Anda di halaman 1dari 6

TUGAS FILSAFAT

Oleh :

Athaya Hafizhah
17420007

Dosen Pembimbing :
R.Agung Efriyo Hadi, Ph.D

PROGRAM PENDIDIKAN PASCA SARJANA


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS MALAHAYATI
BANDAR LAMPUNG
2017
Latar Belakang
Setiap tahun diperkirakan delapan juta bayi lahir mati atau meninggal pada bulan
pertama dari kehidupannya. Sebagian besar dari kematian ini terjadi di negara berkembang.
Dari tujuh juta bayi yang meninggal setiap tahun, kira-kira dua pertiga meninggal pada bulan
pertama dari kehidupannya. Angka statistik yang mengejutkan ini mengundang perhatian
terhadap masalah kesehatan bayi baru lahir di negara berkembang, termasuk di Indonesia.
Angka kematian neonatal di Indonesia tahun 1997 adalah sebesar 25 per 1000 kelahiran
hidup (KH).
Kematian bayi baru lahir disebabkan berbagai hal yang saling berkaitan antara faktor
medis, faktor sosial, dan kegagalan sistem yang banyak dipengaruhi oleh keadaan dan kultur.
Dalam banyak hal, kesehatan bayi baru lahir berkaitan erat dengan kesehatan ibu. Pada
dasarnya, kematian ibu, janin, dan neonatal di negara berkembang biasanya sering terjadi di
rumah, pada saat persalinan atau awal masa neonatal, tanpa pertolongan dari tenaga
kesehatan, terdapat keterlambatan akses untuk menerima perawatan yang berkualitas, dan
sebagainya.
Walaupun diagnosis penyebab kematian ibu dan neonatal berbeda, namun penyebab
yang mendasari kematian keduanya hampir sama, yaitu ketidakmampuan memperoleh akses
perawatan ibu dan bayi baru lahir serta status sosial ibu yang rendah. Kehadiran tenaga
kesehatan (sebagai penolong atau pendamping) pada waktu persalinan berkaitan dengan
kejadian kematian ibu dan bayi baru lahir yang rendah.
Di Indonesia, program kesehatan bayi baru lahir tercakup di dalam program kesehatan
ibu. Dalam rencana strategi nasional Making Pregnancy Safer, target dari dampak kesehatan
untuk bayi baru lahir adalah menurunkan angka kematian neonatal menjadi 15 per 1000
kelahiran hidup. Survei Demografi Kesehatan Indonesia 2002 memuat variabel mengenai
kesehatan bayi baru lahir, perawatan kehamilan dari ibu bayi, serta riwayat kelahiran, yang
dapat memberikan informasi mengenai faktor-faktor yang melatarbelakangi kematian
neonatal.

1. Perumusan Masalah
“Peran Faktor Sosio Ekonomi dan Biologi terhadap Kematian Neonatal di Indonesia”
2. Kerangka Berpikir

a. Indikator sosio ekonomi dan biologi

Faktor sosiodemografi

tempat tinggal

pendidikan ibu

tingkat pendapatan keluarga

b. Indikator kematian neonatal


• usia saat bersalin
• jumlah kelahiran
status • jarak kelahiran dengan anak sebelumnya
kesehatan
ibu • gangguan kesehatan ketika hamil
• gangguan penglihatan siang hari
• gangguan penglihatan malam hari

• tenaga pemeriksa
• tempat periksa
perawatan • frekuensi ANC
selama • kualitas ANC
kehamilan • mules <9 bulan
& • perdarahan
komplikasi • demam tinggi
• eklampsia
• upaya mengatasi komplikasi
• penolong persalinan
• tempat melahirkan
perawatan • mules kuat > sehari semalam
selama
• perdarahan
persalinan &
komplikasi • demam tinggi dan lendir berbau
• kejang
• persalinan dengan operasi caesar

• berat badan lahir


perawatan • waktu pemeriksaan neonatal
bayi baru
lahir • tenaga pemeriksaan neonatal
• tempat pemeriksaan neonatal
3. Hipotesis
Semakin baik faktor sosio ekonomi dan biologi semakin rendah resiko kematian
neonatal.

4. Pengujian hipotesis
Analisis akan dilakukan secara deskriptif untuk melihat prevalensi kematian
neonatal yang berkaitan dengan karakteristik sosiodemografi, status kesehatan ibu
ketika hamil, perawatan kehamilan, persalinan, perawatan postpartum, dan
selanjutnya analisis bivariat. Rasio Odds akan digunakan untuk menentukan
determinan dari kematian neonatal. Analisis dengan model regresi logistik dilakukan
dengan mula-mula menentukan determinan potensial melalui pengujian regresi
logistik bivariat dengan nilai p<0,25 yang selanjutnya semua determinan potensial
dengan nilai p<0,25 diikutsertakan dalam model dan dilakukan pengujian regresi
logistik dengan nilai p<0,05.

5. Penarikan kesimpulan
Kunci keselamatan bayi melewati masa neonatal adalah status kesehatan ibu yang
baik dan terbebas komplikasi ketika hamil.
Ulasan Topik Deduktif / Induktif

Penelitian membuktikan stent tidak lebih baik daripada obat oral untuk
terapi stabil angina
Penulis : Dr Nor Anisa Hanan
https://today.mims.com/stent-tidak-lebih-baik-daripada-obat-oral-untuk-stable-
angina?channel=gn-local-news-id

Sejak pertama kali diumumkan oleh Puel dan Sigwart di tahun 1986, stent jantung
dianggap sebagai terapi standar untuk nyeri dada koroner – bahkan hingga sekarang. Namun,
menurut David Epstein dari ProPublica, terdapat epidemi pemberian terapi yang tidak perlu –
salah satunya adalah pemasangan stent pada pasien stabil angina.
Stent konon dapat meringankan penderitaan pasien angina, dan mengurangi risiko
serangan jantung yang mungkin berakibat fatal. Namun, banyak penelitian menyimpulkan
bahwa intervensi ini sebenarnya tidak diperlukan. Sebuah penelitian di tahun
2007 menunjukkan bahwa stabil angina dapat dikendalikan dengan pengobatan oral, dan stent
tidak terbukti bisa memperpanjang umur atau mengurangi risiko penyakit. Sebaliknya, malah
meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke yang merupakan efek samping prosedur
stent.
Sebuah penelitian yang baru-baru ini dilakukan oleh Imperial College
Londonmenemukan "tidak ada bukti dari uji acak tertutup dan plasebo terkontrol yang
membuktikan bahwa stent lebih efektif daripada obat minum pada demografi yang sama.
Penelitian tersebut menguji efikasi stent pada 200 pasien penyakit jantung yang semuanya
memiliki satu arteri tersumbat, dengan nyeri dada yang membatasi aktivitas sehari-hari –
terutama saat berolahraga.
Selama enam minggu, semua subjek distabilkan dengan anti-koagulan, obat tekanan
darah dan pereda nyeri untuk nyeri dada yang dialami. Kemudian secara acak dilakukan
prosedur, dimana hanya setengah yang dipasang stent asli sementara sisanya menjalani
prosedur palsu, yaitu kateter yang diikat tanpa penyisipan stent. Enam minggu kemudian,
pasien dievaluasi dengan tes treadmill. Tidak ada perbedaan yang signifikan dalam jumlah
olahraga yang dapat dilakukan kedua kelompok dan tidak ada perbedaan bermakna pada
nyeri dada. Apa yang ditunjukkan oleh penelitian ini "adalah bahwa stent memang
memberikan efikasi dan tidak merugikan – tapi tidak lebih efektif” daripada obat oral dalam
meredakan nyeri dada atau peningkatan kapasitas olahraga jangka pendek, tegas Indu
Poornima, Ketua medis Allegheny Health Network kardiologi nuklir, yang bukan bagian dari
penelitian ini. Serupa dengan penelitian tahun 2007, bukti baru ini mempertanyakan apakah
prosedur stent ‘perlu’ dilakukan jika hasilnya tidak signifikan. "Hal ini masih menjadi
kontroversi. Tidak ada penelitian yang menunjukkan stent lebih baik daripada obat minum
dalam mengurangi risiko kematian atau serangan jantung pada pasien dengan penyakit arteri
koroner stabil," tambah Poornima.
Dr Steven Nissen, ketua Departemen Pengobatan Kardiovaskular di Cleveland Clinic,
mengatakan ada masa ketika stent terus dipasang mengingat efikasinya dalam dunia medis –
"reaksi spontan". "Tapi masa itu berangsur-angsur hilang. Dokter yang bijaksana harusnya
memberitahu semua pilihan yang ada dan memberikan terapi pengobatan terbaik. Bila Anda
melakukan itu, jumlah pasien yang benar-benar memerlukan stent akan berkurang," tegas Dr
Nissen. Evaluasi komprehensif harus dilakukan. Dalam kebanyakan kasus, pasien dapat
ditangani dengan memulai pengobatan oral terlebih dahulu, namun jika pasien memang tidak
bisa mentoleransi obat, maka stent baru diberikan sebagai pilihan terapi.
Dr Nissen juga menunjukkan bahwa hasil penelitian tersebut masih diperdebatkan
karena uji treadmill yang digunakan untuk menganalisis pengaruh stent tersebut "cukup
subjektif". "Seseorang bisa saja berhenti berlari di atas treadmill karena berbagai alasan, tidak
semua karena mengalami nyeri dada," ungkap Nissen. Ia juga menyarankan untuk dilakukan
penelitian lebih mendalam dengan ukuran sampel lebih besar agar dapat menentukan efikasi
stent pada pasien jantung dengan hasil yang lebih bisa dipercaya.
Dalam beberapa tahun terakhir, muncul alternatif baru yaitu resorbable stent (stent
yang bisa larut secara alami), yang berarti bahan pembentuk stent akan hilang setelah jangka
waktu tertentu. Secara teori, ini berarti komplikasi yang berhubungan dengan stent
tradisional, seperti pengerasan arteri, penggumpalan darah, pembengkakan dan bahkan
restenosis (penyempitan ulang pembuluh darah) akan berkurang secara signifikan. Beberapa
perusahaan, terutama di Amerika Serikat, sudah menggunakan stent baru ini – namun,
hasilnya masih didiskusikan dan diamati secara berkelanjutan. MIMS

Ulasan

Berdasarkan uraian topik di atas dapat disimpulkan bahwa topik tersebut termasuk kedalam
jenis topik deduktif. Pada topik di atas kalimat utama atau ide pokok terletak di paragraf
pertama, sedangkan paragraf ke 2 sampai dengan paragraf ke 7 merupakan kalimat penjelas.
 Pada paragraf pertama penulis menyatakan ide pokok nya bahwa pemasangan stent
pada pasien stabil angina merupakan pemberian terapi yang tidak diperlukan.
 Paragraf 2 penulis membahas efek pemasangan stent.
 Paragraf 3-4 penulis membahas penelitian uji efikasi stent pada pasien penyakit
jantung dievaluasi dengan treadmill.
 Paragraf 5-6 penulis membahas stent sebagai pilihan terapi jika pasien mengalami
intoleransi obat oral dan uji treadmill bersifat subjektif untuk menganalisis pengaruh
stent
 Paragraf 7 penulis membahas resorbable stent sebagai alternatif baru yang masih
diteliti secara berkelanjutan.