Anda di halaman 1dari 22

DISKUSI TOPIK KHUSUS

PROMOSI KESEHATAN SEKOLAH NEGERI

DISUSUN OLEH :
Eva Oktavidiati (H1AP11015)
Oktalia Metiarita (H1AP12041)
Puspita Gustiana (H1AP11040)

PEMBIMBING :
dr. Erlina Panca Putri, MH
dr. Dessy Noermadhaningsih

KEPANITERAAN KLINIK KEDOKTERAN KOMUNITAS


UPTDPKM SUKAMERINDUKOTA BENGKULU
FAKULTAS KEDOKTERANDAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2017

1
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Pembangunan yang ingin dicapai oleh bangsa Indonesia adalah tercapainya bangsa yang

maju danmandiri, sejahtera lahir dan batin. Salah satu ciri bangsa yang maju adalah

mempunyai derajatkesehatan yang tinggi, karena derajat kesehatan mempunyai pengaruh

yang sangat besar terhadapkualitas sumberdaya manusia. Hanya dengan sumberdaya yang

sehat akan lebih produktif danmeningkatkan daya saing bangsa. Menyadari hal tersebut,

pemerintah Republik Indonesia telahmencanangkan kebijaksanaan dan strategi baru dalam

suatu “Gerakan Pembangunan BerwawasanKesehatan sebagai Strategi Nasional menuju

Indonesia Sehat 2010” pada tanggal 1 Maret 1999.

Dengan kebijaksanaan dan strategi ini, perencanaan dan pelaksanaan pembangunan

disemua sektorharus mampu mempertimbangkan dampak negatif dan positif terhadap sektor

kesehatan, baik bagiindividu, keluarga maupun masyarakat. Disektor kesehatan sendiri

upaya kesehatan akan lebihmengutamakan upaya-upaya preventif dan promotif yang

proaktif, tanpa mengabaikan upaya kuratifdan rehabilitatif. Dasar pandangan baru dalam

pembangunan kesehatan ini disebut “ParadigmaSehat”.

Pembangunan kesehatan bertujuan meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan

hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal.

Derajat kesehatanmerupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh pada kualitas

sumberdaya manusia.Sumberdaya manusia yang sehat akan lebih produktif dan

meningkatkan daya saing manusia. Untuk tercapainya visi pembangunan kesehatan di

Indonesia, yakni Indonesia Sehat 2010 telah ditetapkansejumlah misi, strategi, pokok-pokok

2
program serta program-programnya. Salah satu program yangdimaksud adalah Program

Usaha Kesehatan Sekolah. UU No. 23 tahun 2003 pasal 45 tentangKesehatan menyebutkan

bahwa Usaha Kesehatan Sekolah wajib di selenggarakan di sekolah.

Beberapa hal yang menjadi permasalahan dalam pembinaan dan pengembangan

program promosikesehatan di sekolah ialah :

 Perilaku hidup bersih dan sehat belum mencapai pada tingkat yang diharapkan,

disamping ituancaman sakit terhadap murid sekolah masih cukup tinggi dengan adanya

penyakit endermis dankekuarangan gizi.

 Masalah kesehatan anak usia sekolah yang masih banyak terjadi di Indonesia antara

lain:

- Sanitasi dasar yang memenuhi syarat kesehatan seperti jamban sehat dan air bersih.

- Meningkatnya pecandu narkoba dan remaja yang merokok.

- Kesehatan reproduksi remaja.

 Peningkatan sumberdaya manusia

- Kurangnya guru yang menangani program promosi kesehatan di sekolah.

- Kader kesehatan sekolah perlu dilatih dalam bidang pendidikan dan pelayanan

kesehatan.

 Terbatasnya sarana dan prasarana program promosi kesehatan di sekolah

 Pencatatan dan pelaporan yang masih lemah

 Kurang lancarnya koordinasi, informasi, sinkronisasi dan sosialisasi

 Dukungan kelembagaan dan program terutama dalam hal perlunya institusi yang jelas

menanganiprogram kesehatan di sekolah dan pentingnya penetapan standar pelayanan

minimum.

3
Promosi Kesehatan Sekolah dibuat untuk mendukung program peningkatan Sarana Air

Bersih danSanitasi dan untuk memperluas manfaat kesehatan masyarakat desa dengan cara

meningkatkanpengetahuan dan perilaku kesehatan dan sanitasi pada anak-anak sekolah

dasar. Selain itu PromosiKesehatan Sekolah bertujuan agar murid-murid tersebut bertindak

sebagai agen perubahan bagiorangtua mereka, saudara-saudara, tetangga dan kawan-kawan

mereka.

Program promosi kesehatan di sekolah harus diintegrasikan ke dalam program usaha

kesehatansekolah, melalui koordinasi dengan Tim Pembina UKS di tingkat Kecamatan,

Kabupaten, Propinsi danPusat. Promosi kesehatan sekolah harus dikoordinasikan

denganprogram penyuluhan kesehatan yang dilakukan oleh PUSKESMAS, Dinas Kesehatan

Kabupaten/Kota,Dinas Kesehatan Propinsi dan Departemen Kesehatan Pusat.

2.1 TUJUAN DAN MANFAAT

Diskusi topik khusus bertema promosi kesehatan di sekolah negeri ini bertujuan untuk

meningkatkan pengetahuan dan perilaku kesehatan dan sanitasi pada anak-anak sekolah.

Tujuan Khusus:

 Menciptakan lingkungan kehidupan sekolah yang sehat

 Meningkatkan pengetahuan, mengubah sikap, dan membentuk perilaku masyarakat

sekolah yang sehat

 Memelihara kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan

kesehatanmasyarakat sekolah.

 Memenuhi salah satu tugas kedokteran komunitas.

4
Adapun manfaat dari diskusi ini, yaitu dapat menambah pengetahuan bagi para pembaca

dan penulis khususnya, tentang Promosi Kesehatan di Sekolah Negeri.

3.1 RUMUSAN MASALAH

1. Apa arti penting promosi kesehatan di sekolah?

2. Apa saja strategi promosi kesehatan di sekolah?

3. Bagaimana ciri sekolah promosi kesehatan?

4. Apa saja jenis kegiatan promosi kesehatan di sekolah?

5. Jelaskan mengenai kegiatan promosi kesehatan di sekolah “cuci tangan pakai sabun”?

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 ARTI PENTING PROMOSI KESEHATAN SEKOLAH

Promosi kesehatan di sekolah merupakan suatu upaya untuk menciptakan sekolah

menjadi suatukomunitas yang mampu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat sekolah

melalui 3 kegiatanutama (a) penciptaan lingkungan sekolah yang sehat,(b) pemeliharaan dan

pelayanan di sekolah,dan (c) upaya pendidikan yang berkesinambungan. Ketiga kegiatan

tersebut dikenal dengan istilahTRIAS UKS.

Sebagai suatu institusi pendidikan, sekolah mempunyai peranan dan kedudukan

strategis dalamupaya promosi kesehatan. Hal ini disebabkan karena sebagian besar anak usia

5-19 tahunterpajan dengan lembaga pendidikan dalam jangka waktu cukup lama. Dari segi

populasi, promosi kesehatan di sekolah dapatmenjangkau 2 jenis populasi, yaitu populasi

anak sekolah dan masyarakat umum/keluarga.

Sekolah mendukung pertumbuhan dan perkembangan alamiah seorang anak, sebab di

sekolahseorang anak dapat mempelajari berbagai pengetahuan termasuk kesehatan. Promosi

kesehatandi sekolah membantu meningkatkan kesehatan siswa, guru, karyawan, keluarga

serta masyarakatsekitar, sehingga proses belajar mengajar berlangsung lebih produktif.

Dalam promosi kesehatan sekolah, keluarga anak sekolah dapat dipandang sebagai 2

aspek yaitu:

a. sebagai pendukung keberhasilan program promosi kesehatan di sekolah (support side)

b. sebagai pihak yang juga memperoleh manfaat atas berlangsungnya promosi kesehatan

disekolah itu sendiri (impact side)

6
Pada segi pendukung keberhasilan, promosi kesehatan di sekolah seringkali akan lebih

berhasiljika mendapat dukungan yang memadai dari keluarga si murid. Hal terkait dengan

intensitashubungan antara anak dan keluarga, dimana sebagian besar waktu berinteraksi

dengan keluaragalebih banyak. Pada segi pihak yang turut memperoleh manfaat, peran

orang tua yang memadai,hangat, membantu serta berpartisipasi aktif akan lebih menjamin

keberhasilan program promosikesehatan. Sebagai contoh bila di sekolah dilakukan

kampanye perilaku Cuci Tangan Pakai Sabunkemudian dirumah orang tua juga

menyediakan fasilitas CTPS, maka perilaku anak akan lebihlestari (sustainable). Bentuk

dukungan orang tua ini meyakinkan bahwa tindakan cuci tangan pakaisabun merupakan

tindakan yang benar, baik di sekolah maupun di rumah.

2.2 Strategi Promosi Kesehatan

WHO mencanangkan lima strategi promosi kesehatan di sekolah yaitu:

a. Advokasi

Kesuksesan program promosi kesehatan di sekolah sangat ditentukan oleh dukungan

dariberbagai pihak yang terkait dengan kepentingan kesehatan masyarakat, khususnya

kesehatanmasyarakat sekolah. Guna mendapatkan dukungan yang kuat dari berbagai

pihak terkaittersebut perlu dilakukan upaya-upaya advokasi untuk menyadarkan akan

arti penting programkesehatan sekolah. Advokasi lebih ditujukan kepada berbagai pihak

yang akan menentukankebijakan program, termasuk kebijakan yang terkait dana untuk

kegiatan.

7
b. Kerjasama

Kerjasama dengan berbagai pihak yang terkait sangat bermanfaat bagi jalannya

programpromosi kesehatan sekolah. Dalam kerjasama ini berbagai pihak dapat saling

belajar danberbagi pengalaman tentang keberhasilan dan kekurangan program, tentang

caramenggunakan berbagai sumber daya yang ada, serta memaksimalkan investasi

dalampemanfaatan untuk melakukan promosi kesehatan.

c. Penguatan kapasitas

Kemampuan kerja dalam kegiatan promosi kesehatan di sekolah harus dapat

dilaksanakansecara optimal. Untuk itu berbagai sektor terkait harus diyakini dapat

memberikan dukunganuntuk memperkuat program promosi kesehatan di sekolah.

Dukungan berbagai sektor initerkait dalam rangka penyusunan rencana kegiatan,

pelaksanaan, monitoring danevaluasi program promosi kesehatan sekolah

d. Kemitraan

Kemitraan dengan berbagai unit organisasi baik pemerintah, LSM maupun usaha swasta

akansangat mendukung pelaksanaan program promosi kesehatan sekolah. Disamping

itu, dengankemitraan akan dapat mendorong mobilisasi guna meningkatkan status

kesehatan di sekolah.

e. Penelitrian

Penelitian merupakan salah satu komponen dari pengembangan dan penilaian

programpromosi kesehatan. Bagi sektor terkait, penelitian merupakan akses untuk

masuk dalammengembangkan promosi kesehatan di sekolah baik secara nasional

maupun regional,disamping untuk melakukan evaluasi peningkatan PHBS siswa

sekolah.

8
2.3 Ciri “Sekolah Promosi Kesehatan”

Menurut WHO terdapat enam ciri-ciri utama dari suatu sekolah untuk dapat menjadi sekolah

yangmempromosikan/meningkatkan kesehatan, yaitu :

1. Melibatkan semua pihak yang berkaitan dengan masalah kesehatan sekolah yaitu

pesertadidik, orangtua dan para tokoh masyarakat maupun organisasi-organisasi di

masyarakat

2. Berusaha keras untuk menciptakan lingkungan sehat dan aman, meliputi :

 Sanitasi dan air yang cukup

 Bebas dari segala macam bentuk kekerasan

 Bebas dari pengaruh negatif dan penyalahgunaan yang berbahaya

 Suasana yang memperdulikan pola asuh, rasa hormat dan saling percaya

 Pekarangan sekolah yang aman

 Dukungan masyarakat yang sepenuhnya

3. Memberikan pendidikan kesehatan sekolah dengan :

 Kurikulum yang mampu meningkatkan sikap dan perilaku peserta didik yang

positifterhadap kesehatan serta dapat mengembangkan berbagai ketrampilan hidup

yangmendukung kesehatan fisik, mental dan sosial

 Memperhatikan pentingnya pendidikan dan pelatihan untuk guru maupun orangtua

4. Memberikan akses untuk dilaksanakannya pelayanan kesehatan di sekolah, yaitu :

 Penjaringan, diagnosa dini, imunisasi serta pengobatan sederhana

 Kerjasama dengan Puskesmas setempat

9
 Adanya program-program makanan bergizi dengan memperhatikan “keamanan”

makanan

5. Menerapkan kebijakan dan upaya di sekolah untuk mempromosikan dan

meningkatkankesehatan, yaitu :

 Kebijakan yang di dukung oleh staf sekolah termasuk mewujudkan proses

belajarmengajar yang dapat menciptakan lingkungan psikososial yang sehat bagi

seluruhmasyarakat sekolah

 Kebijakan-kebijakan dalam memberikan pelayanan yang adil untuk seluruh siswa

 Kebijakan-kebijakan dalam penggunaan rokok, penyalahgunaan narkoba termasuk

alkohol serta pencegahan segala bentuk kekerasan/pelecehan

6. Bekerja keras untuk ikut atau berperan serta meningkatkan kesehatan masyarakat,

dengan:

 Memperhatikan adanya masalah kesehatan masyarakat yang terjadi

 Berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan kesehatan masyarakat

Untuk itulah sekolah harus menjadi suatu “tempat” yang dapat

meningkatkan/mempromosikanderajat kesehatan peserta didiknya. Konsep inilah yang oleh

Organisasi Kesehatan Dunia disebut dengan menciptakan “Health Promotion School” atau

sekolah promosi kesehatan. Dapatdikatakan program Usaha Kesehatan Sekolah

dilaksanakan dengan baik pada sekolah tersebut.

Pada dasarnya, setiapnya sekolah memiliki kemampuan dan kebutuhan yang berbeda-

bedasesuai situasi dan kondisinya masing-masing dalam mewujudkan “Sekolah Promosi

Kesehatan”.Namun yang terpenting adalah bagaimana ia dapat menggunakan “kekuatan

organisasinya”secara optimal untuk dapat meningkatkan kesehatan masyarakat sekolah.\

10
2.4 Jenis Kegiatan Promosi Kesehatan

Adapun rincian kegiatan program Promosi Kesehatan di sekolah :

 Pembangunan sarana air bersih, sanitasi dan fasilitas cuci tangan termasuk pendidikan

menjagakebersihan jamban sekolah

 Pendidikan pemakaian dan pemeliharaan jamban sekolah

 Penggalakan cuci tangan dengan sabun

 Pendidikan tentang hubungan air minum, jamban, praktek kesehatan individu, dan

kesehatanmasyarakat

 Program pemberantasan kecacingan

 Pendidikan kebersihan saluran pembuangan/SPAL

 Pengembangan tanggungjawab murid, guru dan pihak-pihak lain yang terlibat di

sekolah,mencakup:

- Pengorganisasian murid untuk pembagian tugas harian, pembagian tugas guru

pembina danKomite Sekolah

- Meningkatkan peranan murid dalam mempengaruhi keluarganya

2.5 Kegiatan Promosi Kesehatan “Cuci Tangan Pakai Sabun”

Masalah kesehatan yang timbul pada anak sekolah biasanya berkaitan dengan kebersihan

diri (personal hygiene) diantaranya seperti: tidak menggosok gigi secara baik dan benar,

tidak memotong kuku secara rutin satu minggu sekali dan tidak membiasakan diri mencuci

tangan dengan sabun dan air mengalir. Kebiasaan tidak mencuci tangan dengan sabun dan

air mengalir dapat menyebabkan penyakit diantaranya diare, penyakit kulit, Infeksi Saluran

11
Napas Atas (ISPA) dan kecacingan. Hampir semua orang mengerti pentingnya cuci tangan

dengan sabun, namun tidak membiasakan diri melakukannya dengan benar pada saat yang

penting. Mencuci tangan pakai sabun dilakukan pada 5 waktu penting: sebelum makan,

sesudah buang air besar, sebelum memegang bayi, sesudah menceboki anak, dan sebelum

menyiapkan makanan. Demikian pula pada penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di

tatanan Sekolah Dasar kususnya indikator Cuci Tangan Pakai Sabun belum di terapkan

secara menyeluruh. Perilaku merupakan semua aktivitas manusia baik yang diamati

langsung maupun yang tidk dapat diamati oleh pihak luar. Menurut Bloom (1908), bahwa

perilaku manusia terdiri dari tiga bagian yaitu, pengetahuan, sikap, dan Tindakan.

Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya perilaku seseorang

(Over behavior). Perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih baik dari perilaku yang

tidak didasari oleh pengetahuan. Penerapan cuci tangan pakai sabun adalah salah satu

tindakan yang dinilai efekif untuk mencegah penularan berbagai penyakit yang diperantai

tangan.

 Langkah–langkah Cuci Tangan yang benar ada enam langkah yaitu membasahi tangan

dan menggosok kedua telapak tangan, punggung tangan dan sela-sela jari, punggung

jari, menggosok ibu jari dan kuku kemudian bilas air bersih.

Mencuci tangan yang baik dan sehat membutuhkan beberapa peralatan sebagai berikut

di bawah ini :

1. Sabun / antiseptic.

2. Air bersih.

3. Lap / tisu kering bersih.

12
13
 Pentingnya Mencuci Tangan Memakai Sabun

Mantan Menteri Kesehatan, Dr. dr. Siti Fadilah Supari mengatakan bahwa kebiasaan

mencuci tangan dengan air saja, tidak cukup untuk melindungi seseorang dari kuman

penyakit yang menempel di tangan. Terlebih bila mencuci tangan tidak dibawah air

mengalir. Berbagi kobokan sama saja saling berbagi kuman. Kebiasaan itu harus

ditinggalkan. Mencuci tangan pakai sabun terbukti efektif dalam membunuh kuman yang

menempel di tangan. Gerakan nasional cuci tangan pakai sabun dilakukan sebagai bagian

dari kebijakan pemerintah untuk pengendalian risiko penyakit yang berhubungan dengan

lingkungan seperti diare dan penyakit kecacingan. Sama halnya bahwauntuk mengatasi

kuman dibutuhkan pengertian akan pentingnya kebiasaan mencuci tangan oleh siapapun.

Bukan hanya sekedar mencuci tangan saja melainkan juga menggunakan sabun dan

dilakukan di bawah air yang mengalir karena sabun bisa mengurangi atau melemahkan

kuman yang ada di tangan.

Menurut Pusat-pusat Pencegahan dan Kendali Penyakit (Centers for Disease Control /

CDC), cuci tangan adalah tindakan paling utama dan menjadi satusatunya cara mencegah

serangan dari penyakit. Cuci tangan adalah murah, mudah, dan untuk mencegah penyakit. Dan

pencegahan penyakit adalah yang paling penting dari itu semua. Tujuan utama dari cuci tangan

secara higienis adalah untuk menghalangi transmisi patogen-patogen kuman dengan cepat dan

secara efektif. Kebersihan tangan yang tidak memenuhi syarat juga berkontribusi menyebabkan

penyakit terkait makanan, seperti Salmonella dan infeksi E. Coli.

14
Mencuci tangan memakai sabun sebaiknya dilakukan sebelum dan setelah beraktifitas.

Berikut ini adalah waktu yang tepat untuk mencuci tangan memakai sabun :

1. Sebelum dan setelah makan.

2. Setelah ganti pembalut.

3. Sebelum dan setelah menyiapkan makanan, khususnya sebelum dan setelah memegang

bahan mentah, seperti produk ternak dan ikan.

4. Setelah memegang hewan atau kotoran hewan.

5. Setelah mengusap hidung, atau bersin di tangan.

6. Sebelum dan setelah mengiris sesuatu.

7. Sebelum dan setelah memegang orang sakit atau orang yang terluka.

8. Setelah menangani sampah.

9. Sebelum memasukkan atau mencopot lensa kontak.

10.Setelah menggunakan fasilitas umum (mis. toilet, warnet, wartel, dan lain - lain).

11.Pulang bepergian dan setelah bermain.

12.Sesudah buang air besar dan buang air kecil.

 Faktor yang mempengaruhi perilaku cuci tangan Menurut Tarwoto dan Wartonah, salah

satu faktor yang mempengaruhi perilaku mencuci tangan diantaranya adalah

pengetahuan. Pengetahuan siswa tentang mencuci tangan yang diperoleh siswa dari guru,

diantaranya tentang waktu dan cara mencuci tangan. Sehingga dengan pengetahuan

tersebut akan menyebabkan perilaku mencuci tangan siswa relatif kurang

o Perilaku

Pengertian Perilaku adalah tindakan atau perbuatan suatu organisme yang dapat diamati.

Perilaku merupakan keseimbangan antara kekuatan pendorong dan kekuatan penahan

15
sebagai hasil dari proses interaksi terhadap lingkungan yang diwujudkan dalam bentuk

pengetahuan, sikap dan tindakan. Perilaku merupakan faktor terbesar yang

mempengaruhi kesehatan individu, kelompok atau masyarakat. Antara perilaku,

pendidikan kesehatan dan status kesehatan berada pada suatu pola hubungan yang saling

mempengaruhi.

1. Faktor yang mempengaruhi perilaku adalah

A. Faktor internal: sifat bawaan berupa karakteristik dari orang yang bersangkutan

seperti ras, sifat fisik, sikap kepribadian (pemalu, pemarah, dan penakut), bakat,

tingkat kecerdasan dan jenis kelamin.

B. Faktor eksternal: lingkungan fisik, sosial budaya, ekonomi, dan politik

2. Jenis-jenis Perilaku

Perilaku dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) jenis yaitu:

a. Perilaku dalam bentuk pengetahuan, yaitu dengan mengetahui situasi atau

rangsangan dari luar.

b. Perilaku dalam bentuk sikap yaitu tanggapan batin terhadap keadaan atau

rangsangan dari luar. Dalam hal ini lingkungan berperan dalam membentuk perilaku

manusia yang ada di dalamnya. Sementara itu lingkungan terdiri dari, lingkungan

pertama adalah lingkungan alam yang bersifat fisik dan akan mencetak perilaku

manusia sesuai dengan sifat dan keadaaan alam tersebut. Sedangkan lingkungan yang

kedua adalah lingkungan sosial budaya yang bersifat non fisik tetapi mempunyai

pengaruh yang kuat terhadap pembentukan perilaku manusia.

c. Perilaku dalam bentuk tindakan yang sudah konkrit, yakni berupa perbuatan atau

aksi terhadap situasi atau rangsangan dari luar. Tetapi dalam penelitian ini peneliti

16
hanya meneliti domain psikomotor yaitu tindakan. Tindakan atau praktek adalah

respon atau reaksi konkret seseorang terhadap stimulus atau objek. Respon ini sudah

dalam bentuk tindakan (action) yang melibatkan aspek psikomotor atau seseorang

telah mempraktekkan apa yang diketahui atau disikapi. Tindakan atau perilaku

kesehatan terjadi setelah seseorang mengetahui stimulus kesehatan, kemudian

mengadakan penilaian terhadap apa yang diketahui dan memberikan respon batin

dalam bentuk sikap. Proses selanjutnya diharapkan subjek akan melaksanakan apa

yang diketahui atau disikapinya. Sehat berhubungan dengan perilaku seseorang, cara

mengukur indikator perilaku tindakan adalah melalui observasi tetapi bisa juga

dengan cara wawancara.

17
BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

1. Secara umum hasil penyuluhan pomosi kesehatan pada sekolah negeri yang

diselenggarakan Puskesmas Sukamerindu sangat bermanfaat untuk meningkat kan dan

mengajarkan perilaku hidup sehat, serta pentingnya cuci tangan yang baik dan benar.

2. Mencuci tangan adalah salah satu tindakan sanitasi dengan membersihkan tangan dan jari

jemari dengan menggunakan air ataupun cairan lainnya oleh manusia dengan tujuan untuk

menjadi bersih.

Macam macam mencuci tangan :


a. Mencuci tangan dengan air
b. Mencuci tangan dengan sabun
c. Mencuci tangan dengan cairan
d. Mencuci tangan dengan tisu basah
Tujuan melakukan cuci tangan dengan baik dan steril supaya kita tidak terjangkit
penyakit seperti diare dan cacingan. Perilaku hidup sehat harus ditanamkan dari sejak
kecil.

B. SARAN

1. Mengembangkan program Usaha Kesehatan Sekolah yang sudah ada misalnya dengan

membentuk dokter kecil atau kader kesehatan di sekolah untuk menyampaikan pesan-pesan

kesehatan sebagai upaya pemberdayaan siswa-siswi di sekolah.

2. Menyediaan sarana kamar mandi yang sesuai dengan standarisasi kesehatan.

3. Membuat sarana mencuci tangan disekolah untuk siswa-siswi yang dilengkapi dengan

sabun untuk mencuci tangan.

18
DAFTAR PUSTAKA

1. Departemen Kesehatan RI, Pusat Promosi Kesehatan, Pedoman Pengelolaan Promosi

Kesehatan Dalam Pencapaian PHBS, Jakarta 2008.

2. Departemen Kesehatan RI, Pusat Promosi Kesehatan, Panduan Pelatihan Komunikasi

Perubahan Perilaku, Untuk KIBBLA, Jakarta akarta 2008.

3. Departemen Kesehatan RI, Pusat Promosi Kesehatan, Promosi Kesehatan Sekolah,

Jakarta 2008.

4. Departemen Kesehatan RI, Pusat Promosi Kesehatan, Panduan Integrasi Promosi

Kesehatan Dalam Program- Program Kesehatan di Kabupaten/Kota, Jakarta 2008

5. Departemen Kesehatan RI, Pusat Promosi Kesehatan, Pedoman Pelatihan PHBS di

Rumah Tangga, Jakarta 2008.

6. Burton M, Cobb E, Donachie P, Judah G, Curtis V, Schmidit W. The effect of


handwashing with water or soap on bacterial contamination of hands. Int. J. Environ.
Res. Public Health. 2011; 8 , 97-104.

7. Mikail B. Kebisaan cuci tangan masih rendah. 2011.


http://health.kompas.com/read/2011/09/29/17324045/Kebiasaan.Cuci.Tangan.Masih.Ren
dah. Diunduh, 20oktober 2017

8. WHO. WHO guidelines on hand hygiene in health care first global patient safety
challenge. Switzerland: WHO Press; 2009.

9. Desiyanto FA, Djannah S. Efektifitas Mencuci Tangan Menggunakan Cairan Pembersih


Tangan Antiseptik (Hand Sanitizer) Terhadap Jumlah Angka Kuman. Jurnal Kesmas.
2013.7.2.55-112. Diakses pada tanggal 20oktober 2017

19
Dokumentasi Kegiatan

20
21
22