Anda di halaman 1dari 18

TUGAS MAKALAH

MODUL 1
“PREPARASI DAN RESTORASI KAVITAS”

Oleh
AGUNG PUTRA SAKTI
BP. 1411412011

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2017
MODUL 1
PREPARASI DAN RESTORASI KAVITAS
Skenario :

Bagusnya tambalan apa ya?


Ika (17 tahun) datang ke praktek dokter gigi untuk menambal gigi insisivus
lateral kanan atasnya berlubang dan terasa ngilu saat minum dingin. Hasil
pemeriksaan, dokter gigi menemukan karies klas III yang cukup besar pada gigi 12
dan karies klas I pada gigi 11. Dokter gigi menjelaskan pada Ika sebelum ditambal
gigi tersebut akan dibersihkan dahulu dan lubangnya dibentuk sebelum ditambal. Ika
takut karena lubang giginya akan bertambah besar.
Ika tertarik melihat gigi artis dibuatkan veneer dan bertanya kepada dokter
gigi jika ingin dibuatkan veneer giginya juga akan dibur?
Bagaimana saudara menjelaskan kasus yang dihadapi Ika?

TERMINOLOGI :
1. Preparasi : Tahapan yang dilakukan untuk menghilangkan jaringan gigi
yang rusak karena karies dan nantinya akan dibuat tumpatan
agar mendapat kembali bentuk anatominya
2. Restorasi : Tahapan pekerjaan dimana bahan tambalan dimasukkan
kedalam kavitas gigi yang sudah dipreparasi
3. Karies klas III : Karies yang terletak di bagian aproksimal gigi anterior
namun belum mencapai insical edge
4. Karies klas I : Karies yang terletak dibagian oklusal pada gigi posterior
atau pada bagian palatal/lingual gigi anterior
5. Veneer : Jenis restorasi gigi yang melapisi gigi untuk tujuan estetik

RUMUSAN MASALAH
1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan karies.
2. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan prinsip preparasi kavitas.
3. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan bahan bahan restorasi gigi.
4. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan veneer gigi.
TINJAUAN PUSTAKA

1. Karies Gigi
Karies gigi adalah penyakit kronis jaringan keras gigi yang prosesnya lama, berupa
hilangnya ion-ion mineral secara kronis dan terus menerus pada permukaan email dan
mahkota atau permukaan akar gigi yang disebabkan oleh bakteri dan produk produk
yang dihasilkannya.1,2
A. Faktor penyebab terjadinya karies
1. Faktor Host (Tuan Rumah)1,2,3
Ada beberapa hal yang dihubungkan dengan gigi sebagai tuan rumah terhadap
karies gigi(ukuran dan bentuk gigi), struktur enamel (email), faktor kimia dan
kristalografis, saliva.Kawasan-kawasan yang mudah diserang karies adalah pit dan
fisure pada permukaan oklusal dan premolar. Permukaan gigi yang kasar juga dapat
menyebabkan plak yang mudah melekat dan membantu perkembangan karies gigi.
Kepadatan kristal enamel sangat menentukan kelarutan enamel. Semakin
banyak enamelmengandung mineral maka kristal enamel semakin padat dan enamel
akan semakin resisten. Gigi susu lebih mudah terserang karies dari pada gigi tetap,
hal ini dikarenakan gigi susu lebih banyak mengandung bahan organik dan air dari
pada mineral, dan secara kristalografis mineral dari gigi tetap lebih padat bila
dibandingkan dengan gigi susu. Alasan mengapa susunan kristal dan mineralisasi gigi
susu kurang adalah pembentukan maupun mineralisasi gigi susu terjadi dalam kurun
waktu 1 tahun sedangkan pembentukan dan mineralisasi gigi tetap 7-8 tahun.
Saliva mampu meremineralisasikan karies yang masih dini karena banyak
sekali mengandung ion kalsium dan fosfat. Kemampuan saliva dalam melakukan
remineralisasi meningkat jika ada ion fluor. Selain mempengaruhi komposisi
mikroorganisme di dalam plak, saliva juga mempengaruhi pH.
2. Faktor Agent (Mikroorganisme)1,2,3
Plak gigi memegang peranan penting dalam menyebabkan terjadinya karies.
Plak adalah suatu lapisan lunak yang terdiri atas kumpulan mikroorganisme yang
berkembang biak di atas suatu matriks yang terbentuk dan melekat erat pada
permukaan gigi yang tidak dibersihkan.
Komposisi mikroorganisme dalam plak berbeda-beda, pada awal pembentukan plak,
kokus gram positif merupakan jenis yang paling banyak dijumpai seperti
Streptococcus mutans, Streptococcus sanguis, Streptococcus mitis, Streptococcus
salivarus, serta beberapa strain lainnya, selain itu dijumpai juga Lactobacillus dan
beberapa beberapa spesies Actinomyces. Plak bakteri ini dapat setebal beratus-ratus
bakteri sehingga tampak sebagai lapisan putih. Secara histometris plak terdiri dari
70% sel-sel bakteri dan 30% materi interseluler yang pada pokoknya berasal dari
bakteri.
3. Pengaruh Substrat atau Diet1,2,3
Faktor subtrat atau diet dapat mempengaruhi pembentukan plak karena
membantu perkembangbiakan dan kolonisasi mikroorganisme yang ada pada
permukaan enamel. Selain itu, dapat mempengaruhi metabolisme bakteri dalam plak
dengan menyediakan bahan-bahan yang diperlukan untuk memproduksi asam serta
bahan lain yang aktif yang menyababkan timbulnya karies. Dibutuhkan waktu
minimum tertentu bagi plak dan karbohidrat yang menempel pada gigi untuk
membentuk asam dan mampu mengakibatkan demineralisasi email. Karbohidrat ini
menyediakan substrat untuk pembuatan asam bagi bakteri dan sintesa polisakarida
ekstra sel.
Orang yang banyak mengkonsumsi karbohidrat terutama sukrosa cenderung
mengalami kerusakan gigi, sebaliknya pada orang dengan diet banyak mengandung
lemak dan protein hanya sedikit atau sama sekali tidak memliki karies gigi. Hal ini
dikarenakan adanya pembentukan ekstraseluler matriks (dekstran) yang dihasilkan
karbohidrat dari pemecahan sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa. Glukosa ini
dengan bantuan Streptococcus mutans membentuk dekstran yang merupakan matriks
yang melekatkan bakteri pada enamel gigi. Oleh karena itu sukrosa merupakan gula
yang paling kariogenik (makanan yang dapat memicu timbulnya kerusakan/karies
gigi atau makanan yang kaya akan gula).
Makanan dan minuman yang mengandung gula akan menurunkan pH plak
dengan cepat sampai pada level yang dapat menyebabkan demineralisasi email. Plak
akan tetap bersifat asam selama beberapa waktu. Untuk kembali ke pH normal sekitar
7, dibutuhkan waktu 30-60 menit. Oleh karena itu, konsumsi gula yang sering dan
berulang-ulang akan tetap menahan pH plak di bawah normal dan menyebabkan
demineralisasi email.
4. Faktor Waktu1,2,3
Secara umum, karies dianggap sebagai penyakit kronis pada manusia yang
berkembang dalam waktu beberapa bulan atau tahun. Adanya kemampuan saliva
untuk mendepositkan kembali mineral selama berlangsungnya proses karies,
menandakan bahwa proses karies tersebut terdiri atas perusakan dan perbaikan yang
silih berganti. Adanya saliva di dalam lingkungan gigi mengakibatkan karies tidak
menghancurkan gigi dalam hitungan hari atau minggu, melainkan dalam bulan atau
tahun.

B. Patofisiologi terjadinya karies


Sisa sisa makanan yang menempel di permukaan gigi dan tidak dibersihkan
dengan baik akan difermentasi menjadi asam laktat oleh bakteri yang
menghasilkan proses asam dan menurunkan pH Gigi. Sehingga proses
demineralisasi gigi akan semakin cepat dan menyebabkan kerusakan pada
email gigi. Kerusakan ini awalnya hanya terlihat secara mikroskopis, namun
lama kelamaan akan tampak pada email berupa lesi bercak putih (white spot
lesion) yang jika dibiarkan maka akan muncul lubang sehingga bakteri dapat
masuk ke struktur organik gigi. Bakteri mendapatkan makanan dari
protoplasma berupa protein, dan hasil dari pencernaan bahan tersebut akan
tinggal suatu massa lunak berwarna kecoklatan sampai kehitam-hitaman.2
A. Klasifikasi Karies
1. Berdasarkan kedalaman karies2
 Karies Superfisialis
Adalah karies yang baru mengenai enamel saja, sedang dentin belum terkena.

Gambar 1.1 Karies Superfisial


 Karies Media
Adalah karies yang telah mencapai dentin tapi belum melebihi setengah
dentin.

Gambar 1.2 Karies Media


 Karies Profunda
Adalah karies yang telah mengenai lebih dari setengah dentin dan kadang-
kadang sudah mengenai pulpa.

Gambar 1.3 Karies Profunda


B. Berdasarkan lokasi kavitas menurut G.V Black1,2
1. Kelas 1: Kavitas pada semua pit dan fissure gigi, terutama pada premolar dan
molar.
2. Kelas 2: Kavitas pada permukaan approksimal gigi posterior. Dapat
digolongkan sebagai kavitas MO (mesio-oklusal), DO
(disto-oklusal) dan MOD (mesio-oklusal-distal).
3. Kelas 3: Kavitas pada permukaan approksimal gigi- gigi anterior
4. Kelas 4: Kavitas sama dengan kelas 3 tetapi meluas sampai pada sudut insisal
5. Kelas 5: kavitas pada bagian sepertiga gingival permukaan bukal atau
lingual,lesi lebih dominan timbul dipermukaan yang menghadap ke bibir/pipi dari
pada lidah. Selain mengenai email,juga dapat mengenai sementum.
6. Kelas 6: Terjadi pada ujung gigi posterior dan ujung edge insisal incisive.
Biasanya pembentukkan yang tidak sempurna pada ujung tonjol/edge incisal
rentan terhadap karies.
Gambar 1.4 Klasifikasi G.V Black

C. Klasifikasi menurut Mount dan Hume.4


a. berdasarkan site (lokasi):
- site 1 : karies terletak pada pit dan fissure
- site 2 : karies terletak di titik kontak gigi(proksimal) baik anterior maupun
posterior
- site 3 : karies terletak di daerah servikal, termasuk enamel/ permukaan
akar yang terbuka
b. berdasarkan ukuran (size)
jika lesi bercak putih (white spot) berkembang menjadi kavitas sehingga
menghancurkan mahkota gigi. Kavitas tersebut diklasifikasikan menjadi :
- Size 0 : Lesi dini
- Size 1 : Kavitas minimal, karies mengenai lapisan email dengan
keterlibatan dentin yang minimal dan masih dapat dilakukan perawatan
remineralisasi
- Size 2 : Kavitas sedang, karies mencapai dentin. Akan tetapi masih
terdapat struktur gigi yang cukup untuk menyangga restorasi yang akan
ditempatkan
- Size 3 : Kavitas besar, karies mengenai sebagian besar dentin dan hampir
mencapai pulpa, sehingga preparasi kavitas diperluas agar restorasi
dapat digunakan untuk melindungi struktur gigi yang tersisa
- Size 4 : Sudah terjadi kehilangan sebagian besar struktur gigi seperti
cusp atau sudut insisal, karies telah mengenai pulpa
2. Prinsip Preparasi Kavitas
Setiap mengerjakan suatu preparasi kavitas selalu harus mengikuti pedoman
dasar yang merupakan tahapan prinsip preparasi kavitas sehingga hasil preparasi akan
baik dan sempurna. Prinsip preparasi kavitas tesebut terdiri atas2 :
1. Out line form (bentuk perluasan)
Adalah batas terluar antara jaringan karies dengan jaringan gigi yang sehat.
Pekerjaan yang dilakukan pada tahap ini adalah melebarkan kavitas sampai email
yang sehat dan juga melibatkan pit dan fissure, perlu diingat bahwa jangan sampai
dinding email yang tersisa terlalu tipis agar pinggiran kavitas dan pinggiran
tumpatan tahan terhadap beban kunyah. Tindakan melebarkan kavitas ditujukan
agar mencegah kerusakan lebih lanjut. Outline form tidak boleh tajam tetapi
membulat, dan pinggiran harus berada di daerah self-cleansing

Gambar 1.5 Outline form


2. Resistance form (bentuk resistensi)
Membentuk kavitas agar restorasi maupun gingiva sendiri tidak pecah atau tahan
terhadap tekanan pengunyahan. Pekerjaan pada tingkat ini adakah memakai bur fisur.
Dasar kavitas harus rata dan tegak lurus terhadap tekanan kunyah, umumnya tegak
lurus dengan sumbu panjang gigi. Dinding email harus dilapisi dengan dentin yang
sehat dan pinggiran kavitas tidak boleh terletak pada bagian yang menerima tekanan
kunyah yang besar. Bentuk resistance form dapat berupa preparasi boks

Gambar 1.6 Preparasi berbentuk box


3. Retension form (bentuk retensi)
Membentuk kavitas agar restorasi tidak bergerak dan tidak mudah lepas. Macam-
macam retensi anatara lain :
a. Under cut

Gambar 1.7 Retensi Undercut


b. Dove tail

Gambar 1.8 Retensi Dove Tail


c. Pin hole

Gambar 1.9 Retensi Pin hole


d. Micropit
Retensi micropit adalah retensi yang didapat dari proses etsa asam pada
prosedur tumpatan resin komposit.
4. Convenience form
Bentuk kavitas yang memudahkan pemasukan atau insersi atau pemasangan bahan
restorasi.

3. Bahan Bahan Restorasi Gigi

A. Amalgam

Amalgam merupakan campuran merkuri dengan paduan logam (alloy) perak, timah ,
tembaga dan seng.2

Indikasi penggunaan amalgam :

- Restorasi pada gigi dengan tekanan oklusal yang besar

- Restorasi yang tidak memerlukan estetik contohnya pada gigi posterior

Kontraindikasi penggunaan amalgam :

- Pasien yang sensitif terhadap material logam

- Restorasi gigi yang memerlukan estetik, contohnya gigi anterior.

- Karies yang luas dan melibatkan cusp

- Gigi antagonis direstorasi dengan logam yang tidak sejenis

 Kelebihan dan Kekurangan Amalgam2

Kelebihan :

- Kuat, tahan lama dan tahan terhadap tekanan kunyah

- Risiko terjadinya kebocoran sangat kecil

- Teknik pengaplikasian yang simple

- Biaya relatif lebih murah daripada jenis tambalan lain


Kekurangan

- Secara estetis kurang baik karena warnanya yang kontras dengan warna gigi

- Pada beberapa kasus ditemukan tepi tambalan yang berbatasan langsung


dengan gigi menyebabkan perubahan warna pada gigi sehingga tampak
membayang kehitaman

- Material logam yang digunakan menyebabkan pasien terkadang


mengeluhkan adanya rasa sensitif terhadap panas atau dingin

- Hingga saat ini masih terdapat perdebatan mengenai efek toxic dan reaksi
alergi tubuh dari merkuri yang terkandung di dalam amalgam.

- Membutuhkan banyak pengambilang jaringan gigi sehat sehingga cenderung


melemahkan struktur gigi yang tersisa

Prosedur Penambalan2

 Kavitas dipreparasi dengan memperhatikan resistance form, retention form


dan convenience form

 Setelah kavitas dipreparasi, masuk ke tahap basis dimana kavitas dibersihkan


dengan air (akuades) kemudian dikeringkan. Jika pembuangan karies
mengakibatkan lantai kavitas dekat sekali dengan pulpa maka perlu diberi
bahan pelapik seperti semen seng fosfat

 Tahap triturasi. Yaitu tahap pencampuran bubuk amalgam dengan merkuri.


Ada 2 cara yaitu secara manual (dengan tangan) menggunakan mortar dan
pestle dan secara mekanik menggunakan amalgamator. Triturasi
menggunakan amalgamator lebih dianjurkan karena akan menghasilkan
campuran yang lebih baik. Hasil pencampuran ada 3 macam, yaitu :
1. Under mixed yaitu massa keabu-abuan, agak kering, dan rapuh sekali,
mengakibatkan kesulitan saat kondensasi dan pembentukan anatomi

2. Normal mixed yaitu massa campuran kelihatan halus dan mengkilap serta
tidak lengket pada mortar

3. Over mixed yaitu massa campuran melekat pada dinding mortar dan tidak
dapat diambil dengan mudah, amalgam terlalu plastis sehingga sulit
dikondensasi

 Campuran amalgam dimasukkan kedalam pistol amalgam lalu dimasukkan


kedalam kavitas dengan tekanan.

 Tahap kondensasi, yaitu pemadatan amalgam ke dalam kavitas agar tercapai


kepadatan maksimal. Kondensasi juga bertujuan untuk melepaskan kelebihan
merkuri dari amalgam

 Sisa material dibersihkan dan tumpatan dibentuk sesuai anatomi dan


kemudian dipoles

B. RESIN KOMPOSIT

Resin komposit merupakan bahan yang paling banyak digunakan untuk


menggantikan struktur gigi yang hilang serta memodifikasi warna dan kontur gigi
untuk keperluan estetik. Resin komposit terdiri dari matriks resin dan bahan pengisi.
Pada perkembangannya bahan resin komposit modern mengandung sejumlah
komponen untuk mendapatkan sifat sifat yang lebih baik sebagai bahan tumpatan.5

Indikasi Penggunaan Resin Komposit5

- Restorasi yang memerlukan estetik

- Sebagai pit amd fissure sealant pada restorasi resin preventif

Kontraindikasi Penggunaan Resin Komposit6

- Tekanan oklusal yang besar


- Pasien yang memiliki alergi terhadap bahan komposit

- Pasien denan insidensi karies yan tinggi

 Kelebihan dan Kekurangan Resin Komposit5

Kelebihan:

- Biokompatibel

- Sewarna dengan gigi

- Sifat fisik dan mekanik yang cukup baik

- Preparasi dan restorasi dapat dilakukan dalam sekali kunjungan

Kekurangan :

- Dalam waktu pemakaian yang lama dapat menimbulkan perubahan warna

- Keausan permukaan oklusal yang signifikan

- Biaya relatif mahal

Prosedur Penambalan5

1. Kavitas dipreparasi sesuai outline form, resistance form, retention form, dan
convenience form

2. Penentuan warna komposit yang sesuai dengan warna gigi dengan shade
guide dengan memperhatikan faktor metamerism.

3. Area diisolasi dari cairan rongga mulut menggunakan cotton roll

4. Kemudian dilakukan tahap pengetsaan utk mendapatkan retensi mikro,


dimana etsa berbentuk gel diaplikasikan pada kavitas. Permukaan yang dietsa
tidak boleh terkontaminasi cairan mulut
5. Selanjutnya aplikasi adhesif bonding sebagai perlekatan bahan komposit pada
gigi. Lalu tahap selanjutnya yaitu insersi bahan komposit

6. Selanjutnya dilakukan aktivasi menggunakan sinar UV selama kurang lebih


20 detik

7. Finishing meliputi shaping, contouring, dan polishing dapat dilakukan segera


setelah komposit telah berpolimerisasi atau sekitar 3 menit setelah pengerasan
awal

GLASS IONOMER CEMENT (GIC)

GIC adalah kombinasi dari glass powder dengan asam ionomer. Bahan ini dapat
melepaskan fluor sehingga dapat menghilangkan sensitivitas dan timbulnya karies4

Indikasi pemakaian GIC :

- Sebagai lutin agent atau bahan perekat, dikarenakan bahan ini berikatan
dengan baik secara kimiawi dengan dentin dan email

- Sebagai base liner pada tambalan amalgam dan juga pada tambalan
komposit klas I,II,III dan IV

- Sebagai bahan perekat pada pemakaian orthodontic brackets, dengan adanya


pelepasan fluor maka akan mencegah timbulnya white spot disekitar bracket

- Restorasi gigi susu

Kontraindikasi pemakaian GIC :

- Restorasi pada gigi yang menerima tekanan oklusal yang besar

- Restorasi yang membutuhkan estetik, dikarenakan warna dari GIC lebih


opaque sehingga terlihat jelas perbedaan warna tambalan dengan gigi

 Kelebihan dan Kekurangan GIC


Kelebihan :

- Melekat dengan baik ke struktur gigi melalui ikatan kimiawi

- Dapat melepaskan fluor yang berperan menghilangkan sensitivitas dan


mencegah timbulnya karies sekunder

- Biokompatibilitas baik

Kekurangan :

- Kekuatannya lebih rendah sehingga tidak dianjurkan untuk gigi posterior


yang menerima beban kunyah yang besar

- Warna tambalan lebih opaque

- Lebih mudah aus dibandingkan bahan tambalan yang lain

Prosedur penambalan2

1. Preparasi kavitas sesuai outline form, resistance form, retention form dan
convenience form

2. Isolasi daerah kerja

3. Pengadukan bubuk GIC dengan liquidnya dengan perbandingan


powder:cairan = 3:1. Lakukan pengadukan hingga didapat konsistensi adonan
yang kental dan berkilat

4. Semen diinsersikan ke dalam kavitas gigi

5. Setelah itu bersihkan kelebihan semen dan lakukan contouring sesuai bentuk
anatomi gigi

6. Finishing dan polishing


4. Veneer Gigi

Veneer adalah sebuah bahan pelapis yang sewarna dengan gigi yang
diaplikasikan pada sebagian atau seluruh permukaan gigi yang mengalami kerusakan
atau pewarnaan intrinsik. Bahan yang digunakan untuk pembuatan veneer dapat dari
resin komposit, keramik atau porselen.6
Terdapat dua tipe veneer, antara lain :
1. Direct veneer
Pelapisan gigi dilakukan langsung pada gigi pasien. Biasanya menggunakan
bahan resin komposit. Direct veneer terbagi 2 tipe :
a. Partial veneer
Partial veneer diindikasikan untuk restorsai permukaan gigi yang
mengalami perubahan warna secara intrinsik, dan kerusakan yang
terlokalisir. Pembuatan partial veneer dilakukan secara direct (langsung
diaplikasikan pada pasien).6
b. Full veneer
Full veneer untuk restorasi yang memerlukan pelapisan permukaan fasial
secara luas atau untuk area yang mengalami staining intrinsik pada
permukaan fasial. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum
pemasangan full veneer, yaitu: usia pasien, oklusi, kondisi kesehatan
jaringan sekitarnya, letak dan posisi gigi, serta kebersihan rongga mulut
pasien.6
2. Indirect Veneer

Veneer yang memerlukan kerjasam antara dokter gigi dengan tekniker


laboratorium kedokteran gigi sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama
dalam pembuatannya. Biasanya teknik ini menggunakan bahan resin
komposit, porselen dan keramik. Teknik ini memiliki keunggulan dari segi
estetik, perlekatan pada gigi yang lebih baik dengan bantuan bahan adhesif,
dan juga dapat bertahan lebih lama dibanding direct veneer terutama jika
terbuat dari bahan porselen.6
Kegunaan Veneer6 :

1. Mengkoreksi diastema pada gigi anterior

2. Mengkoreksi gigi yang mengalami diskolorisasi

3. Mengkoreksi gigi yang fraktur

4. Mengkoreksi gigi yang mengalami anomali bentuk gigi


DAFTAR PUSTAKA

1. Fejerskov O, Kidd E. Dental Caries The Disease and its Clinical Management
2nd edition. Blackwell Munksgaard Ltd.2008;1-84, 93-100

2. Deynilisa S. Ilmu Konservasi Gigi. Penerbit Buku Kedokteran EGC.2013. p

3. Summit JB, Robbins JW, Hilton TJ, Schwartz RS. Fundamentals of Operative
Dentistry 3rd edition. Quintessence Publishing. 2006

4. Mount G.J, Hume W.R. Preservation and Restoration of Tooth Structure.


Mosby. 2005

5. Anusavice KJ. Philip’s Science of Dental Material eleventh edition. Elsevier.


2003.p: 401-540

6. Ferdinandha G. Restorasi Estetik dan Perbaikan Posisi Gigi Dengan Veneer.


Majalah Ilmu Kedokteran Gigi. 2011; p 51-55