Anda di halaman 1dari 12

REFERAT

DISMENOREA

Oleh :

Ibnu Fajar Sidik (2013730148)

Pembimbing :

dr. Helmina Sp.OG

STASE OBGYN
RUMAH SAKIT ISLAM JAKARTA CEMPAKA PUTIH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pertumbuhan adalah suatu proses alamiah yang terjadi pada individu yaitu secara
bertahap, pertumbuhan dan perkembangan antara anak laki-laki dan perempuan amatlah
berbeda (Supartini, 2004).

Perubahan fisik yang terjadi pada masa pubertas ini merupakan peristiwa yang
paling penting, berlangsung cepat, dratis, tidak beraturan dan terjadi pada sistem
reproduksi. Hormon-hormon mulai di produksi dan mempengaruhi terjadinya perubahan
tubuh (Manuaba, 2009)

Setiap remaja putri pasti akan mengalami yang namanya fase mentruasi. Walupun
tidak sama pada setiap orang, tetapi biasanya mentruasi mulai usia 10 tahun. Dengan
semakin dininya mendapat mentruasi akan memberikan konsekuensi menyiapkan mereka
untuk tidak panik menghadapinya.setiap remaja putri akan mengalami perubahan yang
drastis pada tubuhnya karena untuk pertama kali alat kelamin mengeluarkan darah yang
disebut menstruasi (Setiawan, 2009).

Menstruasi atau haid sama tuanya dengan sejarah umat manusia, namun sampai
sekarang masih merupakan topik yang banyak menarik minat sebagian besar kalangan
wanita karena setiap bulannya wanita selalu mengalami menstruasi dan sering mengalami
nyeri. Nyeri ini timbul bersamaan dengan menstruasi, sebelum menstruasi atau bisa juga
segera setelah menstruasi. Nyeri haid atau yang biasa disebut dengan dismenore
merupakan kram & nyeri menusuk yang terasa di perut bagian bawah & paha, punggung
bawah, mual muntah diare, kram yang nyeri selama menstruasi, lemah, dan berkeringat
(Anonim, 2007).

Penyebab nyeri haid bisa bermacam-macam, bisa karena suatu proses penyakit
(misalnya radang panggul), endometriosis, tumor atau kelainan letak uterus, selaput dara
atau vagina tidak berlubang, dan stres atau kecemasan yang berlebihan. Akan tetapi,
penyebab tersering nyeri haid diduga karena terjadinya ketidakseimbangan hormonal dan
tidak ada hubungan dengan organ reproduksi (Arifin S, 2007).

Ada dua jenis nyeri haid, yaitu primer dan sekunder. Pembagian ini atas dasar
sudah diketahui sebabnya dan yang belum diketahui sebabnya. Pada yang primer
biasanya terjadi pada umur kurang 20 tahun dan biasanya bisa hilang bila yang
bersangkutan hamil. Sebaliknya yang sekunder terjadi pada umur lebih 20 tahun dan
biasanya dijumpai adanya kelainan pada alat kelamin dalam, seperti infeksi, tumor atau
perlekatan. Kebanyakan penderita dismenore adalah wanita muda, walaupun dijumpai
juga dikalangan yang berusia lanjut. Dismenore yang paling sering terjadi adalah
dismenore primer, kemungkinan lebih dari 50% wanita mengalaminya dan 10-15%
diantaranya mengalami nyeri yang hebat yang sampai menggangu aktivitas dan kegiatan
sehari-hari wanita. Biasanya dismenore primer timbul pada masa remaja, yaitu sekitar 2-3
tahun setelah haid pertama dan terjadi pada umur kurang dari 20 tahun (Anonim, 2007).

Rasa nyeri pada saat menstruasi tentu saja sangat menyiksa bagi wanita. Sakit
menusuk, nyeri yang hebat di sekitar bagian bawah dan bahkan kadang mengalami
kesulitan berjalan sering dialami ketika haid menyerang. Nyeri ini dapat berlangsung
setengah hari sampai lima hari dan sering kali tampak seperti nyeri berkepanjangan.
Banyak wanita terpaksa harus berbaring karena terlalu menderita sehingga tidak dapat
mengerjakan sesuatu apapun. Ada yang pingsan, ada yang merasa mual, ada juga yang
benar-benar muntah (Kingston, 2005).

Dismenore yang dialami saat terjadi menstruasi bisa sangat menyiksa. Kadang-
kadang wanita membungkukkan tubuh atau merangkak lantaran tidak tahan dengan nyeri
haid. Pengetahuan remaja tentang disminore amat sedikit sehingga mereka tidak tahu apa
yang dilakukan jika nyeri datang, begitu juga sikap remaja mengenai disminore amatlah
sedikit, kadang remaja berharap mereka tidak mendapatkam haid, mereka berangapan
haid merupakan hari yang amat menyiksa bagi mereka (Setiawan. 2009).
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi

Dismenore menurut pengertiannya berasal dari bahasa Yunani yang berarti


sebagai kesulitan aliran menstruasi dan dibagi menjadi dua kategori, yaitu dismenore
primer dan dismenore sekunder. Dismenore menurut American Congress of Obstetricians
and Gynecologists (ACOG) didefinisikan sebagai kondisi nyeri selama menstruasi yang
dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.

Dismenore adalah nyeri kram (tegang) daerah perut mulai terjadi pada 24 jam
sebelum terjadinya perdarahan haid dan dapat bertahan selama 24-36 jam meskipun
beratnya hanya berlangsung selama 24 jam pertama. Kram tersebut terutama dirasakan
didaerah perut bagian bawah tetapi dapat menjalar kepunggung atau permukaan dalam
paha, yang terkadang menyebabkan penderita tidak berdaya dalam menahan nyerinya
tersebut. Dismenore memperlihatkan gejala lain seperti lemas, pusing, berkeringat, sakit
kepala, sakit punggung, mual, muntah, diare, dan semua itu terjadi saat menstruasi
berlangsung.

Dismenore selama ini telah menjadi gangguan atau keluhan pada sebagian besar
wanita, terutama pada remaja dan dewasa muda. Dismenore dapat mengganggu aktivitas
dan produktivitas wanita di rumah atau di tempat kerja. Oleh karena itu, dismenore
adalah suatu gejala yang paling sering menyebabkan para wanita pergi ke dokter untuk
konsultasi dan pengobatan.

2.2. Epidemiologi

Dismenore merupakan gejala ginekologis yang paling banyak dikeluhkan oleh


para wanita. Sembilan puluh persen wanita memperlihatkan gejala nyeri saat menstruasi.
Walaupun prevalensi terjadinya dismenore berbeda – beda di seluruh dunia, 1/3 – 1/2
wanita di seluruh dunia mengeluh terjadinya dismenore mulai dari gejala sedang sampai
berat.
Dismenore dengan gejala berat biasanya menunjukkan adanya kelainan organik di
dalamnya atau masalah fisik, seperti endometriosis, polip uteri, leiomioma, stenosis
serviks, atau penyakit radang panggul.

Prevalensi dismenore di seluruh dunia sama dengan yang terjadi di Amerika


Serikat, dengan rata – rata mulai dari 15.8% sampai dengan 89.5%, dengan jumlah
prevalensi tertinggi pada remaja. Pada studi epidemiologi di Amerika, Klein dan Litt
melaporkan bahwa prevalensi di Amerika Serikat sebanyak 59.7%. Sebanyak 12% pasien
mengeluh sakit berat, 37% sebagai sakit sedang, dan 49% sebagai sakit ringan.

Salah satu faktor risiko dismenore adalah usia, di mana terjadi lebih banyak kasus
dismenore pada remaja daripada wanita dewasa, yaitu dari umur 20 sampai 24 tahun,
dengan episode berat terbanyak terjadi pada wanita usia di bawah 25 tahun. Dismenore
primer juga terjadi paling banyak pada wanita belum menikah daripada wanita yang
sudah menikah (61% : 51%).

Faktor menarche pada usia lebih muda, meningkatnya volume darah saat
menstruasi, dan riwayat keluarga juga menjadi faktor risiko terjadinya episode nyeri yang
lebih berat. Faktor merokok mengakibatkan gejala nyeri lebih berat juga terbukti cukup
kuat. Studi prospektif terbaru menunjukkan bahwa terdapat hubungan dismenore dengan
meningkatnya paparan asap rokok. Ada beberapa dugaan bahwa terjadinya perubahan
pada kehidupan sehari – hari yang sering, kurangnya dukungan sosial, dan stres mungkin
berhubungan dengan meningkatnya dismenore. Oleh karena itu, meningkatnya prevalensi
dismenore terjadi pada kelompok yang kehidupan sosial ekonominya rendah.

2.3. Klasifikasi

A. Dismenore Primer

Etiologi

Beberapa faktor memegang peranan sebagai penyebab dismenore primer, antara


lain :
1. Faktor kejiwaan : Pada wanita yang secara emosional tidak stabil, apalagi jika mereka
tidak mendapat edukasi yang baik tentang proses haid, mudah timbul dismenore.

2. Faktor konstitusi : Faktor ini dapat juga menurunkan ketahanan terhadap rasa nyeri,
contohnya seperti anemia dan penyakit kronis dapat mempengaruhi timbulnya
dismenore.

3. Faktor obstruksi kanalis servikalis : Pada wanita dengan uterus dalam hiperantefleksi
mungkin dapat terjadi stenosis kanalis servikalis, akan tetapi hal ini sekarang tidak
dianggap sebagai faktor yang penting sebagai penyebab dismenore. Banyak wanita
menderita dismenore tanpa stenosis servikalis dan tanpa uterus hiperantefleksi.
Sebaliknya, terdapat banyak wanita tanpa keluhan dismenore, walaupun ada stenosis
servikalis dan uterus terletak hiperantefleksi.

Gambar 1. Uterus hiperantefleksi


Sumber: M. Yusoff Dawood.Dysmenorrhea.Depertment of Obstetrics, Gynecology, and
Reproductive Sciences. Houston: University of Texas Medical School (Vol I, Chap 18;
Vol 5, Chap 7). 1981

4. Faktor endokrin : Pada umumnya ada anggapan bahwa kejang yang terjadi pada
dismenore primer disebabkan oleh kontraksi uterus yang berlebihan. Faktor endokrin
mempunyai hubungan dengan soal tonus dan kontraktilitas otot usus. Endometrium
dalam fase sekresi memproduksi prostaglandin F2 yang menyebabkan kontraksi otot-
otot polos. Jika jumlah prostaglandin F2 yang berlebihan berlebih dilepaskan dalam
peredaran darah, maka selain dismenore, dijumpai pula efek umum, seperti diare,
nausea, dan muntah.

Patofisiologi

Patofisiologi penyebab terjadinya dismenore primer disebabkan oleh


prostaglandin yang disekresi. Pada saat awal menstruasi, sebelumnya korpus luteum
beregresi karena tidak terjadi pembuahan. Progesteron dan estrogen yang dihasilkan oleh
korpus luteum menurun tajam saat korpus luteum beregresi, sehingga pengaruh
inhibitorik terhadap hormon FSH dan LH lenyap. Kadar kedua hormon ini kembali
meningkat dan merangsangnya berkembang folikel baru. Berkembangnya folikel baru
dimulai saat fase awal haid. Pada awal fase folikel, lapisan endometrium yang kaya akan
nutrien dan pembuluh darah terlepas akibat dari menurunnya hormon progesteron dan
estrogen. Untuk menghambat terjadinya aliran darah yang berlebihan, disekresikan
prostaglandin untuk meningkatkan kontraksi uterus sehingga mengurangi aliran darah.
Prostaglandin yang dihasilkan berlebihan akan menyebabkan vasokonstriksi yang
berlebihan yang mengurangi aliran darah sehingga akan terjadi iskemik. Nyeri yang
dihasilkan saat dismenore akibat dari peningkatan aktivitas uterus, terjadinya iskemik,
dan sensitisasi dari nervus terminal pada prostaglandin dan endoperoksida.8,9
Gambar 2. Patofisiologi terjadinya dismenore primer
Sumber: Hacker, Moore, Gambone. Dysmenorrhea and Chronic Pelvic Pain. Essentials of
Obstetric and Gynecology. Chicago: Elsevier Saunders. 2007. 287 – 334

Manifestasi klinis

Sembilan puluh persen terjadi pada 2 tahun pertama wanita menarche, dismenore
terjadi pada beberapa jam sebelum atau sesudah menstruasi dan biasanya berlangsung
selama 48 – 72 jam. Nyeri berupa kram dan biasanya paling nyeri di abdomen bawah dan
menyebar sampai ke paha belakang atau dalam.

Nyeri bisa disertai dengan gejala berikut :

 mual dan muntah,


 lelah,
 diare,
 nyeri pinggang,
 nyeri kepala,
 dan pada pemeriksaan pelvis biasanya tidak ada kelainan

Penatalaksanaan

1. Non – medikamentosa
 Edukasi
Perlu dijelaskan kepada penderita bahwa dismenore adalah gangguan yang tidak
berbahaya untuk kesehatan. Penderita sebaiknya dijelaskan dan diajak diskusi
mengenai cara hidup, pekerjaan, kegiatan, dan lingkungan penderita. Edukasikan
kepada penderita mengenai makanan sehat, istirahat yang cukup, dan olahraga.

2. Medikamentosaa.

 Non – steroidal anti inflammatory drugs (NSAIDs)


Golongan obat ini menghambat enzim siklooksigenase sehingga konversi asam
arakidonat menjadi PGG2 (endoperoksid) terganggu, di mana PGG2 dalam proses
inflamasi berubah menjadi PGE2 (prostaglandin). Contoh obat ini adalah
parasetamol, asam mefenamat, aspirin. Secara umum NSAIDs berpotensi
menyebabkan efek samping pada saluran cerna, ginjal, dan hati. Efek samping
yang paling sering terjadi adalah tukak peptik.
 Cyclo – oxygenase inhibitors (COX – 2)
Obat kelompok penghambat COX – 2 dikembangkan dengan harapan bisa
menghindari efek samping saluran cerna. Mekanisme dari obat ini adalah
menghambat enzim cyclo – oxygenase. Contoh obat ini adalah selekoksib,
rofekoksib, valdekoksib.
 Oral contraceptive pills (OCs)
Tujuan terapi dengan obat kontrasepsi (hormonal) adalah menekan ovulasi. OCs
mengurangi aliran menstruasi, menekan ovulasi dan efektif untuk terapi
dismenore primer.
 Progestin
Progestin berperan untuk menekan terjadinya perdarahan haid dan kontraksi
uterus.
 Tokolitik
Tokolitik berperan untuk mencegah terjadinya kontraksi pada uterus.

Jika pasien gagal dengan terapi pil kontrasepsi oral dan NSAID, diagnosis
dismenore primer sebaiknya dipertanyakan dan diperkirakan menjadi dismenore
sekunder. Laparoskopi, ultrasonic imaging, dan histerokopi dengan biopsi langsung
untuk mengesklusi adanya kelainan pada panggul.

Gambar 3. Algoritma terapi dismenore


Sumber: M. Yusoff Dawood.Dysmenorrhea.Depertment of Obstetrics, Gynecology, and
Reproductive Sciences. Houston: University of Texas Medical School (Vol I, Chap 18;
Vol 5, Chap 7). 1981
B. Dismenore Sekunder

Definisi

Dismenore sekunder adalah adalah nyeri haid yang disebabkan oleh patologi
pelvis secara anatomis atau makroskopis dan terutama terjadi pada wanita berusia 30-45
tahun. Pengertian yang lain menyebutkan definisi dismenore sekunder sebagai nyeri yang
muncul saat menstruasi namun disebabkan oleh adanya penyakit lain. Penyakit lain yang
sering menyebabkan dismenore sekunder anatara lain endometriosis, fibroid uterin,
adenomyosis uterin, dan inflamasi pelvis kronis.

Etiologi

Dismenore sekunder disebabkan oleh kondisi iatrogenik dan patologis yang


beraksi di uterus, tuba falopi, ovarium, atau pelvis peritoneum. Secara umum, nyeri
datang ketika terjadi proses yang mengubah tekanan di dalam atau di sekitar pelvis,
perubahan atau terbatasnya aliran darah, atau karena iritasi peritoneum pelvis. Proses ini
berkombinasi dengan fisiologi normal dari menstruasi sehingga menimbulkan
ketidaknyamanan. Ketika gejala ini terjadi pada saat menstruasi, proses ini menjadi
sumber rasa nyeri. Penyebab dismenore sekunder dapat diklasifikasikan dalam 2
golongan, yaitu penyebab intrauterin dan penyebab ekstrauterin.

Beberapa penyebab dismenore sekunder adalah :

 Adenomyosis
 Mioma
 Polip
 Penggunaan Intrauterine Devices (IUD)
 Infeksi
 Endometriosis
 Adhesi
DAFTAR PUSTAKA

1. SOGC CLINICAL PRACTICE GUIDELINE. Primary Dysmenorrhea Consensus


Guideline. No. 169, December 2005.
2. http://www.acog.com/faq046
3. Sarwono Prawirohardjo. Gangguan Lain Dalam Hubungan Dengan Haid. Dismenore.
Ilmu Kandungan. Jakarta : Bina Pustaka. 2008. 229 – 232
4. Gumanga S. K, Kwanee – Aryee R. Prevalence and Severity of Dysmenorrhea Among
Some Adolescent Girls in A secondary School in Accra, Ghana. Postgraduate Medical
Journal of Ghana. 2012
5. Sylvia A. Price, Lorraine M. Wilson. Gangguan Sistem Reproduksi. Dismenore
Patofisiologi Konsep Klinis Proses – proses Penyakit vol. 2 Ed.6. Jakarta: EGC. 2006.
1288 – 1289
6. http://www.medscape.org/dysmenorrhea
7. M. Yusoff Dawood.Dysmenorrhea.Depertment of Obstetrics, Gynecology, and
Reproductive Sciences. Houston: University of Texas Medical School (Vol I, Chap 18;
Vol 5, Chap 7). 1981
8. Hacker, Moore, Gambone. Dysmenorrhea and Chronic Pelvic Pain. Essentials of
Obstetric and Gynecology. Elsevier Saunders. 2007. 287 – 234
9. Lauralee Sherwood. Fisiologi Reproduksi. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem Ed. 2.
Jakarta: EGC. 2001. 708 – 715
10. Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI. Anti Inflamasi Non Steroid.
Farmakologi dan Terapi. Jakarta : FKUI. 2007. 230 – 246
11. Andrea J. Rapkin, Candace N. Howe. Pelvic Pain and Dysmenorrhea. Berek & Novak's
Gynecology. Ed. Washington DC: Lippincott Williams & Wilkins. 2007. 506 – 535
12. Roger P. Smith. Chronic Pelvic Pain. Netter’s Obstetrics, Gynecology, and Women
Health. Washington DC: Lippincott Williams & Wilkins. 2007. 314 – 322
13. D. Keith Edmonds. Benign Disease of Uterus. Dewhurst’s Textbook of
Obstetric&Gynecology Ed.7. London: Blackwell Publishing. 2007. 634 – 644
14. Marc A. Fritz, Leon Speroff. Endometriosis. Clinical Gynecologic Endocrinology and
Infertility. 2007. Washington DC: Williams and Wilkins 853 - 865