Anda di halaman 1dari 10

Uji Sensitifitas Antibiotik

I. TUJUAN
1. Untuk mengetahui teknik uji sensitivitas.
2. Untuk mengukur zona hambat pada masing-masing antibiotik terhadap
bakteri S.aureus dan E. coli.
3. Untuk mengetahui tingkat sensitivitas, intermediet dan resistensi antibiotik
terhadap bakteri S. aureus dan E. coli.

II. PRINSIP
Suatu jenis kuman dapat pekat terhadap antibiotic atau antimikroba
dapat diketahui secara invitro dengan cara membiakkan bakteri pada media
yang diberi disk antibiotic atau anti mikroba.

III. DASAR TEORI


Pada ilmu mikrobiologi ini kita mempelajari banyak tentang jasad-
jasad renik yang disebut juga dengan microba atau protista, di mana adanya,
ciri-cirinya, kekerabatan antara sesamanya seperti juga dengan kelompok
organisme lainnya, penggunaan dan peranannya dalam kesehatan serta
kesejahteraan kita. Mikroorganisme sangat erat kaitannya dengan kehidupan
kita, beberapa di antaranya bermanfaat dan yang lain merugikan. Banyak di
antaranya menjadi penghuni dalam tubuh manusia. Beberapa mikroorganisme
menyebabkan penyakit dan yang lain terlibat dalam kegiatan manusia sehari-
hari seperti misalnya pembuatan anggur, keju, yogurt, produksi penicillin,
serta proses-proses perlakuan yang berkaitan dengan pembuangan limbah.
Uji sensitivitas bakteri merupakan cara untuk mengetahui dan
mendapatkan produk alam yang berpotensi sebagai bahan anti bakteri serta
mempunyai kemampuan untuk menghambat pertumbuhan atau mematikan
bakteri pada konsentrasi yang rendah.
Dalam percobaan ini akan dilakukan uji sensitifitas, yang merupakan
suatu teknik untuk menetapkan sensitifitas suatu antibiotika dengan mengukur
efek senyawa tersebut pada pertumbuhan suatu mikroorganisme serta
berhubungan dengan waktu inkubasi untuk melihat antibiotik mana yang
kerjanya lebih cepat menghambat atau membunuh mikroba lain. Alasan
penggunaan beberapa macam antibiotik yaitu untuk melihat antibiotik mana
yang kerjanya lebih cepat menghambat atau membunuh mikroba, antibiotic
kemana yang telah resisten dan antibiotic mana yang betul-betul cocok untuk
suatu jenis mikroba.
Penggunaan atau pemberian antibiotic sebenarnya tidak membuat
kondisi tubuh semakin baik, justru merusak system kekebalan tubuh karena
imunitas bias menurun akibat pemakaiannya. Alhasil, beberapa waktu
kemudian akan mudah jatuh sakit kembali.
Antibiotik hanya melawan infeksi bakteri dan tidak bekerja melawan
infeksi virus, gondok dan bronkhitis. Antibiotik yang diperlukan untuk
mengobati infeksi virus malah bias membahayakan tubuh. Hal ini karena
setiap kali dosis antibiotic diambil virus terpengarug, malah sebaliknya,
terjadi peningkatan kekebalan bakteri terhadap antibiotik. Bakteri yang kebal
dengan antibiotic tidak dapat dibunuh dengan obat tersebut pada dosis yang
sama. Inilah sebabnya mengapa setiap orang harus mengikuti petunjuk yang
diberikan oleh dokter sebelum mengambil antibiotik.
Pada percobaan kali ini dilakukan uji antibiotik terhadap bakteriE.
Coli dan S. aureus untuk mengetahui besar sensitif, resistensi, intermediet
dan zona hambat dari setiap antibiotik.
IV. ALAT dan BAHAN
a. Adapun alat yang digunakan pada praktikum kali ini yaitu :
1. Bunsen 7. Inkubator
2. Cawan petri 8. Tabel disk
3. Rak tabung 9. Pinset
4. Ose loop 10. Penggaris
5. Rak tabung 11. Pinset
6. Tabung reaksi
b. Adapun bahan yang digunakan pada praktikum kali ini yaitu :
1. Bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus.
2. Medium MHA
3. Kapas
4. Alkohol 70%
5. Korekapi
6. Tissue
7. Kertas A4
8. Cutton bud

V. PROSEDUR KERJA
1. Disiapkan alat dan bahan.
2. Disiapkan media MHA dan hidupkan Bunsen
3. Ditananamkan bakteri S. aureus dengan cara mengambil koloni bakteri
dengan menggunakan ose dan memasukkan kedalam media MHA.
4. Didiamkan medium MHA yang telah dimasukkan bakteri S. Aureus
selama 5 menit.
5. Difiksasikan media MHA dengan cara melidah apikan setiap sisi cawan
petri dengan di putar.
6. Digoreskan cutton bud tersebut pada media MHA.
7. Ditempelkan disk obat pada medium MHA dan fiksasikan kembali cawan
petri.
8. Inkubasi cawan petri di incubator selama 24 jam dengan suhu 37oC.
9. Setelah 24 jam, diukur zona daya hambat yang ada pada media MHA
tersebut.
10. Dicocokkan hasil pengukuran zona daya hambatan dengan table disk.

VI. INTERPRETASI HASIL


a) Dalam satuan mm
R I S

C = 12 13 - 17 ≤ 18

T = 14 15 - 18 ≤ 19

E = 13 14 - 22 = 23

VII. HASIL PRAKTIKUM


a. Hasil
Kelompok Chloramfenicol Tetrasiklin Erytromysin

d (mm) H d(mm) H d(mm) H


1 25 mm s 18 mm s 58 mm s

2 43,5 mm s 27,5 mm s 45,5 mm s

3 21 mm s 25 mm s 24 mm s

4 63,7 mm s 69,3 mm s 60,9 mm s


b. Gambar

No Gambar Keterangan

1 Disk antibiotik

2. Media sebelum
penanaman

3 Hasil pengamatan
dari media yang
sudah di inkubasi

4 Hasil pengamatan
dari media yang
sudah di inkubasi
VIII. PEMBAHASAN

Antibiotik adalah bahan yang dihasilkan oleh mikroorganisme atau


sintetis yang dalam jumlah kecil mampu menekan menghambat atau
membunuh mikroorganisme lainnya. Antibiotik memiliki spektrum aktivitas
antibiosis yang beragam. Mekanisme kerja antibiotik antara lain adalah
menghambat sintesis dinding sel, merusak permeabilitas membran sel,
menghambat sintesis RNA (proses transkripsi), menghambat sintesis protein
(proses translasi), menghambat replikasi DNA. Tetracycline merupakan
antibiotik bakteriostatis yang berikatan dengan subunit ribosomal 16S-30S
dan mencegah pengikatan aminoasil-tRNA dari situs A pada ribosom,
sehingga dengan demikian akan menghambat translasi protein. Antibiotik
tetracycline bersifat bakteriostatik pada bakteri gram positif maupun gram
negatif. Mekanisme kerjanya mengganggu sintesis protein kuman spektrum
kerjanya luas kecuali terhadap Psudomonas & Proteus. Tetracycline berasal
dari jamur Streptomyces aurefaciens dan Streptomyces viridifaciens.
Pada pengamatan yang dilakukan, terlebih dahulu melakukan fiksasi
alat-alat yang akan digunakan pada praktikum. Fiksasi berfungsi agar tidak
terdapat mikroba yang menempel.Bakteri S Aureus dimasukkan dalam media
MHA yang berfungsi membantu pertumbuhan bakteri tersebut. Selanjutnya
menggoreskan sweapse cara zigzag pada cawan petri yang berisikan medium
MHA (Mueller Hinton Agar) yang juga merupakan tempat hidunp dan
berkembang biaknya suatu bakteri. Langkah selanjutnya, memasukkan
atibiotik pada masing-masing cawan petri dengan jarak yang tidak terlalu
dekat, agar nantinya dapat diketahui mana antibiotik yang intermediet,
resisten dan sensitive terhadap bakteri.
Resisten adalah suatu keadaan dimana bakteri kurang atau tidak peka
terhadap antibiotic. Sensitive adalah suatu keadaan dimana bakteri sangat
peka terhadap antibiotic. Sedangkan intermediet adalah suatu keadaan dimana
terjadi pergeseran dari keadaan sensitive ke keadaan resisten.
Pada praktikum yang telah dilakukan dengan pengujia menggunakan
antibiotika Chloramfenicol , Tetrasiklin dan Erytromysin pada bakteri
Chlorafenicol pada kelompok s. aureus dan setelah di inkubasi selama 1 hari
maka zona hambatan sebesar antibiotic 1 yang diletakkan pada bakteri s
aureus membentuk diameter 25 mm sehingga dapat disimpulkan bahwa
s.aureus resisten terhadap Chloramfenicol. Selain itu pada s.aureus juga
diletakkan antibiotic Tetrasiklin pada kelompok 1 yang membentuk diameter
zona hambatan sebesar 18 mm sehingga dapat disimpulkan bahwa s.aureus
sensitive terhadap Tetrasiklin , Selain itu pada s.aureus juga diletakkan
antibiotic Erytromicin pada kelompok 1 yang membentuk diameter zona
hambatan sebesar 58 mm sehingga dapat disimpulkan bahwa s.aureus
sensitive terhadap Erytromicin antibiotic Chlorafenicol pada kelompok 2 yang
diletakkan pada bakteri s aureus membentuk diameter zona hambatan sebesar
43,5 mm sehingga dapat disimpulkan bahwa s.aureus resistan terhadap
Chloramfenicol. Selain itu pada s.aureus juga diletakkan antibiotic Tetrasiklin
pada kelompok 2 yang membentuk diameter zona hambatan sebesar 27,5
mm sehingga dapat disimpulkan bahwa s.aureus sensitive terhadap
Tetrasiklin, Selain itu pada s.aureus juga diletakkan antibiotic Erytromicin
pada kelompok 2 yang membentuk diameter zona hambatan sebesar 45,5 mm
sehingga dapat disimpulkan bahwa s.aureus sensitive terhadap Erytromicin,
Selain itu pada s.aureus juga diletakkan antibiotic Coramfenicol pada
kelompok 3 yang membentuk diameter zona hambatan sebesar 21 mm
sehingga dapat disimpulkan bahwa s.aureus sensitive terhadap Coramfenicol.
Selain itu pada s.aureus juga diletakkan antibiotic Tetrasiklin pada kelompok
3 yang membentuk diameter zona hambatan sebesar 25 mm sehingga dapat
disimpulkan bahwa s.aureus sensitive terhadap Erytromicin, Selain itu pada
s.aureus juga diletakkan antibiotic Tetrasiklin pada kelompok 3 yang
membentuk diameter zona hambatan sebesar 18 mm sehingga dapat
disimpulkan bahwa s.aureus sensitive terhadap Erytromycin, Selain itu pada
s.aureus juga diletakkan antibiotic Cloramfenicol pada kelompok 4 yang
membentuk diameter zona hambatan sebesar 63,7 mm sehingga dapat
disimpulkan bahwa s.aureus sensitive terhadap Cloramfenicol, Selain itu pada
s.aureus juga diletakkan antibiotic Tetrasiklin pada kelompok 4 yang
membentuk diameter zona hambatan sebesar 69,3 mm sehingga dapat
disimpulkan bahwa s.aureus sensitive terhadap Tetrasiklin, Selain itu pada
s.aureus juga diletakkan antibiotic Erytromicin pada kelompok 4 yang
membentuk diameter zona hambatan sebesar 60,9 mm sehingga dapat
disimpulkan bahwa s.aureus sensitive terhadap Erytromicin.

IX. KESIMPULAN
Pada praktikum kali ini menggunakan teknik uji sensitivitas
menggunakan bakteri E. coli dan S. aureus, antibiotik, media BHIB dan
MHA.Uji sensitivitas antibiotik dari yang sensitif adalah uji untuk
mengidentifikasi bakteri yang sensitif terhadap suatu antibiotik.
X. LAMPIRAN
a. Pustaka
1. Dias.2014.Laporan Praktikum Mikrobiologi.
http://disachem.blogspot.co.id/2012/04/laporan-praktikum-
mikrobiologi-uji_28.html. Diakses 10 Januari 2018
2. Alke Rumimpunu. 2012. Pola Bakteri Aerob Dan Uji Kepekaan
Terhadap Antibiotika Pada Penderita Otitis Media
(http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/ebiomedik/article/download/
3860/3375). Diakses 10 Januari 2014.
3. Abdulah.2015.Uji Kepekaan Bakteri Terhadap Antibiotik.
https://www.academia.edu/25166832/Uji_Kepekaan_Bakteri_Terha
dap_Antibiotika. Diakses 10 Januari 2018
4. Dewi. 2011. Staphylococcus aureus pada Komunitas Lebih
Resisten terhadap Ampisilin (http:// www. jkb. ub. ac. id/ index.
php/ jkb/ article/ download/ 385/ 360). Diakses 10 Januari 2018.
5. Dias.2014.Laporan Praktikum Mikrobiologi.
http://disachem.blogspot.co.id/2012/04/laporan-praktikum-
mikrobiologi-uji_28.html. Diakses 11 Januari 2018
b. Laporan sementara

DosenPembimbing Nilai