Anda di halaman 1dari 5

MARAKNYA TUNTUTAN MALPRAKTIK MEDIK

Gerakan keselamatan pasien merupakan issue global. Berbagai negara termasuk Indonesia
telah merubah paradigma pelayanan kesehatan dari quality ke quality-safety. Isu keselamatan
pasien berkembang di Indonesia semenjak berkembangnya kasus-kasus yang masuk ke
tuntutan hukum dan pengadilan. Tuntutan malpraktek seolah sudah menjadi momok bagi
dokter dan insan medis lainnya. Bila seorang dokter/dokter gigi melakukan kesalahan atau
mengalami gugatan pasien, maka ia bisa akan dituntut pada 4 tempat, yakni pada Kejaksaan,
Kepolisian, Konsil Kedoktena/IDI/PDGI, dan MKDKI. Berbeda dengan pelanggaran yang
dilakukan oleh orang kebanyakan.

Profesi sebagai seorang dokter/dokter gigi menurut kebanyakan orang adalah profesi mulia.
Seseorang dengan predikat dokter seolah dituntut untuk ma’shum (tidak pernah salah) dalam
menjalankan profesinya. Tidak banyak orang yang akan memperhitungkan kebaikan yang
telah di lakukan dokter, tapi sekali melakukan satu kesalahan saja maka dokter terancam
masuk penjara dan mungkin akan kehilangan profesi sebagai dokter akibat tuntutan
malpraktek atau delik hukum lainnya. Hubungan antara dokter/dokter gigi dengan pasien
adalah hubungan antar manusia yang selalu diliputi oleh sifat-sifat kemanusiaaan yang tidak
pernah sempurna. Mengharapkan kesempurnaan dalam membina hubungan antar manusia
adalah suatu yang mustahil, namun memperkecil ketidak-sempurnaan untuk mendekati
sempurna adalah kewajiban dari para pihak. Antara Dokter/Dokter gigi & pasien terdapat
pola hubungan yang paternalistik, yakni Dokter/Dokter gigi akan berupaya semaksimal
mungkin sebagai bapak yang baik, untuk kesembuhan pasien & pasien akan berbuat sebagai
anak yang baik, mematuhi nasihat dari Dokter/Dokter gigi. Selanjutnya hubungan antara
Dokter/Dokter gigi & pasien, menurut hukum adalah hubungan hukum antara subyek hukum
dengan subyek hukum, untuk melakukan jasa pelayanan kesehatan & terbentuk perikatan
(verbintenis). Terdapat hak & kewajiban yang timbal balik antara Dokter/Dokter gigi &
pasien & kedudukan keduanya sederajat.

Tubuh manusia mempunyai keunikan yang sangat komplek, yang terdiri dari badan & jiwa
(fisik & psikis), keduanya adalah dua sisi dari sebuah mata uang, yang tidak dapat dipisahkan
satu dengan lainnya, sehingga apa yang diartikan dengan kesehatan, adalah keadaan sehat
baik fisik maupun psikis. Upaya pengobatan yang dilakukan oleh Dokter/Dokter gigi, sebatas
kemampuan “manusia biasa” (bukan manusia luar biasa) dengan keterbatasannya sebagai
manusia, yang berupaya mengobati penyakit pasien, baik fisik mau pun psikis berdasarkan
kepandaian yang didapat dari pendidikan formal & pengalaman, dengan segala kelebihan &
kekurangannya. Seperti diketahui, kesembuhan pasien tidak hanya tergantung dari faktor
Dokter/Dokter gigi saja, juga tergantung dari sangat banyak faktor lainnya, selain juga faktor
pasien sendiri, juga pada ketersediaan alat-alat penunjang kedokteran & obat-obatan. Tidak
mungkin Dokter/Dokter gigi mengobati pasien hanya berbekal kepandaiannya semata,
kepandaian/keterampilan Dokter/Dokter gigi hanya dapat mendiagnosis penyakit yang
diderita pasien & kemudian menentukan terapi, sesuai dengan kemampuan & kondisi yang
ada. Mengharapkan kesempurnaan seperti diungkapkan di atas adalah mustahil, namun
kadang-kadang pengharapan pasien kepada Dokter/Dokter gigi sedemikian besar, sehingga
pasien menganggap Dokter/Dokter gigi adalah manusia super yang serba bisa, yang selalu
dapat mengobati penyakit pasien & bekerja tanpa kesalahan/kelalaian & tanpa risiko.
Risiko selalu dapat terjadi dalam setiap tindakan medik, bahkan sekecil apa pun juga tindakan
medis, selalu mengandung risiko. Kadang-kadang memang sulit untuk membedakan apakah
“kegagalan” sembuhnya pasien, karena risiko yang terjadi atau kesalahan/kelalaian dari
Dokter/Dokter gigi, terlebih lagi bagi pasien, yang awam dalam bidang kedokteran. Sehingga
pasien yang awam selalu menganggap “kegagalan” menjadi sembuh sebagai
kesalahan/kelalaian tindakan medik (malpraktik).

Pengertian malpraktik menurut Kamus Hukum Blacks Law Dictionary menyebutkan adanya
kesembronoan (professional misconduct) atau ketidakcakapan yang tidak dapat diterima
(unreasonable lack of skill) yang diukur dengan ukuran yang terdapat pada tingkat
keterampilan sesuai dengan derajat ilmiah yang lazimnya dipraktikkan pada setiap situasi &
kondisi di dalam komunitas anggota profesi yang mempunyai reputasi & keahlian rata-rata.
Ukuran dari terjadinya professional misconduct atau unreasonable lack of skill tersebut di
atas, adalah yang dikenal dengan ukuran (standar) profesi. Apabila profesional memberikan
pelayanan di bawah standar, maka profesional harus memberikan ganti rugi atas cedera yang
diakibatkannya. Selain itu para profesional juga dituntut untuk memenuhi ukuran
keterampilan rata-rata sesuai dengan perkembangan & kemajuan ilmu pengetahuan yang
umum.

Akhir-akhir ini ada kecenderungan umum yang memberikan pengertian dari malpraktik
medik, yakni apabila seorang dokter tidak dapat menyembuhkan pasien sebagai perbuatan
malpraktik. Bahkan lebih parah lagi, apabila seorang pasien meninggal dunia, di dalam
proses pengobatan di rumah sakit, maka telah terjadi malpraktik medik. Jelas untuk dapat
menentukan adanya malpraktik medik yang menimbulkan tanggungjawab medik, maka unsur
utamanya adalah adanya kelalaian (negligent). Kelalaian dalam arti yang umum adalah
adanya kekurang hati-hatian yang dilakukan dalam situasi & kondisi yang sama. Apabila
pasien tidak dapat menentukan kekurang hatian-hatian yang bagaimana yang dilakukan oleh
tenaga kesehatan, maka tidak ada kasus. Kemudian di dalam hukum pidana sebuah asas yang
ditetapkan di dalam KUHP adalah sangat penting, yaitu asas “nullum delictum poena sina
sanctie”. Artinya tiada suatu perbuatan dapat dipidana kecuali atas kekuatan aturan pidana
dalam perundang-undangan yang telah ada, sebelum perbuatan dilakukan. Jadi menurut asas
ini, kalau tidak diatur telah melanggar ketentuan hukum, maka perbuatan itu tidak dapat
dihukum, meski pun akibat perbuatan itu menimbulkan kerugian bagi pihak lain.

Seharusnya dalam tindakan medik, perbuatan Dokter/Dokter gigi yang dapat dipidana, adalah
perbuatan yang menimbulkan kerugian berupa catat badan yang permanen atau kematian.
Apabila kerugian itu dapat diperbaiki, dalam arti tidak menimbulkan bekas, maka
Dokter/Dokter gigi tidak dapat dituntut pidana. Perasaan tidak menyenangkan, penderitaan,
tidak sembuh & banyak lainnya, bukan dasar untuk memidanakan Dokter/Dokter gigi.
Namun di Indonesia hal ini menjadi kabur, karena itu dijadikan dasar pengaduan pasien.
Terutama “tidak sembuh” tidak dapat dijadikan dasar tuntutan, karena prestasi Dokter/Dokter
gigi adalah berupaya semaksimal mungkin, dan faktor kesembuhan pasien bukan hanya
karena faktor Dokter/Dokter gigi saja, tapi juga bergantung pada faktor si pasien itu sendiri.

Sehubungan gugatan/tuntutan ada di bidang hukum, beberapa hal harus selalu diingat dan
dilakukan oleh Dokter/Dokter Gigi dalam melaksanakan praktek profesinya. Seringkali, TK
karena rutinitas menjalankan pekerjaan, yang menjadi pekerjaan yang diulang-ulang, menjadi
kurang hati-hati. Kekurang hati-hatian ini, dapat berakibat fatal, karena kelalaian kecil saja
dapat berakibat besar. TK dapat menggunakan beberapa ketentuan dari lembaga hukum yang
dapat membantu TK dalam mengurangi kemungkinan digugat/dituntut oleh pasien.
Kemudian di luar dari itu terdapat beberapa hal yang perlu juga diperhatikan oleh TK.
Pemerintah melalu Permenkes no.290/2008 telah menetapkan aturan tentang persetujuan
tindakan medik & di dalam UU no.29/2004 tentang praktik kedokteran, juga diatur beberapa
ketentuan tentang persetujuan tindakan medik. TK harus menggunakan lembaga informed
consent secara maksimal, pasien diberi informasi yang benar & adekuat, kemudian pasien
dalam memberikan persetujuan setelah benar-benar mengerti informasi yang diterima.
Pekerjaan ini sangat membosankan, namun ini adalah salah satu cara untuk menghindarkan
kesalahpahaman yang mungkin timbul. Masalah yang timbul adalah kalau informasi terlalu
banyak menyebabkan pasien menjadi takut, ini bukan menjadi masalah TK, untuk
menghindari kemungkinan salah paham. Selain informed consent, yang perlu dipenuhi &
menjadi keharusan pula untuk mencatat dengan benar & rinci seluruh proses tindakan medik
di dalam rekam medik & berkas pemerikasaan penunjang pasien dikumpulkan dengan baik,
sehingga pada waktunya apabila ada gugatan/tuntutan dari pasien, maka berkas rekam medik
dapat digunakan sebagai alat bukti yang berisi proses tindakan medik.
Kemudian TK harus bekerja sesuai dengan standar profesi medik, bertindak teliti & hati-hati.
Kemudian selalu menambah pengetahuan baik secara formal mau pun informal. Selain itu,
perlu menghargai hak-hak pasien yang lainnya selain informasi, persetujuan, & rekam medik,
yaitu rahasia kedokteran & mendapatkan second opinion. Hal lain yang perlu pula disiapkan
oleh TK, adalah mengerti & mengetahui tentang hukum pada umumnya, khususnya tentang
hukum kesehatan. Mempelajari hukum secara formal tentunya paling baik, namun secara
informal pun cukup. Buta sama sekali terhadap hukum, sangat tidak bijaksana. Akhirnya,
kalau menghadap gugatan/tuntutan hukum, jangan bertindak sendiri, perlu kebijaksaaan
dalam memilih siapa yang jadi pembela. Gugatan/tuntutan tidaklah mungkin dihadapi TK
tanpa bantuan pihak yang mengerti hukum.

Dokter juga manusia. Mereka juga sama dengan manusia lain yang punya emosi dan masalah
dalam hidupnya. Kebanyakan dokter mengambil tindakan yang salah atau melakukan
kelalaian tatkala sedang berada dalam kondisi lelah, emosi yang labil, atau sedang berada
dalam perangkap suatu masalah. Hal ini mungkin terkait dengan jumlah dokter yang masih
jauh dari rasio normal dengan jumlah pasien yang banyak. Apalagi dokter spesialis,
jumlahnya masih sangat kurang dari standar yang seharusnya. Fakultas kedokteran di
Indonesia sebenanya sudah cukup banyak, namun belum bisa memenuhi kebutuhan jumlah
dokter bagi penduduk Indonesia. Belum lagi distribusi dokter yang hanya terpusat pada
daerah tertentu saja. Saya juga tidak menyangkal bahwa mungkin ada dokter kapitalis/matre
yang bekerja mengejar ‘setoran’. Namun saya percaya semua dokter menginginkan pasiennya
sembuh dan tidak akan mencelakakan pasien.

Oleh karena itu selain terus berusaha meningkatkan keterampilan profesi, seorang dokter
sangat penting untuk menjaga kemurnian niat, stabilitas fisik, emosi, dan spiritual sehingga
tidak mempengaruhi keputusan dan pertimbangan yang diambil. Ingat bahwa di tangan
seorang dokter terdapat keputusan-keputusan besar yang menyangkut nyawa manusia.