Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pembangunan kesehatan pada periode tahun 2015–2019 adalah
Program Indonesia Sehat dengan sasaran meningkatkan derajat kesehatan
dan status gizi masyarakat melalui upaya kesehatan dan pemberdayaan
masyarakat yang didukung dengan perlindungan finansial dan pemerataan
pelayanan kesehatan. Hal inilah yang menjadikan salah satu sasaran pokok
RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional), pada
sasaran ke (5) yaitu terpenuhinya kebutuhan tenaga kesehatan, obat dan
vaksin.
SDM Kesehatan dapat dikatakan merupakan “jantung” dari Sistem
Kesehatan Nasional. Tanpa adanya tenaga yang menggerakkan dan
melayani, maka pilar-pilar yang lainnya tidak bisa berjalan. Menurut
World Health Organization (WHO), SDM kesehatan adalah semua orang
yang kegiatan pokoknya ditujukan untuk meningkatkan kesehatan. Mereka
terdiri dari orang-orang yang memberikan pelayanan kesehatan seperti
dokter, perawat, bidan, apoteker, teknisi laboratorium, manajemen, serta
tenaga pendukung seperti bagian keuangan, sopir, dan lain sebagainya.
Rasio tenaga kesehatan per 100.000 penduduk adalah Nakes yang
memberikan pelayanan kesehatan di puskesmas, rumah sakit, dan sarana
pelayanan kesehatan lain di suatu wilayah per 100.000 penduduk. Apabila
mengacu pada Kepmenkes No.1202 Th 2003 standar Indonesia Sehat,
rasio dokter dengan jumlah penduduk adalah 1 banding 2.500 orang ( 40
dokter untuk 100 ribu penduduk).
Jumlah dokter di provinsi Bengkulu Tahun 2015 ada 529 orang ( 29
dokter per 100ribu penduduk). Sehingga dapat diasumsikan jumlah dokter
di Bengkulu untuk melayani 1.874.944 jiwa dibutuhkan sekitar 720 dokter
maka dengan demikian menurut perhitungan metode ratio Provinsi
Bengkulu masih mengalami kekuerangan sekitar 191 dokter. Secara

1
keseluruhan rasio tenaga kesehatan di provinsi bengkulu tahun 2015
sebesar 464 per 100.000 penduduk. Ini berarti bahwa setiap 100.000
penduduk dilayani oleh sekitar 464 tenaga kesehatan.
Puskesmas adalah penanggungjawab penyelenggara upaya kesehatan
untuk tingkat pertama. Puskesmas sebagai unit pelaksana pembangunan
kesehatan di wilayah kecamatan merupakan ujung tombak dalam
pelayanan kesehatan dalam menunjang kebehasilan untuk mencapai visi
Indonesia sehat. Keberhasilan ini sangat dipengaruhi oleh penataan dan
pengelolaan tenaga untuk melaksanakan kegiatan pokok puskesmas.
Keberhasilan puskesmas dalam menjalankan program ditentukan oleh
sumber daya manusia yang seimbang antara tenaga pengobatan disatu
pihak dengan tenaga promotif dan preventif dipihak lain. Berdasarkan
penjelasan di atas penulis tertarik untuk mengetahui bagaimana kuantitas
dan kualitas tenaga kesehatan di Puskesmas Kampung Bali.

1.2 Rumusan Masalah


a. Apakah kuantitas tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas Kampung Bali
sudah sesuai standar?
b. Bagaimana kualitas tenaga kesehatan di Puskesmas Kampung Bali?

1.3 Tujuan Penulisan


Penyususun makalah ini merupakan salah satu tugas kepaniteraan
klinik Kedokteran Komunitas di UPTD Puskesmas Kampung Bali, serta
diharapkan makalah ini dapat menjadi salah satu sumber informasi yang
dapat menambah pengetahuan pembaca, khususnya mengenai gambaran
kuantitas dan kualitas tenaga kesehatan di Puskesmas Kampung Bali.

1.4 Manfaat Penulisan


a. Menambah pengetahuan dan informasi mengenai gambaran kuantitas dan
kualitas tenaga kesehatan di puskesmas pada Puskesmas Kampung Bali

2
b. Bisa menjadi bahan pertimbangan untuk Puskesmas Kampung Bali untuk
mengevaluasi atau menilai bagaimana keadaan tenaga kesehatan yang ada
di Puskesmas Kampung Bali

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tenaga Kesehatan


a. Pengertian Tenaga Kesehatan
Berdasarkan Pasal 1 Undang-Undang nomor 36 tahun 2014,
Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam
bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan
melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu
memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.
Dalam Peraturan Menteri kesehatan No. 75 tahun 2014, tentang
Standar Ketenagaan Puskesmas Pasal 16 menyebutkan bahwa; (1)
Sumber daya manusia puskesmas terdiri atas tenaga kesehatan dan tenaga
non kesehatan. (2) Jenis dan jumlah tenaga kesehatan dan tenaga non
kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung berdasarkan
analisis beban kerja, dengan mempertimbangkan jumlah pelayanan yang
diselenggarakan, jumlah penduduk dan persebarannya, karakteristik
wilayah kerja, luas wilayah kerja, ketersediaan fasilitas pelayanan
kesehatan tingkat pertama lainnya di wilayah kerja, dan pembagian waktu
kerja.

b. Jenis Tenaga Kesehatan dan Tenaga Non Kesehatan


Jenis Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) di
atas paling sedikit terdiri atas:
a. Dokter umum atau dokter layanan primer (adalah tenaga kesehatan yang
bekerja di Puskesmas yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang dan
hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan kegiatan
pelayanan kesehatan kepada Masyarakat pada sarana pelayanan
kesehatan.)
b. Dokter gigi (adalah tenaga kesehatan yang bekerja di Puskesmas yang
diberi tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak secara penuh oleh

4
pejabat yang berwenang untuk melakukan kegiatan pelayanan kesehatan
gigi dan mulut kepada masyarakat pada sarana pelayanan kesehatan
masyarakat.)
c. Perawat (adalah seseorang yang telah lulus pendidikan perawat baik
didalam maupun di luar negeri sesuai dengan ketentuan peraturan
perundangan yang berlaku.)
d. Bidan (adalah wanita yang telah mengikuti program pendidikan bidan dan
lulus ujian sesuai dengan persyaratan yang berlaku.)
e. Tenaga kesehatan masyarakat (jenis tenaga yang termasuk adalah
sanitarian, entomolog kesehatan, penyuluhan kesehatan, epidemiolog
kesehatan dan tenaga gizi, asisten apoteker dan analis laboratorium.)
f. Tenaga kesehatan lingkungan (adalah tenaga yang diberi tugas, tanggung
jawab, wewenang, dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang
untuk melakukan kegiatan pengamatan, pengawasan dan pemberdayaan
masyarakat dalam rangka perbaikan kualitas kesehatan lingkungan untuk
dapat memelihara, melindungi dan meningkatkan cara-cara hidup bersih
dan sehat.)
g. Ahli teknologi laboratorium medik (adalah pegawai negeri sipil berijazah
analis laboratorium yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak
secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan pekerjaan
laboratorium pada unit pelayanan kesehatan.)
h. Tenaga gizi (adalah tenaga yang diberi tanggung jawab wewenang dan hak
secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan pelayanan
di bidang gizi masyarakat termasuk makanan dan dietetik, yang meliputi
pengamatan, penyusunan program, pelaksanaan, dan penilaian gizi bagi
perorangan dan kelompok di masyarakat.)
i. Tenaga kefarmasian (adalah yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang
dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan
pekerjaan kefarmasian pada unit pelayanan kesehatan

5
Sementara untuk tenaga non kesehatan sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) harus dapat mendukung kegiatan ketatausahaan, administrasi
keuangan, sistem informasi, dan kegiatan operasional lain di Puskesmas.
Menurut UU no 36 tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan dikatakan
bahwa Tenaga di bidang kesehatan terdiri atas Tenaga Kesehatan dan
Asisten Tenaga Kesehatan.

c. Standar Ketenagaan Puskesmas

Keterangan: RI = Rawat Inap


Standar ketenagaan sebagaimana tersebut diatas: 1) merupakan kondisi
minimal yang diharapkan agar Puskesmas dapat terselenggara dengan baik. 2)
belum termasuk tenaga di Puskesmas Pembantu dan Bidan Desa.

d. Standar Kualitas Tenaga Kesehatan


Menurut Pasal 17 Peraturan Menteri kesehatan No. 75 tahun 2014, setiap
tenaga kesehatan di di Puskesmas harus bekerja sesuai dengan :
 Standar profesi,

6
 Standar pelayanan,
 Standar prosedur operasional,
 Etika profesi,
 Menghormati hak pasien, serta
 Mengutamakan kepentingan dan keselamatan pasien dengan
memperhatikan keselamatan dan kesehatan dirinya dalam bekerja.
 Selain itu, setiap Tenaga Kesehatan yang bekerja di Puskesmas harus
memiliki surat izin praktik sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan.
Untuk pelayanan kefarmasian dan laboratorium di puskesmas
diatur dalam pasal 18 dan 19 serta sesuai peraturan perundang –
undangan terkait. Dalam pasal 18 dan 19 dijelaskan bahwa Pelayanan
kefarmasian di Puskesmas harus dilaksanakan oleh Tenaga Kesehatan
yang memiliki kompetensi dan kewenangan untuk melakukan
pekerjaan kefarmasian. Serta Pelayanan laboratorium di Puskesmas
harus memenuhi kriteria ketenagaan, sarana, prasarana, perlengkapan
dan peralatan.
Dalam UU no 36 tahun 2014 pada pasal 9 dan 10 dikatakan
bahwa Tenaga Kesehatan harus memiliki kualifikasi minimum
Diploma Tiga, kecuali tenaga medis. Jenis Tenaga Kesehatan yang
termasuk dalam kelompok tenaga medis terdiri atas dokter, dokter
gigi, dokter spesialis, dan dokter gigi spesialis. Sementara itu Asisten
Tenaga Kesehatan harus memiliki kualifikasi minimum pendidikan
menengah di bidang kesehatan. Asisten Tenaga Kesehatan hanya
dapat bekerja di bawah supervisi Tenaga Kesehatan.

2.2 Struktur Organisasi Puskesmas


Puskesmas merupakan unit pelaksana teknis dinas kesehatan
kabupaten/kota, sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
Organisasi Puskesmas disusun oleh dinas kesehatan kabupaten/kota
berdasarkan kategori, upaya kesehatan dan beban kerja Puskesmas.

7
Organisasi Puskesmas paling sedikit terdiri atas:
a. Kepala Puskesmas;
b. Kepala sub bagian tata usaha;
c. Penanggung jawab UKM dan Keperawatan Kesehatan Masyarakat;
d. Penanggung jawab UKP, kefarmasian dan Laboratorium; dan
e. Penanggungjawab jaringan pelayanan Puskesmas dan jejaring fasilitas
pelayanan kesehatan.

Kepala Puskesmas
Kepala Puskesmas adalah penanggung jawab pembangunan
kesehatan di tingkat kecamatan. Berdasarkan pasal 33 permenkes no 75
tahun 2014 menjelaskan bahwa:
1) Puskesmas dipimpin oleh seorang Kepala Puskesmas.
2) Kepala Puskesmas merupakan seorang Tenaga Kesehatan dengan
kriteria sebagai berikut:
a) Tingkat pendidikan paling rendah sarjana dan memiliki kompetensi
manajemen kesehatan masyarakat;
b) Masa kerja di puskesmas minimal 2 (dua) tahun; dan
c) Telah mengikuti pelatihan manajemen Puskesmas.
3) Kepala Puskesmas bertanggungjawab atas seluruh kegiatan di
Puskesmas.
4) Dalam melaksanakan tanggung jawab Kepala Puskesmas
merencanakan dan mengusulkan kebutuhan sumber daya Puskesmas
kepada dinas kesehatan kabupaten/kota.
5) Dalam hal di Puskesmas kawasan terpencil dan sangat terpencil tidak
tersedia seorang tenaga kesehatan maka Kepala Puskesmas merupakan
tenaga kesehatan dengan tingkat pendidikan paling rendah diploma
tiga.

2.3 Hak dan Kewajiban Tenaga Kesehatan

8
Berdasarkan UU no 34 tahun 2014 pada Pasal 57 Tenaga Kesehatan
dalam menjalankan praktik berhak:
a. Memperoleh pelindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai
dengan Standar Profesi, Standar Pelayanan Profesi, dan Standar Prosedur
Operasional;
b. Memperoleh informasi yang lengkap dan benar dari Penerima Pelayanan
Kesehatan atau keluarganya;
c. Menerima imbalan jasa;
d. Memperoleh pelindungan atas keselamatan dan kesehatan kerja, perlakuan
yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia, moral, kesusilaan, serta
nilai-nilai agama;
e. Mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan profesinya;
f. Menolak keinginan Penerima Pelayanan Kesehatan atau pihak lain yang
bertentangan dengan Standar Profesi, kode etik, standar pelayanan,
Standar Prosedur Operasional, atau ketentuan Peraturan Perundang-
undangan; dan
g. Memperoleh hak lain sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-
undangan.

Tenaga Kesehatan dalam menjalankan praktik wajib:


a. Memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan Standar Profesi, Standar
Pelayanan Profesi, Standar Prosedur Operasional, dan etika profesi serta
kebutuhan kesehatan Penerima Pelayanan Kesehatan;
b. Memperoleh persetujuan dari Penerima Pelayanan Kesehatan atau
keluarganya atas tindakan yang akan diberikan;
c. Menjaga kerahasiaan kesehatan Penerima Pelayanan Kesehatan;
d. Membuat dan menyimpan catatan dan/atau dokumen tentang pemeriksaan,
asuhan, dan tindakan yang dilakukan; dan
e. Merujuk Penerima Pelayanan Kesehatan ke Tenaga Kesehatan lain yang
mempunyai Kompetensi dan kewenangan yang sesuai.

9
Kewajiban sebagaimana dimaksud pada huruf b dan huruf d hanya berlaku
bagi Tenaga Kesehatan yang melakukan pelayanan kesehatan
perseorangan.
Tenaga Kesehatan yang menjalankan praktik pada Fasilitas
Pelayanan Kesehatan wajib memberikan pertolongan pertama kepada
Penerima Pelayanan Kesehatan dalam keadaan gawat darurat dan/atau
pada bencana untuk penyelamatan nyawa dan pencegahan kecacatan.
Tenaga Kesehatan dilarang menolak Penerima Pelayanan Kesehatan
dan/atau dilarang meminta uang muka terlebih dahulu.

Pelimpahan Tindakan
Dalam melakukan pelayanan kesehatan, Tenaga Kesehatan dapat
menerima pelimpahan tindakan medis dari tenaga medis. Dalam
melakukan pekerjaan kefarmasian, tenaga teknis kefarmasian dapat
menerima pelimpahan pekerjaan kefarmasian dari tenaga apoteker.
Pelimpahan tindakan dilakukan dengan ketentuan:
a. Tindakan yang dilimpahkan termasuk dalam kemampuan dan
keterampilan yang telah dimiliki oleh penerima pelimpahan;
b. Pelaksanaan tindakan yang dilimpahkan tetap di bawah pengawasan
pemberi pelimpahan;
c. Pemberi pelimpahan tetap bertanggung jawab atas tindakan yang
dilimpahkan sepanjang pelaksanaan tindakan sesuai dengan
pelimpahan yang diberikan; dan
d. Tindakan yang dilimpahkan tidak termasuk pengambilan keputusan
sebagai dasar pelaksanaan tindakan.

Persetujuan Tindakan Tenaga Kesehatan


a. Setiap tindakan pelayanan kesehatan perseorangan yang dilakukan
oleh Tenaga Kesehatan harus mendapat persetujuan.
b. Persetujuan diberikan setelah mendapat penjelasan secara cukup dan
patut.
c. Penjelasan sekurang-kurangnya mencakup:

10
1) tata cara tindakan pelayanan;
2) tujuan tindakan pelayanan yang dilakukan;
3) alternatif tindakan lain;
4) risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi; dan
5) prognosis terhadap tindakan yang dilakukan.
d. Persetujuan dapat diberikan, baik secara tertulis maupun lisan.
e. Setiap tindakan Tenaga Kesehatan yang mengandung risiko tinggi
harus diberikan dengan persetujuan tertulis yang ditandatangani oleh
yang berhak memberikan persetujuan.

2.4 Tenaga Kesehatan Teladan


Penyebaran SDM kesehatan juga masih menjadi kendala, sekalipun
sejak tahun 1992 telah diterapkan kebijakan penetapan tenaga Dokter dan
Bidan dengan system PTT. Sampai dengan tahun 2006 tercatat rasio dokter
terhadap Puskesmas untuk kawasan Indonesia bagian barat jauh lebih tinggi
dibandingkan dengan kawasan Indonesia Timur yang berkisar antara 0,84 di
Sumatera Utara dan 0,12 di Papua. Rendahnya rasio tenaga kesehatan
terhadap Puskesmas maupun terhadap jumlah penduduk disuatu daerah
sangat dipengaruhi oleh kondisi geografis lokasi Puskesmas. Oleh karena itu
diperlukan suatu strategi untuk meningkatkan minat tenaga kesehatan bekerja
di Puskesmas.
Pemilihan tenaga kesehatan teladan di Puskesmas diharapkan dapat
menjadi satu motivasi untuk meningkatkan minat tenaga kesehatan bekerja di
Puskesmas sehingga dapat menjadi pendorong terciptanya tenaga kesehatan
yang mempunyai sikap nasionalis, etis dan professional, memiliki semangat
pengabdian yang tinggi, berdisiplin, kreatif, berilmu, terampil, berbudi luhur
serta dapat memegang teguh etika profesi. Agar pemilihan tenaga kesehatan
teladan Puskesmas tersebut dapat berjalan dengan sebaik-baiknya maka
dipandang perlu menetapkan pedoman tata cara pemilihan, mekanisme
pemilihan, tim penilai, kriteria penilaian serta hal-hal yang dipandang perlu.

11
Persyaratan calon Tenaga Kesehatan Puskesmas Teladan:
a. Bekerja di Puskesmas atau Puskesmas Pembantu sekurangkurangnya
selama 3 (tiga) tahun secara terus menerus.
b. Belum pernah terpilih sebagai Tenaga Kesehatan Teladan di Puskesmas.
c. Calon Tenaga Kesehatan Puskesmas Teladan diberlakukan bagi semua
tenaga medis, tenaga keperawatan, tenaga kesehatan masyarakat dan
tenaga gizi yang bekerja di Puskesmas serta memiliki prestasi yang dapat
diteladani di lingkungan kerjanya.

12
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Profil Puskesmas


a. Visi dan Misi Puskesmas Kuala Lempuing
Visi
Sejalan dengan Visi Dinas Kesehatan Kota Bengkulu, maka Visi
UPTD Puskesmas Kuala Lempuing “Kelurahan Lempuing Sehat Mandiri
Dan Berkeadilan”.
Misi
Untuk mewujudkan visi tersebut diatas, Puskesmas memiliki 3 (tiga)
Misi yaitu :
1) Meningkatkan pelayanan kesehatan yang terpadu, bermutu, merata dan
terjangkau.
2) Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat.
3) Meningkatkan upaya pengendalian penanggulangan masalah kesehatan.
4) Meningkatkan dan mendayagunakan sumber daya kesehatan.

b. Keadaan Geografis
Wilayah kerja Puskesmas Kuala Lempuing terletak di tepi pantai,
dengan luas wilayah 1,8 Km2 dan secara administrasi berbatas dengan :
1) Sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Tanah Patah
2) Sebelah Selatan berbatasan dengan Kelurahan Lingkar Barat
3) Sebelah Barat berbatasan dengan Samudera Indonesia
4) Sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Padang Harapan
Adapun desa binaan di wilayah kerja meliputi 1 (satu) kelurahan yang
terdiri dari 18 Rt dan 3 Rw. Beriklim tropis dengan suhu udara rata-rata
280 C pada musim hujan dan 330 C pada musim kemarau.

13
c. Kependudukan
Jumlah penduduk Kelurahan Kuala Lempuing adalah sebanyak 5035
jiwa. Yang terdiri dari 2.558 jiwa penduduk laki-laki dan 2.477 jiwa
penduduk perempuan.
1) Komposisi penduduk menurut kelompok umur:
Usia 0 – 6 th berjumlah 729 jiwa, Usia 7 – 12 th berjumlah 713 jiwa,
Usia 13 – 18 th berjumlah 813 jiwa, 19 - 24 th berjumlah 1.118 jiwa,
25-55 th berjumlah 1.467 jiwa, 56 - 79 Th berjumlah 193 jiwa dan 80 +
th berjumlah 2 jiwa.
2) Rincian penduduk wilayah kerja Puskesmas Kuala Lempuing menurut
golongan umur dan jenis kelamin tahun 2016 dapat dilihat pada tabel
berikut:
NO KELOMPOK UMUR JUMLAH PENDUDUK
LAKI-LAKI PEREMPUAN JUMLAH
1 00-06 Th 365 364 729
2 07-12 Th 363 350 713
3 13-18 Th 362 451 813
4 19-24 Th 566 552 1.118
5 25-55 Th 745 722 1.467
6 56-79 Th 128 65 193
7 80 + Th 1 1 2
TOTAL 5.035
.
d. Ekonomi
Gambaran sosial ekonomi masyarakat di wilayah kerja Puskesmas
Kampung Bali dapat dilihat dari beberapa indikator dibawah ini:
1. Sarana Pendidikan Formal
Sarana pendidikan yang berada di wilayah kerja Puskesmas
Kampung Bali sudah dapat dikatakan memadai hal ini penulis
sampaikan berdasarkan data yang ada, unsur pendidikan mulai dari
PAUD sampai dengan Perguruan Tinggi ada di wilayah kerja

14
Puskesmas Kampung Bali. Jumlah seluruhnya adalah 15 sarana.
2. Gambaran Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan masyarakat dapat menggambarkan kehidupan
sosial ekonomi masyarakat itu sendiri, berdasarkan data di wilayah
kerja Puskesmas Kampung Bali diketahui bahwa masih ada masyarakat
yang buta huruf dan tidak tamat SD dan pendidikan terakhir terbanyak
adalah SLTA dan pendidikan tertingi yang tercatat adalah S2.

e. Sarana dan Prasarana Kesehatan


Adapun sarana di di wilayah kerja Puskesmas Kampung Bali
adalah terdiri dari 1 (satu) Puskesmas Induk dan 3 (Tiga) Pustu yakni
Pustu Tengah padanag, Pustu Pintu Batu dan Pustu Bajak serta dokter
praktek dan bidan praktek swasta dan prasarana yang ada dapat di lihat
pada tabel 6, terdapat beberapa prasarana yang sudah rusak berat dan
sudah diusulkan untuk pengapusan dan permintaan alat ke Dinas
Kesehatan Kota Bengkulu.

3.2 Program Kegiatan Puskesmas


Untuk tercapainya visi pembangunan kesehatan melalui Puskesmas
yakni terwujudnya Masyarakat wilayah kerja Puskesmas Kampung Bali sehat
dan Mandiri.

a. Upaya Kesehatan Wajib


Upaya kesehatan wajib Puskesmas mempunyai daya ungkit tinggi untuk
peningkatan derajat kesehatan masyarakat.
1. Upaya Promosi Kesehatan
2. Upaya Kesehatan Lingkungan
3. Upaya Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga Berencana
4. Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat
5. Upaya Pencegahan dan Pembrantasan Penyakit Menular
6. Upaya Pengobatan

15
b. Upaya Kesehatan Pengembangan
Adalah upaya yang ditetapkan berdasarkan permasalahan kesehatan yang
ditemukan di masyarakat serta yang sesuaikan dengan kemampuan
puskesmas.
Puskesmas Kampung Bali lebih memilih upaya pengembangan kesehatan
sbb:
1. Upaya Kesehatan Olah raga
2. Upaya Kesehatan Kerja
3. Upaya kesehatan Gigi dan Mulut di sekolah
4. Kesehatan Jiwa
5. Upaya Kesehatan Usia Lanjut ( USILA )
6. Upaya Pengobatan Tradisional
7. Program indra Penglihatan

c. Upaya Kesehatan Penunjang


1. Laboratorium
2. Apotek

TABEL 1
Data Kunjungan
UPTD PUSKESMAS KAMPUNG BALI TAHUN 2016
Kelurahan/ Jumlah Kunjungan Jumlah
No Laki-Laki Perempuan Total
Desa Baru Lama
Baru Lama Baru Lama
1 Tengah Padang 252 480 123 537 375 1017 1392
2 Kampung Bali 2713 5658 3031 4895 5744 10553 16297
3 Bajak 224 510 215 576 439 1086 1525
4 Pintu Batu 296 677 240 697 536 1374 1910
Jumlah 3485 7325 3609 6705 7094 14030 21124
Pada tabel 1 dapat dilihat bahwa kunjungan masyarakat yang berkunjung
ke Puskesma Kampung Bali untuk mendapat pelayanan kesehatan sebanyak
21.124 kunjungan selama tahun 2016 yang berasal dari beberapa kelurahan.
TABEL 2
DATA WILAYAH DAN FASILITAS PELAYANAN
UPTD PUSKESMAS KAMPUNG BALI TAHUN 2016

Desa Desa Luas Jarak ke


Wkt Tempuh Jumlah Jlh Jlh Jumlah Sekolah Jumlah Fasilitas Pelayanan Kesehatan
NO Kelurahan Gondok Wilayah ke RT/RWRumah KK SMP/ SLTA/ Lain2
Tertinggal Puskesmas TK SD/MI Pontren Pustu Polindes Poskesdes Dr/Bd/BP
MTs MA
/Desa Endemik (km2) Puskesmas Swasta
1 Tengah Padang 0 0 7,50 Km2 < 1 km 15 menit 15/4 944 833 1 1 1 0 0 1 0 16 0 1
2 Kampung Bali 0 0 1,84 KM2 < 1 km 10 menit 6/2 418 418 1 1 1 2 0 0 0 0 3
3 Bajak 0 0 3.46 Km2 < 1 km 15 menit 9/3 613 613 1 1 1 1 1 1 0 1 0
4 Pintu Batu 0 0 0,11 Km2 < 1 km 20 menit 4/1 262 262 1 0 1 1 1 0 0 1

Jumlah 0 0 12,91 Km2 2237 2126 3 3 4 3 3 1 5


Pada Tabel 2 digambarkan mengenai luas wilayah dan fasilitas pelayanan
yang ada di UPTD Puskesmas Kampung Bali. Untuk pelayanan kesehatan yang
ada terdiri dari 3 pustu, 1 poskesdes, 5 badan pelayanan kesehatan lain dan tidak
ada polindes.

TABEL 3
DATA TENAGA KESEHATAN BERDASARKAN PENDIDIKAN
UPTD PUSKESMAS KAMPUNG BALI 2016

N Jumlah Tenaga
Jenis Pendidikan
O PNS NON PNS

1 Profesi Dokter Umum 1 0


2 Profesi Dokter Gigi 1 0
3 NERS 1 0
4 S.1 Keperawatan 2 0
5 D.III Keperawatan 3 1
6 SPK/D.I Keperawatan 0 0
7 D.III Perawat Gigi 0 0
8 SPRG 0 0
9 D.IV Kebidanan 3 0
10 D.III Kebidanan 3 0
11 PPB/ D.I Kebidanan 1 0
12 Sarjana Kesehatan Masyarakat 6 0
13 Profesi Apoteker 0 0
14 S.1 Farmasi 0 0
15 D.III Farmasi 1 0
16 SMF 0 0
17 D. III Analis Kesehatan 0 0
18 SMAK 0 0
19 D. III Kesehatan Lingkungan 0 0
20 SPPH 1 0
21 D.III Gizi 0 0
22 Pekarya 0 0
23 S.2 Kesehatan 0 0
24 S.2 Non Kesehatan 0 0
25 D.III Non Kesehatan 0 0
26 SMA 1 0
Jumlah 24 1

17
Berdasarkan Tabel 3 dapat terlihat bahwa masih adanya jabatan tenaga
kesehatan yang belum ada dan masih minimnya tenaga medis atau dokter di
UPTD Puskesmas Kampung Bali.
Pada tabel 5 ini dipaparkan tentang program kegiatan Puskesmas yang
sudah dicapai pada tahun 2016 dengan nilai keberhasilan mencapai nilai 91.
TABEL 5
CAKUPAN PELAYANAN
PUSKESMAS KAMPUNG BALI KOTA BENGKULU
TAHUN 2016

TARGET PKM HASIL


NO KOMPONEN KEGIATAN NILAI
(%) CAKUPAN (%)

I UPAYA PROMOSI KESEHATAN 90 97

II UPAYA KESEHATAN LINGKUNGAN 87 97

III UPAYA KESEHATAN IBU DAN ANAK 83 76

IV UPAYA PERBAIKAN GIZI 90 80 91

V UPAYA PENCEGAHAN & PEMBERANTASAN PENY. MENULAR 95 90

VI UPAYA PENGOBATAN 95 100

VII UPAYA KESEHATAN PENGEMBANGAN 90 96

TOTAL 636

3.3 Kuantitas Tenaga Kesehatan Puskesmas Kampung Bali


Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan No. 75 Tahun 2014 tentang
Pusat Kesehatan Masyarakat, standar kuantitas untuk Puskesmas kawasan
perkotaan non rawat inap berjumlah 22 orang. Puskesmas Kampung Bali sendiri
memiliki jumlah tenaga sebesar 25 orang dengan semua jenis tenaga sudah terisi
sehingga secara kuantitas jumlah ini sudah memenuhi standar minimal namun
tidak meratanya persebaran menimbulkan ketimpangan dalam kinerja. Kelebihan
terutama pada perawat (lebih 1 orang) dan Tenaga Kesehatan Masyarakat (lebih 4
orang) namun terdapat kekurangan pada staf administrasi (kekurangan 2 orang).
Hal ini berakibat pada pelimpahan kinerja dimana 2 orang tenaga kesehatan
masyarakat dan 1 orang tenaga perawat diperbantukan untuk proses administrasi,
dan 1 orang tenaga kesehatan masyarakat lainnya ditempatkan sebagai perawat
poli gigi. Perbandingan Standar kuantitas tenaga puskesmas dengan Sumber Daya
Manusia Puskesmas Kampung Bali dapat dilihat pada tabel 6.

18
Tabel 6 Perbandingan Standar Kuantitas Tenaga Puskesmas dengan Kuantitas
SDM Puskesmas Kampung Bali
Standar Kuantitas Kuantitas Tenaga
No. Jenis Tenaga Tenaga Puskesmas Puskesmas Kampung
Non Rawat Inap Bali
1 Profesi Dokter Umum 1 1
2 Profesi Dokter Gigi 1 1
3 Perawat 5 6
4 Bidan 4 4
5 Tenaga Kesehatan Masyarakat 2 6
6 Tenaga Kesehatan Lingkungan 1 1
7 Ahli Teknologi Lab. Medik 1 1
8 Tenaga Gizi 1 1
9 Tenaga Kefarmasian 1 2
10 Tenaga Administrasi 3 1
11 Pekarya 2 2

3.4 Hubungan Kuantitas dan Kualitas Tenaga Kesehatan Puskesmas


Kualitas tenaga kesehatan berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 75
Tahun 2014 harus mampu bekerja sesuai dengan etika profesi, standar profesi,
standar pelayanan, standar operasional prosedur. Kualitas tenaga kesehatan ini
dapat dinilai dari berbagai aspek terutama pada tahap pelayanan dan nilai cakupan
keberhasilan program.
Dalam proses pelayanan, kualitas tenaga kesehatan Puskesmas Kampung
Bali harus mendapatkan perhatian terutama layanan terkait standar profesi.
Masalah tersebut antara lain:
a) Perawat
Jumlah tenaga kesehatan dengan latar belakang perawat berjumlah 6 orang dengan
rincian: 1 orang profesi Ners, 2 orang Sarjana Keperawatan dan 3 orang DIII
Keperawatan. Dari total 6 orang perawat hanya 3 orang yang memiliki Surat Izin
Praktik Perawat (SIPP). Kuantitas yang berlebih ini tidak diimbangi dengan standar
kualitas yang harusnya dimiliki.
b) Bidan

19
Jumlah tenaga kesehatan dengan latar belakang bidan berjumlah 4 orang dengan
rincian 2 orang lulusan DIII Kebidanan dan 2 orang lulusan DIV Kebidanan.
Jumlah ini sesuai dengan kebutuhan bidan minimal untuk puskesmas non rawat
inap. Dari aspek kualitas keempat bidan memiliki Surat Izin Praktik Bidan namun
memiliki riwayat pelatihan dan pengembangan ilmu pengetahuan yang tidak baik.
Rata-rata pelatihan dan pengembangan ilmu yang pernah diikuti adalah 6 tahun
yang lalu. Hal ini tentu berpengaruh pada kualitas pelayanan karena bidan-bidan
tidak dapat mengikuti pengetahuan yang saat ini telah berkembang yang pada
akhirnya berpengaruh pada kualitas layanan kesehatan. Tabel 5 terkait cakupan
pelayanan Puskesmas Kampung Bali membuktikan hal tersebut. Target capaian
Upaya Kesehatan Ibu dan Anak adalah 83% namun hanya tercapai 76%.
Dibutuhkan motivasi agar tenaga kesehatan terus belajar dan mengikuti
perkembangan ilmu pengetahuan.
c) Apoteker
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 30 Tahun 2014 tentang standar
Kefarmasian di Puskesmas, setiap Puskesmas minimal memiliki 1 orang apoteker
yang memiliki surat tanda registrasi dan Surat Izin Praktik Apoteker. Dalam
pelaksanaannya apoteker dapat dibantu oleh beberapa asisten apoteker dengan latar
belakang kefarmasian. Penyelenggaraan Kefarmasian di Puskesmas Kampung Bali
hanya diberikan oleh 1 orang asisten apoteker (DIII Farmasi) dan lulusan Sekolah
Menengah Farmasi. Tidak adanya apoteker merupakan salah satu masalah kualitas
yang dihadapi terutama dalam pelayanan kesehatan. Standar kualitas pelayanan
kefarmasian di Puskesmas Kampung Bali dalam penyiapan obat hingga distrubusi
ke pasien dan Pelayanan Informasi Obat pun tidak berjalan baik. Hal ini tentu
mempengaruhi outcome pelayanan puskesmas secara keseluruhan.
d) Tenaga Kesehatan Masyarakat
Secara kuantitas, tenaga kesehatan masyarakat yang dimiliki oleh Puskesmas
Kampung Bali sudah memenuhi standar minimal tenaga kesehatan untuk
puskesmas non perawatan. Namun, dalam pelaksanaannya ternyata tidak sebanding
dengan tingkat pencapaian cakupan pelayanan. Pada tabel 6 terlihat bahwa
kebutuhan minimal tenaga kesehatan masyarakat berjumlah 2 orang sedangkan
sumber daya yang dimiliki Puskesmas Kampung Bali berjumlah 6 orang.
Berdasarkan laporan tahunan Puskesmas Tahun 2016 didapat cakupan pelayanan
kesehatan masyarakat ternyata tidak sesuai dengan target. Upaya pencegahan dan

20
pemberatasan penyakit menular yang merupakan tugas pokok dan fungsi dari
tenaga kesehatan masyarakat memiliki target 95% namun hasil cakupan hanya
90%. Hal ini tentu harus menjadi perhatian dan evaluasi puskesmas. Tenaga
kesehatan masyarakat ini pun dapat difungsikan juga dalam membantu pencapaian
program terkait promosi kesehatan seperti upaya perbaikan gizi. Dalam hal ini
tenaga gizi yang dimiliki hanya 1 orang dengan target cakupan 90% namun di
tahun 2016 cakupan hanya mencapai 80%. Dibutuhkan sinergisitas antar beberapa
tenaga kesehatan masyarakat dalam proses informasi dan promosi terkait gizi
sehingga mampu mencapai target yang telah ditetapkan.

Selain masalah di atas, secara keseluruhan banyak hal yang mengakibatkan


munculkan masalah yang mempengaruhi kualitas layanan kesehatan di Puskesmas
Kampung Bali. Etos kerja yang kurang baik seperti tindakan yang kurang disiplin
terhadap waktu, sering terlambat masuk kerja dan penyelesaian tugas yang tidak
tepat waktu seharusnya juga menjadi bahan evaluasi. Ketiadaan Standar Prosedur
Operasional dalam pelayanan kesehatan di Puskesmas juga menjadi poin yang
harus diperhatikan. SPO ini dibutuhkan untuk memberikan arahan, tata langkah
kerja hingga alur kerja kepada setiap tenaga kesehatan di Puskesmas sehingga
mampu mencapai standar kualitas minimal yang diharapkan.

21
BAB IV
PENUTUP

4.1 Simpulan
Kuantitas tenaga kesehatan di Puskesmas Kampung Bali berdasarkan standar
sudah terpenuhi namun ketidakmerataan jumlah yang pada akhirnya
berpengaruh pada kualitas pelayanan kesehatan di Puskesmas Kampung Bali
yang tercermin pada laporan cakupan pelayanan kesehatan di Puskesmas
Kampung Bali tahun 2016. Hal ini mesti menjadi perhatian pihak puskesmas
maupun Dinas Kesehatan Kota dalam rangka pemerataan tenaga kesehatan.
Secara individu, beberapa tenaga kesehatan belum memiliki surat tanda
registrasi, surat izin praktek hingga kurangnya pengembangan diri dan
pengetahuan melalui seminar, pelatihan, workshop juga mempengaruhi
kualitas pelayanan.

4.2 Saran
1. Dinas Kesehatan Kota Bengkulu sebaiknya melakukan evaluasi terkait
pemerataan tenaga kesehatan di seluruh puskesmas di Kota Bengkulu agar
standar kuantitas minimal dapat tercapai sekaligus berperan dalam
peningkatan kualitas pelayanan kesehatan.
2. Puskesmas Kampung Bali sebaiknya berupaya melakukan evaluasi
internal, menilai potensi yang berlebih untuk kemudian dimaksimalkan
dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan.
3. Peningkatan standar kualitas melalui pembuatan Standar Prosedur
Operasional, peningkatan etos kerja, motivasi untuk pengembangan ilmu
dan pengetahuan individu tenaga kesehatan hingga evaluasi berkala dapat
diterapkan sehingga kelebihan kuantitas tenaga kesehatan juga diiringi
pada peningkatan kualitas layanan yang pada akhirnya berperan dalam
peningkatan cakupan pelayanan puskesmas.

22
DAFTAR PUSTAKA

1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2014 Tentang Tenaga


Kesehatan

2. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2016.


Tentang Pedoman Manajemen Puskesmas

3. Pusat Promosi Kesehatan. Pedoman Penilaian Tenaga Kesehatan Teladan di


Puskesmas: 2012

4. Rencana Pengembangan Tenaga Kesehatan Tahun 2011 – 2025. Jakarta: 2011

5. Pusat Perencanaan dan Pendayagunaan SDM Kes Badan PPSDM Kesehatan.


Perencanaan Kebutuhan SDM Kesehatan Berdasarkan Standar Ketenagaan
Minimal. 2015;2-3

6. Profil Tahun Puskesmas Kampung Bali Tahun 2016

23