Anda di halaman 1dari 9

ANALISA PERHITUNGAN STURKTUR BANGUNAN

GEDUNG HEAD OFFICE DAN SHOWROOM YAMAHA PONTIANAK

Febri Sutanto1)., Eddy Samsurizal 2)., Gatot Setya Budi 2)

ABSTRAK

Seiring dengan semakin bertambahnya pertumbuhan di kota Pontianak, maka


pertumbuhan dibidang pembangunan juga semakin bertambah. Hal ini terbukti dengan
semakin gencarnya pembangunan infrastruktur maupun gedung-gedung bertingkat yang ada
di kota Pontianak. Oleh sebab itu, maka pembangunan gedung-gedung bertingkat yang ada
harus direncanakan dengan baik sesuai dengan peraturan yang berlaku. Berdasarkan SNI 03-
1726 – 2002, Kalimantan Barat termasuk kedalam wilayah gempa 1 yang merupakan daerah
dengan potensi gempa paling rendah, akan tetapi pengaruh gempa tetap harus diperhitungkan
dalam suatu perencanaan konstruksi. Oleh karena itu dalam tugas akhir ini, penulis akan
menganalisa struktur gedung beton bertulang di Pontianak sesuai dengan peraturan gempa
SNI 03-1726 – 2002 dan juga peraturan beton SNI 03-2847-2002. Bangunan yang ditinjau
adalah gedung head office dan showroom Yamaha berlantai 6 dengan konstruksi beton
bertulang di Jalan Sultan Abdurahman dengan kondisi tanah lunak. Dalam analisis, sistem
pembebanan yang dikenakan pada gedung meliputi beban mati, beban hidup dan beban
gempa. Analsis dilakukan dengan bantuan program komputer ETABS v9.6. Hasil akhir
berupa dimensi elemen-elemen struktur yang direncanakan kuat dan tahan terhadap beban
serta ekonomis dari segi biaya. Tangga dan penthouse dihitung terpisah kemudian gaya reaksi
yang diperoleh dibebankan pada struktur utama. Analisa struktur utama berupa pelat, balok,
kolom dan pondasi. Sementara untuk daerah lift dipandang sebagai void.

Kata kunci : Struktur gedung,beton bertulang, analisa gempa

1. PENDAHULUAN
Latar Belakang Adapun data-data fisik dari Gedung
Bangunan yang dianalisis pada Head Office dan Showroom Yamaha ini
penyusunan proyek akhir ini merupakan adalah :
gedung Head Office dan Showroom a. Struktur : Beton Bertulang
Yamaha PT. Aneka Makmur Sejahtera b. Jumlah lantai : 6 lantai
yang terletak di Jl. Sutan Syahrir c. Panjang bangunan : 80 m
Pontianak. Selain itu saat ini kota d. Lebar bangunan : 20 m
Pontianak sudah termasuk kedalam e. Tinggi lantai 1 : 5,5 m
wilayah gempa 1 berdasarkan peraturan f. Tinggi lantai 2 :4m
ketahanaan gempa untuk bangunan gedung g. Tinggi lantai 3-5 : 4,5 m
SNI 03-1726-2002 maka pengaruh gempa h. Tinggi lantai dack : 1,1 m
perlu diperhitungkan dalam perencanaan i. Tinggi total bangunan : 23 m
struktur bangunan yang direncanakan. Dan data spesifikasi material yang
digunakan adalah:
 Mutu beton (f’c) = 20 MPa

1
1. Alumni Prodi Teknik Sipil FT Untan
2. Dosen Prodi Teknik Sipil FT Untan
 Mutu baja (fy) deform = 390 MPa 3. Dalam perhitungan beban
 Muru baja (fy) polos = 390 MPa lateral, digunakan analisis
statik ekivalen (Equivalent
Mengingat permasalahan yang Lateral Force).
menyangkut perhitungan struktur suatu 4. Tinjauan utama dalam
gedung adalah sangat kompleks, serta perhitungan adalah pelat, balok,
kemampuan yang terbatas dari penulis, kolom, dan pondasi.
maka pada tugas akhir ini perhitungan 5. Struktur berada di wilayah
struktur dibatasi sebagai berikut: tanah lunak di Pontianak.
1. Perencanaan mencakup struktur 6. Perhitungan gedung
bagian atas (upper structure) menggunakan konstruksi beton
dan bagian bawah (sub bertulang yang didasarkan pada
structure), dan terbatas pada SK SNI 03-2847-2002.
struktur utama yang dalam hal 7. Dalam perhitungan tinjauan
ini merupakan struktur portal untuk puntir kolom tidak
terbuka (open frame). diperhitungkan.
2. Pengaruh gaya lateral yang
bekerja adalah beban gempa.

2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 STRUKTUR BETON dan tulangan baja kuat menahan tegangan
BERTULANG tarik (tension).
2.1.1 Beton Bertulang 2.1.2 Pelat
Beton merupakan material komposit yang Pelat dikatakan dua arah apabila
terbuat dari kumpulan agregat, baik kasar rasio bentang pada sisi panjang dengan sisi
maupun halus, yang saling terikat secara pendeknya kurang dari atau sama dengan
kimiawi oleh proses hidrasi, semen. dua (Ly/Lx ≤ 2,0), dan apabila rasio
Berdasarkan SNI 03-2847-2002, modulus tersebut lebih dari dua maka pelat ditinjau
elastisitas beton dapat ditentukan sebagai pelat satu arah.
berdasarkan: √ (2.1) Tebal pelat dua arah yang ditumpu balok
Di mana Wc = 1500-2500 kg/m 3 pada keempat sisinya, apabila lendutan
Untuk beton normal, modulus elastisitas tidak diperhitungkan berdasarkan
dapat diambil sebagai berikut: ketentuan dari SNI 03-2847-2002 pasal
11.5. butir 3.3 sebagai berikut:
√ (2.2)
a. Untuk αm yang sama atau lebih
Karena beton lemah dalam tarik, beton
kecil dari 0,2 harus menggunakan
digunakan bersama-sama dengan tulangan
pasal 11.5.3.(2)
atau kawat baja yang menahan tarik.
b. Untuk αm yang lebih besar dari 0,2
Berdasarkan SNI 03-2847-2002, modulus
tetapi tidak lebih dari 2,0 ketebalan
elastisitas tulangan non-pratekan Es boleh
pelat minimum harus memenuhi:
diambil sebesar 200000 MPa.
Kombinasi antara beton dan baja disebut
beton bertulang, di mana beton kuat
menahan tegangan tekan (compression)

2
Tebal pelat tidak boleh kurang dari 120 diabaikan. Seluruh gaya tarik
mm dipikul oleh tulangan baja tarik.
c. Untuk αm lebih besar dari 2,0 Distribusi tegangan tekan beton
ketebalan pelat tidak boleh kurang dapat dinyatakan sebagai blok
dari: ekivalen segiempat dan memenuhi
ketentuan:
 Tegangan beton(2.4) sebesar 0,85 f’c
Dan tidak boleh kurang dari 90 mm terdistribusi merata pada daerah
Di mana, tekan ekivalen yang dibatasi
ln = Panjang bersih bentang pelat (mm) oleh tepi penampang dan garis
fy = Tegangan leleh tulangan baja (MPa) lurus yang sejajar dengan
β = sumbu netral dan berjarak a
dari serat yang mengalami
regangan 0,003, di mana a
2.1.3 Balok
=β1c.
Dalam SNI 03-2847-2002 untuk
 Besaran c adalah jarak dari
perencanaan penampang lentur beton
serat yang mengalami regangan
bertulang, digunakan kriteria kekuatan
tekan maksimum 0,003 ke
atau disebut perencanaan dengan beban
sumbu netral dalam arah tegak
terfaktor, di mana kuat rencana minimum
lurus terhadap sumbu itu.
sama dengan kuat perlu. Asumsi dasar
 Faktor β1 bernilai 0,85 untuk
pada teori lentur penampang beton
mutu beton f’c hingga 30 MPa.
menurut SNI 03-2847-2002 pasal 12.2
Jika lebih, maka nilai β1 yang
yaitu:
semula sebesar 0,85 direduksi
1. Regangan pada tulangan dan beton
0,05 untuk setiap kelebihan 7
berbanding lurus dengan jaraknya
MPa di atas 30 MPa, namun
dari sumbu netral (asas Navier).
tidak boleh kurang dari 0,65.
Anggapan ini sesuai hipotesis
2.1.4 Kolom
Bernoulli, yaitu bahwa penampang
Kolom adalah komponen struktur
yang rata akan tetap rata setelah
bangunan yang tugas utamanya
mengalami lentur.
menyangga beban aksial desak vertikal
2. Regangan pada serat beton terluar
dengan tinggi yang tidak ditopang paling
εc adalah 0,003.
tidak tiga kali dimensi lateral terkecil.
3. Tegangan pada tulangan yang
Apabila rasio bagian tinggi dengan
nilainya lebih kecil daripada kuat
dimensi lateral terkecil kurang dari tiga
leleh fy harus diambil sebesar Es
disebut pedestal (Nasution, 2000).
dikalikan regangan baja εs. Untuk
Menurut Nasution (2000), kolom tidak
regangan yang nilainya lebih besar
hanya menerima beban aksial vertikal,
dari regangan leleh yang
tetapi juga momen lentur, sehingga analisis
berhubungan dengan fy, tegangan
kolom diperhitungkan untuk menyangga
pada tulangan harus diambil sama
beban aksial desak dengan eksentrisitas
dengan fy.
tertentu.
4. Untuk perhitungan kekuatan lentur
penampang, kuat tarik beton

3
2.2 Fondasi Tiang Pancang balok dan kolom belum
Fondasi tiang pancang adalah bagian ditetapkan) maka waktu getar
konstruksi yang terbuat dari kayu, baja, bangunan ditetapkan dengan
dan beton yang berfungsi untuk cara pendekatan menggunakan
meneruskan beban-beban permukaan ke rumus:
tingkat-tingkat permukaan yang lebih a. Untuk struktur-struktur
rendah dalam massa tanah (Bowles, 1999). gedung berupa portal-portal
Tiang pancang berfungsi sebagai tanpa unsur-unsur pengaku
kombinasi tahanan samping dan dukungan yang membatasi
ujung kecuali bila tiang pancang simpangan/goyangan
menembus tanah yang sangat lembek portal:
sampai ke dasar padat (Bowles, 1999). T = 0,085 H3/4 untuk portal
baja
2.3 STRUKTUR TAHAN GEMPA T = 0,060 H3/4 untuk portal
Berdasarkan Tata Cara Perencanaan beton
Ketahanan Gempa untuk Bangunan b. Untuk struktur-struktur
Gedung (SNI – 1726 – 2002). Indonesia gedung yang lain
ditetapkan terbagi dalam 6 Wilayah T = 0,090 H[B] 1/2
Gempa seperti ditunjukkan dalam Gambar untuk struktur yang lain
2.3, di mana Wilayah Gempa 1 adalah Dimana :

wilayah dengan kegempaan paling rendah H = tinggi puncak bagian utama struktur,
dan Wilayah Gempa 6 dengan kegempaan diukur dari taraf penjepitan lateral (m)
paling tinggi B = lebar denah bangunan
pada arah gempa yang ditinjau
Gambar 1 Pembagian wilayah gempa (m)
1. Waktu getar cara pendekatan T = waktu getar gedung pada
Untuk perencanaan arah yang ditinjau (detik)
pendahuluan (yaitu jika ukuran

4
2. METODOLOGI PERHITUNGAN
Metode yang digunakan dalam beban-beban yang bekerja. Tujuannya
penulisan tugas akhir ini lebih adalah untuk menentukan tegangan atau
menitikberatkan pada analisis perhitungan gaya-gaya yang bekerja pada elemen
struktur gedung secara sistematis struktur akibat pembebanan yang terjadi.
menggunakan program komputer, dalam Adapun beban yang diperhitungkan
hal ini adalah program ETABS, sebagai adalah:
alat bantu dalam proses analisis
perhitungan yang dilakukan tersebut. 1. Beban Vertikal, terdiri dari:
3.1 Perencanaan Pendahuluan  Beban mati, berupa berat
Perencanaan ini mencakup analisa sendiri struktur ditambah
perhitungan awal disain, baik pelat, balok dengan komponen-komponen
maupun kolom, yang dilakukan secara lain yang berhubungan
manual, untuk memperkirakan dimensi- dengannya.
dimensi elemen struktur tersebut yang  Beban hidup, berupa beban
dapat digunakan dalam perhitungan detail bergerak yang berasal dari berat
selanjutnya. orang-orang ataupun berat
3.1.1 Pelat benda bergerak lainnya.
1. Pelat memikul beban vertikal, 2. Beban Horizontal, terdiri dari:
dalam dua arah, yaitu dalam arah  Beban gempa, yaitu semua
memanjang dan arah melintang. beban statis ekivalen yang
2. Balok-balok diangggap sebagai bekerja pada struktur yang
tumpuan jepit. terjadi akibat pengaruh
3.1.2 Balok pergerakan tanah karena
1. Balok memikul beban vertikal adanya gempa.
dalam arah memanjang dan arah
melintang. 3.3 Perhitungan Gaya Dalam
2. Balok terjepit pada tumpuannya. Struktur gedung dianalisa dengan
3. Balok memikul beban terbagi rata program aplikasi komputer ETABS
akibat berat balok sendiri, dengan tinjauan tiga dimensi, dengan
sedangkan bentuk pembebanan langkah-langkahnya sebagai berikut:
akibat pelat dan beban hidup 1. Pemodelan struktur pada program
dianalisis berdasarkan pola Balok dan kolom, sebagai
penyaluran beban metode komponen struktur utama
‘amplop’. dimodelkan sebagai frame sesuai
dimensi penampang dan ukuran
3.1.3 Kolom bentang masing-masing yang telah
1. Beban yang diperhitungkan dalam ditetapkan dalam perencanaan
perencanaan awal kolom adalah pendahuluan.
beban vertikal, yang terdiri dari 2. Penentuan jenis dan mutu
beban hidup dan beban mati. bahan yang digunakan
3.2 Analisis Pembebanan 3. Penentuan dimensi-dimensi
Proses analisis pada prinsipnya elemen struktur
adalah meninjau respon struktur terhadap

5
4. Pembebanan pada struktur 1. Pemilihan tipe fondasi berdasarkan
5. Kombinasi pembebanan data hasil penyelidikan tanah
struktur 2. Perhitungan gaya dalam
6. Analisa dengan program 3. Perencanaan tied beam
aplikasi ETABS 4. Penentuan tebal poer (pile cap)
3.4 Analisis Fondasi 5. Penulangan fondasi
Secara umum, perencanaan fondasi
meliputi:
3. PERENCANAANPENDAHULUAN Jadi dari hasil perhitungan dalam
Sebelum melakukan desain perhitungan, perencanaan pendahuluan, diperoleh dimensi
maka dimensi awal dari struktur dihitung elemen-elemen sebagai berikut :
dengan menggunakan peraturan yang Balok induk melintang : 30cm x 90cm
berlaku. Sehingga hasil dari perencanaan Balok induk memanjang: 40cm x 90cm
dimensi awal ini akan dimasukan kedalam Balok anak ( memanjang dan melintang):
permodelan menggunakan program ETABS. 30cm x 60 cm
Tebal pelat tipikal : 12 cm
Diameter kolom : 80 cm
4. PEMBAHASAN
Penetapan Dimensi Elemen-elemen Dimensi Kolom
Struktur Berdasarkan perencanaan pendahuluan,
maka diperoleh dimensi kolom tipikal
Dimensi Balok berbentuk bulat dengan diameter 80cm.
Berdasarkan perencanaan
pendahuluan, diperoleh dimensi dari balok Analisa Pembebanan Struktur Arah
induk dan balok anak yaitu : Vertikal
a. Balok induk memanjang : 400 mm x Komponen Beban Mati
900 mm Berat sendiri struktur ditambah dengan
b. Balok induk melintang : 300 mm x komponen-komponen yang berhubugan
900 mm dengannya.
c. Balok anak memanjang : 300 mm x
600 mm Komponen Beban Tangga
d. Balok anak melintang : 300 mm x 600 mm Dari hasil perhitungan tangga, maka akan
diperoleh reaksi-reaksi pada ujung-ujung
Dimensi Pelat tangga. Reaksi ini kemudian akan ditinjau
Berdasarkan perencanaan pendahuluan, sebagai beban merata yang dipikul oleh
maka diperoleh pelat dengan tebal 120 balok.
mm.
Komponen Beban Penthouse gedung dengan dimensi penthouse sebagai
Diketahui bahwa gedung direncanakan berikut:
memiliki dua buah penthouse. Dalam Lx = 8m
analisis perhitungan, beban penthouse Ly = 8m
ditinjau sebagai beban titik yang dipikul Hd = 3m
oleh balok dan kolom pada lantai teratas

6
Penthouse direncanakan dengan dinamik pada struktur gedung tidak
dinding batako HB 10 dan plesteran 3cm. beraturan ,maka perlu dikelompokan
Sehingga beban akibat penthouse adalah : berdasarkan wilayah gempa di Indonesia.
Wp = 2(Lx+Ly)Hd . (120+21) kg/m2 = Indonesia ditetapkan terbagi dalam 6
135,36 kN wilayah gempa seperti yang ditunjukan
Komponen Beban Sanitasi dalam gambar 2.3 pada bab 2. Untuk itu,
Beban sanitasi dipikul oleh pelat kota Pontianak yang termasuk dalam
area toilet masing-masing lantai. Oleh provinsi Kalimantan Barat termasuk dalam
sebab itu, pada panel pelat area toilet di wilayah gempa 1 dengan resiko gempa
tiap lantai mendapat penambahan beban rendah. Faktor respon spektrum gempa
mati sebesar : dinyatakan dalam percepatan gravitasi dan
Asumsi beban sanitasi 30 kg/m2 waktu getar alami struktur gedung.
Dlsanitasi = 0,3 kN/m2 Mengacu pada gambar 2.4 pada
bab 2, maka dapat ditentukan nilai faktor
Komponen Berat Sendiri Elemen respon spektrum gempa rencana (C). Kota
Struktur Pontianak yang berada pada wilayah
Berat sendiri elemen struktur gempa 1 dan dengan karakteristik tanah
balok, kolom maupun pelat akan dihitung lunak, diperoleh nilai Faktor respon
secara otomatis oleh program komputer. spektrum gempa (C) sebesar 0,20.
Analisa Pembebanana Struktur Arah Faktor Reduksi Gempa
Horisontal Dalam perencanaan ini, gedung
Pembebanan arah horisontal direncanakan daktail parsial, sistem
dalam perencanaan ini hanya mencakup struktur gedung yang digunakan adalah
beban gempa yang dihitung berdasarkan sistem rangka pemikul momen (sistem
SNI 03 – 1726 – 2002. struktur yang pada dasarnya memiliki
Kategori Resiko dan Faktor Keutamaan rangka ruang pemikul beban gravitasi
Gedung lengkap. Beban lateral dipikul rangka
Untuk setiap kategori resiko pemikul momen dengan mekanisme
struktur bangunan, pengaruh gempa lentur). Dengan uraian sistem pemikul
rencana terhadapnya harus dikalikan beban gempa adalah dengan Sistem
dengan suatu faktor keutamaan (I). Rangka Pemikul Momen Biasa (SRPMB).
Mengacu pada tabel 2.5 dalam Material utama yang digunakan adalah
bab 2, sesuai dengan fungsi bangunan beton bertulang sehingga berdasarkan tabel
sebafai perkantoran dan showroom, maka diambil nilai faktor reduksi gempa Rm
bangunan ini dikategorikan dalam faktor adalah sebesar 3,5.
keutamaan gempa (I) yang diterima
sebesar 1.
Faktor Respom Spektrum Gempa Waktu Getar Empirik (perkiraan)
Rencana Dalam SNI 03 – 1726 – 2002,
Untuk menentukan pengaruh untuk mencegah penggunaan struktur yang
gempa rencana pada struktur gedung, yaitu terlalu fleksibel, nilai waktu getar alami
berupa beban geser dasar nominal statik dari struktur gedung harus dibatasi,
ekivalen pada struktur beraturan, gaya bergantung pada koefisien ζ untuk wilayah
geser dasar nominal sebagai respon

7
gempa tempat struktur gedung berada dan Untuk memenuhi persyaratan kinerja batas
jumlah tingkatnya n menurut persamaan : layan struktur gedung, da;am segala hal
T1 < ζ . n simpangan antar tingkat yang dihitung,
Dengan nilai ζ di dapat dari tabel 8 (pasal tidak boleh melampaui 0,03 / R kali
5.6) tingkat yang bersangkutan atau 30mm
Untuk itu, nilai Tperkiraan dihitung bergantung mana yang lebih kecil nilainya.
menurut persamaan :
Tx = Ty = 0,06 H3/4 (untuk bangunan dari Simpangan antar tingkat <
beton bertulang) (0,03 / R) .
Dengan H adalah tinggi bangunan. Tinggi tingkat
Maka diperoleh nilai < 0,03/3,5 . 4000 = 34,29 mm
Tperkiraan = 0,06 . 25,353/4 = 0,678 detik Atau Simpangan antar tingkat <
Kontrol : T1 < ζ . n dengan nilai 30 mm Maka diambil yang terkecil
ζ = 0,2 untuk wilayah gempa 1n = 6 yaitu 30 mm.
tingkat
0,678 detik < 1,2 detik ...OK!!! Kinerja Batas Ultimit
Maka Tperkiraan adalah sebesar 0,678 Kinerja batas ultimit struktur gedung
detik.Gaya Geser akibat Gempa ditentukan oleh simpangan dan simpangan
Vx = Vy = Wt antar tingkat maksimum stuktur gedung
akibat pengaruh gempa rencana dalam
= 80569,53 = 4603,97 KN
kondisi struktur gedung diambang
Distribusi Gaya Geser Gempa ke keruntuhan, yaitu untuk membatasi
Sepanjang Tinggi Gedung kemungkinan terjadinya keruntuhan
Gedung termasuk kedalam kategori struktur gedung yang dapat menimbulkan
beraturan, sehingga gaya distribusi gempa korban jiwa dan untuk mencegah benturan
dapat dihitung dengan persamaan : berbahaya antar gedung atau antar bagian
Fi = ∑ struktur yang dipisah dengan sela pemisah.
Simpangan dan simpangan antar tingkat
Dengan Fi : Gaya geser horisontal
ini dihitung dari simpangan struktur
akibat gempa pada lantai ke i
gedung akibat pembebanan gempa
hi : Tinggi lantai ke i
nominal, dikalikan dengan suatu faktor
terhadap lantai dasar
pengali ξ.
V : Gaya geser gempa

Untuk struktur beraturan :


Kinerja Batas Layan
ξ = 0,7 . R
Kinerja batas layan struktur gedung
Untuk memenuhi persyaratan kinerja batas
ditentukan oleh simpangan antar tingkat
ultimit struktur gedung, maka simpangan
akibat pengaruh gempa rencana, yaitu
antar tingkat tidak boleh melampaui 0,02
untuk membatasi terjadinya pelelehan baja
kali tinggi tingkat yang bersangkutan.
dan peretakan beton yang berlebihan,
Simpangan antar tingkat = Δs . ξ
disamping untuk mencegah kerusakan
= Δs . 0,7 . R
non-struktur dan ketidaknyamanan
Simpangan antar tingkat < 0,02 .
penghuni.

8
Tinggi tingkat 6. DAFTAR PUSTAKA
Simpangan antar tingkat < 0,02 . -----. 1983, Peraturan Pembebanan
4000 = 80 mm Indonesia untuk Gedung, Yayasan
5. PENUTUP Lembaga Penyelidikan Masalah
Kesimpulan Bangunan, Bandung
Pada umumnya, kekuatan struktur
bergantung pada ukuran dimensi elemen- -----, 2002, Tata Cara Perhitungsn Struktur
elemen struktur, dimana jika dimensi Beton untuk Bangunan Gedung SK SNI-
elemen struktru di desain dengan ukuran 03-2874-2002. Bandung : Badan
besar, maka kekuatan struktur akan Standarisasi Nasional
bertambah besar dan sebaliknya. Namun
perhitungan perencanaan gedung bertujuan -----, Standar Perencanaan Ketahanaan
untuk meperoleh desain struktur yang kuat, Gempa Untuk Struktur Bangunan Gedung
aman, dan efisien sehingga mampu SNI-03-1726-2002. Bandung : Badan
memikul beban-beban yang bekerja pada Standarisasi Nasional
struktur sesuai dengan peraturan-peraturan
perencanaan yang berlaku. Kusuma, Gideon dan Vis W.C. 1993.
Dalam perencanaan gedung tahan Dasar-dasar Perencanaan Beton Bertulang
gempa, yang terutama harus diperhatikan seri 1. Jakarta: Erlangga
adalah kekuatan kolom sebagai penahan
gaya latereal. Selain itu konfigurasi Kusuma, Gideon dan Vis W.C. 1993.
gedung hendaknya direncanakan simetris Grafik dan Tabel Beton Bertulang seri 4.
untuk menghindari berbagai ketidak Jakarta: Erlangga
teraturan baik vertikal maupun horisontal.
Dalam perhitungan ini, area lift Juwana, Jimmy. S.2005. Panduan Sistem
dianalisis sebagai void dan dinding lift Bangunan Tinggi untuk Arsitek dan
tidak dipandang sebagai dinding struktural. Praktisi Bangunan. Jakarta: Erlangga
Dari hasil perhitungan, diperoleh
dimensi elemen-elemen struktur sebagai Cormac,Mc. 2001. Desain Beton
berikut : Bertulang. Jakarta: Erlangga
1. Kolom bulat tipikal : D-70cm
2. Kolom bulat lt 1-2 : D-80cm Kusuma, Benny dan Tavio. 2009. Desain
3. Balok induk melintang : Sistem Rangka Pemikul Momen dan
30cm x 90cm Dinding Struktur Beton Bertulang Tahan
4. Balok indung memanjang : Gempa. Surabaya: Itspress
40cm x 90cm
5. Balok anak melintang : Pamungkas, Anugrah dan Harianty Erny.
30cm x 60cm 2009. Gedung Beton Bertulang Tahan
6. Balok induk memanjang : Gempa. Surabaya: Itspress
30cm x 60cm
7. Tebal pelat lantai : 12cm
8. Poer :350cm x 350cm x 90cm