Anda di halaman 1dari 9

IMUNOLOGI INFEKSI

A. Imunologi Bakteri
Penyakit infeksi akibat keterpaparan terhadap bakteri dapat disebabkan oleh

infeksi bakteri ekstraseluler dan bakteri intraseluler.


Walaupun terdapat perbedaan pada respon imun yang nantinya dikeluarkan sebagai

reaksi dari keterpaparan ini, namun pada umumnya setiap bakteri yang masuk pada

awalnya akan diserang oleh sistem imun nonspesifik berupa fagosit, komplemen,

APP, atau dinetralkan dengan antibodi spesifik dalam darah. Ketika bakteri dapat

melewati sistem pertahanan awal dari tubuh dan dapat lolos dan menghindari

pengawasan sistem imun seperti antibodi maka bakteri sebagai antigen selanjutnya

akan diperhadapkan pada sistem imun spesifik dengan pengaktifan sistem imun

spesifik seluler sebagai respon dari CD4+, CD8+, dan Sel NK.
Pada sistem pertahanan imunitas tubuh terhadap bakteri, terdapat 5 tahapan

mekanisme sistem imun bekerja, yaitu:


1. Adanya netralisasi toksin oleh antibodi
2. Opsonisasi dan fagositosis terhadap mikroorganisme yang masuk dalam hal ini

bakteri
3. Pelisisan bakteri secara langsung dengan perantaraan komplemen
4. Terjadinya vasodilatasi yang memungkinkan sel PMN, makrofag, dan sel T

bermigrasi ke tempat terjadinya infeksi


5. Selanjutnya kerja makrofag dalam menghilangkan bakteri.

1) Imunolgi Bakteri Ekstraseluler


Bakteri ekstraseluler dapat hidup dan berkembangbiak di luar sel penjamu

misalnya dalam sirkulasi jaringan ikat dan rongga-rongga jaringan. Pada

keterpaparan terhadap bakteri ekstraseluler terdapat 2 sistem imun yang akan

turut merespon masuknya bakteri ini, yaitu:


a. Imunitas nonspesifik

Resume “Imunologi Infeksi” Kel.VI


Pada sistem imunitas ini lebih diperankan oleh kehadiran komplemen,

fagositosis, dan respon inflamasi.


Pada infeksi bakteri, komplemen dapat diaktifkan jika terdapat ikatan antara

permukaan bakteri yang mengandung manosa dengan lektin yang homolog

dengan C1q, melalui jalur lektin komplemen akan teraktivasi untuk

selanjutnya melisiskan bakteri yang masuk. C3a sebagai produk dari hasil

aktivasi komplemen selanjutnya akan mengikat bakteri dan bertindak

sebagai opsonin untuk meningkatkan fasgositosis. Bersama dengan C3a, C5a

dengan bantuan antibodi sebagai produk komplemen akan memacu

degranulasi sel mast, melepaskan mediator-mediator yang akan menginduksi

infiltrasi lekosit ke tempat infeksi. Di samping itu, neutrofil dan makrofag

sebagai produk komplemen berperan pada efek kemotaktik.


b. Imunitas spesifik
Ada 2 sistem yang bekerja pada respon Imunitas spesifik jika bakteri

menyerang tubuh yaitu Humoral dan Sitokin. Sistem humoral pada dasarnya

diperankan secara utuh oleh antibodi sebagai perlindungan utama yang

berperan sebagai penetralisir toksin dari bakteri dan nantinya akan berperan

dalam menyingkirkan bakteri ekstraseluler yang menyerang. Selanjutnya

melalui berbagai mekanisme sitokin kemudian diproduksi dari sel Th2 yang

akan merangsang respon sel B, aktivasi makrofag, dan inflamasi yang

selanjutnya akan menghancurkan bakteri.


2) Imunologi Bakteri Intraseluler
Bakteri intraseluler tergolong bakteri ynag berbeda dari jenis bakteri yang

lainnya. Hal ini dikarenakan karena kemampuanyya untuk dapat hidup dan

berkembang biak dalam fagosit. Bakteri ini memilki tempat persembunyian yang

aman dalam sirkulasi untuk mengindari seragan antibodi terhadapnya. Oleh

Resume “Imunologi Infeksi” Kel.VI


karena itu dibutuhkan mekanisme imun seluler untuk mengeliminirnya. Adapun

sistem imun yang bekerja pada infeksi ini juga terbagi atas 2 mekanisme yaitu:
a. Imunitas nonspesifik
Diperankan oleh fagosit dan sel NK. Fagosit akan membantu memfagosit

serta menghancurkan mikroba yang masuk, namun terkadang bakteri masih

resisten terhadap efek degradasi fagosit. Pada saat yang bersamaan sel NK

selanjutnya akan memberikan respon dini yang kemudian menghasilkan

IFN-γ yang akan mengaktifkan makrofag untuk memfagosit bakteri.

Disamping itu IL-12 juga dihasilkan sebagi produk aktivasi makrofag. Dari

sinilah terjadi interaksi antara sel NK dan makrofag dalam membunuh

bakteri yang masuk.


b. Imunitas nonspesifik
Diperankan oleh imunitas seluler tubuh. Ada 2 tipe reaksi yang bekerja yaitu

aktivasi sel CD4+ dan sel CD8+.


CD4 + memberikan respon terhadap peptida antigen MHC II untuk

memproduksi IFN-γ yang mengaktifkan makrofag untuk menghancurkan

mikroba dalam fagosom.


CD8+ memberikan respon terhadap molekul MHC I yang mengikat antigen

sitosol dan akan membunuh sel terinfeksi.

B. Imunologi Parasit
Infeksi parasit berbeda dengan infeksi mikroorganisme lainnya. Adanya infeksi

terhadap parasit ini dapat memicu respon imun yang lebih kompleks dibandingkan

yang lainnya. Hal ini dikarenakan karena ukurannya yang lebih besar serta struktur

dan sifat biokimiawinya yang cukup jauh berbeda. Dalam infeksi parasiter ini,

respon yang paling menandai dan paling utama adalah adanya produsi IFN-γ oleh

sel Th1 yang merupakan sitokin terpenting dalam membunuh parasit. Sel T juga

sangat berperan dalam hal ini tertama sel Tc untuk menghancurkan parasit

intraseluler. Tc kemudian melepaskan limfokin yang selanjtnya mengaktivasi

Resume “Imunologi Infeksi” Kel.VI


makrofag untuk meningkatkan ekspresi reseptor Fc dan C3, serta berbagai enzim

dan faktor lain yang dapat meningkatkan sitotoksisitas.


Secara garis besarnya, mekanisme sistem imun yang bekerja terhadap adanya

infeksi parasiter ini juga dibagi atas 2 mekanisme utama yaitu:


a. Imunitas Nonspesifik
Pengaktifan sistem imun spesifik pada dasarnya tidak cukup mampu

mengeliminir keberadaan protozoa dan cacing yang masuk ke dalam tubuh,

walupun telah melalui mekanisme yang berbeda. Hal ini dikarenakan karena

kemampuannya beradaptasi dan menjadi resisten terhadap efek bakterisidal dari

makrofag. Yang bekerja pada sistem imunitas ini adalah proses fagositosis.

Fagosit akan menyerang dan melepas bahan mikrobisidal untuk difagositir.

Selanjutnya parasit akan mengaktifkan komplemen melalui jalur alternatif

walaupun banyak dari parasit ini juga yang memiliki resistensi ynag tinggi

terhadap efek lisisnya komplemen.


b. Imunitas spesifik
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa disebabkan ukuran parasit yang jauh lebih

besar maka patogen ini tidak dapat ditelan atau dieliminir oleh keberadaan

fagosit. Oleh sebab itu, respon imun yang bekerja akan jauh lebih kompleks

yaitu sistem imun spesifik melalui aktivasi sel Th2. Sel Th2 memicu subsetnya,

sel CD4+ untuk melepaskan IL-4 dan IL-5.


IL-4 akan merangsang pengaktifan produksi IgE dan IL-5 akan merangsang

perkembangan dan aktivasi eosinofil. Eosinofil akan mengikat permukaan

cacing yang berikatan dengan IgE. Selanjutnya eosinosil akan diaktifkan untuk

mensekresikan granul enzim yang bersifat lebih toksik yang akan

menghancurkan parasit.
Keberadaan dan peranan sel mast juga sangat urgen dalam penyingkiran parasit

pada infeksi parasiter. Kemampuannya bertindak sebagai sel efektor mampu

mengikat IgE pada permukaan parasit melalui Fcє-R dengan afinitas yang cukup

Resume “Imunologi Infeksi” Kel.VI


tinggi. Peningkatan yang cukup signifikan pada IgE merupakan efek dari

degranulasi sel mast yang terarah untuk melepas mediator oleh induksi IL-4

yang diproduksi oleh CD4+ untuk selanjutnya memproduksi antibodi IgE.

C. Imunologi Jamur
Penyakit infeksi jamur merupakan problem utama kesehatan di Indonesia.

Walaupun masalah ini kurang mendapat perhatian bagi beberapa kalangan tapi

penyakit infeksi oleh keberadaan jamur cukup membawa dampak yang sangat fatal

sebagai akibat dari keterlambatan pengobatan.


Resistensi alamaiah pada tubuh terhadap infeksi jamur patogen tergantung pada

fagosit. Karena ukurannya yang relatif besar maka penyerangannya lebih dominan

secara ekstraseluler walaupun ada juga sebagian kecil yang dibunuh secara

intraseluler. Pada berbagai invasi jamur sebagai patogen penyebab penyakit jamur

adalah kemampuannya menginvasi sel epitel kulit, yaitu keratinosit, kemudian

menerobos ke dalam epidermis dan selanjutnya akan menimbulkan suatu reaksi

keradangan atau inflamasi.

Reaksi ini timbul karena patogen serta bahan yang dihasilkan berada di daerah

kutan, yaitu lapisan kulit yang meliputi stratum corneum sampai lapisan terdalam

epidermis. Jamur dapat hidup dan berkembang pada lapisan epidermis dengan

enzim keratolitik dan proteolitik, yaitu keratinase, protease dan katalase. Selain itu

patogen ini juga memproduksi enzim hidrolitik, yaitu fosfatase, super oksid

dismutase, asam lemak jenuh dan lipase. Makrofag, dalam hal ini sel dendritik kulit,

yang dikenal sebagai sel Langerhans' akan memfagosit filamen dan spora jamur.

Selanjutnya makrofag sebagai APC akan mengekspresikan mediator IL-12 yang

memicu diferensiasi dan proliferasi limfosit ThO menjadi sel Thl dan Th2. Sel Th2

Resume “Imunologi Infeksi” Kel.VI


akan mengekspresikan mediator IL-4 dan IL-5 yang akan mempengaruhi aktivitas

sel limfosit B untuk berubah menjadi sel plasma yang akan menghasilkan antibodi.

Elemen patogen di dalam makrofag dapat hidup secara obligat intraseluler

dengan memproduksi antioksidan, yaitu enzim protease, katalase, super oksid

dismutase, yang bersifat scavenger, sehingga patogen ini mampu menetralisir

aktivitas enzim maupun radikal bebas dan oksidan yang dihasilkan makrofag dalam

usaha membunuh patogen jamur ini. Proses oksidasi oleh makrofag dapat

berlangsung cukup lama dan akan menimbulkan kenaikan suhu dalam makrofag.

Hal ini akan menyebabkan makrofag menghasilkan Heat Shock Protein 70 sebagai

bahan untuk proteksi makrofag dari kerusakan. Molekul protein yang dihasilkan

makrofag ini bersifat imunogenik. Kemudian Hsp70 makrofag ini diolah pada sistim

retikulum endoplasma untuk diekspresikan pada dinding makrofag pada molekul

MHC I dengan bantuan transporter associated antigen processing (TAP) dan

berfungsi menjadi sinyal untuk dipresentasikan dan akan dikenali oleh limfosit

sitotoksik. Limfosit sitotoksik akan menghasilkan mediator IFN-γ yang bersifat

kemotaktik dan aktivator terhadap makrofag lain. Makrofag akan bermigrasi dan

mengelilingi makrofag yang mengandung elemen jamur, sehingga terbentuk

granuloma. Hal ini dikenal sebagai reaksi hipersensitifitas tipe lambat.

Pada saat yang sama, plasmacid yang telah diaktifkan oleh mediator IL-4 akan

menghasilkan IgG. IgG ini akan berikatan dengan antigen jamur. Ikatan ini akan

mengakibatkan aktivasi komplemen C3a, C5a melalui jalur altenatif, yang bersifat

kemotaktik terhadap makrofag dan menyebabkan makrofag lain bermigrasi kearah

makrofag yang mengandung elemen jamur di dalamnya. Sel Th1 menghasilkan

Resume “Imunologi Infeksi” Kel.VI


IL-12 dan mengekspresikan mediator IFNI7 yang bersifat aktivator terhadap

makrofag lain untuk bergerak menuju makrofag yang mengandung elemen jamur di

dalamnya.

D. Imunologi Virus

Respon imun terhadap protein virus melibatkan sel T dan sel B. Antigen yang

mengiduksi antibodi dapat menetralkan virus dan sel T sitotoksik yang spesifik

merupakan imunitas paling efesien pada imunitas proteksi terhadap virus.

a. Imunitas Nonspesifik Humoral dan Seluler

Prinsip mekanisme imunitas nonspesifik terhadap virus adalah mencegah

infeksi. Efektor yang berperan adalah IFN tipe I dan sel NK yang membunuh sel

terinfeksi. Infeksi banyak virus disertai produksi RNA yang merangsang sel

terinfeksi untuk sekresi IFN tipe Imelalui ikatan dengan TLR. IFN tipe I

mencegah replikasi virus dalam sel terinfeksi dan sel sekitarnya yang

menginduksi lingkungan anti-viral. INF-α dan INF-β mencegah replikasi virus

dalam sel yang terinfeksi.

Sel NK membunuh sel yang terinfeksi oleh berbagai jenis virus yang

merupakan efektor terhadap infeksi dini virus, sebelum respon imun spesifik

bekerja. Sel NK mengenal sel terinfeksi yang tidak mengekspresikan MHC-I.

Untuk membunuh virus, sel NK tidak memerlukan bantuan molekul MHC-I.

b. Imunitas Spesifik

1) Imunitas spesifik humoral

Respon imun terhadap virus tergantung dari lokasi virus dari pejamu.

Antibodi merupakan efektor dalam imunitas spesifik humoral terhadap

infeksi virus. Antibodi diproduksi dan hanya efektif terhadap virus dalam

Resume “Imunologi Infeksi” Kel.VI


fase ekstraselular. Virus dapat ditemukan ekstraselular pada awal infeksi

sebelum virus masuk kedalam sel. Antibodi dapat menetralkan virus,

mencegah virus menempel pada sel dan masuk kedalam sel pejamu.

Antibodi dapat berperan sebagai opsonin yang meningkatkan eliminasi

partikel virus oleh fagosit. Aktifitas komplemen juga ikut berperan dalam

meningkatkan fagositosis dan menghancurkan virus dengan envelop lipid

secara langsung. IgA yang disekresi di mukosa berperan terhadap virus

yang masuk tubuh melalui mukosa saluran napas dan cerna. Imunisasi oral

terhadap virus polio bekerja untuk menginduksi imunitas mukosa tersebut.

2) Imunitas spesifik seluler

Virus yang berhasil masuk dalam sel, tidak lagi rentan terhadap efek

antibodi. Respon imun terhadap virus intraseluler terutama tergantung dari

sel CD8/CTL yang membunuh sel terinfeksi. Fungsi fisiologik utama CTL

ialah pemantauan terhadap infeksi virus. Kebanyakan CTL yang spesifik

untuk virus mengenal antigen virus yang sudah dicerna dalam sitosol,

biasanya disintesis endogen yang berhungan dengan MHC-I dalam setiap

sel yang bernukleus. Untuk deferensiasi penuh, CD8 memerlukan sitokin

yang diproduksi CD4 Th dan kostimulator yang diekspresikan pada sel

terinfeksi. Bila sel terinfeksi adalah sel jaringan dan bukan APC, sel

terinfeksi dapat dimakan oleh APC professional seperti sel dendritik yang

selajutnya memproses antigen virus dan mempresentasikannya bersama

molekul MHC-I ke sel CD8 naif di KGB. Sel yang akhir berpoliferasi

secara masif yang kebanyakan merupakan sel spesifik untuk beberapa

peptida virus. Sel CD8 naif yang diaktifkan berdiferensiasi menjadi sel CTL

Resume “Imunologi Infeksi” Kel.VI


efektor yang dapat membunuh setiap sel bernukleus yang terinfeksi. Efek

antivirus utama CTL adalah membunuh sel terinfeksi.

Resume “Imunologi Infeksi” Kel.VI