Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Blok reproduksi adalah blok ketujuh belas pada semester VI dari Kurikulum
Berbasis Kompetensi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas
Muhammadiyah Palembang. Pada kesempatan ini dilaksanakan studi kasus skenario
Ny. A, berusia 37 tahun, mengaku hamil datang ke IGD RSMP pada tanggal 15 Maret
2016 dengan keluhan perdarahan dari kemaluan sejak 1 jam yang lalu, darah berwarna
segar sebanyak 2x ganti pembalut. Tidak disertai nyeri perut.
HPHT 10 Juni 2015.Ny. A selama ini pernah melakukan 2 kali pemeriksaan
kehamilan ke Puskesma, namun belum pernah melakukan USG. Ny. A mengaku pernah
mengalami perdarahan yang sama sekitar 2 bulan yang lalu namun tidak sebanyak
perdarahan sekarang sehingga tidak memeriksaan diri. Ny. A sudah 2 kali melahirkan
normal, belum pernah mengalami keguguran. Anak pertama berumur 5 tahun, anak
kedua 3 tahun. Ny. A pernah kuretase setelah melahirkan anak kedua karena perdarahan
setelah persalinan.

1.2 Maksud dan Tujuan


Adapun maksud dan tujuan dari laporan tutorial studi kasus ini, yaitu :
1. Sebagai laporan tugas kelompok tutorial yang merupakan bagian dari sistem
pembelajaran KBK di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah
Palembang.
2. Dapat menyelesaikan kasus yang diberikan pada skenario dengan metode
analisis pembelajaran diskusi kelompok.
3. Tercapainya tujuan dari metode pembelajaran tutorial.

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Data Tutorial


Tutor : dr. Ahmad Gifari M.Kes
Moderator : M. Farhan Rahmadi
Sekretaris : Putri Utami Pratiwi
Notulen : Efri handriansyah
Waktu : 1. Selasa, 15 maret 2015
2. Kamis, 17 maret 2015
Pukul. 13.00 – 14.30 WIB.
Peraturan : 1. Alat komunikasi dinonaktifkan.
2. Semua anggota tutorial harus mengeluarkan pendapat / aktif.
3. Mengacungkan tangan saat akan mengutarakan pendapat.
4. Izin terlebih dahulu saat akan keluar ruangan.
5. Tidak boleh membawa makanan dan minuman pada saat
proses tutorial berlangsung.
6. Dilarang memotong pembicaraan ketika ada yang sedang
memberikan pendapat.
7. Dilarang berbisik-bisik dengan teman.

2.2 Skenario Kasus


Ny. A, berusia 37 tahun, mengaku hamil datang ke IGD RSMP pada tanggal 15
Maret 2016 dengan keluhan perdarahan dari kemaluan sejak 1 jam yang lalu, darah
berwarna segar sebanyak 2x ganti pembalut. Tidak disertai nyeri perut.
HPHT 10 Juni 2015.Ny. A selama ini pernah melakukan 2 kali pemeriksaan
kehamilan ke Puskesma, namun belum pernah melakukan USG. Ny. A mengaku pernah
mengalami perdarahan yang sama sekitar 2 bulan yang lalu namun tidak sebanyak
perdarahan sekarang sehingga tidak memeriksaan diri. Ny. A sudah 2 kali melahirkan
normal, belum pernah mengalami keguguran. Anak pertama berumur 5 tahun, anak
kedua 3 tahun. Ny. A pernah kuretase setelah melahirkan anak kedua karena perdarahan
setelah persalinan.

2
Pemeriksaan Fisik:
Keadaan umum: tampak sakit sedang, kesadaran: compos mentis
Tanda Vital: N: 88x/menit isi tegangan cukup, TD: 110/70mmHg, RR: 18x/menit, T:
36,0oC
Pemeriksaan Khusus:
Kepala: konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik
Thoraks: dalam batas normal
Ekstremitas: edema (-)
Pemeriksaan Obstetri:
Palpasi:
- TFU 3 jari bawah procesuss xyphoideus (32cm), letak memanjang, punggung
sebelah kanan, terbawah kepala, floating, djj 135x/menit, His tidak ada
- Terdapat perdarahan pervagina berwarna merah segar
Inspekulo
- Portio: Livide
- OUE terbuka 2 cm
- Fluxus (+) darah aktif keluar dari OUE
- Polip, erosi, laserasi (-)
Vaginal toucher: tidak dilakukan
Pemeriksaan Laboratorium
Darah rutin: Hb: 10,8g/dl, trombosit: 250.000/mm3, leukosit: 10.000/mm3

2.3 Klarifikasi Istilah


1. Puskesmas : Pusat Kesehatan Masyarakat
2. Kemaluan : Organ reproduksi khususnya bagian eksterna
3. Hamil : Mengandung janin di dalam rahim
4. Laserasi : Luka robek
5. Puskesmas : Pusat Kesehatan Masyarakat
6. Kuretase : Pembersihan dengan menggunakan kuret (induksi perdarhan
endometrium denga pemberian dan penghentian agen
progrestasional).
7. Keguguran : (abortus) janin dengan BB < 500g/ memiliki usia gestasional

3
kurang dari 20 minggu pada waktu dikeluarkan dari uterus
sehingga tidak memiliki harapan untuk hidup.
8. HPHT : Hari pertama hari terakhir.
9. Persalinan : Proses melahirkan janin
10 Melahirkan : Melahirkan secara spontan melalui pervaginam tanpa
normal menggunakan alat bantu
12 His : Gelombang kontraksi ritmis otot polos dinding uterus yang
dimulai dari daerah fundus.
13 Floating : Bagian depan janin tinggi / melayang di atas PAP
14 Fluxus : Aliran atau pengeluaran berlebihan.
15 Portio: livide : Bagian servix uteri yang menonjol kedalam vagina yang
berubah atau perubahan warna (seperti warna memar hitam
atau biru).
16 Pervaginam : Melalui vagina

2.4 Identifikasi Masalah


1. Ny. A, berusia 37 tahun, mengaku hamil datang ke IGD RSMP pada tanggal 15
Maret 2016 dengan keluhan perdarahan dari kemaluan sejak 1 jam yang lalu,
darah berwarna segar sebanyak 2x ganti pembalut. Tidak disertai nyeri perut.
2. HPHT 10 Juni 2015. Ny. A selama ini pernah melakukan 2 kali pemeriksaan
kehamilan ke Puskesma, namun belum pernah melakukan USG.
3. Ny. A mengaku pernah mengalami perdarahan yang sama sekitar 2 bulan yang
lalu namun tidak sebanyak perdarahan sekarang sehingga tidak memeriksaan diri.
4. Ny. A sudah 2 kali melahirkan normal, belum pernah mengalami keguguran.
Anak pertama berumur 5 tahun, anak kedua 3 tahun. Ny. A pernah kuretase
setelah melahirkan anak kedua karena perdarahan setelah persalinan.
5. Pemeriksaan Fisik:
Keadaan umum: tampak sakit sedang, kesadaran: compos mentis
Tanda Vital: N: 88x/menit isi tegangan cukup, TD: 110/70mmHg, RR: 18x/menit,
T: 36,0oC
Pemeriksaan Khusus:
Kepala: konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik

4
Thoraks: dalam batas normal
Ekstremitas: edema (-)
6. Pemeriksaan Obstetri:
Palpasi:
- TFU 3 jari bawah procesuss xyphoideus (32cm), letak memanjang, punggung
sebelah kanan, terbawah kepala, floating, djj 135x/menit, His tidak ada
- Terdapat perdarahan pervagina berwarna merah segar
Inspekulo
- Portio: Livide
- OUE terbuka 2 cm
- Fluxus (+) darah aktif keluar dari OUE
- Polip, erosi, laserasi (-)
Vaginal toucher: tidak dilakukan
7. Pemeriksaan Laboratorium
Darah rutin: Hb: 10,8g/dl, trombosit: 250.000/mm3, leukosit: 10.00/mm3

2.5 Analisis Masalah


1. Ny. A, berusia 37 tahun, mengaku hamil datang ke IGD RSMP pada tanggal 15
Maret 2016 dengan keluhan perdarahan dari kemaluan sejak 1 jam yang lalu, darah
berwarna segar sebanyak 2x ganti pembalut. Tidak disertai nyeri perut.
a. Apa sistem yang terlibat pada kasus?
Jawab:
Sistem reproduksi wanita

b. Bagaiamana anatomi, histologi, dan fisiologi dari sistem reproduksi wanita?


Jawab:
Anatomi
Organ Genitalia Eksterna
 Vulva (pukas) atau pudenda, meliputi seluruh struktur eksternal yang
dapat dilihat mulai dari pubis sampai perineum, yaitu mons veneris, labia
mayora dan labia minora, klitoris, selaput dara (hymen), vestibulum, muara
uretra, berbagai kelenjar dan struktur vascular

5
 Mons veneris atau mons pubis adalah bagian yang menonjol di atas
simfisis dan pada perempuan setelah pubertas ditutupi oleh rambut
kemaluan

 Labia mayora (bibir-bibir besar) terdiri atas bagian kanan dan kiri,
lonjong mengecil ke bawah, terisi oleh jaringan lemak yang serupa dengan
yang ada di mons veneris

 Labia minora (bibir-bibir kecil) adalah suatu lipatan tipis dari kulit
sebelah dalam bibir besar. Ke depan kedua bibir kecil bertemu yang diatas
klitoris membentuk preputium klitoridis dan yang di bawah klitoris
membentuk frenulum klitoridis

6
 Klitoris kira-kira sebesar kacang ijo, tertutup oleh preputium klitoridis dan
terdiri atas glans klitoridis, korpus klitoridis dan dua krura yang
menggantungkan klitoris ke os pubis
 Vestibulum berbentuk lonjong dengan ukuran panjang dari depan ke
belakang dan dibatasi di depan oleh klitoris, kanan dan kiri oleh kedua labia
minora dan dibelakang oleh perineum
 Bulbus vestibuli sinistra et dekstra merupakan pengumpulan vena yang
terletak di bawah selaput lendir vestibulum, dekat ramus ossis pubis. Bulbus
vestibule mengandung banyak pembuluh darah sebagian tertutup oleh
muskulus iskio kavernosus dan muskulus konstriktor vagina
 Perineum terletak antara vulva dan anus, panjangnya rata-rata 4 cm.
Jaringan yang mendukung perineum terutama ialah diafragma pelvis dan
diafragma urogenitalis

7
Organ Genitalia Interna
 Vagina (liang kemaluan/ liang senggama)
Setelah melewati introitus vagina, terdapat liang kemaluan (vagina) yang
merupakan suatu penghubung antara introitus vagina dan uterus. Arahnya
sejajar dengam arah dari pinggir atas simfisis ke promontorium. Arah ini
penting diketahui pada waktu memasukkan jari ke dalam vagina saat
melakukan pemeriksaan ginekologik. Dinding depan dan belakang vagina
berdekatan satu sama lain, masing-masing panjangnya berkisar antara 6-8
cm dan 7-10 cm. Bentuk vagina sebelah dalam yang berlipat-lipat disebut
rugae. Ditengah-tengahnya ada bagian yang lebih keras, disebut kolumna
rugarum
 Uterus
Uterus berbentuk seperti buah avokad atau buah pir yang sedikit gepeng ke
arah depan belakang. Ukurannya sebesar telur ayam dan mempunyai
rongga. Dindingnya terdiri atas otot-otot polos. Ukuran panjangnya uterus
adalah 7-7,5 cm, lebar di atas 5,25 cm, tebal 2,5 cm, dan tebal dinding 1,25
cm. Uterus terdiri atas (1) fundus uteri (2) korpus uteri dan (3) serviks uteri.
Lapisan otot polos uterus di sebelah dalam berbentuk sirkular dan disebelah
luar berbentuk longitudinal. Diantara kedua lapisan itu terdapat lapisan otot
oblik, bentuk anyaman. Lapisan ini paling penting dalam persalinan oleh
karena sesudah plasenta lahir, otot lapisan ini berkontraksi kuat dan
menjepit pembuluh-pembuluh darah yang terbuka di tempat itu, sehingga
perdarahan berhenti
 Tuba falloppii
Tuba falloppii terdiri atas (1) pars interstisialis, yaitu bagian yang terdapat
di dinding uterus, (2) pars ismika, merupakan bagian medial tuba yang
sempitnya seluruhnya, (3) pars ampullaris, yaitu bagian yang berbentuk
sebagai saluran agak lebar, tempat konsepsi terjadi, dan (4) infundibulum,
yaitu bagian ujung tuba yang terbuka kea rah abdomen dan mempunyai
fimbria. Fimbria penting artinya bagi tuba untuk menangkap telur dan
selanjutnya menyalurkan telur ke dalam tuba. Bentuk infundibulum seperti
anemone (sejenis bintang laut)

8
 Ovarium (Indung telur)
Perempuan pada umumnya mempunyai 2 indung telur kanan dan kiri.
Mesovarium menggantung ovarium di bagian belakang ligamentum latum
kiri dan kanan. Ovarium berukuran kurang lebih sebesar ibu jari tangan
dengan ukuran panjang kira-kira 4 cm, lebar dan tebal kira-kira 1,5 cm.
Struktur ovarium terdiri atas (1) korteks, bagian luar yang diliputi oleh
epithelium germinativum berbentuk kubik dan didalamnya terdiri atas
stroma serta folikel-folikel primordial, dan (2) medulla, bagian di sebelah
dalam korteks tempat terdapatnya stroma dengan pembuluh-pembuluh
darah, serabut-serabut saraf, dan sedikit otot polos.

(Sarwono P, 2013)
Histologi Organ Reproduksi Wanita
1) Ovarium

9
Fungsi ovarium :
 Produksi sel germinal
 Biosintesis hormon steroid

Sel germinal terdapat pada folikel ovarium. Masing-masing folikel


berada dalam keadaan istirtahat dan mengandung oosit primordial (primitif
) yang dikelilingi satu lapis sel yaitu sel granulosa.
Disekitar sel granulosa terdapat sekelompok sel yaitu sel teka. Sel teka
memproduksi androgen yang oleh sel granulosa di konversi menjadi
estrogen. Hormon steroid dari ovarium bekerja dalam folikel untuk
menujang perkembangan oosit dan di luar ovarium, hormon steroid bekerja
pada jaringan target.

2) Tuba Falopii
Lumen Tuba Falopii dilapisi epitel kolumnar dengan silia panjang
pada permukaan selnya. Silia bergerak konsisten ke arah uterus untuk
memfasilitasi pergerakan zygote ke dalam uterus agar mengadakan
implantasi pada endometrium

3) Uterus
Sebagian besar dinding uterus terdiri dari otot polos yang dinamakan
miometrium. Uterus harus mampu untuk membesar selama kehamilan.
Pembesaran uterus terjadi akibat hipertrofi sel otot polos miometrium
(miosit) dan penambahan miosit baru dari stem sel yang terdapat dalam
jaringan ikat miometrium. Rongga uterus dilapisi oleh endometrium.
Endometrium merupakan organ target dan kelenjar endokrin. Selama fase
pra ovulasi siklus menstruasi, sel epitel permukaan endometrium
mengadakan proliferasi di bawah pengaruh estrogen.
Kelenjar endometrium mengalami proliferasi dan masuk kedalam
lapisan subepitelial atau stroma. Arteri muskular kecil (arteria spiralis )
tumbuh kedlam lapisan basal endometrium. Setelah ovulasi, suasana
hormonal uterus berubah dari dominan estrogen menjadi dominan

10
progesteron sehingga mitosis epitel kelenjar berhenti. Endometrium pasca
ovulasi disebut endometrium sekretorik.
Pasca ovulasi, sel stroma endometrium membesar dan tampak berbuih
yang menadakan adanya peningkatan metabolisme. Sel-sel tersebut menjadi
eosinofilik dan disebut sebagai sel desidua. Desidualisasi endometrium
diawali sekitar arteri spiralis yang kemudian menyebar dibawah epitel
permukaan dan kelenjar saat 10 hari pasca ovulasi.
Jika tidak terjadi kehamilan, produksi progesteron corpus luteum
berhenti pada hari ke 13 – 14 pasca ovulasi. Endometrium mengalami
nekrosis iskemik dan meluruh sebagai debris menstruasi.

4) Servik dan Vagina


Servik terutama terdiri dari jaringan ikat. Struktur ini dilapisi satu
lapis epitel kelenjar penghasil mukus dibagian dalam servik (canalis
endoservicalis) dan epitel skuamosa berlapis pada ektoservik. Transisi epitel
kelenjar dan skuamosa dikenal sebagai zona transformasi yang penting oleh
karena sering mengalami perubahan displastik yang dapat menjadi
keganasan.
Vagina dilapisi oleh epitel skuamosa.

Pengaruh hormon pada wanita


a. Efek Fisiologis Estrogen
1. uterus dan organ kelamin luar wanita.
 selama masa kanak-kanak, estrogen disekresi hanya dalam jumlah
kecil. Pada pubertas, disekresi dalam jumlah yang sangat banyak

11
sampai 20 kali lipat dibawah pengaruh hormone gonadotropin
hipofisis.

2. tuba fallopi
 estrogen berpengaruh pada mukosa yang membatasi tuba fallopi.
estrogen menyebabkan jaringan kelenjar lapisan tersebut
berpoliferasi, dan yang penting, estrogen menyebabkan jumlah sel –
sel epitel bersilia yang membatsi tuba fallopi bertambah banyak, silia
tersebut membantu mendorong ovum yang telah dibuahi kea rah
uterus.
3. Payudara
 menyebabkan perkembangan jaringan stroma payudara.
 pertumbuhan system duktus yang luas.
 deposit lemak pada payudara.
4. Tulang rangka
 estrogen menghambat aktifitas osteoklastik di dalam tulang sehingga
merangsang pertumbuhan tulang.
5. Kulit
 Estrogen menyebabkan kulit berkembang membentuk tekstur yang
halus dan biasanya lembut, tetapi meskipun demikian , kulit wanita
lebih tebal dari pada kulit seorang anak atau kulit wanita yang di
kastrasi.

b. Efek Fisiologis Progesteron


1. Pada uterus
 untuk meningkatkan perubahan sekretorik pada endometrium uterus
selama separuh terakhit siklus seksual bulan wanita, sehingga
mempersiapkan uterus untuk menerima ovum yang sudah di buahi.
1. tuba fallopi
 meningkatkan sekresi pada mukosa yang membatasi tuba fallopi.
sekresi ini dibutuhkan untuk nutrisi ovum yang sudah dibuahi dan
sedang membelah.

12
2. payudara
 meningkatkan perkembangan lobulus dan alveoli payudara,
mengakibatkan sel –sel berploriferasi, membesar, dan menjadi
bersifat sekretorik.
(Guyton, 2006)

Fisiologi Kehamilan
Dengan terjadinya kehamilan maka seluruh genitalia wanita mengalami
perubahan yang mendasar sehingga dapat menunjang perkembangan dan
pertumbuhan janin dalam rahim. Plasenta dalam perkembangannya
mengeluarkan hormone somatomatropin, estrogen, dan progesteron yang
menyebabkan perubahan pada:
1) Rahim atau uterus
Selama kehamilan uterus akan beradaptasi untuk menerima dan melindungi
hasil konsepsi (janin, plasenta, amnion) sampai persalinan. Uterus
mempunyai kemampuan yang luar biasa untuk bertambah besar dengan
cepat selama kehamilan dan pulih kembali seperti keadaan semula dalam
beberapa minggu setelah persalinan. Pada perempuan tidak hamil uterus
mempunyai berat 70 gram dan kapasitas 10 ml atau kurang. Selama
kehamilan, uterus akan berubah menjadi suatu organ yang mampu
menampung janin, plasenta, dan cairan amnion rata-rata pada akhir
kehamilan volume totalnya mencapai 5 liter bahkan dapat mencapai 20 liter
atau lebih dengan berat rata-rata 1100 gram.
2) Vagina (liang senggama)
Selama kehamilan peningkatan vaskularisasi dan hyperemia terlihat jelas
pada kulit dan otot-otot di perineum dan vulva, sehingga pada vagina akan
terlihat bewarna keunguan yang dikenal dengan tanda Chadwicks.
Perubahan ini meliputi penipisan mukosa dan hilangnya sejumlah jaringan
ikat dan hipertrofi dari sel-sel otot polos.
3) Ovarium
Proses ovulasi selama kehamilan akan terhenti dan pematangan folikel baru
juga ditunda. Hanya satu korpus luteum yang dapat ditemukan di ovarium.

13
Folikel ini akan berfungsi maksimal selama 6-7 minggu awal kehamilan dan
setelah itu akan berperan sebagai penghasil progesterone dalam jumlah yang
relative minimal
4) Payudara
Payudara mengalami pertumbuhan dan perkembangan sebagai persiapan
memberikan ASI pada saat laktasi. Perkembangan payudara tidak dapat
dilepaskan dari pengaru hormone saat kehamilan, yaitu estrogen,
progesterone, dan somatromatropin.
5) Sirkulasi darah ibu
Peredaran darah ibu dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:
a) Meningkatnya kebutuhan sirkulasi darah sehingga dapat memenuhi
kebutuhan perkembangan dan pertumbuhan janin dalam rahim.
b) Terjadi hubungan langsung antara arteri dan vena pada sirkulasi retro-
plasenter.
c) Pengaruh hormon estrogen dan progesteron semakin meningkat.
Akibat dari faktor tersebut dijumpai beberapa perubahan peredaran darah,
yaitu:
1. Volume darah
Volume darah semakin meningkat di mana jumlah serum darah lebih
besar dari pertumbuhan sel darah, sehingga terjadi semacam
pengenceran darah (hemodilusi), dengan puncaknya pada hamil 32
minggu. Serum darah (volume darah) bertambah sebesar 25-30%
sedangkan sel darah bertambah sekitar 20%. Curah jantung akan
bertambah sekitar 30%. Bertambahnya hemodilusi darah mulai tampak
sekitar umur hamil 16 minggu, sehingga pengidap penyakit jantung
harus berhati-hati untuk hamil beberapa kali. Kehamilan selalu
memberatkan kerja jantung sehingga wanita hamil dengan sakit jantung
dapat jatuh dalam dekompensasio kordis. Pada postpartum terjadi
hemokonsentrasi dengan puncak hari ketiga sampai kelima.
2. Sel darah
Sel darah merah makin meningkat jumlahnya untuk dapat mengimbangi
pertumbuhan janin dalam rahim, tetapi pertambahan sel darah tidak

14
seimbang dengan peningkatan volume darah sehingga terjadi
hemodilusi yang disertai anemia fisiologis. Sel darah putih meningkat
dengan mencapai jumlah sebesar 10.000/ml. Dengan hemodilusi dan
anemia maka laju endap darah semakin tinggi dan dapat mencapi 4 kali
dari angka normal.
3. Sistem respirasi
Pada kehamilan terjadi juga perubahan sistem respirasi untuk dapat
memnuhi kebutuhan O2. Disamping itu terjadi desakan diafragma
karena dorongan rahim yang membesar pada umur hamil 32 minggu.
Sebagai kompensasi terjadinya desakan rahim dan kebutuhan O2 yang
meningkat, ibu hamil akan bernafas lebih dalam sekitar 20-25% dari
biasanya.
4. Sistem pencernaan
Terjadi peningkatan asam lambung karena pengaruh estrogen.
5. Traktus urinarius
Pada bulan-bulan pertama kehamilan kandung kemih akan tertekan oleh
uterus yang mulai membesar sehingga menimbulkan sering kemih.
Keadaan ini akan hilang dengan makin tuanya kehamilan bila uterus
keluar dari rongga panggul. Pada akhir kehamilan, jika kepala janin
sudah mulai turun ke pintu panggul, keluhan itu akan timbul kembali.
6. Perubahan pada kulit
Pada kulit dinding perut akan terjadi perubahan warna menjadi
kemerahan, kusam, dan kadang-kadang juga akan mengenai daerah
payudara dan paha. Perubahan ini dikenal dengan nama striae
gravidarum.
7. Metabolisme
Dengan terjadinya kehamilan, metabolisme tubuh mengalami
perubahan yang mendasar, dimana kebutuhan nutrisi makin tinggi
untuk pertumbuhan janin dan persiapan pemberian ASI. Diperkirakan
selama kehamilan berat badan akan bertambah 12,5 kg. Sebgaian besar
penambahan berat badan selama kehamilan berasal dari uterus dan
isinya. Kemudian payudara, volume darah, dan cairan ekstraselular.

15
Pada kehamilan normal akan terjadi hipoglikemia puasa yang
disebabkan oleh kenaikan kadar insulin, hiperglikemia postprandial dan
hiperinsulinemia. Zinc (Zn) sangat penting untuk pertumbuhan dan
perkembangan janin. Beberapa peneliatian menunjukkan kekurangan
zat ini dapat menyebabkan pertumbuhan janin terhambat.
(Sheerwood,2012)

DAPUS:
Sherwood, Lauralee. 2012. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta: EGC
Guyton
Snell

c. Apa hubungan usia dengan keluhan pada kasus?


Jawab:
Usia ibu yang semakin lanjut menyebabkan peningkatan risiko plasenta previa,
sebanyak 1 dalam 1500 pada perempuan usia <19 tahun, dan sebanyak 1 dari
100 pada perempuan berusia >35 tahun, Jadi, Ny.A yang sudah berusia 37 tahun
menjadi factor risiko terjadinya plasenta previa (Cunningham, 2014).
(Cunningham, F. Gary, (2014), Obstetri Williams, (ed. 23), (vol. 2), Jakarta :
EGC)

d. Apa makna perdarahan dari kemaluan sejak 1 jam yang lalu?


Jawab:
Maknanya telah terjadi perdarahan antepartum, perdarahan uterus dapat terjadi
dikarenakan pemisahan plasenta yang berimplantasi di dekat kanalis servisis
uteri (plasenta previa). Perdarahan dapat pula terjadi akibat pemisahan plasenta
yang terletak di tempat lain di kavitas uteri (solusio plasenta) (Cunningham,
2014).

e. Apa makna darah berwarna merah segar sebanyak 2x ganti pembalut?


Jawab:

16
Terjadi robekan plasenta yang terletak di segmen bawah rahim menutupi OUI
sehingga darah yang keluar langsung mengalir keluar tubuh lewat vagina tanpa
bercampur dengan ketuban ataupun lainnya.
Darah yang berwarna merah segar, bersumber dari sinus uterus yang robek
karena terlepasnya plasenta dari dinding uterus, atau karena robekan sinus
marginalis dari plasenta. Perdarahannnya tak dapat dihindarkan karena
ketidakmampuan serabut otot segmen bawah uterus untuk berkontraksi
menghentikan perdarahan tersebut, tidak sama dengan serabut otot uterus
menghentikan perdarahan pada kala III pada plasenta yang letaknya normal.
2x pembalut  2x35 ml = 70 ml  perdarahan mayor
Terdapat beberapa definisi yang dapat digunakan untuk menggambarkan
perdarahan antepartum:
1) Spotting  terdapat bercak darah pada pakaian dalam
2) Perdarahan minor  kehilangan darah < 50 mL
3) Perdarahan mayor  kehilangan darah 50–1000 mL tanpa tanda klinis syok
4) Perdarahan masif  kehilangan darah > 1000 mL dengan/tanpa tanda klinis
syok
(Jatiningrum,2015)
DAPUS:
Jatiningrum,T. 2015. Kelainan Lokasi Implantasi Plasenta. Diakses dari
http://eprints.undip.ac.id/46235/5/TINJUNG_JATININGRUM_22010111130088
_Lap.KTI_Bab_II.pdf Diakses pada 16 Maret 2016

f. Apa makna tidak disertai nyeri perut?


Jawab:
Maknanya tidak terjadi kontraksi uterus, dan perdarahn yang terjadi di sebabkan
robekan plasenta, bukan lepasnya plasenta seakan pada proses persalinan seperti
pada solusio plasenta.
Manifestasi klinis yang paling khas pada plasenta previa adalah perdarahan
tanpa rasa nyeri (Cunningham, 2014).

g. Apa kemungkinan penyebab perdarahan pada kehamilan?

17
Jawab:

h. Bagaimana patofisiologi keluhan diatas?


Jawab:
Faktor risiko (usia 37tahun, multigravida tua, kuretase)  gangguan pada uterus
(atrofi, radang, jaringan parut)  gangguan vaskularisasi desidua  blastokista
berimplantasi di bagian bawah endometrium  memasuki trimester ke 3
(kehamilan semakin tua)  uterus mengalmi perubahan  isthmus uteri
melebar  segmen bawah rahim  plasenta yang berimplantasi di dekat kanalis
servisis uteri / menutupi ostium uteri internum / pembukaan ostium uteri
internum ikut mengalami tarikan  perobekan perlekatan plasenta 
perdarahan di uterus  perdarahan mengalir keluar melalui vagina
(Cunningham, 2014).

2. HPHT 10 Juni 2015. Ny. A selama ini pernah melakukan 2 kali pemeriksaan
kehamilan ke Puskesma, namun belum pernah melakukan USG
a. Berapa usia kehamilan pada saat datang ke RSMP?
Jawab:
39 minggu 6 hari (9 bulan 6 hari).

b. Kapan kemungkinan taksiran persalinan pada Ny. A?


Jawab:
Taksiran persalinan berdasarkan rumus Naegle
= (tanggal HPHT + 7) dan (bulan HPHT – 3) dan (tahun HPHT + 1)
=(10+7) dan (6-3) dan (2015+1)
= 17 dan 3 dan 2016
Jadi kemungkinan taksiran persalinan pada Ny. A ialah 17 Maret 2016
(Cunningham, 2014).

c. Berapa kali kuncungan ANC yang dianjurkan?


Jawab:

18
Kunjungan antenatal untuk pemantauan dan pengawasan kesejahteraan ibu dan
anak minimal empat kali selama kehamilan dalam waktu sebagai berikut :
1) Kehamilan trimester pertama (<14 minggu) satu kali kunjungan,
2) Kehamilan trimester kedua (14-28 minggu) satu kali kunjungan
3) Kehamilan trimester ketiga (28-36 minggu dan sesudah minggu ke-36)
dua kali kunjungan.
(Kemenkes, 2010)

DAPUS:
Depkes RI. 2010. Pedoman Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak
(PWS-KIA). Jakarta: DepKes RI.
d. Bagaimana standar pelayanan ANC?
Jawab:
Menurut Departemen Kesehatan RI (2010), dalam penerapan operasional standar
pelayanan minimal “7T” untuk ante natal care, yang terdiri atas:
1) Timbang berat badan ukur tinggi badan
 Ukuran berat badan dalam kg tanpa sepatu dan memakai pakaian yang
seringan-ringannya.
 Peningkatan berat badan pada masa kehamilan sangat penting, setidak-
tidaknya antara 9 kg- 11 kg sampai menjelang bayi lahir.
 Berat badan kurang dari 45 kg pada trimester II atau dibawah kurva
pada KMS ibu hamil menunjukkan ibu kurus, besar kemungkinan ibu
akan melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR).
 Bila berat badan ibu jauh diatas kurva pada KMS ibu hamil, perlu
dicurigai adanya kemungkinan melahirkan bayi besar dan menimbulkan
kemacetan dalam persalinan.

2) Ukur Tekanan darah


 Tekanan darah yang normal adalah 110/80 – 140/90 mmHg. Bila lebih
dari 140/90 mmHg, hati-hati adanya preeklampsia.
 Preeklampsia adalah tekanan darah meningkat pada masa kehamilan
yang dapat menyebabkan kematian janin atau ibu. Gejala preeklampsia

19
adalah tekanan darah tinggi, edema dan proteinuria. Preeklamsia dapat
disebabkan karena konsumsi garam berlebihan, terlalu lelah dan kurang
istirahat serta stres.

3) Ukur Tinggi fundus uteri


 pemeriksaan tinggi fundus uteri adalah untuk memeriksa Tinggi fundus
uteri ditentukan dalam sentimeter (cm), yaitu jarak antara symphisis
pubis dengan puncak tinggi fundus uteri.
 Tujuan kehamilan, menentukan letak janin dalam kandungan normal
atau tidak, memperkirakan berat badan janin dan dapat menentukan
detak jantung janin.

4) Pemberian imunisasi Tetanus Toksoid (TT) lengkap


 Bertujuan untuk mencegah tetanus neonatorum. Suntikan pertama
diberikan mulai hamil 3 bulan dan suntikan kedua minimal 1,5 bulan
sesudah suntikan pertama.

5) Pemberian Tablet tambah darah minimal 90 tablet selama kehamilan


 Ibu hamil harus minum tablet tambah darah satu butir sehari atau paling
sedikit 90 tablet selama kehamilan.
 Ibu hamil harus makan makanan bergizi lebih banyak dari biasanya.
 Aneka ragam makanan paling baik yang diperlukan ibu hamil adalah
ikan, telur, susu, tahu, tempe, kacang-kacangan, biji-bijian, sayur-
sayuran dan buah-buahan.
6) Tes terhadap penyakit menular seksual (PMS)
7) Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan
(Depkes RI, 2010)

DAPUS:
Depkes RI. 2010. Pedoman Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak
(PWS-KIA). Jakarta: DepKes RI.
e. Apa manfaat ANC?

20
Jawab:
Manfaat antenatal care adalah sebagai berikut :
1) Promosi kesehatan selama kehamilan melalui sarana dan aktifitas
pendidikan.
2) Melakukan screning, identifikasi wanita dengan kehamilan risiko tinggi
dan merujuk bila perlu.
3) Memantau kesehatan selama hamil dengan usaha mendeteksi dan
menangani masalah yang terjadi.
(Depkes RI, 2010)

f. Apa makna pernah 2 kali melakukan pemeriksaan?


Jawab:
Maknanya, tidak adekuatnya pemeriksaan, yang dapat menyebabkan ibu kurang
mengetahui status kesehatan ibu dan janin, dan akan berdampak membahayakan
kesehatan ibu dan janin yang sedang dikandung (Cunningham, 2014).

g. Apa makna tidak melakukan USG?


Jawab:
Plasenta previa adalah plasenta yng berimplantasi pada segmen bawah rahim
sehingga menutupi seluruh atau sebagian ostium uteri internum. Sehingga sudah
dapat terlihat saat masa awal kehamilan (trimester 1) baik dengan pemeriksaan
ultrasonografi maupun pemeriksaan digital. Olehkarena itu pemeriksaan
ultrasonografi sangat penting untuk diagnosis plasenta previa.
Jadi makna tidak melakukan USG adalah tidak dapat mendeteksi secara dini
adanya plasenta previa sehingga tidak dapat dilakukan tindakan antisipasi awal.
(Sarwono,2010)

DAPUS:
Sarwono, P. 2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo

21
3. Ny. A mengaku pernah mengalami perdarahan yang sama sekitar 2 bulan yang lalu
namun tidak sebanyak perdarahan sekarang sehingga tidak memeriksaan diri.
a. Apa makna pernah mengalami perdarahan yang sama dan tidak sebanyak
sekarang?
Jawab:
Terjadi perdarahan berulang, dimana memang biasanya gejala dini dari plasenta
previa berupa perdarahan berulang yang mulanya tidak banyak tanpa disertai
rasa nyeri dan terjadi pada waktu yang tidak tertentu, tanpa trauma (Sarwono,
2010).

b. Bagaimana hubungan pernah mengalami perdarahan yang sama dan tidak


sebanyak sekarang dengan keluhan utama?
Jawab:
Perdarahan yang dialami semakin progresif sehingga membuat perdarahan
menjadi mayor, yang kemungkinan disebabkan oleh ketidakmampuan bawaan
serat miometrium di segmen bawah uterus untuk berkontraksi untuk menutup
pembuluh darah yang terobek (Cunningham, 2014).

c. Apa dampak perdarahan yang di alami Ny.A?


Jawab:

4. Ny. A sudah 2 kali melahirkan normal, belum pernah mengalami keguguran. Anak
pertama berumur 5 tahun, anak kedua 3 tahun. Ny. A pernah kuretase setelah
melahirkan anak kedua karena perdarahan setelah persalinan.
a. Bagaimana prosedur persalinan normal?
Jawab:

b. Apa makna dan hubungan keluhan utama dengan riwayat Ny. A pernah kuretase
setelah melahirkan anak ke 2 karena perdarahan setelah persalinan?
Jawab:

c. Apa dampak kuretase?

22
Jawab:
Persalinan yang dialami oleh ibu dengan persalinan prematur, keguguran, bekas
persalinan berulang dengan jarak pendek, persalinan dengan berat badan lahir
rendah (BBLR), bayi lahir mati, cedera dalam uterus atau jalan lahir yang
ditimbulkan oleh proses kehamilan dan persalinan terdahulu dapat berakibat
buruk pada kehamilan yang sedang dialami.

d. Apa indikasi kuretase?


Jawab:
Kuretase adalah suatu tindakan medis yang dilakukan untuk membersihkan sisa
kehamilan,kematian janin usia kehamilan < 20 minggu, janin yang tidak
berkembang (tidak ditemukan adanya janin sehingga yang berkembang hanya
plasentanya saja, perdarahanan rahim disfungsional (menometrooaghia) dan
penegakan dignosa satu penyakit (myoma uteri, kanker endometrium).
Indikasi kuretase:
1) Abortus Inkomplitus
Untuk menghentikan perdarahan.
2) Blighted Ovum
Tidak ditemukannya janin, yang berkembang hanya plasenta sehingga
harus dikeluarkan karena bisa jadi keganasan.
3) Dead Conseptus
USG janin tidak berdenyut ( apabila hamil 16-20 mgg >> diperlukan
obat perangsang utk pengeluaran janin dilanjutkn kuretase.
4) Mola hidatidosa
Tidak ditemukan janin, yang tumbuh hanya plasenta degan gambaran
bergelembung seperti buah anggur.
5) Menometorarghia
Perdarahan banyak dan panjang diantara siklus haid.
(Mardiyana, 2014)

DAPUS:

23
Mardiyana,L. 2014. Kajian retrospektif specimen kuretase. Diakses di
www.fk.unair.ac.id/pptfiles/KURETASE.pptx Diakses pada 16 Maret 2016

e. Berapa jarak kehamilan yang baik?


Jawab:
Jarak kehamilan ideal antara satu kehamilan dengan kehamilan berikutnya
adalah 3 tahun. Kurun waktu ini sangat baik untuk memberi kesempatan rahim
untuk memulihkan keadaan seperti semula.
Edyanti, Deal Baby. 2014. Faktor Pada Ibu yang Berhubungan dengan Kejadian
Komplikasi Kebidanan Jurnal Biometrika dan Kependudukan, Vol. 3, No. 1: 1–
7. Surabaya: Unair

f. Apa penyebab perdarahan setelah persalinan?


Jawab:
Penyebab perdarahan Postpartum antara lain :
1. Atonia uteri 50% - 60%
2. Retensio plasenta 16% - 17%
3. Sisa plasenta 23% - 24%
4. Laserasi jalan lahir 4% - 5%
5. Kelainan darah 0,5% - 0,8%

g. Apa indikasi persalinan normal?


Jawab:
Pada umumnya yang menentukan tindakan dalam memilih cara persalinan yang
terbaik tergantung dari:
1. Jenis plasenta previa
2. Paritas
3. Jumlah perdarahan : banyak atau sedikit,
4. Keadaan umum ibu
5. Keadaan janin: hidup, gawat, atau meninggal
6. Pembukaan jalan lahir
7. Fasilitas penolong dan rumah sakit

24
h. Apa macam-macam metode persalinan?
Jawab:
1) Persalinan pervaginam
Persalinan pervaginam bertujuan agar bagian terbawah janin menekan
plasenta sehingga perdarahan berkurang atau berhenti. Persalinan
pervaginam dapat dilakukan dengan cara, yaitu :
a. Amniotomi (pemecahan selaput ketuban)
Pemecahan selaput ketuban adalah cara yang terpilih untuk
melancarkan persalinan pervaginam, karena bagian terbawah janin akan
menekan plasenta yang berdarah, persalinan berlangsung lebih cepat,
dan bagian plasenta yang berdarah dapat bebas mengikuti cincin
gerakan dan regangan segmen bawah rahim. Amniotomi dilakukan
dengan indikasi :
1. Plasenta previa lateralis atau marginalis atau letak rendah, bila telah
ada pembukaan.
2. Pada primigravida dengan plasenta previa lateralis atau marginalis
dengan pembukaan 4 cm atau lebih.
3. Plasenta previa lateralis/marginalis dengan janin yang sudah
meninggal.
2) Persalinan perabdominam, dengan seksio cesarea
Persalinan dengan seksio cesarea bertujuan untuk secepatnya mengangkat
sumber perdarahan dengan demikian memberikan kesempatan kepada
uterus untuk berkontraksi menghentikan perdarahannya dan untuk
menghindari perlukaan serviks dan segmen-segmen uterus apabila
dilakukan persalinan pervaginam. Seksio cesarea dilakukan dengan indikasi:
a. Semua plasenta previa sentralis, janin hidup atau meninggal
b. Semua plasenta previa lateralis posterior, karena perdarahan yang sulit
dikontrol dengan cara-cara yang ada.
c. Semua plasenta previa dengan perdarahan yang banyak dan tidak
berhenti dengan tindakan-tindakan yang ada.
d. Plasenta previa dengan panggul sempit, letak lintang.

25
(Mardiyana, 2014)

DAPUS:
Mardiyana,L. 2014. Kajian retrospektif specimen kuretase. Diakses di
www.fk.unair.ac.id/pptfiles/KURETASE.pptx Diakses pada 16 Maret
2016

i. Apa penyebab keguguran?


Jawab:
Penyebab keguguran sebagian besar tidak diketahui secara pasti, tetapi terdapat
beberapa sebab antara lain :
a. Faktor pertumbuhan hasil konsepsi
– Kelainan kromosom
– Lingkungan endometrium
– Gizi ibu kurang
– Radiasi
– Kelainan plasenta
b. Penyakit ibu
Penyakit secara langsung mempengaruhi pertumbuhan janin dalam
kandungan melalui plasenta yaitu penyakit infeksi seprti pneumonia, tifus
abdominalis, malaria, sypilis, toxin, bakteri, virus, atau plasmodium sehingga
menyebabkan kematian janin dan terjadi abortus
c. Kelainan traktus genitalis
Retroversion uteri, mioma uteri, atau kelainan bawaan uterus dapat
menyebabkan abortus (Wiknjosastro. H, 2007).

5. Pemeriksaan Fisik:
Keadaan umum: tampak sakit sedang, kesadaran: compos mentis
Tanda Vital: N: 88x/menit isi tegangan cukup, TD: 110/70mmHg, RR: 18x/menit,
T: 36,0oC
Pemeriksaan Khusus:
Kepala: konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik

26
Thoraks: dalam batas normal
Ekstremitas: edema (-)
a. Apa interpretasi dari pemeriksaan fisik dan pemeriksaaan khusus?
Jawab:

b. Bagaimana patofisiologi hasil abnormal pada kasus?


Jawab:

6. Pemeriksaan Obstetri:
Palpasi:
- TFU 3 jari bawah procesuss xyphoideus (32cm), letak memanjang, punggung
sebelah kanan, terbawah kepala, floating, djj 135x/menit, His tidak ada
- Terdapat perdarahan pervagina berwarna merah segar
Inspekulo
- Portio: Livide
- OUE terbuka 2 cm
- Fluxus (+) darah aktif keluar dari OUE
- Polip, erosi, laserasi (-)
Vaginal toucher: tidak dilakukan
a. Apa interpretasi dari pemeriksaan fisik obsterti?
Jawab:

b. Bagaimana patofisiologi dari hasil pemeriksaan fisik obsterti abnormal?


Jawab:

c. Bagaiman cara pemeriksaan Leopold?


Jawab:

d. Bagaimana cara menentukan usia kehamilan bedasarkan TFU?


Jawab:

e. Apa indikasi dan kontraindikasi vaginal toucher?

27
Jawab:

Indikasi vaginal toucher pada kasus kehamilan atau persalinan:

1. Ketuban pecah sedangkan bagian depan masih tinggi.


Kejadian ini mungkin menyebabkan tali pusat menumbung yang harus
secepat-cepatnya didiagnosa, maka karena itu diperiksa dengan vaginal
toucher (pemeriksaan dalam).
2. Kita mengharapkan pembukaan lengkap.
Pada keadaan ini kita melakukan pemeriksaan dalam untuk mengetahui
apakah persalinan maju menurut rencana waktu dan kalau memang sudah
terdapat pembukaan yang lengkap, pimpinan persalinan berubah misalnya
pasien diizinkan dan dipimpin untuk mengejan.
3. Bila ada indikasi untuk menyelesaikan persalinan misalnya: Karena ibu
kurang baik atau keadaan anak yang kurang baik. Untuk menentukan
caranya menyelesaikan persalinan perlu melakukan pemeriksaan dalam
terlebih dahulu.
4. Pada saat masuk kamar bersalin dilakukan untuk menentukan fase persalinan
dan diagnosa letak janin.
5. Pada saat ketuban pecah digunakan untuk menentukan ada tidaknya
prolapsus bagian kecil janin atau talipusat.
6. Pada primigravida dengan usia kehamilan lebih dari 37 minggu digunakan
untuk melakukan evaluasi kapasitas panggul (pelvimetri klinik) dan
menentukan apakah ada kelainan pada jalan lahir yang diperkirakan akan
dapat mengganggu jalannya proses persalinan pervaginam.

Kontraindikasi : Perdarahan, Hymen intake, Infeksi vagina, Perdarahan,


Plasenta previa, Ketuban pecah dini, Persalinan preterm.

7. Pemeriksaan Laboratorium
Darah rutin: Hb: 10,8g/dl, trombosit: 250.000/mm3, leukosit: 10.00/mm3
a. Apa interpretasi dari pemeriksaan laboratorium?
Jawab:

28
HASIL NORMAL INTERPRETASI
ANEMIA RINGAN
WHO:
Hb: 10,8g/dl WHO:
Umum: >10,9 g/dL
umum: 9,5 – 10,9 g/dL
Trombosit:
3
150.000 – 350.000/mm3 Normal
250.000/mm
Leukosit:
6.000 – 10.000/mm3 Normal
10.000/mm3

b. Bagaimana patofisiologi hasil pemeriksaan laboratorium abnormal?


Jawab:
Perdarahan pervaginam  penurunan volume darah  Red blood cell
menurun anemia ringan (Cunningham, 2014).

8. Jika semua gejala dikumpulkan maka:


a. Bagaimana cara mendiagnosis pada kasus ini?
b. Apa diagnosis banding pada kasus ini?
c. Apa pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan pada kasus ini?
d. Apa diagnosis pasti pada kasus ini?
e. Bagaimana tatalaksana pada kasus ini?
f. Apa komplikasi pada kasus ini?
Jawab:
Ada beberapa komplikasi yang bisa terjadi pada ibu hamil yang menderita
plasenta previa, yaitu :
1. Komplikasi pada ibu
a. Dapat terjadi anemia bahkan syok
b. Dapat terjadi robekan pada serviks dan segmen bawah rahim yang
rapuh
c. Infeksi karena perdarahan yang banyak
2. Komplikasi pada janin
a. Kelainan letak janin.
b. Prematuritas dengan morbiditas dan mortalitas tinggi

29
c. Asfiksia intra uterin sampai dengan kematian
(Jatiningrum,2015)
DAPUS:
Jatiningrum,T. 2015. Kelainan Lokasi Implantasi Plasenta. Diakses dari
http://eprints.undip.ac.id/46235/5/TINJUNG_JATININGRUM_22010111130088
_Lap.KTI_Bab_II.pdf Diakses pada 16 Maret 2016

g. Bagaimana prognosis pada kasus ini?

h. Bagaimana SKDU pada kasus ini?


Jawab:
Tingkat Kemampuan 2: mendiagnosis dan merujuk
Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik terhadap penyakit
tersebut dan menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan
pasien selanjutnya. Lulusan dokter juga mampu menindaklanjuti sesudah
kembali dari rujukan (KKI, 2012).

DAPUS:
Konsil Kedokteran Indonesia. 2012. Standar Kompetensi Dokter Indonesia. Jakarta:
Konsil kedokteran Indonesia

i. Bagaimana nilai-nilai islam pada kasus ini?


Jawab:

30
“Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari suatu sari pati
(berasal dari tanah). Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang
disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu kami
jadikan segumpal darah. Lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal
daging. Dan segumpal daging kami jadikan tulang belulang. Lalu tulang belulan
itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang
(berbentuk) lain. Maka maha suci Allah, pencipta yang paling baik.”(QS.Al-
Mu’minun:12-14)

2.6 Hipotesis
Ny. A berusia 37 tahun, mengalami perdarahan saat kehamilan disebabkan plasenta
previa

2.7 Kerangka Konsep


Faktor Risiko
( Usia, multrigravida, riwayat kuretase)

Gangguan letak plasenta

Plasenta previa

Perdarahan

31
Daftar Pustaka

32