Anda di halaman 1dari 15

Penerapan Model Kooperatif Team Assisted Individualization Pada

Pembelajaran Matematika Siswa Kelas X SMK Negeri 4 Lubuklinggau

Tri Gustiani
SMK Negeri 4 Lubuklinggau

ABSTRAK

Masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah hasil belajar matematika siswa
setelah diterapkan model kooperatif tipe Team Assisted Individualization di kelas
X SMK Negeri 4 Lubuklinggau secara signifikan tuntas?”. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui hasil belajar matematika siswa setelah diterapkan model
kooperatif tipe Team Assisted Individualization di kelas X SMK Negeri 4
Lubuklinggau. Jenis penelitian ini adalah eksperimen semu tanpa adanya kelas
pembanding. Populasinya adalah seluruh kelas X SMK Negeri 4 Lubuklinggau
tahun pelajaran 2016/2017 sebanyak 129 siswa. Sebagai sampel penelitian ini
adalah kelas X berjumlah 25 siswa yang diambil secara acak. Pengumpulan data
dilakukan dengan teknik tes. Data yang terkumpul dianalisis dengan
menggunakan uji-t pada taraf kepercayaan α = 0,05, diperoleh thitung (6,85) ≥
ttabel (1,711), rata nilai tes akhir yang didapat sebesar 82,52. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa hasil belajar matematika siswa setelah diterapkan model
kooperatif tipe Team Assisted Individualization di kelas X SMK Negeri 4
Lubuklinggau tuntas.

Kata kunci: Team Assisted Individualization, Hasil Belajar.

A. Pendahuluan
Pendidikan merupakan salah satu cara yang dilakukan untuk memperoleh
pengetahuan, dan pendidikan merupakan wadah demi meningkatkan kualitas
sumber daya manusia dan pengembangan nasional, dari waktu ke waktu
pendidikan banyak mengalami banyak perubahan untuk meningkatkan kualitas
pendidikan. Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun
2003 (dalam Hanafiah dan Suhana) yang menyatakan bahwa pendidikan adalah
sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan
proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat, bangsa, dan negera.
Dalam proses pembelajaran di sekolah, kegiatan belajar mengajar
merupakan kegiatan yang paling utama, karena kegiatan belajar mengajar
merupakan tujuan pendidikan yang banyak tergantung kepada bagaimana proses
belajar yang dialami siswa sebagai peserta didik. Dalam proses kegiatan belajar
mengajar guru dan peserta didik diharapkan memiliki kemampuan,
keterampilan, filsafat hidup, motivasi, dan sebagainya.
Menurut Uno (2007:70), guru sebagai motivator dan fasilitator
diharapkan lebih dapat kondusif dalam kegiatan belajar mengajar. Menciptakan
suasana yang aktif sehingga dalam peningkatan mutu pendidikan adanya
ketelitian dan keterampilan guru dalam, memilih metode, strategi dan
pendekatan merupakan salah satu unsur penting yang harus di perhatikan oleh
guru. Begitu pun dalam pembelajaran matematika, guru perlu menerapkan
model pembelajaran yang menarik perhatian agar materi yang dipelajari lebih
mudah untuk dipahami oleh siswa, serta hasil belajar siswa dapat lebih baik.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di SMK Negeri 4 Lubuklinggau
menunjukkan bahwa hasil rata-rata nilai ulangan harian siswa kelas X yang
berjumlah 129 siswa yaitu 60,72, dari 129 siswa diperoleh data bahwa nilai
ulangan harian siswa yang tuntas sebanyak 53 siswa atau 41,08%, dan siswa yang
belum tuntas sebanyak 76 siswa atau 58,91%, sehingga harus mengikuti remedial
agar mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), KKM yang ditetapkan di SMK
Negeri 4 Lubuklinggau adalah 68.
Untuk pelajaran matematika di SMK Negeri 4 Lubuklinggau, rendahnya
kemampuan siswa dalam menerapkan konsep matematika terlihat dari
banyaknya kesalahan siswa dalam mengerjakan soal-soal dan rendahnya hasil
belajar siswa (nilai) dalam ulangan harian. Padahal, dalam pelaksanaan proses
pembelajaran di kelas biasanya guru memberikan tugas secara kontinyu berupa
latihan soal. Tetapi dalam pelaksanaannya, latihan tidak sepenuhnya dapat
meningkatkan kemampuan siswa dalam menerapkan konsep matematika.
Salah satu penyebab rendahnya hasil belajar siswa adalah terletak pada
proses pembelajaran matematika yang masih sering ditemui adanya dominasi
guru dimana siswa tidak terlihat aktif, siswa hanya sekedar mengikuti
pembelajaran yang disampaikan guru didalam kelas tanpa adanya respon dan
pertanyaan kepada guru, selain itu kemampuan sosial siswa sangat rendah, siswa
yang cepat menguasai materi pelajaran kurang bisa berbagi dengan temannya
yang sulit menerima materi pelajaran dan sulit terjadi kerja sama dalam hal
berbagi ilmu pengetahuan, sehingga hasil belajarnya menjadi rendah.
Oleh karena itu, setiap kegiatan belajar yang sedang berlangsung
hendaknya melibatkan seluruh siswa, sehingga siswa tersebut dapat
berpartisipasi aktif dalam materi yang sedang dibicarakan. Siswa akan berhasil
dengan baik bila dalam pembelajaran berpartisipasi secara aktif. Pentingnya
aktivitas belajar siswa pada mata pelajaran matematika didasarkan pada sifat
mata pelajaran itu sendiri, karena pada dasarnya mata pelajaran tersebut
bersifat abstrak, sehingga diperlukan suatu cara dalam mengatasi agar mata
pelajaran tersebut mandapat respon yang tinggi dari siswa. Maka dari itu,
diperlukan aktivitas siswa untuk dapat memahami dan mengatasi materi yang
diberikan.
Mengatasi permasalahan ini dapat diterapkan suatu model pembelajaran
kooperatif. Pembelajaran kooperatif adalah bentuk pembelajaran kelompok yang
melibatkan siswa untuk saling membantu dan bekerja sama dengan siswa yang
lain dalam mencapai tujuan belajar, dimana guru berperan sebagai fasilitator.
Salah satu model pembelajaran yang termasuk dalam model pembelajaran
kooperatif yang dapat meningkatkan kerja sama dalam kelompok serta satu
sama lain bertanggung jawab terhadap kelompoknya adalah model
pembelajaran Team Assisted Individualization. Model pembelajaran Team
Assisted Individualization adalah model pembelajaran kooperatif yang
menggunakan penggunaan bauran kemampuan 4-5 anggota yang berbeda dan
memberi sertifikat untuk tim dengan kinerja terbaik. Team Assisted
Individualization juga menggabungkan pembelajaran kooperatif dengan
pembelajaran individual. Model pembelajaran ini digunakan dalam mengajar
Matematika dengan tujuan membantu siswa mengatasi masalah-masalah
matematika, sehingga hasil belajar yang diperoleh bisa lebih baik dan siswa
terlibat langsung dalam proses belajar mengajar.
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis akan melakukan penelitian yang
berjudul “Penerapan Model Kooperatif tipe Team assisted Individualization pada
Pembelajaran Matematika siswa Kelas X SMK Negeri 4 Lubuklinggau“.
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah “Apakah hasil belajar matematika siswa setelah diterapkan
model kooperatif tipe Team Assisted Individualization di kelas X SMK Negeri 4
Lubuklinggau secara signifikan tuntas”?. Adapun tujuan penelitian ini adalah
untuk mengetahui hasil belajar matematika siswa setelah diterapkan model
kooperatif tipe Team Assisted Individualization di kelas X SMK Negeri 4
Lubuklinggau secara signifikan tuntas.

B. Kajian Teori
1. Pengertian Belajar
Belajar merupakan proses dasar dari perkembangan hidup manusia,
dengan belajar manusia dapat melakukan perubahan-perubahan kualitas
sehingga tingkah lakunya dapat berkembang, semua aktifitas dan prestasi
manusia tidak lain adalah hasil belajar siswa. Belajar bukan sekedar pengalaman
belajar, belajar adalah suatu proses dan bukan suatu hasil, karma belajar
berlangsung secara aktif, integrative dengan menggunakan bentuk perbuatan
untuk mencapai suatu tujuan.
Menurut Djamarah (2008:13) belajar adalah serangkaian jiwa raga untuk
memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman
individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif,
efektif, psikomotor.
Menurut Gagne (dalam Dimyanti, 2006:10), belajar merupakan kegiatan
yang kompleks, hasil belajar berupa kapabilitas, setelah belajar orang memiliki
keterampilan, pengetahuan, sikap dan nilai. Timbulnya kapabilitas tersebut
adalah dari stimulasi yang berasal dari lingkungan dan proses kognitif yang
dilakukan oleh pembelajar.
Menurut Whittaker (dalam Djamarah, 2003:13) belajar adalah proses
dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman
yang di milikinya. Sedangkan Slameto (2003:2) berpendapat bahwa belajar
adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu
perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman
nya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah
suatu proses yang kompleks dimana sebuah tingkah laku diubah melalui latihan
atau pengalaman untuk memperoleh suatu tujuan.
2. Hasil belajar
Dimyati dan Mudjiono (2002:3), mengatakan bahwa hasil belajar
merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi
guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Dari sisi
siswa, hasil belajar merupakan berakhirnya penggal dan puncak proses belajar.
Menurut Purwanto (2011:54), hasil belajar adalah perubahan perilaku yang
terjadi setelah mengikuti proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan
pendidikan.
Sedangkan menurut Jihad dan Haris (2010:14), hasil belajar adalah
pencapaian bentuk perubahan perilaku yang cenderung menetap dari ranah
kognitif, efektif, dan psikomotorik dari proses belajar yang dilakukan dalam
waktu tertentu.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar
adalah perubahan perilaku atau hasil dari suatu interaksi yang terjadi setelah
mengikuti proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan.
3. Faktor yang mempengaruhi hasil belajar
Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yakni
dari dalam diri siswa dan dari luar diri siswa atau lingkungan (sudjana, 2004:39).
Kemudian dijelaskan oleh Dimyanti dan Mudjiono (2006:260) faktor yang
mempengaruhi hasil belajar siswa adalah sebagai berikut :
1) Faktor Intern
Faktor intern yang dialami dan dihayati oleh siswa meliputi hal-hal seperti:
a) sikap terhadap belajar
b) motivasi belajar
c) konsentrasi belajar
d) kemampuan mengelola bahan belajar
e) kemampuan menyimpan perolehan hasil belajar
f) kemampuan menggali hasil belajar yang tersimpan
g) kemampuan berprestasi
h) rasa percaya diri siswa
i) intelegensi dan keberhasilan belajar
j) kebiasaan belajar
k) cita-cita siswa
2) Faktor ekstern
Faktor ekstern belajar meliputi hal-hal sebagai berikut:
a) Guru sebagai pembina belajar
b) Prasarana dan sarana pembelajaran
c) Kebijakan penilaian
d) Lingkungan sosial siswa disekolah
e) Kurikulum sekolah
Selain faktor-faktor tersebut di atas untuk memperoleh hasil belajar yang
baik, model pembelajaran juga merupakan satu hal yang sangat penting untuk
diperhatikan. Berdasarkan uraian di atas penulis menyimpulkan bahwa faktor
internal dan faktor eksternal sangat berpengaruh untuk mencapai hasil belajar
yang optimal, terutama model penyajian mata pelajaran yaitu dengan
menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted
Individualization.
Model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization
termasuk salah satu faktor ekstern yang mempengaruhi hasil belajar siswa pada
model pembelajaran, sehingga dapat membantu guru lebih banyak melibatkan
siswa untuk aktif bekerja sama dalam kelompok dan meningkatkan proses
berfikir siswa juga minat dan tingkat pemahaman siswa dalam proses
pembelajaran sehingga hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika
dapat meningkat
4. Model pembelajaran kooperatif
a. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran dimana
siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan
berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompok setiap anggota saling membantu
dan bekerjasama untuk memahami suatu bahan pembelajaran.
Menurut Kunandar (2007:359), pembelajaran kooperatif adalah
pembelajaran yang secara sadar dan sengaja mengembangkan interaksi yang
saling asuh antar siswa untuk menghindari ketersinggungan dan
kesalahpahaman yang dapat menimbulkan permusuhan. Sedangkan menurut
Rusman (2010:204), cooperatif learning adalah teknik pengelompokan yang
didalamnya siswa bekerja terarah pada tujuan belajar bersama dalam kelompok
kecil yang umumnya terdiri dari 4-5 orang.
Selaras dengan dua pendapat sebelum Suyatno, Suyatno (2009:51),
model pembelajaran kooperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara
berkelompok untuk kerja sama saling membantu mengkonstruksi konsep,
menyelesaikan persoalan, atau inkuiri. Sedangkan menurut Slavin (2010:4),
pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran dimana para siswa
bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu sama
lainnya dalam mempelajari materi pelajaran, menyelesaikan tugas atau kegiatan
lain agar semua siswa dalam kelompok mencapai hasil belajar yang tinggi.
Berdasarkan dari pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang dilakukan secara sadar dan
sengaja oleh para siswa bekerja kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4-5
orang untuk menyelesaikan tugas agar mencapai hasil belajar dan tujuan
bersama.
a. Unsur – Unsur Pembelajaran Kooperatif
Dalam pembelajaran kooperatif, agar mendapat hasil maksimal, ada beberapa
unsur yang harus diterapkan. Menurut Lie (2009: 31) ada lima unsur, yaitu:
1) Saling Ketergantungan Positif.
Setiap anggota kelompok harus merasa bahwa mereka memerlukan kerjasama
untuk mencapai keberhasilan kelompok. Nilai kelompok diperoleh dari
sumbangan dari setiap anggota kelompok berdasarkan kemampuan masing–
masing, sehingga tidak ada yang merasa dirugikan.
2) Tanggung Jawab Perorangan
Unsur ini merupakan akibat langsung dari unsur pertama, Setiap
anggota kelompok merasa bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik
demi keberhasilan kelompok masing-masing. Siswa tidak diperkenankan
mendominasi atau menggantungkan diri pada siswa lain. Setiap individu memiliki
tanggung jawab memahami dan mengerjakan materi atau tugas untuk
keberhasilan dirinya dan juga untuk keberhasilan kelompok.
3) Tatap Muka
Setiap kelompok harus diberikan kesempatan untuk bertemu muka dan
berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberikan kesempatan kepada siswa
untuk membentuk kekompakan dan interaksi. Inti dari interaksi ini adalah
menghargai perbedaan, memanfaatkan kelebihan dan mengisi kekurangan yang
ada.
4) Komunikasi Antar Anggota
Keterampilan berkomunikasi siswa harus ditumbuhkan karena keberhasilan
suatu kelompok juga bergantung pada kesediaan para anggotanya untuk saling
mendengarkan dan kemampuan mereka mengemukakan pendapat secara baik
dan benar.
5) Evaluasi Proses Kelompok
Guru perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi
proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka, sehingga selanjutnya
mereka dapat bekerjasama dengan lebih efektif.
b. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif
Suyatno (2009:51), menyatakan langkah-langkah pembelajaran kooperatif adalah
sebagai berikut:
1) Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa.
2) Menyajikan informasi.
3) Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar.
4) Membimbing kelompok belajar dan bekerja.
5) Evaluasi.
6) Memberikan penghargaan
7) Penutup.
c. Jenis-jenis Pembelajaran Kooperatif
Slavin (2010:10), mengungkapkan ada beberapa jenis pembelajaran kooperatif
antara lain sebagai berikut:
1) Student Team Achievement Division (STAD). Model pembalajaran ini
yaitu dimana siswa dibagi dalam tim belajar yang terdiri atas empat
orang yang berbeda-beda tingkat kemampuan, jenis kelamin dan
latar belakang etniknya. Guru menyampaikan pelajaran, lalu siswa
bekerja dalam tim mereka untuk memastikan bahwa semua anggota
tim telah menguasai pelajaran.
2) Team Games Tourament (TGT). Model ini menggunakan pelajaran
yang disampaikan guru dan tim kerja yang sama seperti dalam
Student Team Achievement Division (STAD), tetapi menggantikan
kuis dengan turnamen mingguan, dimana menyumbangkan poin bagi
skor timnya.
3) Team Assisted individualization (TAI). Team Assisted individualization
(TAI) sama dengan Student Team Achievement Division (STAD) dan
Team Games Tourament (TGT) menggunakan bauran kemampuan
empat anggota yang berbeda dan member sertifikat untuk tim
dengan kinerja terbaik. Namun, model Student Team Achievement
Division (STAD) dan Team Games Tourament (TGT) menggunakan
pola pengajaran tunggal untuk satu kelas, sementara TAI
menggabungkan pembelajaran kooperatif dengan pengajaran
individu.
4) Cooperative Integated Reading and Composition (CIRC). Model ini
merupakan program yang komprehensif untuk mengajarkan
membaca, dan menulis pada kelas-kelas yang lebih tinggi sekolah
dasar dan sekolah menengah.
b. Model kooperatif tipe Team Assisted Individualization
Menurut Slavin (2010:187), secara khusus Team Assisted Individualization
dirancang untuk mengkombinasi berbagai skala kemampuan siswa dalam satu
kelas yang secara khusus merupakan tujuan penting dimana pembelajaran
kooperatif diperkenalakan untuk menggali kemampuan kelompok atau
digunakan untuk memfasilitasi pelaksanaan mainstreaming bagi para siswa
dengan cacat akademik. Masih dalam Slavin (2010:14), Team Assisted
Individualization sama dengan STAD dan TGT yaitu menggunakan penggunaan
bauran kemampuan empat anggota yang berbeda dan memberi sertifikat untuk
tim dengan kinerja terbaik.
Menurut Slavin (2010:190), Team Assisted Individualization dirancang
untuk memuaskan kriteria-kriteria berikut ini untuk menyelesaikan masalah-
masalah teoritis dan praktis dari sistem pengajaran individual :
1) Dapat meminimalisir keterlibatan guru dalam pemeriksaan dan
pengelolaan rutin.
2) Guru setidaknya akan menghabiskan separuh waktunya untuk mengajar
kelompok-kelompok kecil.
3) Para siswa akan termotivasi untuk mempelajari materi-materi yang
diberikan dengan cepat dan akurat, dan tidak akan berbuat curang atau
menemukan jalan pintas.
4) Tersedianya banyak cara pengecekan penguasaan supaya siswa jarang
menghabiskan waktu mempelajari kembali materi yang sudah mereka
kuasai atau menghadapi kesulitan serius yang membutuhkan bantuan
guru.
5) Para siswa akan dapat melakukan pengecekan satu sama lain, sekalipin
bila siswa yang mengecek kemampuannya dibawah siswa yang dicek
dalam rangkaian pengajaran, dan prosedur pengecekan akan cukup
sederhana dan tidak mengganggu si pengecek.
6) Programnya mudah dipelajari baik oleh guru maupun siswa, tidak mahal,
fleksibel, dan tidak membutuhkan guru tambahan ataupun tim guru.
7) Dengan membuat para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok
kooperatif, dengan status sejajar, program ini akan membangun kondisi
untuk terbentuknya sikap-sikap positif terhadap siswa-siswa mainstream
yang cacat secara akademik dan diantara para siswa dari latar belakang
ras, atau etnik berbeda.
Menurut Huda (2011:125) dalam metode Team Assisted Individualization
siswa dikelompokkan berdasarkan kemampuannya yang beragam.masing-masing
kelompok terdiri dari 4 siswa dan ditugaskan untuk menyelesaikan materi
pembelajaran atau PR tertentu.
Menurut Endang (2013:246) Team Assisted Individualization merupakan
kombinasi antara pembelajaran individual dan kelompok. Peserta didik belajar
tim yang heterogen sama seperti metode belajar tim yang lain tetapi peserta
didik juga mempelajari materi akademik sendiri.
Berdasarkan uraian tersebut disimpulkan bahwa Team Assisted
Individualization adalah model pembelajaran kooperatif yang menggunakan
penggunaan bauran kemampuan 4-5 anggota yang berbeda dan memberi
sertifikat untuk tim dengan kinerja terbaik. Team Assisted Individualization juga
menggabungkan pembelajaran kooperatif dengan pembelajaran individual.
c. Langkah- langkah Team Assisted Individualization
Menurut Slavin (2010:195) mengungkapkan langkah-langkah dalam
model pembelajaran Team Assisted Individualization yaitu :
1) Teams, para siswa dibagi kedalam tim-tim yang beranggotakan 4
sampai 5 orang.
2) Tes penempatan, para siswa diberikan tes pra-program.
3) Materi-materi kurikulum, untuk sebagian besar pengajaran
matematika mereka, para siswa bekerja pada materi-materi
kurikulum.
4) Belajar kelompok, para siswa mengerjakan unit-unit mereka
dalam kelompok mereka.
5) Skor tim dan rekognisi tim, pada tiap akhir minggu guru
menghitung jumlah skor tim.
6) Kelompok pengajaran, setiap hari guru memberikan pengajaran
selama sekitar sepuluh sampai lima belas menit kepada dua atau
tiga kelompok kecil siswa yang terdiri dari siswa-siswi dari tim
yang berbeda yang tingkat pencapaian kurikulumnya sama.
7) Unit seluruh kelas, pada akhir tiga minggu, guru menghentikan
program individual dan menghabiskan satu minggu mengajari
seluruh kelas.
Menurut Endang (2013:246) langkah-langkah Team Assisted
Individualization adalah sebagai berikut:
1) Guru menyusun materi semester dalam tugas-tugas mingguan.
2) Guru memberikan pengarahan pada awal semester tentang hasil
belajar yang dapat dicapai melalui tugas mingguan
3) Tim mengambil tugas mingguan, tim yang sudah menyelesaikan tugas
dapat mengambil tugas berikutnya.
4) Tim yang mengumpulkan tugas paling cepat, banyak dan berkualitas
akan mendapat rekor yang tinggi dan mengakhiri kegiatan belajar
dalam waktu lebih cepat.
Sedangkan menurut Sharan (2009:31) unsur utama dari Team Assisted
Individualization adalah sebagai berikut:
1) Kelompok, siswa dimasukan kedalam kelompok yang berisi empat sampai
lima siswa
2) Tes penempatan, siswa diberi tes pendahuluan pada awal berlangsungnya
program operasi matematika.
3) Materi kurikulum,
4) Kelompok pengajaran, setiap hari guru memberikan pelajaran kepada
kelompok-kelompok kecil yang diambil dari kelompok-kelompok heterogen
yang memiliki kemampuan sama.
5) Skor Kelompok dan Penghargaan Kelompok, guru menghitung skor kelompok.
6) Tes Mata Pelajaran, siswa diberikan tes tertentu selama tiga menit.
7) Unit Seluruh Kelas, setelah setiap tiga minggu, guru menghentikan program
individual dan meluangkan seminggu untuk mengajar seluruh kelas untuk
menguasai keterampilan-keterampilan dalam pemecahan masalah.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa langkah-langkah Team Assisted
Individualization adalah:
1) Guru membagi siswa ke dalam tim-tim yang beranggotakan 4 sampai 5
orang yang heterogen tingkat kepandaiannya.
2) Para siswa diberikan tes pra-program.
3) Guru memberikan bahan ajar, yang berisi materi yang akan
disampaikan.
4) Siswa belajar kelompok,
5) Setiap pertemuan guru memberikan pengajaran sekitar sepuluh sampai
lima belas menit kepada seluruh kelompok.
6) Para siswa diberi tes tertentu yang disebut dengan tes mata pelajaran .
7) Skor Kelompok dan Penghargaan Kelompok, guru menghitung skor
kelompok,dan memberikan penghargaan untuk tim baik, tim sangat
baik dan tim super.
d. Pemberian Penghargaan Prestasi Tim
Setelah pelaksanaan kuis atau tes evaluasi, pemberian penghargaan kelompok
dapat dilakukan guru dengan melakukan tahapan-tahapan sebagai berikut:
1) Menghitung skor perkembangan individu. Langkah penentuan nilai tersebut
dapat dilihat pada tabel 2.1 dibawah ini:
Tabel 2.1
Perhitungan Perkembangan Skor Individu
No Nilai Tes Skor Perkembangan
1. Lebih dari 10 poin di bawah dasar 0 poin
2. 10 sampai 1 poin di bawah skor 10 poin
dasar
3. Skor 0 sampai 10 poin di atas skor 20 poin
dasar
4. Lebih dari 10 poin di atas skor 30 poin
dasar
5. Pekerjaan sempurna (tanpa 30 poin
memperhatikan skor dasar
(Sumber: Rusman, 2011:216)
2) Menghitung skor kelompok dari skor rata-rata semua anggota tim. Setelah
mendapat skor kelompok, maka dapat ditentukan penghargaan masing-
masing kelompok sebgaimana terdapat pada tabel 2.2 berikut ini:
Tabel 2.2
Perhitungan Perkembangan Skor Kelompok
No. Rata-rata Skor Kualifikasi
1. 0≤N≤5 -
2. 6 ≤ N ≤ 15 Tim yang Baik (Good Team)
3. 16 ≤ N ≤ 20 Tim yang Baik Sekali (Great Team)
4. 21 ≤ N ≤ 30 Tim yang Sangat Baik (Super Team)
(Sumber: Rusman, 2011:216)
3) Pemberian hadiah atau penghargaan atas prestasi tim.
Setelah masing-masing kelompok atau tim memperoleh predikat, guru
memberikan hadiah atau pengahrgaan kepada masing-masing kelompok sesuai
dengan prestasinya.
5. Kelebihan dan kekurangan model pembelajaran kooperatif tipe Team
Assisted Individualization
Menurut Hamid (14 juni 2013) kelebihan dan kekurangan model
pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization sebagai berikut:
1) Kelebihan model kooperatif tipe Team Assisted Individualization
a) siswa yang lemah dapat terbantu dalam menyelesaikan masalahnya;
b) siswa yang pandai dapat mengembangkan kemampuan dan
ketrampilannya;
c) adanya tanggung jawab dalam kelompok dalam menyelesaikan
permasalahannya;
d) siswa diajarkan bagaimana bekerjasama dalam suatu kelompok.
2) Kelemahan model kooperatif tipe Team Assisted Individualization
a) Proses pembelajaran ini sering memerlukan waktu yang cukup
panjang.
b) Tidak ada persaingan antar kelompok.
c) Siswa yang lemah dimungkinkan menggantungkan pada siswa
yang pandai.

C. Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen, jenis penelitian yang
digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan metode penelitian eksperimen
semu (quasi exsperiment). Berdasarkan tujuan yang ingin dicapai, maka dalam
penelitian ini menggunakan pola desain penelitian one group pretest-posttest
design. Di dalam desain ini tes dilakukan sebanyak dua kali yaitu sebelum
eksperimen (O1) disebut pre-test dan setelah eksperimen (O2) disebut post-test.
D. Hasil dan Pembahasan
Setelah dilakukan pengolahan data skor pre-test dan post-test pada
kelas eksperimen, diperoleh statistik deskriptif sebagaimana ditunjukan pada
tabel berikut ini :
Tabel
Statistik Deskriptif Skor Pre-Test dan Post-Test
Kelompok Hasil Penelitian
Tes N Xmin Xmax 𝑥̅ S
Pre-Test 25 16 54 28,04 9,64
Post-Test 25 59 97 82,52 10,58

Berdasarkan tabel dapat dilihat bahwa skor rata-rata dan simpangan baku
pre-test dan post-test kelas eksperimen yang diperoleh siswa adalah 28,04 dan
9,64. berdasarkan tabel juga diketahui bahwa skor rata-rata dan simpangan baku
post-test kelas eksperimen yang diperoleh siswa adalah 82,52 dan 10,58.
Berdasarkan analisis data hasil tes, sebelum diberi perlakuan dengan
menggunakan model pembelajaran kooperatif Team Assisted Individualization,
rata-rata hasil belajar siswa kelas X SMK Negeri 4 Lubuklinggau memperoleh nilai
sebesar 28,04 dan simpangan baku 9,64. Selanjutnya setelah diberi perlakuan
dengan menggunakan model kooperatif tipe Team Assisted Individualization,
rata-rata hasil belajar siswa kelas X SMK Negeri 4 Lubuklinggau memperoleh nilai
sebesar 82,52 dan simpangan baku 10,58.
Hasil perhitungan uji-t dengan menggunakan taraf kepercayaan α = 0,05
dan derajat kebebasan (dk) = 24, didapat thitung > ttabel (6,85 > 1,711). Hasil ini
menunjukkan bahwa hasil belajar siswa setelah mengikuti pembelajaran
matematika dengan menggunakan model kooperatif tipe Team Assisted
Individualization di kelas X SMK Negeri 4 Lubuklinggau secara signifikan sudah
tuntas.
Selain itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa ketuntasan hasil belajar
matematika siswa dikelas X SMK Negeri 4 Lubuklinggau dengan Kriteria
Ketuntasan Minimum (KKM) adalah 68, pada kelas eksperimen ada 22 siswa
(88%) yang sudah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sedangkan 3
siswa (12%) belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Artinya rata-
rata ketuntasan hasil belajar siswa sudah mencapai diatas KKM yaitu 82,52.
Dari pembahasan yang telah di jelaskan bahwa penggunaan model
kooperatif tipe Team Assisted Individualization pada pembelajaran matematika
di kelas X SMK Negeri 4 Lubuklinggau Tahun Pelajaran 2016/2017 secara
siknifikan tuntas. Hal ini ditunjukan dari ketuntasan hasil belajar matematika
siswa dikelas X SMK Negeri 4 Lubuklinggau dengan Kriteria Ketuntasan Minimum
(KKM) adalah 68.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan di SMK Negeri 4 Lubuklinggau,
adapun kesulitan yang ditemukan dan cara untuk mengatasinya adalah
1. Kesulitan yang ditemukan
Kesulitan yang ditemukan oleh peneliti yaitu kekacauan dikelas karena
siswa dibentuk kelompok-kelompok kecil, banyak siswa yang tidak senang untuk
bekerjasama dengan yang lain, siswa yang pandai harus bekerja melebihi siswa
yang lain dalam kelompok, sedangkan siswa yang berkemampuan rendah merasa
minder ditempatkan kedalam kelompok siswa yang pandai, siswa yang lemah
akibatnya menggantungkan kepada siswa yang pandai, dan siswa yang pandai
merasa terbebani karena merasa siswa yang kurang pandai hanya menumpang
pada hasil kerja mereka.
2. Cara mengatasinya
Sebaiknya dalam kelompok setiap anggotanya untuk mempelajari bagian-
bagian yang berlainan, sehingga mereka dapat saling bertukar informasi,
selanjutnya guru mengevaluasi mereka mengenai seluruh materi yang telah
dipelajarinya. Dengan cara inilah siswa dapat bekerjasama dengan baik.

E. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan sebelumnya, maka
pengunaan model kooperatif tipe Team Assisted Individualization pada
pembelajaran matematika dikelas X SMK Negeri 4 Lubuklinggau Tahun Pelajaran
2016/2017 adalah bahwa Hasil belajar siswa setelah mengikuti pembelajaran
matematika dengan menggunakan model kooperatif tipe Team Assisted
Individualization dikelas X SMK Negeri 4 Lubuklinggau Tahun Pelajaran
2016/2017 secara signifikan tuntas. Hal ini dapat dilihat dari ketuntasan hasil
belajar siswa mencapai 88% atau 22 siswa sudah mencapai KKM dan hasil
analisis uji-t pada data post-test dengan taraf signifikan α = 0,05 diperoleh thitung
(6,85) > ttabel (1,711) yang berarti H0 ditolak dan Ha diterima. Dengan demikian
hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini diterima kebenarannya.
DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.


Jakarta: Rineka Cipta.
Hudojo. 2009. Peta Konsep. Jakarta: Makalah disajikan dalam Forum
Diskusi Pusat
Pembukuan Depdiknas.
Nurgiantoro, Burhan. 2010. Penilaian Pembelajaran Bahasa Berbasis
Kompetensi.
Yogyakarta: BPFE-YOGYAKARTA.
Sudjana. 2005. Metode Statistika. Bandung: Tarsito.
Tarigan, Henry Guntur. 2008. Menulis sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.
Bandung: Angkasa.
Totok, D. dan Bambang Supriyadi. 2009. Menulis Artikel dan Karyam ilmiah.
Bandunng: PT Remaja Rosdakarya.
Trianto. 2012. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jarkarta:
Kencana.