Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
I. JUDUL PERCOBAAN : Membuat Larutan

II. TUJUAN

- Untuk mengetahui cara membuat larutan di lab kimia

- Untuk mengetahui hasil dari pencampuran antara beberapa larutan tersebut

III. ALAT DAN BAHAN

- Alat: - Beaker Glass

- Pipet tetes

- Tabung reaksi

- Bahan : - Larutan HCl

- Larutan NaOH pekat

- Aquadest

IV. PROSEDUR KERJA

A. - Ambilah larutan HCl 0,02 M sebanyak 5 ml menggunakan pipet tetes dan

masukkan kedalam tabung reaksi

- Tambahkan aquadest hingga volume larutan 20 ml

- Tentukan konsentrasi larutan dengan menggunakan persamaan V1M1=V2M2

B. - Ambil larutan NaOH pekat 5 ml kedalam erlemenyer

- Tambahkan larutan HCl 0,01 M hingga volume 25 ml

- Tentukan konsentrasi larutannya

C. Amati reaksi yang terjadi dan buat dalam bentuk tabel

1
BAB II

LANDASAN TEORI

1. Larutan

Larutan merupakan sistem homogen yang terdiri dari zat terlarut dan pelarut.

Pelarut yang sering dipakai dalam melarutkan zat terlarut adalah air. Zat terlarut

umumnya jumlahnya lebih sedikit daripada zat pelarut. Contoh larutan gula,

larutan garam dapur, larutan alkohol, dan lain sebagainya. Larutan umumnya

berfase cair (liquid = l) dengan pelarut air, tetapi ada juga larutan yang berfase

padat (solid = s) seperti kuningan, stainless steel, dan lain-lain, ataupun gas (g)

seperti udara.

Zat terlarut memiliki dua sifat berdasarkan perilakunya apabila arus listrik

dialirkan. Sifat pertama, zat terlarut dapat menghantarkan arus listrik, sehingga

larutan yang terbentuk mengalami perubahan kimia dan mampu menghantarkan

arus listrik. Larutan tersebut dinamakan larutan elektrolit. Sifat kedua, zat yang

apabila dilarutkan ke dalam air tidak dapat menghantarkan arus listrik dan tidak

ada perubahan kimia, sehingga larutan yang terbentuk dinamakan larutan

nonelektrolit.

1. Jenis Larutan

Larutan berdasarkan daya hantarnya dibagi menjadi dua yaitu larutan

elektrolit dan larutan non-elektrolit.

a. Larutan Elektrolit

Larutan elektrolit adalah larutan yang bisa menghantarkan arus listrik. Pada

larutan ini dibedakan menjadi elektrolit kuat dan elektrolit lemah

2
• Elektrolit Kuat

Larutan elektrolit kuat adalah larutan yang mempunyai daya hantar listrik yang

kuat, karena zat terlarutnya didalam pelarut (umumnya air), seluruhnya berubah

menjadi ion-ion (alpha = 1).

· Partikel-partikel yang ada di dalam larutan elektrolit kuat adalah ion-ion yang

bergabung dengan molekul air, sehingga larutan tersebut daya hantar listriknya

kuat. Hal ini disebabkan karena tidak ada molekul atau partikel lain yang

menghalangi gerakan ion-ion untuk menghantarkan arus listrik, sementara

molekul-molekul air adalah sebagai media untuk pergerakan ion.

 Elektrolit Lemah

Larutan elektrolit lemah adalah larutan yang daya hantar listriknya lemah

dengan harga derajat ionisasi sebesar: O < alpha < 1.

b. Larutan non elektrolit

Larutan non- elektrolit adalah larutan yang tidak dapat menghantarkan arus listrik,

karena zat terlarutnya di dalam pelarut tidak dapat menghasilkan ion-ion (tidak

meng-ion). Tergolong ke dalam jenis ini misalnya:

- Larutan urea

- Larutan sukrosa

- Larutan glukosa

- Larutan alkohol dan lain-lain

Ada 2 reaksi dalam larutan, yaitu:

3
a) Eksoterm, yaitu proses melepaskan panas dari sistem ke lingkungan, temperatur

dari campuran reaksi akan naik dan energi potensial dari zat- zat kimia yang

bersangkutan akan turun.

b) Endoterm, yaitu menyerap panas dari lingkungan ke sistem, temperatur dari

campuran reaksi akan turun dan energi potensial dari zat- zat kimia yang

bersangkutan akan naik.

Berdasarkan jenuh atau tidaknya larutan dapat dibagi menjadi 3, yaitu:

1) Larutan tak jenuh yaitu larutan yang mengandung zat terlarut (solute) kurang dari

yang diperlukan untuk membuat larutan jenuh. Atau dengan kata lain, larutan

yang partikel- partikelnya tidak tepat habis bereaksi dengan pereaksi (masih bisa

melarutkan zat). Larutan tak jenuh terjadi apabila bila hasil kali konsentrasi ion <

Ksp berarti larutan belum jenuh ( masih dapat larut).

2) Larutan jenuh yaitu suatu larutan yang mengandung sejumlah zat terlarut (solute)

yang larut dan mengadakan kesetimbangn dengan pelarut (solute) padatnya. Atau

dengan kata lain, larutan yang partikel- partikelnya tepat habis bereaksi dengan

pereaksi (zat dengan konsentrasi maksimal). Larutan jenuh terjadi apabila bila

hasil konsentrasi ion = Ksp berarti larutan tepat jenuh.

3) Larutan sangat jenuh (kelewat jenuh) yaitu suatu larutan yang mengandung lebih

banyak zat terlarut (solute) daripada yang diperlukan untuk larutan jenuh. Atau

dengan kata lain, larutan yang tidak dapat lagi melarutkan zat terlarut (solute)

sehingga terjadi endapan. Larutan sangat jenuh terjadi apabila bila hasil kali

konsentrasi ion > Ksp berarti larutan lewat jenuh (mengendap).

Berdasarkan sifat kualitatif, larutan dapat dibedakan menjadi 2, yaitu:

4
a) Larutan pekat yaitu larutan yang mengandung relatif lebih banyak zat terlarut

(solute) dibanding pelarut (solvent).

b) Larutan encer yaitu larutan yang relatif lebih sedikit zat terlarut (solute) dibanding

pelarut (solvent).

Faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan antara lain jenis zat terlarut,

jenis pelarut, temperatur, dan tekanan.

a. Jenis Zat

Zat-zat dengan struktur kimia yang mirip umumnya dapat saling

bercampur dengan baik, sedangkan zat-zat yang struktur kimianya berbeda

umumnya kurang dapat saling bercampur (like dissolves like).

Senyawa yang bersifat polar akan mudah larut dalam pelarut polar,

sedangkan senyawa nonpolar akan mudah larut dalam pelarut nonpolar.

Contohnya alkohol dan air bercampur sempurna (completely miscible), air dan

eter bercampur sebagian (partially miscible), sedangkan minyak dan air tidak

bercampur (completely immiscible).

b. Suhu

Kelarutan gas umumnya berkurang pada temperatur yang lebih tinggi.

Misalnya jika air dipanaskan, maka timbul gelembung-gelembung gas yang keluar

dari dalam air, sehingga gas yang terlarut dalam air tersebut menjadi berkurang.

Kebanyakan zat padat kelarutannya lebih besar pada temperatur yang lebih tinggi.

Ada beberapa zat padat yang kelarutannya berkurang pada temperatur yang lebih

tinggi, misalnya natrium sulfat dan serium sulfat. Pada larutan jenuh terdapat

kesetimbangan antara proses pelarutan dan proses pengkristalan kembali. Jika

salah satu proses bersifat endoterm, maka proses sebaliknya bersifat eksoterm.

5
Jika temperatur dinaikkan, maka sesuai dengan azas Le Chatelier (Henri Louis Le

Chatelier: 1850-1936) kesetimbangan itu bergeser ke arah proses endoterm. Jadi

jika proses pelarutan bersifat endoterm, maka kelarutannya bertambah pada

temperatur yang lebih tinggi. Sebaliknya jika proses pelarutan bersifat eksoterm,

maka kelarutannya berkurang pada suhu yang lebih tinggi.

c. Tekanan

Perubahan tekanan pengaruhnya kecil terhadap kelarutan zat cair atau

padat. Perubahan tekanan sebesar 500 atm hanya merubah kelarutan NaCl sekitar

2,3 % dan NH4Cl sekitar 5,1 %. Kelarutan gas sebanding dengan tekanan partial

gas itu. Menurut hukum Henry (William Henry: 1774-1836) massa gas yang

melarut dalam sejumlah tertentu cairan (pelarutnya) berbanding lurus dengan

tekanan yang dilakukan oleh gas itu (tekanan partial), yang berada dalam

kesetimbangan dengan larutan itu. Contohnya kelarutan oksigen dalam air

bertambah menjadi 5 kali jika tekanan partial-nya dinaikkan 5 kali. Hukum ini

tidak berlaku untuk gas yang bereaksi dengan pelarut, misalnya HCl atau NH3

dalam air.

Semua larutan anorganik, baik asam, basa, maupun garam memiliki sifat

mampu menghantarkan arus listrik. Sedangkan semua larutan yang berasal dari

zat organik seperti gula tebu, manosa, glukosa, gliserin, etanol, dan urea, tidak

mampu menghantarkan arus listrik.

Didalam larutan terkandung suatu zat (asam dan basa) yang merupakan

penghasil dan pendukung suatu larutan.

Asam dan Basa merupakan dua golongan zat kimia yang sangat penting dalam

kehidupan sehari - hari. Berkaitan dengan sifat asam Basa, larutan dikelompokkan

6
dalam tiga golongan, yaitu bersifat asam, bersifat basa, dan bersifat netral. Asam

dan Basa memiliki sifat-sifat yang berbeda, sehingga kita bisa menentukan sifat

suatu larutan. Untuk menentukan suatu larutan bersifat asam atau basa, ada

beberapa cara. Yang pertama menggunakan indikator warna, yang akan

menunjukkan sifat suatu larutan dengan perubahan warna yang terjadi. Misalnya

Lakmus, akan berwarna merah dalam larutan yang bersifat asam dan akan

berwarna biru dalam larutan yang bersifat basa. Sifat asam basa suatu larutan juga

dapat ditentukan dengan mengukur pH-nya. pH merupakan suatu parameter yang

digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman larutan. Larutan asam memiliki

pH kurang dari 7, larutan basa memiliki pH lebih dari 7, sedangkan netral pH nya

7. Dalam kehidupan sehari – hari, senyawa asam dan basa dapat dengan mudah

kita temukan. Mulai dari makanan, minuman dan beberapa produk rumah tangga

yang mengandung basa. Contohnya sabun, deterjen, dan pembersih peralatan

rumah tangga.

2. Asam

Asam merupakan salah satu penyusun dari berbagai bahan makanan dan

minuman, misalnya cuka, keju, dan buah-buahan. Menurut Arrhenius, asam

adalah zat yang dalam air akan melepaskan ion H+. Jadi, pembawa sifat asam

adalah ion H+ (ion hidrogen), sehingga rumus kimia asam selalu mengandung

atom hidrogen. Ion adalah atom atau sekelompok atom yang bermuatan listrik.

Kation adalah ion yang bermuatan listrik positif. Adapun anion adalah ion yang

bermuatan listrik negatif.

Sifat khas lain dari asam adalah dapat bereaksi dengan berbagai bahan

seperti logam, marmer, dan keramik. Reaksi antara asam dengan logam bersifat

7
korosif. Contohnya, logam besi dapat bereaksi cepat dengan asam klorida (HCl)

membentuk Besi (II) klorida (FeCl2).

Berdasarkan asalnya, asam dikelompokkan dalam 2 golongan, yaitu asam

organik dan asam anorganik. Asam organik umumnya bersifat asam lemah,

korosif, dan banyak terdapat di alam. Asam anorganik umumnya bersifat asam

kuat dan korosif. Karena sifat-sifatnya itulah, maka asam-asam anorganik banyak

digunakan di berbagai kebutuhan manusia.

3. Basa

Basa (alkali) berasal dari bahasa arab yang berarti abu. Secara umum basa

yaitu zat yang berasa pahit dan bersifat kaustik. Definisi umum dari basa adalah

senyawa kimia yang menyerap ion hydronium ketika dilarutkan dalam air. Basa

adalah lawan dari asam, yaitu ditujukan untuk unsur/senyawa kimia yang

memiliki pH lebih dari 7. Kostik merupakan istilah yang digunakan untuk basa

kuat. Basa dapat dibagi menjadi basa kuat dan basa lemah. Kekuatan basa sangat

tergantung pada kemampuan basa tersebut melepaskan ion OH dalam larutan dan

konsentrasi larutan basa tersebut.

Basa adalah suatu senyawa yang jika dilarutkan dalam air (larutan) dapat

melepaskan ion hidroksida (OH-). Oleh karena itu, semua rumus kimia basa

umumnya mengandung gugus OH.

Basa adalah zat yang di dalam air dapat menghasilkan ion OH–. Larutan

basa bersifat kaustik, artinya jika terkena kulit terasa licin seperti bersabun. Pada

umumnya basa adalah senyawa ion yang terdiri dari kation logam dan anion OH–.

Nama senyawa basa sama dengan nama kationnya yang diikuti kata hidroksida.

8
Jika diketahui rumus kimia suatu basa, maka untuk memberi nama basa,

cukup dengan menyebut nama logam dan diikuti kata hidroksida.

Perbedaan Sifat Asam dan Basa

4. Kekuatan Basa

 Basa Kuat

Basa kuat adalah jenis senyawa sederhana yang dapat mendeprotonasi

asam sangat lemah di dalam reaksi asam - basa. Contoh paling umum dari basa

kuat adalah hidroksida dari logam alkali dan logam alkali tanah seperti NaOH dan

Ca(OH)2. Disebut basa kuat karena zat terlarut dalam larutan ini mengion

seluruhnya (α = 1). Pada penentuan derajat keasaman dari larutan basa terlebih

dulu dihitung nilai POH dari konsentrasi basanya.

Berikut ini adalah daftar basa kuat :

 Kalium hidroksida (KOH)

 Barium hidroksida (Ba(OH)2)

 Caesium hidroksida (CsOH)

Kation dari basa kuat di atas terdapat pada grup pertama dan kedua pada

daftar periodik (alkali dan alkali tanah). Asam dengan pKa lebih dari 13 dianggap

sangat lemah, dan basa konjugasinya adalah basa kuat. Beberapa basa kuat seperti

9
kalsium hidroksida sangat tidak larut dalam air. Hal itu bukan suatu masalah –

kalsium hidroksida tetap terionisasi 100% menjadi ion kalsium dan ion

hidroksida. Kalsium hidroksida tetap dihitung sebagai basa kuat karena kalsium

hidroksida 100% terionisasi.

 Basa Lemah

Basa lemah adalah larutan basa tidak berubah seluruhnya menjadi ion

hidroksida dalam larutan. Amonia adalah salah satu contoh basa lemah. Sudah

sangat jelas ammonia tidak mengandung ion hidroksida, tetapi amonia bereaksi

dengan air untuk menghasilkan ion amonium dan ion hidroksida.

Akan tetapi, reaksi berlangsung reversibel, dan pada setiap saat sekitar

99% amonia tetap ada sebagai molekul amonia. Hanya sekitar 1% yang

menghasilkan ion hidroksida. Disebut basa lemah karena zat terlarut dalam larutan

ini tidak mengion seluruhnya, α ≠ 1, (0 < α < 1). Penentuan besarnya

konsentrasi OH- tidak dapat ditentukan langsung dari konsentrasi basa lemahnya

(seperti halnya basa kuat).

Berikut ini contoh basa lemah :

 gas amoniak (NH3)

 besi hidroksida (Fe(OH)2)

 Hydroksilamine (NH2OH)

 Aluminium hidroksida (Al(OH)3)

 Ammonia hydroksida (NH4OH)

10
BAB III

PEMBAHASAN

Reaksi Warna Bau Gas Endapan

HCl + aquadest Tidak berubah Tidak ada Tidak ada Tidak ada

HCl + KOH Berubah Ada Tidak ada Tidak ada

Perhitungan HCl + Aquadest

V1M1 = V2M2

5 . 0,02 = 20 . M2
5 . 0,02
M2 = 20

M2 = 5 . 10-3 M

Perhitungan HCl + KOH

V1M1 = V2M2

5 . M1 = 25 . 0,01
25 . 0,01
M1 = 5

M1 = 5 . 10-2 M

11
BAB IV

KESIMPULAN

Dari bab pembahasan di atas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa

ada beberapa jenis larutan, yaitu larutan elektrolit dan larutan non elektrolit.

Larutan elektrolit adalah larutan yang dapat menghantarkan arus listrik,

sedangkan larutan non elektrolit itu sendiri tidak dapat menghantarkan arus listrik.

Larutan elektrolit ini pun terbagi lagi atas larutan elektrolit kuat dan larutan

elektrolit lemah. Larutan elektrolit kuat yaitu larutan yang dapat menghantarkan

listrik dengan baik, sedangkan larutan elektrolit lemah itu menghantarkan listrik

pula, tapi tidak sebaik larutan elektrolit kuat.

Asam adalah zat yang berasa asam dengan pH dibawah tujuh sedangkan

basa adalah zat yang bersifat kaustik dengan pH diatas tujuh dan senyawa yang

menyerap ion hydronium ketika dilarutkan dalam air. Pada umumnya basa adalah

senyawa ion yang terdiri dari kation logam dan anion OH–. Nama senyawa basa

sama dengan nama kationnya yang diikuti kata hidroksida. Basa dapat

diidentifikasi dengan cara menggunakan kertas lakmus, indikator asam basa, dan

dengan indikator alami. Seperti hal-nya asam, basa juga terbagi dua macam yaitu

basa kuat dan basa lemah. Basa kuat adalah jenis senyawa sederhana yang dapat

mendeprotonasi asam sangat lemah di dalam reaksi asam – basa, sedangkan basa

lemah adalah larutan basa tidak berubah seluruhnya menjadi ion hidroksida dalam

larutan.

12
DAFTAR PUSTAKA

http://nosalagustian23.blogspot.com/2012/08/makalah-kimia-dasarii-basa-dan-

sistem.html

https://www.google.com/search?q=makalah+kimia+tentang+larutan+asam+dan+b

asa&client=firefox-a&rls=org.mozilla:en

http://nyolongmp3press.blogspot.com/2011/01/contoh-makalah-asam-basa.html

http://srwidoretnoblog.wordpress.com/ipa-1/asam-dan-basa-2/larutan-basa

http://indrapragi.blogspot.com/2011/05/makalah-kimia-asam-basa.html

13