Anda di halaman 1dari 25

Suprapto

Technical Advisor
• Kasus ini muncul sejak akhir tahun lalu
• Kepala udang tampak berwarna ungu,
keluar cairan berwarna ungu sehingga
mudah patah.
• Penyebab : awalnya diduga karena
kerusakan lipid (lemak) pada hati
(hepatopancreas). Namun ada dugaan
karena udang makan pakan alami
(plankton) tertentu. Biasanya air
berwarna hijau gelap (BGA) atau
sebelumnya pernah terjadi kematian
massal BGA.
PIGMEN WARNA PLANKTON

Phycocyanin Kebiruan BGA


Phycoerythrin Merah BGA
Phycoxanthin Kuning Diatom, Chrysophyceae
Beta caroten Orange-merah Green algae
Chlorophyll Hijau GA. BGA, Diatom

• Pengendalian : coba ambil beberapa ekor sebelum panen


dan biarkan selama beberapa jam. Bila terjadi perubahan
warna menjadi ungu di bagian kepala, lakukan pergantian
air tiap hari selama 3-5 hari sebelum dipanen.
• Biaya produksi untuk benur berkisar 10% dari total
biaya produksi. Namun yang 10% ini justru
memberikan pengaruh yang 90%.

• Selama ini petambak hanya menerima atau


percaya begitu saja terhadap benur yang diterima.
Sementara ada kemungkinan benur yang diterima
mengandung kuman yang berbahaya.

• Selayaknya dilakukan pemeriksaan benur sebelum


benur dibeli dan ditebar ke tambak,

• Pemeriksaan meliputi PCR (WSSV, TSV, IMNV,


EHP). Secara mikroskopis (MGR, necrosis, kondisi
hepatopancreas, dll). Mikrobiologi (vibrio
terutama vibrio luminescens dan koloni hijau).
• Masa budidaya cenderung lebih cepat (90-100 hari)
bahkan 70 hari sudah panen.
• Masa persiapan lebih cepat (dari 1 – 1,5 bulan) pada kolam
tanah menjadi (1 - 2 minggu) pada kolam semen atau
plastik (HDPE / terpal)
• Penebaran rata-rata lebih padat dengan kedalaman kolam
1,5 – 1,7 m. Panen dilakukan beberapa kali parsial.
• Sehingga kebutuhan benur menjadi lebih besar.
• Kebutuhan semakin meningkat sementara persediaan
terbatas menyebabkan adanya kekurangan persediaan
benur.
• Limbah tambak terdiri dari limbah
padat dan cair.
• Limbah padat berupa lumpur
berasal dari kotoran udang, sisa
pakan, plankton mati, kulit udang,
sisa udang yang mati, endapan
bahan treatment seperti (dolomit,
zeolit, extract yucca, kaolin dll).
• Limbah cair berupa plankton,
mikroba, bahan organik terlarut
dan mineral terutama N dan P.
• Instalasi pengolah limbah meliputi
kolam pengendapan dan kolam
treatment, perpaduan antara fisika,
kimia dan biologi.
• Fisika dengan pengendapan dan
aerasi
• Kimia dengan pengapuran, koagulan
(bila perlu)
• Biologi dengan agen biologi
(mikroba) serta filter biologi. Ikan
pemakan plankton dan detritus
(mujaer) serta tanaman air bila
memungkinkan.
WWF-Indonesia 2014
• IPAL berdasarkan Kepmen 28/2005 Tentang Pedoman Umum Budidaya Udang
di Tambak, yaitu harus ada Manajemen Efluen dan Limbah Padat, untuk
memenuhi standar kualitas air yang dibuang ke laut, yaitu:
WWF-Indonesia 2014
• Animal walfare adalah upaya untuk membuat hewan yang
dibudidayakan menjadi sejahtera.

• Hal ini menyangkut kondisi kualitas lingkungan dan tempat


tinggal, kecukupan nutrisi pakannya, jumlah individu yang
yang tinggal di habitat serta selalu menjaga kondisi
kesehatannya.

• Tidak ada unsur penyiksaan atau menciptakan kondisi yang


menyebabkan udang stres.

• Hal ini menyangkut cara pembenihan, fasilitas aerasi,


pergantian air, pembersihan dasar, kepadatan, pemberian pakan
dll.

• Bagaimana teknik ablasi pada induk ??


• Di India padat tebar udang hanya
diperbolehkan maksimal 50 ekor /
m2.

• Organisasi dunia yang sangat


peduli terkait dengan hal tersebut
adalah WWF.

• Sedangkan untuk penilaian apakah


udang itu stress atau tidak, dapat
diketahui dari jumlah hemocyte,
pertumbuhan, dll.

• Dalam CBIB yang baru point ini


sudah dimasukkan. Sedang
dipersiapkan lembaga sertifikasi
budidaya oleh KKP dengan nama
IndoGAP
• Penerapkan biosecurity yang lebih ketat.
• Benur yang sehat dan SPF
• Penerapan tandon desinfeksi
• Pergantian air yang terbatas
• Aplikasi probiotik.
• Pemberian feed additif
(probiotik/Acidifier/ immuno-
stimulan / Essensial oil/Phytogenic).
• Partial harvest pada kondisi dibawah
carrying capasity.
• WSSV
– Desinfeksi air dan biosekuriti
– Minim ganti air dan aplikasi probiotik
– imunostimulan
• IMNV
– Desinfeksi air dan biosekuriti
– Minim ganti air dan aplikasi probiotik
– imunostimulan
• WFS / WFD
– Desinfeksi air dan biosekuriti
– Minim ganti air dan aplikasi probiotik
– Imunostimulan (essensial oil dan acidifier)
• EHP
– ?? Penyebaran sudah terjadi di seluruh area
budidaya udang.
• Vibriosis
• Dicampur pada pakan dan tidak mengandung nutrisi
• Bersifat merengsang kekebalan alami non-spesifik.
• Memperbaiki sistem pencernaan sehingga penyerapan
nutrisi pakan lebih baik
• Bersifat sebagai growth promotor (acidifier dan essensial
oil)
• Menekan bakteri merugikan dalam pencernaan, terutama
bakteri gram negatif seperti vibrio.
• Bisa dicampur di pabrik atau dicampur saat akan
pemberian pakan.
• Mampu mengendalikan vibrio
luminescens yang sudah menginfeksi
benur.
• Mampu mengatasi WFD
• Mampu mengendalikan MIO (menekan
kematian) serta udang lebih tahan.
• Tetap memberikan pertumbuhan pada
udang yang terserang EHP
• Meningkatkan pertumbuhan udang
• Memudahkan pemberian pakan
• Pakan lebih hemat
• Mudah dikontrol
• Pertumbuhan lebih rata
• Survival rate lebih baik
• Lingkungan tambak lebih baik
• Melindungi benur dari serangan hama
seperti larva capung (jenggutru) dan
lain-lain
• Larva capung dapat tumbuh di tambak
yang salinitasnya rendah ( ≤ 20 promil).

• Hama tsb dapat memangsa benur yang


baru ditebar dalam tambak.

• Tambak yang banyak terdapat Kini-kini


biasanya memiliki SR yang rendah dan
pertumbuhannya lambat karena kalah
dalam bersaing mendapatkan makanan.

• Solusinya bila akan tebar terdapat Kini-


kini maka benur dapat ditebar dalam
Kini-kini (larva capung)
karamba. Jadi benur dideder selama 15 –
30 hari dalam karamba apung.
• Karamba jaring apung dibuat dari PVC 1 – 1,5 inch sebagai
kerangka. Net yang digunakan mesh 1 mm (benur tidak keluar).
• Ukuran bujur sangkar dengan panjang sisi 2 m, ketinggian 1,2 m
(tinggi menyesuaikan).
• 1 karamba diisi dengan PL 100.000 ekor
• Pemberian pakan mulai dari 1 kg, dengan pertambahan pakan
0,2 kg per hari hingga umur 2 minggu.
• Dari pantauan visual tidak berbeda nyata antara yang dideder
dalam karamba dan di tebar langsung.
• Penghematan pakan sebanyak 28 kg selama masa pendederan.

• Ujicoba belum sampai penghitungan SR ?


UMUR STANDAR PENDEDERAN
1 3,0 1,0
2 3,2 1,2
3 3,4 1,4
4 3,6 1,6 • Program pakan tersebut
5 3,8 1,8 untuk 100.000 ekor benur
6 4,0 2,0
• Selisih penggunaan pakan =
7 4,2 2,2
62,2 - 32,2 = 30 kg
8 4,4 2,4
9 4,6 2,6 • Dengan pendederan lebih
10 4,8 2,8 hemat 30 kg per 100.000
11 5,2 3,0 benur selama 14 hari.
12 5,6 3,2
13 6,0 3,4
14 6,4 3,6
Jumlah 62,2 32,2
• Udang merupakan hewan yang
memiliki cara makan secara terus-
menerus.
• Pemberian pakan secara manual
selama ini adalah dengan cara
diberikan 4 – 6 kali dengan tenggang
waktu 4 – 6 jam. Sehingga pakan yang
diberikan sebagian akan larut ke air
dan merusak lingkungan. Serta pakan
yang termakan kurang terserap dengan
sempurna.
• Kotoran yang dikeluarkan masih
mengandung nutrisi.
• Autofeeder merupakan mesin pemberi pakan otomatis yang
dapat diatur penggunaannya kapan harus menebar pakan dan
berapa lama alat tersebut harus bekerja.
• Alat tsb dilengkapi dengan pengatur waktu dan rotator yang
mengatur jumlah semprotan pakan dan senggang waktu antar
semprotan.
• Penempatan autofeeder harus mewakili sehingga udang dapat
mengumpul untuk mendapatkan giliran makan.
• Karena pakan ditebar sedikit demi sedikit maka akan
mengurangi nutrisi pakan yang hilang, proses pencernaan dan
penyerapan nutrisi oleh udang lebih sempurna sehingga
kualitas air lebih stabil.
• Kesempatan udang untuk makan kelekap dan detritus di dasar
berkurang sehingga tingkat infeksi kuman dapat dikurangi.
• Sedang dilakukan ujicoba probiotik untuk menetralkan
racun.
• Aplikasi TCCA 30 ppm dapat dinetralkan dengan
probiotik dalam 24 jam dengan dosis 0,6 ppm.
• Harapan, udang tetap memberikan pertumbuhan (tidak
keracunan) meskipun air didominasi oleh BGA atau
dinoflagellata yang menghasilkan biotoxin, adanya residu
bahan kimia dalam air seperti residu perlakuan yang
belum benar-benar netral, racun aflatoxin, residu
insektisida bila terkandung dalam air sumber, serta toxin
yang dikeluarkan oleh vibrio
Tak kenal maka tak sayang
Pond Area Tak Density
Stock. mencobaDOCmaka
TonasetakSize
tahuFeed FCR SR

1 3.310 482.052
Cobalah
146
biar
94
anda
8.694
tahu
51 11.220 1,29 97,4%

2 3.190 500.956 157 89 10.860 42 13.223 1,22 92,7%

3 3.510 548.216 156 92 7.627 69 9.707 1,27 100%

4 3.358 510.408 152 97 9.191 60 11.351 1,24 109%

Produktivitas = 36.372 kg/13.368 m2= 27,2 ton/ha


PT INDONESIA EVERGREEN FEED MENGUCAPKAN