Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN PENDAHULUAN

FRAKTUR (MAXILA)

A. KONSEP DASAR
1. DEFINISI
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang umumnya
disebabkan oleh rudapaksa (Mansjoer et al, 2000).
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan
luasnya (Smeltzer, 2002).
Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga
fisik.(Price, 2006).
Fraktur adalah pemecahan suatu bagian, khususnya tulang; pecahan atau
rupture pada tulang (Dorland, 1998).
Fraktur adalah rusaknya kontinuitas tulang yang disebabkan tekanan eksternal
yang datang lebih besar dari yang dapat diserap oleh tulang (Linda Juall)
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan/
atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh adanya rudapaksa.
Tulang-tulang tengkorak pada wajah dapat dibedakan menjadi bagian
kranium dan bagian wajah. Kranium terdiri dari sejumlah tulang yang menyatu
pada sendi yang tidak bergerak yang disebut sutura. Mandibula adalah suatu
perkecualian karena menyatu dengan kranium melalui artikulasio
temporomandibularis yang mobil.
Tulang wajah terdiri atas:
 os zygomaticum (2 buah)
 maksila (2 buah)
 os nasale (2 buah)
 os lacrimale (2 buah)
 os vomer (1 buah)
 os palatinum (2 buah)
 konka nasalis inferior (2 buah)
 os mandibula (1 buah)
- Os frontale melengkung ke bawah, membentuk margo superior orbita. Di bagian
medial, os frontale berartikulasi dengan procesus frontalis maksila dan os nasale.
Di bagian lateral, berartikulasi dengan os zygomatikum. Margo orbitalis superior

LINOVEA ARI PRABAWATI / 1501300019


PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN BLITAR
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
dibentuk oleh os frontale, lateral oleh os zygomatikum, inferior oleh maksila dan
medila oleh procesus maksilaris dan os frontale.
- Kedua os nasales membentuk batang hidung. Tepi bawahnya bersama maksila
membentuk apertura nasalis anterior. Cavum nasi dibagi dibagi dua oleh septum
nasale bertulang yang sebagian besar dibentuk oleh vomer. Konka superior dan
media dari os ethmoidale pada setiap sisi, menonjol ke dalam cavum nasi;
sedangkan konka inferior merupakan tulang tersendiri.
- Kedua maksila membentuk rahang atas, pars anterior palatum durum, sebagian
dinding lateral rongga hidung dan sebagian dasar orbita. Os zygomatikum
membentuk tonjolan pipi dan bagian dari dinding lateral serta dasar orbita. Di
medial, berartikulasi dengan maksila dan di lateral dengan prosesus zygomatikus
ossis temporalis membentuk arkus zygomatikus. Os zygomatikum ditembus oleh
dua foramen untuk n. Zygomatikofasialis dan zygomatikotemporalis. Mandibula
terdiri atas, corpus horisontal dan dua ramus vertikal. Korpus menyatu dengan
ramus pada angulus mandibula. Foramen mentale bermuara pada permukaan
anterior korpus mandibula, di bawah gigi premolar kedua.

2. KLASIFIKASI
Klasifikasi Fraktur Maksila
Guerin membuat deskripsi fraktur maksila 35 tahun sebelum Le Fort membuat
klasifikasi.
1. Fraktur Maksila Le Fort I
Fraktur Le Fort I (fraktur Guerin) meliputi fraktur bagian bawah. Fraktur ini bisa
unilateral atau bilateral. Garis fraktur berjalan sepanjang maksila bagian bawah
sampai bagian bawah rongga hidung. Seluruh rahang atas dapat bergerak dan
hanya tertahan oleh jaringan lunak mulut, antrum dan hidung. Kerusakan yang
mungkin terjadi pada fraktur ini berupa kerusakan pada prosesus arteroralis,
bagian dari sinus maksilaris, palatum durum, bagian bawah lamina pterigoid.
Gerakan tidak normal pada fraktur ini dapat dirasakan dengan palpasi. Garis
fraktur yang mengarah vertikal, membagi muka menjadi dua bagian.

Gejala-gejala yang mungkin timbul:


 Pembengkakan pada muka dan bibir atas
 Ekimosis
 Mukosa bibir, mulut dan hidung rusak
 Oklusi gigi terganggu dan pasien tidak dapat mengunyah
 Bila rahang atas tergeser ke belakang dapat terjadi gigitan terbalik

LINOVEA ARI PRABAWATI / 1501300019


PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN BLITAR
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
 Bila rahang atas tergeser ke atas tampak muka menjadi pendek dan terjadi
open bite
 Ada perdarahan pada sinus maksilaris dan keluar melalui hidung, dapat
menyumbat jalan pernapasan
2. Fraktur Maksila Le Fort II
Disebut juga floating maksila karena fraktur ini sangat mudah digerakkan.
Garis fraktur Le Fort II (fraktur piramid) berjalan melalui tulang hidung dan
diteruskan ke tulang lakrimalis, dasar orbita, pinggir infraorbita dan
menyeberang ke bagian atas dari sinus maksilaris juga ke arah lamina
pterigoid sampai ke fossa pterigopalatina. Fraktur pada lamina cribiformis dan
atap sel ethmoid dapat merusak sistim lakrimalis.
Gejala-gejala yang mungkin timbul:
o Tampak hidung masuk atau melesak ke dalam
o Perdarahan melalui hidung lebih banyak karena foramen infraorbitalis
terlibat dan arteri infraorbitalis terluka
o Keluarnya cairan serebrospinal bila lamina cribiformis patah

3. Fraktur Maksila Le Fort III


Disebut juga craniofacial dysjunction, merupakan fraktur yang memisahkan
secara lengkap antara tulang dan tulang kranial. Garis fraktur berjalan melalui
sutura nasofrontal diteruskan sepanjang ethmoid junction melalui fisura
orbitalis superior melintang ke arah dinding lateral ke orbita, sutura
zygomatiko frontal dan sutura temporozigomatik. Fraktur Le Fort III ini
biasanya bersifat kominutif yang disebut kelainan Dishface. Komplikasi yang
sering timbul yaitu pengeluaran cairan serebrospinal melalui atap sel ethmoid
dan lamina cribiformis. Penanggulangan dengan menggunakan fiksasi
intermaksiler sehingga oklusi gigi menjadi sempurna dengan menggunakan
kawat baja atau mini plate sesuai garis fraktur.
Gejala-gejala yang mungkin timbul:
o Seluruh bagian middle third dari muka terdorong ke belakang sehingga
muka menjadi melesak (dish-shaped)
o Perdarahan mengalir ke palatum, faring dan hidung.
o Hematoma kacamata (brill hematoma) karena konjungtiva terisi darah
dan pembengkakan bola mata karena ekimosis
o Bila n. Facialis kena, timbul facial paralysis

LINOVEA ARI PRABAWATI / 1501300019


PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN BLITAR
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
o Akibat dari brill’s hematoma dapat terjadi penekanan saraf-saraf optik
dan motorik dari mata dapat mengakibatkan kebutaan, diplopia dan
paralisa bola mata.

3. ETIOLOGI

Adapun penyebab dari frakturadalah :


a. Trauma
1) Trauma langsung
Trauma langsung menyebabkan patah tulang pada titik terjadinya
kekerasan.Fraktur demikian demikian sering bersifat fraktur terbuka
dengan garis patah melintang atau miring.
2) Trauma tidak langsung
Trauma tidak langsung menyebabkan patah tulang ditempat yang
jauh dari tempat terjadinya kekerasan dan yang patah biasanya adalah
bagian yang paling lemah dalam jalur hantaran vektor kekerasan.

b. Kondisi patologi : kekurangan mineral sampai batas tertentu pada tulang


dapat menyebabkan patah tulang: contohnya osteoporosis, tumor tulang
(tumor yang menyerap kalsium tulang)
c. Mekanisme Cedera
Pada cedera tulang belakang mekanisme cedera yang mungkin
adalah:(Apley, 2000)
1) Hiperekstensi (kombinasi distraksi dan ekstensi). Hiperekstensi jarang
terjadi di daerah torakolumbal tetapi sering pada leher,pukulan pada
muka atau dahi akan memaksa kepala ke belakang dan
tanpamenyangga oksiput sehingga kepala membentur bagian atas
punggung.Ligamen anterior dan diskus dapat rusak atau arkus saraf
mungkinmengalami fraktur. cedera ini stabil karena tidak merusak
ligamen posterior.
2) Fleksi Trauma ini terjadi akibat fleksi dan disertai kompresi pada
vertebra.Vertebra akan mengalami tekanan dan remuk yang dapat
merusakligamen posterior. Jika ligamen posterior rusak maka sifat
fraktur ini tidak stabil sebaliknya jika ligamentum posterior tidak rusak
maka fraktur bersifat stabil. Pada daerah cervical, tipe subluksasi ini
sering terlewatkan karena pada saat dilakukan pemeriksaan sinar-X
vertebra telah kembali ketempatnya.

LINOVEA ARI PRABAWATI / 1501300019


PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN BLITAR
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
3) Fleksi dan kompresi digabungkan dengan distraksi posterior
Kombinasi fleksi dengan kompresi anterior dan distraksi posterior
dapatmengganggu kompleks vertebra pertengahan di samping
kompleks posterior. Fragmen tulang dan bahan diskus dapat bergeser
ke dalam kanalis spinalis. Berbeda dengan fraktur kompresi murni,
keadaan ini merupakan cedera tak stabil dengan risiko progresi yang
tinggi. Fleksi lateral yang terlalu banyak dapat menyebabkan kompresi
padasetengah corpus vertebra dan distraksi pada unsur lateral dan
posterior pada sisi sebaliknya. Kalau permukaan dan pedikulus remuk,
lesi bersifat tidak stabil.
4) Pergeseran aksial (kompresi). Kekuatan vertikal yang mengenai
segmen lurus pada spina servikal atau lumbal akan menimbulkan
kompresi aksial. Nukleus pulposus akan mematahkanlempeng vertebra
dan menyebabkan fraktur vertikal pada vertebra; dengankekuatan yang
lebih besar, bahan diskus didorong masuk ke dalam badanvertebral,
menyebabkan fraktur remuk ( burst fracture). Karena unsur posterior
utuh, keadaan ini didefinisikan sebagai cedera stabil. Fragmen tulang
dapat terdorong ke belakang ke dalam kanalis spinalis dan inilah yang
menjadikan fraktur ini berbahaya; kerusakan neurologik sering terjadi.
5) Rotasi-fleksi. Cedera spina yang paling berbahaya adalah akibat
kombinasi fleksi danrotasi. Ligamen dan kapsul sendi teregang sampai
batas kekuatannya, kemudian dapat robek, permukaan sendi dapat
mengalami fraktur atau bagian atas dari satu vertebra dapat terpotong.
Akibat dari mekanisme iniadalah pergeseran atau dislokasi ke depan
pada vertebra di atas, denganatau tanpa dibarengi kerusakan tulang.
Semua fraktur-dislokasi bersifat tak stabil dan terdapat banyak risiko
munculnya kerusakan neurologik.
6) Translasi Horizontal Kolumna vertebralis teriris dan segmen bagian
atas atau bawah dapat bergeser ke anteroposterior atau ke lateral. Lesi
bersifat tidak stabil dan sering terjadi kerusakan syaraf.

d. Cedera Torakolumbal
Penyebab tersering cedera torakolumbal adalah jatuh dari
ketinggian serta kecelakaan lalulintas.Jatuh dari ketinggian dapat
menimbulkan patah tulang vertebra tipe kompresi. Pada kecelakaan
lalulintas dengan kecepatan tinggi dan tenaga besar sering didapatkan

LINOVEA ARI PRABAWATI / 1501300019


PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN BLITAR
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
berbagai macam kombinasi gaya, yaitu fleksi, rotasi,maupun ekstensi
sehingga tipe frakturnya adalah fraktur dislokasi (Jong, 2005).
Terdapat dua tipe berdasarkan kestabilannya, yaitu: (Apley, 2000)
1) Cedera stabil : jika bagian yang terkena tekanan hanya bagian medulla
spinalis anterior, komponen vertebral tidak bergeser dengan
pergerakan normal, ligamen posterior tidak rusak sehingga medulla
spinalis tidak terganggu, fraktur kompresi adalah contoh cedera stabil.
2) Cedera tidak stabil artinya cedera yang dapat bergeser dengan
gerakannormal karena ligamen posteriornya rusak atau robek, Fraktur
medulla spinalis disebut tidak stabil jika kehilangan integritas dari
ligament posterior.

Berdasarkan mekanisme cederanya dapat dibagi menjadi: (Apley, 2000)


1) Fraktur kompresi ( Wedge fractures)
Adanya kompresi pada bagian depan corpus vertebralis yang tertekan
dan membentuk patahan irisan. Fraktur kompresi adalah fraktur
tersering yang mempengaruhi kolumna vertebra. Fraktur ini dapat
disebabkan oleh kecelakaan jatuh dari ketinggian dengan posisi
terduduk ataupun mendapat pukulan di kepala, osteoporosis dan
adanya metastase kanker dari tempat lain ke vertebra kemudian
membuat bagian vertebra tersebut menjadi lemah dan akhirnya mudah
mengalami fraktur kompresi. Vertebra dengan fraktur kompresi akan
menjadi lebih pendek ukurannya dari pada ukuran vertebra
sebenarnya.
2) Fraktur remuk (Burst fractures)
Fraktur yang terjadi ketika ada penekanan corpus vertebralis
secaralangsung, dan tulang menjadi hancur.Fragmen tulang berpotensi
masuk kekanalis spinais.Terminologi fraktur ini adalah menyebarnya
tepi korpusvertebralis kearah luar yang disebabkan adanya kecelakaan
yang lebih beratdibanding fraktur kompresi.tepi tulang yang menyebar
atau melebar itu akanmemudahkan medulla spinalis untuk cedera dan
ada fragmen tulang yangmengarah ke medulla spinalis dan dapat
menekan medulla spinalis danmenyebabkan paralisi atau gangguan
syaraf parsial.
Tipe burst fracture sering terjadi pada thoraco lumbar junction
dan terjadi paralysis pada kakidan gangguan defekasi ataupun miksi.
Diagnosis burst fracture ditegakkan dengan x-rays dan CT scan untuk

LINOVEA ARI PRABAWATI / 1501300019


PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN BLITAR
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
mengetahui letak fraktur dan menentukan apakah fraktur tersebut
merupakan fraktur kompresi, burst fracture ataufraktur dislokasi.
Biasanya dengan scan MRI fraktur ini akan lebih jelas mengevaluasi
trauma jaringan lunak, kerusakan ligamen dan adanya perdarahan.
3) Fraktur dislokasi
Terjadi ketika ada segmen vertebra berpindah dari tempatnya karena
kompresi, rotasi atau tekanan.Ketiga kolumna mengalami kerusakan
sehingga sangat tidak stabil, cedera ini sangat berbahaya.Terapi
tergantung apakah ada atau tidaknya korda atau akar syaraf yang
rusak. Kerusakan akan terjadi pada ketiga bagian kolumna vertebralis
dengan kombinasi mekanisme kecelakaan yang terjadi yaitu adanya
kompresi, penekanan,rotasi dan proses pengelupasan. Pengelupasan
komponen akan terjadi dariposterior ke anterior dengan kerusakan
parah pada ligamentum posterior, fraktur lamina, penekanan sendi
facet dan akhirnya kompresi korpus vertebraanterior. Namun dapat
juga terjadi dari bagian anterior ke posterior.Kolumn avertebralis.
Pada mekanisme rotasi akan terjadi fraktur pada prosesus transversus
dan bagian bawah costa. Fraktur akan melewati lamina danseringnya
akan menyebabkan dural tears dan keluarnya serabut syaraf.
4) Cedera pisau lipat (Seat belt fractures)
Sering terjadi pada kecelakaan mobil dengan kekuatan tinggi dan tiba-
tiba mengerem sehingga membuat vertebrae dalam keadaan fleksi,
dislokasifraktur sering terjadi pada thoracolumbar junction.Kombinasi
fleksi dan distraksi dapat menyebabkan tulang belakang pertengahan
menbetuk pisau lipat dengan poros yang bertumpu pada bagian
kolumna anterior vertebralis.Pada cedera sabuk pengaman, tubuh
penderita terlempar kedepan melawantahanan tali pengikat. Korpus
vertebra kemungkinan dapat hancur selanjutnya kolumna posterior dan
media akan rusak sehingga fraktur ini termasuk jenis fraktur tidak
stabil.

4. PATOFISIOLOGI
Antara Vertebra Th I dan Th X, Segmen korda lumbal pertama pada
orang dewasa berada pada tingkat vertebraT10. Akibatnya, transeksi korda
pada tingkat itu akan menghindarkan korda torakstetapi mengisolasikan
seluruh korda, lumbal dan sakral, disertai paralisis tungkai bawah dan visera.

LINOVEA ARI PRABAWATI / 1501300019


PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN BLITAR
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
Akar toraks bagian bawah juga dapat mengalami transeksi tetapitak banyak
pengaruhnya.
Di Bawah Vertebra Th X. Korda membentuk suatu tonjolan kecil
(konus medularis) di antara vertebra T I dan LI,dan meruncing pada antar
ruang di antara vertebra LI dan L2. Akar saraf L2 sampaiS4 muncul dari
konus medularis dan beraturanan turun dalam suatu kelompok(cauda equina)
untuk muncul pada tingkat yang berturutan pada spina lumbosakral.Karena
itu, cedera spinal di atas vertebra T10 menyebabkan transeksi korda, cederadi
antara vertebra T10 dan LI dapat menyebabkan lesi korda dan lesi akar saraf,
dancedera di bawah vertebra Ll hanya menyebabkan lesi akar. Akar
sakralmempersarafi: (1) sensasi dalam daerah "pelana", suatu jalur di
sepanjang bagianbelakang paha dan tungkai bawah, dan dua pertiga sebelah
luar tapak kaki; (2) tenaga motorik pada otot yang mengendalikan
pergelangan kaki dan kaki: (3) refleks anal danpenis, respons plantar dan
refleks pergelangan kaki; dan (4) pengendalian kencing. Akar lumbal
mempersarafi: (1) sensasi pada seluruh tungkai bawah selain bagianyang
dipasok oleh segmen sakral; (2) tenaga motorik pada otot yang
mengendalikanpinggul dan lutut: dan (3) refleks kremaster dan refleks
lutut..Bila cedera tulangberada pada sambungan torakolumbal, penting untuk
membedakan antara transeksikorda tanpa kerusakan akar dan transeksi korda
dengan transeksi akar.Pasien tanpakerusakan akar jauh lebih baik daripada
pasien dengan transeksi korda dan akar.
 Lesi Korda Lengkap
Paralisis Iengkap dan anestesi di bawah tingkat cedera
menunjukkan transeksi korda.Selama stadium syok spinal, bila tidak ada
refleks anal (tidak lebih dari 24 jampertama) diagnosis tidak dapat
ditegakkan dan jika refleks anal pulih kembali dandefisit saraf terus
berlanjut, lesi korda bersifat lengkap. Setiap lesi lengkap yangberlangsung
lebih dari 72 jam tidak akan sembuh.
 Lesi Korda Tidak Lengkap
Adanya sisa sensasi apapun di bagian distal cedera (uji
menusukkan peniti didaerah perianal ) menunjukkan lesi tak lengkap
sehingga prognosis baik.Penyembuhan dapat berlanjut sampai 6 bulan
setelah cedera. Penyembuhan paling sering terjadi pada sindroma korda
central di mana kelemahan adalah hasil awal diikutidengan paralisis
neuron motorik bawah pada tungkai atas dengan paralisis neuronmotorik
atas (spastik) pada tungkai bawah, dan tetap ada kemampuan

LINOVEA ARI PRABAWATI / 1501300019


PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN BLITAR
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
pengendalian kandung kemih dan sensasi perianal (sakral terhindar).Pada
sindroma kordaanterior yang lebih jarang terjadi, terdapat paralisis
lengkap dan anestesi tetapi tekanan dalam dan indera posisi tetap ad pada
tungkai bawah (kolom dorsalterhindar). Pada sindroma korda posterior
yang agak jarang terjadi (hanya tekanandalam dan propriosepsi yang
hilang), dan sindroma Brown Sequard (hemiseksi korda,dengan paralisis
ipsilateral dan hilangnya perasaan nyeri kontralateral) biasanyadisebabkan
oleh cedera toraks. Di bawah vertebra Th X, diskrepansi antara tingkat
neurologik dan tingkat rangka adalah akibat transeksi akar yang turun dari
segmenyang lebih tinggi dari lesi korda.

Grading system pada cedera medulla spinalis :


a. Klasifikasi Frankel :
1) Grade A : motoris (-), sensoris (-)
2) Grade B : motoris (-), sensoris (+)
3) Grade C : motoris (+) dengan ROM 2 atau 3, sensoris (+)
4) Grade D : motoris (+) dengan ROM 4, sensoris (+)
5) Grade E : motoris (+) normal, sensoris (+)
b. Klasifikasi ASIA (American Spinal Injury Association)
1) Grade A : motoris (-), sensoris (-) termasuk pada segmen sacral
2) Grade B : hanya sensoris (+)
3) Grade C : motoris (+) dengan kekuatan otot < 3
4) Grade D : Motoris (+) dengan kekuatan otot > 3
5) Grade E : motoris dan sensoris normal

5. MANIFESTASI KLINIS

Menurut Lewis (2006);


a. Nyeri ; Nyeri dirasakan langsung setelah terjadi trauma. Hal ini dikarenakan
adanya spasme otot, tekanan dari patahan tulang atau kerusakan jaringan
sekitarnya.
b. Bengkak /edema ; Edema muncul lebih cepat dikarenakan cairan serosa
(protein plasma) yang terlokalisir pada daerah fraktur dan extravasi daerah
di jaringan sekitarnya.
c. Memar / ekimosis ; Merupakan perubahan warna kulit sebagai akibat dari
extravasi daerah di jaringan sekitarnya.

LINOVEA ARI PRABAWATI / 1501300019


PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN BLITAR
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
d. Spasme otot ; Merupakan kontraksi otot involunter yang terjadi disekitar
fraktur.
e. Penurunan sensasi ; Terjadi karena kerusakan syaraf, tertekannya syaraf
karena edema.
f. Gangguan fungsi ; Terjadi karena ketidakstabilan tulang yang fraktur, nyeri
atau spasme otot, paralysis dapat terjadi karena kerusakan syaraf.
g. Mobilitas abnormal ; Adalah pergerakan yang terjadi pada bagian-bagian
yang pada kondisi normalnya tidak terjadi pergerakan. Ini terjadi pada
fraktur tulang panjang.
h. Krepitasi ; Merupakan rasa gemeretak yang terjadi jika bagian-bagaian
tulang digerakkan.
i. Deformitas ; Abnormalnya posisi dari tulang sebagai hasil dari kecelakaan
atau trauma dan pergerakan otot yang mendorong fragmen tulang ke posisi
abnormal, akan menyebabkan tulang kehilangan bentuk normalnya.

6. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Selain plain radiografi, pemeriksaan yang dapat digunakan untuk membantu


menegakkan diagnosis adalah:
1. CT Scan
Dapat melihat fragmen tulang yang terpisah, adanya perdarahan dan fraktur basis
kranii dengan lebih jelas.
2. MRI
Tidak digunakan sebagai alat primer untuk mendeteksi fraktur fasial.

7. KOMPLIKASI
a. Komplikasi Awal
1) Kerusakan Arteri
Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai dengan tidak adanya
nadi, CRT menurun, cyanosis bagian distal, hematoma yang lebar, dan
dingin pada ekstrimitas yang disebabkan oleh tindakan emergensi
splinting, perubahan posisi pada yang sakit, tindakan reduksi, dan
pembedahan.
2) Kompartement Syndrom
Kompartement Syndrom merupakan komplikasi serius yang terjadi
karena terjebaknya otot, tulang, saraf, dan pembuluh darah dalam
jaringan parut.Ini disebabkan oleh oedema atau perdarahan yang

LINOVEA ARI PRABAWATI / 1501300019


PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN BLITAR
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
menekan otot, saraf, dan pembuluh darah. Selain itu karena tekanan dari
luar seperti gips dan embebatan yang terlalu kuat.
3) Fat Embolism Syndrom
Fat Embolism Syndrom (FES) adalah komplikasi serius yang
sering terjadi pada kasus fraktur tulang panjang.FES terjadi karena sel-
sel lemak yang dihasilkan bone marrow kuning masuk ke aliran darah
dan menyebabkan tingkat oksigen dalam darah rendah yang ditandai
dengan gangguan pernafasan, tachykardi, hypertensi, tachypnea,
demam.
4) Infeksi
System pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan.Pada
trauma orthopedic infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan masuk ke
dalam. Ini biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka, tapi bisa juga
karena penggunaan bahan lain dalam pembedahan seperti pin dan plat.
5) Avaskuler Nekrosis
Avaskuler Nekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ke tulang
rusak atau terganggu yang bisa menyebabkan nekrosis tulang dan
diawali dengan adanya Volkman’s Ischemia.
6) Shock
Shock terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya
permeabilitas kapiler yang bisa menyebabkan menurunnya
oksigenasi.Ini biasanya terjadi pada fraktur.

b. Komplikasi Dalam Waktu Lama


1) Delayed Union
Delayed Union merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai
dengan waktu yang dibutuhkan tulang untuk menyambung.Ini
disebabkan karena penurunan supai darah ke tulang.
2) Nonunion
Nonunion merupakan kegagalan fraktur berkkonsolidasi dan
memproduksi sambungan yang lengkap, kuat, dan stabil setelah 6-9
bulan.Nonunion ditandai dengan adanya pergerakan yang berlebih pada
sisi fraktur yang membentuk sendi palsu atau pseudoarthrosis.Ini juga
disebabkan karena aliran darah yang kurang.
3) Malunion
Malunion merupakan penyembuhan tulang ditandai dengan
meningkatnya tingkat kekuatan dan perubahan bentuk

LINOVEA ARI PRABAWATI / 1501300019


PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN BLITAR
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
(deformitas).Malunion dilakukan dengan pembedahan dan reimobilisasi
yang baik.

8. PENATALAKSANAAN
a. Penatalaksanaan Medis:
Ada empat prinsip dasar yang harus dipertimbangkan pada waktu menangani
fraktur ( disebut empat R ) yaitu:
a) Rekognisi
Pengenalan riwayat kecelakaan : patah/ tidak. Meenentukan
perkiraan tulang yang patah.Kebutuhan pemeriksaan yang spesifik,
kelainan bentuk tulang dan ketidakstabilan. Tindakan apa yang harus
cepat dilaksanakan misalnya pemasangan bidai.
b) Reduksi
Usaha dan tindakan untuk memanipulasi fragmen tulang yang patah
sedapat mungkin kembali seperti letak asalnya.
c) Cara pengobatan fraktur secara reduksi :
1. Pemasangan gips
2. Untuk mempertimbangkan posisi fragmen fraktur.
3. Pemasangan traksi
4. Menanggulangi efek dari kejang otot serta meluruskan atau
mensejajarkan ujung tulang yang fraktur.
5. Reduksi tertutup
Digunakan traksi dan memanipulasi tulang itu sendiri dan bila
keadaan membaik maka tidak perlu diadakan pembedahan.
6. Reduksi terbuka
Beberapa fraktur perlu pengobatan dengan pembedahan secara reduksi
terbuka, ini dilakukan dengan cara pembedahan.
1. Retensi Reduksi
Mempertahankan reduksi seperti melalui pemasangan gips atau traksi
2. Rehabilitasi
Memulihkan kembali fragmen-fragmen tulang yang patah untuk
mengembalikan ke fungsi normal.
1) Cara operatif / pembedahan
Pada saat ini metode penatalaksanaan yang paling banyak
keunggulannya mungkin adalah pembedahan.Metode perawatan ini disebut
fiksasi interna dan reduksi terbuka.

LINOVEA ARI PRABAWATI / 1501300019


PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN BLITAR
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
Pada umumnya insisi dilakukan pada tempat yang mengalami cedera
dan diteruskan sepanjang bidang anatomik menuju tempat yang mengalami
fraktur.Hematoma fraktur dan fragmen-fragmen tulang yang telah mati
diirigasi dari luka.Fraktur kemudian direposisi dengan tangan agar
menghasilkan posisi yang normal kembali.Sesudah direduksi, fragmen-
fragmen tulang ini dipertahankan dengan alat-alat ortopedik berupa pen,
sekrup, pelat, dan paku.

b. Penatalaksanaan Keperawatan
Perawat harus mewaspadai faktor-faktor praoperasi dan
pascaoperasi yang jika tidak dikenali dapat menjadi faktor penentu yang
berdampak kurang baik terhadap klien.
a) Praoperasi
Perawat harus mengajarkan klien untuk melatih kaki yang
tidak mengalami cidera dan kedua lengannya. Selain itu sebelum
dilakukan operasi klien harus diajrakna menggunakan trapeze yang
dipasangkan di atas tempat tidur dan di sisi pengaman tempa tidur
yang berfungsi untuk membantunya dalam mengubah posisi, klien
juga perlu mempraktikan bagaimana cara bangun dari tempat tidur
dan pindah ke kursi.
b) Pascaoperasi
Perawat memantau tanda vital serta memantau asupan dan
keluaran cairan, mengawasi aktivitas pernapasan, seperti napas
dalam dan batuk, memberikan pengobatan untuk menghilangkan
rasa nyeri, dan mengobservasi balutan luka terhadap tanda-tanda
infeksi dan perdarahan. Sesudah dan sebelum reduksi fraktur, akan
selalu ada resiko mengalami gangguan sirkulasi, sensasi, dan
gerakan. Tungkai klien tetap diangkat untuk menghindari
edema.Bantal pasir dapat sangat membantu untuk
mempertahankan agar tungkai tidak mengalami rotasi eksterna.
Untuk menurunkan kebutuhan akan penggunaan narkotika dapat
menggunakan transcutaneus electrical nerve stimulator (TENS).
Untuk mencegah dislokasi prosthesis, perawat harus senantiasa
menggunakan 3 bantal diantara tungkai klien ketika mengganti
posisi, pertahankan bidai abductor tungkai pada klien kecuali pada
saat mandi, hindari mengganti posisi klien ke sisi yang mengalami
fraktur. Menahan benda/beban yang berat pada ekstremitas yang

LINOVEA ARI PRABAWATI / 1501300019


PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN BLITAR
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
terkena fraktur tidak dapat diizinkan kecuali telah mendapatkan
hasil dari bagian radiologi yang menyatakan adanya tanda-tanda
penyembuhan yang adekuat, umumnya pada waktu 3 sampai 5
bulan

B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


1. PENGKAJIAN

Kaji tingkat kesadaran pasien dengan GCS.


(Doenges, 2000:761)
a. Aktifitas/ Istirahat
Tanda: keterbatasan/ kehilangan fungsi pada bagian yang terkena (mungkin
segera, fraktur itu sendiri, atau terjadi secara sekunder, dari pembengkakan
jaringan, nyeri)

b. Sirkulasi
Tanda: hipertensi (kadang-kadang terlihat sebagai respon terhadap nyeri/
ansietas) atau hipotensi (kehilangan darah), Takikardi (respon stress,
hipovolemia), Penurunan/ tak ada nadi pada bagian distal yang cedera;
pengisisa kapiler lambat, pucat pada bagian yang terkena, Pembengkakan
jaringan atau massa hematoma pada sisi cedera
c. Neurosensori
Gejala: hilang gerakan/ sensasi, spasme otot, Kebas/ kesemutan (parestesis)
Tanda: deformitas local: angulasi abnormal, pemendekan, rotasi, krepitasi,
spasme otot, terlihat kelemahan/ hilang fungsi.
Agitasi (mungkin berhubungan dengan nyeri/ ansietas atau trauma lain).
d. Nyeri/ Kenyamanan
Gejala: Nyeri berat tiba-tiba pada saat cedera (mungkin terlokalisasi pada
area jaringan/ kerusakan tulang; dapat berkurang pada imobilisasi); tak ada
nyeri akibat kerusakan saraf.
Spasme/ kram otot (setelah imobilisasi).
Untuk memperoleh pengkajian yang lengkap tentang rasa nyeri klien
digunakan:
1) Provoking Incident: apakah ada peristiwa yang menjadi faktor
memperberat dan faktor yang memperingan/ mengurangi nyeri

LINOVEA ARI PRABAWATI / 1501300019


PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN BLITAR
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
2) Quality of Pain: seperti apa rasa nyeri yang dirasakan atau
digambarkan klien. Apakah seperti terbakar, berdenyut, atau
menusuk.
3) Region : radiation, relief: apakah rasa sakit bisa reda, apakah rasa
sakit menjalar atau menyebar, dan dimana rasa sakit terjadi.
4) Severity (Scale) of Pain: seberapa jauh rasa nyeri yang dirasakan
klien, bisa berdasarkan skala nyeri atau klien menerangkan
seberapa jauh rasa sakit mempengaruhi kemampuan fungsinya.
5) Time: berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah bertambah
buruk pada malam hari atau siang hari.
e. Keamanan
Tanda: laserasi kulit, avulsi jaringan, perdarahan, perubahan warna
Pembengkakan local (dapat meningkat secara bertahap atau tiba-tiba)

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN

Pre operasi:
a. Perubahan perfusi jaringan peerifer berhubungan dengan trauma pembuluh
darah atau kompresi pada pembuluh darah
b. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan fraktur terbuka,
pemasangan traksi (pen, kawat, sekrup)
c. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangka
neuromuskuler, nyeri, terapi restriktif (imobilisasi)
d. Nyeri akut berhubungan dengan spasme otot, gerakan fragmen tulang,
edema, cedera jaringan lunak
e. Resiko ketidakseimbangan cairan elektrolit berhubungan dengan
pendarahan
f. Ansietas berhubungan dengan prosedur pembedahan

Post operasi:
a. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangka
neuromuskuler, nyeri, terapi restriktif (imobilisasi)
b. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan imobilisasi, pemasangan gips
c. Nyeri akut berhubungan dengan spasme otot, gerakan fragmen tulang,
edema, cedera jaringan lunak
d. Resiko infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan primer
(kerusakan kulit, taruma jaringan lunak, prosedur invasif/traksi tulang)

LINOVEA ARI PRABAWATI / 1501300019


PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN BLITAR
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
e. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan fraktur terbuka,
pemasangan traksi (pen, kawat, sekrup)
f. Gangguan body image berhubungan dengan perubahan pada anggota
tubuh pasca post operasi

LINOVEA ARI PRABAWATI / 1501300019


PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN BLITAR
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
3. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN

Pre Operasi
No Dx. Keperawatan Tujuan dan kriteria hasil Intervensi Rasional
1. Perubahan perfusi Setelah diberikan tindakan a. Kaji adanya / kualitas nadi a. Penurunan/tidak adanya nadi
jaringan perifer keperawatan, diharapkan perifer distal terhadap cidera dapat menggambarkan cidera
berhubungan dengan tidak terjadi perubahan melalui palpasi / doopler vaskuler dan perlunya evaluasi
trauma pembuluh perfusi jaringan, dengan medik segera terhadap status
darah atau kompresi kriteria hasil : b. Kaji aliran kapiler, warna kulit sirkulasi
pada pembuluh darah a. Individu akan dan kehangatan distal pada b. Kembalinya warna harus cepat
mengidentifikasi factor- fraktur (3-5 detik) warna kulit putih
faktor yang menunjukkan gangguan arterial,
meningkatakan sirkulasi sianosis diduga ada gangguan
perifer, melaporkan c. Lakukan pengkajian venal.
penurunan dalam nyeri neuromuskuler, perhatikan c. Gangguan perasaan kebas,
perubahan fungsi motor / kesemutan, peningkatan/
sensori. Minta pasien untuk penyebaran nyeri bila terjadi
melokalisasi nyeri sirkulasi pada syaraf, tidak
d. Kaji jaringan sekitar akhir gips adekuat atau syarat pusat.
untuk titik yang kasar / tekanan d. Mengindikasikan tekanan
selidiki keluhan “rasa jaringan/iskimeal menimblkan
terbakar”dibawah gips kerusakan/nekrosis.
LINOVEA ARI PRABAWATI / 1501300019
PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN BLITAR
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
e. Awasi posisi / lokasi cincin e. Alat traksi dapat menyebabkan
penyokong berat tekanan pada pembuluh darah/
f. Selidiki tanda iskemis syaraf
ekstremitas tiba-tiba,contoh f. Dislokasi fraktur sendi
penurunan suhu kulit,dan (khususnya lutut) dapat
peningkatan nyeri menyebabkan kerusakan arteri
yang berdekatan dengan akibat
g. Awasi tanda – tanda vital hilangnya aliran darah ke distal.
g. Ketidakadekuatan volume
sirkulasi
2. Kerusakan integritas Setelah dilakukan tindakan a. Pertahankan tempat tidur yang a. Menurunkan risiko
kulit berhubungan keperawatan diharapkan nyaman dan aman (kering, kerusakan/abrasi kulit yang
dengan fraktur intregitas kulit pasien bersih, alat tenun kencang, lebih luas.
terbuka, pemasangan normal, dengan kriteria hasil bantalan bawah siku, tumit).
traksi (pen, kawat, : b. Masase kulit terutama daerah b. Meningkatkan sirkulasi perifer
sekrup) - Klien menyatakan penonjolan tulang dan area distal dan meningkatkan kelemasan
ketidaknyamanan hilang, bebat/gips. kulit dan otot terhadap tekanan
menunjukkan perilaku yang relatif konstan pada
tekhnik untuk mencegah c. Lindungi kulit dan gips pada imobilisasi.
kerusakan daerah perianal c. Mencegah gangguan integritas
kulit/memudahkan kulit dan jaringan akibat
penyembuhan sesuai d. Observasi keadaan kulit, kontaminasi fekal.

LINOVEA ARI PRABAWATI / 1501300019


PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN BLITAR
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
indikasi, mencapai penekanan gips/bebat terhadap d. Menilai perkembangan masalah
penyembuhan luka sesuai kulit, insersi pen/traksi klien.
waktu/penyembuhan lesi
terjadi.

3. Gangguan mobilitas Setelah dilakukan tindakan a. Pertahankan pelaksanaan a. Memfokuskan perhatian,


fisik berhubungan keperawatan diharapkan aktivitas rekreasi terapeutik meningkatakan rasa kontrol
dengan kerusakan mobilitas fisik klien (radio, koran, kunjungan diri/harga diri, membantu
rangka neuromuskuler optimal, dengan criteria teman/keluarga) sesuai keadaan menurunkan isolasi sosial.
nyeri, terapi restriktif hasil : klien. b. Meningkatkan sirkulasi darah
(imobilisasi) Klien dapat b. Bantu latihan rentang gerak pasif muskuloskeletal,
meningkatkan/mempertahan aktif pada ekstremitas yang sakit mempertahankan tonus otot,
kan mobilitas pada tingkat maupun yang sehat sesuai mempertahakan gerak sendi,
paling tinggi yang mungkin keadaan klien. mencegah kontraktur/atrofi dan
dapat mempertahankan mencegah reabsorbsi kalsium
posisi fungsional, karena imobilisasi.
meningkatkan c. Mempertahankan posisi
kekuatan/fungsi yang sakit c. Berikan papan penyangga kaki, fungsional ekstremitas.
dan mengkompensasi gulungan trokanter/tangan sesuai
bagian tubuh, menunjukkan indikasi. d. Meningkatkan kemandirian
tekhnik yang memampukan d. Bantu dan dorong perawatan diri klien dalam perawatan diri
melakukan aktivitas. (kebersihan/eliminasi) sesuai sesuai kondisi keterbatasan

LINOVEA ARI PRABAWATI / 1501300019


PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN BLITAR
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
keadaan klien. klien.
e. Ubah posisi secara periodik e. Menurunkan insiden
sesuai keadaan klien. komplikasi kulit dan
pernapasan (dekubitus,
f. Dorong/pertahankan asupan atelektasis, penumonia)
cairan 2000-3000 ml/hari. f. Mempertahankan hidrasi
adekuat, men-cegah komplikasi
g. Berikan diet TKTP. urinarius dan konstipasi.
g. Kalori dan protein yang cukup
diperlukan untuk proses
penyembuhan dan mem-
h. Kolaborasi pelaksanaan pertahankan fungsi fisiologis
fisioterapi sesuai indikasi. tubuh.
h. Kerjasama dengan fisioterapis
i. Evaluasi kemampuan mobilisasi perlu untuk menyusun program
klien dan program imobilisasi. aktivitas fisik secara individual.
i. Menilai perkembangan masalah
klien.

4. Nyeri akut Setelah diberikan tindakan a. Pertahankan imobilasasi bagian a. Mengurangi nyeri dan
berhubungan dengan keperawatan diharapkan yang sakit dengan tirah baring, mencegah malformasi.
spasme otot, gerakan klien mengatakan nyeri gips, bebat dan atau traksi

LINOVEA ARI PRABAWATI / 1501300019


PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN BLITAR
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
fragmen tulang, berkurang atau hilang, b. Tinggikan posisi ekstremitas b. Meningkatkan aliran balik
edema, cedera dengan kriteria hasil : yang terkena. vena, mengurangi edema/nyeri.
jaringan lunak a. Menunjukkan tindakan c. Lakukan dan awasi latihan c. Mempertahankan kekuatan otot
santai, mampu gerak pasif/aktif. dan meningkatkan sirkulasi
berpartisipasi dalam d. Lakukan tindakan untuk vaskuler.
beraktivitas, tidur, meningkatkan kenyamanan d. Meningkatkan sirkulasi umum,
istirahat dengan tepat, (masase, perubahan posisi) menurunakan area tekanan
b. Menunjukkan e. Ajarkan penggunaan teknik lokal dan kelelahan otot.
penggunaan keterampilan manajemen nyeri (latihan napas e. Mengalihkan perhatian
relaksasi dan aktivitas dalam, imajinasi visual, terhadap nyeri, meningkatkan
trapeutik sesuai indikasi aktivitas dipersional) kontrol terhadap nyeri yang
untuk situasi individual f. Lakukan kompres dingin selama mungkin berlangsung lama.
fase akut (24-48 jam pertama) f. Menurunkan edema dan
sesuai keperluan. mengurangi rasa nyeri.
g. Kolaborasi pemberian analgetik
sesuai indikasi. g. Menurunkan nyeri melalui
mekanisme penghambatan
rangsang nyeri baik secara
h. Evaluasi keluhan nyeri (skala, sentral maupun perifer.
petunjuk verbal dan non verval, h. Menilai perkembangan masalah
perubahan tanda-tanda vital) klien.

LINOVEA ARI PRABAWATI / 1501300019


PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN BLITAR
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
5 Resiko Setelah diberikan tindakan a. Rencanakan tujuan masukan a. Diteksi dini memungkinkan
ketidakseimbangan keperawatan (…x…) jam cairan untuk setiap pergantian terapi pergantian cairan segera
cairan elektrolit diharapkan kebutuhan (misal 1000ml selama siang untuk memperbaiki deficit
berhubungan dengan volume cairan pasien yang hari,800ml selama sore
pendarahan adekuat. hari,300ml selama malam hari ) b. Informasi yang jelas akan
Kriteria Hasil: b. Jelaskan tentang alasan-alasan meningkatkan kerja sama
Cairan dalam tubuh klien untuk mempertahankan cairan klien untuk terapi
kembali normal yang adekuat dan metoda-metoda
untuk mencapai tujuan masukan
cairan
6 Ansietas berhubungan Setelah diberikan tindakan a. Kaji tingkat kecemasan klien a. Untuk mengetahui tingkat
dengan prosedur keperawatan (…x…) jam (ringan, sedang, berat, panik) kecemasan klien
pembedahan diharapkan cemas pasien b. Dampingi klien b. Agar Klien merasa aman dan
berkurang. nyaman
Kriteria Hasil: c. Beri support system dan motivasi c. Meningkatkan pola koping
Pasien menggunakan klien yang efektif
mekanisme koping yang d. Agar klien dapat menerima
efektif d. Beri dorongan spiritual kondisinya saat ini
e. Informasi yang lengkap dapat
e. Jelaskan jenis prosedur dan mengurangi ansietas klien
tindakan pengobatan

LINOVEA ARI PRABAWATI / 1501300019


PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN BLITAR
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
Post Operasi
No Dx. Keperawatan Tujuan dan kriteria hasil Intervensi Rasional
1. Gangguan mobilitas Setelah dilakukan tindakan a. Pertahankan pelaksanaan aktivitas
fisik berhubungan keperawatan diharapkan rekreasi terapeutik (radio, koran, a. Memfokuskan perhatian,
dengan kerusakan mobilitas fisik klien kunjungan teman/keluarga) sesuai meningkatakan rasa kontrol
rangka normal, dengan criteria keadaan klien. diri/harga diri, membantu
neuromuskuler, nyeri, hasil : b. Bantu latihan rentang gerak pasif menurunkan isolasi sosial.
terapi restriktif Klien dapat aktif pada ekstremitas yang sakit b. Meningkatkan sirkulasi darah
(imobilisasi) meningkatkan/mempertaha maupun yang sehat sesuai muskuloskeletal,
nkan mobilitas pada tingkat keadaan klien. mempertahankan tonus otot,
paling tinggi yang mungkin mempertahakan gerak sendi,
dapat mempertahankan mencegah kontraktur/atrofi dan
posisi fungsional, mencegah reabsorbsi kalsium
meningkatkan c. Berikan papan penyangga kaki, karena imobilisasi.
kekuatan/fungsi yang sakit gulungan trokanter/tangan sesuai c. Mempertahankan posisi
dan mengkompensasi indikasi. fungsional ekstremitas.
bagian tubuh, d. Bantu dan dorong perawatan diri
menunjukkan tekhnik yang (kebersihan/eliminasi) sesuai d. Meningkatkan kemandirian
memampukan melakukan keadaan klien. klien dalam perawatan diri
aktivitas. e. Ubah posisi secara periodik sesuai sesuai kondisi keterbatasan
keadaan klien. klien.

LINOVEA ARI PRABAWATI / 1501300019


PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN BLITAR
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
e. Menurunkan insiden
f. Dorong/pertahankan asupan komplikasi kulit dan
cairan 2000-3000 ml/hari. pernapasan (dekubitus,
atelektasis, penumonia)
g. Berikan diet TKTP. f. Mempertahankan hidrasi
adekuat, men-cegah komplikasi
urinarius dan konstipasi.
g. Kalori dan protein yang cukup
h. Kolaborasi pelaksanaan diperlukan untuk proses
fisioterapi sesuai indikasi. penyembuhan dan mem-
pertahankan fungsi fisiologis
i. Evaluasi kemampuan mobilisasi tubuh.
klien dan program imobilisasi. h. Kerjasama dengan fisioterapis
perlu untuk menyusun program
aktivitas fisik secara individual.
i. Menilai perkembangan masalah
klien.
2. Intoleransi aktivitas Setelah dilakukan tindakan a. Rencanakan periode istirahat a. Mengurangi aktivitas yang
berhubungan dengan keperawatan diharapkan yang cukup. tidak diperlukan, dan energi
imobilisasi, pasien memiliki cukup terkumpul dapat digunakan
pemasangan gips energi untuk beraktivitas, untuk aktivitas seperlunya
dengan kriteria hasil : b. Berikan latihan aktivitas secara secar optimal.

LINOVEA ARI PRABAWATI / 1501300019


PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN BLITAR
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
- Klien menampakan bertahap. b. Tahapan-tahapan yang
kemampuan untuk diberikan membantu proses
memenuhi kebutuhan aktivitas secara perlahan
diri. dengan menghemat tenaga
- Pasien mengungkapkan c. Bantu pasien dalam memenuhi namun tujuan yang tepat,
mampu untuk melakukan kebutuhan sesuai kebutuhan. mobilisasi dini.
beberapa aktivitas tanpa c. Mengurangi pemakaian energi
dibantu. d. Setelah latihan dan aktivitas kaji sampai kekuatan pasien pulih
- Koordinasi otot, tulang respons pasien kembali.
dan anggota gerak lainya d. Menjaga kemungkinan adanya
baik respons abnormal dari tubuh
sebagai akibat dari latihan.
3. Nyeri akut Setelah diberikan tindakan i. Pertahankan imobilasasi bagian i. Mengurangi nyeri dan
berhubungan dengan keperawatan diharapkan yang sakit dengan tirah baring, mencegah malformasi.
spasme otot, gerakan klien mengatakan nyeri gips, bebat dan atau traksi
fragmen tulang, berkurang atau hilang, j. Tinggikan posisi ekstremitas j. Meningkatkan aliran balik
edema, cedera dengan kriteria hasil : yang terkena. vena, mengurangi edema/nyeri.
jaringan lunak c. Menunjukkan tindakan k. Lakukan dan awasi latihan gerak k. Mempertahankan kekuatan otot
santai, mampu pasif/aktif. dan meningkatkan sirkulasi
berpartisipasi dalam l. Lakukan tindakan untuk vaskuler.
beraktivitas, tidur, meningkatkan kenyamanan l. Meningkatkan sirkulasi umum,
istirahat dengan tepat, (masase, perubahan posisi) menurunakan area tekanan

LINOVEA ARI PRABAWATI / 1501300019


PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN BLITAR
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
d. Menunjukkan m. Ajarkan penggunaan teknik lokal dan kelelahan otot.
penggunaan manajemen nyeri (latihan napas m.Mengalihkan perhatian
keterampilan relaksasi dalam, imajinasi visual, aktivitas terhadap nyeri, meningkatkan
dan aktivitas trapeutik dipersional) kontrol terhadap nyeri yang
sesuai indikasi untuk n. Lakukan kompres dingin selama mungkin berlangsung lama.
situasi individual fase akut (24-48 jam pertama) n. Menurunkan edema dan
sesuai keperluan. mengurangi rasa nyeri.
o. Kolaborasi pemberian analgetik
sesuai indikasi. o. Menurunkan nyeri melalui
mekanisme penghambatan
rangsang nyeri baik secara
p. Evaluasi keluhan nyeri (skala, sentral maupun perifer.
petunjuk verbal dan non verval, p. Menilai perkembangan masalah
perubahan tanda-tanda vital) klien.

4. Resiko infeksi Setelah diberikan tindakan a. Lakukan perawatan pen steril dan a. Mencegah infeksi sekunderdan
berhubungan dengan keperawatan diharapkan perawatan luka sesuai protokol mempercepat penyembuhan
ketidakadekuatan klien mencapai b. Ajarkan klien untuk luka.
pertahanan primer penyembuhan luka sesuai mempertahankan sterilitas insersi b. Meminimalkan kontaminasi.
(kerusakan kulit, waktu, dengan KH : bebas pen.
taruma jaringan lunak, drainase purulen atau c. Kolaborasi pemberian antibiotika c. Antibiotika spektrum luas atau

LINOVEA ARI PRABAWATI / 1501300019


PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN BLITAR
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
prosedur invasif/traksi eritema dan demam dan toksoid tetanus sesuai spesifik dapat digunakan secara
tulang) indikasi. profilaksis, mencegah atau
mengatasi infeksi. Toksoid
tetanus untuk mencegah infeksi
tetanus.
d. Analisa hasil pemeriksaan d. Leukositosis biasanya terjadi
laboratorium (Hitung darah pada proses infeksi, anemia dan
lengkap, LED, Kultur dan peningkatan LED dapat terjadi
sensitivitas luka/serum/tulang) pada osteomielitis. Kultur
untuk mengidentifikasi
organisme penyebab infeksi.
e. Mengevaluasi perkembangan
e. Observasi tanda-tanda vital dan masalah klien.
tanda-tanda peradangan lokal
pada luka.
5. Kerusakan integritas Setelah dilakukan tindakan e. Pertahankan tempat tidur yang a. Menurunkan risiko
kulit berhubungan keperawatan diharapkan nyaman dan aman (kering, bersih, kerusakan/abrasi kulit yang
dengan fraktur intregitas kulit pasien alat tenun kencang, bantalan lebih luas.
terbuka, pemasangan normal, dengan kriteria bawah siku, tumit).
traksi (pen, kawat, hasil : f. Masase kulit terutama daerah b. Meningkatkan sirkulasi perifer
sekrup) - Klien menyatakan penonjolan tulang dan area distal dan meningkatkan kelemasan
ketidaknyamanan hilang, bebat/gips. kulit dan otot terhadap tekanan

LINOVEA ARI PRABAWATI / 1501300019


PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN BLITAR
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
menunjukkan perilaku yang relatif konstan pada
tekhnik untuk mencegah g. Lindungi kulit dan gips pada imobilisasi.
kerusakan daerah perianal c. Mencegah gangguan integritas
kulit/memudahkan kulit dan jaringan akibat
penyembuhan sesuai h. Observasi keadaan kulit, kontaminasi fekal.
indikasi, mencapai penekanan gips/bebat terhadap d. Menilai perkembangan masalah
penyembuhan luka sesuai kulit, insersi pen/traksi klien.
waktu/penyembuhan lesi
terjadi.

6. Gangguan body image Setelah dilakukan tindakan a. Dorong klien untuk a. Ekspresi emosi membantu
berhubungan dengan keperawatan diharapkan mengekspresikan ketakutan, pasien mulai menerima
perubahan pada klien dapat menerima perasaan negative dan perubahan kenyataan dan realitas hidup.
anggota tubuh pasca situasi dengan realitas, bagian tubuh. b. Memberikan kesempata untuk
post operasi dengan kriteria hasil : b. Beri penguatan informasi pasca menanyakan dan mengasimilasi
- Mulai menunjukan operasi, harapan tibdakan operasi, informasi dan mulai menerima
adaptasi dan termasuk control nyeri dan perubahan gambaran diri dan
menyatakan rehabilitas. fungsi, yang dapat membantu
penerimaan pada situasi penyembuhan.
diri c. Dukungan yang cukup dari
- Mengenali dan menyatu orang terdekat dan teman dapat

LINOVEA ARI PRABAWATI / 1501300019


PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN BLITAR
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
dengan perubahan c. Kaji derajat dukungan yang ada membantu proses rehabilitasi.
dalam konsep diri yang d. Membantu mengartikan
akurat tanpa harga diri masalah sehubungan dengan
negative d. Diskusikan persepsi pasien pola hidup sebelumnya dan
- Membuat rencana nyata tentang diri dan hubungannya menbantu pemecahan masalah.
untuk adaptasi peran dengan perubahan dan bagaimana Sebagai contoh takut
baru/perubahan peran pasien melihat dirinya dalam kehilangan mandirian,
pola/peran fungsi yang biasa. kemampuan bekerja dan
sebagainnya.
e. Meningkatkan kemandirian dan
meningkatkan perasaan harga
e. Dorong partisipasi dalam aktivitas diri.
sehari-hari. f. Meningkatkan pernyataan
f. Berikan lingkungan yang terbuka keyakinan/nilai tentang subjek
pada pasien untuk mendiskusikan positif dan mengidentifikasi
masalah. kesalahan konsep/mitos yang
dapat mempengaruhi penilaian
situasi.
Kolaborasi g. Untuk membantu adaptasi
g. Diskusikan tersedianya berbagai lanjut yang optimal dan
sumber, contoh konseling rehabilitasi.
psikiatri.

LINOVEA ARI PRABAWATI / 1501300019


PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN BLITAR
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
4. IMPLEMENTASI
Implementasi disesuaikan dengan intervensi

5. EVALUASI

Pre operasi:
Dx 1 :
Tidak terjadi perubahan perfusi jaringan
Dx 2 :
Klien menyatakan ketidaknyamanan hilang, menunjukkan perilaku tekhnik untuk mencegah kerusakan kulit/memudahkan
penyembuhan sesuai indikasi, mencapai penyembuhan luka sesuai waktu/penyembuhan lesi terjadi.
Dx 3 :
Klien dapat menerima situasi dengan realitas
Dx 4 :
Klien mengatakan nyeri berkurang atau hilang
Dx 5 :
Kebutuhan volume cairan pasien yang adekuat.
Dx 6 :
Cemas pasien berkurang.
Post Operasi:
Dx 1 :

LINOVEA ARI PRABAWATI / 1501300019


PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN BLITAR
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
Klien dapat meningkatkan/mempertahankan mobilitas pada tingkat paling tinggi yang mungkin dapat mempertahankan
posisi fungsional
Dx 2 :
Pasien memiliki cukup energi untuk beraktivitas
Dx 3 :
Klien mengatakan nyeri berkurang atau hilang
Dx 4 :
Tidak terjadi infeksi
Dx 5 :
Klien menyatakan ketidaknyamanan hilang, menunjukkan perilaku tekhnik untuk mencegah kerusakan kulit/memudahkan
penyembuhan sesuai indikasi, mencapai penyembuhan luka sesuai waktu/penyembuhan lesi terjadi.
Dx 6 :
Mulai menunjukan adaptasi dan menyatakan penerimaan pada situasi diri

LINOVEA ARI PRABAWATI / 1501300019


PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN BLITAR
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
DAFTAR PUSTAKA

1. Arif, Muttaqin, Skep. 2008. Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem.


Muskuloskeletal.Jakarta: EG
2. Barbara C. Long. 1996. Perawatan Medikal Bedah (Suatu Pendekatan Proses
Keperawatan). Alih bahasa : Yayasan Ikatan alumsi Pendidikan Keperawatan Pajajaran
Bandung.Cetakan I.
3. Doengoes E.Marilyn. 2002. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC
4. Dorland. 1998. Kamus Saku Kedokteran. Jakarta: EGC.
5. Mansjoer, Arif dkk. 1999. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3.Jilid 1. Jakarta:
Media Aesculapius.
6. PriceS.A., Wilson L. M. 2006. Buku Ajar Ilmu.Penyakit Dalam Jilid I Edisi IV.
Jakarta : EGC.
7. Smeltzer, Suzanne C. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah edisi 3
volume 8. Jakarta: EGC.
8. Sylvia A. Price. 2006. Patofosiologi Konsep Penyakit. Jakarta: EGC
Uantox. 2012.Fraktur Torakolumbal.http://www.scribd.com/doc/33615745/fraktur-
torakolumbal.htmlDiakses tanggal: 19-09-2012. Jam: 21.19 WITA

LINOVEA ARI PRABAWATI / 1501300019


PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN BLITAR
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG