Anda di halaman 1dari 5

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kecelakaan Lalu Lintas


a. Defisini Kecelakaan Lalu Lintas
Berdasarkan Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan
Angkutan Jalan, mengungkapkan kecelakaan lalu lintas adalah suatu peristiwa di jalan yang
tidak diduga dan tidak disengaja yang melibatkan kendaraan dengan atau tanpa pengguna jalan
lain yang mengakibatkan korban manusia dan/atau kerugian harta benda.
Menurut WHO tahun 1984 Kecelakaan lalu lintas adalah kejadian pada lalu lintas
jalan yang sedikitnya melibatkan satu kendaraan yang menyebabkan cedera atau kerusakan
atau kerugian pada pemiliknya (korban).

b. Jenis-jenis Kecelakaan Lalu Lintas


Berdasarkan Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkatan Jalan
pada pasa 229, karakteristik kecelakaan lalu lintas dapat dibagi kedalam 3 (tiga) golongan,
yaitu:
1) Kecelakaan Lalu Lintas ringan, yaitu kecelakaan yang mengakibatkan kerusakan
kendaraan dan/atau barang.
2) Kecelakaan Lalu Lintas sedang, yaitu kecelakaan yang mengakibatkan luka
ringan dan kerusakan kendaraan dan/atau barang.
3) Kecelakaan Lalu Lintas berat, yaitu kecelakaan yang mengakibatan korban
meninggal dunia atau luka berat.
Karakteristik kecelakaan lalu lintas menurut Dephub RI (2006) dapat dibagi menjadi
beberapa jenis tabrakan, yaitu:
1) Angle (Ra), tabrakan antara kendaraan yang bergerak pada arah yang berbeda,
namun bukan dari arah berlawanan.
2) Rear-End (Re), kendaraan menabrak dari belakang kendaraan lain yang bergerak
searah.
3) Sideswape (Ss), kendaraan yang bergerak menabrak kendaraan lain dari samping
ketika berjalan pada arah yang sama, atau pada arah yang berlawanan.
4) Head-On (Ho), tabrakan antara yang berjalanan pada arah yang berlawanan (tidak
sideswape).
5) Backing, tabrakan secara mundur
c. Dampak Kecelakaan Lalu Lintas
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1993 tentang Prasarana Jalan
Raya dan Lalu Lintas, dampak kecelakaan lalu lintas dapat diklasifikasi berdasarkan kondisi
korban menjadi tiga, yaitu:
1) Meninggal dunia adalah korban kecelakaan yang dipastikan meninggal dunia
sebagai akibat kecelakaan lalu lintas dalam jangka waktu paling lama 30 hari
setelah kecelakaan tersebut.
2) Luka berat adalah korban kecelakaan yang karena luka-lukanya menderita cacat
tetap atau harus dirawat inap di rumah sakit dalam jangka waktu lebih dari 30 hari
sejak terjadi kecelakaan, suatu kerjadian digolongkan sebagai cacat tetap jika
sesuatu anggota badan hilang atau tidak dapat digunakan sama sekali dan tidak
dapat sembuh atau pulih untuk selama-lamanya.
3) Luka ringan adalah korban kecelakaan yang mengalami luka-luka yang tidak
memerlukan rawat inap atau harus dirawat inap di rumah sakit dari 30 hari.

d. Peraturan dan Perundang-undangan Lalu Lintas


Di dalam ketentuan pasal 23 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu
Lintas dan Angkutan Jalan mengatur bahwa:
1) Pengemudi kendaraan bermotor pada waktu mengemudikan kendaraan bermotor
di jalan wajib :
 Mampu mengemudikan kendaraan dengan wajar;
 Mengutamakan keselamatan para pejalan kaki;
 Menunjukan surat tanda bukti pendaftaran kendaraan bermotor, atau surat
tanda coba kendaraan bermotor, surat izin mengemud, dan tanda
bukti lulus uji, atau tanda bukti lain yang sah, dalam hal dilakukan
pemeriksaan sebagaimana dimaksud pasal 16;
 Memetuhi ketentuan tentang kelas jalan, rambu-rambu dan marka jalan,
alat pemeberi isyarat lalu lintas, waktu kerja dan waktu sitirahat
pengemudi, gerakan lalu lintas, berhenti dan parkir, persyaratan teknis dan
laik jalan kendaraan bermotor, penggunaan kendaraan bermotor,
peringatan dengan bunyi dan sinar, kecepatan maksimum dan/atau
minimum, tata cara mengangkut orang dan barang, tata cara
penggandengan dan penempelan dengan kendaraan lain;
 Memakai sabuk keselamatan bagi pengemudi kendaraan bermotor roda
empat atau lebih, dan menggunakan helm bagi pengemudi kendaraan
bermotor roda dua atau bagi pengemudi kendaraan bermotor roda empat
atau lebih yang tidak dilengkapi dengan rumah-rumah.
2) Penumpang kendaraan bermotor roda empat atau lebih yang duduk disamping
pengemudi wajib memakai sabuk keselamatan, dan bagi penumpang kendaraan
bermotor roda dua atau kendaraan bermotor roda empat atau lebih yang tidak
dilengkapi rumah-rumah wajib memakai helm.

Pasal 27 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan
Jalan mengatur bahwa :
1) Pengemudi kendaraan bermotor yang terlibat peristiwa kecelakaan lalu lintas,
wajib :
 Menghentikan kendaraannya;
 Menolong orang yang menjadi korban kecelakaan;
 Melaporan kecelakaan tersebut kepada pejabat polisi negara Republik
Indonesia terdekat.
2) Apabila pengemudi kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
oleh karena keadaan memaksa tidak dapat melaksanakan ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) huruf a dan b, kepadanya diwajibkan segera melaporkan
diri kepada pejabat polisi negara Republik Indonesia terdekat.

Ketentuan Pidana
Menurut UU 22/2009
Pasal 310
“Setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor yang karena kelalaiannya
mengakibatkan kecelakaan lalin dengan :
1) Kerusakan kendaraan dan/atau barang, dipidana dengan pidana penjara paling
lama 6 (enam ) bulan dan/atau denda paling banyak Rp.1.000.000,00- (satu juta
rupiah).
2) Korban luka ringan dan kerusakan kendaraan dan/atau barang, dipidana dengan
pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau denda paling banyak
Rp.2.000.000,00- (dua juta rupiah).
3) Korban luka berat, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun
dan/atau denda paling banyak Rp.10.000.000,00- (sepuluh juta rupiah), dalam hal
kecelakaan tersebut mengakibatkan orang lain meninggal dunia dipidana dengan
pidana penjara paling lama 6 (enam ) tahun dan/atau denda paling banyak
Rp.12.000.000,00- (dua belas juta rupiah).”

Pasal 311
Setiap orang yang dengan sengaja mengemudikan kendaraan bermotor dengan cara
dan keadaan yang membahayakan bagi nyawa atau barang dipidana dengan pidana penjara
paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp.3.000.000,- (tiga juta rupiah). Dalam
hal perbuatan tersebut mengakibatkan kecelakaan lalin dengan:
1) Kerusakan kendaraan dan/atau barang, pelaku dipidana dengan pidana penjara
paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp.4.000.000,00- (empat juta
rupiah).
2) Korban luka ringan dan kerusakan kendaraan dan/atau barang, dipidana dengan
pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun atau denda paling banyak
Rp.8.000.000,00- (delapan juta rupiah).
3) Korban luka berat, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun
atau denda paling banyak Rp.20.000.000,- (dua puluh juta rupiah), dalam hal
kecelakaan tersebut mengakibatkan orang lain meninggal dunia dipidana dengan
pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun atau denda paling banyak
Rp.24.000.000,- (dua puluh empat juta rupiah).

Pasal 359 KUHP


“Barang siapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain mati,
diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana kurungan paling lama satu
tahun.

Pasal 360 KUHP


1) Barang siapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain mendapat
luka-luka berat, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana
kurungan paling lama satu tahun.
2) Barang siapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebahkan orang lain luka-luka
sedemikian rupa sehingga timhul penyakit atau halangan menjalankan pekerjaan
jabatan atau pencarian selama waktu tertentu, diancam dengan pidana penjara paling
lama sembilan bulan atau pidana kurungan paling lama enam bulan atau pidana denda
paling tinggi empat ribu lima ratus rupiah.

Beberapa peraturan perundang-undangan yang mengatur pekerjaan dokter dalam


membantu peradilan:
a. Pasal 133 KUHAP :
 Ayat 1: Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani
seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena
peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan
permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter
dan atau ahli lainnya.
 Ayat 2: Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat 1
dilakukan secara tertulis yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas
untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan
bedah mayat.
 Ayat 3: Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter
pada rumah sakit harus diperlakukan baik dengan penuh penghormatan
terhadap mayat tersebut dan diberi label yg memuat identitas mayat diberi
cap jabatan yang dilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan
mayat.