Anda di halaman 1dari 4

BAB IV

PEMBAHASAN

Berdasarkan rangkaian anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan


penunjang yang dilakukan terhadap pasien di RSUD dr. Moewardi didapatkan
diagnosis pasien ini adalah wanita 29 tahun G2P1A0 hamil aterm dengan
Preeklampsia Berat (PEB), presbo, BDP dengan PMO VSD pro SCTP-E, plan
regional anestesi subarachnoid block (RASAB) dengan status fisik ASA II E.
Penatalaksanaan pada pasien ini adalah SCTP emergensi. Pada pasien telah
dilakukan penatalaksanaan awal di VK IGD berupa dengan pemberian cairan
Ringer Laktat 12 tpm dan MgSO4 40% loading dose, dan pemasangan kateter urin.
Pasien sudah dikonsultasikan ke bagian anestesi dan jantung untuk
penatalaksanaan permasalahan pasien dan penilaian toleransi operasi sehingga
pasien direncanakan untuk operasi dengan anestesi RASAB.
Pada pasien ini terjadi preeklampsia berat yang artinya adalah pasien
mengalami hipertensi pada kehamilan dengan tekanan darah saat datang sebesar
160/100 mmHg dengan proteinuria 1+.
Prinsip tatalaksana dari preeklampsia berat adalah penanganan aktif yaitu
mencegah timbulnya kejang, mengendalikan hipertensi guna mencegah perdarahan
intrakranial serta kerusakan dari organ-organ vital dan melahirkan bayi dengan
selamat. Kemudian pada pasien dilakukan terminasi kehamilan dengan sectio
caesaria emergensi atas indikasi maternal. Indikasi maternal adalah untuk
mencegah timbulnya komplikasi eklampsia. Usia kehamilan pada kasus ini adalah
kehamilan aterm.
Anestesi yang baik dilakukan pada pasien dengan kondisi hamil adalah
anestesi spinal, karena bayi yang lahir dari ibu dengan anestesi spinal tidak
terpengaruh oleh obat anestesi yang digunakan saat operasi, berbeda dengan obat-
obatan anestesi umum yang dapat melewati sirkulasi plasenta. Selain itu, pasien
dengan anestesi spinal yang kondisinya sadar saat operasi memiliki risiko aspirasi
isi lambung yang minimal jika dibandingkan dengan pasien yang mendapat

26
anestesi umum. Aspirasi isi lambung dapat menyebabkan terjadi pneumositis
kimia pada pasien.
Sebelum dilakukan tindakan anestesi didapatkan hasil pemeriksaan nadi pre
anastesi 88 kali/menit, tekanan darah 160/100 mmHg, dan frekuensi pernafasan
20 kali/menit. Status ASA pada pasien ini adalah ASA II emergency karena pasien
tidak memiliki penyakit sistemik yang berat yang menyebabkan aktivias rutin
terbatas. Komplikasi kehamilan berupa preeklampsia berat dapat mengancam
nyawa ibu dan janin sehingga memerlukan penanganan yang segera terhadap
kondisi tersebut.
Pada kasus ini pasien direncanakan untuk dilakukan SCTP emergensi dan
pasien telah menyetujui untuk dilakukan operasi sehingga dapat dilakukan
persiapan anestesi. Pada pasien ini dilakukan anestesi RASAB dengan puncture di
Vertebrae lumbalis 4-5, respirasi kontrol. Pasien diinstruksikan untuk dirawat di
HCU setelah operasi untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Pasien dirawat
di HCU untuk observasi ketat keadaan umum, kesadaran, tanda-tanda vital, dan
tanda-tanda perburukan komplikasi kehamilan.

27
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang, pasien tersebut didiagnosis dengan wanita 29 tahun
G2P1A0 hamil aterm dengan Preeklampsia Berat (PEB), presbo, BDP
dengan PMO VSD pro SCTP-E.
2. Pada pasien tersebut tata laksana anestesi dengan status fisik ASA II
E, plan informed consent, IV line, DC, puasa makanan padat 6 jam
dan makanan cair 4 jam, obat tetap diberikan terus, premedikasi di
OK IGD, regional anestesi sub arachnoid block (RASAB), dan
perawatan pasca operasi di HCU.

B. Saran
Setelah pasien diperbolehkan pulang, sebaiknya dilakukan follow up
kembali untuk mengevaluasi hasil pengobatan.

28
DAFTAR PUSTAKA

Angsar MD (2003). Hipertensi dalam kehamilan Edisi II. Surabaya: Lab/SMF


Obstetri dan Ginekologi FKUA/RSDS.

Butterworth IV JF, Mackey DC, Wasnick JD. (2013). Morgan & Mikhail’s
Clinical Anesthesiology, 5th Ed. United State of America: Lange Medical
Book/ Mc GrawHill Medical Publishing.

Cunningham, F G,dkk.. (2005). Obstetri Williams Volume I. Jakarta : EGC.

Dunn Peter F, ed. (2007). Clinical anesthesia procedures of massachusetts.


Massachusetts.

Gathiran P, Moodley J. (2016). Pre-eclampsia: It’s pathogenesis and


pathophysiology. Cardiovasc J Afr., 27 (2): 71-78.

Jeyabalan, Arun. (2013). Epidemiology of preeclampsia: Impact of obesity. Nutr


Rev., 71.

Kasdu, D. (2005). Solusi problem persalinan. Jakarta: Puspa Swara.

Kementerian Kesehatan RI. (2016). Jurnal kesehatan reproduksi. 7 (2): 71-144.


Manuaba. (2010). Ilmu kebidanan dan penyakit kandungan. Jakarta: EGC.

Morgan GE, editor. (2006). Clinical Anesthesiology, 4th ed. United State of
America: Lange Medical Books/McGraw-Hill.
POGI. (2011). Protap Penatalaksanaan Kehamilan dengan Pertumbuhan Janin
Terhambat.

Sarwono., (2005). Ilmu kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina.

Wiknjosastro H. (2009). Ilmu Kebidanan Edisi ke-4 Cetakan ke-2. Jakarta:


Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

29