Anda di halaman 1dari 13

13

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Teori

2.1.1 Definisi nyeri

nyeri adalah suatu fenomena kompleks yang berpengaruh hanya pada

jaringan yang mengalami cidera atau penyakit.persepsi klien terhadap

nyeri dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial, budaya, faktor kepribadian

dan status psikologis ( waugh 1990:maryunani 2013).

1. Kategori nyeri secara umum:

a. Nyeri akut adalah nyeri secara tiba-tiba dan umumnya berkaitan

dengan cidera sfesifik. Nyeri akut mengindikasikan bahwa

kerusakan atau cidera telah terjadi. Nyeri akut biasanya menurun

sejalan dengan terjadinya penyembuhan, nyeri ini umumnya

terjadi kurang dari 6 bulan dan biasanya kurang dari 1 bulan.

Cidera atau penyakit yang menyebabkan nyeri akut dapat

sembuh secara spontan atau dapat memerlukan pengobatan.

b. Nyeri kronik adalah nyeri konstan atau intermitten yang menetap

sepanjang suatu periode waktu. Nyeri ini berlangsung diluar

waktu penyembuhan yang di perkirakan dan tidak adapat

dikaitkan dengan penyebab atau cidera sfesifik. Nyeri kronik

sebagai nyeri yang berlangsung selama 6 bulan atau lebih. Nyeri


14

kronik dapat terjadi pada kanker tetapi nyeri jenis ini biasanya

mempunyai penyebab yang dapat di identifikasi (smeltzer 2002).

2. Macam-macam nyeri berkaitan dengan berbagai macam luka antara

lain :

a. Nyeri pada trauma pembedahan, dimana hanya terjadi pada

durasi yang terbatas, waktu yang diperlukan luka untuk

perbaikan alamiah terhadap jaringan-jaringan yang rusak lebih

singkat.

b. Nyeri pada ulkus kronik, seperti luka kanker durasinya tidak ada

batasnya.

2.1.2 Pengkajian Nyeri

1. Unidimentional
Hanya mengukur intensitas nyeri, cocok (appropriate) untuk nyeri akut,
skala yang biasa digunakan untuk evaluasi outcome pemberian analgetik.
Skala pengkajian nyeri unidimensional meliputi :
a. Skala Analog Visual atau Visual Analog Scale (VAS)
Skala analog visual (visual analog scale atau VAS) adalah cara
dimensi tunggal yang paling banyak digunakan untuk menilai nyeri.
Skala linier ini menggambarkan secara visual gradasi tingkat nyeri
yang mungkin dialami seorang pasien. Rentang nyeri diwakili sebagai
garis sepanjang 10 cm, dengan atau tanpa tanda pada tiap centimeter.
Tanda pada kedua ujung garis ini dapat berupa angka atau pernyataan
deskriptif. Ujung yang satu mewakili tidak ada nyeri, sedangkan ujung
yang lain mewakili rasa nyeri terparah yang mungkin terjadi. Skala
dapat dibuat vertikal atau horizontal. Manfaat utama VAS adalah
15

penggunaannya yang sangat mudah dan sederhana. Pada periode


pascabedah, VAS tidak banyak bermanfaat karena pada VAS
diperlukan koordinasi visual dan motorik serta kemampuan konsentrasi.
VAS juga dapat diadaptasi menjadi skala hilangnya atau reda rasa nyeri
( potter & perry 2006).
b. Skala Numerik atau Numeric Rating Scale (NRS)
NRS digunakan untuk menilai intensitas atau keparahan nyeri dan
memberi kebebasan penuh klien untuk mengidentifikasi keparahan
nyeri (potter & perry 2006).
Gambar 2.1
Skala Numerik atau Numeric Rating Scale (NRS)

Skala penilaian NRS ( Numeric Rating Scale) lebih digunakan


sebagai pengganti alat pendeskripsi kata (Maryunani 2013). Intensitas
nyeri pada skala 0 tidak terjadi nyeri, intensitas nyeri ringan pada skala
1 sampai 3, intensitas nyeri sedang, pada skala 4 sampai 6,intensitas
nyeri berat, pada skala 7 sampai 10 (potter & perry 2006).
c. Wong Baker Pain Rating Scale
Menurut wong dan baker (1998) pengukuran skala nyeri menggunakan
face pain rating scale yaitu terdiri dari enam wajah yang tersenyum
untuk “tidak ada nyeri” hingga wajah yang menangis “nyeri berat”
(Maryunani 2013).
16

2.1.3 Pengkajian persepsi nyeri

Alat-alat pengkajian nyeri dapat digunakan untuk mengkaji persepsi

nyeri seseorang. Alat-alat pengkajian nyeri dapat digunakan untuk

mengdokumentasikan kebutuhan intervensi, untuk mengevaluasi

efektivitas intervensi dan untuk mengidentifikasi kebutuhan akan

intervensi alternatif atau tambahan jika intervensi sebelumnya tidak

efektif dalam meredakan nyeri.

Deskripsi verbal tentang nyeri, informasi yang diperlukan harus

menggambarkan nyeri individual dalam beberapa cara sebagai berikut :

a. Intensitas nyeri. Individu dapat diminta untuk membuat tingkatan

nyeri pada skala verbal (misalnya: tidak nyeri, nyeri sedikit, nyeri

hebat, atau sangat hebat atau 0 : tidak ada nyeri ; 10 : nyeri sangat

hebat).
17

b. Karakteristik nyeri, termasuk letak, durasi, irama ( misal : terus-

menerus, hilang timbul, periode bertambah dan berkurangnya

intensitas atau keberadaan dari nyeri) dan kualitas (misal : nyeri

seperti ditusuk, seperti terbakar, sakit, nyeri seperti tertekan).

c. Faktor-faktor yang meredakan nyeri : gerakan, kurang bergerak,

pengerahan tenaga, istirahat, obat-obat bebas dan apa yang dipercaya

pasien dapat membantu mengatasi nyerinya.

d. Efek nyeri terhadap aktivitas kehidupan sehari-hari, misalnya : tidur,

nafsu makan, konsentrasi, interaksi dengan orang lain, gerakan fisik,

bekerja dan aktifitas santai. Nyeri akut sering berkaitan dengan

ansietas dan nyeri kronis dengan depresi.

2.1.4 Faktor yang mempengaruhi respon nyeri

Nyeri yang dialami oleh pasien dipengaruhi oleh sejumlah faktor,

terhadap pengalaman masa lalu dengan nyeri, ansietas, usia dan

pengharapan tentang penghilang nyeri ( efek plasebo). Faktor-faktor

ini dapat meningkatkan atau menurunkan persepsi nyeri pasien,

meningkat dan menurunnya toleransi terhadap nyeri dan pengaruh

sikap respon terhadap nyeri.


18

2.1.5 Strategi penatalaksanaan nyeri

a. Pendekatan farmakologis meliputi obat analgesik, pendekatan ini

diseleksi berdasarkan pada kebutuhan dan tujuan pasien secara

individu. Pendekatan farmakologi dapat mencakup pemberian obat

analgesik sesuai terapi, obat analgesik adalah istilah yang digunakan

untuk mewakili golongan obat penahan rasa sakit antara lain

Nonsteroid Antiinflamatori Drugs (NSAID) seperti Aspirin,

Naproksen dan ibuprofen juga bisa mengurangi respon demam dan

panas. Analgesik bersifat narkotik seperti opioid dan opidium bisa

menekan sistem saraf pusat (SSP) dan mengubah persepsi terhadap

nyeri (noisepsi) (ishak 2010).

b. Pendekatan non farmakologis mencakup terapi hangat dingin, tekhnik

relaksasi serta teknik distraksi. Teknik distraksi meliputi penggunaan

terapi musik. Musik adalah suatu komponen yang dinamis yang bisa

mempengaruhi baik psikologis maupun fisiologis bagi pendengarnya

(wilgram 2002 : novita 2012). Musik adalah paduan ransangan suara

yang membentuk getaran yangh dapat memberikan rangsang pada

pengindraan, organ tubuh dan juga emosi. Ini berarti, individu yang

mendengarkan musik akan memberi respon, baik secara fisik maupun

psikis, yang akan menggugah sistem tubuh, termasuk aktifitas

kelenjar-kelenjar didalamnya (yunita sari 2008). Mengingat

banyaknya manfaat dari musik, kini musik mulai digunakan untuk


19

terapi. Berbagai penelitian membuktikan pemanfaatan musik untuk

menangani berbagai masalah : kecemasan, kanker, tekanan darah

tinggi, nyeri kronis, disleksia, bahkan penyakit mental (yunita sari

2008).

Definisi terapi musik adalah penggunaan musik dalam lingkup klinis,

pendidikan dan sosial bagi klien atau pasien yang membutuhkan

pengobatan, pendidikan atau intervensi pada aspek sosial dan psikologis

(wingram 2000;Djohan 2006).

2.1.6 Manfaat terapi musik

a. Mampu menutupi bunyi dan perasan yang tidak nenyenangkan

b. Memperlambat dan menyeimbangkan gelombang otak

c. Menstabilkan frekuensi pernafasan

d. Mempengaruhi denyut jantung, nadi dan tekanan darah manusia

e. Mengurangi ketegangan otot serta memperbaiki gerak dan kondisi

tubuh

f. Mempengaruhi suhu tubuh

g. Meningkatkan endorfin (sebagai hormon kebahagiaan)

h. Memperkuat memori dan kemampuan akademik

i. Meningkatkan daya tahan tubuh serta meransang pencernaan.

j. Mengurangi rasa sakit.


20

2.1.7 Cara kerja terapi musik


Musik bersifat terapeutik artinya dapat menyembuhkan, salah satu
alasannya karena musik menghasilkan ransangan ritmis yang kemudian
ditangkap melalui organ pendengaran dan diolah dalam sistem saraf serta
kelenjar otak yang selanjutnya mereorganisasi interpretasi bunyi kedalam
ritme internal pendengarannya. Ritme internal ini mempengaruhi
metabolisme tubuh mausia sehingga prosesnya berlangsung dengan lebih
baik. Dengan metabolisme yang lebih baik, tubuh akan mampu
membangun sistem kekebalan yang lebih baik, dan dengan sistem
kekebalan yang lebih baik menjadi lebih tangguh terhadap kemungkinan
serangan penyakit ( satya darma 2002).
sebagian besar perubahan fisiologis tersebut akibat aktifias dua neuro
endokrin yang dikendalikan oleh hipotalamus yaitu sistem simpatis dan
sistem korteks adrenal (prabowo & regina 2007).
Hipotalamus juga dinamakan pusat stres otak karena fungsi gandanya
dalam keadaan darurat. Fungsi pertamanya mengaktifkan cabang
simpatis dan sistem otonom. Hipotalamus menghantarkan impuls saraf ke
nukleus dibatang otak yang mengendalikan fungsi sistem saraf otonom.
Cabang simpatis saraf otonom bereaksi langsung pada otot polos dan
organ internal yang menghasilkan beberapa perubahan tubuh seperti
peningkatan denyut jantung dan peningkatan tekanan darah. Sistem
simpatis juga menstimulasi medula adrenal u8ntuk melepaskan hormon
epinefrin (adrenalin) dan norepinefrin kedalam pembuluh darah, sehingga
berdampak pada peningkatan denyut jantung dan tekanan darah, dan
norepinefrin secara tidak langsung melalui aksinya pada kelenjar
hipofisis melepaskan gula dari hati. Adrenal kortikotropin hormon
(ACTH) menstimulasi lapisan luar adrenal (korteks adrenal)
menyebabkan pelepasan hormon (salah satu yang utama adalah kortisol)
yang meregulasi kadar glukosa dan mineral tertentu (primadita 2011).
21

2.1.8 Teknik pemberian terapi musik

Belum ada rekomendasi mengenai durasi yang optimal dalam pemberian

terapi musik. Sering kali durasi yang diberikan dalam pemberian terapi

musik adalah selama 20 sampai 35 menit, tetapi untuk masalah kesehatan

yang lebih spesifik terapi musik diberikan dengan terapi 0 sampai 45

menit. Ketika mendengarkan terapi musik klien berbaring dengan kondisi

yang nyaman, sedangkan tenpo harus sedikit lebih lambat 50 sampai 70

ketukan per menit menggunakan irama yang tenang ( schou 2007).

2.1.9 Definisi musik klasik

Musik klasik adalah sebuah musik yang dibuat dan ditampilkan oleh

orang yang terlatih secara profesional melalui pendidikan musik. Musik

klasik juga merupakan suatu tradisi dalam menulis musik, yaitu ditulis

dalam bentuk notasi musik dan dimainkan sesuai dengan notasi yang

ditulis. Musik klasik adalah musik yang komposisinya lahir dari budaya

eropa dan digolongkan melalui periodisasi tertentu (kamus besar bahasa

indonesia 2008). Dibanding gubahan musik klasik lainnya melodi dan

frekuensi yang tinggi pada karya-karya mozart mampu merangsang dan

memberdayakan daerah kreatif dan motivatif di otak. Dari sekian banyak

musik klasik, sebetulnya gubahan milik wolfgang amadeus mozart (1756-

1791) yang paling disarankan memiliki efektifitas tinggi (SULISTYO

RINI, E.(2014). EFEKTIFITAS TERAPI MUSIK KLASIK (MOZART)

TERHADAP WAKTU KEBERHASILAN INISIASI MENYUSUI DINI


22

DAN DURASI MENYUSU BAYI (doctoral dissertation, program pasca

sarjana undip). Pemberian terapi musik klasik membuat seseorang

menjadi rileks, menimbukkan rasa aman dan sejahtera, melepaskan rasa

gembira dan sedih, melepaskan rasa sakit dan menurunkan tingkat stres

(musbikin 2009). Hal tersebut terjadi karena adanya penurunan adrenal

cortikotropin hormon (ACTH) yang merupakan hormon stres (Djohan

2006). Semua intervensi akan sangat berhasil bila dilakukan sebelum

nyeri menjadi lebih parah, dan keberhasilan terbesar sering dicapai jika

beberapa intervensi dilakukan secara simultan.

2.1.10 Penelitian Terkait

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Ratih Swarihadiyanti 2014 dengan


judul “PENGARUH PEMBERIAN TERAPI MUSIK INSTRUMENTAL DAN
MUSIK KLASIK TERHADAP NYERI SAAT WOUND CARE PADA
PASIEN POST OP DI RUANG MAWAR RSUD DR. SOEDIRMAN
MANGUN SUMARSO WONOGIRI” berdasarkan hasil uji statistik diperoleh
nilai p= 0,017 yang berarti < 0,05 maka terdapat perbedaan bermakna artinya
ada pengaruh pemberian terapi musik instrumental dan musik klasik terhadap
penurunan nyeri saat wound care pada pasien post op.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Rina Indrawati 2010 dengan judul
“ EFEKTIFITAS TERAPI MUSIK TERHADAP PENURUNAN INTENSITAS
NYERI PADA PASIEN POST OP DI RS PKU MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA” didapatkan bahwa nilai p< 0,05 yang berarti terapi musik
efektif terhadap perubahan intensitas nyeri pada pasien post-operasi.
23

2.2 Hipotesis Penelitian

Pengertian Hipotesis Penelitian Menurut Sugiyono hipotesis merupakan


jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan
masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk pertanyaan. Dikatakan
sementara karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori.
Hipotesis dirumuskan atas dasar kerangka pikir yang merupakan jawaban
sementara atas masalah yang dirumuskan. Berdasarkan masalah penelitian,
maka hipotesis dalam penelitian ini adalah
Hipotesis Nol (H0) : Tidak ada pengaruh terapi musik klasik
(mozart) terhadap perubahan skala nyeri pada pasien post op di ruang bedah
rumah sakit pendidikan universitas tanjungpura.
Hipotesis Alternatif (Ha) : Ada pengaruh terapi musik klasik (mozart)
terhadap perubahan skala nyeri pada pasien post
op di ruang bedah rumah sakit pendidikan
universitas tanjungpura.
24

2.3 Kerangka Teori

Teori Nyeri

Teori Teori Teori Teori


Spesifik/ Pattern/ Gate Transmisi
Teori Teori Control/ dan
Pemisahan Pola Teori Inhibisi
Kontrol
Gerbang

Terapi Terapi Non


Farmakologis Farmakologis

- Analgesik - Edukasi
- Anti inflamasi - Okupasi
non steroid
- Penurunan Berat
(NSAIDs)
- COX-2 Badan
inhibitor - Latihan
- Agen Topikal

Sumber : Anas Tamsuri, 200s


25