Anda di halaman 1dari 9

UNIVERSITAS PGRI MADIUN

FAKULTAS EKONOMI
PROGRAM STUDI MANAJEMEN

PENGAJUAN JUDUL SKRIPSI

Nama Mahasiswa : RANGGA GUMILAR


No Pokok Mahasiswa : 14.111.044
Program Studi : Manajemen
Fakultas : Ekonomi
Judul Skripsi :

ANALISIS KINERJA KEUANGAN BANK WOORI SAUDARA PASCA


KEPUTUSAN MERGER (STUDI KASUS PADA BANK WOORI SAUDARA,
Tbk. TAHUN 2015-2016)
ANALISIS KINERJA KEUANGAN BANK WOORI SAUDARA PASCA
KEPUTUSAN MERGER
(STUDI KASUS PADA BANK WOORI SAUDARA, Tbk. TAHUN 2015-2016)

A. Fenomena
Era globalisasi menuntut perusahaan saat ini untuk inovatif agar tetap
bertahan serta mampu bersaing dengan perusahaan lain. Untuk itu diperlukan
beberapa strategi perusahaan agar perusahaan dapat tetap bertahan serta terus
maju dan berkembang. Strategi internal yang dapat dilakukan dengan jalan
pengembangan produk, peluncuran produk baru atau menjaga dan
meningkatkan kualitas produk yang sudah ada. Strategi lain yang dapat
digunakan adalah strategi eksternal yang salah satunya dapat dilakukan dengan
mengadakan kerjasama dengan pihak ketiga atau penggabungan usaha melalui
merger.
Merger juga terjadi pada perusahaan di berbagai sektor agar mampu
bertahan di tengah berbagai kondisi ekonomi di Indonesia. Hal tersebut
menjadi salah satu strategi upaya perusahaan untuk meningkatkan kualitas
perusahaan sehingga diharapkan sesudah proses merger akan didapatkan
kinerja perusahaan yang lebih sehat termasuk kinerja keuangan. Pada bulan
Oktober 2006, Bank Indonesia mengeluarkan kebijakan kepemilikan tunggal
(single presence policy) dan mulai diimplementasikan pada tahun 2008 (pasal 8
butir 4 Peraturan Bank Indonesia No. 8/16/PBI/2006). Kebijakan kepemilikan
tunggal (single presence policy) adalah kebijakan yang melarang (termasuk
pemerintah) menjadi pemegang saham pengendali pada beberapa bank umum
yang beroperasi di Indonesia. Kebijakan kepemilikan tunggal (single presence
policy) adalah kebijakan yang mengatur agar bank-bank yang dimiliki oleh
perusahaan atau seseorang yang sama diharuskan untuk merger. Tujuannya
untuk meningkatkan efektivitas pengawasan dan mendorong konsolidasi
perbankan agar bank-bank memiliki modal yang kuat sehingga bank menjadi
lebih kuat, berdaya saing tinggi, mempunyai nilai dan berskala global.

1
Merger adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh satu PT atau lebih
untuk menggabungkan diri dengan PT lain yang telah ada dan selanjutnya PT
yang menggabungkan diri menjadi bubar (Hariyani, Serfiyanto, dan Yustisia,
2011). Penggabungan diri untuk menjadi satu bank besar melalui merger dalam
industri yang sama merupakan bagian dari upaya restrukturisasi yang
dilakukan perusahaan. Sinergi tersebut diharapkan dapat mewujudkan
pencapaian economies of scale dan financial economies, pemanfaatan
complementary economies, dan peningkatan market power. Dengan demikian,
merger menjadi strategi yang dipilih oleh perusahaan perbankan untuk dapat
merealisasikan sinergi yang memiliki hasil yang menjanjikan tersebut
(Chrismatani dan Prijati, 2014).
Salah satu bank yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sebagai salah satu
bank yang lahir dari proses merger adalah PT. Bank Woori Saudara, Tbk. Bank
ini merupakan bank hasil penggabungan antara PT. Bank Himpunan Saudara
1906 (Bank Saudara) dengan Bank Woori Indonesia pada tanggal 30 Desember
2014. Bank Saudara adalah Bank Umum Devisa yang telah tercatat di Bursa
Efek Indonesia dengan portofolio yang beragam dan fokus pada produk
perbankan ritel (retail banking), khususnya KUPEN (Kredit Pensiun) dan
KUPEG (Kredit Pegawai) di bidang perkreditan serta TASKA (Tabungan
Asuransi Berjangka) dan deposito ritel di bidang pendanaan. Sedangkan Bank
Woori Indonesia (BWI) adalah bank joint venture yang mayoritas sahamnya
dimiliki oleh Woori Bank, Korea. BWI memiliki beragam produk dan layanan
perbankan korporasi (corporate banking), termasuk ekspor, impor, deposit,
pinjaman, remittance, dan treasury. Produk-produk ini ditargetkan terutama
kepada perusahaan-perusahaan Korea dan perusahaan lokal. Penggabungan
kedua bank dalam proses merger ini diharapkan dapat menggabungkan
kekuatan Bank Saudara di segmen ritel dan kekuatan dari BWI di segmen
korporasi, meningkatkan struktur permodalan, memperluas jaringan usaha, dan
meningkatkan daya saing usaha.
Perusahaan perlu mengetahui apakah proses merger tersebut mempunyai
dampak yang positif terhadap kinerja perusahaan, khususnya kinerja keuangan.

2
Hal ini akan menjadi informasi bagi perusahaan bahwa proses merger antar
perusahaan telah efektif sebagai salah satu strategi bertahan perusahaan.
Kinerja keuangan merupakan rasio yang digunakan untuk menilai prestasi
perusahaan. Kinerja keuangan adalah dua data keuangan yang dihubungkan
dengan rasio profitabilitas (Asyikin & Tanu, 2011).
Secara teori, setelah merger ukuran perusahaan dengan sendirinya
bertambah besar karena asset dan kewajiban perusahaan digabung bersama.
Dasar logis dari pengukuran berdasarkan akuntansi adalah bahwa jika ukuran
bertambah besar ditambah dengan sinergi yang dihasilkan dari aktivitas-
aktivitas yang simultan, maka laba perusahaan juga akan semakin meningkat
(Payamta dan Setiawan, 2014). Oleh karena itu, kinerja setelah merger
seharusnya semakin baik dibandingkan dengan sebelum merger. Namun
demikian, pada beberapa kasus, merger dapat tidak berpengaruh sama sekali
pada kinerja keuangan perusahaan pengakuisisi bahkan menurunkan kinerja
perusahaan, dan ada juga beberapa merger dengan kinerja yang
memprihatinkan.
Penelitian terdahulu mengungkapkan pengaruh merger dan akuisisi
terhadap return on net worth (Verma & Sharma, 2013), return on asset
(Nedunchezhian & Premalatha, 2013), current ratio (Kumara &
Satyanarayana, 2013), quick ratio (Kumara & Satyanarayana, 2013), dan debt
to equity ratio (Shakoor, et al., 2014). Diantara faktor-faktor tersebut, debt to
equity ratio merupakan faktor yang paling banyak diteliti.
Pada penelitian yang dilakukan Chrismatani dan Prijati (2014) ditemukan
bahwa CAR, ROA, ROE, NIM, BOPO dan Cash Ratio PT Bank CIMB Niaga,
Tbk. setelah merger tidak mengalami peningkatan dibanding dengan sebelum
merger. BDR dan Deposit Risk PT Bank CIMB Niaga, Tbk. setelah merger
lebih baik dibandingkan dengan sebelum merger. Sedangkan LDR PT Bank
CIMB Niaga, Tbk. setelah merger justru lebih buruk dibandingkan dengan
LDR sebelum merger.
Penelitian yang dilakukan Edi dan Rusadi (2017) menunjukkan bahwa
perusahaan merger mengalami penurunan kinerja, debt to equity ratio

3
menunjukkan penurunan yang signifikan, dan rasio lainnya juga mendapat
penurunan, meskipun tidak signifikan. Di sisi lain, return on net worth dan
return on assets memiliki penurunan yang signifikan setelah akuisisi, kecuali
untuk current ratio yang memiliki penurunan yang tidak signifikan setelah
akuisisi. Quick ratio dan debt to equity ratio memiliki peningkatan yang tidak
signifikan setelah akuisisi.
Cahyati (2012) yang berjudul “Analisis Kinerja Keuangan Sebelum dan
Setelah Merger Pada PT Bank OCBC NISP Tbk dan Bank OCBC
INDONESIA”. Hasil penelitian menjelaskan bahwa hasil uji beda tersebut
dapat diketahui bahwa rasio keuangan bank yang menunjukkan signifikan beda
antara sebelum dan setelah merger adalah LDR, LAR, NIM, CAR. LDR dan
LAR mengalami peningkatan setelah merger, peningkatan tersebut
menunjukkan bahwa kemampuan likuiditas Bank OCBC NISP semakin
rendah. NIM tahun 2011 meningkat, ini menunjukkan bahwa kemampuan
Bank OCBC NISP dalam mengelola aktiva produktifnya guna menghasilkan
laba bersih semakin baik. CAR mengalami penurunan yang disebabkan oleh
meningkatnya ATMR, sehingga kecukupan modal yang dimiliki bank untuk
menunjang aktiva yang mengandung risiko semakin rendah.
Suwardi (2008) yang berjudul “Analisis Kinerja Keuangan Sebelum dan
Sesudah Merger pada PD BPR BKK Purwodadi”. Penelitian ini menggunakan
sampel yaitu semua BPR BKK Cabang yang melakukan merger tersebut
sejumlah 18 BPR BKK Cabang dengan pengambilan data laporan keuangan
dua tahun sebelum 31 Desember 2005 (saat tutup buku 2005) dan dua tahun
setelah tutup buku 31 Desember 2005. Penelitian ini menggunakan rasio
keuangan bank diantaranya adalah Net Interest Margin (NIM), Biaya
Operasional atau Pendapatan Operasional (BOPO), Return on Assets (ROA),
Non Performing Loans (NPL), dan Loan to Deposit Ratio (LDR). Hasil
penelitian ini menjelaskan bahwa secara umum dengan mendasarkan
perubahan pada rasio-rasio kinerja keuangan menunjukkan bahwa sesudah
merger terjadi peningkatan ROA, penurunan BOPO dan NPL, walaupun NIM
terjadi penurunan dan LDR terjadi peningkatan.

4
Syahrifudin (2011) yang berjudul “Analisis Keuangan Konsolidasi Bank
Permata Sebelum dan Setelah Merger Sebagai Bank Rekapitalisasi”. Objek
penelitian penulis adalah Bank Umum Swasta Nasional yang merger menjadi
Bank Permata yang ada di Indonesia. Bank tersebut adalah Bank Artamedia,
Bank Bali, Bank Patriot, Bank Prima Express, dan Bank Universal. Hasil
penelitian ini menjelaskan bahwa kinerja keuangan konsolidasi Bank Permata
setelah merger adalah bank dalam kondisi keuangan yang baik apabila dilihat
dari tingkat pencapaian CAR, DER, DTAR, LDR, LAR, ROA, ROE, dan
BOPO. Selain itu, apabila dilihat dari aspek permodalan Bank Permata yang
dicerminkan dengan CAR, CAR-nya telah melebihi batas minimum yang telah
disyaratkan oleh Bank Indonesia yaitu sebesar minimum 8% sehingga kinerja
Bank Permata dalam kondsisi sehat. Sementara itu, ROA, ROE, DER, dan
DTAR Bank Permata menunjukkan penurunannya dari tahun ke tahun. Apabila
dilihat dari segi LDR dan LAR Bank Permata mengalami peningkatan.
Sedangkan ROA dan BOPO Bank Permata mengalami penurunan meskipun
ROA-nya mengalami kenaikan sedangkan BOPO-nya mengalami penurunan.
Karena antara BOPO dan ROA mempunyai hubungan yang sangat erat dan
bertolak belakang.
Penelitian mengenai perubahan kinerja keuangan perusahaan yang
melakukan aktivitas merger dapat dinilai dengan melihat perubahan yang
terjadi pada kinerja keuangan perusahaan. Perubahan-perubahan kinerja
keuangan yang terjadi setelah perusahaan melakukan merger ini, dapat dilihat
dengan menganalisis rasio-rasio keuangan yang ada pada laporan keuangan
perusahaan yang bergabung. Pasca merger, kondisi posisi keuangan perusahaan
seharusnya mengalami perubahan. Kinerja merupakan kemampuan kerja yang
ditunjukkan dengan hasil kerja. Kinerja perusahaan merupakan sesuatu yang
dihasilkan oleh suatu perusahaan dalam periode tertentu dengan mengacu pada
standar yang telah ditetapkan. Untuk mengukur penilaian kinerja, terdapat
metode yang dapat digunakan perusahaan yaitu dengan menggunakan ukuran
keuangan dan non keuangan. Dalam penelitian ini, digunakan rasio-rasio
keuangan perusahaan sebagai alat ukur kinerja keuangan perusahaan. Dasar

5
logika dari pengukuran berdasar akuntansi adalah bahwa jika skala bertambah
besar ditambah dengan sinergi yang dihasilkan dari gabungan aktivitas-
aktivitas yang simultan, maka laba perusahaan juga semakin meningkat
sehingga kinerja perusahaan pasca merger seharusnya semakin baik
dibandingkan dengan sebelum merger dan akuisisi.
Tujuan menggabungkan usaha malalui merger diharapkan dapat
meningkatkan kinerja perusahaan. Kinerja perusahaan mengintepretasikan
prestasi yang dicapai perusahaan dalam periode tertentu yang mencerminkan
tingkat kesehatan perusahaan. Guna menilai kinerja perusahaan digunakan
rasio-rasio keuangan. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu
adalah rasio keuangan dan periode penelitian yang digunakan. Penelitian ini
menggunakan analisis CAMEL untuk mengukur kinerja keuangan dengan
periode penelitian dua tahun sebelum dan sesudah merger. Selain itu, penelitian
ini menggunakan sampel tunggal, yaitu PT. Bank Woori Saudara, Tbk. yang
melakukan merger karena kebijakan Bank Indonesia nomor 8/16/PBI/2006
tentang kepemilikan tunggal. Persamaan penelitian ini dengan penelitian
terdahulu adalah membandingkan kinerja keuangan sebelum dan sesudah
merger, objek penelitian yang digunakan adalah perusahaan sektor perbankan,
dan variabel-variabel yang memiliki kesamaan untuk mengukur kinerja
keuangan yaitu Loan to Deposit Ratio (LDR), Return On Asset (ROA), dan
Biaya Operasional atau Pendapatan Operasional (BOPO).

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah dari penelitian ini
adalah sebagai berikut: “Apakah terdapat perbedaan Loan to Deposit Ratio
(LDR), Return On Asset (ROA), dan Biaya Operasional atau Pendapatan
Operasional (BOPO) pada PT. Bank Woori Saudara, Tbk. sebelum dan setelah
merger periode 2012-2014 dan 2015-2016?”

6
C. Daftar Pustaka
Asyikin, J., & Tanu, V. S. 2011. Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan
Antara Perusahaan Farmasi Milik Pemerintah (BUMN) Dengan
Perusahaan Farmasi Swasta Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia.
Jurnal Spread. Vol. 1. No 1. hal. 36-48.
Cahyati, E. N. 2012. Analisis Kinerja Keuangan Sebelum dan Setelah Merger
Pada PT Bank OCBC NISP, Tbk. dan Bank OCBC Indonesia. Jurnal
Skripsi Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma. (online). Diakses dari
http://library.gunadarma.ac.id/repository/view/3746192. Desember 2017.
Chrismatani, Hanna Herwiyan dan Prijati. 2014. Analisis Kinerja Keuangan
Sebelum dan Sesudah Merger dengan Menggunakan Metode CAMEL.
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen. Vol. 3 No. 3. hal. 1-20.
Edi dan Rusadi, Sylvia. 2017. Analisis Pengukuran Kinerja Keuangan Pasca
Merger dan Akuisisi Pada Perusahaan Yang Terdaftar di BEI. Jurnal
Benefita. Vol. 2. No. 3. hal. 230-242.
Hariyani, I., Serfianto, R., & Yustisia, C. 2011. Merger, Konsolidasi, Akuisisi
& Pemisahan Perusahaan Cara Cerdas Mengembangkan & Memajukan
Perusahaan. Jakarta: Visimedia.
Kumara, M. N. V. dan Satyanarayana. 2013. Comparative study of pre and post
corporate integration through mergers and acquisition. International
Journal of Business and Management Invention, 2(3), 31-38.
Nedunchezhian, V. R., & Premalatha, MS. K. 2013. Analysis and impact of
financial performance of commercial banks after mergers in India.
International Journal of Marketing, Financial Services & Management
Research, 2(3). pp. 1-9.
Payamta dan Setiawan, Doddy. 2014. Analisis Pengaruh Merger dan Akuisisi
Terhadap Kinerja Perusahaan Publik di Indonesia. Jurnal Riset Akuntansi
Indonesia. Vol. 7. No. 3. hal. 265-282.
Peraturan Bank Indonesia No. 8/16/PBI/2006 tentang Kebijakan Kepemilikan
Tunggal.
Shakoor, M. I., Nawas, M., Asab, M. Z., & Khan, W. A. 2014. Do mergers and
acquisitions vacillate the banks performance? (Evidence from Pakistan
banking sector). Research Journal of Finance and Accounting, 5(6). pp.
123-127.
Suwardi. 2008. Analisis Kinerja Keuangan Sebelum dan Sesudah Merger pada
PD BPR BKK Purwodadi. Tesis. Semarang: Program Pasca Sarjana
Universitas Diponegoro.

7
Syahrifudin, S. 2011. Analisis Keuangan Konsolidasi Bank Permata Sebelum
dan Setelah Merger Sebagai Bank Rekapitalisasi. Jurnal Magister
Manajemen Program Pasca Sarjana Universitas Gunadarma (Online).
Jakarta.
Verma, N., & Sharma, R. 2013. Impact of mergers on firm’s performance: An
analysis of the Indian telecom industry. International Journal of
Research in Management & Technology, 4(1). pp. 11-19.