Anda di halaman 1dari 16

Referat

Diagnosis dan Tatalaksana Sindroma De Quervain

Oleh:
Ameliya Secil Japanto - 15014101227
Christin Tatukude - 15014101248
Christina A. M. Dewi - 15014101249

Masa KKM :
28 Agustus 2017 – 24 September 2017

Pembimbing:
dr. Corry N. Mahama, SpS

BAGIAN NEUROLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SAM RATULANGI
MANADO
2017
BAB I
PENDAHULUAN

Sindroma De Quervain merupakan penyakit yang ditandai dengan rasa nyeri


pada regio prosesus stiloideus akibat inflamasi kronik pembungkus tendon otot
abductor pollicis longus dan extensor pollicis brevis yang melewati kompartemen
dorsal pertama pergelangan tangan. Etiologi dari penyakit ini sering dikaitkan dengan
ketegangan yang terus menerus dan berulang dari kedua tendon tersebut karena
melewati retinaculum extensor yang menebal dan bengkak, dimana retinaculum
extensor merupakan pembungkus kompartemen dorsal pertama.1,2
Angka kejadian sindroma De Quervain di US relatif, terutama pada individu
dengan pekerjaan menggunakan tangan secara repetitif seperti pada pekerja mesin
atau sekretaris. Sindroma ini merupakan penyebab umum nyeri pergelangan tangan
pada dewasa, dan lebih banyak ditemukan pada usia 30-50 tahun.3 Sindroma De
Quervain tidak dikaitkan dengan mortalitas, tetapi dapat meningkatkan morbiditas
akibat nyeri yang bersifat progresif dan keterbatasan dalam melakukan aktivitas
menggunakan tangan yang sakit. Berdasarkan data dari The University of Colorado
School of Medicine, ras kulit hitam memiliki faktor risiko lebih besar untuk terjadinya
sindroma De Quervain. Sindroma ini lebih banyak ditemukan pada wanita daripada
pria dengan perbandingan 8:1, dan lebih banyak ditemukan pada usia dewasa.4
Pasien dengan kondisi ini biasanya datang dengan keluhan nyeri pada aspek
dorso lateral dari pergelangan tangannya yang berasal dari arah ibu jari atau lengan
bawah bagian lateral.5 Rasa nyeri dapat diperparah oleh gerakan dan aktivitas yang
membutuhkan deviasi ulnar dengan tangan mengepal dan fleksi sendi
metacarpophalangeal, seperti meremas kain lap, mencengkram tongkat golf, dan
mengangkat anak.2 Sindroma De Quervain juga dihubungkan dengan penggunaan
otot ibu jari secara berlebihan seperti pengiriman pesan telepon seluler, dan pada
trauma berulang seperti pada pemain bola volley.6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Sindroma De Quervain adalah inflamasi tendon otot abductor pollicis
longus dan extensor pollicis brevis yang ditandai dengan rasa nyeri di sisi
pergelangan tangan. Otot-otot ini terletak pada kompartemen dorsal pertama
pergelangan tangan, yaitu pada sisi dorsal lengan bawah dan berlanjut ke sisi
lateral ibu jari melalui suatu terowongan fibrosa-osseus yang terbuat dari prosesus
styloideus radii dan ekstensor retinaculum. Rasa nyeri yang merupakan keluhan
utama pada sindroma ini, dapat diperparah dengan posisi abduksi ibu jari,
menjabat tangan dan deviasi ulnaris pergelangan tangan.7,8

Gambar 2.1. Tendon yang Terlibat Dalam Sindroma De Quervain9

B. Epidemiologi
Prevalensi Sindroma De Quervain terus meningkat dengan perkembangan
pekerjaan dan profesional baru. Di bidang industri, angka prevalensi mencapai
8% pada pasien dengan nyeri pada pergelangan tangan dan hasil pemeriksaan tes
finkelstein positif. Di bidang non-industri, suatu penelitian yang melibatkan 485
pasien dengan kelainan muskuloskeletal pada ekstremitas atas (terutama musisi
dan pekerja kantoran), didapatkan angka prevalensinya yaitu 17% untuk tangan
kanan dan 5% untuk tangan kiri dengan hasil tes finkelstein positif.8
Angka kejadian sindroma De Quervain di US relatif, terutama pada
individu dengan pekerjaan menggunakan tangan secara repetitif seperti pada
pekerja mesin atau sekretaris.3 Sindroma De Quervain tidak dikaitkan dengan
mortalitas, tetapi dapat meningkatkan morbiditas akibat nyeri yang bersifat
progresif dan keterbatasan dalam melakukan aktivitas menggunakan tangan yang
sakit. Berdasarkan data dari The University of Colorado School of Medicine, ras
kulit hitam memiliki faktor risiko lebih besar untuk terjadinya sindroma De
Quervain. Sindroma ini lebih banyak ditemukan pada wanita daripada pria dengan
perbandingan 8:1, dan lebih banyak ditemukan pada usia dewasa.4

C. Etiologi
Hingga saat ini, etiologi sindroma De Quervain belum dipahami dengan
baik. Sebelumnya, sindroma De Quervain sering dikaitkan dengan kegiatan atau
pekerjaan yang bersifat repetitif dimana ibu jari dalam posisi ekstensi dan
abduksi. Penggunaan ibu jari secara repetitif dan deviasi radial dari pergelangan
tangan dapat menyebabkan inflamasi dari pembungkus tendon atau terowongan
yang dilewati tendon otot abductor pollicis longus dan extensor pollicis brevis,
seperti pada kegiatan menggenggam, mengepalkan, mencubit, atau meremas
benda secara berulang. Tendon akan membengkak dan terowongan menjadi lebih
kecil, sehingga kompartemen dorsal pertama menyempit dan menyebabkan gerak
tendon menjadi terbatas. Jika tidak diobati, peradangan dan penyempitan
progresif (stenosis) dapat menyebabkan jaringan parut yang selanjutnya
membatasi gerak ibu jari.7,8,10
Penyebab sindroma ini juga dikaitkan dengan cedera kronik, trauma
langsung yang menyebabkan pembentukan jaringan parut, maupun arthritis
inflamasi. Penyebab paling umum yaitu penggunaan otot secara kronik. Aktivitas
seperti bermain golf, bermain piano, memancing, pekerja kayu, pekerja kantor,
musisi, dan menggendong anak di pelukan untuk waktu yang lama dapat
menyebabkan cedera kronik yang mengarah ke sindroma De Quervain.7,8
Ibu pada masa postpartum dianggap sangat berisiko karena tekanan
mekanis pada ibu jari dan pergelangan tangan saat mengangkat bayi. Penyebab
hormonal dan retensi cairan juga dihubungkan dengan ibu postpartum. Namun,
bukti untuk mendukung hipotesis ini terbatas dan sebagian besar hanya
didasarkan pada data hasil pengamatan. Selain itu, histopatologi tidak
menunjukkan bukti inflamasi melainkan degenerasi myxoid (kolagen tidak
terorganisir dan matriks seluler meningkat) pada pasien yang dirujuk untuk
tindakan bedah.11

D. Patofisiologi
Kompartemen dorsal pertama pada pergelangan tangan terdiri dari
pembungkus tendon yang menutupi tendon otot abductor pollicis longus dan
extensor pollicis brevis pada tepi lateral. Inflamasi pada daerah ini umumnya
terlihat pada pasien yang menggunakan tangan dan ibu jarinya untuk kegiatan-
kegiatan yang repetitif. Karena itu, sindroma De Quervain dapat terjadi sebagai
hasil dari mikrotrauma kumulatif (repetitif).4,12
Tendon diselubungi oleh membran sinovial dan mengandung cairan
sinovial. Struktur ini disebut selubung tendon yang berfungsi untuk
meminimalkan gesekan yang terkait dengan gerakan pada sendi, dan untuk
memfasilitasi pergerakan sendi. Pada trauma minor yang bersifat repetitif atau
penggunaan berlebih pada jari-jari tangan menyebabkan malfungsi dari selubung
tendon sehingga cairan sinovial mulai menurun produksi dan kualitasnya.
Akibatnya, pada penggunaan jari-jari selanjutnya terjadi pergesekan otot dengan
selubung tendon karena cairan sinovial yang berfungsi sebagai lubrikasi
berkurang. Sehingga terjadi proliferasi jaringan ikat fibrosa yang tampak sebagai
inflamasi dari selubung tendon. Proliferasi ini menyebabkan pergerakan tendon
menjadi terbatas karena jaringan ikat ini memenuhi hampir seluruh selubung
tendon. Selanjutnya menyebabkan penyempitan pada selubung tendon tersebut
dan akan mempengaruhi pergerakan dari kedua otot tersebut. Pada kasus-kasus
lanjut akan terjadi perlengketan tendon dengan selubung tendon. Pergesekan otot-
otot akan merangsang nervus yang ada pada kedua otot tersebut sehingga terjadi
perangsangan nyeri pada ibu jari bila digerakkan yang sering merupakan keluhan
utama pada penderita penyakit ini.4,13

E. Manifestasi Klinis
Keluhan utama pada sindroma De Quervain adalah nyeri pergelangan
tangan radial yang menjalar ke lengan bawah ketika menggenggam atau
mengekstensikan ibu jari. Rasa nyeri digambarkan sebagai "sensasi rasa sakit,
terbakar, sensasi tertarik yang terus-menerus". Keluhan nyeri dapat diperparah
dengan gerakan mengangkat, mencengkeram, atau memutar tangan yang
berulang. Pada pemeriksaan dapat ditemukan pembengkakan di daerah snuff box,
nyeri pada prosesus styloideus radial, penurunan lingkup gerak sendi abduktor
CMC (carpometacarpal) digiti-1, teraba penebalan di selubung ekstensor di
kompartemen dorsal pertama dan krepitus tendon yang bergerak dari selubung
ekstensor. Keluhan lain meliputi kelemahan dan parestesi di tangan. Tes
diagnostik finkelstein akan menunjukkan gejala positif pada pasien dengan
sindroma De Quervain.7

F. Diagnosis
1. Anamnesis
Kelainan ini sering ditemukan pada wanita umur pertengahan. Gejala yang
timbul berupa nyeri pada aktivitas yang melibatkan tendon otot abductor pollicis
longus dan otot extensor pollicis brevis.4 Perlu ditanyakan juga kepada pasien
riwayat terjadinya nyeri. Sebagian pasien akan mengungkapkan riwayat
terjadinya nyeri dengan trauma akut pada ibu jari dan sebagian lainnya tidak
menyadari keluhan ini hingga nyeri bertambah berat. Untuk itu perlu ditanyakan
kepada pasien mengenai riwayat pekerjaan, karena hal tersebut akan memberikan
kontribusi sebagai onset dari gejala tersebut khususnya pada pekerjaan yang
menggunakan jari-jari tangan. Riwayat penyakit lain seperti pada rheumatoid
arthritis juga dapat menyebabkan deformitas dan kesulitan menggerakkan ibu jari.
Pada kasus-kasus dini, nyeri ini belum disertai edema yang tampak secara nyata
(inspeksi), tapi pada kasus-kasus lanjut tampak edema terutama pada sisi radial
dari polluks.14,15

2. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik, terdapat nyeri tekan pada daerah prosesus
stiloideus radial, kadang-kadang dapat dilihat atau dapat teraba nodul akibat
penebalan pembungkus fibrosa pada proksimal prosesus stiloideus radius, serta
rasa nyeri pada adduksi pasif dari pergelangan tangan dan ibu jari. Bila tangan
dan seluruh jari-jari dilakukan deviasi ulnar, penderita merasa nyeri oleh karena
jepitan tendon otot abductor pollicis longus dan extensor pollicis brevis.16,17
Pemeriksaan klasik pada sindroma De Quervain adalah tes Finkelstein.
Cara melakukannya adalah dengan meminta pasien untuk mengepalkan tanganya
dengan posisi ibu jari diletakkan di bagian dalam dari jari-jari lainnya. Pemeriksa
kemudian melakukan deviasi ulnar pasif pada pergelangan tangan pasien yang
dicurigai, di mana dapat menimbulkan keluhan utama berupa nyeri pergelangan
tangan daerah dorsolateral.17

Gambar 2.2. Tes Finkelstein18


Gambar 2.3. Pemeriksa melakukan deviasi ulnar pasif19

3. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium tidak spesifik dalam menunjang diagnosis
penyakit ini. Pemeriksaan serum kadang dilakukan untuk melihat adanya faktor
rheumatoid, tetapi hal ini juga tidak spesifik karena beberapa penyakit lain juga
dapat menghasilkan faktor rheumatoid di dalam darahn.12,17
Pemeriksaan radiologik juga tidak spesifik menunjang diagnosis penyakit
ini. Namun, penemuan terbaru dalam penelitian yang melibatkan delapan orang
pasien yang dilakukan ultrasonografi dengan transduser 13 MHz resolusi tinggi,
kemudian diambil potongan aksial dan koronal, didapatkan adanya penebalan dan
edema pada selubung otot. Pada USG didapatkan edema dan penebalan tendon
otot abductor pollicis longus dan otot extensor pollicis brevis pada tingkat stiloid
radial, penebalan dari retinaculum bagian atas dan selubung sinovial, dan edema
subkutaneus peritendineus dengan tanda halo hipoechoic. USG sering digunakan
dalam menunjang injeksi kortikosteroid pada kampartemen tendon untuk
menangani kondisi ini. Pemeriksaan MRI sangat sensitif dan spesifik dalam
mendiagnosis penyakit ini, dimana dapat ditemukan penebalan tendon otot
abductor pollicis longus dan tendon otot extensor pollicis brevis.20
G. Diagnosis Banding
Beberapa diagnosis banding sindroma De Quervain yaitu:4,7
1. Ketidakstabilan intercarpal
Pergelangan tangan memiliki banyak tulang dan ligamen kecil dan merupakan
struktur yang kompleks. Cedera pada struktur ini akibat trauma atau
degenerasi dapat menyebabkan ketidakstabilan antara tulang dan sendi. Hal
ini dapat menyebabkan perubahan biomekanik pergelangan tangan disertai
rasa nyeri.
2. Osteoartritis dari CMC-1
Osteoartritis CMC-1 umumnya didapatkan pada individu yang berusia lebih
dari 50 tahun, dan paling sering disertai kekakuan sendi CMC-1 pagi hari,
penurunan lingkup gerak sendi, nyeri tekan sepanjang garis sendi, dan grind
test positif.
3. Intersection Syndrome
Intersection syndrome, di mana tenosinovitis terjadi pada tendon dari
kompartemen dorsal pertama (tendon otot abductor pollicis longus dan otot
extensor pollicis brevis) sampai ke tendon dari kompartemen dorsal kedua
(otot extensor carpi radialis longus dan otot extensor carpi radialis brevis)
dengan gejala nyeri dan inflamasi pada bagian distal pada daerah dorsolateral
dari lengan bawah.
4. Carpal Tunnel Syndrome
Carpal Tunnel Syndrome adalah kumpulan gejala yang disebabkan oleh
kompresi pada nervus medianus akibat inflamasi pada pergelangan tangan.
Penyebab inflamasi dapat karena suatu infeksi, trauma, atau penggunaan
berlebihan pada pergelangan tangan. Pada penyakit ini didapatkan keluhan
nyeri pada ibu jari tangan hingga ke seluruh pergelangan tangan bahkan dapat
mencapai lengan. Gejala lain pada penyakit ini adalah adanya rasa panas dan
kelemahan pada otot-otot pergelangan tangan.
5. Fraktur skafoid
Keluhan pada fraktur skafoid yaitu nyeri pada daerah snuff box pada
kompartemen dorsal pertama. Fraktur skafoid sering terjadi akibat jatuh
dengan posisi menumpu pada telapak tangan sehingga menyebabkan nyeri
pergelangan tangan sisi radial, pembengkakan pada daerah snuff box, dan
keterbatasan lingkup gerak sendi. Pada pasien dengan keluhan nyeri
pergelangan tangan radial setelah cedera traumatik, fraktur skafoid harus
disingkirkan sebelum mendiagnosis dengan penyakit lain.

H. Penatalaksanaan
1. Farmakologi
a. Nonsteroid anti-inflammatory drug misalnya ibuprofen yang merupakan
drug of choice untuk pasien dengan nyeri sedang. Bekerja sebagai
penghambat reaksi inflamasi dan nyeri dengan jalan menghambat sintesa
prostaglandin. Dosis dewasa 200-800 mg, sedang dosis untuk anak-anak
usia 6-12 tahun 4-10 mg/kgBB/hari. Untuk anak > 12 tahun sama dengan
dewasa. Adapun kontra indikasi pemberian obat ini adalah adanya riwayat
hipersensitif, ulkus peptikum, perdarahan gastrointestinal atau perforasi,
insufisiensi ginjal, atau resiko tinggi terjadinya perdarahan.21-23
b. Kortikosteroid dapat digunakan sebagai anti inflamasi karena dapat
mensupresi migrasi dari sel-sel polimorfonuklear dan mencegah
peningkatan permeabilitas kapiler. Pada orang dewasa dapat diberikan
dosis 20-40 mg metilprednisolon atau dapat juga diberikan hidrokortison
yang dicampur dengan sedikit obat anestesi lokal misalnya lidokain.
Campuran obat ini disuntikkan pada tendon sheath dari kompartemen
dorsal pertama yang terkena. Harus diperhatikan agar jangan sampai
menyuntikkan campuran obat ini langsung pada tendonnya karena dapat
menyebabkan kelemahan pada tendon dan potensial untuk terjadinya
ruptur. Penyuntikan campuran obat ini juga hendaknya dicegah jangan
sampai terlalu superfisial dari jaringan subkutan karena dapat
menyebabkan depigmentasi pada kulit. Untuk pasien-pasien yang
menderita diabetes melitus sebaiknya dilakukan pengontrolan glukosa
darah karena pemberian kortikosteroid lokal dapat menyebabkan
peningkatan glukosa darah sementara.21-23

2. Non Farmakologi
a. Imobilisasi
Pada terapi konservatif kasus-kasus dini, sebaiknya penderita menghindari
pekerjaan yang menggunakan jari-jari mereka. Hal ini dapat membantu
penderita dengan mengistirahatkan (immobilisasi) kompartemen dorsal
pertama pada ibu jari (polluks) agar edema lebih lanjut dapat dicegah.
Imobilisasi dapat menggunakan splint untuk mengistirahatkan
pergelangan tangan dan jari dan mencegah adanya gerakan-gerakan
sampai gejala berkurang. Idealnya, immobilisasi ini dilakukan sekitar 4-6
minggu.21-23
b. Kompres Dingin
Kompres dingin pada daerah edema dapat membantu menurunkan edema.
Kompres dinngin dengan menggunakan es dan handuk selama 20 menit 2-
4 kali sehari dapat menghilangkan nyeri dan edema.23
c. Pembedahan
Pada tahap awal diberikan analgetik atau injeksi lokal kortikosteroid serta
mengistirahatkan pergelangan tangan, tetapi kadang-kadang penyembuhan
hanya bersifat sementara. Operasi dilakukan pada penderita yang resisten
(gejala terus berlanjut lebih dari 3 bulan) atau untuk meredakan nyeri
secara permanen dengan membuka bagian sarung tendon yang sempit.
Intervensi bedah diperlukan jika terapi konservatif tidak efektif lagi
terutama pada kasus-kasus lanjut di mana telah terjadi perlengketan pada
tendon sheath. Operasi dilakukan dengan anestesi lokal dan sedasi.
Dilakukan insisi 1-2 cm pada kulit pergelangan tangan dan kompartemen
pertama dipisahkan, kemudian ditutup menggunakan fiberglass splint.
Nyeri akan berkurang dalam tiga sampai empat hari dan setelah 10-14
hari, penutup luka dibuka dan program rehabilitasi dapat dimulai. selama
2 minggu setelah pembedahan, pasien akan merasakan kelemahan pada
pergelangan tangan dan jari-jari, namun akan membaik setelah beberapa
bulan.21-23
I. Komplikasi
Kebanyakan pasien yang menjalani operasi untuk membuka sarung tendon
tidak mengalami komplikasi, namun beberapa komplikasi dapat terjadi setelah
operasi, yaitu sebagai berikut:
 Komplikasi pada saraf seperti infeksi atau kerusakan saraf
 Infeksi
 Kerusakan saraf dapat mengakibatkan kelemahan, paralisis, atau
paraestesia
 Kerusakan pembuluh darah24
J. Prognosis
Prognosis penyakit ini umumnya baik. Pada kasus-kasus dini, biasanya
berespon dengan baik pada terapi konservatif. Sedangkan pada kasus-kasus lanjut
dan tidak memberikan respon yang baik dengan terapi konservatif, dilakukan
tindakan bedah untuk dekompresi pada kompartemen dorsal pertama dari
pergelangan tangan. Umumnya berlangsung dengan baik, morbiditas dapat terjadi
jika terjadi komplikasi pasca operasi misalnya adhesi tendo atau subluksasi volar
tendon.25-27
BAB III
KESIMPULAN

Sindroma De Quervain adalah inflamasi tendon otot abductor pollicis longus


dan extensor pollicis brevis yang ditandai dengan rasa nyeri di sisi pergelangan
tangan. Diagnosis ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan penunjang.
Gejala yang timbul berupa nyeri pada aktivitas yang melibatkan tendon otot abductor
pollicis longus dan otot extensor pollicis brevis.4 Pada pemeriksaan fisik terdapat
nyeri tekan pada daerah prosesus stiloideus radial, kadang-kadang dapat dilihat atau
dapat teraba nodul akibat penebalan pembungkus fibrosa pada proksimal prosesus
stiloideus radius. Pemeriksaan klasik pada sindroma De Quervain adalah tes
Finkelstein. USG dapat dilakukan untuk menunjang diagnose, didapatkan edema dan
penebalan tendon otot abductor pollicis longus dan otot extensor pollicis brevis pada
tingkat stiloid radial, penebalan dari retinaculum bagian atas dan selubung sinovial,
dan edema subkutaneus peritendineus dengan tanda halo hipoechoic.20
Penatalaksanaan sindroma De Quarvain adalah dengan terapi konservatif
farmakologi dan non farmakologi, serta intervensi pembedahan. Pada tahap awal
diberikan analgetik atau injeksi lokal kortikosteroid serta mengistirahatkan
pergelangan tangan, tetapi kadang-kadang penyembuhan hanya bersifat sementara.
Operasi dilakukan pada penderita yang resisten atau untuk meredakan nyeri secara
permanen dengan membuka bagian sarung tendon yang sempit.23,24
DAFTAR PUSTAKA

1. Goel R, Abzug JM. De Quervain’s tenosynovitis: a review of the


rehabilitative options. HAND. 2015;10:1-5.
2. Ilyas AM, Ast M, Schaffer AA, Thoder J. De Quervain tenosynovitis of the
wrist. J Am Acad Orthop Surg. 2007;15:757–64.
3. Wolf JM, Sturdivant RX, Owens BD. Incidence of de Quervain's
tenosynovitis in a young, active population. J Hand Surg Am. 2009;34:112.
4. Foye P. Physical medicine and rehabilitation for De Quervain tenosynovitis.
2016 Apr 27 [cited 2017 Aug 31]. Available from : http://emedicine.
medscape.com/article/327453-overview
5. Slviya A, Wilson N. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.
Edisi ke-6. Jakarta: EGC; 2006.
6. Taufiq F, Batool T, Bashir S. Prevalence of De-Quervain’s tenosynovitis
among medical students of Allabama Iqbal Medical College. JRCRS.
2015;3:95-8.
7. Physio-pedia. De Quervain’s Tenosynovitis. 2011 Nov 28 [cited 2017 Sept
01]. Available from : https://www.physio-
pedia.com/De_Quervain%27s_Tenosynovitis
8. Gonzalez-Inglesias J, et al. Differential Diagnosis and Physical Therapy
Management of a Patient With Radial Wrist Pain of 6 Months Duration: A
Case Report. J Orthop Sports Phys Ther 2010:40(6).
9. Harvard Health Publications. Tendon trouble in the hands: de Quervain's
tenosynovitis and trigger finger. 2010 Apr [cited 2017 Sept 01]. Available
from : https://www.health.harvard.edu/newsletter_article/tendon-trouble-in-
the-hands-de-quervains-tenosynovitis-and-trigger-finger.
10. Aggarwal R, Ring D. De Quervain tendinopathy. 2017 May 15 [cited 2017
Sept 01]. Available from : https://www.uptodate.com/contents/de-quervain-
tendinopathy.
11. Clarke MT, Lyall HA, Grant JW, Matthewson MH. The histopathology of de
Quervain's disease. J Hand Surg Br. 1998;23:732.
12. Bunnel, S. Stenosing Tenosynovitis at Radiostyloid Process (de Quervain’s
Disease) in Surgery of The Hand. Edisi Ke-3. London: Pitman Medical
Publishing Co.;1992. hal. 774-5.
13. Polsdorfer R. De quervain’s tenosynovitis. 2011 Sept 01 [cited 2017 Sept 3].
Available from : http://healthlibrary.wkhs.com/article.aspx?chunkiid=100266
14. McRae R. The Wrist in Clinical Orthopaedic Examination. Edisi ke-3,
Churchill Livingstone, Edinburgh London Melbourne and New York, 1990.
hal: 71-86.
15. Chien AJ, Jacobson JA, Martel W, Kabeto MU, Marcantonio DR. Focal
Radial Styloid Abnormality as a Manifestation of De Quervain Tenosynovitis.
AJR. 2001;177:1383-6
16. Zaky LA, Zaki NA, Mohamed WM. Effect of Eccentric Exercise in Treatment
of De-Quervian's Disease. JMSCR. 2016;4:10456-61
17. Jones H, Armitage Anne. De Quervain’s Tenosynovitis – Inflammation of the
Tendon of The Thumb. November 2014 [ cited 2017 Sept 3]. Available from :
www.ouh.nhs.uk
18. Smith R. The upper limb in primary care part 2 : wrist and hand. Hands On
(Series 7) no 2. 2012
19. Sato J, Ishii Y, Noguchi H. Clinical and ultrasound features in patients with
intersection syndrome or de Quervain’s disease. JHS(E). 2016;41E:220-5
20. Weerakkody Y, Dixon A. De quervain tenosynovitis. 2017 Agst 01 [ cited
2017 Sept 3 ]. Available from : https://radiopaedia.org/articles/de-quervain-
tenosynovitis
21. Foye, PM, de Quervain’s Tenosynovitis, available at
http://www.emedicine.com/pmr/topic36.htm, last updated October 13, 2005.
22. Gulf, MD, de Quervain’s Disease, available at
http://www.gulfmd.com/deQuervain’sdisease.grd.drt..
23. Natarajan, M, Wrist and Hand in Text Book of Orthopaedics, MN
Orthopaedic Hospital, Tamil Nadu, India, 1985. page : 163-6
24. Academy of Orthopaedic Surgeons. Accessed Sept 3 2017. Available from:
http://orthoinfo.aaos.org/topic.cfm?topic=a00007.
25. De Quervain's tendinitis (De Quervain's tendinosis). American Chien, JA, et
all, Focal Radial Styloid Abnormality as Manifestation of De Quervain
Tenosynovitis, available at http://www.americanjournal.com/org.
26. Lech, O, et all, Stenosing Tenosinovitis of The First Compartment De
Quervain’s Disease, available at
http://www.healthinformation.com/orthoped/topic482.htm.
27. Schwartz, SI, et all, Tendon Entrapment Syndrome of First Extensor
Compartment (deQuervain’s Disorder) in Principles of Surgery, Fifth Edition,
McGraw-Hill Information Services Company, USA, 1989. page : 2066-7.