Anda di halaman 1dari 3

Menjaga Integritas Komisioner | Badan Pengawas Pemilihan Umum http://www.bawaslu-dki.go.

id/05/11/2015/menjaga-integritas-komisioner/

Menjaga Integritas Komisioner


Oleh Burhanuddin - Kamis 5 Nov 2015 , 14:45

Sumber : Kompas

Hari pemungutan suara pemilihan kepala daerah serentak pada 9 Desember


2015 semakin dekat. Ditangan para penyelenggara pemilulah, lembaran-
lembaran halaman demokrasi lokal Indonesia akan ditulis: apakah dengan tinta
emas atau dengan tinta hitam legam ?.

Pilihan jalan lurus para penyelenggara pemilu ini menjadi makin penting
mengingat waktu pemungutan suara kian dekat. Apalagi, tahapan-tahapan
berikutnya : pemungutan suara, penghitungan suara, rekapitulasi dan
penetapan hasil pilkada menjadi jantung dari keseluruhan rangkaian tahapan
penyelenggaraan pilkada yang sudah berlangsung berbulan-bulan lalu – seperti
yang disampaikan oleh Hadar Nafis Gumay.

1 of 3 7/18/2017 10:15 PM
Menjaga Integritas Komisioner | Badan Pengawas Pemilihan Umum http://www.bawaslu-dki.go.id/05/11/2015/menjaga-integritas-komisioner/

Karena menjadi “jantung” proses yang tersisa ini sangat vital. Lantaran itu pula,
godaan bagi penyelenggara pemilu juga membesar. Nurhidayat Sardini (2015)
dalam Mekanisme Penyelesaian Pelanggaran Kode Etik Penyelenggara Pemilu
mencatat, setidaknya ada 13 modus pelanggaran kode etik penyelenggara
pemilu. Dari jumlah itu, sebagian modus itu terkait erat dengan “jantung”
pilkada, seperti manipulasi suara, penyuapan, kecurangan pemilihan, dan
ketidakcermatan bekerja.

Data dari DKPP, selama tahun 2015 sudah ada 154 aduan terkait dengan
pelaksanaan pilkada serentak 2015. Sumatera Utara menempati posisi tertinggi
dengan 29 aduan, Jawa Timur 14 aduan, Sumatera Barat 11 aduan, Papua Barat
9 aduan, serta Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah masing-masing 6 aduan.
Dari sisi kategori aduan, lima hal yang paling sering muncul ialah ketidaktelitian
(58 kasus), tidak memperbaiki kesalahan (31), perlakuan tidak sama (15),
pelanggaran hukum (10), dan penyuapan (5).

Komisioner DKPP, Anna Erliyana menuturkan, ada anggapan bahwa DKPP


seperti berperan sebagai pencabut “nyawa” komisioner. Karena itu, ia
menegaskan bahwa hal itu tidak benar. Kehadiran DKPP justru berperan
menjaga martabat dan wibawa lembaga penyelenggara pemilu agar tidak
tercoreng perilaku tak terpuji orang per orang. Tidak dalam semua kasus DKPP
memberhentikan penyelenggara pemilu. Bahkan, untuk penyelenggara pemilu
yang tidak bersalah, DKPP tampil sebagai pelindung. DKPP merehabilitasi nama
baik mereka dari tuduhan tak berdasar. Pemberhentian permanen dilakukan jika
tidak bisa lagi dibina.

Ketua KPU, Husni Kamil Manik mengingatkan para komisioner KPU daerah untuk
menjaga integritas individu dan lembaga. Ia mengaku bisa memahami tekanan
psikologi yang dihadapi para komisioner KPU di daerah sangat besar. Ini karena
mereka harus berinteraksi tiap hari dengan para pemangku kepentingan
pilkada, baik dengan pasangan calon maupun dengan pemerintah.

Persoalan integritas penyelenggara pemilu, seperti disampaikan Komisioner


Bawaslu RI, Nelson Simanjuntak, tidak terlepas dari peran penting kejujuran.
Sayangnya, hal itu yang masih kerap minus, penggelembungan suara tidak
lepas dari ketidakjujuran para pemangku kepentingan dalam pemilihan. Begitu
pula dengan munculnya politik uang. Sayangnya, hal itu seolah menjadi hal
biasa terjadi. “Oleh politisi, ini (politik uang) dianggap sesuatu yang halal saja.
Dalam penegakan demokrasi, tidak boleh terjadi itu, “katanya”.

2 of 3 7/18/2017 10:15 PM
Menjaga Integritas Komisioner | Badan Pengawas Pemilihan Umum http://www.bawaslu-dki.go.id/05/11/2015/menjaga-integritas-komisioner/

Sumber : Kompas, Kamis, 5 November 2015

Komentar
0

3 of 3 7/18/2017 10:15 PM