Anda di halaman 1dari 2

Status

Dokumen Induk Salinan No.Distribusi

STANDART OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)


SOP PERAWATAN LUKA BAKAR DI PUSKESMAS

No Dokumen No Revisi Halaman

Puskesmas Cianjur
Kota

PROTAP Tanggal Terbit Disetujui oleh,


Kepala Puskesmas Cianjur Kota
01 Januari 2013

dr. Tjendrawati Pudjohartono


NIP. 19610923 198903 2004

Pengertian Luka bakar (combustio/burn) adalah cedera (injuri) sebagai akibat kontak
langsung atau terpapar dengan sumber-sumber panas (thermal), listrik
(electrict), zat kimia (chemycal), atau radiasi (radiation).

Tujuan A. Mencegah infeksi pada luka bakar.


B. Mempercepat penyembuhan pada luka bakar.
C. Mencegah kecacatan pasca luka bakar.

Kebijakan 1 orang Dokter Umum dan 2 orang Perawat

Prosedur 1. Langkah – langkah perawatan luka bakar Derajat I adalah sebagai


berikut :
a. Memberikan salam kepada klien dengan nada lembut dan senyum
serta menanyakan luka bakar di bagian tubuh sebelah mana.
b. Menjelaskan tujuan perawatan luka bakar untuk mencegah infeksi,
mempercepat penyembuhan luka serta mencegah kecacatan.
c. Menanyakan kepada klien apakah ada yang belum di mengerti
mengenai perawatan luka bakar dan menanyakan kesiapan klien untuk
dilakukan tindakan luka bakar ,jika klien siap maka dilanjutkan
penandatanganan informed consent.
d. Mengatur posisi klien di bed tindakan supaya luka dapat terlihat
jelas dan mudah dilakukan perawatan luka oleh pemeriksa, misalnya
apabila luka ada di tubuh sebelah kiri maka tubuh klien miring ke
kanan dan begitu juga sebaliknya dan posisi luka menghadap ke atas.
e. Membuka peralatan medis dan meletakkan di samping kiri klien.
f. Bila luka bakar tertutup pakaian maka minta ijin untuk membuka
pakaian supaya luka terlihat jelas dan membuka pakaian dengan hati-
hati, bila sulit basahi dengan NaCl 0,9%.
g. Membersihkan luka bakar dengan cara mengirigasi yaitu dengan
cara mengaliri bagian luka menggunakan NaCl 0,9% dengan meletakan
bengkok di bawah luka terlebih dahulu.
h. Melakukan debridement bila terdapat jaringan nekrotik dengan cara
memotong bagian nekrotik dengan mengangkat jaringan nekrotik
menggunakan pinset chirurgis dan digunting dengan gunting chirurgis
mulai dari bagian yang tipis menuju ke bagian tebal , dan bila ada bula
dipecah dengan cara ditusuk dengan jarum spuit steril sejajar dengan
permukaan kulit dibagian pinggir bula kemudian dilakukan
pemotongan kulit bula dimulai dari pinggir dengan menggunakan
gunting dan pinset chirugis.
i. Mengeringkan luka dengan cara mengambil kasa steril dengan
pinset anatomis lalu kasa steril ditekankan pelan-pelan sehingga luka
benar-benar dalam kondisi kering.
j. Memberikan obat topical (silver sulfadiazin) sesuai luas luka dengan
menggunakan dua jari yang telah diolesi obat tersebut.
k. Menutup luka dengan kasa steril.
l. Memasang plester dengan digunting sesuai ukuran dan ditempelkan di
atas kasa steril.
m. Menjelaskan bahwa perawatan luka telah selesai.
n. Membersihkan alat medis ( lihat SOP Sterilisasi).
o. Membersihkan sampah medis (lihat SOP Membuang Sampah Medis).
p. Membersihkan ruangan2. Langkah – langkah perawatan luka bakar Derajat
II – III adalah memberikan tindakan resusitasi cairan :
a. Pada orang dewasa, dengan luka bakar tingkat II-III 20 % atau lebih sudah
ada indikasi untuk pemberian infus karena kemungkinan timbulnya syok.
Sedangkan pada orang tua dan anak-anak batasnya 15%.
b. Formula yang dipakai untuk pemberian cairan adalah formula menurut
Baxter. Formula Baxter terhitung dari saat kejadian (orang dewasa) :
1). 8 jam pertama ½ (4cc x KgBB x % luas luka bakar) Ringer Laktat.
2). 16 jam berikutnya ½ (4cc x KgBB x % luas luka bakar) Ringer
Laktat ditambah 500-1000cc koloid.
c. Modifikasi Formula Baxter untuk anak-anak adalah:
1). Replacement : 2cc/ KgBB/ % luas luka bakar
2). Kebutuhan faali : Umur sampai 1 tahun 100cc/ KgBB
Umur 1-5 tahun 75cc/ KgBB
Umur 5-15 tahun 50cc/ Kg BB
d. Sesuai dengan anjuran Moncrief maka 17/20 bagian dari total cairan
diberikan dalam bentuk larutan Ringer Laktat dan 3/20 bagian diberikan
dalam bentuk koloid. Ringer laktat dan koloid diberikan bersama dalam
botol yang sama. Dalam 8 jam pertama diberikan ½ jumlah total cairan
dan dalam 16 jam berikutrnya diberikan ½ jumlah total cairan.

3. Bila luka bakar Derajat II dalam, III atau lebih dari 25 % pasien dirujuk ke
Rumah Sakit.
4. Pengobatan
a.Suntikan ATS pada pasien
1). ATS 1 x 100.000 unit untuk BB > 50 kg (test dulu) atau ATS 1 x
60.000 unit untuk BB 50 kg (test dulu).
2). Membaca hasil test :
 Bila hasil test negatif berikan 50.000 unit IV dan 50.000 unit IM
(BB : 50 kg).
 Bila hasil test negatif berikan 30.000 unit IV dan 30.000 unit IM
(BB : 50 kg).
 Bila hasil test positif, lakukan bedreska dengan cara sbb :
 Ambil ATS 0,1 ml
 Lengan setengah bagian voler direnggangkan, kemudian
disuntikkan ATS subcutan, tunggu 30 menit
 Baca hasil test ; bila ada indurasi maka test positif
 ATS 0,1 ml + 0,5 NaCl masuk secara SC perlahan – lahan
 Setelah 30 menit, ATS 0,5 ml + 0,5 NaCl masuk secara SC
perlahan – lahan
 Setelah 30 menit, ATS dimasukkan semua secara IM perlahan –
lahan.
 Jika telah mendapat imunisasi toksoid tetanus (TT) maka hanya
diberikan 1 dosis boster 0,5 ml secara IM.
b. Antibiotik diberikan selama 5 hari : ( amoxicilin 500 mg atau ciprofloxacin
500 mg )
Dosis : Dewasa 250 mg – 500 mg 3 x 1 tab
Anak – anak 20 mg/Kg BB/Hari
c. Diberikan analgesik : ( parasetamol atau antalgin atau asam mefenamat )
Dosis : Dewasa 250 mg – 500 mg 3 x 1
Anak – anak 3 x ¼ tab (parasetamol 10 mg/kg/BB)
a. Krim antibiotik gentamisin 0,1 % krim dioleskan pada bagian yang luka
1. Mengontrol luka setiap 3 hari sekali kecuali jika luka infeksi kontrol
setiap hari.
2. Mengevaluasi apakah ada gangguan dalam penyembuhan dan pergerakan
otot atau sendi.

Unit terkait