Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK

“Memahami Basis Kas versus Basis Akrual pada Akuntansi Anggaran”

Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas

Mata Kuliah Akuntansi Sektor Publik

Dosen Pembimbing : Muhammad Ahyaruddin, SE.,M.Sc.,Ak

Disusun Oleh :

KELOMPOK 3

1. Bella Farissa Oktary : 150301100


2. Deni Saputra : 150301080
3. Qonita Aufa Dina : 150301099

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS JURUSAN AKUNTANSI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH RIAU

2017

i
KATA PENGANTAR

Puji Syukur kami panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat
limpahan Rahmat dan Karunia-nya sehingga penulis dapat menyusun makalah dengan
baik dan tepat pada waktunya. Pada kesempatan ini penulis membuat makalah yang
berjudul “Memahami Basis Kas versus Basis Akrual pada Akuntansi Anggaran”.

Makalah ini dibuat beberapa bantuan dari berbagai pihak untuk membantu
menyelesaikan tantangan dan hambatan selama mengerjakan Makalah ini. Oleh karena itu,
penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah
membantu dalam penyusunan Makalah ini.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada makalah
ini. Oleh karena itu penulis mengundang pembaca untuk memberikan saran serta kritik
yang dapat membangun. Kritik dari pembaca sangat penulis harapkan untuk
penyempurnaan makalah ini.

Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

Pekanbaru, Desember 2017

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................... i

DAFTAR ISI................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang........................................................................................ 1

1.2 Rumusan Masalah .................................................................................. 2

1.3 Tujuan Makalah ...................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Perjalanan reformasi akuntansi keuangan pemerintah di indonesia ........ 3

a. Tahap pertama ................................................................................... 4

b. Tahap kedua ....................................................................................... 4

c. Tahap ketiga....................................................................................... 4

d. Tahap keempat .................................................................................. 5

2.2 Konsep dan Implementasi Basis Kas dan Basis Akrual .......................... 5

2.3 Perkembangan Akuntansi Berbasis Akrual di Berbagai Negara ............. 8

2.4 Pro-Kontra Mengadopsi Akuntansi Akrual Dalam Sektor Publik .......... 9

2.5 Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual di Indonesia............................ 10

2.6 Kendala-Kendala Yang Dihadapi............................................................ 11

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan ............................................................................................. 12

DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Wacana tentang good governance pada organisasi pemerintahan atau
yang disebut dengan good government governance merupakan isu yang paling
mengemuka pada era reformasi sampai dengan sekarang ini. Tuntutan
masyarakat agar pengelolaan negara dijalankan dengan transparan dan
akuntabel sejalan dengan keinginan masyarakat internasional. Tuntutan dari
masyarakat internasional tersebut juga berdampak pada sistem akuntansi
pemerintahan di indonesia. Hasilnya, pada tahun 2010, Komite standar
akuntansi pemerintahan (KSAP) menerbitkan standar akuntansi pemerintahan
berbasis akrual yang ditetapkan melalui PP Nomor 71 Tahun 2010 tentang
Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) yang menggantikan PP Nomor 24
Tahun 2005 yang menggunakan basis kas menuju akrual (cash toward
accrual).

Pada dasarnya, hanya terdapat dua basis akuntansi atau dasar akuntansi
yang dikenal dalam akuntansi, yaitu akuntansi berbasis kas (cash basis) dan
akrual (accrual basis) sedangkan, jika ada basis akuntansi yang lain seperti
basis kas modifikasian, atau akrual modifikasian atau kas menuju akrual,
merupakan modifikasi diantara basis kas dan basis akrual untuk masa transisi
(Halim dan Kusufi, 2012). Dalam akuntansi basis kas, transaksi tidak
diakui/dicatat sampai transaksi tersebut secara kas benar-benar diterima atau
dikeluarkan. Apabila transaksi tersebut tidak berpengaruh terhadap kas, maka
transaksi tersebut tidak akan dicatat. Padahal, kenyataannya suatu transaksi
belum tentu berpengaruh terhadap kas. Oleh karena itu, penerapan dasar
akuntansi ini dianggap banyak kelemahan, terutama laporan keuangan yang
dihasilkan tidak informatif.

Sedangkan, basis akrual adalah basis akuntansi yang mengakui transaksi


dan peristiwa lainnya pada saat transaksi dan peristiwa tersebut terjadi.

1
Transaksi dan peristiwa tersebut dicatat dalam catatan akuntansi dan diakui
dalam laporan keuangan pada periode terjadinya (Halim dan Kusufi, 2012).
Akuntansi berbasis akrual dianggap memiliki sejumlah manfaat untuk
organisasi sektor publik. Oleh karena itu, makalah ini bertujuan untuk
menjelaskan pentingnya memahami penerapan dasar akuntansi pada organisasi
sektor publik, mulai dari perjalanan sejarah penerapannya di indonesia,
perbedaan konsep dan aplikasinya, perkembangan di berbagai negara, dan
kendala-kendala yang dihadapi.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka kami


merumuskan beberapa rumusan masalah sebagai berikut
1) Bagaimanakah Perjalanan Reformasi Akuntansi Keuangan
Pemerintahan di Indonesia?
2) Apa Saja Konsep dan implementasi Basis Kas dan Basis Akrual?
3) Bagaimanakah Perkembangan Akuntansi Berbasis Akrual di Berbagai
Negara ?
4) Jelaskan Kendala-Kendala yang Dihadapi !

1.3. Tujuan Penelitian


Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan di atas,
maka kami menyusunbeberapa tujuan penulisan makalah ini sebagai berikut :
1) Untuk Mengetahui Perjalanan Reformasi Akuntansi Keuangan
Pemerintahan di Indonesia.
2) Untuk Mengetahui Apa Saja Konsep dan implementasi Basis Kas dan
Basis Akrual.
3) Untuk Mengetahui Tentang Perkembangan Akuntansi Berbasis Akrual
di Berbagai Negara.
4) Menginformasikan Kendala-Kendala yang Dihadapi Dalam Basis Kas
dan Basis Akrual.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. PERJALANAN REFORMASI AKUNTANSI KEUANGAN


PEMERINTAH DI INDONESIA

Perjalanan panjang penerapan akuntansi pemerintahan di indonesia tidak


bisa lepas dari perkembangan sosial politik yang memengaruhi perubahan
sistem politik dan pemerintahan di indonesia. Perubahan sistem politik dan
pemerintahan tersebut berdampak pada perubahan peraturan perundang-
undangan yang mengatur pengelolaan keuangan negara, termasuk
akuntansinya, karena penerapan sistem akuntansi pemerintahan dari suatu
negara akan sangat bergantung pada peraturan perundang-undangan yang
berlaku pada negara yang bersangkutan (Dwi Ratna, 2010)

Dalam konteks akuntansi pemerintah daerah, Ritonga (2010)


membaginya menjadi tiga tahap yaitu dari mulai tahun 1974 sampai dengan
saat ini. Tahap pertama adalah periode mulai tahun 1974 sampai dengan
tahun 1999 yang dikenal sebagai masa akuntansi tradisional. Regulasi yang
menjadi acuan pada periode ini adalah UU Nomor 5 Tahun 1974 tentang
pokok-pokok pemerintah di Daerah, PP Nomor 5 Tahun 1975 dan PP Nomor
6 Tahun 1975. Tahap kedua, yaitu periode antara tahun 2000 sampai dengan
tahun 2005, yang merupakan tahap reformasi akuntansi tahap pertama pada
era otonomi daerah. Pada periode tahap kedua ini relugasi yang menjadi
acuan adalah UU Nomor 22 Tahun 1999 dan UU Nomor 25 Tahun 1999,yang
menjadi tonggak otonomi daerah. Tahap ketiga adalah tahap reformasi
akuntansi tahap lanjutan (kedua), yang dimulai tahun 2005 sampai dengan
tahun 2010. Pada periode ketiga ini, regulasi yang menjadi acuan adalah PP
Nomor 24 Tahun 2005 dan PP Nomor 58 Tahun 2005 yang merupakan
penjabaran dari paket undang-undang pengelolaan keuangan negara, yaitu
UU Nomor 17 Tahun 2003, UU Nomor 1 Tahun 2004, UU Nomor 32 Tahun
2004, dan UU Nomor 33 Tahun 2004. Titik awal dimulainya tahap baru

3
(tahap ke-4) dalam perkembangan akuntansi pemerintah, yaitu tahap
penerapan akuntansi pemerintahan berbasis akrual. Penerapan akuntansi
berbasis akrual ini masih dalam rangka memenuhi apa yang diamanatkan
dalam Pasal 36 UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang keuangan negara.

a. Tahap Pertama : Periode Tahun 1974-1999

Pada periode ini disebut juga dengan periode pra reformasi. Pada masa
ini belum ada undang-undang yang mengatur secara spesifik tentang akuntansi
pemerintahan. Semua pengelolaan keuangan negara, termasuk akuntansi
pemerintahan, diatur menggunakan aturan perundang-undangan yang
merupakan warisan Belanda. Sistem pencatatan yang dilakukan masih sangat
sederhana, yaitu menggunakan sistem tata buku tunggal berbasis kas, sehingga
disebut juga periode sistem akuntansi tradisional, yang lebih berbentuk
kegiatan “pembukuan” bukan kegiatan “akuntansi”.

b. Tahap kedua : Periode Reformasi Awal antara Tahun 2000-2005

Pada periode kedua perjalanan praktik akuntansi pemerintahan di


indonesia ini juga tidak bisa lepas dari pengaruh reformasi politik yang terjadi
pada saat itu. Pada periode ini merupakan masa reformasi dengan ditandai
jatuhnya rezim orde baru yang telah berkuasa selama 32 tahun. Perubahan
mendasar lainnya pada sistem akuntansi pemerintahan adalah adanya
pergeseran dari sistem pencatatan single entry dan berbasis kas, menjadi
double entry dan berbasis kas modifikasian. Pada masa prareformasi diterapkan
sistem pencatatan single entry dengan alasan utama untuk kemudahan dan
kepraktisan saja.

c. Tahap ketiga: Periode Reformasi Lanjutan antara Tahun 2005-2010

Pada periode ini merupakan kelanjutan dari periode sebelumnya yaitu


melanjutkan reformasi pengelolaan keuangan negara (daerah), dengan
diterbitkannya tiga paket undang-undang tentang keuangan negara, yakni UU
Nomor 17 Tahun 2003 tentang keuangan negara, UU Nomor 1 Tahun 2004
tentang perbendaharaan negara, dan UU Nomor 15 Tahun 2004 tentang

4
Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. Perubahan
mendasar pada sistem akuntansi pemerintahan periode ini adalah perlunya
penyusunan sistem akuntansi keuangan daerah yang mensyaratkan adanya
standar akuntansi pemerintahan dan prosedur akuntansi keuangan daerah untuk
menjamin konsistensi dalam pelaporan keuangan.

d. Tahap keempat: Periode Penerapan Akuntansi Pemerintahan


Berbasis Akrual antara Tahun 2010-Sekarang

Sama halnya dengan tahap ketiga, periode ini merupakan lanjutan dari
bagian reformasi keuangan negara (daerah), terutama dalam hal akuntansi
pemerintahan. Reformasi yang terjadi adalah dimulainya penerapan akuntansi
pemerintahan berbasis akrual dengan dikeluarkannya PP Nomor 71 Tahun
2010 tentang SAP, yang menggantikan PP Nomor 24 Tahun 2005 tentang
SAP, yang telah berlaku selama lima tahun.

2.2 BASIS KAS VERSUS BASIS AKRUAL : KONSEP DAN


IMPLEMENTASINYA DALAM AKUNTANSI ANGGARAN

Sistem akuntansi kas adalah sistem pencatatan yang mencatat pendapatan


dan beban di dalam periode terjadinya penerimaan dan pembayaran kas.
Sementara sistem akuntansi akrual adalah sistem pencatatan yang mencatat
pendapatan pada saat pendapatan tersebut diperoleh (earned) ---kas diterima
maupun tidak---dan beban dicatat pada saat beban tersebut terjadi (incurred)---kas
dibayarkan atau tidak. Dalam sistem basis akrual harus diterapkan sistem alokasi
yang umumnya dilakukan secara subjektif arbitrer karena pembebanan biaya,
pengakuan pendapatan, dan prinsep “matching”-nya harus mematuhi prinsip
“time period”. Artinya, jika terdapat biaya yang digunakan untuk mendapatkan
penghasilan pada periode tahun buku yang dilaporkan, maka walaupun belum di
bayar harus diperhitungkan karena memang sudah merupakan hak atau kewajiban
entitas. Dalam basis kas murni, pembelian aset tetap misalnya bangunan harus
dianggap sebagai “beban” pada saat dikeluarkan sehingga tidak ada alokasi
depresiasi selama sisa umur penggunaannya.

5
a. Akuntansi Kas versus Akuntansi Akrual

Karakteristik Akuntansi Kas Akuntansi


Akrual
Operasionalisasi Relatif sederhana Relatif
rumit/komple
ks
Hubungannya dengan Relatif kuat Relatif lemah
sistem pendapatan dan
anggaran tradisional
Cakupan transaksi Mencatat hanya transaksi Mencatat
yang menghasilkan transaksi
pembayaran dan nonkas yang
penerimaan kas diestimasi
dengan baik
Waktu Mencatat hanya transaksi Mencatat
yang terjadi pada periode pengaruh
akuntansi yang relevan estimasi di
masa
mendatang
dari transaksi
saat ini dan
perubahan
kebijakan
Audit dan Relatif sederhana Relatif harus
pengendalian dilakukan

Karena sistem akuntansi kas relatif sederhana, maka relatif mudah untuk
diimplementasikan dan dijalankan. Kelebihannya juga relatif mudah dalam
audit dan pengendaliannya. Namun, sistem ini cakupannya hanya terbatas pada
transaksi yang menghasilkan pembayaran atau penerimaan kas, dan sistem ini
hanya mempertimbangkan transaksi yang terjadi pada periode akuntansi yang

6
relevan. Sedangkan akuntansi akrual relatif rumit untuk diimplementasikan dan
dijalankan dan keharusan untuk melakukan audit dan pengendalian. Meskipun
demikian, kelebihannya adalah mencakup pencatatan transaksi nonkas sebaik
transaksi kas dan mengakui pengaruh di masa mendatang (future effect) dari
transaksi dan perubahan kebijakan.

Ritonga (2010) menyimpulkan tiga kelemahan mendasar sistem


akuntansi berbasis kas, yaitu :

1. Informasi yang lebih kompleks dan tidak dapat dihasilkan;


2. Hanya terfokus pada aliran kas dan mengabaikan aliran sumber
daya lain;
3. Pertanggungjawaban kepada publik jadi terbatas hanya pada
penggunaan kas dan tidak pada sumber daya lainnya;

Penerapan dasar akrual memberikan hasil yang lebih baik dan


memberikan keuntungan sebagai berikut (Ahyani, 2007:35)

1. Memberikan ketelitian dalam penyajian laporan keuangan


pemerintah daerah dan memungkinkan untuk melakukan penilaian
secara lengkap terhadap kinerja pemerintah.
2. Lebih akurat dalam melaporkan nilai aset, kewajiban, maupun
pembiayaan pemerintah.
3. Memungkinkan dilakukan cutt off (pemisahan suatu periode
dengan periode yang lain) secara lebih sempurna dan
menginformasikan nilai-nilai ekonomis yang terkandung dalam
suatu periode tertentu.
4. Meningkatkan transparansi dalam pengelolaan keuangan
pemerintah dalam rangka akuntabilitas publik.

Bagaimana implikasi penerapan keduanya pada akuntansi anggaran ?


akuntansi anggaran merupakan teknik akuntansi yang paling berkembang dan
banyak digunakan di organisasi sektor publik, terutama pemerintah. Akuntansi
anggaran mencatat dan menyajikan akun operasinya sejajar dengan
anggarannya. Jumlah rekening belanja yang dianggarkan dikreditkan terhadap

7
rekening yang sesuai kemudian apabila belanja tersebut direalisasikan maka
akun tersebut didebit kembali. Saldo yang ada dengan demikian menunjukan
jumlah anggaran yang belum dibelanjakan. Teknik akuntansi anggaran dapat
membandingkan secara sistematik dan kontinu jumlah anggaran dengan
realisasi anggaran. Tujuan utama teknik ini adalah untuk menekankan peran
anggaran dalam siklus perencanaan, pengendalian dan akuntabilitas.
(Mardiasmo, 2009: 150: Ritonga, 2010;15).

2.3 PERKEMBANGAN AKUNTANSI BERBASIS AKRUAL DI


BERBAGAI NEGARA

Terdapat dorongan yang kuat dari lembaga-lembaga internassional, seperti


IMF dan Bank Dunia untuk mengadopsi akuntansi berbasis akrual dalam sektor
publik. IMF memiliki publikasi statistik yang dinamai Government Financial
Statistik Manual, yang menyajikan statistik pendapatan dan belanja pemerintah
dalam basis akrual.

Pada pemerintah level nasional, proses reformasi telah dimulai pada enam
negara: Spanyol, Inggris, Finlandia, Swedia, Swiss, Perancis. Tiga pemerintah
nasional yaitu Finlandia, Spanyol dan Swedia telah komplet menyelesaikan
reformasi (persyaratan legal, sistem baru) Pada level lokal, reformasi dilakukan
pada semua negara, dan di lima negara reformasi telah selesai: Finlandia,
Perancis, Nederland, Inggris dan Swiss. Akuntansi secara tradisional melayani
fungsi kontrol anggaran dalam arti membandingkan pengeluaran terhadap
anggaran (akuntansi anggaran).

Mardiasmo (2009) menambahkan bahwa negara yang berhasil dalam


menerapkan akuntansi akrual secara penuh adalah Selandia Baru yang telah
dilakukan sejak tahun 2001. Sistem akuntansi akrual yang diterapkan Selandia
Baru terbukti memberikan kontribusi yang besar dalam menghasilkan
informasi yang lebih komrehensif dibandingkan dengan sistem akuntansi
berbasis kas dalam hal kuantitas dan kualitasnya.

8
2.4 PRO-KONTRA MENGADOPSI AKUNTANSI AKRUAL DALAM
SEKTOR PUBLIK

Manfaat utama dari sistem akuntansi akrual adalah pendapatan dan


belanja pemerintah dapat dialokasikan secara tepat setiap saat. Dalam hal ini,
akuntabilitas dapat diimplementasikan secara lebih baik dengan akuntansi
akrual, yang mengakui beban saat dibayarkan. Boothe (2007) megutip dari
argumen Athukorala dan Reid (2003: 2) yang mendukung akuntansi akrual
dalam sektor publik.

“at once extreme, supporters of accrual accounting in government argue


that if it’s good enough for the private sector, it’s good enough for the public
sector”.

Selain itu, terdapat juga sejumlah kritik atas penerapan akuntansi akrual
disektor publik. Cakupan kritik meliputi dari masalah teknik seperti penilaian
aset, sampai ke pertanyaan yang lebih luas terkait dengan perbedaan kebutuhan
akuntansi antara sektor publik dengan sektor swasta dan akuntabilitas
demokratis.

Perbedaan utama diantara kedua dasar akuntansi, yaitu kas dan akrual,
juga pada letak manipulasi yang bisa dilakukan. Pada basis kas, laporan
keuangan dapat dimanipulasi dengan mengelola waktu transaksi. Sedangkan,
dalam kasus akuntansi akrual, lingkup (scope) manipulasi adalah inheren di
dalam pembentukan estimasi pendapatan dan beban. Jadi, akuntansi akrual
berpotensi memiliki lingkup (scope) manipulasi yang lebih besar. Oleh karena
itu, akuntansi akrual menyebabkan munculnya masalah pengendalian keuangan
yang lebih besar.

9
2.5 AKUNTANSI PEMERINTAHAN BERBASIS AKRUAL DI
INDONESIA : TINJAUAN ATAS PP NOMOR 71 TAHUN 2010
TENTANG STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN.

Sejak diterbitkan PP Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi


Pemerintahan (SAP) yang ditetapkan pada tanggal 22 oktober 2010, basis
akuntansi yang digunakan pada sistem akuntansi pemerintahan di indonesia
adalah menggunakan basis akrual. Hal ini dengan jelas dinyatakan pada Pasal 4
ayat 1 dan 2 PP 71/2010 yang berbunyi :

“Pemerintah menerapkan SAP berbasis Akrual sebagaiman


dimaksudbpada ayat 1 dinyatakan dalam bentuk PSAP.”

Lebih lanjut pada ayat 4 dinyatakan bahwa:

“PSAP Sebagaimana dimaksud pada ayat 2.... tercantum dalam


lampiran I yang tidak terpisahkan dari peraturan pemerintah ini.

Lampiran I yang dimaksud adalah SAP BERBASI Akrual yang terdiri


atas Kerangka Konseptual dan PSAP Nomor 01 sampai dengan PSAP Nomor
12. Jelas, bahwa berdasarkan penjelasan diatas, PSAP yang ada pada lampiran
I PP Nomor 71 Tahun 2010 adalah PSAP Berbasis Akrual. Bagaimana
penerapan basis akrual menurut PP No 71 Tahun 2010 ? Pertanyaan ini
merupakan pertanyaan yang mendasar, karena apakah dengan adanya peraturan
pemerintah tersebut dapat dikatakan bahwa indonesia telah menerapkan basis
akrual? Tentunya hal ini cukup hanya dengan pernyataan pada Pasal 4 diatas.
Apalagi pada pasal sebelumnya, yaitu Pasal 1 ayat 8 dinyatakan :

“SAP Berbasis Akrual adalah SAP yang mengakui pendapatan, beban,


aset, utang, dan ekuitas dalam pelaporan finansial berbasis akrual, serta
mengakui pendapatan, belanja, dan pembiayaan dalam pelaporan
pelaksanaan anggaran berdasarkan basis yang ditetapkan dalam
APBN/APBD.”

Penerapan akuntansi secara penuh pada entitas pemerintahan bukanlah


perkara yang mudah. Untuk menerapkannya perlu beberapa kondisi yang harus

10
dipenuhi. Jangan sampai penerapan akuntansi berbasis akrual dipaksakan
hanya karena telah diamanatkan dalam undang-undang atau merupakan
keharusan akibat adanya dorongan dari lembaga-lembaga internasional seperti
IMF dan Bank dunia, tanpa mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan
organisasi pemerintahan di indonesia, sehingga biaya yang dikeluarkan lebih
besar dari manfaat yang diperoleh.

2.6 KENDALA-KENDALA YANG DIHADAPI

Untuk konteks di indonesia, Ritonga (2010:8) mengatakan bahwa untuk


mendukung penerapan akuntansi pemerintah berbasis akrual diperlukan
kondisi-kondisi yang mendukung sekaligus menjadi permasalahan yang
dihadapi saat ini, adalah sebagai berikut:

1. Dukungan SDM yang berkomperen dan profesional dalam


pengelolaan keuangan.
2. Dukungan dari pemeriksaan laporan keuangan, karena perubahan
berbasis akuntansi akan mengubah cara pemeriksa yang dilakukan
oleh pemeriksa. Perubahan-perubahan yang terjadi harus melalui
pertimbangan dari Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK).
3. Tersedianya sistem teknologi informasi yang mampu menerapkan
akuntansi berbasis akrual.
4. Adanya sistem penganggaran berbasis akrual, karena jika anggaran
pendapatan, belanja, dan pembiayaannya masih berbasis kas
sedangkan realisasinya berbasis akrual, maka antara anggaran dan
realisasinya tidak dapat diperbandingkan.
5. Dari kendala-kendala diatas memunculkan persyaratan, yaitu harus
ada komitmen dan dukungan politik dari para pengambil keputusan
dalam pemerintah, karena upaya penerapan akuntansi berbasis
akrual memerlukan dana yang besar dan waktu yang panjang,
bahkan lebih panjang dari pada masa periode jabatan presiden,
gubernur, bupati, walikota, dan anggota DPR/DPRD.

11
BAB III

PENUTUP

3.1. KESIMPULAN

Semakin meningkatnya tuntutan publik untuk akuntabel dan transparansi


dalam pengelolaan keuangan negara telah mendorong kearah wacana untuk
menerapkan sistem akuntansi pemerintahan berbasis akrual. Sistem akuntansi
berbaasis kas telah terbukti memiliki kelemahan. Kelemahan yang mendasar
dari sistem akuntansi kas adalah laporan keuangan yang di hasilkan tidak
informatif, tidak terintegrasi, dan tidak komprehensif. Sehingga jika tetap
menggunakan sistem akuntansi kas akan menghambat semangat reformasi
untuk menciptakan pemerintahan yang good governance.

Namun demikian, bukan berarti penerapan akuntansi akrual pada


akuntansi pemerintah, yang lebih banyak menggunakan akuntansi anggaran,
tidak menuai kritik dan perdebatan. Kritik dan perdebatan tersebut telah
memberikan keraguan untuk menerapkan akuntansi akrual secara penuh pada
organisasi pemerintahan. Oleh karena itu, penerapan akuntansi akrual secara
penuh pada akuntansi pemerintahan harus benar-benar dikaji dan dicari waktu
yang tepat. Jika memang dianggap memiliki biaya yang lebih besar daripada
manfaatnya, maka penerapannya perlu dipertimbangkan lagi, meskipun telah
diamanatkan oleh undang-undang

Kesiapan SDM, dukungan teknologi informasi, kondisi sosial politik


yang kondusif dan mendukung, serta dukungan dari auditor pemerintah, mutlak
diperlukan agar reformasi akuntansi pemerintahan ini dapat berjalan sukses dan
memperoleh manfaat yang diharapkan.

12
DAFTAR PUSTAKA

Halim, Abdul dan M. Syam Kusufi.2012.Akuntansi sektor publik: Akuntansi


Keuangan Daerah, edisi ke-4. Jakarta:Salemba Empat
Mardiasmo.2009, Akuntansi Sektor Publik.Yogyakarta:CV Andi Offset.

13