Anda di halaman 1dari 38

KATA PENGANTAR

( PREFACE )

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,


Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat dan anugerah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan
Fieldtrip Stratigrafi ini dengan baik dan tepat pada waktunya.
Laporan resmi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat untuk kelulusan
pada mata kuliah Stratigrafi di program studi Teknik Perminyakan Fakultas
TeknikUniversitas Islam Riau. Kemudian penulisan laporan ini merupakan wujud
pertanggung-jawaban penulis setelah melakukan kegiatan Fieldtrip Stratigrafi pada
kurikulum semester III Tahun Akademik 2017/2018.
Penulis juga mengucapkan terima kasih pada pihak – pihak yang telah
membantu dan mendukung dalam fieldtrip geologi dasar dan pembuatan laporan
ini.
Penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan dalam penulisan
laporan ini. Untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang
membangun. Penulis berharap,laporan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.
Akhirnya penulis mengucapkan terima kasih.
Wassalamualiakum Warrahmatullahi Wabarakatuh

Pekanbaru, Januari 2018


Penulis

Plug 3

1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Latar belakang diadakannya kuliah lapangan (fieltrip) Stratigrafi ini adalah
untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang materi – materi yang telah
di berikan dalam perkuliahan, sehingga di harapkan mahasiswa dapat
mengetahui dan memahami karakteristik suatu batuan, bentuk fisik serta proses
terjadinya.
Teori dasar yang diberikan di dalam perkuliahan pada umumnya bersifat
ideal sehingga lebih mudah dipahami dan di mengerti, dan perlu suatu
penelitian lebih lanjut dan secara langsung mengenai materi perkuliahan tentang
objek – objek petrologi, geologi struktur, dan geologi morfologi agar di
dapatkan pemahaman yang di harapkan. Penelitian secara langsung ini diapat
dilakukan melalui kuliah lapangan (fieldtrip) yang diadakan pada daerah
penelitian yang dilakukan. Selain itu penelitian dilapangan ini merupakan
penelitian yang sesungguhnya karena pada dasarnya sebuah teori terlahir karena
adanya penelitian dari alam, sehingga untuk membuktikan serta
membandingkan kebenaran dari hasil teori yang telah ada, maka kulliah
lapangan (fieldtrip) ini perlu dilakukan sehingga mahasiswa tidak hanya
memahami teori tetapi juga memahami dan mampu menganalisa dengan baik
apabila di hadapkan secara langsung di lapangan.

1.2 Tujuan
1. Menerapkan teori – teori tentang materi petrologi, geologi struktur, dan
geologi morfologi
2. Mendekripsikan batuan dengan mengamati unsur dari batuan secara
langsung
3. Menganalisa jenis batuan berdasarkan sifat dan karakteristiknya

2
BAB II
DASAR TEORI

2.1 DEFINISI
Batuan didefinisikan sebagai semua bahan yang menyusun kerak bumi dan
merupakan suatu agrerat (kumpulan) mineral-mineral yang telah menghablur.
Yang tidak termasuk batuan adalah tanah dan bahan lepas lainnya yang
merupakan hasil pelapukan kimia ataupun mekanis serta proses erosi dari
batuan.
Petrologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari batuan pembentuk
kulit bumi, yang mencakup mengenai cara terjadinya, komposisi, klasifikasi
batuan tersebut dan hubungannya dengan proses-proses dan sejarah geologinya.
Batuan sebagai agrerat mineral-mineral pembentuk kulit bumi secara genesa
dapat dikelompokkan dalam tiga jenis batuan, yaitu :
1. Batuan beku (igneosrock), adalah kumpulan interlocking agregat
mineral-mineral silikat hasil penghabluran magma yang mendingin (Walter
T Huang,l962).
2. Batuan sedimen (sedimentary rock), adalah batuan hasil lithifikasi
bahan rombakan batuan hasil denudasi atau hasil reaksi kimia maupun hasil
kegiatan organisme (Pettijohn,1964).
3. Batuan Metamorf (metamorphic rock), adalah batuan yang berasal dari
suatu batuan induk yang mengalami perubahan tekstur dan komposisi
mineral pada fasa padat sebagai akibat perubahan kondisi fisika (tekanan,
temperatur atau tekanan dan temperatur), (HGF WINKLER 1967, 1979)

3
2.2 BATUAN BEKU
Batuan beku adalah batuan yang terjadi dari pembekuan larutan silika cair
dan pijar, yang kita kenal dengan nama magma. Penggolongan batuan beku
dapat didasarkan kepada tiga patokan utama, yaitu berdasarkan genetic batuan,
berdasarkan senyawa kimia yang terkandung dan berdasarkan susunan
mineraloginya.
Pembagian yang berdasarkan genetik atau tempat terjadinya dari batuan
beku dapat dibagi atas :
a. Batuan ekstrusi, terdiri dari semua material yang dikeluarkan
kepermukaan bumi baik didaratan ataupun di bawah permukaan laut.
Material ini mendingin dengan cepat, ada yang berbentuk padat atau suatu
larutan yang kental dan panas biasa disebut lava.
b. Batuan intrusi, prases batuan ini sangat berbeda dengan kegiatan
batuan ekstrusi, dimana batuan ini sifatnya menerobos lapisan batuan yang
sebelumnya telah terbentuk. Tiga prinsip dari tipe bentuk intrusi batuan
beku berdasarkan bentuk dasar dan geometri adalah :
1) Bentuk tidak beraturan pada umumnya berbentuk discordan dan
biasanya memiliki bentuk yang jelas di permukaan (batholite dan
stock ).
2) Intrusi berbentuk tabular, mempunyai dua bentuk yang berbeda yaitu
yang mempunysi bentuk discordan (dike), dan yang berbentuk
concordaan ( sill dan lakolit),
3) Tipe ketiga dari tubuh intrusi relatif memiliki tubuh yang kecil.
Bentuk khas dari grup ini adalah intrusi silinder atau pipa, sebagian
besar sisa dari korok gunung api ( volcanic neck ).
Magma dapat membeku dibawah atau diatas permukaan bumi. Bila
membeku dibawah permukaan terbentuklah batuan beku dalam atau batuan beku
intrusif. Sering juga dikatakan sebagai batuan beku plutonik. Sedangkan bila
magma dapat mencapai permukaan bumi dan membeku, terbentuklah batuan
beku luar atau batuan beku ekstrusif.

4
2.2.1 Batuan Beku Dalam
Magma yang membeku di bawah permukaan, pendinginannya sangat
lambat (dapat sampai jutaan tahun), memungkinkan tumbuhya kristal-kristal
yang besar dan sempurna, menjadi tubuh batuan beku intrusif:
Tubuh batuan beku dalam mempunyai bentuk dan ukuran yang beragam,
karena magma dapat menguak batuan disekitarnya, atau menerobos melalui
rekahan. Pada gambar 3.1. terlihat diagram penampang tubuh-tubuh batuan
plutonik. Bentuk-bentuk yang memotong struktur batuan sekitarnya (diskordan)
adalah batolit, stock, dyke (korok) dan jenjang volkanik (volcanic neck).
Sedangkan bentuk yang sejajar dengan struktur batuan sekitarnya (konkordan)
adalah sill, lakolit dan lopolit.
Akibat proses geologi, baik gaya endogen, terangkat oleh gaya tektonik,
maupun gaya eksogen, lapisan batuan penutupnya tererosi, batuan beku dalam
meskipun terbentuk jauh di bawah permukaan bumi, dapat tersingkap di
permukaan bumi.
2.2.2 Batuan Beku Luar
Magma yang mencapai permukaan bumi melalui rekahan atau lubang
kepundan gunung api, sebagai erupsi, mendingin dengan cepat dan membeku
menjadi batuan beku luar. Keluarnya magma dipermukaan bumi melalui rekahan
dinamakan erupsi linier atau fissure eruption. Pada umumnya magma basaltik
yang viskositasnya rendah, sehingga dapat mengalir disekitar rekahan, menjadi
hamparan lava basalt, atau plateau basalt.
Sedangkan yang keluar melalui lubang kepundan dinamakan enupsi
sentral. Magma dapat mengalir melalui lereng, sebagai aliran lava atau
tersembur keatas bersama gas-gas sebagai piroklastik atau rempah gunung api.
Lava terdapat dalam berbagai bentuk dan jenis, tergantung pada komposisi
magmanya dan tempat atau lingkungan dimana pembekuannya terjadi. Apabila
membeku dibawah permukaan air terbentuklah lava bantal (pillow lava), sesuai
dengan namamnya, bentuktrya mirip dengan bantal.

5
Tekstur (teksture)
Secara umum batuan beku intrusif dan ekstrusif atau batuan beku
umumnya dapat dibedakan dari kenampakan bentuk, ukuran dan hubungan
kristal mineral-mineralrya atau disebut tekstur mineral. Beberapa tekstur batuan
beku yang umum adalah :
1. Gelas (glassy) - tidak berbutir atau tidak mempanyai kristal (amorf)
2. Afanitik (aphanitik) - (fine grain texture) berbutir sangat halus, butirnya
dapat dilihat dengan mikroskop.
3. Faneritik (phaneritic) - (coarse grain texture) berbutir cukup besar,
dapat dilihat tanpa mikroskop.
4. Porfiritik (porphyritic) - mempunyai dua ukuran kristal yang dominan.
5. Piroklastik (pyroclastic) - mempunyai fragmen material volkanik.

Tekstur gelas terjadi akibat magma membeku dengan cepat, akibatnya


tidak sempat mengkristal atau amorf, seperti obsidian. Afanitik (dari bahasa
Junani : phaneros yang berarti terlihat, dan a berarti tidak) dapat diartikan tidak
terlihat.
Batuan beku dengan tekstur ini memperlihatkan pembekuan yang cepat,
terdiri dari mineral-mineral dengan kristal yang sangat kecil. Di bawah
mikroskop dapat dikenali feldspar dan kwarsa. Misalnya bagian dalam aliran
lava.
Faneritik berarti dapat dilihat. Batuan dengan tekstur ini memperlihatkan
besar kristal yang hampir seragam dan saling mengunci (interlock). Bentuk
kristal yang besar-besar ini menyatakan bahwa pembekuannya berlangsung
sangat lama, yang berarci terjadi jauh dibaaah permukaan bumi Porfiritik:
beberapa batuan beku memperlihatkan dua ukuran kristal yang berbeda. Kristal
yang besar, bentuknya sempurna dinamakan fenokrist (phenocrysts), sedangkan
yang kecil-kecil disebut matriks atau massadasar (groundmass). Tekstur
semacam ini dinamakan tekstur porfiritik
Pyroklastik, dalam bahasa Junani pyro artinya api dan klastos adalah
pecah. Tekstur batuan dikatakan pyroklastik apabila pada batuan tersebut

6
terdapat butiran fenokris dan massa dasar, mirip dengan porfiritik. Namun
dibawah mikroskop terlihat bahwa butiran-butirannya lebih banyak pecah-pecah
dari pada kristal saling mengunci. Selain itu juga fragmennya bengkok, terpilin
dan terdeformasi. Tekstur ini terjadi akibat erupsi ledakan, dihembuskan
material berukuran debu keatas. Di udara terbentuk mineral dan gelas,
bercampur sebagai material yang panas. Bila diendapkan masih panas, maka
material-material ini saling merekat seperti di las satu dengan lainnya.

2.2.3 Klasifikasi Batuan Beku


Batuan beku sangat banyak jenisnya, pengelompokkan atau klasifikasi
sederhana didasarkan atas tekstur dan komposisi mineralnya. Keragaman tekstur
batuan beku diakibatkan oleh sejarah pendinginan magma, sedangkan komposisi
mineral bergantung pada unsur kimia magma dan lingkungan kristalisasinya.
Klasifikasi sederhana batuan beku yang umum adalah seperti pada tabel 3.1.
Felsik Intermediet Mafik Ultrmafik
(granitik) (Andesitik) (Basaltik)
Intrusif
Granit Diorit Gabro Peridotit
(faneritik)

Ekstrusif Ryolit Andesit Basalt -


(Afanitik)

Komposisi Kwarsa Hornblende Ca. feldspar Olivin


Mineral K. Felspar Na. feldspar Pyroksen Pyroksen
Na. Feldspar Ca. feldspar

Mineral Muskovit Biotit Olivin Ca. feldspar


tambahan Biotit Pyroksen Hornblende
Hornblende
Kadar SiO2 makin kecil dan warna batuan makin gelap kearah kanan

7
Tabel 3.1. Klasifikasi sederhana batuan beku berdasarkan tekstur dan
komposisi mineral

2.2.4 Batuan afanitik


Basalt adalah batuan yang khas bertekstur afanitik, berbutir sangat halus.
Biasanya berwarna gelap, terjadi dari pendinginan bagian dalam aliran lava.
Komposisi utamanya Ca-plagioklas dan piroksen, sedangkan olivin atau amfibol
hanya sedikit. Plagioklas terdapat sebagai kristal-kristal memanjang
mengelilingi olivin dan piroksen yang sama besarnya. Ada juga basalt yang
mempunyai kristal olivin atau piroksen yang besar-besar sebagai fenokrist
sehingga menjadikannya bertekstur porfiritik. Pada umumnya basalt
mengandung gelas sedikit terutama di dekat bagian atas aliran lava.
Andesit terdiri dari Na-plagioklas, piroksen dan amfibol. umumnya
mengandung kwarsa sedikit atau sama sekali tidak, mirip dengan diorit dan
porfiritik dengan feldspar dan mineral-mineral ferro dan magnesium sebagai
fenokrist. Andesit merupakan tipe lava yang banyak dijumpai setelah basalt dan
sering terdapat sepanjang batas benua atau di bagian dalam benua.
Riolit berkomposisi sama dengan granit, biasanya mengandung fenokrist
feldspar, kwarsa atau mika, tetapi belum dapat disebut porfiritik. Riolit
danandesit sukar dibedakan tanpa mikroskop, dan disatukan dalam kelompok
felsite (kelompok batuan bertekstur afanitik dan berwarna terang)

8
Tabel 3.2 Klasifikasi berdasarkan perbandingan mineral yang umum dalam
batuan beku. Batas antara tipe batuan tidak tegas, melainkan gradual (garis
putus-putus). Unrtuk mengetahui komposisi umum batuan, proyeksikan dari
garis putus kebawah dan perkirakan persentasi mineral pada tepikiri. (Skirmer,
1992).

2.2.5 Struktur batuan beku


Meskipun batuan beku tebentuk dari pembekuan magma, namun beberapa
batuan beku memperlihatkan adanya struktur, seperti blok lava, ropy lava, lava
bantal (pillow lava), struktur aliran dan struktur rekahan, serta vesikular dan
amigdaloidal. Blok lava, di Hawaii dikatakan lava aa, adalah aliran lava yang
permukaannya sangat kasar, merupakan bongkah-bongkah. Lava ropy,
dikatakan lava Pahoehoe di Hawaii, merupakan aliran lava yang permukaannya
halus dan berbentuk seperti pilinan tali. Bagian depannya membulat, bergaris
tengah sampai beberapa meter. Lava bantal, sesuai dengan namanya, aliran lava
ini bentuknya menyerupai bantal yang tumpang tindih. Sering dijumpai
bersamaan dengan batuan sedimen marin, sehingga disimpulkan terbentuk
dibawah permukaan air.
Struktur aliran, terlihat sebagai kesejajaran bentuk lensa-lensa kecil, garis-
garis dan goresan-goresan, yang diakibatkan oleh karena lava tidak homogen.
Struktur rekahan, merupakan rekahan-rekahan yang arahnya tegak lurus bidang
pendinginan, dan permukaannya segi enam berbentuk prisma, dinamakan kekar
kolom. Struktur vesikular terjadi akibat keluarnya gas-gas yang terlarut dalam
magma karena penurunan tekanan disekitarnya, atau setelah mencapai
permukaan bumi. Struktur ini terlihat sebagai serat-serat dalam lava.
Sedangkan struktur amigdaloid terjadi apabila rongga-rongga pelepasan
gas terisi oleh mineral sekunder, kalsit misalnya.

9
2.3 BATUAN SEDIMEN
Pengertian umum mengenai batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk
akibat lithifikasi bahan rombakan batuan asal, maupun hasil denudasi atau dari
hasil reaksi kimia maupun hasil kegiatan organisme.
Batuan sedimen banyak sekali jenisnya dan tersebar sangat luas dengan
ketebalan dari beberapa cm sampai beberapa km. Juga ukuran butirnya dari
sangat halus sampai sangat besar dan beberapa proses yang penting lagi yang
termasuk ke dalam batuan sedimen.
Material hasil rombakan batuan diatas permukaan bumi akibat proses-
proses eksogen, pelapukan dan erosi, merupakan material atau bahan yang
sifatnya urai. Terdiri dari fragmen batuan, mineral dan berbagai material lainnya
yang berasal dari atas permukaan bumi.
Material urai ini tertransport oleh air, angin dan gaya gravitasi ketempat
yang lebih rendah cekungan. dan diendapkan sebagai endapan atau sedimen
dibawah permukaan air. Sedimen yang terakumulasi tersebut mengalami proses
litifikasi atau proses pembentukan batuan. Proses yang berlangsung adalah
kompaksi dan sementasi, mengubah sedimen menjadi batuan sedimen. Setelah
menjadi batuan sifatnva berubah menjadi keras dan kompak.
Proses kompaksi pada umummya akibat beban sedimen yang ada
diatasnya. menyebabkan hubungan antar butir menjadi lebih lekat dan juga air
yang dikandung dalam pori-pori terperas keluar. Sementasi adalah proses
dimana butiran-butiran sedimen direkat oleh material lain yang terbentuk
kemudian. dapat berasal dari air tanah atau pelarutan mineral-mineral dalam
sedimen itu sendiri. Material semennya dapat merupakan karbonat. silika atau
oksida (besi).
Dibandingkan dengan batuan beku, batuan sedimen hanya merupakan
tutupan kecil dari kerak bumi. Batuan sedimen hanya merupakan 5% dari
seluruh batuan-batuan yang terdapat di kerak bumi. Dari jumlah 5% ini,
Hukum Pengendapan Pada saat sedimen diendapkan mengikuti hukum
alam, misalnya material yang berat akan terendapkan lebih dahulu dibandingkan
yang lebih ringan.

10
Kecepatan pengendapan material sedimen bergantung pada besar butirnya,
menurut hukum Stoke, v = C.rz cm/s, dimana v adalah kecepatan pengendapan,
C suatu konstanta dan r garis tengah butiran.
Pada pertengahan abad 17 Nicolas Steno memperhatikan bahwa sedimen
terkumpul oleh proses pengendapan melalui suatu medium, air atau angin.
Endapan ini membentuk lapisan-lapisan mendatar atau horizontal, yang tertua
berada dibawah dan yang termuda ada di atas. Berdasarkan pengamatannya ini,
pada tahun 1969 ia mencetuskan tiga prinsip dasar yang lebih dikenal dengan
Hukum Steno , tiga prinsip dasar tersebut adalah sebagai berikut :
1) Hukum super posisi, yang menyatakan bahwa dalam urutan batuan
yang belum mengalami perubahan (dalam keadaan normal), batuan yang tua
ada dibawah dan yang muda berada di atas.
2) Hukum horizontalitas, pada awalnya sedimen diendapkan sebagai
lapisan-lapisan mendatar. Apabila dijumpai lapisan yang miring, berarti
deformasi, terlipat atau tersesarkan.
3) Hukum kemenerusan lateral (lateral continuity), mengatakan bahwa
pengendapan lapisan batuan sedimen menyebar secara mendatar, sampai
menipis atau menghilang pada batas cekungan dimana ia diendapkan.
Ketiga prinsip dasar ini sangat membantu dalam mempelajari atau
menentukan urutan umur lapisan-lapisan batuan sedimen.
Material sedimen dapat berupa :
1. Fragmen dari batuan lain dan mineral-mineral, seperti kerikil di sungai.
pasir di pantai dan lumpur di laut.
2. Hasil penguapan dan proses kimia, garam di danau payau dan kalsium
karbonat di laut dangkal.
3. Material organik seperti terumbu koral di laut, vegetasi di rawa-rawa.

Dibandingkan batuan beku dan metamorf, batuan sedimen paling banyak


tersingkap diatas permukaan bumi, sebesar 75 % luas daratan.

11
3.3.1 Klasifikasi Batuan Sedimen
Oleh karena keragaman pembentukan (genesa), tekstur, komposisi dan
penampilan batuan sedimen, maka dasar klasifikasinyapun ada bermacam--
macam. Pengelompokan batuan sedimen yang ideal berdasarkan ukuran butir,
bentuk dan komposisi material pembentuknya.

3.3.2 Penggolongan Menurut RP.Koesoemasdinata


Penggolongan oleh R.P. Koesoemadinata, 1980, mengemukakan ada enam
golongan utama batuan sedimen yaitu:
1.) Golongan detritus kasar : batuan sedimen ini diendapkan dengan
proses mekanis. Termasuk dalam golongan ini antara lain Breksi,
Konglomerat dan Batupasir. Lingkungan tempat diendapkannya batuan ini
dapat di lingkungan sungai, danau atau laut.
2.) Golongan detritus halus : batuan yang termasuk golongan ini pada
umumnya diendapkan di lingkungan laut dari laut dangkal sampai laut
dalam. Termasuk golongan ini Batulanau, Serpih, Batulempung dan
Napal.
3.) Golongan Karbonat : batuan ini umum sekali terbentuk dari kumpulan
cangkang moluska, algae, foraminifera atau lainnya yang bercangkang
kapur. Jenis batuan karbonat ini banyak sekali jenisnya tergantung dari
material penyusunnya, mis : batugamping terumbu.
4.) Golongan Silika : proses terbentuknya batuan ini adalah gabungan
antara proses organik dan proses kimiawi untuk lebih
menyempurnakannya. Termasuk golongan ini Rijang (Chert), Radiolaria
dan tanah. diatom. Batuan golongan ini tersebarnya hanya sedikit dan
terbatas sekali.
5.) Golongan Evaporit : pada umumnya batuan ini terbentukdi
lingkungan danau atau laut yang tertutup, dan untuk terjadinya batuan
sedimen ini harus ada air yang memiliki larutan kimia yang cukup pekat.
Yang termasuk golongan ini adalah : Gipsum, Anhidrit, Batugaram, dll.

12
6.) Golungan Batubara : batuan sedimen ini terbentuk dari unsur-unsur
organik yaitu dari tumbuh-tumbuhan, dimana sewaktu tumbuhan tersebut
mati dengan cepat tertimbun oleh suatu lapisan yang tebal di atasnya
sehingga tidak memungkinkan untuk terJadinya pelapukan. Lingkungan
terbentuknya batubara adalah khusus sekali.

3.3.3 Penggolongan (pengelompokan) secara genetis (Pettijohn, 1975 dan


W.T.Huang, 1962):
Pengelompokan Secara genetis dalam batuan sedimen adalah dua
kelompok besarf yaitu :
A. Batuan sedimen klastik, terbentuk dari fragmen-fragmen batuan lain.
B. Batuan sedimen nonklastik, atau kimiawi dan organik terbentuk oleh
proses kimia atau proses biologi.

2.4 BATUAN SEDIMEN KLASTIK


Batuan sedimen klasiik atau disebut juga batuan sedimen detritus,
dikelompokkan berdasarkan ukuran butir komponen materialnya. Untuk itu
diperlukan satu acuan besar butir, dan telah dibuat oleh Wentworth, dikenal
sebagai skala Wentworth:

Boulder 256 mm
Cobble 64 - 256 mm
Pebble 4 - 64 mm
Granule 2 - 4 mm
Sand 1/16 - 2 mm
Silt 1/256 - 1/16 mm
Clay <_ 1/256 mm

Boulder dan Cobble dapat diartikan sebagai bongkah, pebble sama dengan
kerakal, granule seukuran dengan kerikil, sand sama dengan pasir, sedangkan
silt dan clay adalah lempung.

13
Batuan sedimen yang terbentuk dari pengendapan kembali detritus atau
pecahan batuan asal. Batuan asal dapat berupa batuan beku, metamorf dan
sedimen. Fragmentasi batuan asal tersebut dimula dari pelapukan mekanis
(disintegrasi) maupun secara kimiawi (dekomposisi), kemudian tererosi dan
tertransportasi menuju suatu cekungan pengendapan.
Setelah pengendapan berlangsung, sedimen mulai mengalami diagenesa,
yakni proses perubahan-perubahan yang berlangsung pada temperatur rendah di
dalam suatu sedimen, selama dan sesudah lithifikasi terjadi (W.T. Huang, 1962).
Lithifikasi ini merupakan proses yang mengubah suatu sedimen menjadi batuan
keras. Yang masuk dalam proses diagenesa adalah :
1.) Kampaksi sedimen : yaitu termampatnya butir sedimen satu terhadap
yang lain akibat tekanan dari berat beban diatasnya. Disini volume
sedimen berkurang dan hubungan antar butir yang satu dengan yang
lainnya menjadi rapat.
2.) Sementasi : yaitu turunnya material-material diruang antar butir
sedimen dan secara kimiawi mengikat butir-butir sedimen satu dengan
yang lain. Sementasi makin efektif biia derajat keiurusan larutan
(permeabilitas relatif) pada ruang antar butir makin besar.
3.) Rekristalisasi : yaitu pengkristalan kembali suatu mineral dari suatu
larutan kimia yang berasal dari pelarutan material sedimen selama
diagenesa atau jauh sebelumnya. Rekristalisasi sangat umum terjadi pada
pembentukan batuan karbonat.
4.) Autigenesis : yaitu terbentuknya mineral baru dilingkungan diagenetik,
sehingga adanya mineral tersebut merupakan partikel baru dalam suatu
sedimen. Mineral autigenik ini yang umum diketahui sebagai berikut:
karbonat, silika, klorit, illite, gipsum dan lain-lain.
5.) Metasomatisme : yaitu pergantian mineral sedimen oleh berbagai
mineral autigenik, tanpa pengurangan volume asal. Contohnya
dolomitisasi, sehingga dapat merusak bentuk suatu batuan karbonat atau
fosil.

14
Batuan sedimen klastik terdiri dari butiran-butiran. Butiran yang besar
disebut fragmen dan "diikat" oleh massa butiran-butiran yang lebih halus,
matriks. Batuan sedimen klastik yang dikelompokkan berdasarkan besar butir
materialnya, sebagai konglomerat, batupasir, serpih dan batu lempung. Jenis dari
batuan sedimen klastik diantaranya adalah :
1.) Konglomerat mempunyai fragmen berukuran bongkah yang
bentuknya membulat. Apabila fragmennya memudut (tidak membulat)
dinamakan breksi (Gambar 4.1 A dan B). Konglomerat atau breksi yang
fragmennya terdiri berbagai macam dinamakan konglomerat atau
breksi polimik. Sedangkan yang terdiri dari hanya satu macam disebut
monomik.
2.) Batu pasir terdiri dari material yang berukuran pasir (1/16 sampai 2
mm).
3.) Serpih, mempunyai besar butir lebih kecil dari pasir (1/16 sampai
1/256 mm).
4.) Batu lempung berbutir sangat halus, lebih kecil dari 1/16 mm. Pada
umumnya untuk menelitinya tidak dapat dipergunakan mikroskop biasa,
tetapi dengan mikroskop elektron yang mempunyai daya perbesaran
sangat tinggi.

Gambar 4.2. Konglomerat (A) dan Breksi (B).

15
2.5 PEMERIAN BATUAN SEDIMEN KLASTIK
Pemerian batuan sedimen klastik terutama didasarkan pada tekstur, kom-
posisi mineral dan stuktur.
A. Tekstur
Tekstur adalah suatu kenampakkan yang berhubungan dengan ukuran dan
bentuk butir serta susunannya (PettiJohn, 1975). Butiran tersusun dan terikat
oleh semen dan masih adanya rongga diantara butirnya. Pembentukannya
dikontrol oleh media dan cara transportasinya (Jackson, 1970; Reineck dan
Singh, 1975). Pembahasan tekstur meliputi :
1). Ukurun Butir (Grain Size)
Pemerian ukuran butir didasarkan pada skala Wentworth,1922, adalah
sebagai berikut :
Besar butir
NAMA BUTIR
(mm)
Bongkah (boulder) 256
Brangkal (couble) 256-64
Krakal (pebble) 64- 4
Pasir sgt. kasar (very coarse sand) 4-2
Pasir kasar (coarse sand) 2-1
Pasir sedang (medium sand) 1-1/2
Pasir halus (fine sand) 1/2-1/4
Pasir sgt. halus (very fine sand) 1/4-1/8
Lanau (silt) 1/16-1/256
Lempung (clay) 1/256
Tabel 4.1. Skala Wentworth
2). Pemilahan (sorting)
Pemilahan adalah keseragaman dari ukuran besar butir penyusun batuan
sedimen, artinya bila semakin seragam ukurannya dan besar butirnya maka
pemilahan semakin baik.

16
Dalam pemilahan dipakai batasan-batasan sebagai berikut:
o Pemilahan baik (well sorted)
o Pemilahan sedang (moderate sorted) o Pemilahan buruk (poorly sorted)

3). Kebundaran (roundness)


Kebundaran adalah nilai membulat atau meruncingnya butiran dimana
sifat ini hanya bisa diamati pada batuan sedimen klastik kasar. Kebundaran
dapat dilihat dari bentuk batuan yang terdapat dalam batuan tersebut.
Terdapat banyak sekali variasi dari bentuk batuan, akan tetapi untuk
mudahnya dipakai perbandingan sebagai berikut:
1.)Wellrounded (sangat membundar) :
Semua permukaan konveks, hampir equidimensional, sferoidal.
2.)Rounded (membundar) :
Pada umumnya permukaan-permukaan bundar, ujung-ujung dan tepi-
tepi butiran bundar.
3.)Sub rounded (membundar tanggung) :
Permukaan umumnya datar dengan ujung yang membundar.
4.)Sub angular (menyudut tanggung) :
Permukaan pada umumnya datar dengan ujung-ujungnya tajam.
5.)Angular (menyudut):
Permukaan konkaf dengan ujungnya yang tajam

a. pemilahan baik ; b. pemilahan sedang ; c. pemilahan buruk


Gambar 4.3 Pemilahan Pada Batuan Sedimen

17
A) Menyudut ; B) Menyudut Tanggung; C) Membulat Tanggung
D) Membulat E) Sangat Membulat
Gambar 4.4. Derajat pembundaran

4). Kemas (Fabric)


Didalam batuan sedimen klastik dikenal dua macam kemas, yaitu :
- Kemas Terbuka
Butiran tidak saling bersentuhan (mengambang didalam matrik).
- Kemas Tertutup
Butiran saling bersentuhan satu sama lainnya.

B . Struktur Sedimen
Struktur sedimen merupakan suatu kelainan dari perlapisan normal dari
batuan sedimen yang diakibatkan oleh proses pengendapan dan keadaan
energi pembentuknya. Pembentukkanya dapat terjadi pada waktu pe-
ngendapan maupun segera setelah proses pengendapan/primary
sedimentary structure (Pettijohn & Potter, 1964; Kusumadinata, 1981).
Dengan kata lain, struktur sedimen adalah kenampakan batuan sedimen
dalam dimensi lebih besar. Studi struktur paling baik dilakukan di lapangan
(PETTIJOHN, 1975).
Berdasarkan asalnya struktur sedimen yang terbentuk dapat dikelompok-
kan menjadi tiga buah, yaitu :
Struktur sedimen primer
Terbentuk karena proses sedimentasi dengan demikian dapat merefleksikan
mekanisasi pengendapannya. Antara lain: perlapisan, gelembur gelombang,
perlapisan silang siur, konvolut, perlapisan bersusun dll.

18
Struktur sedimen sekunder
Terbentuk sesudah sedimentasi, sebelum atau pada waktu diagenesa. Juga
merefleksikan keadaan lingkungan pengendapan misalnya keadaan dasar,
lereng dan lingkungan organisnya. Antara lain: cetak beban, rekah kerut,
jejak binatang dll.
Struktur organik
Struktur yang terbentuk oleh kegiatan organisme seperti molusca, cacing
atau binatang lainnya. Antara lain: kerangka, laminasi pertumbuhan dll.

C. Struktur Sedimen Primer


Struktur batuan sedimen struktur primer tidak banyak yang dapat dilihat
dari contoh-contoh batuan di laboratorium. Macam-macam struktur batuan
sedimen yang penting antara lain adalah struktur perlapisan dimana struktur
ini merupakan sifat utama dari batuan sedimen klastik yang menghasilkan
bidang-bidang sejajar sebagai hasil dari proses pengendapan.
I. Faktor-faktor yang mempengaruhi kenampakan adanya struktur
perlapisan.
a) Adanya perbedaan warna mineral
b) Adanya perbedaan ukuran besar butir
c) Adanya perbedaan komposisi mineral
d) Adanya perubahan macam batuan
e) Adanya perubahan struktur sedimen
f) Adanya Perbedaan Kekompakan.

II. Macam-macam Perlapisan a). Masif


Bila tidak menunjukkan struktur dalam (Pettijohn & Potter,1964 atau
ketebalan lebih dari 120 cm (Mc.Kee & Weir, 1953).
b). Perlapisan sejajar
Bila bidang perlapisan saling sejajar.
c). Laminasi
Perlapisan sejajar yang ukurannya/ketebalannya lebih kecil dari 1 cm.

19
Terbentuk dari suspensi tanpa energi mekanis.
d). Perlapisan pilihan
Bila perlapisan disusun atas butiran yang berubah teratur dari halus ke
kasar pada arah vertikal, terbentuk dari arus pekat.
e). Perlapisan silang- siur
Perlapisan yang membentuk sudut terhadap bidang lapisan yang berada
diatas atau dibawahnya dan dipisahkan oleh bidang erosi, terbentuk akibat
intensitas arus yang berubah-ubah.
Pada Bidang Perlapisan
Terbentuknya dapat oleh akibat penggerusan, pembebanan atau oleh
penguapan. Macam-macamnya yang penting :
1. Gelembur gelombang
Terbentuknya sebagai akibat pergerakan air atau angin
2. Rekah kerut
Rekahan pada permukaan bidang perlapisan sebagai akibat proses
penguapan.
3. Cetak suling
Cetakan sebagai akibat penggerusan media terhadap batuan dasar.
4. Cetak beban
Cetakan beban akibat pembebanan pada sedimen yang masih plastis.
5. Bekas jejak organisme
Bekas rayapan, rangka, maupun tempat berhenti binatang.
Selain itu Mc. Kee & Weir, 1953, secara kuantitatif memerikan perlapisan
sebagai berikut :

Penggolongan lapisan menurut ketebalan (Mc.Kee & Weir, 1953)


Ketebalan (cm) Penamaan

120 Lapisan sangat tebal


60 Lapisan Tebal

5 Lapisan tipis
1 Lapisan sangat tipis

20
0,2 Laminasi
< 0,2 Laminasi tipis

C. KOMPOSISI MINERAL
Komposisi mineral dari batuan sedimen klastik dapat dibedakan yaitu :
1). FRAGMEN
Fragmen adalah bagian butiran yang ukurannya paling besar dan dapat
berupa pecahan-pecahan batuan , mineral, dan cangkang-cangkang fosil atau zat
organik lainnya.
2). MATRIK
Matrik adalah bagian butiran yang ukurannya lebih kecil dari fragmen
dan terletak diantara fragmen sebagai massa dasar. Matrik dapat juga berupa
batuan, mineral, atau fosil.
3). SEMEN
Semen bukan butir, tetapi material pengisi rongga antar butir dan bahan
pengikat diantara fragmen dan matrik. Biasanya dalam bentuk amorf atau
kristalin. Bahan-bahan semen yang lazim adalah :

1. semen karbonat (kalsit, dolomit)


2. semen silika (kalsedon, kwarsa )
3. semen oksida besi (limonit, hematit, siderit)

Gambar 4.6. Sebuah batuan sedimen yang memperlihatkan susunan dari


matrik, semen,pori dan butiran

21
2.6 BATUAN SEDIMEN NON KLASTIK
Batuan sedimen yang terbentuk dari hasil reaksi kimia atau bisa juga dari
hasil kegiatan organisme. Reaksi kimia yang dimaksud adalah kristalisasi
langsung atau reaksi organik (penggaraman unsur-unsur laut, pertumbuhan
kristal dari agregat kristal yang terpresipitasi dan replacement). Lihat juga
klasifikasi diskriptif oleh Pettijohn, 1975, Folk, 1954, Shepard, 1954.
Batuan sedimen nonklastik yang banyak dijumpai adalah batu gamping
atau limestone. Terdiri terutama dari mineral kalsium karbonat, CaCO, yang
terjadi akibat proses kimia dan atau organik. Kalsium karbonat di ambil oleh
organisme dari air dimana ia hidup untuk membuat cangkangnya atau bagian
yang keras. Setelah organismenya mati tertinggal cangkangnya atau bagian yang
kerasnya dan terkumpul didasar laut. Lama kelamaan membentuk endapan batu-
gamping yang terdiri dari cangkang dan pecahan-pecahannya. Tebalnya sampai
ratusan meter dan beberapa kilometer persegi luasnya. Dalam air yang tenang,
terendapkan kalsium karbont dengan kristal-kristal berbentuk jarum, beralaskan
lumpur karbonat. Endapan ini setelah mengalami kompaksi mengkristai kembali
menjadi batugamping mikro kristalin, dengan kristal-kristal sangat halus, yang
hanya dapat di lihat dengan mikroskop dengan perbesaran sangat tinggi.
Selain batugamping, dijumpai juga endapan garam dan Gypsum, keduanva
merupakan hasil penguapan. Garam terdiri dari mineral halit, komposisinya
NaCl, dan Gypsum berkomposisi CaSO4.2HZ0. Keduanya terdapat sebagai
lapisan-- lapisan pada tempat yang terbatas.

A. PEMERIAN BATUAN SEDIMEN NON KLASTIK


Pemerian batuan sedimen non klastik didasarkan pada :
1). Tekstur
Tekstur dibedakan menjadi dua macam :

Batugamping : kalsit, dolomit

Chert : kalsedon

22
Gipsum : mineral gipsum

Anhidrit : mineral anhidrit

B. PEMERIAN BATUAN KARBONAT


Batuan karbonat adalah batuan sedimen dengan kumposisi yang
dominan (lebih dari 5O%) terdiri dari mineral-mineral atau garam-garam
karbonat, yang dalam prakteknya secara umum melipuci batugamping dan
dolomit. Proses pembentukanaya dapat terjadi secara insitu berasal dari
larutan yang mengalami proses kimia maupun biokimia dimana organisme
turut berperan, dapat terjadi dapat terjadi dari butiran rombakan yang
mengalami transportasi secara mekanik dan diendapkan di tempat lain dan
dapat pula terjadi akibat proses diagenesa batuan karbonat yang lain.
Seluruh proses tersebut berlangsung pada lingkungan air laut, jadi praktis
bebas dari detritus asal darat

C. Pemerian Batugamping Klastik


Sistimatika diskripsi pada hakekatnya sama dengan sedimen klastik,
yaitu meliputi tekstur, komposisi mineral dan struktur.
1. Tekstur
Sama dengan pemerian pada batuan sedimen klastik, hanya berbeda istilahnya
saja, meliputi :

Nama Butir Ukuran Butir (mm)

Rudite 1

Arenit 0,062

23
Merupakan fragmen yang tersusun oleh kerangka atau butiran-butiran
klastik dari hasil abrasi batugamping yang sebelumnya ada. Macam-macam
Allochem :
- Kerangka organisme(skeletal) : merupakan fragmen yang tcrdiri alas
cangkang-cangkang binatang atau kerangka hasil pertumbuhan.
- Interclast : merupakan fragmen yang terdiri atas butiran-butiran dari hasil
abrasi batugamping yang sebelumnya telah ada.
- Pisolit :merupakan butiran-butiran oolit dengan ukuran lebih besar dari 2
mm.-
- Pellet: merupakan fragmen yang menyerupai oolit tetapi tidak
menunjukkan adanya struktur konsentris.
B. Mikrit :
Merupakan agregat halus berukuran 1-4 mikron, merupakan kristal-
kristal karbonat yang terbentuk secara biokimia atau kimiawi langsung dari
presipitasi air laut dan mengisi rongga antar butir.
C. Sparit
Merupakan semen yang mengisi ruang antar butir dan rekahan,
berukuran butir halus (0,02-0,1 mm), dapat terbentuk langsung dari sedimen
secara insitu atau dari rekristalisasi mikrit.

24
BAB III
METODE PENELITIAN

A Metode orientasi lapangan (Field Orientation)


Prinsip pada metode Orientasi Lapangan ini adalah dengan cara
memplot Lokasi Pengamatan/singkapan (stasiun) berdasarkan pada
orientasi terhadap sungai, Puncak-puncak bukit/gunung, Kota, Desa, dll.
Titik patokan yang digunakan dalam dalam metode ini adalah daerah yang
dikenal di lapangan dan berada pada peta dasar (Topografi).

B Metode lintasan kompas (Kompas Traverse)


Prinsip pada metode lapangan ini adalah dengan cara menentukan
lintasan sebelumnya dengan control arah kompas sesuai rencana lintasan.

C Metode pita ukur dan kompas (Tape and Compass Traverse)


Alat yang digunakan dalam metode ini adalah kompas dan pita ukur
atau skala geologi (biasanya berukuran 5-50 m). Pada metode ini, arah
lintasan dapat ditentukan sesuai dengan keinginan pemeta, sehingga
dianggap merupakan metode lapangan yang paling teliti, efektif dan efisien.

Peralatan yang digunakan


1. Kompas geologi

25
Kompas yang digunakan adalah kompas Brunton dan Sunton.
Kmpas tersebut berguna untuk menunjukkan arah, mengukur strike/dip,
mengeplot lokasi, dan kemiringan lintasan.

2. Peta topografi
Peta dasar atau potret udara yang digunakan untuk mengetahui
gambaran secara garis besar daerah yang akan kita selidiki, sehingga
memudahkan penelitian lapangan baik morfologi, litologi, struktur, Dll.
Selain itu peta dasar digunakan untuk menentukan lokasi dan pengeplotan
data, umumnya yang digunakan adalah peta topografi/kontur.

3. Palu batuan beku

Palu batuan neku yaitu alat yang digunakan untuk mengambil sampel
batuan. Palu batuan berbentuk runcing ini umumnya dipakai untuk batuan
yang keras seperti batuan beku dan metamorf.

4. Palu batuan sedimen

26
Bentuk palu ini hampir sama dengan palu batuan beku namun yang
membedakan hanyalah ujungnya yang datar seperti pahat, umumnya
digunakan untuk batuan yang berlapis (batuan sedimen) dan mengambil
fosil.

5. Lup

Lup atau kaca pembesar dalam hal ini digunakan untuk membantu
peneliti menentukan lapisan-lapisan batuantipis dan kurang bisa amati
secara visual.

6. Komparator

Komparator digunakan untuk membantu dalam deskripsi batuan,


misalnya komparator butir, pemilahan (sorting), atau presentase komposisi

27
mineral, maupun tabel-tabel determinasi batuan beku, sedimen, dan
metamorf.

7. Alat ukur
Alat ukur ini digunakan mengukur bidang dan ketebalan suatu
lapisan batuan.

8. Larutan HCL

Larutan HCL digunakan untuk menguji jenis sementasi pada batuan


sedimen, dimana jenis semetasi pada batuan tersebut diantaranya: karbonat,
silika dan oksida besi. Dimana untuk menentukan jenis sementasi pada
batuan sedimen dengan cara menenteskan larutan HCL pada sampel
kemuadian amati apakah setelah ditetesi menimbulkan buih, jika
menimbulkna buih berarti jenis sementasinya adalah karbonat, karena
karbonat akan bereaksi dengan HCL. Namun jika tidak berbuih kita lihat
dari warna sementasinya, jika berwarna seperti besi berkarat maka ia
merupakan oksida besi, dan selain itu merupakan silika.

9. Kantong Sample
Kantong sampel digunakan untuk mengumpulkan sampel yang telah
di ambil dari daerah yang dikunjungi.

28
10. Kamera

Dalam fieldtrip ini, kamera digunakan untuk mengambil gambar


sample batuan atau mineral dengan berada disekeliling tempat
ditemukannya batuan atau mineral sebagai bukti dilaksanakannnya
praktikum.

11. Tas Ransel

29
Tas ransel digunakan untuk membawa alat-alat yang akan
digunakan untuk proses kunjungan lapangan/kuliah lapangan.

12. Alat Tulis

Alat tulis untuk mencatat apa yang penting dari kunjungan lapangan/
kuliah lapangan. Adapun lat tulis yang di pakai yaitu :
1. Papan sandang
2. Spidol
3. Kertas HVS
4. Pulpen
Langkah Kerja:
1. Setelah sampai dilapagan peserta field trip membuat sketsa singkapan
disertai pengukuran panjang serta tebalnyaa(tinggi suatu lapisan) kemudian
memfoto dari jarak jauh.
2. Kemudian pengambilan sampel disertai pengambilan data penting
dilapangan seperti bentuk batuan, lapisan batuan, warna batuan, dll.
Kemudian foto sampel.

30
BAB IV
HASIL DAN PENGAMATAN

4.1.1 Stasion 1

Hari/Tanggal/Jam/Cuaca : Sabtu/ 13 Januari 2018/ 08:30 WIB/ Berawan

Station ke/ Alamat : 1/ Mesjid Rantau Berangin

Nama Batuan : Batuan Konglomerat

Pada stasiun pertama dari hasil analisa yang dilakukan, batuan yang terdapat
pada spot tersebut tergolong kedalam batuan konglomerat. Hal ini dikarenakan
terdapat fragmen berukuran bongkah yang bentuknya membulat. Apabila
fragmennya menyudut (tidak membulat) dinamakan breksi. Konglomerat atau
breksi yang fragmennya terdiri berbagai macam dinamakan konglomerat atau
breksi polimik. Sedangkan yang terdiri dari hanya satu macam disebut monomik.
Materi penyusun batuan tersebut terdiri dari butiran matriks yang rounded dan
semen dari batuan tersebut tergolong kedalam semen silica, hal ini karena proses
terbentuknya batuan ini adalah gabungan antara proses organik dan proses kimiawi
untuk lebih menyempurnakannya. Termasuk golongan Rijang (Chert), Radiolaria
dan tanah diatom. Batuan golongan ini tersebarnya hanya sedikit dan terbatas sekali

31
batuan yang ditetesi HCl tidak memiliki warna. Ciri dan klasifikasi batuan ini pun
digolongkon ke dalam batuan meta sedimen.

4.1. 2 Stasion 2

Hari/Tanggal/Jam/Cuaca : Sabtu/ 13 Januari 2018/ 09:45/Berawan

Station ke/ Alamat : 2/ ± 50 m dari PLTA 1 Kampar

Nama Batuan : Batuan Meta Sedimen

Pada stasion 2 dari hasil analisa yang digunakan, dapat terlihat batuan tersebut
memiliki sesar akan tetapi sesar tersebut belum diketahui apakah sesar tersebut
sesar naik, sesar turun, sesar mendatar. Secara fisik batuan nya terlihat seperti batu
pasir. Kemudian di spot ke 2 ini ditemukan batuan sedimen pada tebing tersebut,
sedimen bermetamerfosa (Meta sedimen). Dan batuan nya memiliki struktur
massive.

4.1.3 Stasion 3

Hari/ Tanggal/Jam/Cuaca : Sabtu/ 13 Februari 2018/ 10:50/ Berawan

Stasiun ke/ Alamat : 3/Jalan Lintas Bangkinang – Payakumbuh

Nama Batuan : Batuan Sinklin dan Antiklin

32
Pada stasion 3 dari hasil analisa dapat terlihat perbedaan jenis batuan sinklin
dan antiklin, perbedaan batuan ini dikarenakan tenaga endogen bumi. Antiklin
adalah punggung lipatan yaitu unsur struktur lipatan dengan bentuk yang cembung
atau konveks keatas. Sedangan sinklin adalah lembah lipatan yaitu lipatan yang
cekung atau concave keatas menuju kesuatu arah dan saling mendekat (bentuk
concave dengan cekungannya mengarah keaatas). Pada spot ini juga dapat
ditemukan sesar naik.

4.1.4 Stasion 4

Hari/Tanggal/Jam/Cuaca : Sabtu/ 4 Februari 2017/ 12:40/Berawan

Station ke/ Alamat : 4/ Kelok Indah, Perbatasan Riau - Sumbar

Nama Batuan : Batuan Sand, yang teformasikan Sihapas

33
Pada station ke 4, dapat terlihat batuan sand yang memiliki formasi sihapas.
Formasi sihapas adalah suatu formasi batuan lapisan reservoir yang bergerak naik.

Kemudian pada gambar diatas ( masih di station 4 ) dapat ditemukan


ketidakselarasan. Ketidakselarasan adalah hubungan yang tidak normal antara suatu
lapisan batuan satu dengan yang lain.

34
4.1. 5 Stasion 5

Hari/ Tangga/Jam/Cuaca : Sabtu/ 13 Februari 2018/ 13:30/ Cerah Berawan

Stasiun ke/ Alamat : 5/ Pangkalan Koto Baru, Kab. Lima Puluh Kota,
Sumatera Barat

Nama Batuan : Batuan Beku Andesit

Batuan beku adalah batuan yang terjadi dari pembekuan larutan silika cair
dan pijar, yang kita kenal dengan nama magma. Penggolongan batuan beku dapat
didasarkan kepada tiga patokan utama, yaitu berdasarkan genetic batuan,
berdasarkan senyawa kimia yang terkandung dan berdasarkan susunan
mineraloginya. Andesit adalah nama salah satu batuan beku ekstrusif yang tersusun
atas butiran mineral yang halus atau fine grained. Batuan beku ekstrusif ini biasanya
ringan dan berwarna abu-abu gelap. Pada stasion 5, dapat terlihat struktur columnar
joint. Kemudian banyak terlihat crack, lalu mineral yang terlihat berwarna putih yg
artinya dominan kuarsa.

35
4.1. 6 Stasion 6

Hari/ Tangga/Jam/Cuaca : Minggu/ 14 Februari 2017/ 09:20/ Cerah

Stasiun ke/ Alamat : 6/ Goa Kamang

Nama Batuan : Batuan Dolomite

Goa Kamang adalah salah satu goa yang masih aktif proses stalaktit dan
stalagmitnya. Pada goa ini, stalaktit dan stalakmitnya mengalami proses dolomisasi.
Pada umumnya, batuan pada goa ini mengandung karbonat, dengan material
karbonat nya 50% yang tersusun oleh materila karbonat klastik yang tersemenkan.
Sementara pada bagian dalam, banyak dijumpai batuan yang masih berproses
stalaktit dan stalagmit. Kalau menjelajah lebih dalam, kita dapat menemukan
stalaktit dan stalagmit yang menyatu.

4.1 3 Stasion 7

Hari/ Tangga/Jam/Cuaca : Minggu/ 14 Februari 2017/ 17:15/ Cerah

Stasiun ke/ Alamat : 7/ Lembah Harau

Nama Batuan : Batu Granit

36
Di lembah harau, kita dapat melihat tebing – tebing granit yang terjal yang
sangat tinggi. Di sini juga dapat terlihat graben, yaitu patahan yang naik turun.
Kemudian hal yang menarik disini adalah air terjun yang awalnya merupakan
sebuah sungai di atas tebing, kemudian terjadi patahan sehingga terbentuknya air
terjun yang masih ada sampai sekarang.

37
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari hasil perkuliahan lapangan yang telah dilakukan pada tanggal 4 – 5
februari 2017 dapat disimpulkan bahwa petrologi merupakan ilmu yang
mempelajari tentang batuan, asal mula kejadiannya, struktur dan tekstur,
klasifikasi atau pengelompokan berbagai macam batuan yang terdapat diatas
permukaan bumi. Dimana dalam pelaksanaan kuliah lapangan ini hanya
ditemukan batuan beku dan sedimen, namun terdapat batuan beku yang hampir
menjadi batuan metamorf tapi belum sampai pada batuan metamorf. Dimana
batuan beku terbentuk karena proses diferensiasi magma yang terdiri atas
berbagai jenis batuan tergantung pada komposisi mineralnya. Dan batuan
sedimen adalah batuan hasil pengendapan baik yang berasal dari hasil
sedimentasi mekanis(hasil rombakan batuan asal), sedimentasi kimiawi(hasil
akumulasi organik). Dan kita juga mempelajari, mengetahui jenis batuan dan
klasifikasi batuan dengan megaskopik.

B. Saran
1. Waktu pada saat dilapangan seharusnya lebih di kauratkan agar peserta lebih
efisien menggunakan waktu yang telah di berikan
2. Seharusnya panitia menyediakan rundown kegiatan agar peserta fieldtrip
dapat mengetahui batas – batas waktu

38