Anda di halaman 1dari 4

TUGAS KESEHATAN REPRODUKSI

Oleh :

Athaya Hafizhah

17420007

Dosen Pembimbing :

DR. Anita Bustami, M.Kep., Sp.Mat

PROGRAM PENDIDIKAN PASCA SARJANA


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS MALAHAYATI
BANDAR LAMPUNG
2018
1. Permasalahan kesehatan reproduksi pada remaja di Rumah Sakit
Pertamina Bintang Amin (RSPBA)

Kesehatan reproduksi remaja adalah suatu kondisi yang sehat yang


menyangkut sistem, fungsi, dan proses reproduksi yang dimiliki oleh remaja. Kaum
remaja Indonesia saat ini mengalami lingkungan sosial yang sangat berbeda
daripada orangtuanya. Dewasa ini, kaum remaja lebih bebas mengekspresikan
dirinya, dan telah mengembangkan kebudayaan dan bahasa khusus antara grupnya.
Sikap-sikap kaum remaja atas seksualitas dan soal seks ternyata lebih liberal
daripada orang tuanya, dengan jauh lebih banyak kesempatan mengembangkan
hubungan lawan jenis, berpacaran, sampai melakukan hubungan seks.

Adapun masalah kesehatan reproduksi remaja yang ada di RSPBA adalah :

a) Masalah Kehamilan Remaja

Kehamilan usia dini memuat risiko yang tidak kalah berat. Pasalnya,
emosional ibu belum stabil dan ibu mudah tegang. Sementara kecacatan kelahiran
bisa muncul akibat ketegangan saat dalam kandungan, adanya rasa penolakan
secara emosional ketika si ibu mengandung bayinya. Pada beberapa kasus yang
ditemukan, kehamilan ini terjadi pada remaja yang sudah menikah di usia muda
ataupun pada remaja yang belum menikah secara sah.

b) Masalah Aborsi

Aborsi memiliki resiko yang tinggi terhadap kesehatan maupun keselamatan


seorang wanita. Kebanyakan pasien yang menggugurkan kandungannya adalah
remaja yang tidak menginginkan kehamilan itu terjadi dan melakukan aborsi
dengan cara yang salah seperti mengkonsumsi obat penggugur kandungan yang
dibeli sendiri di apotek tertentu tanpa resep dan pengawasan langsung dari dokter.
Sehingga ketika datang ke poli kandungan ataupun IGD, kandungan pasien tersebut
sudah dalam kondisi yang tidak baik.
2. Upaya yang sudah dilakukan

a) Melakukan kampanye Kesehatan Reproduksi Remaja dengan Film


Film/Video Komunitas.
b) Pemberian pengetahuan dasar (penyuluhan) kesehatan reproduksi kepada
remaja agar mereka mempunyai kesehatan reproduksi yang baik.
Penyuluhan ini menggunakan berbagai media yang menarik dan mudah
dimengerti. Pengetahuan yang diberikan antara lain terkait:
 Tumbuh kembang remaja: perubahan fisik/psikis pada remaja, masa
subur, anemi dan kesehatan reproduksi
 Kehamilan dan melahirkan: usia ideal untuk hamil, bahaya hamil pada
usia muda, berbagai aspek kehamilan tak diinginkan (KTD) dan abortus
 Pendidikan seks bagi remaja: pengertian seks, perilaku seksual, akibat
pendidikan seks dan keragaman seks
 Penyakit menular seksual dan HIV/AIDS
 Kekerasan seksual dan bagaimana menghindarinya
 Bahaya narkoba dan miras pada kesehatan reproduksi
 Pengaruh sosial dan media terhadap perilaku seksual
 Kemampuan berkomunikasi: memperkuat kepercayaan diri dan
bagaimana bersifat asertif
 Hak-hak reproduksi dan jender.
c) Bekerjasama dengan pihak-pihak tertentu seperti FK Malahayati untuk
melakukan penyuluhan mengenai kesehatan reproduksi remaja

3. Keberhasilan dari upaya tersebut (evaluasi)

Dari ketiga upaya yang disebutkan di atas, hasil yang didapatkan cukup
efektif (sekitar 75%) karena remaja cenderung akan lebih merespon dan tertarik
untuk belajar tentang kesehatan reproduksi nya baik melalui media film dan video
ataupun dengan mendengarkan penjelasan-penjelasan yang diberikan saat
penyuluhan.
4. Rencana tindak lanjut

Adapun tindak lanjut dari upaya-upaya yang dilakukan untuk mengurangi


masalah tersebut adalah sebagai berikut:

a) Melanjutkan kampanye kesehatan reproduksi remaja dengan film/video


komunitas dan penyuluhan mengenai pengetahuan dasar seputar kesehatan
remaja dengan berbagai variasi dan inovasi.
b) Menggalang kerja sama dengan semua stakeholder baik pemerintah, swasta,
LSM, organisasi profesi serta organisasi kemasyarakatan ataupun orangtua
berdasarkan prinsip kemitraan untuk lebih memperhatikan remaja salah satu
contohnya dalam penyelenggaraan program dan pembinaan remaja serta
menyediakan sarana penunjang aktivitas-aktivitas positif yang dilakukan
remaja.
c) Memberikan support kepada mahasiswa-mahasiswa kedokteran agar dapat
melakukan pelayanan-pelayanan kesehatan bagi remaja yang tidak hanya
mengenai aspek medis kesehatan reproduksi, tetapi juga menyangkut
hubungan personal dan menyangkut nilai-nilai moral melalui Pendidik sebaya
(Peer Educator).
d) Menciptakan kebijakan yang melibatkan remaja baik sebagai partisipan aktif
maupun pasif. Tahap awal penentuan kebijakan dalam penanggulangan
kesehatan reproduksi remaja adalah mengerti dunia remaja itu sendiri.
Pemerintah seharusnya mengadakan survei dan penelitian tentang kondisi
kesehatan reproduksi remaja di Indonesia. Penelitian sebaiknya dilakukan
menyeluruh di semua wilayah Indonesia dan tidak boleh hanya memilih
beberapa daerah sebagai cluster sampling. Setiap daerah memiliki pola hidup
dan kebudayaan yang berbeda serta tingkat perkembangan yang berbeda
sehingga secara tidak langsung pengaruh globalisasi dan arus informasi
terhadap kesehatan reproduksi berbeda pula. Sebagai contoh kota Jakarta
mungkin masih lebih baik dibandingkan kota Malang karena informasi yang
diterima berbeda.