Anda di halaman 1dari 35

INTERPRETASI KOMBINASI LOG UNTUK MENENTUKAN ZONA

PRODUKTIF PADA SUMUR “X” LAPANGAN “Y”

PROPOSAL SKRIPSI

Oleh :
AFNAN MUKHTAR SYAUQI
113130008 / TM

PROGRAM STUDI TEKNIK PERMINYAKAN


FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
YOGYAKARTA
2017
INTERPRETASI KOMBINASI LOG UNTUK MENENTUKAN ZONA
PRODUKTIF PADA SUMUR “X” LAPANGAN “Y”

PROPOSAL SKRIPSI

Oleh :
AFNAN MUKHTAR SYAUQI
113130008 / TM

Disetujui untuk
Program Studi Teknik Perminyakan
Fakultas Teknologi Mineral
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta

Pembimbing I Pembimbing II

Dr. Ir. Drs. H. Herianto, MT M. Th. Kristiati EA, ST, MT


KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya sehingga
Proposal Skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Proposal Skripsi ini berjudul:
INTERPRETASI KOMBINASI LOG UNTUK MENENTUKAN ZONA
PRODUKTIF PADA SUMUR “X” LAPANGAN “Y”. Proposal ini disusun
untuk memberikan gambaran mengenai latar belakang, tujuan dan materi yang akan
dibahas didalam penyusunan skripsi di Jurusan Teknik Perminyakan, Universitas
Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta.
Pada kesempatan ini, tidak lupa penulis menyampaikan terima kasih
kepada:
1. Prof. Dr. Sari Bahagiarti K, MSc., selaku Rektor Universitas Pembangunan
Nasional “Veteran” Yogyakarta.
2. Dr. Ir. Suharsono, MT., selaku Dekan Fakultas Teknologi Mineral
3. Dr. Ir. Drs. H. Herianto, MT., selaku Ketua Jurusan Teknik Perminyakan
dan Dosen Pembimbing I.
4. Ir. Suwardi, MT., selaku Sekretaris Jurusan Teknik Perminyakan
5. M. Th. Kristiati EA, ST, MT., selaku Dosen Pembimbing II.
6. Semua pihak yang telah membantu hingga terselesaikannya penyusunan
proposal ini dapat selesai dengan baik.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan proposal ini masih terdapat
banyak kekurangan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang
membangun. Akhir kata, semoga proposal skripsi ini dapat bermanfaat bagi seluruh
pihak yang membutuhkan.

Yogyakarta, Mei 2017

Afnan Mukhtar Syauqi


I. JUDUL
INTERPRETASI KOMBINASI LOG UNTUK MENENTUKAN
ZONA PRODUKTIF PADA SUMUR “X” LAPANGAN “Y”

II. LATAR BELAKANG


Reservoir merupakan lapisan batuan yang berada dibawah permukaan bumi
sebagai tempat terakumulasinya hidrokarbon serta kemungkinannya untuk dapat
diproduksikan ke permukaan. Langkah terpenting untuk mengetahui karakteristik
suatu reservoir adalah dengan mengadakan evaluasi terhadap reservoir tersebut,
sehingga diperoleh data-data mengenai sifat fisik batuan dan fluida reservoir serta
kondisinya yang meliputi tekanan dan temperatur reservoir. Informasi data yang
telah diperoleh tersebut dapat digunakan untuk memperkirakan cadangan awal.
Pada dasarnya pengumpulan dan pengolahan data adalah operasi
pengambilan berbagai parameter dari sumur atau reservoir dengan suatu metode
tertentu, seperti logging, coring, kemudian parameter-parameter tersebut diolah dan
dianalisa menjadi data yang sebenarnya atau menjadi data yang representatif
terhadap sumur atau reservoir itu dengan menggunakan metode cut-off dan metode
statistik.
Sumur X, Lapangan Y, merupakan lapangan atau reservoir minyak.
Petrofisik adalah ilmu yang mempelajari sifat fisik batuan yang sangat penting.
Dengan mengetahui sifat fisik batuan (petrofisik), yakni porositas, saturasi, dan
permeabilitas dalam hal ini. Karena permeabilitas merupakan fungsi dari porositas,
maka sifat petrofiisik disini adalah porositas dan saturasi Porositas dan saturasi
ditambah geometri reservoir dan faktor volume formasi akan dapat memperkiakan
hidrocarbon ditempat mula-mula atau original hydrocarbon (OOIP atau OGIP).
Porositas, saturasi, dan permeabilitas, serta permeablitas relatif, dan sifat fisik
fluida, maka pengembangan lapangan dapat rencanakan. Begitu vital peran
porositas dan saturarasi seperti dibahas diatas, maka diperlukan metoda analisis
yang dapat menjawab atau memberikan porositas dan saturasi yang akurat sesuai
dengan kondisi asli dari reservoir.
III. PERMASALAHAN
Permasalahan Pada interpretasi kombinasi log untuk menentukan zona
produktif antara lain:
 Apakah dalam intepretasi log kuantitatif, proses koreksi data log sumur kajian
penting dilakukan?
 Berapakah nilai saturasi air dari metode Indonesia equation dan simandoux
equation?
 Apakah sumur tersebut prospek untuk diprosuksikan dan pada kedalaman
berpaka terdapat zona produktif?

IV. MAKSUD DAN TUJUAN


Maksud dari interpretasi water saturation ini yaitu untuk mengetahui
lapisan- lapisan porous permeable yang prospek dengan menggunakan 2 metode
yaitu metode Simandoux dan Indonesian equation.
Serta tujuan dari lnterpretasi water saturation ini adalah untuk mengetahui
motode apa yang cocok pada lapisan yang mengandung shaly sand untuk
menentukan zona prospek.

V. METODOLOGI PENELITIAN
Metodologi dalam penulisan ini adalah dengan cara mengevaluasi beberapa
parameter. Prosedur yang digunakan dalam studi ini dimulai dari
1. Pengumpulan Data:
a. Data Pemboran: Data cutting, Rm, Rmf, Rmc, BHT, Total kedalaman
sumur, Total kedalaman logging dan Marker formasi
b. Data Analisa Core: Core Rutine (Porositas batuan, Permeabilitas, Saturasi
Air), SCAL (Permeabilitas relatiif air, Permeabilitas relatif minyak,
Tekanan Kapiler, Sementasi batuan, Eksponen saturasi, Konstanta batuan)
c. Data Log: Pembacaan log lithology (SP Log, GR Log), Pembacaan log
resistivity (LM, lLD, MSFL), Pembacaan log porosity (RHOB, NPHI).
d. Data Tes PVT: Laboratorium Analisa air formasi (Rw).
2. Koreksi Data
Melakukan koreksi data log yang berupa koreksi gamma ray log, koreksi shale
baseline, neutron log, density log, resistivity log dan micro resistivity log.
3. Pengolahan Data
Melakukan pengolahan data yang diperoleh dari hasil pengumpulan data yang
selanjutnya digunakan untuk interpretasi logging, Hasil pengolahan data
sebagai berikut:
 Normalisasi gamma ray.
 Identifikasi lithology.
 Penentuan dan Input ρf, ∆tf, ρma, ∆tma, GRmin, GRmax, ρsh, ϕNsh ∆tsh, dan
Rsh.
 Penentuan metode perhitungan porositas yang sesuai dengan data core.
 Penentuan Rw yang diperoleh dari SP Log dan Pickett Plot.
4. Interpretasi logging kualitatif
a. Menentukan lapisan porous dan permeable dari pengamatan lithology
tools.
b. Menentukan kedalaman top dan bottom lapisan porous permeable
tersebut.
c. Memperkirakan kandungan fluida lapisan tersebut dengan mengamati
resistivity tools dan porosity tools.
5. Interpretasi logging kuantitatif manual
Menenetukan kandungan lempung (VShale) dengan metode Gamma ray Log,
Menentukan porositas corrected batuan dengan metode Neutron Density,
Menentukan saturasi air (Sw)
6. Menentukan prospek tidaknya lapisan yang ada didalam reservoir dengan data-
data yang sudah didapatkan dari interpretasi Log.
FLOW CHART UNTUK PRESSURE MAINTENANCE

Pengumpulan Data

Data Pemboran Data Log Data Core


- Rm, Rmf, BHT - Log Litholigy - Data Core Routine
- Total Kedalaman (GR log dan SP log) ( ɸ total, K, dan Sw)
Sumur - Log Resistivity - Data SCAL
- Total kedalaman (ILD, ILM, MSFL) (Krw,Kro, a, m, n)
logging - Log Porosity
- Data Cutting (RHOB dan NPHI)

Input Data

Korelasi Data
- Gamma ray log
- Share baseline
- Density Log
- Neutron Log
- Resistivity log
- Micro resistivity Log

Interpretasi Kuantitatif
Pengolahan data - Analisa Vclay
- Normalisasi Gamma ray
- Analisa Porosity dan Saturasi
- Identifikasi Lithology
- Penentuan metode
Penentuan Perhitungan
perhitungan Porositas dan
Intepretasi Kualitatif ɸ
Menentukan lapisan saturasi sesuai data core
- Penentuan Rw menggunakan 2 metode:
produktif dari data log - Penentuan data input ρf,
Indonesia Equation dan
∆tf, ρma, ∆tma, GRmin,
Simondaoux
GRmax, ρsh, ɸ Nsh,
- Penentuan Rw yang diperoleh
∆tsh, dan Rsh
dari SP log dan Picket plot

Hasil
Menentukan besarnya saturasi air
dengan metode Indonesia
Equation untuk menentukan
zona produuktif
VI. TINJAUAN PUSTAKA
6.1. Analisa Cutting
Analisa cutting digunakan untuk menentukan tanda-tanda adanya minyak
atau gas, juga untuk mendeskripsi lithologi batuan. Analisa cutting dilakukan tiap
interval kedalaman tertentu, contoh cutting diambil dan dianalisa secepat mungkin.
Dari analisa cutting ini dapat dibuat suatu korelasi antara hasil deskripsi sampel
dengan kedalaman. Dalam analisa cutting untuk menentukan adanya minyak atau
gas, sampel dapat dicuci maupun tidak dicuci terlebih dahulu.
Sampel dibersihkan untuk menghilangkan lumpur, kemudian dimasukkan
ke dalam larutan non-fluorosensi (CCl4). Cutting yang telah bersih ditempatkan
dalam mangkok (dish) dan diamati secara fluorosensi. Sedangkan untuk sampel
yang tidak dibersihkan/dicuci langsung ditumbuk dan selanjutnya dimasukkan
kedalam mangkuk yang berisi air, kemudian diamati secara fluorosensi. Hasil anlisa
cutting diperlukan untuk ahli geologi dalam menentukan tipe batuan serta pada
kedalaman berapa top formasi dijumpai.
6.2. Analisa Core
Core merupakan contoh batuan yang diambil dari formasi dan kemudian
dianalisa di laboratorium. Di laboratorium core tersebut disusun kembali sesuai
dengan nomor sampel dan urutan kedalamannya, baru kemudian dianalisa satu
persatu. Core tersebut minimal telah mengalami dua proses, yaitu proses pemboran
dan proses perubahan kondisi tekanan dan temperatur dari kondisi reservoir ke
kondisi permukaan. Dalam proses pemboran core dipengaruhi oleh air filtrat
lumpur sehingga akan mempengaruhi harga saturasi core. Pada proses perubahan
kondisi tekanan dan temperatur pengaruhnya banyak terjadi pada harga saturasi
core, akibat pengaruh ekspansi gas maka satuarasi akan menjadi berkurang.
Dari hasil coring, maka core yang didapat dapat dianalisa besaran-besaran
petrofisiknya di laboratorium. Analisa Core ada dua macam, yaitu analisa core rutin
dan analisa core spesial.
6.2.1. Analisa Core Rutin
Analisa core rutin yang dilakukan di laboratorium meliputi pengukuran
porositas, permeabilitas dan saturasi fluida.
6.2.1.1 Pengukuran porositas
Pengukuran porositas dilakukan dengan menentukan volume pori, volume
butiran dan volume bulk batuan. Metode yang digunakan untuk menentukan
volume pori-pori atau volume butiran antara lain : Boyle’s Law Porosimeter dan
Saturation Method.
6.2.1.2 Pengukuran saturasi
Pengukuran saturasi fluida dari core dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:
1. Metoda Retort
Metode ini menggunakan retort untuk meletakkan core sampel. Prinsip
kerja metode ini adalah dengan memanaskan core sampel pada 400oF
selama 20 menit sampai 1 jam, mengkondensasikan uap fluida dan
memisahkan dengan menggunakan centrifuge minyak dan air yang didapat.
Hasil kondensasi kemudian dicatat.
2. Metoda Destilasi
Prinsip kerja pengukuran saturasi menggunakan metode ini adalah
menghitung berat core sampel sebelum dijenuhi oleh toluene dan setelah
dijenuhi toluene.
6.2.1.3 Pengukuran Permeabilitas
Pengukuran permeabilitas dilakukan dengan menentukan permeabilitas
absolut dari sampel, yaitu dengan menggunakan alat permeability plug method
(fancher core holder). Holder ini digunakan untuk menempatkan core, hal ini
dikarenakan holder tersebut menutup satu sisi sehingga memberikan aliran yang
linier. Udara yang dialirkan melalui Core kemudian diukur tekanan masuk dan
keluarnya menggunakan manometer sebagai P1 dan P2.
6.2.2. Analisa Core Spesial
Analisa core special dapat digunakan untuk menentukan sifat-sifat batuan
seperti tekanan kapiler, kompresibilitas dan wettabilitas .
6.2.2.1 Pengukuran Tekanan Kapiler
Peralatan yang digunakan untuk pengukuran tekanan kapiler adalah
“Restored State Capillary Pressure Apparatus”. Prinsip kerja metode ini adalah
mengukur tekanan dan air yang keluar cell sampai tidak ada pertambahan air pada
suatu tekanan yang diberikan. Cara kerja dari metode ini adalah menjenuhi dengan
air core yang telah diketahui porositas dan permeabilitasnya.
6.2.2.2 Pengukuran Kompresibilitas
Pengukuran kompresibilitas batuan dapat ditentukan dengan menggunakan
korelasi dari grafik. Cara kerja metode pengukuran kompresibilitas batuan meliputi:
1. Menempatkan core yang telah dibersihkan dan dikeringkan pada heat
shrinkable tubing pada tes aparatus di bawah tekanan 200 psi.
2. Mengukur volume pori
3. Menjenuhi sample dengan air formasi ( brine )
4. Melakukan tes temperatur secara konstan ( dibawah tekanan reservoir)
5. Membuat plot antar volume pori versus net overburden pressure.
6.2.2.3 Pengukuran Wettabilitas
Wettabilitas suatu batuan dapat diketahui dengan melakukan pengukuran.
Cara kerja pengukuran wettabilitas meliputi:
1. Merendam sampel dan mengawetkan sampel dengan kertas perak ( foil )
dan lilin ( wax)
2. Melakukan pengetesan sampel terhadap suhu kamar
3. Melakukan pengetesan sampel terhadap sudut kontak pada kodisi ambient
temperatur ( temperatur medium terhadap lingkungan sekitarnya )
4. Mengukur sudut kontak dengan menggunakan contact angle apparatus,
selama 400 jam ( 2 minggu atau lebih ) agar mencapai kestabilan.
6.3. Wireline Log
Metode logging merupakan suatu operasi perekaman data secara kontinyu
yang bertujuan untuk mendapatkan sifat-sifat fisik batuan reservoir sebagai fungsi
kedalaman lubang bor yang dinyatakan dalam bentuk grafik. Data hasil perekaman
ini dinamakan log.
Banyak sekali tipe dari logging sumur yang digunakan untuk merekam data.
Prinsip perekaman log ini adalah dengan menggunakan suatu alat yang disebut
sonde, yang diturunkan dengan menggunakan sebuah kabel (wireline). Sinyal yang
ditangkap oleh sonde akan dikirim ke permukaan dengan menggunakan kabel
konduktor elektrik. Sesuai dengan tujuan dari logging yaitu mengumpulkan data
bawah permukaan agar dapat digunakan untuk melakukan penilaian formasi dengan
menentukan besaran-besaran fisik dari batuan reservoir (zona reservoir, kandungan
formasi, petrofisik reservoir, dan tekanan bawah permukaan), maka dasar dari
prinsip logging adalah sifat-sifat fisik atau petrofisik dari batuan reservoir itu
sendiri. Sifat-sifat fisik batuan reservoir tersebut dapat dibagi menjadi tiga bagian
besar, yaitu : sifat listrik, sifat radioaktif, dan sifat rambat suara (gelombang) elastis
dari batuan reservoir.
Metode logging tersebut antara lain: log listrik, log radioaktif, log akustik
dan log-log lainnya.
6.3.1. Log Listrik
Log listrik adalah salah satu cabang yang sangat penting dalam logging
sumur. Biasanya jenis log ini merekam data pada lubang sumur yang tidak di
casing, yaitu resistivitas dari formasi. Resistivitas dari formasi ini merupakan
petunjuk penting untuk mengenali litologi formasi dan kandungan fluidanya.
Dengan beberapa pengecualian yang jarang terjadi di lapangan minyak, seperti
halnya logam sulfida dan graphit, batuan kering merupakan isolator yang sangat
baik, tetapi ketika pori-porinya terisi oleh air maka akan mudah menghantarkan
listrik. Resistivitas dari formasi tergantung juga dari bentuk dan hubungan dari pori-
pori yang terisi oleh air.
6.3.1.1 Spontaneous Potential (SP) Log
Log ini mengukur perbedaan potensial listrik antara elektroda yang bergerak
sepanjang lubang bor dengan elektroda tetap dipermukaan.
Prinsip dari SP log ini adalah mengukur tegangan lapisan dengan fungsi
kedalaman. Tegangan lapisan dihasilkan dari respon suatu aliran arus kecil yang
menembus rangkaian sirkuit pada saat elektroda di dalam sumur bergerak ke atas.
Secara skematis ditunjukan dalam gambar 6.1. Elektroda M diturunkan ke dalam
lubang bor yang diisi lumpur bor yang bersifat konduktor, sedangkan elektroda N
ditanam pada lubang dangkal (di permukaan). Setelah sampai pada dasar lubang
bor, maka elektroda M ditarik perlahan-lahan sambil melakukan pencatatan
perubahan tegangan sebagai fungsi kedalaman (Beda potensial antara elektroda M
dalam lubang bor dengan elektroda N di permukaan). Dengan demikian terdapat
dua sumber yang menyebabkan defleksi SP log yaitu :
o Akibat tegangan dari serpih
o Akibat tegangan listrik yang ditimbulkan oleh perbedaan salinitas antara
lumpur dengan air formasi.
Dengan adanya kedua sebab di atas maka pencatatan beda potensial antara
elektroda M dan N dipengaruhi oleh lapisan yang berhadapan dengan elektroda M
pada saat elektroda ini ditarik. Pengaruh lain adalah permebilitas relative dari zona
tapisan lumpur. Jika pengukuran SP log melalui lapisan yang cukup tebal dan bersih
dari clay, maka kurva SP akan mencapai maksimum. Defleksi kurva yang demikian
disebut Statik SP atau SSP,yang dapat dituliskan dalam persamaan :
460  Tf Rmf
SSP   K log ………………………………..…… (6-1)
537 Rw
keterangan :
SSP = Statik Spontaneous potensial, mv
K = konstanta lithologi batuan ( = 70,7 pada 77 oF )
Tf = temperatur formasi, oF
Rmf = tahanan filtrat air lumpur, ohm-m
Rw = tahanan air formasi, ohm-m
SP log berguna efektif bila digunakan pada kondisi lumpur water base mud
dan tidak dapat berfungsi pada lumpur oil base mud, karena lumpur ini bersifat non
konduktif. SP log biasanya digunakan pada sumur yang belum di casing (open
hole).
SP log berguna untuk mendeteksi lapisan-lapisan yang porous dan
permeabel, menentukan batas-batas lapisan, mengestimasi harga tahanan air
formasi (Rw) dan dapat juga untuk korelasi batuan dari beberapa sumur
didekatnya.
Defleksi kurva dari SP log dipengaruhi oleh dua faktor yaitu :
1. Lithologi
a. Shale/Clay, bentuk kurva SP lurus dan merupakan dasar garis atau disebut
juga Shale base line.
b. Lapisan kompak, Defleksi kurva akan mengecil mendekati Shale base line
tergantung tingkat kekompakan batuan.
c. Lapisan Shaly, Memperkecil defleksi kurva SP mendekati Shale base line.
d. Lapisan permeable, Defleksi kurva bisa positif ataupun negatif tergantung
kandungan fluidanya.

Gambar 6.1.
Skema dasar rangkaian SP Log
(Helander. D P., 1983)
2. Kandungan
a. Air tawar, defleksi SP positif.
b. Air asin , defleksi SP negatif.
c. Hdrokarbon , defleksi SP negatif.
6.3.1.2 Resistivity Log
Resistivity Log adalah suatu alat yang dapat mengukur tahanan batuan
formasi beserta isinya, yang mana tahanan ini tergantung pada porositas efektif,
salinitas air formasi dan banyaknya hidrokarbon dalam pori-pori batuan.
Kurva yang terbentuk pada resistivity log adalah sebagai akibat dari
pengukuran tahanan listrik formasi dengan dua atau tiga elektroda yang diturunkan
kedalam lubang bor. Dibanding dengan metode kurva SP log maka resistivity log
lebih rumit dan kompleks, karena peralatan yang mempunyai elektroda ganda dan
juga menggunakan sumber arus listrik.
1. Normal Log
Normal log merupakan jenis dari resistivity log yang menurut spasi sonde
nya dapat dibedakan menjadi short normal log dan long normal log. Short normal
log memiliki spasi sonde 0.4 m ( 16” ) dan digunakan untuk mengukur resistivitas
pada zona invasi. Long normal log memiliki spasi sonde 1.6 m ( 64” ) dan
digunakan untuk mengukur resistivitas dari zona uninvaded ( Rt ). Rangkaian dasar
dari normal log dapat dilihat pada gambar 6.2. Gambar tersebut menjelaskan bahwa
log normal mempunyai empat buah elektroda yaitu elektroda A dan B yang dialiri
arus listrik dengan intensitas dan dua elektroda potensial (M dan N). Alat ini
memberikan hasil yang optimum pada water base mud, tebal lapisan >50 ft,
resistivity batuan rendah-menengah dan lubang bor belum dicasing.

Gambar 6.2.
Skema Diagram Normal Log
(Helander. D P., 1983)
2. Indction Log
Tujuan dari induction log adalah mendeteksi lapisan-lapisan tipis yang jauh
untuk menentukan harga Rt dan korelasi, tanpa memandang jenis lumpur
pemborannya. Skema dasar induction log terlihat pada Gambar 6.3.

Gambar 6.3.
Skema Rangkaian Dasar Induction Log
(Helander. D P., 1983)

Prinsip kerja dari induction log adalah suatu arus bolak-balik dengan
frekuensi kurang lebih 2000 cps yang mempunyai intensitas konstan dikirimkan
melalui transmitter, yang menimbulkan suatu medan elektromagnet. Medan
elektromagnet ini akan menginduksi arus dalam lapisan formasi, sedangkan arus
tersebut mengakibatkan pula medan magnetnya menginduksi receiver. Besarnya
medan magnet yang terjadi sebanding dengan konduktivitas formasi. Pembacaan
yang dicatat oleh penerima dapat dikorelasikan antara konduktivitas dan
resistivitas, dimana skala konduktivitas sering dinyatakan dengan miliohms
(1/ohms).
3. Laterolog
Alat ini mengukur harga Rt terutama pada kondisi dimana pengukuran Rt
dengan induction log akan mengalami banyak kesalahan. Karena bersifat
memfokuskan arus kedalam formasi maka pada lapisan tipis sekalipun hasilnya
jauh lebih baik dari pada alat normal maupun lateral.
Laterolog ini dimaksudkan untuk dapat menghilangkan sebanyak mungkin
pengaruh lubang bor, ketebalan lapisan, dan adanya perbatasan-perbatasan antar
lapisan sehingga diperoleh hasil yang lebih teliti.
Berdasarkan jumlah elektroda dan tahanan formasi yang diukur maka
laterolog dibagi menjadi Laterolog 3 (LL3), Laterolog 7 (LL7), Deep Laterolog
(LLd). Ketiga jenis laterolog ini merupakan tipe untuk Rt, sedangkan tipe untuk Ri
adalah Shallow Laterolog (LLs), dan tipe untuk Rxo adalah Laterolog 8 (LL8) dan
Spherically Focused Log (SFL).

Gambar 6.4.
Skema Diagram Lateral Sistem
(Helander. D P., 1983)

4. Microresistivity Log
Microresistivity log direkam dari perhitungan yang dibuat pada volume
yang kecil yang berada disekitar lubang bor yang berisi lumpur yang konduktif.
Tujuannya adalah menentukan Rxo dan sebagai indikator lapisan porous dan
permeabel yang ditandai dengan adanya mud cake. Hasil dari pembacaan Rxo
dipengaruhi oleh tahanan mud cake dan ketebalan mud cake. Ada empat
microresistivity log yaitu microlog (ML) sebagai kualitatif tool, Microlaterolog
(MLL), Proximity Log (PL) dan Micro SFL (MSFL). Tiga peralatan terakhir sesuai
dengan kondisi resistivitas lumpur tertentu, ketebalan mud cake dan diameter invasi
untuk memberikan pembacaan yang baik terhadap Rxo.
Dari keempat log di atas, hanya kombinasi micro log dengan caliper log
yang dapat mendeteksi adanya lapisan porous dan permeabel, ketebalam lapisan
produktif, dan ketebalan mud cake.

6.3.2. Log Radioaktif


Radioaktif log dapat dioperasikan dalam keadan cased hole (sesudah casing
dipasang) maupun open hole (lubang terbuka). Ada tiga macam jenis log radioaktif
yaitu :
1. Gamma ray log
2. Density log
3. Neutron log
Dari tujuan pengukuran dibedakan menjadi alat pengukur lihtologi seperti
gamma ray log dan alat pengukur porositas seperti neutron log dan density log.
Hasil pengukuran alat porositas dapat digunakan pula untuk mengidentifikasi
lithologi batuan dengan hasil yang sangat memadai.
6.3.2.1 Gamma ray Log
Gamma ray log adalah suatu kurva yang menunjukkan besaran intensitas
radioaktif yang ada dalam formasi. Prinsip dasar dari gamma ray log adalah
mencatat radioaktif alamiah yang dipancarkan oleh 3 unsur radioaktif yang ada
dalam batuan yaitu : Uranium (U), Thorium (Th), Potasium (K). Ketiga unsur
tersebut secara kontinyu memancarkan sinar gamma ray yang mempunyai energi
radiasi tinggi. Gambar 6.5. menunjukkan detektor gamma ray jenis Scintillation
Counter yang memberikan gambaran proses deteksi dari alat tersebut.
Pada batuan sedimen unsur-unsur radioaktif banyak terkonsentrasi dalam
shale atau clay, sehingga besar kecilnya intensitas radioaktif akan menunjukkan ada
tidaknya mineral-mineral clay.
Pada lapisan permeabel yang clean, kurva gamma ray menunjukkan
radioaktif yang sangat rendah, terkecuali lapisan tersebut mengandung mineral-
mineral tertentu yang bersifat radioaktif atau lapisan berisi air asin yang
mengandung garam-garam potasium yang terlarutkan, sehingga harga gamma ray
akan tinggi.
Untuk memperkirakan kandungan clay ditunjukkan dalam persamaan
berikut:
GR  GRmin
V clay = ............................................................................. (6-2)
GRmax  GRmin
keterangan :
GR = Radioaktivitas yang dibaca pada log
GRmin = Radioaktivitas yang dibaca pada clean formation
GRmax = Radioaktivitas yang dibaca pada shale atau clay

Gambar 6.5.
Skema Susunan Alat Gamma ray Log
(Helander. D P., 1983)

6.3.2.2 Neutron Log


Neutron adalah suatu partikel listrik yang netral dan mempunyai massa yang
hampir sama dengan massa atom hidrogen. Suatu energi tinggi dari neutron
dipancarkan dari sumber radioaktif (plutonium-berylium atau americium-
beryllium) secara terus menerus dan konstan, akibat adanya tumbukan dengan inti-
inti elemen di dalam formasi maka neutron mengalami sedikit hilang energi,
dimana besarnya hilang energi ini tergantung pada banyak sedikitnya jumlah
hidrogen dalam formasi. Rangkaian peralatan neutron-gamma log ditunjukkan pada
gambar 6.6.

Gambar 6.6.
Skema Rangkaian Dasar Neutron Log
(Helander. D P., 1983)
Jenis neutron log yang sering digunakan adalah Compensated Neutron Log
( CNL ). Jenis ini dapat digunakan pada kondisi open hole maupun cased hole.
Porositas neutron dapat ditentukan dengan persamaan :
 N= 1.02  Nlog + 0.0425 ........................................................ (6-3)
Besarnya porositas neutron harus dikoreksi terhadap adanya kandungan shale/clay
dalam formasi. Besarnya porositas neutron koreksi dapat ditentukan dengan
menggunakan persamaan berikut :
 Ncorr =  N – ( Vclay x  Nclay ) ............................................. (6–4)
keterangan :
 N = porositas neutron
 Nlog = porositas yang terbaca pada neutron log
Vclay = volume clay ( GR log )
6.3.2.3 Density Log
Density log adalah log porositas yang mengukur elektron density dari
formasi. Density log sangat penting karena dapat digunakan untuk:
1. Menentukan “densitas” porositas yang mana sangat diperlukan dalam
modern interpretation.
2. Menentukan litologi dan nilai porositas yang baik, jika digabungkan dengan
neutron atau sonik log.
3. Mendeteksi keberadaan gas di dalam zona invasi karena gas menyebabkan
penurunan yang tajam dari densitas dan karena itu memperlihatkan
“densitas porositas” yang tidak normal.
Di samping itu density log mempunyai kegunaan yang lain, yaitu: dapat
mendeteksi adanya hidrokarbon atau air bersama-sama dengan neutron log,
menentukan besarnya densitas hidrokarbon dan membantu studi dalam evaluasi
lapisan shaly.

Gambar 6.7.
Skema Rangkaian Dasar Density Log
(Helander. D P., 1983)
Dalam density log kurva dinyatakan dalam satuan gr/cc, karena energi yang
diterima oleh detektor dipengaruhi oleh matrik batuan ditambah kandungan yang
ada dalam pori-pori batuan, maka satuan gr/cc merupakan besaran “bulk density”
batuan, dimana dipengaruhi oleh faktor batuan yang sangat kompak serta batuan
yang homogen dengan porositas tertentu. Porositas batuan dapat ditentukan dengan
persamaan:
 ma   b
 D= .......................................................................... (6–5)
 ma   f
Penentuan porositas batuan pada formasi batuan yang mengandung clay / shale
membutuhkan koreksi. Persamaan yang menunjukkan adanya koreksi adalah :
 ma   clay
 Dclay= ................................................................... (6–6)
 ma   f
 Dcorr=  D – ( Vclay x  Dclay ) ................................................ ..(6–7)
keterangan :
b = densitas bulk yang dibaca pada log, gr/cc

 ma = densitas metrik batuan, gr/cc


( untuk sandstone adalah 2.65, limestone adalah 2.71 )
f = densitas rata-rata fluida, (1.0 – 1.1 gr/cc untuk filtrat lumpur), gr/cc

 = porositas ,fraksi
 Dclay= densitas clay, gr/cc (didapat dari lapisan shale yang terdekat
dengan lapisan yang prospek)

6.3.3. Log Sonic


Sonik log merupakan rekaman waktu yang diperlukan oleh gelombang suara
untuk merambat melalui formasi. Kecepatan rambat suara biasanya dikenal sebagai
internal transite time (t). Interval waktu transite didefenisikan sebagai waktu yang
diperlukan oleh gelombang suara untuk menempuh jarak satu feet suatu bahan.
Peralatan dari sonik log (gambar 5.8) terdiri dari sebuah transmitter yang
melepaskan gelombang suara ke formasi, setelah melewati formasi diterima oleh 2
receiver. Perbedaan waktu tiba gelombang (two way travel time = t) diukur dan
dibagi dengan jarak (  s/m), untuk arah yang sebaliknya caranya sama untuk
menghilangkan efek lubang bor (dicari rata-ratanya). Perambatan suara di dalam
formasi tergantung dari matrik batuan, porositas batuan serta fluida dalam pori-pori.

Gambar 6.8.
Peralatan Log Sonik
(Helander. D P., 1983)

Perubahan yang sederhana juga diberikan untuk porositas :


 tma 
s  0.6251  ......................................................................... ..(6-8)
 tlog 

Semakin padat suatu lithologi maka t semakin rendah, Δt-fluida 620  s/m,
Δt-matrix : batupasir 184  s/m, batugamping 161  s/m, dolomite 144  s/m.
keterangan :
tlog = transite time yang dibaca pada log,  s/ft

tf = transite time fluida,  s /ft (189  s /ft untuk filtrat lumpur)

tma = transite time pada matrik batuan,  s /ft


Фs = porositas sonik dari formasi
Sonik log saat ini banyak diaplikasikan untuk :
1. Menemukan porositas di dalam lubang bor yang diisi oleh fluida
2. Menentukan porositas, litologi dan shaliness jika digunakan bersama-sama
dengan density dan neutron log
3. Memperkirakan kecepatan formasi untuk seismik
4. Mendeteksi zona fracture dengan menggunakan variable density
5. Memperkirakan jarak dari tekanan abnormal

6.3.5. Interpretasi Log


6.3.5.1 Analisa Kualitatif
Analisa kualitatif log yaitu pengamatan secara cepat terhadap lapisan
formasi yang diperkirakan produktif melalui hasil defleksi kurva rekaman yang
telah diperoleh. Hasil pengamatan dalam analisa ini berupa identifikasi lapisan
permeabel, ketebalan dan batas lapisan produktif, evaluasi shaliness dan kandungan
hidrokarbon yang ada.
Berdasarkan analisa kualitatif terdapat tiga log dasar yang diperlukan untuk
mengevaluasi formasi. Pertama diperlukan untuk memperlihatkan zona permeabel,
kedua memberikan harga resistivity dari formasi dan ketiga mencatat porositas dari
formasi. Yang termasuk di dalam jenis permeabel zone log adalah Spontaneous
Potential dan Gamma Ray, resistivity log adalah Microresistivity, Deep Laterolog,
Deep Induction dan porosity log adalah Density, Neutron dan Sonic Log.
Dalam pemilihan zona yang produktif, langkah pertama adalah menentukan
zona yang permeabel. Hal ini dapat dilakukan dengan meninjau log di track 1. Pada
log tersebut terlihat adanya suatu base line di sebelah kanan yang mengindikasikan
bahwa daerah tersebut adalah shale, daerah yang impermeabel dan tidak akan
berproduksi. Sedangkan garis yang ke arah kiri mengindikasikan clean zone yang
umumnya adalah sand dan limestone dan dapat beproduksi.
6.3.5.2 Analisa Kuantitatif
Analisa logging secara kuantitatif meliputi penentuan resistivitas air formasi
(Rw), penentuan resistivitas sebenarnya (Rt) dan resistivitas flushed zone (Rxo),
analisa porositas dan saturasi air (Sw) dan analisa permeabilitas.
A. Penentuan Resistivitas Air Formasi (Rw)
Ada beberapa metode yang digunakan untuk menghitung resistivitas air
formasi, yaitu :
1. Analisa Air Formasi
Pengukuran harga Rw dilakukan dipermukaan dari contoh air formasi dengan
melakukan pencatatan terhadap temperatur permukaan. Untuk mendapatkan
harga Rw pada temperatur formasi dimana contoh air formasi tersebut berasal
maka digunakan persamaan :
(T pengukuran  6.77)
Rw(Tf) = xRw (Ts ) ….. ............................................ ..(6-9)
(T formasi  6.77)

2. Metode SP
Langkah penentuan Rw dari metode SP adalah sebagai berikut :
 Menentukan temperatur formasi (Tf) dalam oF :
BHT  Ts
Tf = x Depth SSP + Ts ................................................... (6-10)
Depth Log

Keterangan : BHT = temperatur dasar lubang


Ts = temperatur permukaan
SSP = Statik SP
 Menentukan resistivitas filtrat lumpur (Rmf) pada temperatur formasi :
Ts  6.77
Rmf = x Rmf(Ts) .................................................................. (6-11)
T f  6.77

 Menentukan Rmfc : Rmfc = 0.85 x Rmf


 Menentukan konstanta SP : C = 61 + (0.133 x Tf)
 Menentukan Rwc dari SP :
Rmfc
Rwc = .................................................................................. (6-12)
10  ESP / C
B. Penentuan Resistivitas Sebenarnya dan Resistivitas Flushed Zone (Rt ;
Rxo)
Besarnya Rt dapat ditentukan dari hasil pengukuran daerah yang tidak
terinvasi dengan menggunakan Induction Log atau Dual Laterolog, sedangkan
untuk resistivity pada flushed zone (Rxo) menggunakan microresistivity log yaitu
MSFL.
C. Penentuan Kandungan Shale
Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk menentukan besarnya
kandungan shale. Hasil pengukuran dari metode-metode tersebut memberikan
harga yang berbeda-beda karena itu dipilih harga yang paling kecil.
1. Berdasarkan SP Log
SP Log
Vclay = 1 - .............................................................................. (6-13)
SSP
keterangan :
SP log = pembacaan kurva SP pada formasi yang dimaksud
SSP = harga pembacaan pada kurva SP maksimal.
2. Berdasarkan Resistivity Log
1/ b
 Rt clay 
Vclay =   ............................................................................... (6-14)
 Rt 
keterangan :
Rtclay = resistivity batuan shale/clay
Rt = resistivity batuan pada kedalaman yang dimaksud
Rt clay
b = 1, jika 0,5 < <1
Rt
Rt clay
b = 2, jika < 0,5
Rt
3. Berdasarkan Gamma ray Log
GRlog  GRmin
Vclay = ........................................................................ (6-15)
GRmax  GRmin
4. Berdasarkan Neutron Log
N
Vclay = ....................................................................................... (6-16)
 Nclay
D. Penentuan Porositas dan Saturasi Air
Penentuan porositas batuan dan saturasi air berkaitan dengan jenis formasi
dari suatu sumur. Formasi yang umum dijumpai adalah formasi clean sand dan
formasi shally sand.
1. Formasi Clean Sand
Porositas
 Porositas dari Neutron Log :
N = (1.02 x Nlog) + 0.0425 ................................................................ (6-17)
Persamaan diatas merupakan harga porositas neutron yang dikoreksi
terhadap formasi batupasir atau dolomite.
 Porositas Dari Density Log :
 ma   b
D = .................................................................................... (6-18)
 ma   f

keterangan : ma : densitas matrik batuan, gr/cc


f : densitas fluida (salt mud : 1.1 dan fresh mud : 1)
b : densitas bulk yang dibaca pada kurva density log
setiap kedalaman yang dianalisa, gr/cc.
 Porositas Dari Sonic Log
t log  t ma
s = ................................................................................. (6-19)
t f  t ma

keterangan :
Δt log = transit time yang diperoleh dari pembacaan defleksi kurva sonic
untuk setiap kedalaman,  sec/ft
Δt ma = transit time matrik batuan,  sec/ft
Δt f = transit time fluida (air),  sec/ft
 Porositas Rata-rata :
Porositas rata-rata didapat dengan menggunakan metode pintas, yaitu :
N  D
A = untuk minyak .................................................... (6-20)
2
2 N  7 D
A = untuk gas........................................................... (6-21)
9
Saturasi
a x Rw
S nw = ........................................................................................ (6-22)
 m x Rt
keterangan :
Rw = resistivitas air, ohm-m
Rt = true resistivity, ohm-m
n = exponential saturation faktor (n = 2)
Untuk formasi batupasir m=2 ; a = 0.81
Untuk formasi limestone dan dolomite m=2 ; a = 1.00
Humble m = 2.15 ; a = 0.62
2. Formasi Shally Sand
 Menentukan porositas dari Neutron Log yang dikoreksi terhadap Vclay :
Nc = N – (Vclay x Nclay) ....................................................................... (6-23)
 Menentukan porositas dari Density Log yang dikoreksi terhadap Vclay :
Dc = D – (Vclay x Nclay) ....................................................................... (6-24)
 Menentukan porositas dari kombinasi Density dan Neutron Log :
2 Nc  7 Dc
c = .................................................................................... (6-25)
9
 Menentukan harga saturasi air pada zona invasi lumpur (Sxo) :
  Vclay 
 1  m 
1  V 
clay 
2  c  2  xS n2 ............................................... (6-26)
   xo
Rxo Rclay 0.8 xRmf
 

 Menentukan saturasi hidrokarbon sisa (Shr) :


Shr = 1 - Sxo............................................................................................. (6-27)
 Menentukan porositas sebenarnya :
tc = c x [1 – (0.1 x Shr)] ....................................................................... (6-28)
 Menentukan saturasi air formasi :
  Vshale   5   2  Vshale 
2
 c  Rw 
S w   2        (Simandoux Eqution).…...(6-29)
    Rsh   Rt  Rw  Rsh 

  Vclay 
 1  m 
1  V 
clay 
2  c  2  n
  xS 2 (Indonesian Equation) ............. (6-30)
0.8 xRw 
w
Rt Rclay
 

E. Penentuan Permeabilitas
Suatu hubungan empiris yang umum antara permeabilitas dan porositas
dikemukakan oleh Wylie dan Rose, yaitu :
C x
k= y
.............................................................................................. (6-31)
S wi
Kemudian Tixier dan Timur menjabarkan rumus Wylie dan Rose ini
kedalam sesuatu yang dapat diterapkan pada hasil rekaman log sumur, antara lain:
1. Rumus Tixier :

1/2 3
k = 250 .................................................................. (6-32)
S wi

2. Rumus Timur :
 2.25
k1/2 = 100 ................................................................ (6-33)
S wi
VII. DATA YANG DIPERLUKAN
Tabel VII-1.
Data-data Yang Diperlukan Untuk Melakukan
Evaluasi Interpretasi Water Saturation
PARAMETER DATA
Data Pemboran - Rm, Rmf, BHT
- Total Kedalaman Sumur
- Total kedalaman logging
- Data Cutting
Data Log - Log Litholigy
(GR log dan SP log)
- Log Resistivity
(ILD, ILM, MSFL)
- Log Porosity
- (RHOB dan NPHI)
Data Core - Data Core Routine
( ɸ total, K, dan Sw)
- Data SCAL
(Krw,Kro, a, m, n)
VIII. RENCANA KEGIATAN
Dalam mengoptimalkan proses pengambilan data dan pengerjaan skripsi,
penulis merancang tahap pekerjaan skripsi ini sebagai berikut:
8.1. Judul Skripsi yang Diajukan
INTERPRETASI KOMBINASI LOG UNTUK MENENTUKAN ZONA
PRODUKTIF PADA SUMUR “X” LAPANGAN “Y”

8.2. Pelaksanaan Skripsi


Waktu : 3 Juli 2017 - 27 Agustus 2017
Tempat : PT. HALLIBURTON INDONESIA, SURABAYA

8.3. Data Diri


Adapun data diri mahasiswa yang akan melaksanakan kegiatan skripsi,
sebagai berikut:
Nama : Afnan Mukhtar Syauqi
NIM : 113130008
Prodi : Teknik Perminyakan, Fakultas Teknologi Mineral UPN
“Veteran” Yogyakarta
Alamat : Klayu 006 Timbulharjo Sewon Bantul Yogyakarta
Telepon : 089672733002
Email : afnanmukhtarsyauqi@gmail.com

8.4. Pembimbing
Untuk pembimbing di perusahaan/lapangan diharapkan dapat disediakan
oleh perusahaan, sedangkan untuk pembimbing di kampus adalah salah satu staff
pengajar pada Program Studi Teknik Perminyakan Universitas Pembangunan
Nasional “Veteran“ Yogyakarta.
Program kegiatan skripsi ini direncanakan berlangsung kurang lebih selama
2 bulan, diusulkan pada tanggal 3 Juli 2017 hingga 27 Agustus 2017. Adapun
rencana kegiatannya adalah sebagai berikut:
Tabel VIII-1.
Perencanaan Tahap Pekerjaan Skripsi

No MINGGU
KEGIATAN
I II III IV V VI VII VIII
1 Pengumpulan
Data
2 Analisa dan
Pengolahan Data
Analisa Hasil
Intepretasi Well
3 Logging Untuk
Menentukan
Zona Produktif
4 Laporan dan
Presentasi
IX. RENCANA DAFTAR ISI
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
HALAMAN PENGESAHAN
HALAMAN PERSEMBAHAN
KATA PENGANTAR
RINGKASAN
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR TABEL
DAFTAR LAMPIRAN
BAB I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
1.2. Maksud dan Tujuan
1.3. Metodologi
1.4. Sistematika Penulisan
BAB II. TINJAUAN UMUM LAPANGAN
2.1. Letak Geografis
2.2. Geologi Lapangan
2.2.1. Stratigrafi Lapangan
2.2.2. Struktur Geologi Lapangan
2.3. Karakteristik Reservoir
2.3.1. Sifat Fisik Batuan Reservoir
2.3.2. Sifat Fisik Fluida Reservoir
2.3.3. Kondisi Reservoir
2.4. Sejarah Produksi
BAB III. DASAR TEORI
3.1. Analisa Cutting
3.2. Analisa Core
3.2.1. Analisa Core Rutin
3.2.1.1. Porositas
3.2.1.2. Saturasi
3.2.1.3. Permeabilitas
3.2.2. Analisa Core Spesial
3.2.2.1. Penentuan Konstanta (a) dan sementasi (b)
3.2.2.2. Penentuan Eksponen Saturasi (n)
3.2.2.3. Permeabilitas Relative
3.2.2.4. Wetabilitas
3.2.2.5. Kompresibilitas
3.2.2.6. Tekanan Kapiler
3.3. Wireline Logging
3.3.1. Borehole Enviroment
3.3.2. Lithology Tools
3.2.2.1. Spontaneous Potential Log
3.2.2.2. Gamma ray Log
3.2.2.3. Caliper Log
3.3.3. Resistivity Tools
3.2.2.1. Lateralog
3.2.2.2. Induction Log
3.2.2.3. Microresistivity Log
3.3.4. Porosity tools
3.3.4.1. Density Log
3.3.4.2. Neutron Log
3.3.4.3. Kombinasi Density-Neutron Log
3.3.4.4. Sonic Log
3.4. Interpretasi logging
3.4.1. Interpretasi Kualitatif
3.4.2. Interpretasi Kuantitatif
BAB IV. INTERPRETASI WATER SATURATION PADA LAPISAN “X”
LAPANGAN “Y”
4.1. Ketersediaan Data
4.2. Input Data
4.3. Koreksi Data
4.4. Interpretasi Log
4.4.1. Interpretasi Kualitatif
4.4.2. Interpretasi Kuantitatif
4.4.2.1. Penentuan V clay
4.4.2.2. Penentuan Porositas
4.4.3. Penentuan Rw
4.4.4. Penentuan Saturasi Air
4.4.4.1. Penentuan Saturasi Air Indonesian Equation
4.4.4.2. Penentuan Saturasi Air Simandoux
4.4. Penentuan Zona Produktif dengan metode Indonesian
Equation Dan Simandoux Equation
BAB V. PEMBAHASAN
BAB VI. KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
X. RENCANA DAFTAR PUSTAKA
RENCANA DAFTAR PUSTAKA

1. Ahmed, Tarek H., “Reservoir Engineering Handbook: Third Edition”, Gulf


Publishing Company, Houston, Texas, Chapter 4 (190-195), 1989.
2. Alfosail, K.A., Alkaabi, A.U., “ Water Saturation In Shaly Formation”, Society
of Petroleum Engineers, Presented at Middle East Oil Show held in Bahrain,
15- 18 March, 1997.
3. Amyx, J.W., D.M. Bass, Jr. and R.L. Whiting, “Petroleum Reservoir
Engineering–Physical Properties”, McGraw-Hill Book Company, New York-
Toronto-London, Chapter 2 (100-109),1960.
4. Asquith, Georger and Krygowski, Daniel. “Basic Well Log Anlysis”. AAPG
Methods in Exploration Series, no.16. Austin. Texas. USA.. Chapter (125-
128), 2004
5. Bigelow L. Ed, ”Introduction to Wireline Log Analysis”, Baker Atlas, Houston,
Texas, 1992.
6. Carilat, A., Bora, D., et, al, “Intergrated Regional Interpretation And New
Insight on Petroleum System of South Sumatra Basin”, Society of Petroleum
Engineers, Presented at SPE Asia Pacific Oil and Gas Conference and
Exhibition held in Jakarta, Indonesia, 22–24 Oktober, 2003.
7. Dwiyono, Imam Fajri; Winardi, Sarju, “Kompilasi Metode Water Saturation
Dalam Evaluasi Formasi”, Prosiding Seminar Nasional Kebumian Ke-7,
Presented Seminar Nasional Kebumian Ke-7, 30-31 Oktober, 2014.
8. Desbrandes R., ”Encyclopedia of Well Logging”, Gulf Publishing Company,
Houston, Texas, 1985.
9. Fox, P.E., I. Setiadi, “Applications of Carbon/Oxygen Logging in Indonesian
Reservoirs”, Society of Petroleum Engineers, Presented at SPE Asia Pacific
Oil and Gas Conference and Exhibition, Jakarta, Indonesia, 20–22 April, 1999.
10. Harsono Adi, ”Evaluasi Formasi dan Aplikasi Log”, Schlumberger Oilfield
Service, Jakarta, 1997.
11. Kumar, K. C. Hari, “On the Application of Simandoux and Indonesian Shaly
SandResistivity Interpretation Models in Low and High Rw Regimes”,
Hyderarab, Presented at 8 th Biennial International Conference & Exposition
On petroleum Geophysics, 2010.
12. Pratama, Adi; Suharno; Zaenudin, Ahmad, “Analisis petrofisik Untuk
menentukan Potensi Hidrokarbon Pada Sumur ELP-23 Lapangan Prabumulih
Menggunakan Metode Inversi” Jurnal Geofisika Eksplorasi Universitas
lampung, Volume I (2013), ISSN : 2356-1599.
13. Rosyidan, Cahaya. Listiana Satiawati.,”Analisa Fisika Minyak (Petrophysics)
Dari Data Log Konvensional Untuk Menghitung Sw Berbagai Metode”,
Prosiding Seminar Nasional Fisika (E-Journal), Volume IV (2015), pe-ISSN:
2339-0654.