Anda di halaman 1dari 27

 

 
BAB II
 
TINJAUAN PUSTAKA
 

 
II.1. Pasar Modal
  II.1.1. Pengertian Pasar Modal
  Pengertian pasar modal secara umum adalah tempat bertemunya para
penjual
  dan pembeli untuk melakukan transaksi dalam rangka memperoleh modal.
Penjual dalam pasar modal merupakan perusahaan yang membutuhkan modal.
 
Sedangkan pembeli adalah pihak yang membeli modal. (Kasmir, 2016, hal. 182).
 
Modal yang diperdagangkan di pasar modal merupakan modal yang apabila
diukur dari waktunya merupakan modal jangka panjang, yaitu modal bersifat
kepemilikan. Sedangkan modal yang bersifat utang, jangka waktunya relatif
terbatas. (Kasmir, 2016, hal. 183)
Pasar modal (capital market) adalah pasar untuk berbagai instrumen
keuangan jangka panjang yang bisa diperjualbelikan. Pasar modal menjalankan
dua fungsi utama yaitu sebagai sarana mendapatkan dana bagi perusahaan dan
menjadi sarana bagi masyarakat untuk berinvestasi. (IDX, 2010)

II.1.2. Para Pemain di Pasar Modal


Para pemain utama yang terlibat di pasar modal dan lembaga penunjang
yang terlibat langsung dalam proses transaksi antara pemain utama adalah sebagai
berikut: (Kasmir, 2016, hal. 187-192)
1 Emiten
Emiten adalah perusahaan yang melakukan penjualan surat-surat berharga
atau melakukan emisi di bursa. Dalam melakukan emisi, emiten dapat memilih
instrumen pasar yang bersifat kepemilikan atau utang. Jika bersifat kepemilikan,
maka diterbitkanlah saham dan jika yang dipilih adalah utang, maka yang dipilih
adalah obligasi. Tujuan emiten dalam melakukan emisi biasanya sudah tertuang
dalam rapat umum pemegang saham (RUPS) sebagai berikut:

II-1
 
 

II-2
 

 
a Untuk perluasan usaha, dalam hal ini tujuan emiten dengan modal yang
 
diperoleh dari para investor akan digunakan untuk meluaskan bidang usaha,
 
perluasan pasar, atau kapasitas produksi.
b   Untuk memperbaiki struktur modal, bertujuan untuk menyeimbangkan antara
  modal sendiri dengan modal asing.
c Untuk mengadakan pengalihan pemegang saham. Pengalihan ini dapat
 
berbentuk dari pemegang saham lama kepada pemegang saham yang baru.
 
Pengalihan dapat pula untuk menyeimbangkan para pemegang sahamnya.
2.   Investor
  Investor adalah pemodal yang akan membeli atau menanamkan modalnya
di perusahaan yang melakukan emisi. Sebelum membeli surat-surat berharga yang
ditawarkan para investor biasanya melakukan penelitian dan analisis-analisis
tertentu. Penelitian ini mencakup bonafiditas perusahaan, prospek usaha emiten,
dan analisis lainnya. Sama seperti halnya emiten, investor juga memiliki berbagai
tujuan yang berbeda-beda, diantara tujuan utamanya adalah sebagai berikut:
a Memperoleh dividen
Tujuan investor hanya ditujukan kepada keuntungan yang akan diperolehnya
berupa bunga yang dibayar oleh emiten dalam bentuk dividen.
b Kepemilikan perusahaan
Tujuan investor adalah untuk menguasai perusahaan. Semakin banyak saham
yang dimiliki, maka semakin besar penguasaan terhadap perusahaan yang
bersangkutan.
c Berdagang
Tujuan investor adalah untuk dijual kembali pada saat harga tinggi. Jadi,
pengharapannya adalah pada saham yang benar-benar dapat menaikkan
keuntungannya dari jual beli sahamnya.
3. Lembaga Penunjang
Fungsi dari lembaga penunjang antara lain adalah mendukung
beroperasinya pasar modal, sehingga mempermudah emiten dan investor dalam
melakukan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pasar modal. Berikut adalah

 
 

II-3
 

 
beberapa lembaga penunjang yang memegang peranan penting dalam mekanisme
 
pasar modal:
 
a. Penjamin emisi (underwriter)
b.   Perantara perdagangan efek (broker/pialang)
  c. Perdagangan efek (dealer)
d. Penanggung (guarantor)
 
e. Wali amanat (trustee)
 
f. Perusahaan pengelola dana (investment company)
g.   Kantor administrasi efek
 
II.1.3. Jenis-jenis Pasar modal
Umumnya penjualan instrumen pasar modal dilakukan sesuai dengan jenis
ataupun bentuk pasar modal dimana instrumen tersebut diperjual-belikan. Jenis -
jenis pasar modal menurut Sunariyah (2011:12) adalah sebagai berikut :
1. Pasar Perdana (Primary Market)
Pasar perdana adalah penawaran saham dari perusahaan yang menerbitkan
saham (emiten) kepada pemodal selama waktu yang ditetapkan oleh pihak penjual
sebelum saham tersebut diperdangankan di pasar sekunder.
2. Pasar Sekunder (Secondary Market)
Pasar sekunder didefinisikan sebagai perdagangan saham setelah melewati
masa penawaran pada pasar perdana. Jadi, pasar sekunder dimana saham dan
sekuritas lain diperjual-belikan secara luas, setelah melalui masa penjualan di
pasar perdana. Harga saham di pasar sekunder ditentukan oleh permintaan dan
penawaran antara pembeli dan penjual.
3. Pasar Ketiga (Third Market)
Pasar ketiga adalah tempat perdagangan saham atau sekuritas lain di luar
bursa (over the counter market). Bursa paralel merupakan suatu sistem
perdagangan efek yang terorganisasi di luar bursa efek resmi, dalam bentuk pasar
sekunder yang diatur dan dilaksanakan oleh Perserikatan Perdagangan Uang dan
Efek dengan diawasi dan dibina oleh lembaga keuangan.
4. Pasar Keempat (Fourth Market)

 
 

II-4
 

 
Pasar keempat merupakan bentuk perdagangan efek antar pemodal atau
 
dengan kata lain pengalihan saham dari satu pemegang saham ke pemegang
 
saham lainnya tanpa melalui perantara perdagangan efek. Bentuk transaksi dalam
perdagangan
  semacam ini biasannya dilakukan dalam jumlah besar (block sale).
 
II.1.4. Fungsi Pasar Modal
 
Pasar modal memberikan fungsi besar bagi piha-pihak yang ingin
 
memperoleh keuntungan dalam investasi. Fungsi pasar modal tersebut antara lain:
(Hadi,
  2013, hal. 16)

  1. Bagi perusahaan
Pasar modal memberikan ruang dan peluang bagi perusahaan untuk
memperoleh sumber dana yang relatif memiliki resiko investasi (cost of capital)
rendah dibandingkan sumber dana jangka pendek dari pasar uang.
2. Bagi investor
Alternatif investasi bagi pemodal, terutama pada instrument yang
memberikan likuiditas tinggi. Pasar modal memberikan ruang investor dan profesi
lain memanfaatkan untuk memperoleh return yang cukup tinggi.
3. Bagi Perekonomian Nasional
Dalam daya dukung perekonomian nasional, pasar modal meliki peran
penting dalam rangka meningkatkan dan mendorong pertumbuhan dan stabilitas
ekonomi. Hal tesebut ditunjukan dengan fungsi pasar modal yang memberikan
sarana bertemunya antara lender dengan borrower.

II.1.5. Manfaat Pasar Modal


Sebagai wadah yang terorganisir berdasarkan Undang-undang untuk
mempertemukan antara investor sebagai pihak yang surplus dana untuk
berinvestasi dalam instrument keuangan jangka panjang, pasar modal memiliki
manfaat antara lain: (Hadi, 2013, hal. 14)
1. Menyediakan sumber pembiayaan (jangka panjang) bagi dunia usaha.
2. Memberikan potensi keuntungan dengan resiko yang bisa diperhitungkan
melalui keterbukaan, likuiditas, dan diversifikasi investasi.

 
 

II-5
 

 
3. Memberikan kesempatan memiliki perusahaan yang sehat.
 
4. Menciptakan lapangan kerja/profesi yang menarik.
 
5. Memberikan akses control social.
 6. Menyediakan leading indicator bagi trend ekonomi negara.

 
II.1.6. Instrumen Pasar Modal
 
Umumnya sekuritas yang diperdagangkan di pasar modal meliputi saham,
 
obligasi, reksadana dan instrumen derivatif. Masing-masing sekuritas tersebut
memberikan
  return dan resiko yang berbeda-beda. (Tandelilin, 2001, hal. 18)
  1. Saham
Saham adalah surat tanda bukti kepemilikan atas aset-aset perusahaan
dalam. Saham adalah salah satu jenis sekuritas yang paling populer di pasar
modal. Saham memberikan pengembalian dalam bentuk deviden.
2. Obligasi
Obligasi adalah sertifikat yang berisi kontrak antara investor dan
perusahaan, yang berisikan tentang perjanjian bahwa investor telah meminjamkan
sejumlah uang kepada perusahaan (emiten). Perusahaan yang menerbitkan
obligasi memiliki kewajiban untuk membayar bunga sesuai dengan jangka waktu
yang telah ditentukan serta pokok pinjaman pada saat jatuh tempo.
3. Reksadana
Reksadana merupakan sertifikat yang menyatakan bahwa pemiliknya
menyimpan sejumlah dana kepada perusahaan reksadana untuk dikelola oleh
manajer investasi profesional, agar dapat digunakan sebagai modal berinvestasi
baik di pasar modal maupun di pasar uang.
4. Instrumen derivatif
Merupakan sekuritas turunan dari suatu sekuritas lain, sehingga nilai
instrumen derivatif sangat tergantung dari harga sekuritas lain. Ada beberapa jenis
instrumen derivatif, diantaranya waran, bukti right (right issue), opsi, dan future.
Setiap instrumen mempunyai keunggulan dan kelemahannya masing-
masing. Untuk dapat memperoleh keuntungan dari berbagai sekuritas tersebut

 
 

II-6
 

 
investor harus berhati-hati dalam memilih dan memainkan sekuritas dengan
 
mempertimbangkan segala resiko dan informasi yang diterima.
 

II.2.  Saham
  II.2.1. Pengertian Saham
Saham menyatakan bahwa pemilik saham tersebut juga merupakan
 
pemilik perusahaan yang bersangkutan. Dengan demikian, kalau seorang investor
 
membeli saham sebuah perusahaan berarti dia juga menjadi pemilik atau
pemegang
  saham perusahaan tersebut. (Sawidji, 2004, hal. 39)
  Pengertian saham menurut Irham Fahmi (2013:81) adalah :
a. Tanda bukti penyertaan kepemilikan modal/dana pada suatu perusahaan
b. Kertas yang tercantum dengan jelas nilai nominal, nama perusahaan, dan
diikuti dengan hak dan kewajiban yang dijelaskan kepada setiap
pemegangnya.
c. Persediaan yang siap untuk dijual.

II.2.2. Jenis-jenis Saham


Dalam pasar modal ada dua jenis saham yang paling umum dikenal oleh
publik yaitu saham biasa (common stock) dan saham istimewa (preference stock).
Dimana kedua jenis saham ini memiliki arti dan aturannya masing-masing.
(Fahmi, 2013, hal. 81-83)
1. Saham Biasa (Common Stock)
Saham biasa adalah suatu surat berharga yang dijual oleh suatu perusahaan
yang menjelaskan nilai nominal (rupiah, dolar, yen, dan sebagainya) dimana
pemegangnya diberi hak untuk mengikuti RUPS (Rapat Umum Pemegang
Saham) dan RUPSLB (Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa) seeta berhak
untuk menentukan membeli right issue (penjualan saham terbatas) atau tidak,
yang selanjutnya di akhir tahun akan memperoleh keuntungan dalam bentuk
deviden. Saham biasa ini memiliki beberapa jenis yaitu :
a. Blue Chip-Stock (Saham Unggulan) adalah saham dari perusahaan yang
dikenal secara nasional dan memiliki sejarah laba, pertumbuhan, dan

 
 

II-7
 

 
manajemen yang berkualitas. Saham-saham IBM dan Du Pont merupakan
 
contoh blue chip. Jika di Indonesia kita bisa melihat pada 5 besar saham yang
 
termasuk kategori LQ 45, LQ 45 adalah likuiditas empat puluh lima buah
 perusahaan ysng dianggap memiliki tingkat likuiditas yang baik dan sesuai

  dengan pengharapa pasar modal.


b. Growth Stock adalah saham-saham yang diharapkan memberikan
 
pertumbuhan laba yang lebih tiggi dari rata-rata saham-saham lain, dan
 
karennanya mempunyai PER yang tinggi.
c.  Defensive Stock (saham-saham defensif) adalah saham yang cenderung lebih
  stabil dalam masa resesi atau perekonomian yang tidak menentu berkaitan
dengan deviden, pendapatan, dan kinerja pasar.
d. Cyclical Stock adalah sekuritas yang cenderung naik nilainya secara cepat
saat ekonomi semarak dan jatuh juga secara cepat saat ekonomi lesu .
e. Seasonal Stock adalah perusahaan yang penjualannya bervariasi karena
dampak musiman, misalnya cuaca dan liburan.
f. Speculatice Stock adalah saham yang kondisinya memiliki tingkat spekulasi
yang tinggi yang kemungkinan tingkat pengembaliannya adalah rendah atau
negatif. Ini biasanya dipakai untuk membeli saham pada perusahaan
pengeboran minyak.

II.3. Return Saham


II.3.1. Pengertian Return Saham
Return saham disebut juga sebagai pendapatan saham dan merupakan
perubahan nilai harga saham periode t dengan t-ı. Dan berarti bahwa semakin
tinggi perubahan harga saham maka semakin tinggi return saham yang dihasilkan.
(Halim & Hanafi, 2009, hal. 300)
Return Saham adalah nilai yang diperoleh sebagai hasil dari aktivitas
investasi. Return yang diharapkan berupa deviden untuk investasi saham dan
pendapatan bunga untuk investasi di surat utang. Return merupakan tujuan utama
investor untuk mendapatkan hasil dari investasi yang dilakukan oleh investor.
(Jogiyanto, 2016, hal. 205)

 
 

II-8
 

 
II.3.2. Komponen Pengembalian Return Saham
 
Menurut Abdul Halim (2005:34) Return Saham terdiri dari dua komponen
 
utama, yaitu:
1   Capital Gain yaitu merupakan keuntungan bagi investor yang diperoleh dari
  kelebihan harga jual di atas harga beli yang keduanya terjadi di pasar
sekunder.
 
2 Yield merupakan pendapatan atau aliran kas yang diterima secara periodik.
 
Misalnya berupa deviden atau bunga.
 

  II.3.3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Return Saham


Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi return saham itu sendiri,
beberapa faktor yang mempengaruhi harga atau return saham baik yang bersifat
internal maupun eksternal. Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah:
1. Faktor Internal
a. Pengumuman tentang pemasaran, produksi, penjualan seperti pengiklanan,
rincian kontrak, perubahan harga, penarikan produk baru, laporan
produksi, laporan keamanan produk dan laporan penjualan.
b. Pengumuman pendanaan (financing announcements), seperti pengumuman
yang berhubungan dengan ekuitas atau hutang.
c. Pengumuman badan direksi manajemen (management-board of director
announcements) seperti perubahan dan pergantian direktur manajemen,
dan struktur organisasi.
d. Pengumuman pengambilalihan diversifikasi, seperti laporan merger,
investasi ekuitas, laporan take over oleh pengakuisisian dan diakuisisi,
laporan divestasi dan lainnya.
e. Pengumuman investasi (investment announcements), seperti melakukan
ekspansi pabrik, pengembangan riset dan penutupan usaha lainnya.
f. Pengumuman ketenagakerjaan (labour announcements), seperti negoisasi
baru, kontrak baru, pemogokan dan lainnya.
g. Pengumuman laporan keuangan perusahaan, seperti peramalan laba
sebelum akhir tahun fiskal dan setelah akhir tahun fiskal, Earnings Per

 
 

II-9
 

 
Share (EPS) dan Dividend Per Share (DPS), Price Earnings Ratio (PER),
 
Net Profit Margin (NPM), Return On Asset (ROA), Return On Equity
 
(ROE), Price to Book Value (PBV), maupun Economic Value Added
  (EVA), dan Market Value Added (MPV) yang nilainya tidak tercantum
  dalam laporan keuangan dan lain-lain.
2. Faktor Eksternal
 
a. Pengumuman dari pemerintah seperti perubahan suku bunga tabungan
 
deposito, kurs valuta asing, inflasi serta berbagai regulasi dan
  deregulasi ekonomi yang dikeluarkan oleh pemerintah.
  b. Pengumuman hukum (legal announcements), seperti tuntutan
karyawan terhadap perusahaan atau terhadap manajernya dan tuntutan
perusahaan terhadap manajernya.
c. Pengumuman industri sekuritas (securities announcements), seperti
laporan pertemuan tahunan, insider trading, volume atau harga saham
perdagangan, pembatasan atau penundaan trading.
d. Gejolak politik luar negeri dan fluktuasi nilai tukar juga merupakan
faktor yang berpengaruh signifikan pada terjadinya pergerakan harga
saham di bursa efek suatu negara.
e. Berbagai isu baik dalam negeri dan luar negeri.

II.3.4. Jenis-jenis Return Saham


Terdapat dua jenis return yaitu: “Return realisasi (realized return)
merupakan return yang telah terjadi, dan return ekspektasi (expected return)
adalah return yang diharapkan akan diperoleh oleh para investor di masa yang
akan datang. (Jogiyanto, 2016, hal. 263)
1 Return Realisasi
Return realisasi merupakan return yang telah terjadi, dan penghitungannya
menggunakan data histori perusahaan yang berguna untuk mengukur kinerja
perusahaan. Return realisasi atau disebut juga return historis berguna juga untuk
menentukan return ekspektasi (expected return) dan risiko di masa yang akan
datang. Beberapa pengukuran return realisasian yang banyak digunakan adalah :

 
 

II-10
 

 
a. Return Total (Total Return)
 
Return total merupakan keseluruhan dari suatu investasi dalam satu periode yang
 
tertentu. Return total sering disebut dengan return saja. Return total terdiri dari
dari  capital gain (loss) dan yield sebagai berikut ini.
  Return = Capital gain (loss) + Yield
(Jogiyanto, 2016, hal. 264)
 
Captal gain atau captal loss merupakan selisih dari harga investasi
 
sekarang relatif dengan harga periode yang lalu. Jika harga investasi sekarang
( )  lebih tinggi dari harga investasi periode lalu ( ) ini berarti terjadi
  keuntungan modal (capital gain) , sebaliknya terjadi kerugian modal (capital loss)

(Jogiyanto, 2016, hal. 264)


Yield merupakan persentase penerimaan kas periodik terhadap harga
investasi periode tertentu dari suatu investasi. Untuk saham, yield adalah
persentase dividen terhadap harga saham periode sebelumnya. Dengan demikian,
return total dapat juga dinyatakan sebagai berikut ini :

(Jogiyanto, 2016, hal. 265)


Untuk saham biasa yang membayar dividen periodik sebesar rupiah
per-lembarnya, maka yield adlah sebesar dan return total dapat
dinyatakan sebagai berikut :

(Jogiyanto, 2016, hal. 265)


Namun mengingat tidak selamanya perusahaan membagikan dividen kas
secara periodik kepada pemegang sahamnya, maka return saham dapat dihitung
sebagai berikut :

(Jogiyanto, 2016, hal. 265)

 
 

II-11
 

 
Keteranga :
 
= Harga saham periode sekarang
 
= Harga saham periode sebelumnya
b.   Relatif Return
  Return total dapat bernilai negatif atau positif. Kadang kala, untuk
perhitungan tertentu, misalnya rata-rata geometrik yang menggunakan
 
perhitungan pengakaran dibutuhkan suatu return yang harus bernilai positif.
 
Relatif return dapat digunakan, yaitu dengan menambahkan nilai 1 terhadap nilai
  total.
return
  c. Kumulatif Return
Return total hanya mengukur perubahan kemakmuran pada saat waktu
tertentu saja, tetapi tidak mengukur total dari kemakmuran yang dimiliki. Untuk
mengetahui total kemakmuran, indeks kemakmuran kumulatif (cumulative wealth
index) dapat digunakan. IKK (indeks kemakmuran kumulatif) mengukur
akumulasi semua return mulai dari kemakmuran awal ( ) yang dimiliki.
d. Return Disesuian
Return total, relatif return, dan kumulatif return termasuk kedalam return
nominal, yaitu return yang hanya mengukur perubahan nilai uang tetapi tidak
memperhitungkan tingkat daya beli dari nilai uang tersebut. Untuk
mempertimbangkan hal itu, return nominal perlu disesuaikan dengan perubahan
tingkat daya beli dari nilai uang dengan memperhatikan nilai inflasi dan kurs mata
uang yang berlaku.
Sedang rata-rata dari return dapat dihitung berdasarkan rata-rata aritmatika
(arithmetic mean) dan rata-rata geometric (geometric mean). Rata-rata geometrik
banyak digunakan untuk menghitung rata-rata return beberapa periode, misalnya
untuk menghitung return mingguan atau return bulanan yang dihitung berdasarkan
rata-rata geometrik dari return-return harian. Untuk perhitungan return seperti ini,
rata-rata geometrik lebih tepat digunaka dibandingkan jika digunakn metode rata-
rata aritmatika biasa.

 
 

II-12
 

 
2. Return Ekspektasi
 
Return ini digunakan untuk pengambilan keputusan investasi. Return ini
 
lebih penting dibandingkan return historis (realisasi) karena return ini yang
diharapkan
  oleh semua investor di masa yang akan datang. Return ekspektasian
  (expected return) dapat dihitung berdasarkan beberapa cara sebagai berikut ini.
a Berdasarkan nilai ekspetasian masa depan.
 
b Berdasarkan nilai-nilai return historis.
 
c Berdasarkan model return ekspetasian yang ada.
 

  II.4. Earning Per Share (EPS)


Earning per Share (EPS) atau laba per saham adalah laba yang terdapat di
dalam laporan laba rugi yaitu earning after tax dibagi dengan jumlah saham biasa
yang beredar. Nilai EPS umumnya diikutsertakan dalam laporan laba rugi pada
laporan tahunan perusahaan. Rasio laba per lembar saham atau disebut juga rasio
nilai buku merupakan rasio untuk mengukur keberhasilan manajemen dalam
mencapai keuntungan bagi pemegang saham. (Kasmir, 2014, hal. 207)
Informasi tentang EPS dapat menunjukkan besarnya laba bersih yang siap
dibagikan untuk semua pemegang saham perusahaan. Semakin besar nilai EPS
berarti bahwa kinerja perusahaan yang semakin baik dan dapat memberikan
return yang besar kepada para pemegang saham dan investor. Investor senang
untuk menanamkan modalnya pada perusahaan yang memiliki nilai EPS yang
besar.
Keuntungan bagi pemegang saham adalah jumlah keuntungan setelah
dipotong pajak. Keuntungan yang tersedia bagi pemegang saham biasa adalah
jumlah keuntungan dikurangi pajak, dividen, dan dikurangi hak-hak lain untuk
pemegang saha prioritas.
Rumus untuk mencari laba perlembar saham biasa (EPS) adalah sebagai berikut :

(Kasmir, 2014, hal. 207)

 
 

II-13
 

 
Berdasarkan rumus perhitungan diatas, dapat disimpulkan bahwa EPS dapat
 
meningkat karena :
 
1. Laba bersih meningkat dengan jumlah saham beredar tetap.
 2. Laba bersih tetap namun jumlah saham beredar menurun.

  3. Laba bersih meningkat dengan jumlah saham beredar menurun


4. Besar kenaikan laba bersih lebih besar dibandingkan kenaikan jumlah
 
saham beredar.
 
5. Besar penurunan laba bersih lebih kecil dari jumlah penurunan saham
  beredar.
  Sedangkan EPS data menurun jika:
1. Laba bersih yang diperoleh tetap tetapi jumlah saham beredar meningkat.
2. Laba bersih mengalami penurunan sedangkan jumlah saham yang beredar
tetap.
3. Laba bersih mengalami penurunan dengan jumlah saham beredar
mengalami peningkatan.
4. Besar penurunan laba bersih lebih besar dibandingkan penurunan jumlah
saham beredar.
5. Besar kenaikan laba bersih lebih kecil dibandingkan peningkatan jumlah
saham beredar.
Jadi bagi suatu badan usaha nilai laba per saham akan meningkat apabila
persentase kenaikan laba bersihnya lebih besar daripada persentase kenaikan
jumlah lembar saham biasa yang beredar. (Weston & Eugene, 1993, hal. 23-25)

II.5. Return on Equity (ROE)


Rasio profitabilitas mencerminkan hasil akhir dari seluruh kebijakan
keuangan dan keputusan operasional perusahaan. ROE merupakan salah satu rasio
profitabilitas yang mengukur pengembalian bagi para pemegang saham biasa
sebagai persentase dari investasi mereka pada perusahaan. Investor dan calon
investor akan memonitor rasio ini secara ketat karena rasio ini menunjukkan
pengembalian terakhir atas investasi para pemegang saham yang ada. Return on
equity atau hasil pengembalian ekuitas atau rentabilitas modal sendiri merupakan

 
 

II-14
 

 
rasio untuk mengukur laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri. Rasio ini
 
menunjukan efisiensi penggunaan modal sendiri. Semakin tinggi rasio ini berarti
 
semakin baik. Artinya posisi pemilik perusahaan semakin kuat demikian pula
sebaliknya.
  Rumus untuk mencari Return on Equity (ROE) dapat digunakan
  sebagai berikut :

  (Kasmir, 2014, hal. 204)


Berdasarkan
  rumus diatas, ROE dapat meningkat karena:

  1. Laba bersih perusahaan mengalami peningkatan sementara ekuitas tetap.


2. Laba bersih mengalami peningkatan dan ekuitas menurun
3. Laba bersih mengalami peningkatan dan ekuitas juga meningkat, namun
persentase peningkatan laba bersih lebih tinggi.
Sedangkan penurunan ROE dapat terjadi apabila:
1. Laba bersih perusahaan mengalami penurunan sementara ekuitas tetap.
2. Laba bersih mengalami penurunan dan ekuitas meningkat
3. Laba bersih mengalami penurunan dan ekuitas juga menurun, namun
persentase penurunan laba bersih lebih besar.
Pemegang saham akan berharap mendapatkan pengembalian dan untuk
mengukur pengembalian tersebut biasanya calon investor dan investor akan
melihat rasio ROE. ROE yang tinggi menunjukkan pengembalian yang relatif
tinggi terhadap jumlah investasi yang ditanamkan investor, sehingga nilai ROE
yang sangat tinggi akan disukai oleh para pemegang saham.

II.6. Inflasi
II.6.1. Pengertian Inflasi
Inflasi berarti kenaikan tingkat harga secara umum dari barang atau
komoditasdan jasa selama suatu periode waktu tertentu. Inflasi dapat dianggap
sebagai fenomena moneter kerena terjadinya penurunan nilai unit penghitungan
moneter terhadap suatu komoditas.

 
 

II-15
 

 
Kenaikan harga-harga yang berlaku dari satu waktu ke waktu lainnya tidak
 
berlaku secara seragam. Kenaikan tersebut biasanya berlaku atas kebanyak
 
barang, tetapi tingkat kenaikannya berbeda. Ada yang tinggi persentasinya dan
ada   yang rendah. Disamping itu sebagian barang tidak mengalami kenaikan.
  Berlakunya tingkat perubahan harga yang berbeda tersebut menyebabkan indeks
harga perlu dibentuk untuk menggambarkan tingkat perubahan harga-harga yang
 
berlaku dalam suatu negara. Untuk mengukur tingkat inflasi, indeks harga yang
 
selalu digunakan adalah indeks harga konsumen, yaitu indeks harga dari barang
barang
  yang selalu digunakan para konsumen.

 
II.6.2. Golongan Inflasi
A. Inflasi Menurut Tingkat Keparahannya
Adiwarman Karim dalam bukunya menggolongkan inflasi kedalam tiga
golongan yaitu:
1. Moderate Inflation
Karakteristiknya adalah kenaikan tingkat harga yang lambat. Pada tingkat
inflasi seperti ini orang-orang masih mau untuk memegang uang daripada dalam
bentuk aset riil
2. Galloping Inflation
Inflasi pada tingkat ini terjadi pada tingkat 20% sampai dengan 200% per
tahun. Pada tingkatan inflasi ini orang hanya mau memegang uang seperlunya
saja, sedangkan kekayaan disimpan dalam bentuk aset-aset riil. Orang akan
menumpuk barang-barang, membeli rumah dan tanah. Pasar uang akan
mengalami penyusutan dan pendanaan akan dialokasikan melalui cara-cara selain
dari tingkat bunga serta orang tidak akan memberikan pinjaman kecuali dengan
tingkat bunga yang tinggi. Perekonomian seperti ini cenderung mengakibatkan
terjadinya gangguan-gangguan besar pada perekonomian karena orang-orang akan
lebih tertarik menyimpan dananya untuk berinvestasi di luar negeri daripada di
dalam negeri.

 
 

II-16
 

 
3. Hyper Inflation
 
Pada inflasi ini terjadi proses kenaikan harga yang sangat cepat, yang
 
menyebabkan tingkat harga menjadi beberapa kali lipat dalam masa singkat. Jenis
inflasi
  ini biasanya terjadi pada tingkatan yang sangat tinggi yaitu lebih dari
  100% per tahun. Pernah terjadi di Indonesia, pada tahun 1965 tingkat inflasi
adalah 500% dan pada tahun 1966 telah mencapai 650%. Ini berarti tingkat
 
harga-harga naik 5 kali lipat pada tahun 1965 dan 6,5 kali lipat pada tahun 1966
 
(Karim, 2008:137-138).
B.   Inflasi Berdasarkan Penyebabnya
  Boediono dalam bukunya yang berjudul Ekonomi Makro menjelaskan
Inflasi dapat digolongkan berdasarkan penyebabnya, yaitu:
1. Demand pull inflation
Inflasi biasanya terjadi pada masa perekonomian sedang berkembang
pesat. Kesempatan kerja yang tinggi menciptakan tingkat pendapatan yang tinggi
dan selanjutnya daya beli sangat tinggi. Daya beli yang tinggi akan mendorong
permintaan melebihi total produk yang tersedia. Permintaan agregat meningkat
lebih cepat dibandingkan dengan potensi produktif perekonomian, akibatnya
timbul inflasi.
Harga
S

P2
E
E Z2
P1
Z
1

Output
Q Q
Gambar II.1
Demand Pull Inflation Sumber: Boediono, 2001:157
Keterangan:
Z1= Aggregate Demand (Permintaan Agregat)
Z2 = Perubahan Aggregate Demand (Permintaan Agregat)
S = Aggregate Supply (Penawaran Agregat)
P = Price (Harga Barang)
Q= Jumlah Produk Nasional

 
 

II-17
 

 
2. Cost push inflation
 
Inflasi ini terjadi bila biaya produksi mengalami kenaikan secara terus-
 
menerus. Kenaikan biaya produksi dapat berawal dari kenaikan harga input seperti
kenaikan
  upah minimum, kenaikan bahan baku, kenaikan tarif listrik, kenaikan
  BBM, dan kenaikan-kenaikan input lainnya yang mungkin semakin langka dan
harus diimpor dari luar negeri.
 
Harga S2
 
S1
E’
 
P2
Z
  P1
E

Output
Q1 Q2

Gambar II.2
Cost Push Inflation
Sumber: Boediono, 2001:157
Keterangan:
Z = Aggregate Demand (Permintaan Agregat)
S1 = Aggregate Supply (Penawaran Agregat)
S2= Perubahan Aggregate Supply (Penawaran Agregat)
P = Price (Harga Barang)
Q = Jumlah Produk Nasional
E = Equilibrium (Titik Keseimbangan)
C. Inflasi Berdasarkan Asalnya
Inflasi dapat digolongkan menurut asalnya sebagaimana dijelaskan oleh
(Boediono, 2001), yaitu:
1. Inflasi yang berasal dari dalam negeri (domestic inflation)
Inflasi ini biasanya disebabkan karena defisit anggaran belanja yang dibiayai
dengan pencetakan uang baru, kenaikan upah, gagal panen, dan lain-lain.
2. Inflasi yang berasal dari luar negeri (imported inflation)
Inflasi ini disebabkan karena naiknya harga barang-barang impor. Hal ini
terjadi karena biaya produksi barang di luar negeri tinggi atau karena adanya
kenaikan tarif impor barang.

 
 

II-18
 

 
II.6.3. Mengukur Inflasi
 
Menurut Adhyzal Kandary, inflasi diukur dengan menghitung perubahan
 
tingkat persentase perubahan sebuah indeks harga. Indeks harga tersebut
diantaranya
  :
  - Indeks harga konsumen (IHK) atau consumer price index (CPI), adalah
indeks yang mengukur harga rata-rata dari barang tertentu yang dibeli oleh
 
konsumen.
 
- Indeks biaya hidup atau cost-of-living index (COLI).
-   Indeks harga produsen adalah indeks yang mengukur harga rata-rata dari

  barang-barang yang dibutuhkan produsen untuk melakukan proses produksi.


Indeks Harga Produsen (IHP) sering digunakan untuk meramalkan tingkat
Indeks Harga Konsumen (IHK) di masa depan karena perubahan harga bahan
baku meningkatkan biaya produksi, yang kemudian akan meningkatkan harga
barang-barang konsumsi.
- Indeks harga komoditas adalah indeks yang mengukur harga dari komoditas-
komoditas tertentu.
- Indeks harga barang-barang modal
- Deflator PDB menunjukkan besarnya perubahan harga dari semua barang
baru, barang produksi lokal, barang jadi, dan jasa.

II.6.4. Dampak Inflasi


Selain menimbulkan dampak bagi perekonomian secara umum, inflasi
juga akan memberikan dampak bagi individu dan masyarakat. Menurut
Adiwarman Karim dampak inflasi diantaranya :
1. Inflasi akan menurunkan pendapatan riil orang-orang yang berpendapatan
tetap. Pada umumnya kenaikan upah tidaklah secepat kenaikan harga-harga.
Maka inflasi akan menurunkan upah riil individu-individu yang
berpendapatan tetap.
2. Inflasi akan mengurangi nilai kekayaan yang berbentuk uang. Sebagian
kekayaan masyarakat disimpan dalam bentuk uang. Simpanan di bank,
simpanan tunai, dan simpanan dalam institusi-institusi keuangan lain nilai riil

 
 

II-19
 

 
nya akan turun jika terjadi inflasi. Hal ini berarti inflasi dapat menimbulkan
 
gangguan terhadap fungsi uang, terutama terhadap fungsi tabungan (nilai
 
simpan), fungsi dari pembayaran dimuka dan fungsi dari unit penghitungan.
3.   Inflasi juga akan mengakibatkan kurang meratanya pembagian kekayaan.
  Telah disebutkan bahwa penerima pendapatan tetap akan menghadapi
kemerosotan dalam nilai riil pendapatannya, dan pemilik kekayaan bersifat
 
keuangan mengalami penurunan dalam nilai riil kekayaannya, akan tetapi
 
pemilik harta tetap dapat mempertahankan atau menambah nilai riil
  kekayaannya. Dengan demikian, inflasi menyebabkan pembagian pendapatan

  diantara golongan berpendapatan tetap dengan pemilik harta semakin tidak


merata dan timpang.
4. Mengarahkan investasi pada hal-hal yang non-produktif yaitu menumpuk
kekayaan seperti: tanah, bangunan, logam mulia, dan mata uang asing
daripada menginvestasikan ke arah produktif seperti: pertanian, industrial,
perdagangan, transportasi, dan lain-lain.

II.7. Hubungan Variabel Independen dengan Variabel Dependen


II.7.1. Hubungan Earning Per Share (EPS) dengan Return Saham
Salah satu indikator keberhasilan suatu perusahaan ditunjukkan oleh
besarnya Earning per Share (EPS) dari perusahaan yang bersangkutan. Earning
per Share (EPS) menunjukkan seberapa besar keuntungan yang diberikan
perusahaan kepada investor dari setiap lembar saham yang dimilikinya. Pada
umumnya, investor akan mengharapkan manfaat dari investasinya dalam bentuk
laba per lembar saham, sebab Earning per Share (EPS) ini menggambarkan
jumlah keuntungan yang diperoleh untuk setiap lembar saham biasa. Sedangkan
jumlah Earning per Share (EPS) yang akan didistribusikan kepada investor saham
tergantung pada kebijakan perusahaan dalam hal pembayaran deviden (Mulyono,
2000)
Nilai yang rendah menunjukan bahwa manajemen belum berhasil untuk
memuaskan pemegang saham, sebaliknya dengan nilai yang tinggi berarti semakin
tinggi pula kesejahteraan pemegang saham, dengan pengertian lain tingkat

 
 

II-20
 

 
pengembalian yang tinggi. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Susiani (2016)
 
pada perusahaan property dan real estate yang terdaftar di bursa efek menunjukan
 
hasil bahwa Earning Per Share (EPS) berpengaruh signifikan terhadap return
saham.
  Sehingga hipotesis dalam penelitian ini adalah Earning Per Share (EPS)
  mempunyai pengaruh positif signifikan terhadap return saham.
H1: Earning Per Share (EPS) mempunyai pengaruh positif yang signifikan
 
terhadap return saham.
 
+, Signifikan
  Earning Per Share (EPS) Return Saham

 
II.7.2. Hubungan Return On Equity (ROE) terhadap Return Saham
ROE merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa banyak
keuntungan yang mejadi hak pemilik modal sendiri (saham). ROE adalah rasio
yang memberikan informasi pada para investor tentang seberapa besar tingkat
pengembalian modal dari perusahaan yang berasal dari kinerja perusahaan
menghasilkan laba. Semakin besar nilai ROE maka tingkat pengembalian yang di
harapkan investor juga besar. Semakin besar nilai ROE maka perusahaan
dianggap semakin menguntungkan.
Pernyataan tersebut di perkuat oleh hasil penelitian Neni Awika et al.
(2016) yang menjelaskan bahwa rasio Return On Equity (ROE) mempunyai
pengaruh yang positif dan signifikan terhadap return saham pada perusahaan
manufaktur sektor makanan dan minuman yang terdaftar di BEI. Sehingga
hipotesis dalam penelitian ini adalah Return On Equity (ROE) mempunyai
pengaruh positif signifikan terhadap return saham.
H2: Return On Equity (ROE) berpengaruh positif yang signifikan terhadap Return
Saham

+, Signifikan
Return On Equity (ROE) Return Saham

 
 

II-21
 

 
II.7.3. Hubungan Inflasi dengan Return saham
 
Inflasi merupakan kecenderungan kenaikan harga barang-barang secara
 
umum yang terjadi terus menerus. Hal ini tentu saja akan mempengaruhi kenaikan
biaya
  produksi pada suatu perusahaan. Biaya produksi yang tinggi tentu saja akan

  membuat harga jual barang naik, sehingga akan menurunkan jumlah penjualan
yang akan berdampak buruk terhadap kinerja perusahaan yang tercermin dengan
 
turunya Return Saham perusahaan tersebut.
 
Dari penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh negatif
dari  perubahan tingkat inflasi yang tidak diantisipasi sebelumnya terhadap return
  saham. Sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Abdul Karim
(2015) pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)
menyatakan bahwa secara signifikan terdapat pengaruh negatif inflasi terhadap
return saham.
Sehingga hipotesis dalam penelitian ini adalah inflasi mempunyai
pengaruh negatif signifikan terhadap return saham.
H3: Inflasi berpengaruh negatif yang signifikan terhadap Return Saham
-, Signifikan
Inflasi Return Saham

II.8. Penelitian Terdahulu


Risdiyanto (2016) dalam penelitian yang dilakukannya diperoleh hasil
bahwa secara simultan variabel ROI, EPS dan PER secara bersama-sama
berpengaruh terhadap return saham. Dengan hasil koefisien determinasi didapat
bahwa pengaruh ROI, EPS dan PER trhadap return saham sangat rendah. Dan
hasil uji secara parsial diperoleh bahwa PER berpengaruh signifikan terhadap
return saham, Sedangkan ROI dan EPS tidak berpengaruh terhadap return saham.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Abdul Karim (2015), earning
per share (EPS) tidak berpengaruh terhadap return saham, Dividend per Share
berpengaruh positif terhadap return saham. Pembagian dividen akan memberikan
dampak pada harga saham. Peningkatan pembagian dividen ini akan membuat
investor menjadi tertarik untuk berinvestasi pada perusahaan tersebut karena

 
 

II-22
 

 
menginginkan peningkatan dividen yield, struktur modal tidak berpengaruh
 
terhadap return saham, profitabilitas berpengaruh positif terhadap return saham,
 
inflasi berpengaruh negatif terhadap return saham, suku bunga berpengaruh
positif
  terhadap return saham, nilai tukar berpengaruh positif terhadap return
  saham dan peningkatan profit ini biasanya akan direspon dengan baik oleh pasar
yang biasanya akan meningkatkan harga saham. Penguatan harga saham ini akan
 
meningkatkan return saham perusahaan.
 
Neni Awika et al. (2016) menyatakan bahwa berdasarkan penelitian yang
dilakukan
  pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI, diperoleh hasil
  bahwa ROE mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap return
saham, PER mempunyai pengaruh yang negatif dan signifikan terhadap return
saham, TATO tidak mempunyai pengaruh dan tidak signifikan terhadap return
saham, dan PBV mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap
return saham.
Susiani (2016) dalam penelitiannya menemukan bahwa variabel ROE,
EPS, DER, PBV, Inflasi dan Suku Bunga secara simultan (serempak) berpengaruh
signifikan terhadap return Saham. ROE, PBV, Inflasi dan Suku Bunga secara
parsial tidak berpengaruh terhadap return Saham, sedangkan EPS, DER
berpengaruh signifikan terhadap return Saham. Diantara semua variabel bebas
yang diteliti, EPS merupakan variabel yang berpengaruh dominan terhadap return
Saham.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Suyanto (2007) menunjukkan bahwa
nilai tukar uang berpengaruh negatif terhadap return saham, hal tersebut berarti
return saham sensitif terhadap nilai tukar dengan arah negatif yang menunjukkan
perubahan return saham akan meningkat jika nilai tukar uang menurun. Suku
bunga berpengaruh negatif terhadap return saham. Return saham sensitif terhadap
suku bunga dengan arah negatif yang menunjukkan perubahan return saham akan
meningkat jika suku bunga menurun. Inflasi berpengaruh positif terhadap return
saham.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Michael B. Mahilo dan
Tommy Parengkuan (2015) pada perusahaan makanan dan minuman yang go

 
 

II-23
 

 
public di bursa efek Indonesia menunjukan bahwa risiko suku bunga tidak
 
berpengaruh signifikan terhadap return saham. Risiko inflasi tidak berpengaruh
 
signifikan terhadap return saham.
  Tabel II.1 Penelitian Terdahulu
Nama dan
  Variabel dan
Tahun Judul Hasil
Metode Penelitian
Peneliti
  Hani Pengaruh Return Variabel Berdasarkan hasil
Fitriani on Equity (ROE) independen: penelitian menunjukan
(2015)
  dan Earning Per Return on equity bahwa antara ROE dan EPS
Share (EPS) (ROE) dan earning dengan return saham
  terhadap Return per share (EPS) memiliki korelasi berarah
Saham (Pada positif, itu berarti bahwa
  Perusahaan Variabel dependen: ROE dan EPS berpengaruh
Manufaktur Sektor Return saham terhadap return saham pada
Food and perusahaan manufaktur
Beverrage Yang Metode penelitian: sektor food and beverage
Terdaftar di Bursa Metode penelitian yang terdaftar di busa efek
Efek Indonesia kuantitatif dengan indonesia
Periode 2012-2013 analisis regresi
linear berganda
Risdiyanto Pengaruh ROI, Variabel Berdasarkan hasil
(2016) EPS, dan PER Independen: penelitian menunjukan
terhadap Return Return on bahwa secara simultan
Saham Pada Investment (ROI), ROI, EPS, dan PER secara
Perusahaan earning per share bersama-sama berpengaruh
Farmasi yang (EPS), dan price terhadap return saham ,
terdaftar di Bursa earning ratio (PER) namun hasil uji secara
Efek Indonesia parsial diperoleh bahwa
Periode 2010-2014 Variabel dependen: PER berpengaruh
Return saham signifikan terhadap return
saham sedangkan ROI dan
Metode penelitian: EPS tidak berpengaruh
Metode penelitian terhadap return saham
kuantitatif dengan
analisis regresi
linear berganda

Abdul Analisis Pengaruh Variabel Sebagai faktor internal


Karim Faktor Internal dan Independen: earning per share (EPS)
(2015) Eksternal terhadap Earning per share dan struktur modal tidak
Return Saham (EPS), dan dividen berpengaruh terhadap
Perusahaan per share (DPs), return saham, dividen per
Manufaktur yang struktur modal, share (DPS) dan
Terdaftar di Bursa profitabilitas, profitabilitas berpengaruh
Efek Indonesia tingkat inflasi, positif terhadap return
(BEI) Periode tingkat suku bunga, saham, sedangkan sebagai
2010-2012 dan nilai tukar faktor eksternal inflasi

 
 

II-24
 

 
Nama dan
  Variabel dan
Tahun Judul Hasil
Metode Penelitian
Peneliti
  (kurs) berpengaruh negatif
terhadap return saham
  Variabel dependen: sedangkan suku bunga
Return saham dan nilai tukar (Kurs)
 
berpengaruh positif
Metode penelitian:
  terhadap return saham
Metode penelitian
kuantitatif dengan
  analisis regresi
linear berganda
 
Neni Pengaruh Return Variabel Berdasarkan penelitian
Awika, On Equity (ROE), independen: yang dilakukan, maka
  Kharis Price Earning Return On Equity diperoleh hasil bahwa ROE
Raharjo, Ratio (PER), Total (ROE), Price mempunyai pengaruh yang
dan Rita Asset Turn Over Earning Ratio positif dan signifikan
Andini (TATO), dan Price (PER), Total Asset terhadap return saham,
(2016) To Book Value Turn Over (TATO), PER mempunyai pengaruh
(PBV) terhadap dan Price To Book yang negatif dan signifikan
Return Saham Value (PBV) terhadap return saham,
Pada Perusahaan TATO tidak mempunyai
Manufaktur Sektor Variabel dependen: pengaruh dan tidak
Makanan dan Return saham signifikan terhadap return
Minuman yang saham, dan PBV
Terdaftar di BEI Metode penelitian: mempunyai pengaruh yang
Periode 2008-2014 analisis regresi positif dan signifikan
linear berganda terhadap return saham.
Susiani Analisis Pengaruh Variabel ROE, EPS, DER, PBV,
(2016) Faktor-Faktor Independen: inflasi, dan suku bunga
Internal Dan Return On Equity secara simultan (serempak)
Eksternal (ROE), Earning Per berpengaruh signifikan
Terhadap Return Share (EPS), Debt terhadap return saham.
Saham Pada To Equity, Price To ROE, PBV, inflasi, dan
Perusahaan Book Value (PBV), suku bunga secara parsial
Property Dan Real Tingkat Inflasi berpengaruh terhadap
Estate Yang (Inflation), dan return saham, sedangkan
Terdaftar Di Bursa Tingkat Suku Bunga EPS dan DER berpengaruh
Efek Indonesia (Interest Rate) signifikan terhadap return
Periode 2012-2014 saham.
Variabel dependen:
Return saham

Metode penelitian:
analisis regresi
linear berganda

 
 

II-25
 

 
Nama dan
  Variabel dan
Tahun Judul Hasil
Metode Penelitian
Peneliti
 
Suyanto Analisis Pengaruh Variabel Berdasarkan penelitian
(2007) Nilai Tukar Uang, Independen: diperoleh hasil bahwa nilai
  Suku Bunga, Dan Nilai tukar uang, tukar uang berpengaruh
Inflasi Terhadap tingkat suku bunga, negatif terhadap return
  Return Saham dan tingkat inflasi saham, suku bunga
Sektor Properti berpengaruh negatif
  Yang Tercatat Di Variabel dependen: terhadap return saham, dan
Bursa Efek Jakarta Return saham inflasi berpengaruh positif
  Tahun 2001-2005 terhadap return saham.
Metode penelitian:
  analisis regresi
linear berganda
  Michael B. Dampak Risiko Variabel Kesimpulan dalam
Mahilo dan Suku Bunga, Independen: penelitian ini adalah rasio
Tommy Inflasi, Dan kurs Risiko suku bungs, tingkat suku bunga tidak
Parengkuan Terhadap Return inflasi, dan kurs berpengaruh signifikan
(2015) Saham Perusahaan terhadap return saham.
Makanan Dan Variabel dependen: inflasi tidak berpengaruh
Minuman Yang Return saham signifikan terhadap return.
Go Public Di Dan nilai tukar (kurs) tidak
Bursa Efek Metode penelitian: berpengaruh signifikan
Indonesia analisis regresi terhadap return saham pada
linear berganda perusahaan Makanan dan
Minuman (Food and
Beverages )yang go pubic
di Bursa Efek Indonesia.
Sumber : Jurnal ilmiah (data diolah kembali)

 
 

II-26
 

 
II.9. Kerangka Pemikiran
 
Berdasarkan kepada landasan teori yang telah dijabarkan dan hasil
 
penelitian sebelumnya serta permasalahan yang telah dikemukakan, maka sebagai
dasar
  perumusan hipotesis penulis menyajikan kerangka pemikiran yang

  dituangkan dalam model penelitian pada gambar berikut ini:

 
Keterangan:
Faktor-faktor eksternal Pengaruh Secara Simultan
  dan internal yang
Pengaruh Secara Parsial
mempengaruhi Return
  Saham

Earning Per Share (EPS)


(X1)

Return On Equity (ROE) Return Saham


(X2) (Y)

Inflasi
(X3)

Gambar II.3
Kerangka Pemikiran

Sumber : Dari berbagai sumber, diolah kembali

 
 

II-27
 

 
II.10. Hipotesis Penelitian
 
Hipotesis penelitian merupakan jawaban sementara terhadap rumusan
 
masalah penelitian, dimana rumusan maslah penelitian dinyatakan dalam bentuk
kalimat
  pertanyaan. Jadi hipotesis juga dapat dinyatakan sebagai jawaban teoritis
  terhadap rumusan masalah penelitian, belum jawaban yang empirik. (Sugiyono,
2017, hal. 64)
 
Berdasarkan uraian tersebut penulis mengemukakan hipotesis pada
 
penelitian ini secara parsial dan simultan sebagai berikut:
a.  Secara Parsial
   Earning Per Share (EPS) berpengaruh positif terhadap Return Saham
 Return On Equity (ROE) berpengaruh positif terhadap Return Saham
 Inflasi berpengaruh negatif terhadap Return Saham
b. Secara Simultan
Earning Per Share (EPS), Return On Equity (ROE), Inflasi, dan secara
bersama-sama berpengaruh terhadap Return Saham.