Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Seorang perawatan professional dalam merawat lanjut usia yang tidak
ada harapan mempunyai ketrampilan yang multi komplek. sesuai dengan peran
yang dimiliki, perawatan harus mampu memberikan pelayanan keperawatan
dalam memenuhi kebutuhan klien lanjut usia dan harus menyelami perasaan-
perasaan hidup dan mati.
Dalam memberikan asuhan keperawatan pada lanjut usia yang sedang
menghadapi sakarotul maut tidaklah selamanya muda, klien lanjut usia akan
memberikan reaksi-reaksi yang berbeda –beda, bergantung kepada
kepribadian dan cara klien lanjut usia menghadapi hidup. tetapi bagaimanapun
keadaan, situasi dan kondisinya perawat harus dapat menguasai keadaan
terutama terhadap keluarga klien lanjut usia. Biasanya, anggota keluarga dalam
keadaan krisis ini memerlukan perhatian perawatan karena kematian pada
seseorang dapat datang dengan berbagai cara, dapat terjadi secara tiba-tiba dan
dapat pula berlangsung berhari-hari. kadang –kadang sebelum ajal tiba klien
lanjut usia ke hilangan kesadarannya terlebih dahulu.
Pentingnya bimbingan spiritual dalam kesehatan telah menjadi
ketetapan WHO yang menyatakan bahwa aspek agama (spiritual) merupakan
salah satu unsur dari pengertian kesehataan seutuhnya (WHO, 1984). Oleh
karena itu dibutuhkan dokter dan terutama perawat untuk memenuhi kebutuhan
spritual pasien. Karena peran perawat yang konfrehensif tersebut pasien
senantiasa mendudukan perawat dalam tugas mulia mengantarkan pasien
diakhir hayatnya dan perawat juga dapat bertindak sebagai fasilisator
(memfasilitasi) agar pasien tetap melakukan yang terbaik seoptimal mungkin
sesuai dengan kondisinya. Namun peran spiritual ini sering kali diabaikan oleh
perawat. Padahal aspek spiritual ini sangat penting terutama untuk pasien
terminal yang didiagnose harapan sembuhnya sangat tipis dan mendekati
sakaratul maut.

Page 1
Menurut Dadang Hawari (1977,53) “orang yang mengalami penyakit
terminal dan menjelang sakaratul maut lebih banyak mengalami penyakit
kejiwaan, krisis spiritual, dan krisis kerohanian sehingga pembinaan
kerohanian saat klien menjelang ajal perlu mendapatkan perhatian khusus”.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah konsep dasar kematian?
2. Bagaimanakah konsep asuhan keperawatan pasien terminal dan menjelang
ajal?
3. Bagaimanakah aplikasinya dalam kasus?

C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
a. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Komunitas III
b. Agar mahasiswa mampu memahami dan membuat Asuhan
Keperawatan Lansia menjelang ajal atau kematian .
2. Tujuan Khusus
a. Mengenal kosep dasar kematian.
b. Melakukan asuhan keperawatan lansia menjelang ajal.

Page 2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. Konsep lansia
A. Definisi
Usia lanjut dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan pada daur
kehidupan manusia (Budi Anna Keliat, 1999 dalam Buku Siti Maryam,
dkk, 2008). Sedangkan menurut Pasal 1 ayat (2), (3), (4) UU No. 13 Tahun
1998 tentang Kesehatan dikatakan bahwa usia lanjut adalah seseorang
yang telah mencapai usia lebih dari 60 tahun. (R. Siti Maryam, dkk, 2008:
32)
Lansia adalah tahap akhir siklus hidup manusia, merupakan bagian
dari proses kehidupan yang tak dapat dihindarkan dan akan dialami oleh
setiap individ u. Pada tahap ini individu mengalami banyak perubahan
baik secara fisik maupun mental, khususnya kemunduran dalam berbagai
fungsi dan kemampuan yang pernah dimilikinya. Perubahan penampilan
fisik sebagian dari proses penuaan normal, seperti rambut yang mulai
memutih, kerut-kerut ketuaan di wajah, berkurangnya ketajaman panca
indera, serta kemunduran daya tahan tubuh, merupakan acaman bagi
integritas orang usia lanjut.
Belum lagi mereka harus berhadapan dengan kehilangan-
kehilangan peran diri, kedudukan sosial, serta perpisahan dengan orang-
orang yang dicintai. Semua hal tersebut menuntut kemampuan beradaptasi
yang cukup besar untuk dapat menyikapi secara bijak (Soejono, 2000).
Penuaan merupakan proses normal perubahan yang berhubungan dengan
waktu, sudah dimulai sejak lahir dan berlanjut sepanjang hidup. Usia tua
adalah fase akhir dari rentang kehidupan.
Pengertian lansia (Lanjut Usia) adalah fase menurunnya
kemampuan akal dan fisik, yang di mulai dengan adanya beberapa
perubahan dalam hidup. Sebagai mana di ketahui, ketika manusia
mencapai usia dewasa, ia mempunyai kemampuan reproduksi dan

Page 3
melahirkan anak. Ketika kondisi hidup berubah, seseorang akan
kehilangan tugas dan fungsi ini, dan memasuki selanjutnya, yaitu usia
lanjut, kemudian mati. Bagi manusia yang normal, siapa orangnya, tentu
telah siap menerima keadaan baru dalam setiap fase hidupnya dan
mencoba menyesuaikan diri dengan kondisi lingkunganya (Darmojo,
2004).
Pengertian lansia (lanjut usia) menurut UU No. 4 Tahun 1965
adalah seseorang yang mencapai umur 55 tahun, tidak berdaya mencari
nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima nafkah
dari orang lain (Wahyudi, 2000) sedangkan menurut UU No. 12 tahun
1998 tentang kesejahteraan lansia (lanjut usia) adalah seseorang yang telah
mencapai usia diatas 60 tahun (Depsos, 1999). Usia lanjut adalah sesuatu
yang harus diterima sebagai suatu kenyataan dan fenomena biologis.
Kehidupan itu akan diakhiri dengan proses penuaan yang berakhir dengan
kematian (Hutapea, 2005).
Lanjut usia merupakan istilah tahap akhir dari proses penuaan.
Dalam mendefinisikan batasan penduduk lanjut usia menurut Badan
Koordinasi Keluarga Berencana Nasional ada tiga aspek yang perlu
dipertimbangkan yaitu aspek biologi, aspek ekonomi dan aspek sosial
(BKKBN 1998).

B. Penggolongan lansia
Sedangkan menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)
pengertian lansia digolongkan menjadi 4, yaitu:
1. Usia pertengahan (middle age) 45 -59 tahun
2. Lanjut usia (elderly) 60 -74 tahun
3. Lanjut usia tua (old) 75 – 90 tahun
4. Lansia sangat tua (very old) diatas 90 tahun

Page 4
C. Ciri-ciri Lansia.
Menurut Hurlock (Hurlock, 1980: 380) terdapat beberapa ciri-ciri
orang lanjut usia,yaitu:
a) Usia lanjut merupakan periode kemunduran
Kemunduran pada lansia sebagian datang dari faktor fisik dan
faktor psikologis. Kemunduran dapat berdampak pada psikologis
lansia. Motivasi memiliki peran yang penting dalam kemunduran pada
lansia. Kemunduran pada lansia semakin cepat apabila memiliki
motivasi yang rendah, sebaliknya jika memiliki motivasi yang kuat
maka kemunduran itu akan lama terjadi.
b) Orang lanjut usia memiliki status kelompok minoritas
Lansia memiliki status kelompok minoritas karena sebagai
akibat dari sikap sosial yang tidak menyenangkan terhadap orang lanjut
usia dan diperkuat oleh pendapat-pendapat klise yang jelek terhadap
lansia. Pendapat-pendapat klise itu seperti: lansia lebih senang
mempertahankan pendapatnya dari pada mendengarkan pendapat orang
lain.
c) Menua membutuhkan perubahan peran
Perubahan peran tersebut dilakukan karena lansia mulai
mengalami kemunduran dalam segala hal. Perubahan peran pada lansia
sebaiknya dilakukan atas dasar keinginan sendiri bukan atas dasar
tekanan dari lingkungan.
d) Penyesuaian yang buruk pada lansia
Perlakuan yang buruk terhadap orang lanjut usia membuat
lansia cenderung mengembangkan konsep diri yang buruk. Lansia lebih
memperlihatkan bentuk perilaku yang buruk. Karena perlakuan
yang buruk itu membuat penyesuaian diri lansia menjadi buruk.

Page 5
2. Konsep kematian.
A. Definisi Kematian
Kematian adalah penghentian permanen semua fungsi tubuh yang
vital, akhir dari kehidupan manusia(Buku Ajar Keperawatan Gerontik :
435).
Pengertian kematian / mati adalah apabila seseorang tidak teraba
lagi denyut nadinya tidak bernafas selama beberapa menit dan tidak
menunjukan segala refleks, serta tidak ada kegiatan otak.(Nugroho: 153).
B. Penyebab kematian
Penyakit.
a. Keganasan (karsinoma hati, paru, mamae).
b. CVD (cerebrovascular disaese).
c. CRF (chronic renal failure (gagal ginjal) ).
d. Diabetes melitus (gangguan endokrin).
e. MCI (myocard infarct (gangguan kardiovaskuler)
f. COPD (chronic obstruction pulmonary disaese)
g. Kecelakaan (hematoma epidural).

C. Ciri atau tanda klien lanjut usia menjelang kematian


1) Gerakan dan pengindraan menghilang secara berangsur – angsur.
Biasanya dimulai pada anggota badan, khususnya kaki dan ujung kaki
2) Badan dingin dan lembab, terutama pada kaki, tangan dan ujung
hidungnya
3) Kulit tampak pucat
4) Denyut nadi mulai tak teratur
5) Tekanan darah menurun
6) Relaksasi otot muka sehingga dagu menjadi turun.
7) Pernafasan cepat dangkal dan tidak teratur.

Page 6
D. Tanda –tanda meninggal secara klinis.
Secara tradisional, tanda-tanda klinis kematian dapat dilihat
melalui perubahan-perubahan nadi, respirasi dan tekanan darah. Pada
tahun 1968, World Medical Assembly, menetapkan beberapa petunjuk
tentang indikasi kematian, yaitu :
1. Tidak ada respon terhadap rangsangan dari luar secara total.
2. Tidak adanya gerak dari otot, khususnya pernafasan.
3. Tidak ada reflek.
4. Gambaran mendatar pada EKG.

E. Tahap Kematian
Tahap – tahap ini tidak selamanya bruntutan secara tetapi dapat
saling tindih. Kadang–kadang klien lanjut usia melalui suatu tahap tertentu
untuk kemudian kembali ketahap itu. Lama setiap tahap dapt bervariasi,
mulai dari beberapa jam sampai beberapa bulan. Apabila tahap tertentu
berlangsung sangat singkat, bisa `timbul kesan seolah – olah klien lanjut
usia melompati satu tahap, kecuali jika perawat memperhatikan seksama
dan cermat.(Nugroho:2008)
1. Tahap Pertama ( Penolakan )
Tahap ini adalah tahap kejutan dan penolakan. Biasany, sikap
itu ditandai dengan komentar “saya?tidak, itu tidak mungkin”. Selama
tahap ini klien lanjut usia sesungguhnya mengatakan bahwa maut
menimpa semua orang, kecuali dirinya. Klien lanjut usia biasanya
terpengaruh oleh sikap penolakannya sehingga ia tidak memerhatikan
fakta yang mungkin sedang dijelaskan kepadanya oleh perawat. Ia
bahkan menekan apa yg telah ia dengar atau mungkin akan meminta
pertolongan dari berbagai macam sumber profesional dan
nonprofesional dalam upaya melarikan diri dari kenyataan bahwa mau
sudah diambang pintu.

Page 7
2. Tahap kedua (marah)
Tahap ini ditandai oleh rasa marah dan emosi tidak terkendali.
Klien lanjut usia itu berkata “mengapa saya? ” sering kali klien lanjut
usia akan selalu mencela setiap orang dalam segala hal. Ia mudah
marah terhadap perawat dan petugas kesehatan lainya tentang apa yang
mereka lakukan. Pada tahap ini, klien lanjut usia lebih menganggap hal
ini merupakan hikmah, daripada kutukan. Kemarahan disini
merupakan mekanisme perthanan diri klien lanjut usia. Akan tetapi,
kemarahan yang sesungguhnya tertuju kepada kesehatan
dankehidupan. Pada saat ini, perawat kesehatan harus berhati – hati
dalam memberi penilaian sebagai reaksi yang normal terhadap kemtian
yang perlu diungkapkan.

3. Tahap ketiga (tawar – menawar )


Pada tahap ini biasanya klien lanjut usia pada hakikatnya
berkata , “ya, benar aku, tapi...” kemarahan biasnya mereda dan klien
lanjut usia biasanya dapat menimbulkan kesan sudah dapat menerima
apa yang sedang terjadi pada dirinya. Akan tetapi, pada tahap tawar
menawar ini banyak orang cenderung untuk menyelesaikan urusan
rumah tangga mereka sebelum mau tiba, dan akan menyiapkan
beberpa hal, misalnya klien lanjut usia mempunyai permintaan terkhir
untuk melihat pertandingan olahraga, mengunjungi kerabat, melihat
cucu terkecil, atau makan direstoran. Perawat dianjurkan memenuhi
permohonan itu karena membantu klien lanjut usia memasuki tahap
berikutnya.

4. Tahap keempat (sedih/ depresi )


Pada tahap ini biasanya klien lanjut usia pada hakikatnya
berkata “ya, benar aku” hal ini biasanya merupakan saat yang
menyedihkan karena lanjut usia sedang dalam suaana berkabung. Di
masa lampau, ia sudah kehilangan orang yang dicintainya dan

Page 8
sekarang ia akan kehilangan nyawanya sendiri. Bersamaan dengan itu,
dia harus meninggalkan semua hal menyenangkan yang telah
dinikmatinya. Selam tahap ini, klien lanjut usia cenderung tidak
banyak bicara dan sering menangis. Saatnya perawat duduk dengan
tenang disamping klien lanjut usia yang melalui masa sedihnya
sebelum meninggal
.
5. Tahap kelima (menerima/ asertif)
Tahap ini ditandai oleh sikap menerima kematian.menjelang
saat ini, klien lanjut usia telah membereskan segala urusan ysng belum
selesesai dan mungkin tidak ingin berbicara lagi karena sudah
menyatakan segala sesuatunya. Tawar menawar sudah lewat dan
tibalah saat kedamaian dan ketenangan. Seseorang mungkin saja lama
ada dalam tahap menerima, tetapi bukan tahap pasrah yang berarti
kekalahan . Dengan kata lain pasrah terhadap maut tidak berarti
menerima maut.

F. Pemenuhan kebutuhan klien menjelang kematian :


a. Kebutuhan jasmaniah.
Kemampuan toleransi terhadap rasa sakit berbeda pada setiap
orang. Tindakan yang memungkinkan rasa nyaman bagi klien lanjut
usia ( mis., sering mengubah posisi tidur, perawatan fisik, dan
sebagainya ).
b. Kebutuhan fisisologis.
a) Kebersihan Diri
Kebersihan dilibatkan untuk mampu melakukan
kerbersihan diri sebatas kemampuannya dalam hal kebersihan
kulit, rambut, mulut, badan dan sebagainya.
b) Mengontrol Rasa Sakit
Beberapa obat untuk mengurangi rasa sakit digunakan pada
klien dengan sakit terminal, seperti morphin, heroin, dsbg.

Page 9
Pemberian obat ini diberikan sesuai dengan tingkat toleransi nyeri
yang dirasakan klien. Obat-obatan lebih baik diberikan Intra Vena
dibandingkan melalui Intra Muskular atau Subcutan, karena
kondisi system sirkulasi sudah menurun.
c) Membebaskan Jalan Nafas
Untuk klien dengan kesadaran penuh, posisi fowler akan
lebih baik dan pengeluaran sekresi lendir perlu dilakukan untuk
membebaskan jalan nafas, sedangkan bagi klien yang tida sadar,
posisi yang baik adalah posisi sim dengan dipasang drainase dari
mulut dan pemberian oksigen.
d) Bergerak
Apabila kondisinya memungkinkan, klien dapat dibantu
untuk bergerak, seperti: turun dari tempat tidur, ganti posisi tidur
untuk mencegah decubitus dan dilakukan secara periodik, jika
diperlukan dapat digunakan alat untuk menyokong tubuh klien,
karena tonus otot sudah menurun.
e) Nutrisi
Klien seringkali anorexia, nausea karena adanya penurunan
peristaltik. Dapat diberikan annti ametik untuk mengurangi nausea
dan merangsang nafsu makan serta pemberian makanan tinggi
kalori dan protein serta vitamin. Karena terjadi tonus otot yang
berkurang, terjadi dysphagia, perawat perlu menguji reflek
menelan klien sebelum diberikan makanan, kalau perlu diberikan
makanan cair atau Intra Vena atau Invus.
f) Eliminasi
Karena adanya penurunan atau kehilangan tonus otot dapat
terjadi konstipasi, inkontinen urin dan feses. Obat laxant perlu
diberikan untuk mencegah konstipasi. Klien dengan inkontinensia
dapat diberikan urinal, pispot secara teratur atau dipasang duk yang
diganjti setiap saat atau dilakukan kateterisasi. Harus dijaga

Page
10
kebersihan pada daerah sekitar perineum, apabila terjadi lecet,
harus diberikan salep.
g) Perubahan Sensori
Klien dengan dying, penglihatan menjadi kabur, klien
biasanya menolak atau menghadapkan kepala kearah lampu atau
tempat terang. Klien masih dapat mendengar, tetapi tidak dapat
atau mampu merespon, perawat dan keluarga harus bicara dengan
jelas dan tidak berbisik-bisik.

G. Hak asasi pasien menjelang ajal


Lanjut usia berhak untuk diperlakukan sebagai manusia yang hidup
sampai ia mati. Lanjut usia:
1) Berhak untuk tetap merasa mempunyai harapan, meskipun fokusnya
dapat saja berubah.
2) Berhak untuk dirawat oleh mereka yang dapat menghidupkan terus
harapan, walaupun dapat berubah.
3) Berhak untuk merasakan perasaan dan emosi mengenai kematian yang
sudah mendekat dengan caranya sendiri.
4) Berhak untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan mengenai
perawatannya.
5) Berhak untuk mengharapkan terus mendapat perhatian medis dan
perawatan, walaupun tujuan penyembuhan harus diubah menjadi
tujuan memberi rasa nyaman.
6) Berhak untuk tidak mati dalam kesepian.
7) Berhak untuk bebas dalam rasa nyeri.
8) Berhak untuk memperoleh jawaban yang jujur atas pertanyaan.
9) Berhak untuk tidak ditipu.
10) Berhak untuk mendapat bantuan dari dan untuk keluarganya dalam
menerima kematian.
11) Berhak untuk mati dengan tenang dan terhormat.

Page
11
12) Berhak untuk mempertahankan individualitas dan tidak di hakimi atas
keputusan yang mungkin saja bertentangan dengan orang lain.
13) Membicarakan dan memperluas pengalaman keagamaan dan
kerohanian.
14) Berhak untuk mengharapkan bahwa kesucian tubuh manusia akan
dihormati sesudah mati.

H. Perawatan paliatif pada lanjut usia menjelang ajal


1. Pengertian
Dalam memberi asuhan keperawtan kepada lanjut usia, yang
menjadi objek adalah pasien lanjut usia (core), disusul dengan aspek
pengobatan medis (cure), dan yang terakhir, perawatan dalam arti yang
luas (care). Core, cure, dan care merupakan tiga aspek yang saling
berkaitan dan saling berpengaruh. Kapanpun ajal menjemput, semua
arang harus siap. Namun ternyata, semua orang, termasuk lanjut usia,
akan merasa syok berat saat dokter memvonis bahwa penyakit yang
dideritanya tidak bisa di sembuhkan atau tidak ada harapan untuk
sembuh. Pada kondisi ketika lanjut usia menderita sakit yang telah
berada pada stadium lanjut dan “cure” sudah tidak menjadi bagian
yang dominan, “care” menjadi bagian yang paling berperan. Salah satu
alternatif adalah perawatan paliatif.
Perawatan paliatif adalah semua tindakan aktif untuk
meringankan beban penderita, terutama yang tidak mungkin
disembuhkan. Yang dimaksud dengan tindakan aktif antara lain
mengurangi /menghilangkan rasa nyeri dan keluhan lain serta
memperbaiki aspek psikologis, social, dan spiritual.

2. Tujuan perawatan paliatif.


Tujuan perawatan paliatif adalah mencapai kualitas hidup
maksimal bagi si sakit (lanjut usia) dan keluarganya. Perawatan paliatif
tidak hanya di berikan kepada lanjut usia yang menjelang akhir

Page
12
hayatnya, tetapi juga diberikan segera setelah di diangnosa oleh dokter
bahwa lanjut usia tersebut menderita penyakit yang tidak ada harapan
untuk sembuh (mis, menderita kanker). Sebagaian besar pasien lanjut
usia, pada suatu waktu akan menghadapi keadaan yang disebut
“stadium paliatif”, yaitu kondisi ketika pengobatan sudah tidak dapat
menghasilkan kesembuhan. Biasanya dokter memvonis pasien lanjut
usia yang menderita penyakit yang mematikan (mis, kanker, stroke,
AIDS) juga mengalami penderitaan fisik, psikologis social, kultural,
dan spiritual.
Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang
medis dan keperawatan, memungkinkan di upayakan berbagai
tindakan dan pelayanan yang dapat mengurangi penderitaan pasien
lanjut usia, sehingga kualitas hidup di akhir kehidupannya tetap baik,
tenang dan mengakhiri hayatnya dalam keadaan iman dan kematian
yang nyman. Diperlukan pendekatan holistik yang dapat memperbaiki
kualitas hidup klien lanjut usia. Kualitas hidup adalah bebas dari segla
sesuatu yang menimbulkan gejala, nyeri, dan perasaan takut sehingga
lebih menekankan rehabilitasi daripada pengobatan agar dapat
menikmati kesenangan selama akhir hidupnya. Sesuai arti harfiahnya,
paliatif bersifat meringankan, bukan menyembuhkan. Jadi, perawtan
paliatif diperlukan untuk meningkatkan kualitas hidup dengan
menumbuhkan semangatdan motivasi. Perawatan ini merupakan
pelayanan yang aktif dan menyeluruh yang dilakukan oleh satu tim
dari berbagai displin ilmu.

3. Tim perawatan paliatif


Tim perawatan paliatif terdiri atas tim terintegrasi, antara
lain dokter, perawat, psikolog, ahli fisioterapi, pekerja social medis,
ahli gizi, rohaniawan, dan relawan. Perlu diingat bahwa tujuan
perawatan paliatif adalah mengurangi beban penderitaan lanjut usia.
Penderitaan terjadi bila ada salah satu apek yang tidak selaras, baik

Page
13
aspek fisik maupun psikis, peran dalam keluarga, masa depan yang
tidak jelas, gangguan kemampuan untuk menolong diri, dan
sebagainya.

Page
14
BAB III
ASKEP LANSIA MENJELANG AJAL

A. PENGKAJIAN
Pengkajian ialah tahap pertama proses keperawatan. Sebelum
perawat dapat merencanakan asuhan keperawatan pada pasien yang tidak
ada harapan sembuh, perawat harus mengidentifikasi dan menetapkan
masalah pasien terlebih dahulu. Oleh karena itu, tahap ini meliputi
pengumpulan data, analisis data mengenai status kesehatan, dan berakhir
dengan penegakan diagnosis keperawatan, yaitu pernyataan tentang
masalah pasien yang dapat diintervensi.
Tujuan pengkajian adalah memberi gambaran yang terus –
menerus mengenai kesehatan pasien yang memungkinkan tim perawatan
untuk merencanakan asuhan keperawatannya secara
perseorangan.Pengumpulan data dimulai dengan upaya untuk mengenal
pasien dan keluarganya. Siapa pasien itu dan bagimana kondisinya akan
membahayakan jiwanya. Rencana pengobatan apa yang telah dilaksanakan
? Tindakan apa saja yang telah diberikan ? Adakah bukti mengenai
pengetahuannya, prognosisnya, dan pada tahap proses kematian yang
mana pasien berada ? Apakah ia menderita rasa nyeri ? Apkah anggota
keluarganya mengetahui prognosisnya dan bagaiman reaksi mereka ?
Filsafat apa yang dianut oleh pasien dan keluarganya mengenai hidup dan
mati. Pengkajian keadaan, kebutuhan, dan masalah kesehatan /
keperawatan pasien khususnya. Sikap pasien terhadap penyakitnya, antara
lain apakah pasien tabah terhadap penyakitnya, apakah pasien menyadari
tentang keadaannya ?
1) Perasaan takut
Kebanyakan pasien merasa takut terhadap rasa nyeri yang tidak
terkendalikan yang begitu sering diasosiasikan dengan keadaan sakit
terminal, terutama apabila keadaan itu disebabkan oleh penyakit yang
ganas. Perawat harus menggunakan pertimbangan yang sehat apabila

Page
15
sedang merawat orang sakit terminal. Perawat harus mengendalikan
rasa nyeri pasien dengan cara yang tepat.
Perasaan takut yang mungkin takut terhadap rasa nyeri,
walaupun secara teori, nyeri tersebut dapat diatasi dengan obat
penghilang rasa nyeri, seperti aspirin, dehidrokodein, dan
dektromoramid. Apibila orang berbicara tentang perasaan takut mereka
terhadap maut, respon mereka secara tipikal mencakup perasaan takut
tentang hal yang tidak jelas, takut meninggalkan orang yang dicintai,
kehilangan martabat, urusan yang belum selesai, dan sebagainya.
Kematian merupakan berhentinya kehidupan. Semua orang
akan mengalami kematian tersebut. Dalam menghadapi kematian ini,
pada umumnya orang merasa takut dan cemas. Ketakutan dan
kecemasan terhadap kematian ini dapat membuat pasien tegang an
stress.
2) Emosi
Emosi pasien yang muncul pada tahap menjelang kematian,
antara lain mencela dan mudah marah.
3) Tanda vital
Perubahan fungsi tubuh sering kali tercermin pada suhu badan,
denyut nadi, pernapasan, dan tekanan darah. Mekanisme fisiologis
yang mengaturnya berkaitan satu sama lain. Setiap perubahan yang
berlainan dengan keadaan yang normal dianggap sebagai indikasi yang
penting untuk mengenali keadaan kesehatan seseorang.
4) Kesadaran
Kesadaran yang sehat dan adekuat dikenal sebagai awas waspada,
yang merupakan ekspresi tentang apa yang dilihat, didengar, dialami,
dan perasaan keseimbangan, nyeri, suhu, raba, getar, gerak, gerak
tekan, dan sikap, bersifat adekuat, yaitu tepat dan sesuai ( Mahar
Mardjono dan P. Sidharta, 1981 ).
5) Fungsi tubuh

Page
16
Tubuh terbentuk atas banyak jaringan dan organ. Setiap organ
mempunyai fungsi khusus.

B. DIAGNOSA
Diagnosa keperawatan adalah masalah aktual / potensial yang
dimiliki seseorang dalam memenuhi tuntutan atau kegiatan hidup sehari –
hari dan yang berhubungan dengan kesehatan ( Gordon, 1976 ).
Berikut tabel diagnosis keperawatan:

Data Diagnosa Keperawatan


Status sistem pernapasan Gangguan pemenuhan kebutuhan
a) Sesak napas oksigen yang berhubungan dengan
b) Batuk adanya penyumbatan slem yang
c) Slem ditandai dengan sesak napas

Gangguan kenyamanan Gangguan kenyamanan yang


berhubungan dengan batuk, panas
tinggi yang ditandai pasien gelisah

Perubahan nutrisi Perubahan nutrisi sebagai dampak


patologis dengan menampakkan
makanan yang dihabiskan sering tidak
habis.

Gangguan keseimbangan cairan dan Gangguan keseimbangan cairan dan


elektrolit elektrolit yang berhubungan dengan
muntah dan diare yang ditandai dengan
turgor jelek, mata cekung, suhu naik.

Persendian dan otot (pergerakan) Keterbatasan gerakan yang


- Kekauan sendi dan otot berhubungan dengan tirah baring lama

Page
17
yang ditandai dengan kaku sendi/otot

- Pola tidir dan istrahat Gangguan psikologis yang


- Bagaimana istirahatnya ? berhubungan dengan perubahan pola
- Tidur malam ? seksualitas yang ditandai susah tidur,
- Hal-hal yang dirasa menganggu tidur? pucat, murung.

C. INTERVENSI
Perencanaan adalah langkah kedua dalam proses keperawatan.
Termasuk penentuan apa yang dapat dilakukan perawat terhadap pasien
dan pemilihan intervensi keperawatan yang tepat.

DK Tujuan Rencana Intervensi Evaluasi

Gangguan kebutuhan Kebutuhan oksigen a) Menciptakan Kebutuhan oksigen


oksigen terpenuhi lingkungan yang dapat terpenuhi
sehat
b) Mengamati dan
mengkaji
keadaan
pernapasan
pasien
c) Membersihkan
slem
d) Melatih pasien
untuk pernapasan
Gangguan Rasa nyaman a) Mengupayakan Rasa nyaman
kenyamanan terpenuhi penurunan suhu terpenuhi
tubuh
b) Memberi obat
sesuai dengan

Page
18
program
Perubahan nutrisi Kebutuhan nutrisi a) Mempertahankan Kebutuhan nutrisi
terpenuhi kebutuhan nutrisi terpenuhi
yang cukup

Gangguan Keseimbangan cairan a) Mempertahankan Kebutuhan cairan


keseimbangan cairan dan elektrolit keseimbangan dan elektrolit
dan elektrolit terpenuhi cairan dan terpenuhi
elektrolit
Keterbatasan Kebutuhan a) Memenuhi Kebutuhan
pergerakan pergerakan (sendi kebutuhan gerak pergerakan dapat
dan otot) terpenuhi (mobilisasi) terpenuhi

Gangguan pola tidur Kebutuhan istirahat a) Ciptakan - Kebutuhan istirahta


dan tidur terpenuhi komunikasi yang dan tidur dapat
terapeutik, trepenuhi
dengan member
- - Tak ada keluhan,
penjelasan dapat tidur
kepada pasien
- - Ekspresi bangun
tentang tidur ceria, segar
pentingnya bugar
istirahat terhadap
tubuh

Page
19
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kematian adalah penghentian permanen semua fungsi tubuh yang
vital, akhir dari kehidupan manusia(Buku Ajar Keperawatan Gerontik :
435).
Pengertian kematian / mati adalah apabila seseorang tidak teraba
lagi denyut nadinya tidak bernafas selama beberapa menit dan tidak
menunjukan segala refleks, serta tidak ada kegiatan otak.(Nugroho: 153).

B. Saran
Adapun saran yang ingin penulis sampaikan pada mahasiswa.
a. Dalam membuat makalah, kelompok diharapkan dapat
menjelaskan asuhan keperawatan pada lansia mennjelang ajal.
b. Proses penuaan yang dialami dapat menimbulkan berbagai masalah
fisik, psikis dan sosial bagi pasien dan keluarga. Oleh karena itu
perawat sebaiknya meningkatkan pendekatan-pendekatan melalui
komunikasi terapeutik, sehingga akan tercipta lingkungan yang
nyaman dan kerja sama yang baik dalam memberikan asuhan
keperawatan gerontik.
c. Perawat sebagai anggota tim kesehatan yang paling banyak
berhubungan dengan pasien dituntut meningkatkan secara terus
menerus dalam hal pemberian informasi dan pendidikan kaesehatan
sesuai dengan latar belakang pasien dan keluarga.

Page
20
DAFTAR PUSTAKA

Maryam, R. Siti, dkk. 2008. Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya.


Jakarta:SalembaMedika.

Mass, Meridean. 2011. Asuhan Keperawatan Geriatrik. EGC:Jakarta.

Nugroho, Wahyudi. 2008. Keperawatan Gerontik dan Geriatrik. Jakarta: EGC.

Stanley,mickey. 2006. Buku Ajar Keperawatan Gerotik edisi 2. EGC:Jakarta.

Page
21