Anda di halaman 1dari 27

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

1. Open Reduksi With Internal Fixation(ORIF)

a. Pengeritan Bedah ORIF

Reduksi terbuka adalah suatu tindakan pembedahan untuk

mengembalikan kesejajaran tulang yang patah setelah terlebih dahlu

dilakukan tindakaan diseksi atau pemanjanan tulang yang patah.

Fiksasi Interna adalah stabilisasi tulang yang sudah patah dengan

dipasang alat seperti skrup, paku, plat dan logam. ORIF itu sendiri

adalah sebuah prosedur pembedahan untuk mengembalikan

kesejajaran tulang yang patah dengan menggunakan pemasanagan alat

berupa skrup, paku, plat dan logam (Semetzer et al dalam Budi, 2012).

b. Penatalaksanaan Pasca Bedah ORIF

Menurut Nissen dalam Budi (2012) setelah pasien menjalani

pembedahan ORIF, akan dilakukan perawatan antara lain :

1) Aktivitas

Pasien pasca ORIF tidak boleh menggunakan bagian tubuh

yang dilakukan operasi untuk menyangga berat badanya

sedikitpun. Apabila pasien mengalami fraktur pada ekstermitas

atas, maka pasien akan diminta untuk tidak menekan, meraih atau

8
9

mengangkat barang. Selain itu untuk kebutuhan imobilisasi,

pasien akan dianjurkan untuk menggunakan alat bantu misalnya

walker, brace, kruk, atau tripod.

2) Medikasi.

Obat anti inflamasi dan analgeik akan diberikan pada beberapa

hari paska operasi yang dosisnya tergantung kondisi pasien.

Medikasi nerkotik sebagai analgesik dapat juga diberikan disertai

dengan antasida. Setelah beberapa hari, pemakaian analgesik

hanya bersifat intermiten dan dikontrol oleh pasien sendiri.

3) Perawatan Luka

Luka bedah diharapkan tidak berdarah atau minimal

perdarahan di bawah balutan. Apabila terjadi rembesan darah

pada balutan luka, maka harus segera diganti, hal ini untuk

meminimalisir post entri mikroba ke dalam luka. Penggantian

balutan luka dilakukan untuk meminimalkan komplikasi infreksi.

Untuk memungkinkan luka bedah ORIF kering secepat mungkin,

maka luka insisi akan ditutupi oleh kasa penyerap steril yang

memungkinkan sirkulasi udara (Ryf & Arraf dalam Budi, 2012).

c. Prinsip Penaganan Fraktur

Prinsip penanganan fraktur adalah reduksi, imobilisasi, dan

rehabilitasi.
10

1) Rekognisi

Penanganan patah tulang yang pertama kali tentunya dengan

anamnesis untuk mengetahui adanya trauma jatuh, terputar,

tertumbuk, dan seberapa kuatnya trauma tersebut. Pemeriksaan

untuk menentukan ada atau tidaknya patah tulang terdiri dari tiga

langkah: lihat, raba, dan gerakkan. Satu hal yang tidak boleh

dilupakan adalah pemeriksaan klinik untuk mencari akibat trauma

seperti pneumotoraks atau cedera otak, serta komplikasi vaskuler

dan neurologis dari patah tulang yang bersangkutan. Hal tersebut

sangat penting karena perlu penanganan secara langsung. Pada

patah yang fragmenya mengalami dislokasi (Suddarth, 2001).

2) Reduksi.

a) Reduksi Tertutup

Reduksi fraktur (seting tulang) berarti pengembalian

fragment tulang pada kesejajaranya dan rotasi anatomis.

Reduksi tertutup, traksi atau reduksi terbuka dapat

dilakukan untuk mereduksi fraktur. Biasanya dokter

melakukan reduksi fraktur sesegera mungkin untuk

mencegah jaringan lunak kehilangan elastisitasnya akibat

infiltrasi karena edema dan pendarahan. Pada kebanyakan

kasus, reduksi tertutup dilakukan dengan mengembalikan

fragment tulang ke posisinya (Suddarth, 2001).


11

b) Reduksi Terbuka

Pada penanganan fraktur tertentu memerlukan reduksi

terbuka. Dengan pendekatan bedah, fragment tulang

direduksi. Alat fiksasi interna dalam bentuk pin, kawat,

sekrup, plat, paku, atau batangan logam dapat digunakan

untuk mempertahankan fragment tulang dalam posisinya

sampai penyembuhan tulang yang solid terjadi. Alat ini

dapat diletakaan di sisi tulang atau dipasang melalui

fragment tulang atau langsung ke rongga sum-sum tulang

(Suddarth, 2001).

3) Imobilisasi Fraktur

Setelah fragment tulang di reduksi, fragmenn tulang harus

diimobilisasi, atau dipertahankan dalam posisi dan kesejajaran

yang benar sampai terjadi penyatuan. Imobilisasi dapat

dilakukan dengan fiksasi eksterna atau interna. Metode fiksasi

eksterna meliputi pembalutan gips, bidai, traksi kontinu, pin

dan teknik gips, atau fiksator eksterna. Implant logam dapat

digunakan untuk fiksasi interna yang berperan sebagai bidai

interna untuk mengimobilisasi fraktur (Suddarth, 2001).

4) Rehabilitasi (mempertahankan dan mengembalikan fungsi)

Segala upaya yang diarahkan pada penyembuhan tulang dan

jaringan lunak. Status neurovaskuler (pengkajian peredaran

darah, nyeri, perabaan dan gerakan) dipantau. Tim ortopedi


12

diberitahu segera bila ada tanda gangguan neurovaskuler

(Suddarth, 2001).

d. Fase Penyembuhan Fraktur

Proses pembentukan fraktur berfariasi sesuai dengan ukuran tulang

dan umur pasien. Faktor lainya adalah tingkat kesehatan pasien

secara keseluruhan, atau kebutuhan nutrisi yang cukup. Adapun tahap

penyembuhan fraktur yaitu fase inflamasi, poriferasi sel, klasifikasi,

osifikasi dan remodeling (zmeltzer & bare dalam Budi, 2012)

1) Fase Inflamasi

Respon tubuh yang ditandai dengan adanya perdarahan dan

pembentukan hematom pada tempat patah tulang. Ujung fragment

tulang mengalami divitalisasi karena terputusnya aliran darah,

lalu terjadi pembengkakan dan nyeri, tahap ini berlangsung dalam

beberapa hari.

2) Fase Proliferasi

Fase ini hematoma akan mengalami organisasi dengan

membentuk benang-benang fibrin, membentuk refakularisasi dan

fibroblast dan osteoblast. Kemudian menghasilkan kolagen dan

proteoglikan sebagai matriks kolagen pada patahan tulang. Proses

ini berlangsung selama lima hari.

3) Fase Pmebentukan Kalus

Pertumbuhan jaringan berlanjut dan lingkaran tulang rawan

tumbuh mencapai sisi lain sampai celah sudah mulai terhubung.


13

Fragmen patah tulang digabungkan dengan jaringan fibrus, tulang

rawan dan tulang serat imatur. Waktu yang dibutuhkan agar

proses pembentukan berlangsung yaitu selama 3-4 minggu.

4) Fase Penulangan Atau Ossifikasi

Merupakan tahap kalus mulai melakukan penulangan dalam 2-

3 minggu patah tulang melalui proses penulangan endokondral.

Mineral terus menerus ditimbun hingga tulang benar benar

menyatu. Pada patah tulang panjang orang dewasa normal,

penulangan dapat terjadi dalam proses waktu 3-4 bulan.

5) Fase Remodeling

Fase ini merupakan fase terakhir perbaikan patah tulang

meliputi pengambilan jaringan mati dan reorgenalisasi tulang

baru ke susunan struktural tulang lainya. Remodeling

memerlukan waktu berbulan bulan bahkan bertahun tahun.

2. Nyeri

a. Definisi

Nyeri adalah suatu keadaan atau fenomena yang tidak

menyenangkan yang sulit dipahami dan bersifat subjektif karena

ambang nyeri setiap individu berbeda tergantung pada keadaan

emosionalnya. Nyeri biasanya disebabkan karena terjadi kerusakan

jaringan aktual maupun potensial (Zakiyah, 2015).


14

b. Klasifikasi Nyeri

1) Nyeri Akut

Nyeri akut adalah respon fisiologis normal yang diramalkan

terhadap rangsangan kimiawi, panas, atau mekanik menyusul

suatu pembedahan, trauma, dan penyakit akut. Ciri khas nyeri

akut adalah nyeri yang diakibatkan kerusakan jaringan yang nyata

dan akan hilang seirama dengan proses penyembuhanya, terjadi

dalam waktu singkat dari 1 detik sampai kurang dari 6 bulan

(Zakiyah, 2015).

2) Nyeri Kronis

Nyeri yang menetap melampaui waktu penyembuhan normal

yaitu enam bulan. Karakteristik penyembuhan nyeri kronis tidak

dapat diprediksi meskipun penyebabnya mudah ditemukan

(Zakiyah, 2015).

c. Nyeri Pasien Pasca Bedah ORIF

Nyeri paska operasi merupakan sensasi yang tidak menyenangkan

karena prosedur bedah ORIF dimana dilakukan pemasangan alat

berupa skrup, paku, plat dan logam. Sensasi ini disebabkan karena

kerusakan jaringan akibat luka sayatan (Hesler dalam Budi, 2012).

Tipe nyeri yang sering dirasakan pada pasien pasca operasi ORIF

adalah jenis nyeri nociceptive. Nyeri nociceptive adalah nyeri yang

disebabkan karena kerusakan otot, tulang, dan kulit. Pasien dengan

tipe ini nyeri ini akan dapat menunjukan dimana nyerinya dan dapat
15

merasakan pengurangan nyeri sejalan dengan penyembuhan. Sensai

nyeri pasien post ORIF adalah pada 4-6 jam sampai 7-8 hari setelah

pembedahan. Nyeri terhebat dirasakan pada hari ke-2 sampai hari ke-

4 dengan intensitas nyeri terbanyak yang dimiliki pasien adalah

tingkat nyeri berat dan nyeri sedang (Schoen dalam Budi, 2012).

d. Mekainsme Nyeri Pasien Pasca Bedah ORIF

Kerusakan jaringan akibat pembedahan, prosedur ORIF dan

prosedur penutupaan luka merupakan faktor pencetus nyeri pada

pasien post operasi ORIF. Substansi-substansi ini menimbulkan

stimulus nosisepti dan juga menurunkan ambang nyeri dengan

berkurangnya kepekaan reseptor nyeri. Selain itu juga dapat

disebabkan karena iskema jaringan tulang dan jaringan lunak yang

cidera. Spasme otot akan meningkatkan kecepatan metabolisme otot,

sehingga relatif memperberat keadaan iskemik yang merupakan

kondisi ideal untuk pelepasan bahan kimiawi pemicu timbulnya

iskemik (Guyton & hall dalam Budi, 2012).

Nyeri paska bedah ORIF dapat mengaktivasi sistem saraf simpatis

yang distimulasi oleh hipotalamus. Epinephrine dan noreprinephrine

mempersiapkan tubuh untuk menurunkan respon nyeri. Respon

fisiologis ini meningkatkan kecemasan dan juga ketegangan otot dan

persepsi nyeri. Wajah menjadi pucat dan pupil berdilaksasi, terjadi

peningkatan frekuensi pernapasan, denyut jantung, tekanan darah,

ketegangan otot yang berdekatan dengan insisi meningkat yang akan


16

meningkatkan stimulasi sensasi nyeri. ( Craven & Hirnle dalam Budi,

2012).

e. Tingkat Keparahan Nyeri

Karakteristik paling subjektif pada nyeri adalah tingkat keparahan

nyeri tersebut. Skala deskriptif merupakan alat ukur nyeri yang lebih

objektif. Tingkat nyeri merupakan suatu gambaran skala yang

dibedakan menurut tingkat kaparahan nyeri. Pendeskripsian tingkat

nyeri ini diranking dari” tidak nyeri” sampai “nyeri yang tidak

tertahankan”. Untuk pengukuran tingkat nyeri sendiri dapat

dibedakan menjadi. Tidak nyeri, nyeri ringan, nyeri berat dan nyeri

tidak tertahankan. Dapat diklasifikasikan dari skala nyeri numerik

dengan rentang skala 1 sampai 10 yaitu 0 untuk tidak nyeri, 1 sampai

3 untuk nyeri ringan, 4 sampai 6 untuk nyeri sedang, 7 sampai 8

untuk nyeri berat dan 10 untuk nyeri tidak tertahankan (Potter &

Perry, 2005).

f. Menurut Zakiyah (2015) Ada beberapa cara untuk mengukur nyeri

yaitu :

1) Skala Nyeri Numerik

Gambar 2.1. Skala Nyeri Numerik

2) Skala Nyeri Deskriptif


17

Gambar 2.2. Skala Nyeri Deskritif

3) Visual Analog Scale (VAS)

Gambar 2.3. Visual Analog Scale (VAS)

4) Wong-baker Faces Pain Rating Scale

Gambar 2.4. Wong-baker Faces Pain Scale.

5) Oucher Self-Report Pain Scal

Gambar 2.5. Oucher Self-report Pian Scale

g. Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Nyeri

Menurut Zakyah (2015) faktor yang mempengaruhi nyeri adalah

usia, jenis kelamin dan pengalaman sebelumnya.

1) Usia

Usia mempengaruhi persepsi dan ekspresi seseorang

terhadap nyeri. Anak yang masih kecil mempunyai kesulitan

dalam memprestasikan nyeri, anak akan kesulitan


18

mengungkapkan secara verbal dan mengekspresikan nyeri pada

orang tua atau petugas kesehatan. Smelter dan Bare (2002)

menjelaskan bahwa usia sangat mempengaruhi terhadap nyeri.

Klasifikasi kelompok umur berdasarkan usia yaitu : remaja akhir

(17-25 tahun), dewasa awal (26-35 tahun), dewasa akhir (36-45),

usia lansia awal (46-55 tahun), dan usia lansia akhir (56-65

tahun).

2) Jenis Kelamin

Jenis kelamin merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi

nyeri. Secara umum pria dan wanita tidak berbeda dalam

berespons terhadap nyeri, akan tetapi beberapa kebudayaan

mempengaruhi pria dan wanita dalam mengimpretasikan nyeri.

Seorang pria tidak boleh menangis dan harus berani sehingga

tidak boleh menangis sedangkan wanita boleh menangis dalam

situasi yang sama.

3) Pengalaman Sebelumnya

Seorang klien tidak pernah merasakan nyeri, maka persepsi

pertama dapat mengganggu mekanisme koping terhadap nyeri,

akan tetapi pengalaman nyeri tidak selalu berarti bahwa klien

tersebut akan dengan mudah menerima nyeri pada masa yang

akan datang.
19

h. Penatalaksanaan Nyeri

1) Farmakologis.

Terdapat dua acara penangan nyeri yaitu farmakologis dan

non-farmakologis. Penanganan nyeri farmakologis yatiu

penanganan menggunakan obat obat analgesik. Secara garis besar

strategi farmakologi dalam pemberian terapi analgesik meliputi

WHO Pain Relief Leadder. Obat yang digunakan untuk nyeri

ringan dan sedang seperti obat golongan non-opoid, di antaranya

aspirin, acetaminophen, atau anti-inflamasi non-steroid.(NAINS)

(zakiyah, 2015).

2) Kadar Puncak Obat

Kadar puncak adalah konsentrasi plasma tertinggi dari seluruh

obat pada waktu tertentu. Jika obat diberikan secara oral, waktu

puncaknya mungkin 1 sampai 3 jam setelah pemberian obat,

tetapi jika obat diberikan secara intravena, kadar puncaknya

mungkin dicapai dalam 10 menit dengan maksimum analgesika

tercapai dalam 1 sampai 2 jam (Gunawan, 2012).

3) Fase Kerja Obat Opoid

Analgetik opoit merupakan kelompok obat yang memiliki sifat

seperti opium. Opium yang berasal dari getah papaver

somniferum mengandung sekitar 20 jenis alkaloid diantaranya

morfin, kodein, tebain, dan papaverin. Analgesik opoid terutama


20

sering digunakan untuk meredakan atau menghilangkan nyeri,

salah satu obat yang di gunakan untuk meredakan nyeri adalah

golongan obat seperti morfin. Pada dasarnya mula kerja semua

alkaloid opoid berbeda beda, setelah pemberian dalam dosis

tunggal, sebagian morfin mengalami konjugasi dengan asam

glukoronat di hepar, sebagian dikeluarkan dalam bentuk bebas

dan 10% tidak diketahui nasibnya. Hal tersebut menunjukan

bahwa konsentrasi pemberian obat hanya efektif sekitar 90 %

dari jangkauan waktu yang diberikan dan sisanya tidak diketahui

nasibnya (Gunawan, 2012).

4) Non-farmakologis

Beberapa cara untuk menangani nyeri dengan teknik non-

farmakologis salah satunya yaitu distraksi. Distraksi merupakan

strategi pengalihan nyeri yang memfokuskan perhatian klien ke

stimulus yang lain. Berikut ini adalah beberapa macam teknik

distraksi .

a) Distraksi visual meliputi melihat pertandingan, menonton

televisi, membaca koran, serta melihat pemandangan dan

gambar.

b) Distraksi pernapasan biasanya pasien dianjurkan untuk fokus

memandang pada satu objek atau memejamkan mata sambil

menarik nafas dalam dan mengeluarkan secara perlahan.


21

c) Distaksi pendengaran dapat dilakukan dengan cara

mendengarkan musik yang disukai atau suara burung serta

gemericik air, klien dianjurkan untuk memilih musik yang

disukai dan musik tenang seperti musik klasik. Klien diminta

untuk berkonsentrasi pada lirik dan lagu.

3. Terapi Musik

a. Pengertian

Terapi musik terdiri dari dua kata yaitu “terapi” dan “musik”.

Kata “terapi” berkaitan dengan serangkaian upaya yang dirancang

untuk membantu menolong orang. Sedangkan kata “musik” dalam

“terapi musik” digunakan untuk menjelaskan media yang digunakan

secara khusus dalam rangkaian terapi. Terapi musik adalah usaha

meningkatkan kualitas fisik dan mental dengan rangsangan suara

yang terdiri dari melodi, ritme, harmoni, timbre, bentuk dan gaya

yang diorganisir sedemikian rupa hingga tercipta musik yang

bermanfaat untuk kesehatan fisik dan mental (Djohan, 2006).

b. Lima Elemen Musik.

Lima elem musik terdiri dari pitch (frekuensi), volume (intensity),

trimbe (warna nada), interval dan rhytm (tempo atau durasi).

Misalnya pitch yang tinggi, dengan rhytm cepat dan tempo yang

cepat dapat meningkatkan ketegangan otot atau menimbulkan

perasaan yang tidak nyaman. Sebaliknya, pada pitch dengan rhytm


22

yang lambat dan tempo yang lambat akan menimbulkan efek

rekalsasi dan dapat menurunkan ketegangan otot (Novita, 2012).

Dalam penelitian ini, peneliti hanya menggunakan empat unsur

elemen musik yaitu tempo dan volume, rythem dan interval. Musik

dalam penelitian ini menggunakan tempo 60-80 beat per minute

sedangkan untuk pengukuran volume menggunakan sound level

meter dan diatur dengan volume 40-60 dB. Rhytm dan interval diatur

dengan menggunakan hukum Pitagoras dalam tangga nada dasar

dengan durasi pemutaran musik 4 menit untuk setiap lagunya.

c. Volume Musik Untuk Terapi

Satuan volume untuk mendengarkan getaran suara adalah decibel

(dB). Untuk menggunakan headset ataupun headphone, biasanya

individu menggunakan volume 70-90 dB. Volume musik yang

dinyatakan comfortambel adalah yang memiliki volume 70 dB. Pada

Bar atau Café biasanya menggunakan musik dengan volume 100 dB.

Volume lebih dari 112 dB biasanya untuk konser heavy metal atau

rock (Staum & Broton, 2000).

Volume yang dapat menimbulkan efek terapeutik adalah 40-60

dB. Selama 20-60 menit dalam satu kali sesi. Bisa juga dilakukan

saat menjelang tidur, dan disarankan selama 45 menit untuk

mendapatkan efek relaksasi maksimum. Dengan sesi terapi

dilakukan minimal dua kali sehari (Nillson, 2009)


23

Eerikainen (2007) telah melakukan penelitian volume suara musik

yang bisa dijadikan terapi. Volume yang direkomendasikan untuk

mengurangi nyeri adalah 40-60 dB. Terapi musik bisa diawali

dengan volume 40-60 dB, dengan asumsi dasar bahwa ini adalah

volume dasar di dalam talamus, sehingga stimulasi getaran akan

memulai efek kognitif untuk terapi. Pada pasien stroke dan alzaimer

disarankan dengan frekuensi 40 dB. Sementara untuk rematoid

arthritis dan trauma muskuloskeletal akut seperti fraktur dan post

operasi, disarankan pada volume 40-60 dB. Musik dengan volume

40-60 dB juga telah terbukti menurunkan kecemasan, ketegangan

otot, mengurangi nyeri, dan menimbulkan efek tenang (Novita,

2012).

Alat yang digunakan untuk mengukur tingkat kekerasan suara yaitu

menggunakan Sound level meter. prinsip kerja sound level meter

adalah didasarkan pada tingkat tekanan suara yang terdengar dengan

tingkat tekanan suara diambang pendengaran manusia yang

kemudian akan ditangkap oleh sistem peralatan, lalu selanjutnya

jarum analog akan menunjukkan angka jumlah dari tingkat

kebisingan yang dinyatakan dengan nilai dB (Alexander Graham

Bell).

Terapi musk dilakukan dimana saja sesuai dengan keinginan

pasien, musik di dengarkan dalam keadaan pasien berbaring, dengan


24

jarak 50 cm dari sumber suara. (Satiadarma dalam SOP musik pada

pasien dengan nyeri pada cidera ADL, 2013)

Karakteristik musik yang bersifat terapi adalah musik yang

nondramatis, dinamikanya bisa diprediksi, memiliki nada yang

lembut, harmonis, temponya 60-80 beat per minute, dan musik yang

dijadikan terapi merupakan musik pilihan klien. Musik yang bersifat

sebaliknya adalah musik yang menimbulkan ketegangan, tempo

yang cepat, irama yang keras, ritme yang irregular, tidak harmonis,

atau dibunyikan dengan volume keras akan menimbulkan

peningkatan denyut nadi, tekanan darah, laju pernafasan, dan

meningkatkan stress.

Musik sedatif adalah musik yang mempunyai volume 40-60 dB,

kombinasi alat musik yang memiliki unsur string, tempo lambat,

kenaikan nada, frekuensi dan ketukan disarankan mengikuti hukum

pytagoras (Andrzej, 2009; Rea MacDonal & Carnes, 2010).

Diagram di bawah ini menunjukan bagaimana nada dasar yang

disarankan sesuai dengan frekuensi berdasarkan hukum pytagoras

sehingga bisa memunculkan efek terapi


25

Tabel 2.1. Nada Dasar dan Frekuensi yang Disarankan Sesuai

dengan Hukum Pytagoras Untuk Terapi Musik

(Sumber : Andrzej, 2009)

d. Jenis Musik Untuk Terapi

Menurut Novita (2012) instrument musik yang dapat digunakan

untuk terapi dengan meminta bantuan seorang ahli musik bernama

Fajarudin dari sebuah sekolah musik untuk membuat komposisi

musik instrumentalia yang disesuaikan dengan lagu lagu Indonesia

yang popular. Pemilihan jenis musik ini telah disesuaikan dengan

kriteria musik yang bisa dijadikan terapi (musik berdasarkan lagu

lagu Indonesia popular, tempo 60-80 beat per menit, dengan kunci

nada mayor dan minor mengikuti pola kunci hukum pytagoras).

Berikut ini adalah daftar lagunya :


26

Tabel 2.2. Daftar Komposisi Baru Lagu Indonesia Untuk Terapi Musik

No Judul Lagu Penyanyi Durasi

1 Antara Anyer dan Jakarta Sheila Majid 4 menit

2 Surat Undangan Poppy Mercury 4 menit

3 Aryati Kris Biantoro 4 menit

4 Hilang Permataku Yuni Shara 4 menit

5 Layu Sebelum Berkembang Ratih Purwasih 4 menit

6 Memori Berkasih Achik Spin dan Nana 4 menit

7 Semua Bisa Bilang Rani 4 menit

8 Sepanjang Jalan Kenangan Yuni Shara 4 menit

(Sumber : Fajarudin, 2012)

e. Ragam Terapi Musik

1) Jenis terapi musik ada dua yaitu:

a) Aktif-Kreatif

Jenis musik ini diterapkan dengan melibatkan klien

secara langsung untuk ikut aktif dalam sebuah sesi terapi

musik melalui cara :

1) Menciptakan Lagu (Composing).

Cara ini dilakukan dengan cara klien di ajak untuk

menciptakan lagu sederhana ataupun membuat

membuat lirik dan terapis yang akan melengkapi secara

harmonis.

2) Improvisasi

Cara ini merupakan upaya membuat musik secara

spontan dengan menyanyi ataupun bermain musik pada


27

saat itu juga dengan membuat improvisasi dari musik

yang diberikan oleh terapis.

3) Re-Creating Musik.

Cara ini merupakan cara mengajak klien bernyanyi

ataupun bermain instrument musik dari lagu lagu yang

sudah dikenal.

b) Pasif_Reseptif

Dalam sesi reseptif , klien akan mendapat terapi dengan

mendengarkan musik. Terapi ini lebih menekankan pada

physical, emotional intellectual, aesthetic of spiritual dari

musik itu sendiri sehingga klien akan merasakan

ketenangan atau relaksasi. Musik yang digunakan dapat

bermacam jenis dan style tergantung pada kondisi yang

dihadapi klien. (Natalia dalam Sari 2014).

f. Penyembuhan Melalui Musik.

Penyembuhan melalui musik adalah penggunaan pengalaman

musikal, bentuk energi dan kekuatan universal yang melekat pada

musik untuk menyembuhkan tubuh, pikiran dan aspek-aspek

spiritual. Terapi musik meyakini bahwa adanya sinergi antara

potensi penyembuhan diri yang dimiliki klien sebagai individu dan

adanya reaksi terapeutik yang memungkinkan klien memperoleh

kekuatan luar biasa yang disalurkan secara eksternal melalui terapi

(Djohan, 2006).
28

g. Cara Kerja Musik

1) Respon Psikologi

Terapi musik sendiri mengandalkan kekuatan tatanan suara

(baik dalam bentuk suara murni maupun musik dan lagu) untuk

memberikan bantuan pada klien dalam menghadapi masalah,

gangguan maupun penyakit yang dideritanya. Musik stimulatif

cenderung meningkatkan energi tubuh, menyebabkan tubuh

bereaksi, meningkatkan detak jantung dan tekanan darah.

Sedangkan musik sedatif atau musik relaksasi menurunkan

detak jantung dan tekanan darah, menurunkan tingkat rangsang

dan secara umum membuat tenang. Bila elemen musik stabil

dan dapat diprediksi, maka subjek cenderung merasa rileks.

Namun selera dan rasa suka-tidak suka seseorang terhadap

musik tentu juga menjadikan efeknya bervariasai. Adapun

elemen relaksasi yang potensial yaitu tempo yang stabil,

volume, irama, trimbe, pith, dan harmoni yang stabil (Djohan,

2006).

h. Mekanisme Kerja Musik Terhadap Penurunan Nyeri.

Manfaat utama terapi musik yaitu dapat sebagai relaksasi,

meningkatkan kecerdasan, meningkatkan motivasi, kesehatan jiwa,

dan mengurangi rasa sakit. Musik dapat mengurangi rasa sakit karna

musik bekerja pada sistem otonom yaitu bagian sistem saraf yang

bertanggung jawab mengontrol takanan darah, denyut jantung dan


29

fungsi otak, yang mengontrol perasaaan dan emosi. Jenis musik yang

kita dengar sesuai dan dapat diterima oleh tubuh manusia, maka

tubuh akan bereaksi dengan mengelurkan hormon endorfin (Sari,

2014).

Saat orang mendengarkan musik, gelombangnya ditransmisikan

melalui ossicles di telinga tengah dan melalui cairan cochlear

berjalan menuju telinga dalam. Membran basilaris cochlea

merupakan area resonansi dan berespon terhadap frekuensi getaran

yang berfariasai. Rambut sillia sebagai sensori reseptor yang

mengubah frekuensi getaran menjadi gerakan elektrik dan langsung

terhubung dengan ujung nervus pendengaran. Nervus auditori primer

menerima input dan mempresepsikan pitch dan melodi yang rumid,

dan dipengaruhi oleh pengalaman seseorang. Korteks auditori

sekunder lebih lanjut memproses interpretasi musik sebagai

gabungan harmoni, melodi, dan rhytm (Wilgram, 2002)

Musik dipercaya dapat meningkatkan hormon endorfin. Endorfin

itu sendiri merupakan ejektor dari rasa rileks dan ketenangan yang

timbul, midbrain mengeluarkan Gama Amino Butyric Acid (GABA)

yang berfungsi menghambat hantaran satu neuron ke neuron lainya

oleh neurontransmiter di dalam sinaps. Midbrain mengeluarkan

enkefalin dan beta endorfin dan zat tersebut dapat menimbulkan efek

analgesik (Sari, 2014).


30

Sedangkan pada teori gerbang nyeri itu sendiri pada kulit terdapat

dua jenis serabut nyeri yaitu serabut delta A dan serabut delta C.

kedua serabut tersebut berfungsi untuk mentransmisikan nyeri yang

sifatnya cepat. reseptor ini biasanya berupa ujung saraf bebas yang

terdapat pada seluruh permukaan kulit. Pada saat terdapat

rangsangan, kedua serabut akan membawa rangsangan ke dalam

kornu dorsalis yang terdapat pada medulla spinallis prosterior, di

Medulla spinalis inilah terjadi interaksi andara dua serabut

berdiameter besar dan kecil di suatu area khusus yang disebut

“substansia gelantinosa (SG)’. Pada SG ini terjadi perubahan dan

modifikasi yang mempengaruhi apakah sensasi nyeri yang diterima

medulla spinalis akan diteruskan ke otak atau di hambat. Sebelum

stimulus-stimulus nyeri diteruskan ke otak, serabut besar dan kecil

berinteraksi di area SG yang apabila tidak terdapat stimulus atau

impuls yang adekurat dari serabut besar, maka impuls nyeri pada

serabut kecil akan dihantarkan ke sel T (cel pemicu) untuk kemudian

dibawa ke otak yang akhirnya menimbulkan sensasi nyeri yang

dirasakan oleh tubuh. pada penghantara impuls ke otak, sinaps

subtansia gelantinosa akan melepaskan substansi P yang diduga

sebagai neurotransmitter utama sinaps nyeri. (zakiyah, 2015).

Endorfin adalah suatu pembunuh nyeri alami yang berasal dari

tubuh. reseptor ini disebut juga reseptor yang sama dengan reseptor

opiat, sehingga menujukkan kerja farmakodinamika yang sama


31

seperti opiat. Neuromoderator ini yang menghambat mekanisme

pelepasan substansi P pada reseptor nyeri. teknik distraksi

merupakan upaya untuk melepaskan endorfin sehingga nyeri dapat

berkurang karena terjadi penghambatan reseptor nyeri pada substansi

P (Novita, 2012).

i. Waktu Intervensi Untuk Terapi Musik

Musik didengarkan minimal 15 menit supaya mendapatkan efek

terapeutik. Dalam keadaan perawatan akut, pendengaran musik dapat

memberikan hasil yang efektif dalam upaya mengurangi nyeri pasca

operasi. Penelitian yang dilakukan oleh Chiang dengan penelitian

efek terapi musik dan suara alam terhadap tingkat nyeri dan

kecemasan pasien kanker di unit perawatan hopice kanker Taiwan

pada tahun 2012. Tehnik yang digunakan adalah Randomized

Control Trial (RCT), dengan 117 sampel pasien kanker. Partisipan

dibagi menjadi empat kelompok. Kelompok perlakuan

diperdengarkan musik, suara alam, dan kombinasi keduanya selama

20 menit setiap hari selama 3 hari, dengan menggunakan earphone.

Kelompok control diberikan earphone tanpa musik. Tetapi

setelah penelitian selesai, kelompok control juga diberi kesempatan

untuk mendengarkan CD yang berisi musik untuk terapi. Hasil

penelitianya adalah terdapat penurunan nyeri yang signifikan pada

tiga kelompok intervensi dibandingkan kelompok kontrol (p value =


32

0,001). Terapi musik dengan kombinasi suara alam memiliki efek

paling besar untuk menurunkan nyeri pasien kanker (Novita, 2012)

Penelitian yang dilakukan oleh Sendelbach, Halm, Doran, Miller,

Gaillard (2006) pada pasien post operasi Coronary Artery Bypass

Grafting (CABG) di Amerika Serikat. Kelompok intervensi

mendengarkan musik selama 20 menit sebanyak 2 kali sehari.

Sementara kelompok intervensi diberikan headset tanpa musik

selama 20 menit sebanyak 2 kali juga. Nyeri di kaji 20 menit

sebelum dan sesudah intervensi. Alokasi yang dibutuhkan adalah 60

menit untuk setiap sesinya (Novita, 2012)


33

B. Kerangka Teori
fase
penyembuhan Open Rediksi With
fraktur : Internal Fixation
1. Fase Penatalaksanaan
(ORIF)
inflamasi ORIF
2. Fase
proliferasi 1. Aktivitas
3. Fase 2. Medikasi
pmebentuka 3. Perawatan
n kalus luka
4. Fase
penulangan
Nyeri post operasi
atau
ossifikasi
5. Fase
remodeling

Intervensi untuk
mengurangi nyeri
Terapi Terapi
farmakologis nonfarmakologis

Getaran yang Mekanisme musik


dihasilkan oleh mengurangi nyeri Terapi musik
musik masuk
bersama impuls
nyeri

Mengimbihisi impuls nyeri Mendistraksi Mengelluarkan


(gate Control Teory) persepsi nyeri hormon
dengan musik endorfin

Menimbulkan efek analgesika dan


Nyeri berkurang
mengeliminasi neurotransmitter nyeri
34

C. Kerangka Konsep

Skala nyeri pasien post


operasi ORIF sesudah
diberikan terapi musik akan
meningkat

Skala nyeri pasien post Skala nyeri pasien post


operasi ORIF sebelum operasi ORIF sesudah
diberikan terapi musik diberikan terapi musik tidak
terjadi perubahan

Skala nyeri pasien post


operasi ORIF sesudah
diberikan terapi musik akan
menurun

D. Hipotesis

H1 : Terdapat pengaruh pemberian terapi musik terhadap skala nyeri

pasien post operasi ORIF di Rumah Sakit Dokter Soedjono

Magelang.

Ho : Tidak ada pengaruh pemberian terapi musik terhadap skala nyeri

pasien post operasi ORIF di Rumah Sakit Dokter Soedjono

Magelang.