data budidaya. Sistem informasi


35

dirancang secara sederhana, disesuaikan dengan ketersediaan infrastruktur dan

sumber daya manusia dalam PT. IYP, sehingga sistem informasi mampu

meningkatkan efektivitas dan efisiensi penanganan data oleh pekerja.

Format Tabel Pakan

Format Tabel Kolam

Format Tabel Sampling

Gambar 12. Format tabel data budidaya dalam database tambak PT. IYP
36

Dalam perancangan sistem informasi, data budidaya tambak udang PT. IYP

ditransformasikan menggunakan perangkat konseptual untuk menunjukkan

hubungan antar individu data budidaya yakni Diagram ER (Entity Relationship)

seperti ditunjukkan dalam Gambar 13. Entitas dalam diagram ER mencakup

seluruh individu data budidaya tambak PT. IYP yang terkelompokkan dalam

beberapa tabel (entity set), sedangkan relasi menunjukkan hubungan antar tabel

data budidaya. Dalam perancangan Sistem Informasi Budidaya Tambak Udang

PT. IYP, tingkat relasi yang terdapat dalam tabel adalah satu ke banyak (one to

many), yakni satu kolam dapat memiliki banyak data budidaya (data pakan, data

kualitas air, data plankton, dan lainnya).

Gambar 13. Diagram ER Sistem Informasi Budidaya Tambak Udang PT.IYP

Sesuai dengan aktivitas sistem informasi pada umumnya, dalam Sistem

Informasi Budidaya Tambak Udang PT. IYP terdapat aktivitas input, pemrosesan

data, dan menghasilkan output. Mekanisme input dan output data menggunakan
37

peta tata letak tambak yang terhubungkan dengan tabel data kolam (tbl_kolam)

dan data blok (tbl_blok) dalam database tambak. Penggunaan peta tata letak

tambak adalah sebagai gambaran posisi setiap kolam sebagai sumber dan kunci

pengelompokkan data budidaya.

Input data dalam Sistem Informasi Budidaya Tambak Udang PT. IYP

disesuaikan dengan penggolongan data dalam database. Terdapat dua jenis

proses input yakni input formasi data dan input data. Input formasi data bertujuan

untuk memudahkan proses input data, dimana data yang dimasukkan dalam

formasi data adalah data yang penggunaannya berulang. Data yang dimasukkan

dalam formasi data antara lain kolam, waktu pakan, jenis pakan, dan spesies

plankton. Input data dikelompokkan menjadi lima menu input yakni input data

fisik yang terbagi dalam data identitas kolam blok, input data operasional yang

terbagi atas data kualitas air, data pakan, data sampling, data plankton, dan data

panen.

Langkah pemrosesan data dalam Sistem Informasi Budidaya Tambak Udang

PT. IYP terbagi menjadi tiga jenis, yakni:

a. Operasi matematis atau kalkulasi (dengan formula)

b. Akumulasi data deret waktu (variasi temporal)

c. Perbandingan data antar kolam (variasi spasial)

Seluruh aktivitas dalam Sistem Informasi Budidaya Tambak Udang PT. IYP

yang menyangkut input keseluruhan data, pemrosesan hingga output yang

dihasilkan secara terperinci dirangkumkan dalam Tabel 6.


38

Tabel 6. Pemrosesan data budidaya dalam Sistem Informasi Pengelolaan


Budidaya Tambak PT. IYP (a) dan (b)
(a) Pemrosesan data berdasarkan deret waktu dan spasial
Input Proses Output Keterangan
Data kualitas air (pH, salinitas, DO,
suhu, TOM, Alkalinitas, dan lainnya)

Data jumlah plankton Tabel


kumpulan
Akumulasi
Data hasil panen informasi,
data deret
grafik time
waktu atau
series, dan
Data sampling (pertumbuhan udang) perbandingan
grafik
secara spasial
perbandingan
Data akumulasi jumlah pakan spasial

Data hasil evaluasi (FCR, SR, ABW,


ADG, padat tebar, dan lainnya)

(b) Pemrosesan data dengan operasi matematis (formula)


Input Proses Hasil (Output) Keterangan
Data jumlah benur Jumlah benur/ luas Padat tebar
dan luas kolam (Data area (ekor /m²)
panen)

Data jumlah benur (Jumlah udang saat Survival rate


dan jumlah udang panen/ Jumlah benur (%SR)
(Data panen) yang ditebar)* 100%

Data jumlah Jumlah pakan (kg)/ Feeding


akumulatif pakan dan Jumlah panen (kg) conversion ratio
hasil panen (FCR)

Data pertumbuhan Σ(hasil sampling Rataan bobot i = 1,2,3,...dst;


bobot udang (Data ke -i)/n udang hasil n= banyaknya
sampling) sampling (gr) pengulangan
sampling
Data pakan Σ (bobot pakan 1(jam Total pakan i = pukul 08.00;
ke- i) + bobot pakan harian (kg) 12.00; 16.00;
2(jam ke- i)) 20.00; 24.00
Akumulasi z = hari
jumlah pakan pembesaran
(kg) udang
(1,2,3,...,m)
Data size udang 1000 gr/ (size udang) Rataan bobot
(Data panen) udang ABW (gr)
Data ABW (Data ABW/ DOC (jumlah Rata- rata
panen) hari pembesaran) pertumbuhan
bobot udang
harian ADG
(gr/hari)
Data panen dan luas (Hasil panen/luas Nilai produksi/
kolam kolam) * 10000 ha (kg/ha)
39

Mekanisme output pada Sistem Informasi Budidaya Tambak Udang PT. IYP

didasarkan pada kolam sebagai alamat data. Hal ini untuk mempermudah

pengelola tambak melakukan kontrol dan evaluasi baik secara temporal maupun

spasial. Output sistem informasi dituangkan dalam dua bentuk, yakni:

a. Tabel

Informasi dalam bentuk tabel mencakup kumpulan seluruh data budidaya

yang telah diinput dan yang telah diproses dengan algoritma. Tabel hasil sistem

informasi dapat dicetak atau disimpan dalam bentuk *.txt.

b. Grafik

Output grafik bertujuan untuk memudahkan interpretasi data, sehingga dapat

mempersingkat waktu pengambilan keputusan. Terdapat dua tipe grafik yakni

grafik satu kolam untuk menunjukkan variasi temporal, serta grafik antar kolam

untuk menampilkan variasi data secara spasial (antar kolam).

Ilustrasi aktivitas dalam Sistem Informasi Budidaya Tambak Udang PT. IYP

ditampilkan dalam Gambar 14.

Gambar 14. Aktivitas Sistem Budidaya Tambak Udang PT. IYP


40

3.5.2.3 Evaluasi Sistem Informasi Budidaya Tambak Udang PT. IYP

Evaluasi sistem informasi dilakukan dengan cara membandingkan sistem

informasi yang dihasilkan dengan sistem perekaman data secara manual yang

selama ini berlangsung di PT. Indonusa Yudha Perwita. Dari hasil evaluasi dapat

diperoleh kelebihan dan kekurangan dari sistem informasi ini yang digunakan

untuk pengembangan selanjutnya.

3.5.3 Pemanfaatan sistem informasi dalam pengkajian kesesuaian lahan


dengan keberhasilan operasional budidaya tambak PT. IYP

Puncak dari kegiatan budidaya adalah panen, dan hal tersebut dijadikan

sebagai suatu gambaran keberhasilan pengelolaan dalam masa pembesaran.

Pengkajian hubungan keberhasilan operasional dengan kesesuaian lokasi

dilakukan dengan melihat output Sistem Informasi Budidaya Tambak Udang

(SIBTU) PT.IYP berupa data panen atau nilai produksi dari setiap kolam tambak

pada waktu yang berbeda. Nilai produksi dari setiap kolam yang berada pada

lahan dengan status kesesuaian berbeda dapat memberikan gambaran

hubungan kesesuaian lokasi usaha terhadap hasil yang diperoleh.

Secara keseluruhan, sistematika dari penelitian ini digambarkan dalam

diagram alir pada Gambar 15.


41

PT. INDONUSA YUDHA PERWITA


Aksesibilitas Curah hujan

Kualitas tanah Salinitas

Jarak sumber air Landuse


Data Spasial Data Budidaya

Pembobotan dan pemberian skor


terhadap kriteria penyusun
kesesuaian lahan tambak Data Budidaya :
Peta tata letak Data fisik
tambak Data operasional
Data panen
Faktor pembatas
dalam kesesuaian
lahan
Aplikasi sistem informasi berbasis
spasial
“SIBTU PT. INDONUSA YUDHA
Hasil akhir PERWITA”
Kelas Kesesuaian Lahan
Budidaya Tambak

Penggunaan SIBTU PT. IYP dalam


evaluasi data budidaya dan
Evaluasi kesesuaian lahan posisi keberhasilan operasional
tambak PT. Indonusa Yudha
Perwita

Output data panen dari


Sistem Informasi

Hubungan kesesuaian lokasi dan


keberhasilan operasional tambak

Gambar 15. Diagram alir penelitian


43

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi umum wilayah pesisir Indramayu

Kabupaten Indramayu yang terletak di pantai utara pulau Jawa, pada pada

posisi geografis 107°55’00” – 108°7’30” BT dan 6°15’00” - 6°22’30” LS dengan

garis pantai sepanjang 114,1 km. Kabupaten Indramayu memiliki luas wilayah

204.011 ha, terbagi kedalam 31 kecamatan, 310 desa dan 8 kelurahan.

Kabupaten Indramayu berbatasan dengan Laut Jawa, kabupaten Majalengka,

Sumedang, Cirebon, dan Subang.

Pesisir utara Pulau Jawa khususnya kabupaten Indramayu sangat rentan

dengan permasalahan abrasi yang mengancam keberlangsungan tambak di

pesisir. Menurut Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Indramayu (2007)

dari 25,8 km panjang pantai dipesisir kecamatan Sukra hingga Kandanghaur,

sekitar 5,114 km diantaranya telah terkena abrasi yang cukup signifikan. Hal ini

didukung oleh hasil penelitian Hadikusumah (2009) di Eretan, Indramayu

mengenai karakteristik gelombang yang menjadi pemicu mundurnya garis pantai

1,5 m/tahun.

4.2 Tambak udang PT. Indonusa Yudha Perwita

Usaha budidaya tambak PT. Indonusa Yudha Perwita berlokasi di Desa

Patrol Lor, Kecamatan Patrol, Kabupaten DATI II Indramayu, Jawa Barat. Lokasi

lahan tambak termasuk di wilayah pesisir Pantura. Tambak PT. Indonusa Yudha

Perwita sebelumnya memiliki luasan lebih dari 25 ha, namun saat ini luas lahan

berkurang menjadi  22 ha, akibat terkikis abrasi. Lokasi kegiatan budidaya

berada di pantai yang langsung berbatasan dengan laut tanpa adanya jalur

sempadan pantai, kelerengan lahan relatif datar dengan kemiringan 0-3%, dan

memanfaatkan hak guna usaha atas lahan yang diperuntukkan sebagai

kawasan budidaya atau pertanian lahan kering. Tambak PT. IYP tergolong
44

sebagai tambak yang masih produktif, sejak saat didirikan pada tahun 1985 oleh

pemilik pertama hingga saat ini. Kondisi yang berbeda jika dibandingkan dengan

usaha sejenis di daerah yang sama yang mengalami kegagalan usaha.

4.2.1 Sejarah singkat tambak PT. Indonusa Yudha Perwita

PT. Indonusa Yudha Perwita (PT. IYP) dibeli oleh Sri Prakash dengan kondisi

tambak hanya memiliki kolam blok A,B,C pada tahun 1990 (Lampiran 4),

kemudian berkembang dengan pembuatan kolam blok D, E, dan F (Gambar 10).

Pada awalnya komoditi yang dibudidayakan adalah udang windu, kemudian di

tahun 2002 terjadi penggantian komoditi menjadi udang vannamei. Usaha

tambak di Desa Patrol Lor, Kecamatan Patrol telah berdiri dan beroperasi sejak

tahun 1985, namun pengelolaan bukan dilakukan oleh PT. IYP.

Terdapat 36 kolam tambak yang masih digunakan sebagai media

pembesaran dalam PT. IYP hingga tahun 2010, awalnya terdapat 49 tambak,

akan tetapi karena adanya pengaruh abrasi, maka kolam pada blok A (A1-A7)

dan blok B (B1-B5) terkikis dan tidak dapat digunakan. Blok B mengalami

pengurangan luas karena abrasi, sehingga berubah fungsi menjadi kolam

penampungan air laut. Kolam C1 pun tidak digunakan sejak tahun 2008 karena

dalam riwayat penggunaannya selalu menghasilkan produksi yang rendah, hal ini

diduga karena kolam tersebut terkena rembesan buangan limbah domestik dari

mess karyawan dan perusahaan, mengingat letak kolam sangat berdekatan

dengan saluran pembuangan dari mess.

4.2.2 Kegiatan budidaya udang Vannamei di PT. Indonusa Yudha Perwita

Budidaya udang vannamei marak dilakukan sejak pemerintah memberikan

izin resmi masuknya spesies ini ke Indonesia pada tahun 2002. Keunggulannya

dalam waktu budidaya yang lebih singkat dan pengelompokan udang vannamei
45

sebagai jenis SPF membuat PT. Indonusa Yudha Perwita beralih dan mengganti

komoditi budidaya dari udang windu menjadi udang vannamei.

Dalam proses budidaya udang vannamei dibutuhkan media pembesaran

yakni air dengan kadar salinitas tertentu yang optimal untuk pertumbuhan udang

vannamei. Kemudahan akses sumber air sangat penting, dan hal ini dipengaruhi

oleh posisi tambak.

a. Sumber air tawar

Sumber air tawar yang digunakan PT Indonusa Yudha Perwita adalah air

tanah. Pemakaian dua sumur bor dilakukan sejak tahun 1992. Sumur bor

pertama digunakan untuk kebutuhan domestik perusahaan, dan yang kedua

untuk pengisian kolam budidaya. Sumur bor untuk kebutuhan domestik memiliki

salinitas 0-1‰, sedangkan untuk kebutuhan kolam tambak memiliki salinitas

>3‰. Air pompa yang digunakan untuk tambak tidak dikhawatirkan

menyebabkan intrusi yang parah atau penurunan muka tanah karena menurut

pemilik tambak, air tawar digunakan hanya saat musim kemarau untuk menjaga

kadar salinitas air tambak (menghindari peningkatan salinitas drastis akibat

presipitasi yang tinggi).

b. Sumber air laut

Air laut diambil dengan pompa yang disambungkan dengan pipa sepanjang

150 meter ke arah kolam penampungan pertama. Pemeliharaan terhadap air

laut yang baru dipompakan kedalam kolam penampungan dilakukan pada kolam

B1 – B5 dilakukan dengan penyaringan bertahap dan penyebaran ikan bandeng

sebagai biofilter. Kualitas air tawar dan air laut yang digunakan dalam proses

budidaya ditampilkan dalam Lampiran 5.


46

4.2.3 Tahapan kegiatan budidaya udang vannamei

Kegiatan budidaya udang vannamei dalam tambak PT. Indonusa Yudha

Perwita dilakukan dalam beberapa tahapan yang dimulai dari persiapan, proses

pembesaran hingga panen. Penjelasan tahap demi tahap yang dilakukan dalam

kegiatan budidaya antara lain:

1. Persiapan Lahan

Lama waktu yang dibutuhkan setelah masa panen menuju persiapan kolam

sebelum proses tebar benih adalah 3 bulan, dengan 1,5 bulan pertama

digunakan untuk pengeringan kolam. Persiapan lahan adalah waktu yang

dibutuhkan dalam tahapan ini yaitu 1 sampai dengan 2 bulan dengan rincian

sebagai berikut :

a. Pengangkatan lumpur dasar dan pengeringan dasar tambak

Setelah melewati masa pembudidayaan, kondisi tambak mengalami

perubahan yaitu dengan adanya lumpur yang mengendap di dasar kolam.

Endapan lumpur tersebut berasal dari lumpur yang terbawa air masuk dan yang

berasal dari sisa pakan yang tidak termakan oleh udang. Untuk menanggulangi

hal tersebut, perlu dilakukan pembuangan air, pengeringan, dan pengerukan

lumpur untuk mempertahankan kedalaman air selama masa pemeliharaan

berikutnya sesuai dengan yang disyaratkan (Gambar 16). Selanjutnya dilakukan

perataan pada pelataran tengah kolam agar permukaannya melandai ke arah

pintu air. Pengerukan dasar tambak bertujuan untuk memperbaiki kondisi tanah

agar kemampuan tanah untuk menghasilkan ganggang biru yang membentuk

klekap dapat senantiasa dipertahankan. Kondisi tanah yang aerob sangat

membantu dalam proses mineralisasi yang dibutuhkan oleh klekap. Selain itu,

proses pengeringan dan pengangkatan lumpur berfungsi untuk menghalau gas

beracun seperti metana, amonia, dan H2S dari tanah, sekaligus memberantas

benih- benih ikan liar dan hama lainnya.


47

b. Pemberian kapur I

Setelah melewati masa pengeringan, tahap selanjutnya yaitu proses

pemberian kapur yang berfungsi antara lain sebagai penyedia kapur dalam

proses pergantian kulit, pemberantasan hama dan penyakit, mempercepat

proses penguraian bahan organik serta untuk mempertahankan kondisi pH tanah

tambak. Dosis pemberian kapur adalah  500 kg/ha. Teknik pengapuran

dilakukan dengan penyebaran kapur secara merata menggunakan alat sehingga

kapur dan tanah dasar dapat teraduk dan kapur dapat masuk sedalam 10 cm.

Setelah pemberian kapur, lahan dibiarkan selama 1 minggu.

c. Cangkul balik tanah dan Pengapuran II

Setelah diberi kapur dan dibiarkan selama seminggu, tahap selanjutnya

adalah mencangkul balik tanah yaitu proses pembalikan tanah dasar untuk

memperoleh unsur hara baru yang berasal dari lapisan tanah yang lebih dalam,

sehingga diperoleh kualitas tanah dasar tambak yang baik untuk

pembudidayaan. Setelah proses cangkul balik tanah, kemudian dilakukan

pengapuran kembali sebanyak  200kg/ ha.

d. Perataan Tanah

Tahap akhir dalam persiapan lahan adalah proses perataan tanah yaitu

proses perataan permukaan pelataran tambak khususnya pada bagian tengah,

untuk memudahkan lumpur terkumpul ditengah kolam yang terhubung dengan

saluran pembuangan kolam.


48

.
(a) (b)
Gambar 16. Kolam dalam masa pembuangan air dan pengeringan (a),
Saluran pembuangan di tengah kolam (b)

2. Pengisian Kolam

Kegiatan pengisian air kolam meliputi kegiatan pengambilan air yang berasal

dari laut dengan menggunakan pompa submersible masuk kedalam kolam

penampungan/ resevoir, yang terdiri dari dua kolam. Setelah kolam

penampungan/ reservoir terisi, kemudian air laut tersebut sebagian ada yang

dipompakan ke dalam saluran primer, tetapi ada juga yang langsung

dipompakan kedalam kolam yang telah siap. Kolam diisi oleh air laut setinggi 

50 cm, diukur pH dan nilai salinitasnya. Nilai salinitas dan pH disesuaikan

dengan standar air dari pembenihan (hatchery). Selanjutnya, dipasang kincir

sebanyak 4 buah per kolam, dan selanjutnya kincir tersebut di uji coba (Gambar

17). Keseluruhan kegiatan tersebut memakan waktu  25 hari.


49

(a) (b)

(c)
Gambar 17. Proses pemasangan kincir (a,b,c)

3. Desinfektan

Kegiatan desinfektan adalah kegiatan untuk mencegah timbulnya penyakit

setelah pengisian air kolam. Sebelum dilakukan pemberian kaporit, terlebih

dahulu dilakukan pengaktifan kincir air, untuk memudahkan pencampuran kaporit

didalam air kolam dan lebih merata. Pemberian kaporit dengan dosis 35 ppm/ha

dilakukan dalam kurun waktu 10 hari. Penggunaan desinfektan lainnya

ditambahkan sesuai kebutuhan untuk mengendalikan hama udang yaitu sejenis

Saponin. Saponin yang digunakan adalah saponin yang telah direndam dan

dibiarkan selama 1 hari. Selanjutnya dilakukan pemupukan, air kolam diberi TSP.

TSP diberikan sehari setelah masa pemberian kaporit dan saponin selama 10

hari. Dosis TSP yang diberikan adalah 3 – 5 kg per kolam, disesuaikan dengan

ukuran kolam.
50

4. Fermentasi dan kontrol kualitas air kolam

Proses yang bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan plankton dengan

bantuan fermentasi bahan- bahan seperti bekatul, tepung ikan dan tepung

kedelai yang telah direndam selama tiga hari dalam wadah drum berisi air.

Campuran bahan- bahan tersebut kemudian ditaburkan kedalam kolam dengan

ditambahkan bakteri pengurai jenis lactobacillus sp. untuk mendukung

fermentasi. Setelah kegiatan tersebut kemudian dilakukan kontrol beberapa

parameter penting yang diperlukan dalam budidaya udang yaitu pH air, salinitas

air, transparansi dan plankton. Setelah seluruh kondisi tersebut sesuai kemudian

tahap selanjutnya yaitu siap masuk benur (tebar).

5. Penebaran benur

Proses penebaran dilakukan dengan menggunakan benih udang (benur

larva) PL 10 dengan padat penebaran rata- rata per kolam >70 ekor/ meter.

Sebelum dilakukan penebaran, terlebih dahulu dilakukan aklimatisasi temperatur

dan salinitas. Pada proses penebaran awal digunakan salinitas 25 - 30‰, hal ini

dilakukan agar proses aklimatisasi (adaptasi terhadap suhu dan salinitas)

dengan kondisi benur dari hatchery tidak susah. Hal ini bertujuan untuk menekan

tingkat mortalitas benur.

6. Pembesaran

Periode pembesaran diawali saat benur masuk ke dalam kolam tambak,

pemberian pakan merupakan hal yang utama selama periode pembesaran,

selain itu pemberian vitamin pun penting dilakukan. Pada saat benur berumur 7

hari – 3 bulan, diberikan vitamin tambahan yakni Wheat Gluten, vitamin C,

vitamin TOP S, Pro2, dan Biovit (Gambar 18).

Penggunaan probiotik sangat membantu merubah bahan organik dan amonia

yang ada dalam air tambak. Probiotik lebih lanjut berguna dalam manajemen

plankton yang ada. Probiotik yang digunakan adalah Super PS. Pemberian
51

Super PS dilakukan pada awal budidaya sampai umur 2 bulan. Aplikasi

pemberian probiotik dilakukan sesuai kebutuhan tambak. Waktu yang

dibutuhkan dalam pembesaran udang adalah 3.5 sampai 4 bulan. Jadwal

kegiatan dalam masa pembesaran tertuang dalam Tabel 7.

(a) (b)
Gambar 18. Vitamin udang dalam masa pembesaran di tambak PT. IYP
(a) Wheat Gluten, TOP S, Pro 2; (b) BioVit Aquatic

Tabel 7. Jadwal kegiatan harian dalam kegiatan budidaya


No Waktu Kegiatan Keterangan
1 7:30 Pemberian Pakan I

Sampel air kolam diletakkan


dalam botol gelap;proses
analisis dilakukan di
laboratorium (pH, salinitas,
2 8:00 Pengambilan sampel air kolam nitrit, nitrat, amoniak,
kandungan bakteri);
pengukuran DO dilakukan
dengan DO meter langsung
dikolam)

3 9:30 Kontrol anco


4 11:30 Pemberian Pakan II
5 13:30 Kontrol anco
6 15:30 Pemberian Pakan III
7 17:30 Kontrol anco
8 19:30 Pemberian pakan IV
9 21:30 Kontrol anco
Dilakukan dini hari untuk
10 1:00 Pemberian pakan V tindakan pengamanan kolam
di malam hari
52

Kontrol anco adalah proses pemeriksaan pakan yang diletakkan pada anco,

hal ini bertujuan untuk mengkontrol nafsu makan udang. Banyaknya pakan yang

diberikan dalam anco adalah 3% dari jumlah total pakan yang diberikan pada

satu kolam. Proses kontrol anco dilakukan dengan cara diangkat setelah satu

atau dua jam pemberian pakan. Dalam prakteknya, apabila pada waktu control

anco ditemukan bahwa pakan di seluruh anco dalam satu kolam habis, maka

untuk jadwal pakan berikutnya pakan ditambahkan 1 kg. Sebaliknya, jika ada

yang tersisa dalam salah satu atau kedua buah anco, maka dilakukan

pengurangan jumlah pakan pada jadwal pemberian pakan berikutnya.

Jumlah pakan yang diberikan bergantung pada umur dan kondisi udang.

Jumlah pakan untuk malam hari lebih rendah, hal ini disesuaikan dengan sifat

udang vannamei yang aktif makan di siang hari, sehingga pemberian pakan

dimalam hari lebih dititikberatkan pada faktor keamanan. Pada usaha budidaya

tambak PT. Indonusa Yudha Perwita, terdapat tiga jenis pakan yang diperoleh

dari PT Gold Coin Indonesia:

a) Supreme 960 untuk benur umur 0 – 12 hari

b) Supreme 960+ Supreme 961 untuk umur > 12 hari

c) Supreme 961+ Supreme 962 untuk > dua minggu

d) Setelah 35 hari menggunakan pellet Supreme 933P

Dalam proses pembesaran, pemeliharaan air dilakukan tidak hanya dengan

menilai kualitas air, akan tetapi pembuangan dan penggantian air pun dilakukan.

Umumnya penambahan air tawar dilakukan pada saat benur berumur 15 – 45

hari. Setelah berumur lebih dari 45 hari hingga masa panen, air yang

ditambahkan adalah air asin. Proses pembuangan air dan penambahan air

biasanya dilakukan pada pagi hari dengan melihat kedalaman air dan kondisi

warna air.

7. Panen
53

Kegiatan panen dilakukan dalam dua metode yakni panen total dan panen

parsial. Panen total dilakukan saat size udang sudah layak panen. Panen parsial

bertujuan meminimalisir efek dari kandungan oksigen terlarut yang rendah dan

mengganggu pertumbuhan udang. Kondisi kekurangan oksigen diseluruh kolam

akibat kondisi kolam yang padat. Panen parsial dilakukan dengan melihat data

oksigen terlarut harian dan size udang, pada saat kadar oksigen terlarut tercatat

sangat rendah dan size udang sudah cukup memenuhi permintaan pasar, maka

keputusan panen parsial diambil.

8. Pasca Panen

Proses penanganan udang sebelum sampai kekonsumen adalah sortir

sesuai ukuran, pencucian beberapa kali dengan air bersih atau air es, kemudian

packing dalam keranjang yang telah dilapisi serpihan es batu. Penanganan

udang hasil panen harus dilakukan dengan cepat karena kualitas udang cepat

menurun setelah dipanen. Keterlambatan penanganan udang mengakibatkan

udang tidak dapat diterima dipasaran sebagai komoditas ekspor.

4.3 Karakteristik biofisik pesisir kecamatan Patrol, Indramayu

Kecamatan Patrol berbatasan langsung dengan Laut Jawa pada bagian

utara. Garis pantai Kecamatan Patrol serta klasifikasi area berdasarkan jarak dari

pantai dituangkan dalam Lampiran 6. Berdasarkan hasil survei lapangan pada

bulan Oktober 2010, sebaran salinitas di pesisir Patrol berkisar antara 23 – 27

permill, dan salinitas bernilai rendah pada daerah dekat muara sungai yakni 9

permill. Tabulasi data salinitas, serta peta sebaran nilai salinitas pesisir

dicantumkan dalam Lampiran 7. Daerah Patrol dialiri beberapa aliran sungai

sebagai sumber air tawar yang digunakan dalam beberapa kegiatan masyarakat.

Aliran sungai yang melewati daerah Patrol serta klasifikasi jarak daerah Patrol

dari aliran sungai ditampilkan dalam Lampiran 8.


54

Variasi curah hujan pada periode 2006 – 2010 adalah 1010,0 – 1836,0 mm/

tahun, dengan nilai curah hujan rata- rata 1364,8 mm/ tahun. Jumlah hari hujan

yang tercatat dalam periode 2006 – 2010 berkisar 61 – 92 hari. Data curah hujan

dilampirkan dalam Lampiran 9.

Penggunaan lahan di wilayah Patrol masih didominasi oleh sawah,

pemukiman serta tambak (Lampiran 10). Jenis tanah pada lokasi penelitian

berjenis aluvial sehingga cocok untuk usaha pertanian dan budidaya karena

kandungan endapan mineralnya, sedangkan tekstur tanah berkisar pada clay,

silty clay dan clay loam, yang mendukung kegiatan pertambakan. Pesisir utara

kabupaten Indramayu khususnya daerah Patrol memiliki kelerengan yang

cenderung datar yakni 0 - 3% (Tim Survei Tanah Pusat Penelitian Tanah dan

Agro Klimat 1990). Kondisi kualitas tanah dan kelerengan lahan di kecamatan

Patrol digambarkan dalam Lampiran 11.

Wilayah Patrol memiliki aksesibilitas yang baik, terutama dengan adanya jalur

Pantura. Keberadaan jalur Pantura serta jalan pendukung lainnya akan

memudahkan suatu usaha tambak dalam menjangkau pasar, konsumen atau

penyedia kebutuhan operasional budidaya. Aksesibilitas di kecamatan Patrol

dicantumkan dalam Lampiran 12.

Tipe pasang surut pada lokasi penelitian adalah pasang surut campuran

condong harian ganda, hal ini diketahui berdasarkan data Dishidros AL untuk

stasiun pasang surut di Cirebon pada bulan Nopember 2010 dengan nilai

tunggang pasang surut sebesar 0,846 m (Lampiran 13). Hasil survei lapang oleh

Siahaan (2010) pun mengungkapkan hal yang senada, dimana nilai tunggang

pasut yang diperoleh adalah 0,75 m. Mengacu pada Afrianto dan Liviawaty

(1991), tunggang pasang surut pada daerah Patrol kurang dari 1 meter, sehingga

untuk menjadikan daerah tersebut sebagai lahan tambak, maka pengisian dan

pengeringan tambak harus dilakukan dengan memanfaatkan pompa.


55

4.4 Kesesuaian lahan budidaya tambak di kecamatan Patrol

Berdasarkan seluruh faktor biofisik yang dimiliki oleh daerah Patrol, maka

diperoleh hasil kesesuaian lahan tambak untuk daerah Kecamatan Patrol seperti

ditampilkan dalam Gambar 19. Variasi hasil akhir kesesuaian lahan untuk

kecamatan Patrol ditentukan oleh keragaman dari setiap kriteria seperti terlampir

dalam Lampiran 6 – 12. Dari keseluruhan kriteria yang digunakan dalam

penentuan kesesuaian lahan, terdapat beberapa kriteria yang menjadi penentu,

dan beberapa kriteria yang tidak berpengaruh dalam variasi kesesuaian lahan.

Kriteria biofisik yang tidak memberikan pengaruh nyata dalam variasi hasil

kesesuaian lahan secara spasial adalah data yang bersifat homogen yakni

curah hujan, kelerengan, dan tekstur tanah. Data curah hujan yang digunakan

dalam metode pembobotan bersifat homogen karena terdiri atas nilai rata- rata

curah hujan untuk kecamatan Patrol yakni 1364,8 mm/tahun. Demikian halnya

dengan kelerengan dan tekstur tanah, kelerengan seluruh daerah Patrol adalah

datar yakni 0 – 3%, sedangkan tekstur tanah keseluruhan daerah penelitian

adalah clay. Kehomogenan data curah hujan, kelerengan dan tekstur tanah, tidak

menyebabkan perubahan dalam variasi nilai akhir kesesuaian, sehingga dapat

dilewatkan dalam proses pembobotan untuk penentuan kesesuaian lahan

tambak di daerah Patrol.

Parameter yang menjadi faktor pembeda pada hasil kesesuaian lahan

tambak di kecamatan Patrol adalah landuse, jenis tanah, jarak dari pantai, jarak

dari sungai, aksesibilitas, dan salinitas. Landuse menjadi faktor utama dalam

perbedaan hasil kesesuaian karena memiliki bobot yang terbesar diantara

parameter lainnya. Pada daerah yang tidak sesuai atau sesuai bersyarat dalam

Gambar 19, adalah daerah dengan peruntukkan lahan sebagai pemukiman atau

lokasi industri, sedangkan daerah yang sangat sesuai atau cukup sesuai memiliki

landuse berupa lahan persawahan, ladang atau lahan tambak. Parameter jenis
56

tanah dan jarak dari pantai memiliki pengaruh yang lebih rendah dalam

perbedaan hasil akhir kesesuaian lahan karena bobot yang lebih rendah dari

parameter landuse. Daerah dengan jenis tanah alluvial dan berjarak 300 – 4000

m menjadi daerah yang sangat sesuai hingga cukup sesuai, sedangkan diluar

kriteria tersebut merupakan daerah yang kurang sesuai atau tidak sesuai

sebagao lahan tambak. Variasi hasil kesesuaian lahan untuk budidaya tambak

turut dipengaruhi oleh parameter jarak dari sungai, aksesibilitas, dan salinitas.

Daerah dengan aksesibilitas < 1000 m dan berjarak 50 – 1000 m dari sungai,

menjadi daerah yang sangat sesuai atau cukup sesuai sebagai lahan tambak.

Sebaran salinitas turut mempengaruhi hasil kesesuaian lahan, karena adanya

variasi nilai salinitas di pesisir kecamatan Patrol, khususnya daerah muara

sungai yang cenderung memiliki kisaran salinitas rendah.

Dalam penentuan kesesuaian lahan untuk budidaya tambak, selain

menggunakan parameter biofisik, perlu disertakan hasil kesesuaian berdasarkan

analisis temporal terhadap kualitas air dan iklim yang berperan penting dalam

keberlangsungan budidaya tambak. Mengacu pada Lampiran 5 dan 7, diketahui

bahwa musim hujan mempengaruhi salinitas di pesisir terutama di daerah muara

sungai, yang cenderung lebih rendah akibat limpasan air tawar dari sungai.

Pada kecamatan Patrol, umumnya curah hujan meningkat pada bulan Oktober

hingga bulan Mei. Waktu tersebut perlu diperhatikan oleh pengusaha tambak,

karena akan berpengaruh pada proses pengeringan tanah dan fluktuasi nilai

salinitas air tambak sebagai media budidaya.


57

Gambar 19. Kesesuaian lahan tambak Kecamatan Patrol, Indramayu


58

4.5 Evaluasi kesesuaian lahan tambak PT. Indonusa Yudha Perwita

Berdasarkan hasil overlay layout tata letak tambak PT. Indonusa Yudha

Perwita (PT. IYP) (Gambar 10) terhadap hasil kesesuaian lahan untuk tambak di

kecamatan Patrol (Gambar 19), diperoleh informasi kesesuaian lahan untuk

tambak PT. IYP secara biofisik, seperti dicantumkan dalam Gambar 20. Melalui

Gambar 20, diketahui bahwa lokasi tambak PT. IYP terletak dalam kelas sangat

sesuai dan cukup sesuai. Tambak PT. IYP dengan luasan 22,8541 ha terbagi

dalam dua kelas dengan luas masing- masing kelas kesesuaian tercantum dalam

dalam Tabel 8. Berdasarkan Tabel 8 diketahui bahwa luasan lahan tambak yang

berada dalam kelas sangat sesuai yakni 11,7154 ha (51,2620%), lebih besar dari

kelas cukup sesuai yang memiliki luasan 11,1386 ha (48,7380%).

Tabel 8. Luas kelas kesesuaian lahan tambak PT. IYP


Kelas Luasan (ha) Persentase (%)
Sangat sesuai 11,7154 51,2620
Cukup sesuai 11,1386 48,7380
Total 22,8541 100

Hal yang menyebabkan perbedaan kelas kesesuaian lahan untuk tambak PT.

IYP dapat diketahui melalui perbedaan faktor dari setiap kriteria penyusun

kesesuaian lahan tambak. Setiap faktor kriteria yang menyusun kelas sangat

sesuai dan cukup sesuai untuk lokasi tambak PT. IYP tertuang dalam Tabel 9.

Tabel 9. Faktor penyusun kesesuaian lahan tambak PT. IYP


No Kriteria Kelas Sangat Sesuai Kelas Sesuai
1 Landuse Sawah Sawah
2 Jenis Tanah Aluvial kelabu tua Aluvial kelabu tua
3 Jarak dari pantai > 200 m  200 m
4 Jarak dari sungai  3000 m  3000 m
5 Aksesibilitas  1000 m  1000 m
6 Tekstur tanah Clay Clay
7 Kelerengan 0 - 2% 0 - 2%
8 Curah hujan 1364,8 mm 1364,8 mm
9 Salinitas 20- 30 ‰ 20- 30 ‰
59

Gambar 20. Kesesuaian lokasi tambak PT. Indonusa Yudha Perwita berdasarkan faktor biofisik
60

Tabel 9 memberikan informasi bahwa sembilan kriteria yang digunakan

mendukung penyusunan kesesuaian lahan untuk tambak PT. IYP sehingga

diperoleh kelas sangat sesuai dan cukup sesuai. Dari kesembilan kriteria yang

digunakan delapan kriteria diantaranya bersifat homogen, sehingga terdapat satu

kriteria yang menjadi penentu variasi kelas kesesuaian yang dimiliki oleh lahan

tambak PT. IYP, yakni kriteria jarak dari pantai. Kelas sangat sesuai berada pada

lahan yang berjarak > 200 m dari garis pantai, sedangkan kelas cukup sesuai

dimiliki oleh lahan tambak PT. IYP yang berjarak  200 m dari garis pantai.

Penerapan faktor pembatas berupa kawasan sempadan pantai dan sungai

untuk perlindungan kawasan pesisir terhadap hasil analisis kesesuaian lahan

secara biofisik memberikan hasil seperti terlampirkan dalam Lampiran 14.

Pemberlakuan peraturan pemerintah dalam Keppres 32/ 1990, diikuti oleh Surat

Edaran Departemen Kehutanan No. 507/ IV-BPPH/ 1990 tentang lebar jalur hijau

200 m di sepanjang pantai dan 50 m di sempadan sungai, menjadikan seluruh

area sempadan pantai dan sungai dilarang untuk kegiatan pertambakkan karena

berbenturan dengan kepentingan konservasi lingkungan pesisir. Penerapan

faktor pembatas terhadap hasil kesesuaian lahan tambak secara biofisik di

kecamatan Patrol (Gambar 19) mengungkapkan hasil bahwa sebagian lahan

tambak PT. IYP seharusnya tidak digunakan sebagai lahan tambak (Gambar 21).

Lahan PT. IYP dengan kelas cukup sesuai secara biofisik, berjarak < 200 m dari

garis pantai dan langsung terhubung dengan laut terbuka yakni Laut Jawa,

dimana seharusnya lahan tersebut digunakan sebagai jalur hijau mangrove atau

kawasan sempadan pantai. Hal tersebut untuk menghindari dampak buruk yang

lebih jauh akibat abrasi.

Ketiadaan jalur hijau mangrove atau kawasan sempadan pantai sejak awal

kegiatan budidaya tambak PT. IYP berlangsung menjadikan kurang tepatnya


61

Gambar 21. Kesesuaian lokasi tambak PT. Indonusa Yudha Perwita berdasarkan faktor biofisik dan peraturan perlindungan pesisir
62

lokasi tambak PT. IYP. Hal ini ditandai oleh pengurangan lahan tambak PT.

IYP karena selalu terkena dampak abrasi. Abrasi di kawasan ini telah berakibat

pada hilangnya seluruh Kolam A dan terkikisnya Kolam B1, B2, B3, B4, dan B5

(Lampiran 4), sehingga tidak dapat digunakan dalam proses budidaya.

Pengurangan luas lahan tambak PT. IYP karena abrasi membuat perusahaan

harus mengeluarkan biaya operasional ekstra untuk menanggulangi

permasalahan pesisir tersebut dengan membuat tanggul atau turap penahan

abrasi (Gambar 22).

Petambak menyatakan bahwa tindakan untuk menanggulangi abrasi telah

banyak dilakukan dengan membuat penahan dari bambu, beton dan batu.

Penggunaan mangrove belum dilakukan, karena dibutuhkan biaya besar dan

waktu lama. Pemilik tambak turut mengungkapkan bahwa meskipun lahan

tambak PT. IYP memiliki ketinggian  3 meter dari permukaan laut dan tidak

terkena pengaruh banjir, namun pengaruh abrasi sangat tinggi, sehingga

sebelum dilakukan penanaman mangrove, tetap perlu dilakukan pembuatan

turap atau bronjong atau concrete penahan, agar tanaman mangrove tidak

tergerus oleh gelombang.

Mangrove memiliki efek nyata dalam menstabilkan tanah untuk menahan abrasi,

berperan dalam meredam energi gelombang, dan menyaring runoff dari sungai

sebelum memasuki perairan pesisir, mampu menghasilkan bahan pelapukan

sebagai sumber makanan plankton (Boyd, 2002). Dengan demikian, relokasi

lahan tambak PT. IYP yang cukup sesuai ke dalam area yang tergolong dalam

kelas sangat sesuai, serta konversi lahan yang cukup sesuai selebar 200 m

menjadi kawasan mangrove, diungkapkan sebagai suatu langkah yang perlu

diambil oleh pihak pengelola. Hal ini bertujuan agar tambak PT. IYP dapat
63

beroperasi tanpa adanya pembatas serius seperti ancaman abrasi, sehingga

penggunaan lahan sebagai kawasan tambak secara lestari dapat tercapai.

Gambar 22. Kondisi bagian depan tambak yang terkikis abrasi

4.6 Sistem Informasi Budidaya Tambak Udang PT. IYP

Setiap tambak memiliki data kualitas air, kondisi komoditi budidaya, serta

identitas spasial yang berbeda, dengan demikian perlu dilakukan penanganan

data budidaya tambak secara khusus untuk masing- masing kolam produksi.

Meade (1989) mengungkapkan manajemen yang sehat dalam budidaya

melibatkan tiga hal penting, yaitu (1) pengelolaan pasokan air untuk mengurangi

paparan penyakti dan stres, (2) pengelolaan prosedur untuk meminimalisasi stres

akibat aktivitas budidaya, dan (3) pengelolaan terhadap pegawai untuk

memastikan bahwa tahapan budidaya berjalan dengan efisien. Pengelolaan

terhadap prosedur dan pelaku budidaya akan membutuhkan suatu kegiatan

pelatihan, sedangkan pengelolaan terhadap air sebagai media dalam budidaya

membutuhkan tool untuk menyimpan data dan memiliki fungsi untuk evaluasi.

Dalam kegiatan budidaya PT. Indonusa Yudha Perwita, proses pencatatan

data dilakukan secara konvensional dalam buku. Hal tersebut mengakibatkan

banyak data hilang dan tidak terdokumentasi dengan baik sejak awal budidaya

vannamei dilakukan, sehingga sukar dilakukan penelusuran riwayat kondisi


64

budidaya atau evaluasi terhadap suatu masalah yang terjadi dalam proses

budidaya. Untuk menjawab permasalahan akan kebutuhan perusahaan terhadap

suatu tools yang membantu proses penyimpanan dan pengolahan data menjadi

informasi secara cepat juga tepat, serta kebutuhan akan sistem pendukung

pengambilan keputusan, dibangun aplikasi Sistem Informasi Budidaya Tambak

Udang PT. Indonusa Yudha Perwita (Gambar 23). Sistem informasi ini berfungsi

sebagai unit perekaman dan pengelolaan data menjadi informasi budidaya

tambak PT. IYP, selain itu, turut disertakan mengenai dokumentasi proses

budidaya dan informasi kesesuaian lokasi tambak PT. IYP. Panduan operasi

sistem informasi secara lengkap dicantumkan dalam Lampiran 15.


65

Halaman utama

Gambar 23. Sistem Informasi Budidaya Tambak Udang PT. IYP

4.6.1 Aktivitas Sistem Informasi Budidaya Tambak Udang PT. IYP

Sistem Informasi Budidaya Tambak Udang PT. IYP berisi seluruh informasi

yang menyangkut kegiatan budidaya serta kesesuaian lokasi tambak PT. IYP.

Dalam Sistem Informasi Budidaya Tambak Udang PT. IYP, terdapat aliran

informasi dan transformasi data yang bergerak dari proses input data hingga

output. Hal tersebut berkaitan dengan fungsi utama sistem informasi ini adalah
66

memasukkan data (input), menyimpan data dalam database, memproses data,

serta mengeluarkan atau menampilkan output yang dihasilkan. Alur proses input

dan output dalam Sistem Informasi Budidaya Tambak Udang PT. IYP secara

teknik grafik digambarkan dalam flowchart pada Gambar 24

Gambar 24. Alur proses input dan output Sistem Informasi Budidaya Tambak
Udang PT. IYP
67

a. Input

Proses input data dalam sistem informasi dibagi menjadi dua bagian yakni

input formasi data dan input data budidaya. Input formasi data bertujuan untuk

mendefinisikan jenis dan kelompok data yang memiliki kemungkinan untuk

diubah atau diperbaharui. Input formasi data yang pertama dilakukan adalah

input data blok. Input data blok dilakukan paling awal dikarenakan seluruh kolam

tambak tergabung dalam empat blok yang berbeda. Selanjutnya adalah input

data kolam, hal ini didasarkan pada kolam sebagai pendefinisi spasial dan

sumber lokasi dari berbagai data operasional budidaya yang diukur. Tanpa ada

rekaman mengenai data kolam, maka tidak dapat dilakukan pencatatan data

operasional budidaya. Hal ini sekaligus mendefinisikan kolam sebagai

penghubung antar kelompok data budidaya.

Data yang juga disertakan dalam proses input formasi data adalah data jenis

plankton. Hal ini diperlukan untuk memudahkan user dalam mengisi atau

memperbaharui data plankton, mengingat jenis plankton yang ditemukan sangat

bervariasi dan tidak menutup kemungkinan terdapat penambahan jenis plankton

yang ditemukan dalam air tambak. Pendefinisian Formasi Data dilanjutkan

terhadap informasi yang berkaitan dengan data pakan, yakni jenis pakan, waktu

pemberian pakan, dan definisi status anco. Jenis pakan yang digunakan akan

berubah sesuai umur udang, sehingga perlu pilihan jenis pakan yang digunakan

untuk memudahkan proses input data pakan harian. Waktu pemberian pakan

dan status anco merupakan hal yang sudah pasti diketahui kondisi dan

definisinya sehingga turut direkam terlebih dahulu dalam Formasi Data. Layar

menu input formasi data Blok, Kolam, Jenis Plankton, Jenis Pakan, Waktu Pakan

dan Status Anco dalam Sistem Informasi Pengelolaan Budidaya Tambak PT.

Indonusa Yudha Perwita dituangkan dalam Gambar 25.


68

Formasi data KOLAM

Formasi data BLOK

Formasi data STATUS ANCO

Formasi data PLANKTON

Gambar 25. Layar menu input formasi data dalam Sistem Informasi Pengelolaan
Budidaya Tambak PT. Indonusa Yudha Perwita
69

Proses input data budidaya diawali dengan memilih kolam sebagai sumber

data dan alamat pengumpulan data dalam sistem informasi. Format isian data

didasarkan pada hasil yang diperoleh, yakni teks atau bilangan. Proses input

data dikelompokkan menjadi lima yakni:

- data panen

- data kualitas air

- data plankton

- data pakan

- data sampling

Input data kualitas air mencakup beberapa parameter fisika, kimia, dan

konsentrasi bakteri vibrio. Proses input data plankton lebih mudah karena user

tidak perlu menuliskan secara manual setiap nama plankton yang ditemukan,

melainkan memilih dari daftar nama plankton yang telah direkam terlebih dahulu

dalam Formasi Data. Proses pengisian data pakan mencakup waktu

pengambilan data, jenis pakan, bobot pakan hingga data mengenai anco.

Pencatatan data sampling disesuaikan dengan pola sampling yang dilakukan

sebanyak dua kali dalam satu kali sampling. Perubahan bobot diperoleh dari

hasil rataan dua kali sampling yang dilakukan. Data yang diisikan dalam menu

Data Panen mencakup data luas area, tanggal tebar, jumlah benih yang ditebar,

tanggal panen, hari pembesaran, jumlah panen. Layar menu input lima jenis data

budidaya dalam Sistem Informasi Pengelolaan Budidaya Tambak PT. Indonusa

Yudha Perwita dituangkan dalam Gambar 26.


70

Input data KUALITAS AIR


Input data PAKAN
Input data PANEN

Input data PLANKTON Input data SAMPLING

Gambar 26. Menu input lima jenis data budidaya dalam Sistem Informasi Budidaya Tambak Udang PT. Indonusa Yudha Perwita
71

b. Pemrosesan data

Pemrosesan data dalam sistem informasi ini adalah mengakumulasi data

deret waktu (temporal), melakukan perbandingan data antar kolam (spasial), atau

menerapkan operasi matematika (formula) untuk menghasilkan informasi baru.

Proses akumulasi berdasarkan deret waktu terutama dilakukan terhadap data

kualitas air (pH, salinitas, DO), sedangkan perbandingan spasial dilakukan untuk

mengevaluasi perbedaan kondisi budidaya antara beberapa kolam produksi

(perbandingan padat tebar, hasil panen atau pertumbuhan bobot udang).

Pemrosesan dengan operasi matematis atau kalkulasi menggunakan formula

dalam Sistem Informasi Budidaya Tambak Udang PT. IYP digunakan untuk

menghasilkan informasi mengenai padat tebar (densitas), sintasan atau survival

rate (SR), feeding convertion ratio (FCR) atau rasio pakan, rataan bobot udang

(hasil sampling), total pakan harian, akumulasi jumlah pakan dalam satu periode

pembesaran, pertumbuhan bobot udang harian (ADG), dan nilai produksi/ ha.

Pemrosesan data berlangsung cepat, sebagai bentuk efisiensi waktu untuk

memperoleh informasi kondisi budidaya. Sebagai contoh, pada saat input data

panen dilakukan maka kolom ukuran udang (Harvest size), tingkat

kelulushidupan (SR), rasio konversi pakan (FCR), pertumbuhan rata-rata harian

(ADG), Total pakan kumulatif, dan nilai produksi (kg/ha) akan terisi secara

otomatis sebagai hasil pemrosesan data menggunakan formula atau operasi

matematika.

c. Output

Dalam menghasilkan output, Sistem Informasi Budidaya Tambak Udang PT.

IYP memberikan pilihan dalam bentuk grafik atau tabel. Hasil dalam bentuk tabel

disimpan dalam bentuk file report (*.txt) dan hasil cetak (print), sedangkan output

grafik disimpan dalam format gambar (*.jpeg). Contoh output tabel sistem
72

informasi dari data budidaya pada masa produksi Maret- Juli 2009 disajikan

dalam Lampiran 16.

Penggunaan jenis grafik sebagai bentuk output disesuaikan dengan data,

yakni grafik 1 kolam dan grafik antar kolam, dalam bentuk garis atau batang.

Grafik 1 kolam digunakan untuk membandingkan beberapa parameter kualitas

air dari 1 kolam pada suatu masa produksi, sedangkan grafik antar kolam

digunakan untuk membandingkan 1 parameter dari beberapa kolam dalam suatu

masa produksi. Output grafik dapat digunakan untuk menggambarkan variasi

seluruh data budidaya.

Output grafik dari sistem informasi untuk budidaya periode Maret- Juli 2009

ditampilkan dalam Gambar 27 dan 28. Data pembesaran periode Maret- Juli

2009 merupakan kumpulan data dari kolam produksi yang tergabung dalam Blok

2 yang terdiri dari kolam E1, E2, F1, F2 dan F3.

Dalam Gambar 27 ditampilkan kemampuan Sistem Informasi Budidaya

Tambak Udang PT. Indonusa Yudha Perwita untuk menghasilkan informasi hasil

evaluasi spasial dalam bentuk grafik batang. Hasil evaluasi proses budidaya

periode Maret- Juli 2009 ditampilkan dalam bentuk perbandingan data luas

kolam, jumlah tebar, padat tebar, pertumbuhan bobot udang, hasil panen, Final

ABW, FCR, dan SR dari masing- masing kolam produksi.


73

Gambar 27. Evaluasi proses budidaya periode Maret- Juli 2009 menggunakan Sistem Informasi Budidaya Tambak Udang PT. IYP
74

Hasil evaluasi Sistem Informasi Budidaya Tambak Udang PT. IYP dalam

Gambar 27 menunjukkan bahwa pada masa produksi Maret- Juli 2009, proses

budidaya yang paling baik dimiliki oleh kolam produksi F2. Dengan luas kolam

4000 m2 yang tidak jauh berbeda jika diperbandingkan dengan kolam F1 dan F3,

kolam F2 memiliki padat tebar lebih tinggi yakni 86 ekor/m2, menghasilkan hasil

panen lebih tinggi yakni 7680 kg, tingkat kelulushidupan (SR) hingga 100% dan

nilai FCR terendah diantara kolam lainnya yakni 1,64. Jumlah pakan yang

dihabiskan selama masa pembesaran dalam kolam F2 mempengaruhi nilai FCR,

bobot udang saat panen (ABW) serta pertumbuhan bobot udang yang lebih kecil

dibandingkan dengan udang pada kolam lainnya. Berdasarkan grafik pun dapat

diketahui bahwa proses budidaya pada kolam E1 kurang optimal. Hal tersebut

dilihat dari kondisi kolam E1 sebagai kolam terluas, jumlah benur tebar

terbanyak, dan menghabiskan pakan terbanyak, namun menghasilkan produksi

terendah, SR yang rendah serta FCR yang kurang baik (> 1,8).

Gambar 28 menunjukkan hasil aktivitas Sistem Informasi Budidaya Tambak

Udang PT. IYP dalam monitoring data kualitas air kolam produksi periode Maret -

Juli 2009 serta pengolahan menjadi gambaran variasi temporal. Variasi temporal

data kualitas air yang ditampilkan mencakup nilai pH pagi dan sore, salinitas,

serta kandungan oksigen terlarut (DO). Berdasarkan Gambar 28 diketahui bahwa

terdapat tren nilai pH yang diukur pada sore hari lebih tinggi dibandingkan pH air

kolam di pagi hari. Data salinitas berada pada kisaran yang dapat ditoleransi oleh

spesies vannamei yakni 10 – 30 permill. Kisaran oksigen terlarut keseluruhan

kolam produksi ada pada kisaran 3,5 – 5,5 mg/l. Tren kondisi oksigen terlarut

dalam masa budidaya cenderung menurun saat mendekati masa panen.


75

Gambar 28. Evaluasi data kualitas air budidaya periode Maret- Juli 2009 berdasarkan Sistem Informasi Budidaya Tambak Udang PT. IYP
76

Output tabel Sistem Informasi Budidaya Tambak Udang PT. IYP memberikan

kemudahan dalam hubungan dengan program lain dalam pengolahan data. Hasil

keluaran sistem informasi disimpan dalam format *.txt, dan dapat diolah kembali

dengan program lain sesuai keinginan user. Salah satu bentuk penggunaannya

adalah pengolahan menjadi grafik yang kemudian disandingkan dengan nilai

batas atau kriteria sebagai bagian dari evaluasi. Penggunaan Sistem Informasi

Budidaya Tambak Udang PT. IYP dalam membantu mengevaluasi keberhasilan

operasional budidaya ditunjukkan dalam Gambar 29.

Keberhasilan operasional tambak dapat diketahui dengan membandingkan

nilai produksi yang diperoleh terhadap literatur batas nilai produksi berdasarkan

teknologi budidaya yang digunakan. Nilai produksi merupakan bagian dari data

budidaya yang dihasilkan oleh Sistem Informasi Budidaya Tambak Udang PT.

IYP. Tabel nilai produksi tambak PT. IYP dilampirkan dalam Lampiran 17, dan

dituangkan kedalam grafik variasi nilai produksi pada Gambar 29. Berdasarkan

Gambar 29, nilai produktivitas terendah ditemukan pada kolam C5 (Blok 4) dalam

periode Desember 2004 – April 2005 yakni 7.511,1111 kg/ha, sedangkan nilai

produktivitas tertinggi yaitu 22.743,4783 kg/ha diperoleh dari kolam E9 (Blok 3)

pada masa produksi Nopember 2006 – Maret 2007.

Tambak udang vannamei dengan teknologi intensif memiliki batas nilai

produktivitas yang lebih tinggi dari tambak berteknologi semi intensif atau

tradisional. Kriteria nilai produksi untuk tambak udang berteknbologi intensif

diungkapkan oleh Boyd dan Clay (2002), yakni diatas 13.600 kg/ha. Hal tersebut

disesuaikan dengan spesies vanamei yang mempunyai beberapa keunggulan

seperti tingkat kelulushidupan tinggi, kualitas benur, padat tebar tinggi,

ketahanan terhadap penyakit dan konversi pakan rendah. Gambar 29 turut

memberikan gambaran mengenai pencapaian produktivitas tambak PT. Indonusa

Yudha Perwita terhadap batas nilai produksi menurut Boyd dan Clay (2002).
77

Gambar 29. Grafik fluktuasi hasil produksi dari kolam tambak PT. Indonusa Yudha Perwita
78

Dengan menyandingkan nilai batas produktivitas berdasarkan literatur Boyd

dan Clay (2002), dapat diketahui bahwa produktivitas kolam yang memenuhi

kriteria adalah kolam dalam Blok 2 dan Blok 3, sedangkan kolam dalam Blok 1

dan Blok 4 dianggap kurang berhasil karena kisaran nilai produksinya berada

dibawah batas nilai produksi.

4.6.2 Evaluasi Sistem Informasi Budidaya Tambak Udang PT. IYP

Sistem Informasi Budidaya Tambak Udang PT. IYP dapat memenuhi

kebutuhan perusahaan dalam proses penyimpanan, pembaharuan, pengamanan

dan penggunaan kembali data budidaya dalam pengolahan menjadi informasi

untuk kegiatan evaluasi proses budidaya. Secara teknis, sistem informasi

dibangun secara sederhana sesuai dengan sumberdaya dan sarana yang ada

dalam PT. IYP, sehingga mempermudah proses instalasi dan pengoperasian

oleh pegawai tambak. Beberapa fungsi yang mampu dilakukan oleh Sistem

Informasi Budidaya Tambak Udang PT. Indonusa Yudha Perwita mempermudah

pengelola tambak dalam memantau kondisi tambak, riwayat pembesaran udang,

dan menentukan langkah yang diperlukan untuk kegiatan budidaya.

Sistem informasi ini bermanfaat untuk mengubah sistem lama dalam

pengelolaan data budidaya, yakni pengubahan metode penanganan data dalam

catatan manual dalam buku menjadi penanganan data secara digital, berbasis

komputer dan terpusat dalam satu database. Dengan mengacu pada Prahasta

(2009) mengenai kriteria umum sistem informasi, yang mencakup debit atau

jumlah data dan informasi yang mengalir dalam satuan waktu, waktu respon

yang singkat, dan pemenuhan fungsi yang didefinisikan sebagai kebutuhan,

maka dapat diuraikan perbedaan penggunaan Sistem Informasi Budidaya

Tambak Udang dibandingkan dengan pengelolaan data secara manual yang

dituangkan dalam Tabel 10.


79

Tabel 10. Perbedaan pengelolaan data secara manual dan dengan Sistem
Informasi Budidaya Tambak Udang PT. IYP
Pengelolaan data budidaya
Manual Sistem Informasi Budidaya Tambak Udang
Data disimpan dalam buku atau media Data disimpan dalam database yang dapat
lain yang harus dibaca oleh pekerja dibaca oleh komputer
tambak
Bersifat statis, satu media Bersifat statis dan dinamis, satu sistem
penyimpanan (buku) tidak dapat informasi dapat digunakan dalam satu
digunakan pada banyak lokasi tambak perusahaan tambak, namun juga dapat
dimodifikasi untuk digunakan di tambak lain
Penelusuran data dilakukan secara Penelusuran data dilakukan oleh komputer
manual oleh manusia (pekerja sehingga lebih mudah dan cepat untuk
tambak); kecepatan penelusuran ditelusuri (dalam satuan waktu detik hingga
relatif rendah (orde menit hingga jam) menit) dan mampu menghasilkan olahan data
dan belum tentu menghasilkan menjadi informasi untuk evaluasi kegiatan
informasi untuk evaluasi budidaya
Semakin besar atau banyak data yang Sekumpulan data dalam jumlah besar
tersimpan maka akan semakin sulit tersimpan dalam satu lokasi saja sehingga
dalam memperoleh gambaran yang analisis atau evaluasi dari berbagai himpunan
lengkap dan cepat mengenai kondisi data budidaya akan lebih mudah dilakukan
budidaya
Waktu pengolahan data sangat Kecepatan pengolahan data sangat tinggi,
ditentukan oleh petugas terkait bergantung pada spesifikasi komputer yang
(manusia) dalam menghitung, digunakan (dalam waktu hitungan detik), dan
menyusun tabel dan laporan sudah menjadi prioritas
Transmisi data dan informasi Transmisi data dapat dilakukan dengan
memerlukan fasilitas transportasi fisik melalui sarana telekomunikasi (kabel,
dari media yang digunakan microwave)
Tidak memiliki fungsi pengamanan Terdapat syarat akses ke dalam sistem
data informasi (username dan password) sebagai
fungsi pengamanan data budidaya
Kapasitas penyimpanan data Kapasitas penyimpanan data sangat besar
bergantung pada buku sebagai lokasi (bergantung pada sistem operasi komputer
penyimpanan data yang digunakan; lebih dari 4GB
Pengolahan data menjadi informasi Terdapat fleksibilitas penggunaan data untuk
dalam bentuk tabel, grafik, atau pengolahan menjadi suatu informasi (tabel,
perbandingan antar kolam tidak grafik, perbandingan) yang diperlukan dalam
fleksibel pengambilan keputusan
Tidak memiliki fungsi keluaran, Kemudahan proses updating, manipulasi
sehingga menyulitkan interpretasi data, dan interpretasi dari output yang
data; proses updating, manipulasi, dan dihasilkan secara langsung (dalam waktu
analisis data secara langsung tidak yang hampir berdekatan)
mungkin dilakukan

Perbedaan antara metode manual dengan penggunaan sistem informasi

dalam pengelolaan data budidaya memunculkan beberapa kelebihan dari Sistem

Informasi Budidaya Tambak Udang PT. IYP, yakni :


80

a. Kemudahan penggunaan oleh pekerja (pegawai) tambak karena langkah

pengoperasian yang sederhana.

b. Dilengkapi dengan fungsi hak akses dan keamanan, yakni diberlakukan

pembatasan user melalui penggunaan username dan password pada

saat ingin mengakses sistem informasi (Login).

c. Mampu menampilkan data dan informasi operasional budidaya yang

nantinya akan dapat digunakan sebagai pijakan untuk analisis dan

evaluasi keberhasilan operasional budidaya; mampu menampilkan FCR,

SR, kisaran nilai produksi, dan lain sebagainya.

d. Sistem informasi ini dapat menghasilkan beragam informasi keluaran

(output) sesuai dengan pilihan user. Pilihan bentuk output yakni dalam

bentuk nilai pada tabel (file report), dan grafik.

e. Bentuk output tabel (*.txt) memungkinkan untuk terhubung dengan

program lain dalam pengolahan data budidaya lebih lanjut.

f. Grafik hasil sistem informasi memberi kemudahan dalam interpretasi

data, penilaian kondisi budidaya terhadap nilai batas, sebagai tools dalam

mengevaluasi proses budidaya, serta membantu proses pengambilan

keputusan (decision making tools).

g. Efisiensi waktu, tenaga, dan lokasi penyimpanan data. Sistem informasi

dapat menyatukan lokasi penyimpanan seluruh data budidaya PT. IYP

yang selama ini tersimpan terpisah. Sistem informasi memudahkan

pekerja dalam memproses data serta menghasilkan informasi untuk

keperluan evaluasi proses budidaya dalam waktu singkat

h. Rekaman data pada sistem informasi merupakan titik awal dalam melihat

tren data budidaya dalam tambak PT. IYP.


81

i. Data deret waktu atau tren data budidaya dari sistem informasi dapat

dimanfaatkan sebagai early warning system apabila terjadi permasalahan

dalam proses budidaya yang sedang berlangsung.

j. Sistem informasi ini dapat dibuat menjadi dinamis sehingga dapat

diaplikasikan pada perusahaan tambak lainnya

Kelebihan dan manfaat yang ada menjadikan Sistem Informasi Budidaya

Tambak Udang PT. IYP layak untuk digunakan, terutama sebagai tahap awal

modernisasi manajemen data budidaya tambak. Dalam penggunaan lebih lanjut,

sistem informasi ini masih memerlukan penyempurnaan dan perbaikan terhadap

kekurangan yang ada, antara lain pengaturan skala nilai grafik dan input nilai

optimal setiap parameter sebagai bahan pembanding kisaran nilai data,

otomatisasi penilaian data budidaya terhadap batas kritis, peningkatan sistem

pengamanan melalui modifikasi akses data, atau mekanisme multi output dari

berbagai jenis data budidaya dalam satu grafik. Sistem informasi ini pun dapat

dimodifikasi sehingga dapat digunakan dalam pengelolaan usaha tambak

lainnya. Sistem Informasi Budidaya Tambak Udang PT. IYP merupakan sistem

informasi yang melakukan pengelolaan data secara spasial yakni dibedakan

berdasarkan kolam produksi sebagai pendefinisi spasial secara manual. Hal ini

memungkinkan pengembangan sistem informasi menjadi suatu sistem informasi

pengelolaan budidaya berbasis sistem informasi geografis.

4.7 Pemanfaatan sistem informasi dalam pengkajian kesesuaian lahan


dengan keberhasilan operasional tambak PT. IYP

Penentuan kesesuaian lahan budidaya tambak penting dilakukan untuk

mencegah kegagalan budidaya karena kesalahan pemilihan lokasi. Kekeliruan

pemilihan lokasi akan menyebabkan membengkaknya kebutuhan modal,

tingginya biaya operasi, rendahnya produksi dan munculnya masalah

lingkungan. Pengalaman membuktikan bahwa lokasi pertambakan, teknologi


82

yang diterapkan dan pola sebaran tambak di suatu kawasan pantai akan

berdampak luas terhadap mutu lingkungan, stabilitas produksi tambak dan

keuntungan ekonomi usaha pertambakan (Poernomo, 1992; BPPT, 1995).

Dalam pembahasan sebelumnya telah diketahui bahwa tambak PT. IYP

berada pada kelas kesesuaian lahan yang sangat sesuai dan cukup sesuai,

seperti terlihat dalam Gambar 20. Dengan menyandingkan hasil kesesuaian

lahan berdasarkan faktor biofisik dan faktor pembatas, seperti dalam Gambar 21,

dengan hasil variasi nilai produksi tambak PT. IYP pada blok tambak yang

dihasilkan oleh sistem informasi (Gambar 29), diperoleh konsistensi antara

kesesuaian lahan dengan nilai produksi sebagai ukuran keberhasilan operasional

tambak. Dengan waktu pembesaran yang sama yakni 4 bulan, Kolam Blok 1 dan

4 yang berada pada lahan cukup sesuai secara biofisik, memiliki nilai produksi

yang lebih rendah daripada kolam tambak Blok 2 dan 3 yang berada pada lahan

dengan kelas sangat sesuai. Berdasarkan hasil tersebut, diduga produksi tambak

PT. Indonusa Yudha Perwita akan lebih optimal apabila seluruh kolam produksi

berada pada kelas sangat sesuai, dan tidak berada di jalur hijau atau kawasan

sempadan pantai.

Informasi mengenai kesesuaian lokasi tambak dan adanya efisiensi dalam

manajemen data sangat penting dalam menunjang keberlangsungan suatu

usaha budidaya. Berdasarkan hasil yang telah diperoleh, terlihat bahwa

kesesuaian wilayah usaha tambak berpengaruh terhadap hasil produksi yang

dicapai. Pemanfaatan hasil kesesuaian lahan tambak dan pengelolaan data

melalui sebuah sistem informasi pengelolaan budidaya tambak yang sekaligus

berperan sebagai decision making tools, diharapkan dapat memperbaiki kinerja

tambak dan meningkatkan hasil produksi.


85

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman. 2004. Kajian Kesesuaian Lahan dan Daya Dukung Lingkungan


Perairan untuk Pengembangan Tambak Udang Semi Intensif di Wilayah
Pesisir Kabupaten Indragiri Hilir, Propinsi Riau. Thesis. Sekolah Pasca
Sarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Afrianto E dan E Liviawaty. 1991. Teknik Pembuatan Tambak Udang.


Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Aguilar-Manjarrez J and LG Ross. 1993. Aquaculture development and GIS.


Construction of a GIS for Tabasco State Mexico, and the establisment of
technical and social decision models for aquaculture development.
Proceedings of the Mapping Awareness and GIS in Europe 7 (4): 49-52.

Aguilar-Manjarrez J and LG Ross. 1995. Geographical information system


(GIS) environmental models for aquaculture development in Sinaloa
State, Mexico. Aquaculture International 3: 103-115.

Amri K dan I Kanna. 2008. Budidaya Udang Vaname Secara Intensif, Semi
Intensif, dan Tradisional. Jakarta: PT. Gramedia.

Aronoff S. 1991. Geographic Information Systems: a management perspective.


Ottawa: WDL Publications.

Asbar. 2007. Optimalisasi Pemanfaatan Kawasan Pesisir untuk Pengembangan


Budidaya Tambak Berkelanjutan di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan.
Disertasi. Sekolah Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Bappeda Indramayu. 2007. Laporan Akhir Pemetaan dan Studi Abrasi – Deposisi
Pesisir Kabupaten Indramayu. Indramayu: CV.Marga Bhuana.

Boyd CE. 1991. Water quality management and aeration in shrimp farming.
Fisheries and Allied Aquacultures Dept., Auburn University. Auburn.

Boyd CE. 2002. Mangroves and Coastal Aquaculture. In: RR Stickney and JP
McVey (Ed.), Responsible Marine Aquaculture. USA: CABI Publishing. pp.
145-157.

Boyd CE dan Clay JW. 2002. Evaluation of Belize Aquaculture Ltd: A


superintensive shrimp aquaculture system. Report prepared under the
World Bank, NACA, WWF and FAO Consortium Program on Shrimp
Farming and the Environment. Consortium, NACA, Bangkok.

Boone. 1931. Litopenaeus vannamei. http://www.itis.gov (11 Januari 2010)

BPPT. 1995. Pengembangan Prototipe Wilayah Pesisir dan Marin: Laporan Akhir
Pelaksanaan Proyek MREP Jawa Timur dan Lombok Tahun 1994/ 1995.
Tidak diterbitkan. Jakarta.
86

Briggs M, Smith SF, Subasinghe R, and Phillips M. 2004. Introduction and


Movement of Penaeus vannamei and Penaeus stylirostris in Asia and The
Pacific. RAP Publication.

Burrough PA. 1986. Principles of Geographic Information Systems. Second


edition. New York: Oxford University Press.

Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Indramayu. 2007. Data Abrasi Pantai
di Kabupaten Indramayu Tahun 2006. Indramayu.

Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. 2009. Statistik Budidaya 2009.


http://www.perikanan-budidaya.kkp.go.id/. (20 Juni 2011)

Dahuri R, J Rais, SP Ginting, dan MJ Sitepu. 2008. Pengelolaan Sumberdaya


Wilayah Pesisir dan Laut Secara Terpadu. Cetakan keempat. Jakarta: PT.
Pradya Paramita.

Davis G. 1999. Kerangka Dasar Sistem Informasi Manajemen. Edisi Bahasa


Indonesia. Jakarta: PT. Ikrar Mandiri Abadi.

Departemen Kelautan dan Perikanan. 2005. Revitalisasi Perikanan Budidaya


2006 - 2009. Jakarta: Departemen Kelautan dan Perikanan.

Dinas Perikanan dan Kelautan. 2007. Data Abrasi Pantai di Kabupaten


Indramayu Tahun 2006. Indramayu: Dinas Perikanan dan Kelautan
Kabupaten Indramayu.

Duraippah, Israngkura A, and Sae Hae S. 2000. Sustainable Shrimp Farming:


Estimation of Survival Function. CREED Publicion, working paper: 31.

Effendi I.1998. Faktor- Faktor Eksternal yang Mengancam Kelestarian


Produktivitas Tambak. PKSPL-IPB. Bogor. Tidak diterbitkan.

------------.2009. Pengantar Akuakultur. Cetakan kedua. Jakarta: Penebar


Swadaya.

Effendi H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan
Lingkungan Perairan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Fathansyah. 2002. Basis Data (Cetakan Keempat). Bandung: Penerbit


Informatika.

[FAO] Food and Agriculuture Organization. 1976. A framework for land


evaluation. In: FAO Soil Bulletin 32. Rome: FAO.

Hadikusumah. 2009. Karakteristik Gelombang dan Arus di Eretan, Indramayu.


Makara Sains 13 (2): 163 – 172.

Hardjowigeno S, Soekardi M, Djaenuddin D, Suharta N, dan Jordens ER. 1996.


Land Suitability for Brackishwater Fishpond. Center for Soil and
Agroclimate Research. Bogor.
87

Hardjowigeno S. 2001. Kesesuaian Lahan dan Perencanaan Tataguna Tanah.


Bogor: Gajah Mada Press.

Hendrajat EA, M Mangampa, H Suryanto. 2007. Budidaya Udang Vannamei


(Litopenaeus vannamei) Pola Tradisional Plus di Kabupaten Maros,
Sulawesi Selatan. Media Akuakultur 2 (2): 67-70.

Hoffer J, A Prescott, MB McFadden, Fred R. 2005. Modern Database


Management. New Jersey: Pearson Education, Inc.

Jamulya dan Sunarto. 1996. Kemampuan Lahan. Makalah dalam Pelatihan


Evaluasi Sumberdaya Lahan. Angkatan IV. Fakultas Geografi, Universitas
Gadjah Mada. Yogyakarta.

Jory D and T Cabrera. 2003. Marine Shrimp. In: JS Lucas and PC Southgate
(ed.), Aquaculture Farming Aquatic Animals and Plants. Pages: 382- 419.
Australia: Fishing New Books.

Kadir A. 2008. Tuntunan Praktis Belajar Database Menggunakan MySQL.


Yogyakarta: Andi Offset.

---------. 2009. Dasar Perancangan dan Implementasi Database Relasional.


Yogyakarta: Andi Offset.

Kapetsky JM, Travaglia C. 1995. Geographical information systems and remote


sensing: an overview of their present and potential applications in
aquaculture. In: Nambiar KPP and Singh T. (ed.), AquaTech 94:
Aquaculture Towards the 21st Century. Kuala Lumpur: INFOFISH.

Kapetsky JM and SS Nath. 1997. A strategic assessment of the potential for


freshwater fish farming in Latin America. Rome: FAO.

Kordi MGH dan AB Tancung. 2007. Pengelolaan Kualitas Air dalam Budidaya
Perairan. Jakarta: Rineka Cipta.

Laudon KC and JP Laudon. 1998. Management Information System New


Approaches to Organization and Technology. New Jersey: Prentice Hall.

Martosudarmo B dan Ranomihardjo BS. 1992. Rekayasa Tambak. Jakarta:


Penebar Swadaya.

Meade JW. 1989. Aquaculture Management. New York: Chapman and Hall. Inc.

Meaden GJ and JM Kapetsky. 1991. Geographical information systems and


remote sensing in inland fisheries and aquaculture. In: FAO Fisheries
Technical Paper 318.

Midlen A and TA Redding. 2000. Environmental Management for Aquaculture.


Netherlands: Kluwer Academic Publishers.

Mulyanto A. 2009. Sistem Informasi Konsep dan Aplikasi. Yogyakarta: Penerbit


Pustaka Pelajar.
88

Nurdjana ML. 2005. Iklim usaha yang kondusif bagi pengembangan akuakultur di
Indonesia. Direktur Jendral Perikanan Budidaya. Konferensi Nasional
Akuakultur 2005, Makasar.

Nath SS, Bolte JP, Lindsay GR, Jose Aguilar-Manjarrez. 2000. Applications of
geographical information systems (GIS) for spatial decision support in
aquaculture. Aquacultural Engineering 23: 233–278.

O’Brien JA. 2005. Introduction to Information System. 12th edition. The McGraw-
Hill Companies. Inc.

Pillay, TVR and MN Kutty. 2005. Aquaculture Principles and Practices, Second
edition. UK: Blackwell Publishing.

Poernomo A.1992. Pemilihan Lokasi Tambak Udang Berwawasan Lingkungan.


Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian. Jakarta.

Prahasta E. 2001. Konsep- Konsep Dasar Sistem Informasi Geografi.


Bandung: Penerbit Informatika.

Prahasta E. 2009. Konsep- Konsep Dasar Sistem Informasi Geografis (Perspektif


Geodesi dan Geomatika). Bandung: Penerbit Informatika.

Rossiter DG 1996 A theoretical framework for land evaluation (with discussion).


Geoderma 72: 165-202.

Salam MA and LG Ross. 2000. Optimizing sites selection for development of


shrimp (Penaeus monodon) and mud crab (Scylla serrata) culture in
Southwestern Bangladesh. Proceeding of the GIS in Canada.

Salam MA, LG Ross, and CMM Beveridge. 2003. A comparison of development


opportunities for crab and shrimp aquaculture in southwestern
Bangladesh, using GIS modelling. Aquaculture 220: 477-494.

Siahaan D. 2010. Data survey lapang pengukuran pasang surut di Eretan,


Indramayu bulan Oktober 2010. Jawa Barat.

Soeseno S. 1988. Budidaya Ikan dan Udang dalam Tambak. Jakarta: PT.
Gramedia.

Tahe S. 2008. Pengaruh starvasi ransum pakan terhadap pertumbuhan,


sintasan, dan produksi udang Vanamei (Litopenaeus vannamei) dalam
wadah terkontrol. J.Ris. Akuakultur 3 (3): 401-412.

Tim Survei Tanah Pusat Penelitian Tanah dan Agro Klimat. 1990. Laporan Akhir
Penelitian Kesesuaian Lahan untuk Intensifikasi Tanaman Pangan
Propinsi Jawa Barat. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Departemen Pertanian.

Tran, N.T. and Demaine, H. (1996) Potentials for different models for freshwater
aquaculture development in the Red River Delta (Vietnam) using GIS
analysis. Naga 19: 29-32.
89

Wardiyanto S. 2008. Evaluasi Budidaya Udang Putih (Litopenaeus vannamei)


dengan Meningkatkan Kepadatan Tebar di Tambak Intensif. Dalam:
Prosiding Seminar Hasil Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat,
Universitas Lampung. pp: 237-242.

Wyban JA dan Sweeney JN. 1991. Intensive shrimp production technology.


Hawaii: High Health Aquaculture.

Wyban JA, Walsh WA, Godin, DM, 1995. Temperature effects on growth,
feeding rate and feed conversion of the Pacific white shrimp (Penaeus
vannamei). Aquaculture 138: 267–279.
90

LAMPIRAN
91

Lampiran 1. Stasiun pengambilan data kualitas air pesisir Kabupaten Indramayu


92

Lampiran 2. Stasiun pengambilan data kualitas sumber air budidaya tambak PT. Indonusa Yudha Perwita
93

Lampiran 3. Metode pengukuran dan foto alat pengambilan data kualitas air

a. Suhu

Suhu perairan diukur dengan menggunakan termometer, yakni dengan

mencelupkan termometer kedalam air selama  5 menit, kemudian diangkat

dan dilakukan pembacaan terhadap nilai terukur.

Termometer

b. Salinitas

Salinitas diukur dengan cara meneteskan contoh air keatas prisma

refraktometer yang telah dibersihkan terlebih dahulu dengan aquadest dan

dikeringkan dengan tisu. Cover prisma refraktometer ditutup secara perlahan,

agar tidak menimbulkan gelembung udara. Pembacaan nilai salinitas dilakukan

dengan melihat batas yang ditunjukkan pada lensa okuler refraktometer.

Refraktometer
94

c. pH

pH diukur dengan pH-meter digital. pH-meter dicelupkan dan digerakkan

memutar secara perlahan di dalam wadah berisi contoh air. Pengukuran

dilakukan selama beberapa saat hingga layar pH-meter menunjukkan nilai pH

secara pasti.

pH-meter digital

d. Alkalinitas

Alkalinitas diukur dengan AQUA AM Test Kit. Prosedur pengukuran nilai

alkalinitas perairan dengan test kit adalah:

- Bilas gelas ukur dengan air contoh yang akan diukur

- Isi gelas ukur dengan air contoh sebanyak 5 ml

- Beri 1 tetes REAGENT-2, kemudian aduk. Jika air berubah warna menjadi

merah muda (pink).

- Tambahkan tetes demi tetes REAGENT-1 sembari dilakukan pengadukan

hingga warna air berubah dari merah muda menjadi bening kembali. Catat

jumlah tetes REAGENT-1 yang telah diberikan.

- Beri 1 tetes REAGENT-3, kemudian aduk hingga air berubah warna

menjadi biru.
95

- Tambahkan tetes demi tetes REAGENT-3 sembari dilakukan pengadukan

hingga warna air berubah dari biru menjadi jingga. Catat jumlah tetes

REAGENT-3 yang telah diberikan.

- Baca nilai Total Alkalinitas (TA) dan Bikarbonat (CO32-) dari tabel yang ada

dalam paket tes kit berdasarkan jumlah tetes masing- masing REAGENT

yang digunakan.

AQUA BASE Alkalinity Test Kit

e. Amoniak

Prosedur pengukuran kandungan amoniak dengan test kit adalah:

- Bilas gelas ukur dengan air contoh yang akan diukur

- Isi gelas ukur dengan air contoh sebanyak 5 ml

- Beri 2 tetes AMMONIA-1, kemudian aduk

- Beri 2 tetes AMMONIA-1, kemudian aduk

- Beri 2 tetes AMMONIA-1, kemudian aduk

- Beri 2 tetes AMMONIA-1, kemudian aduk

- Setelah didiamkan selama 20 menit, bandingkan warna pada air contoh

(warna air dilihat dari sisi atas gelas ukur) dengan tabel kisaran warna.
96

AQUA AM Ammonia Test Kit

f. Nitrit

Prosedur pengukuran nitrit dalam perairan dengan test kit adalah:

- Bilas gelas ukur dengan air contoh yang akan diukur

- Isi gelas ukur dengan air contoh sebanyak 5 ml

- Beri 2 tetes NITRATE-1, kemudian aduk

- Beri 2 tetes NITRATE -1, kemudian aduk

- Setelah didiamkan selama 7 menit, bandingkan warna pada air contoh

(warna air dilihat dari sisi atas gelas ukur) dengan tabel kisaran warna.

AQUA NITE Nitrate Test Kit


97

g. Oksigen terlarut (DO)

Pengukuran kandungan oksigen terlarut (DO) dapat dilakukan dengan DO-

meter dan metode titrasi Winkler.

 Prosedur pengukuran DO dengan DO-meter adalah:

- Atur nilai salinitas pada DO-meter, disesuaikan dengan salinitas air contoh

- Celupkan DO-meter kedalam air contoh, diamkan beberapa saat, kemudian

baca nilai DO terukur pada layar DO-meter.

DO-meter

 Prosedur pengukuran DO dengan metode titrasi Winkler adalah:

- Bilas botol BOD dengan air contoh, kemudian isi penuh botol BOD dengan

air contoh dengan menghindari proses bubbling

- Fiksasi oksigen terlarut dengan menambahkan 20 tetes mangan sulfat

(MnSO4H2O) dan dilanjutkan dengan pemberian 20 tetes NaOH + KI,

kemudian kocok botol

- Diamkan larutan selama beberapa saat hingga terbentuk Supernatan dan

natan

- Ambil 10 ml cairan supernatan dari botol BOD, tanpa gangguan terhadap

cairan natan

- Tambahkan 20 – 40 tetes H2SO4 pekat, hingga larutan berubah menjadi

jingga
98

- Masukkan kembali 10 ml cairan supernatan

- Kocok larutan hingga homogen, kemudian ambil 25 ml larutan

- Lakukan titrasi larutan dengan Natrium Tiosulfat (Na2S2O3) hingga larutan

berubah warna dari jingga menjadi kuning muda

- Tambahkan 2 tetes amilum hingga larutan berwarna biru

- Titrasi kembali dengan Natrium Tiosulfat (Na2S2O3) hingga larutan berwarna

bening

- Catat volume Natrium Tiosulfat (Na2S2O3) yang digunakan dalam titrasi

- Hitung DO, dengan rumus :

DO (mg/l) =

Keterangan : vol. Reagen (ml) = vol. NaOH+KI + vol. MnSO4H2O

Alat ukur DO metode titrasi winkler


99

Lampiran 4. Peta awal tambak PT. Indonusa Yudha Perwita

Lampiran 5. Kualitas sumber air tawar dan air laut budidaya tambak PT. Indonusa Yudha Perwita
No Stasiun Posisi Waktu Suhu Salinitas pH DO BOD5 Organophospat nitrit alkalinitas amoniak keterangan
insitu
Lat Lon (hh.mm) (°C) (‰) (mg/l) (mg/l) ppm ppm ppm ppm
1 1 6.28609 108.0037 10:30 29 25 8.5 7.23 53.47 < 0,01 ppm 0.2 120 0 sumber air laut;
(hampir tidak kondisi laut pesisir
terdeteksi dari tenang
2 2 6.28805 107.99974 15:00 34.9 3 8.9 6.86 33.47 sampel air laut) 0 160 0 diambil dari saluran
inlet air tawar yang
mengalir
100

Lampiran 6. Peta garis pantai dan buffer jarak dari pantai


101

Lampiran 7. Tabel data dan peta sebaran salinitas pesisir


Stasiun Posisi Waktu Suhu Salinitas Keterangan Stasiun Posisi Waktu Suhu (°C) Salinitas Keterangan
(°C) (‰) (‰)
Lintang Bujur Lintang Bujur
1 -6.31432 108.076 8:53 29 30 14 -6.27501 107.98265 10:53 31 26 Perairan di wilayah
PLTU
2 - 108.0596 9:15 29 5 Aliran air sungai 15 -6.26447 107.97428 11:02 31 24 Pelabuhan non
6.315029 mengarah ke laut cukup umum
deras
3 - 108.05899 9:18 29.5 7 Mengarah ke muara 16 -6.25725 107.95508 11:15 31 25 Pesisir ± 50 - 100
6.314789 sungai meter dari pantai
4 - 108.0583 9:20 30 15 Mengarah ke muara 17 -6.25262 107.94033 11:30 31 30 200 meter dr
6.314064 sungai muara sungai
5 - 108.05134 9:25 30.5 25 Pesisir ± 50 - 100 meter 18 -6.290329 108.03846 11:45 31 26 Pesisir ± 50 - 100
6.311519 dari pantai meter dari pantai
6 - 108.04588 9:31 30.5 25 Pesisir ± 50 - 100 meter 19 -6.297303 108.05422 12:02 31 26 Pesisir ± 50 - 100
6.310236 dari pantai meter dari pantai
7 - 108.03992 9:38 31 25 Pesisir ± 50 - 100 meter 20 -6.300865 108.07636 12:15 31 27 Pesisir ± 50 - 100
6.308097 dari pantai meter dari pantai
8 - 108.03396 9:45 31 23 Pesisir ± 50 - 100 meter 21 -6.305476 108.09087 12:45 31.5 26 Pesisir ± 50 - 100
6.305036 dari pantai meter dari pantai
9 - 108.02797 9:55 30.5 28 Stasiun memiliki kondisi 22 -6.31843 108.08867 13:15 31 11 Ujung barrier
6.302206 air keruh akibat aktifitas
kapal muatan/ bondeng

10 -6.29742 108.02036 10:06 30.5 25 Pesisir ± 50 - 100 meter 23 -6.3209 108.09128 13:19 31.5 25 Pesisir ± 50 - 100
dari pantai meter dari pantai
11 - 108.01514 10:12 30 9 Posisi stasiun dekat 24 -6.321145 108.09128 13:20 30.5 10 Memasuki muara
6.294216 dengan muara sungai sungai
12 - 108.00332 10:25 30 24 Pipa sumber air laut 25 -6.32339 108.08698 13:24 31 5 Sungai
6.285263 PT Indonusa Yudha
Perwita
13 -6.28244 107.9966 10:35 31 27 Pesisir ± 50 - 100 meter 26 -6.325145 108.083 13:40 31 3 Sungai
dari pantai
sumber : survei lapang 7 Oktober 2010,
102

Lampiran 7. (Lanjutan)
103

Lampiran 8. Peta aliran sungai di Kecamatan Patrol


104

Lampiran 9. Data curah hujan


BULAN 2006 2007 2008 2009 2010

CH HH CH HH CH HH CH HH CH HH

JAN 590.0 22 160.0 7 147.0 14 461 16 260 20


PEB 172.0 8 630.0 16 454.0 27 317 15 123 10
MAR 174.0 12 269.0 10 135.0 11 55 6 150 9
APR 69.0 7 153.0 13 93.0 10 101 7 115 7
MEI 138.0 9 63.0 6 56.0 2 101 8 185 11
JUN 16.0 1 103.0 4 22.0 2 64 2 69 7
JUL 43.0 2 3.0 1 - - 1 1 99 5
AGS 0.0 0 - - 2.0 1 - - 9 2
SEPT 0.0 0 - - 5.0 1 - -
OKT 30.0 2 149.0 6 37.0 4 10 1
NOP 50.0 5 - - 235.0 6 63 5
DES 110.0 5 306.0 12 227.0 14 *) *)

JML 1392.0 73.0 1836.0 75.0 1413.0 92.0 1173.0 61.0 1010.0 71.0
RATA2 116.0 204.0 128.5 130.3 126.3
RATA2 CURAH HUJAN 5 TAHUNAN : 1364.8
Keterangan
CH Curah Hujan (mm)
HH Hari Hujan
*) Data Curah Hujan Tidak Ada
105

Lampiran 10. Peta penggunaan lahan (Landuse) Kecamatan Patrol

Lampiran 11. Peta kualitas tanah Kecamatan Patrol


a. Jenis tanah
106

Lampiran 11. (Lanjutan)


b. Tekstur tanah

c. Kelerengan
107

Lampiran 12. Peta aksesibilitas dan buffer jalan

Lampiran 13. Grafik ramalan pasang surut air laut di stasiun Cirebon
108

Lampiran 14. Peta kesesuaian lahan Kecamatan Patrol dengan faktor pembatas
109

Lampiran 15. Panduan penggunaan Sistem Informasi Budidaya Tambak Udang


PT. Indonusa Yudha Perwita

Menu dalam Sistem Informasi Budidaya Tambak Udang PT. Indonusa Yudha

Perwita berkaitan dengan informasi yang menyangkut kegiatan budidaya serta

kesesuaian lokasi tambak. Fungsi utama sistem informasi ini adalah

memasukkan data (input), menyimpan data dalam database, dan mengeluarkan

atau menampilkan data (output) yang berkaitan dengan proses budidaya udang

vannamei. Dalam Sistem Informasi Pengelolaan Budidaya Tambak Udang PT.

Indonusa Yudha Perwita terdapat beberapa menu, yakni:

a. File

Menu File memiliki submenu Logout dan Exit untuk berhenti dan keluar dari

sistem informasi

b. Administrasi

Menu Administrasi berhubungan dengan manajemen pengguna sistem informasi.

Dalam menu ini terdapat submenu Ubah Password untuk mengubah password

yang dimiliki oleh seorang pengguna sistem informasi, dan submenu Tambah

User, yang dapat digunakan untuk mengatur username dan password seorang

pekerja yang dipercaya sebagai pengguna sistem informasi.


110

Mekanisme penggantian password dalam submenu Ubah Password adalah:

 Ketik nama dalam kolom Username

 Ketik password lama

 Ketik password baru dan konfirmasi ulang password baru, kemudian tekan

tombol “Ganti Password”

Mekanisme pengubahan identitas pengguna sistem informasi dalam submenu

“Tambah User” adalah:

 Penambahan jumlah user sistem informasi dilakukan dengan:

Pilih tombol “Tambah” pada window “Tambah User”

 isi kolom Nama

 isi kolom Username

 isi kolom Password

 isi kolom Ulangi Password

 isi kolom No. Telp/ HP

 pilih jenis pengguna: User atau Administrator

 tekan tombol “Simpan”

 Pengurangan jumlah user sistem informasi dilakukan dengan:

Pilih data user dalam tabel pada window “Tambah User”

 tekan tombol “Hapus”


111

 Jawab pertanyaan kepastian penghapusan data dengan menekan tombol

“OK”

 tekan tombol “OK” pada saat window keberhasilan penghapusan data muncul.

 Pengubahan identitas user dilakukan dengan:

Tekan tombol “Update” pada window “Tambah User”

 pilih data yang akan diubah atau diperbaharui dalam tabel data

 lakukan pengubahan pada data yang aktif dalam kolom pengisian

c. Menu Data Tambak

Menu yang berhubungan langsung dengan kegiatan tambak adalah Data

Tambak yang berisi sub menu input dengan opsi Data Kualitas Air, Data

Plankton, dan Data Pakan, dan sub menu output dengan opsi tabel dan grafik.

d. Menu Peta

Disediakan untuk melihat Denah Tambak secara mendetail.

e. Menu Kegiatan Budidaya

Kegiatan Budidaya yang berisi rincian kegiatan dalam masa penyiapan lahan

tambak, pembesaran hingga masa panen dalam bentuk slide show, dan narasi

mengenai objek budidaya.


112

f. Menu Formasi Data

Formasi Data yang berfungsi untuk menentukan pengelompokkan jenis data

yang berkaitan dengan kegiatan budidaya.

g. Shortcut IKW Tambak

Selain menu yang berkaitan dengan kegiatan budidaya, terdapat shortcut

yang mengandung Informasi Kesesuaian Wilayah Tambak secara geografis (IKW

Tambak). Shortcut IKW Tambak memberikan informasi tentang kondisi kualitas

tanah, kualitas air, cuaca dan iklim, rona lingkungan, kemudahan akses lokasi

secara spasial, hingga informasi kesesuaian wilayah tambak yang dituangkan

dalam bentuk peta dan narasinya.


113

 Prosedur Penggunaan Sistem Informasi

Prosedur penggunaan Sistem Informasi Pengelolaan Budidaya Tambak

Udang PT. Indonusa Yudha Perwita terbagi menjadi enam bagian, yakni:

a. Akses sistem informasi

Pengamanan data budidaya dalam sistem informasi dilakukan dengan

membatasi pengguna yang dapat mengakses sistem informasi. Pengguna yang

bertanggung jawab akan penambahan, pembaharuan, dan pemakaian data

budidaya dari sistem informasi diberikan satu username dan password untuk

masuk (login).

b. Input data formatur

Input data formatur diperlukan untuk mempermudah pengisian data budidaya

yang membutuhkan pilihan nilai secara otomatis, serta jenis pilihan nilainya

selalu sama dan berulang penggunaannya. Data formatur terdiri atas data blok,
114

data kolam, data jenis pakan, data jenis plankton, data status anco, dan data

waktu pemberian pakan.

Setelah berhasil mengakses sistem informasi, maka pengguna akan melihat

tampilan awal sistem informasi yang dilengkapi dengan menu utama, seperti

gambar berikut:

Input data formatur dilakukan dengan memilh menu FORMASI DATA:

Menu FORMASI DATA memiliki beberapa submenu yang terbagi menjadi:

Penambahan Blok

Submenu Penambahan Blok digunakan apabila terdapat perubahan blok

tambak PT. Indonusa Yudha Perwita. Perubahan mencakup proses penambahan

atau pengurangan jumlah blok, serta perubahan nama blok.


115

 Penambahan jumlah blok dilakukan dengan:

Pilih tombol “Tambah” pada window “Blok”

 isi kolom Id Blok

 isi kolom Nama Blok

 tekan tombol “Simpan”

 Pengurangan jumlah blok dilakukan dengan:

Pilih data blok dalam tabel pada window “Blok”

 tekan tombol “Hapus”

 Jawab pertanyaan kepastian penghapusan data dengan menekan tombol

“OK”

 tekan tombol “OK” pada saat window keberhasilan penghapusan data muncul.

 Pengubahan identitas blok dilakukan dengan:

Tekan tombol “Update” pada window “Blok”

 pilih data yang akan diubah atau diperbaharui dalam tabel data

 lakukan pengubahan pada data yang aktif dalam kolom pengisian

(Id Blok dan Nama Blok).


116

Penambahan Kolam

Submenu Penambahan Kolam digunakan apabila terdapat perubahan jumlah

kolam pada tambak PT. Indonusa Yudha Perwita. Perubahan mencakup proses

penambahan atau pengurangan jumlah kolam, serta perubahan identitas kolam.

 Penambahan jumlah blok dilakukan dengan:

Pilih tombol “Tambah” pada window “Input Kolam”

 isi kolom Id Blok (tempat dimana kolam tergabung)

 isi kolom Id Kolam

 isi kolom Nama Kolam

 isi kolom Koordinat (posisi geografis masing- masing kolam)

 tekan tombol “Browse” untuk input foto kolam

 tekan tombol “Simpan”

 Pengurangan jumlah kolam dilakukan dengan:

Pilih data kolam dalam tabel pada window “Input Kolam”

 tekan tombol “Hapus”

 Jawab pertanyaan kepastian penghapusan data dengan menekan tombol

“OK”

 tekan tombol “OK” pada saat window keberhasilan penghapusan data muncul.

 Pengubahan identitas kolam dilakukan dengan:

Tekan tombol “Update” dalam window “Input Kolam”

 pilih data yang akan diubah atau diperbaharui dalam tabel data

 lakukan pengubahan data yang aktif pada kolom pengisian data kolam (Id

Blok, Id Kolam, Nama Kolam, dan lainnya).


117

Penambahan Plankton

Submenu Penambahan Plankton digunakan apabila terdapat perubahan data

jenis plankton yang ditemukan dalam air budidaya tambak PT. Indonusa Yudha

Perwita. Perubahan mencakup proses penambahan atau pengurangan, serta

perubahan jenis plankton.

 Penambahan jenis plankton dilakukan dengan:

Pilih tombol “Tambah” pada window “Input Plankton”

 isi kolom Id Plankton

 isi kolom Nama Plankton

 tekan tombol “Simpan”

 Pengurangan data plankton dilakukan dengan:

Pilih data kolam dalam tabel pada window “Input Plankton”

 tekan tombol “Hapus”

 Jawab pertanyaan kepastian penghapusan data dengan menekan tombol

“OK”

 tekan tombol “OK” pada saat window keberhasilan penghapusan data muncul.

 Pengubahan identitas plankton dilakukan dengan:

Tekan tombol “Update” dalam window “Input Plankton”


118

 pilih data yang akan diubah atau diperbaharui dalam tabel data

 lakukan pengubahan data yang aktif pada kolom pengisian data Plankton

(Id Plankton, Nama Plankton, dan lainnya).

Penambahan Pakan

Submenu Penambahan Pakan digunakan apabila terdapat perubahan data

jenis pakan yang digunakan dalam proses pembesaran udang vannamei di

tambak PT. Indonusa Yudha Perwita. Perubahan mencakup proses penambahan

atau pengurangan, serta perubahan jenis pakan.

 Penambahan jenis plankton dilakukan dengan:

Pilih tombol “Tambah” pada window “Input Pakan”

 isi kolom Id Pakan

 isi kolom Nama Pakan

 tekan tombol “Simpan”

 Pengurangan data pakan dilakukan dengan:

Pilih data kolam dalam tabel pada window “Input Pakan”

 tekan tombol “Hapus”

 Jawab pertanyaan kepastian penghapusan data dengan menekan tombol

“OK”

 tekan tombol “OK” pada saat window keberhasilan penghapusan data muncul.
119

 Pengubahan jenis pakan dilakukan dengan:

Tekan tombol “Update” dalam window “Input Pakan”

 pilih data yang akan diubah atau diperbaharui dalam tabel data

 lakukan pengubahan data yang aktif pada kolom pengisian data Pakan

(Id Pakan, Nama Pakan).

Definisi Status Anco

Submenu Definisi Status Anco digunakan untuk menetapkan status anco yang

dijumpai dari setiap kolam tambak dengan selang waktu 1,5 – 2,5 jam setelah

proses pemberian pakan. Perubahan mencakup proses penambahan atau

pengurangan, serta perubahan definisi dari status anco.

 Penambahan status anco dilakukan dengan:

Pilih tombol “Tambah” pada window “Jenis Anco”

 isi kolom Status Anco

 isi kolom Keterangan, yang mendefinisikan dari status anco pada kolom

Status Anco (contoh: Status Anco : A  definisi: pakan habis)

 tekan tombol “Simpan”

 Pengurangan data Status Anco dilakukan dengan:

Pilih data status anco dalam tabel pada window “Jenis Anco”
120

 tekan tombol “Hapus”

 Jawab pertanyaan kepastian penghapusan data dengan menekan tombol

“OK”

 tekan tombol “OK” pada saat window keberhasilan penghapusan data muncul.

 Pengubahan data status anco dilakukan dengan:

Tekan tombol “Update” dalam window “Jenis Anco”

 pilih data yang akan diubah atau diperbaharui dalam tabel data

 lakukan pengubahan data yang aktif pada kolom pengisian data status anco

(Status Anco, Keterangan).

Penambahan Pakan

Submenu Penambahan Pakan digunakan apabila terdapat perubahan data

jenis pakan yang digunakan dalam proses pembesaran udang vannamei di

tambak PT. Indonusa Yudha Perwita. Perubahan mencakup proses penambahan

atau pengurangan, serta perubahan jenis pakan.

 Penambahan Waktu Pakan dilakukan dengan:

Pilih tombol “Tambah” pada window “Waktu Pakan”

 isi kolom Waktu

 tekan tombol “Simpan”


121

 Pengurangan data waktu pakan dilakukan dengan:

Pilih data kolam dalam tabel pada window “Waktu Pakan”

 tekan tombol “Hapus”

 Jawab pertanyaan kepastian penghapusan data dengan menekan tombol

“OK”

 tekan tombol “OK” pada saat window keberhasilan penghapusan data muncul.

 Pengubahan waktu pakan dilakukan dengan:

Tekan tombol “Update” dalam window “Waktu Pakan”

 pilih data yang akan diubah atau diperbaharui dalam tabel data

 lakukan pengubahan data waktu pakan yang aktif pada kolom pengisian
122

c. Input data budidaya

Input data budidaya diawali dengan menekan tombol “DATA” pada halaman

awal sistem informasi.

Pilih kolam sumber data yang akan dicatat dengan menekan nama kolam dalam

denah.

Setelah memilih nama kolam, pilih jenis data yang akan diisikan dalam window

“Input Data” :
123

Data Kualitas Air Budidaya Tambak

 Penambahan Data Kualitas Air Budidaya Tambak dilakukan dengan:

Pilih tombol “Tambah” pada window “Data Harian”

 isi seluruh kolom data kualitas air yang telah diukur

 tekan tombol “Simpan”

 Pengurangan Data Kualitas Air Budidaya Tambak dilakukan dengan:

Pilih data kolam dalam tabel pada window “Data Harian”

 tekan tombol “Hapus”

 Jawab pertanyaan kepastian penghapusan data dengan menekan tombol

“OK”
124

 tekan tombol “OK” pada saat window keberhasilan penghapusan data muncul.

 Pengubahan Data Kualitas Air Budidaya Tambak dilakukan dengan:

Tekan tombol “Update” dalam window “Data Harian”

 pilih data yang akan diubah atau diperbaharui dalam tabel data

 lakukan pengubahan data waktu pakan yang aktif pada kolom pengisian.

Data Plankton

 Penambahan Data Plankton dilakukan dengan:

Pilih tombol “Tambah” pada window “Data Harian”

 isi seluruh kolom data kualitas air yang telah diukur

 tekan tombol “Simpan”

 Pengurangan Data Plankton dilakukan dengan:

Pilih data kolam dalam tabel pada window “Data Harian”

 tekan tombol “Hapus”

 Jawab pertanyaan kepastian penghapusan data dengan menekan tombol

“OK”

 tekan tombol “OK” pada saat window keberhasilan penghapusan data muncul.

 Pengubahan Data Plankton dilakukan dengan:

Tekan tombol “Update” dalam window “Data Harian”


125

 pilih data yang akan diubah atau diperbaharui dalam tabel data

 lakukan pengubahan data waktu pakan yang aktif pada kolom pengisian

Data Pakan

 Penambahan Data Pakan dilakukan dengan:

Pilih tombol “Tambah” pada window “Input Pakan”

 isi seluruh kolom data kualitas air yang telah diukur

 tekan tombol “Simpan”

 Pengurangan Data Pakan dilakukan dengan:

Pilih data kolam dalam tabel pada window “Input Pakan”

 tekan tombol “Hapus”

 Jawab pertanyaan kepastian penghapusan data dengan menekan tombol

“OK”

 tekan tombol “OK” pada saat window keberhasilan penghapusan data muncul.

 Pengubahan Data Pakan dilakukan dengan:

Tekan tombol “Update” dalam window “Input Pakan”

 pilih data yang akan diubah atau diperbaharui dalam tabel data

 lakukan pengubahan data waktu pakan yang aktif pada kolom pengisian
126

Data Sampling

 Penambahan Data Sampling dilakukan dengan:

Pilih tombol “Tambah” pada window “Sampling”

 isi seluruh kolom data kualitas air yang telah diukur

 tekan tombol “Simpan”

 Pengurangan Data Pakan dilakukan dengan:

Pilih data kolam dalam tabel pada window “Sampling”

 tekan tombol “Hapus”

 Jawab pertanyaan kepastian penghapusan data dengan menekan tombol

“OK”

 tekan tombol “OK” pada saat window keberhasilan penghapusan data muncul.

 Pengubahan Data Pakan dilakukan dengan:

Tekan tombol “Update” dalam window “Sampling”

 pilih data yang akan diubah atau diperbaharui dalam tabel data

 lakukan pengubahan data waktu pakan yang aktif pada kolom pengisian
127

Data Panen

 Penambahan Data Panen dilakukan dengan:

Pilih tombol “Tambah” pada window “Data Panen”

 isi seluruh kolom data kualitas air yang telah diukur

 tekan tombol “Simpan”

 Pengurangan Data Panen dilakukan dengan:

Pilih data kolam dalam tabel pada window “Data Panen”

 tekan tombol “Hapus”

 Jawab pertanyaan kepastian penghapusan data dengan menekan tombol

“OK”

 tekan tombol “OK” pada saat window keberhasilan penghapusan data muncul.

 Pengubahan Data Panen dilakukan dengan:

Tekan tombol “Update” dalam window “Data Panen”

 pilih data yang akan diubah atau diperbaharui dalam tabel data

 lakukan pengubahan data waktu pakan yang aktif pada kolom pengisian
128

d. Output data budidaya

Pembuatan output data budidaya dilakukan dengan menekan shortcut “Output”.

Dua tipe output yang dapat dihasilkan sistem informasi adalah dalam bentuk

grafik dan tabel.

Output Tabel

Langkah- langkah dalam menghasilkan output data kualitas air dan data pakan

dalam bentuk Tabel adalah:

 Tekan menu “Output”

 Tekan tombol “Report Tabel” pada window “Pilih Output”

 Checklist nama kolam sebagai sumber data yang akan diolah menjadi output

 Tentukan batas data yang akan dihasilkan berdasarkan Tanggal atau Umur
129

 Setelah muncul window “Report”, tekan tombol “Report”

 Akan window “Report Data Kualitas Air”, “Report Data Pakan” dan

“Report Data Plankton”

 Output tabel dapat langsung di cetak dengan menekan ikon “Print” atau

disimpan dalam bentuk lain dengan menekan ikon “Export”

 Output dalam bentuk tabel untuk Data Panen, dapat dieksekusi dengan

memilih menu “Panen” pada halaman utama sistem informasi, kemudian

menekan tombol “Report Tabel” dalam window “Data Panen”.


130

Output Grafik

Langkah- langkah berikut adalah cara dalam menghasilkan output data kualitas

air dalam bentuk Grafik:

 Tekan menu “Output”

 Tekan tombol “Report Grafik” pada window “Pilih Output”

 Tentukan jenis output grafik : Grafik 1 Kolam atau Grafik antar kolam

 Pilih kolam sumber data dengan menekan kolom “Kolam”


131

 Pilih parameter yang ingin dihasilkan dalam grafik

 Grafik 1 Kolam memiliki ketentuan pemilihan: 1 kolam dan banyak parameter

 Grafik Antar Kolam memiliki ketentuan pemilihan: 1 parameter dan 6 kolam

Tentukan tanggal data yang akan ditampilkan

 Pilih model grafik (grafik batang atau grafik garis, 2 dimensi atau 3 dimensi)

Tampilkan hasil dengan menekan tombol “Tampilkan Grafik” dalam window

“Grafik Kualitas Air”

Output dalam bentuk grafik untuk Data Panen, Data Sampling dan Data

Plankton dapat dieksekusi dengan menekan “Report Grafik” dalam masing-

masing menu input data.


132
133

Lampiran 16. Tabel output Sistem Informasi Pengelolaan Budidaya Tambak


Udang PT. Indonusa Yudha Perwita
134

Lampiran 16. (Lanjutan)


135

Lampiran 17. Tabel hasil produksi kolam tambak PT. Indonusa Yudha Perwita
Waktu Produksi Blok Kolam Nilai Produksi (kg/Ha) Nilai Produksi (ton/Ha)

Maret - Juli 2005 1 C1 13272.2222 13.2722


Maret - Juli 2005 1 C2 10823.0453 10.8230
Maret - Juli 2005 1 C3 11665.0000 11.6650
Maret - Juli 2005 1 C4 13420.6349 13.4206
Maret - Juli 2005 1 D1 10087.8514 10.0879
Maret - Juli 2005 1 D2 12196.9697 12.1970
Maret - Juli 2005 1 D3 11774.5536 11.7746
Maret - Juli 2005 1 D4 12388.3929 12.3884
Mei - Oktober 2007 1 C2 20235.9396 20.2359
Mei - Oktober 2007 1 C3 17120.0000 17.1200
Mei - Oktober 2007 1 C4 17226.1905 17.2262
Mei - Oktober 2007 1 D1 18009.5382 18.0095
Mei - Oktober 2007 1 D2 20700.7576 20.7008
Mei - Oktober 2007 1 D3 18009.6726 18.0097
Mei - Oktober 2007 1 D4 18761.1607 18.7612
Juli - Nopember 2008 2 E1 17139.2157 17.1392
Juli - Nopember 2008 2 E2 22137.0370 22.1370
Juli - Nopember 2008 2 E3 19951.8519 19.9519
Juli - Nopember 2008 2 E4 20311.1111 20.3111
Juli - Nopember 2008 2 F1 17100.0000 17.1000
Juli - Nopember 2008 2 F2 18372.5000 18.3725
Juli - Nopember 2008 2 F3 17248.6486 17.2486
Juli - Nopember 2008 2 F4 19500.0000 19.5000
Juli - Nopember 2008 2 F5 15468.6275 15.4686
Juli - Nopember 2008 2 F6 16749.0196 16.7490
Maret - Juli 2009 2 E1 17478.4314 17.4784
Maret - Juli 2009 2 E2 18900.0000 18.9000
Maret - Juli 2009 2 F1 18740.0000 18.7400
Maret - Juli 2009 2 F2 19200.0000 19.2000
Maret - Juli 2009 2 F3 18355.5556 18.3556
Nopember 2004 - Maret 2005 3 E5 15978.8360 15.9788
Nopember 2004 - Maret 2005 3 E6 13472.6444 13.4726
Nopember 2004 - Maret 2005 3 E7 14399.6960 14.3997
Nopember 2004 - Maret 2005 3 E8 14422.8778 14.4229
Nopember 2004 - Maret 2005 3 E9 15539.1304 15.5391
Nopember 2004 - Maret 2005 3 F7 14263.3745 14.2634
136

Lampiran 17. (Lanjutan)


Waktu Produksi Blok Kolam Nilai Produksi (kg/Ha) Nilai Produksi (ton/Ha)
Nopember 2004 - Maret 2005 3 F8 14888.7164 14.8887
Nopember 2004 - Maret 2005 3 F9 13581.7805 13.5818
Nopember 2004 - Maret 2005 3 F10 13373.4015 13.3734
Nopember 2004 - Maret 2005 3 F11 15503.8363 15.5038
Nopember 2004 - Maret 2005 3 F12 16046.1538 16.0462
Nopember 2006 - Maret 2007 3 E5 16807.1429 16.8071
Nopember 2006 - Maret 2007 3 E6 17747.5000 17.7475
Nopember 2006 - Maret 2007 3 E7 18652.5000 18.6525
Nopember 2006 - Maret 2007 3 E8 17310.0000 17.3100
Nopember 2006 - Maret 2007 3 E9 22743.4783 22.7435
Nopember 2006 - Maret 2007 3 F7 16340.0000 16.3400
Nopember 2006 - Maret 2007 3 F8 18207.5000 18.2075
Nopember 2006 - Maret 2007 3 F9 18047.5000 18.0475
Nopember 2006 - Maret 2007 3 F10 19945.0000 19.9450
Nopember 2006 - Maret 2007 3 F11 17917.5000 17.9175
Nopember 2006 - Maret 2007 3 F12 21473.0769 21.4731
April - Agustus 2008 3 E5 13880.9524 13.8810
April - Agustus 2008 3 E6 12367.5000 12.3675
April - Agustus 2008 3 E7 13135.0000 13.1350
April - Agustus 2008 3 E8 15357.5000 15.3575
April - Agustus 2008 3 E9 16139.1304 16.1391
April - Agustus 2008 3 F7 16440.0000 16.4400
April - Agustus 2008 3 F8 16415.0000 16.4150
April - Agustus 2008 3 F9 17005.0000 17.0050
April - Agustus 2008 3 F10 14425.0000 14.4250
April - Agustus 2008 3 F11 16765.0000 16.7650
April - Agustus 2008 3 F12 18311.5385 18.3115
Desember 2004 - April 2005 4 B6 9134.7518 9.1348
Desember 2004 - April 2005 4 B7 10819.3077 10.8193
Desember 2004 - April 2005 4 C5 7511.1111 7.5111
Desember 2004 - April 2005 4 C6 12024.1546 12.0242
Desember 2004 - April 2005 4 C7 8014.1844 8.0142
Desember 2004 - April 2005 4 D5 8319.4444 8.3194
Desember 2004 - April 2005 4 D6 8364.0000 8.3640
Desember 2004 - April 2005 4 D7 10610.0000 10.6100