Anda di halaman 1dari 13

BETON PRATEGANG

Dosen Pembimbing : Dr. Nawir Rasidi, ST.,MT.

Oleh

Muhammad Ilham Purwanto 1541320050

2MRK 2

Jurusan Teknik Sipil


DIV Manajemen Rekayasa Konstruksi

Politeknik Negeri Malang


2017
Beton adalah suatu bahan yang mempunyai kekuatan yang tinggi terhadap tekan,
tetapi sebaliknya mempunyai kekuatan relative sangat rendah terhadap
tarik.Beton tidak selamanya bekerja secara efektif didalam penampang-penampang
struktur beton bertulang, hanya bagian tertekan saja yang efektif bekerja, sedangkan
bagian beton yang retak dibagian yang tertarik tidak bekerja efektif dan hanya
merupakan beban mati yang tidak bermanfaat. Hal inilah yang menyebabkan tidak
dapatnya diciptakan srtuktur-struktur beton bertulang dengan bentang yang panjang
secara ekonomis, karena terlalu banyak beban mati yang tidak efektif. Disampimg itu,
retak-retak disekitar baja tulangan bisa berbahaya bagi struktur karena merupakan
tempat meresapnya air dan udara luar kedalam baja tulangan sehingga terjadi karatan.
Putusnya baja tulangan akibat karatan fatal akibatnya bagi struktur.
Dengan kekurangan-kekurangan yang dirasakan pada struktur beton bertulang
seperti diuraikan diatas, timbullah gagasan untuk menggunakan kombinasi-kombinasi
bahan beton secara lain, yaitu dengan memberikan pratekanan pada beton melalui
kabel baja (tendon) yang ditarik atau biasa disebut beton pratekan. Beton pratekan
pertama kali ditemukan oleh Eugene Freyssinet seorang insinyur Perancis. Ia
mengemukakan bahwa untuk mengatasi rangkak,relaksasi dan slip pada jangkar kawat
atau pada kabel maka digunakan beton dan baja yang bermutu tinggi. Disamping itu
ia juga telah menciptakan suatu system panjang kawat dan system penarikan yang
baik, yang hingga kini masih dipakai dan terkenal dengan systemFreyssinet.
Dengan demikian, Freyssinet telah berhasil menciptakan suatu jenis struktur baru
sebagai tandingan dari strktur beton bertulang. Karena penampang beton tidak pernah
tertarik, maka seluruh beban dapat dimanfaatkan seluruhnya dan dengan system ini
dimungkinkanlah penciptaan struktur-struktur yang langsing dan bentang-bentang
yang panjang. Beton pratekan untuk pertama kalinya dilaksanakan besar-besaran
dengan sukses oleh Freyssinet pada tahun 1933 di Gare Maritime pelabuhan LeHavre
(Perancis). Freyssenet sebagai bapak beton pratekan segera diikuti jejaknya oleh para
ahli lain dalam mengembangkan lebih lanjut jenis struktur ini,seperti:
a. Yves Gunyon
Yves Gunyon adalah seorang insinyur Perancis dan telah menerbitkan buku
Masterpiecenya “ Beton precontraint” (2 jilid) pada tahun 1951. Beliau memecahkan
kesulitan dalam segi perhitungan struktur dari beton pratekan yang diakibatkan oleh
gaya-gaya tambahan disebabkan oleh pembesian pratekan pada struktur yang mana
dijuluki sebagai “Gaya Parasit” maka Guyon dianggap sebagai yang memberikan
dasar dan latar belakang ilmiah dari beton pratekan.
b. T.Y. Lin
T.Y. Lin adalah seorang insinyur kelahiran Taiwan yang merupakan guru besar
di California University, Merkovoy. Keberhasilan beliau yaitu mampu
memperhitungkan gaya-gaya parasit yang tejadi pada struktur. Ia mengemukakan
teorinya pada tahun 1963 tentang “ Load Balancing”. Dengan cara ini kawat atau kabel
prategang diberi bentuk dan gaya yang sedemikian rupa sehingga sebagian dari beban
rencana yang telah datetapkan dapat diimbangi seutuhnya pada beban seimbang ini.
Didalam struktur tidak terjadi lendutan dan karenanya tidak bekerja momen lentur
apapun, sedangkan tegangan beton pada penampang struktur bekerja merata. Beban-
beban lain diluar beban seimbang (beban vertikal dan horizontal) merupakan
“inbalanced load”, yang akibatnya pada struktur dapat dihitung dengan mudah dengan
menggunakan teori struktur biasa. Tegangan akhir dalam penampang didapat dengan
menggunakan tegangan merata akibat “balanced” dan tegangan lentur akibat
“unbalanced load”. Tanpa melalui prosedur rumit dapat dihitung dengan mudah dan
cepat. Gagasan ini telah menjurus kepada pemakaian baja tulangan biasa disamping
baja prategang, yaitu dimana baja prategang hanya diperuntukkan guna memikul
akibat dari inbalanced load.
Teori “inbalanced load” telah mengakibatkan perkembangan yang sangat pesat
dalam menggunakan beton pratekan dalam gedung-gedung bertingkat tinggi.
Struktur flat slab, struktur shell, dan lain-lain. Terutama di Amerika dewasa ini boleh
dikatakan tidak ada gedung bertingkat yang tidak menggunakan beton pratekan
didalam strukturnya.
T.Y. Lin juga telah berhasil membuktikan bahwa beton pratekan dapat dipakai
dengan aman dalam bangunan-bangunan didaerah gempa, setelah sebelumnya beton
pratekan dianggap sebagai bahan yang kurang kenyal (ductile) untuk dipakai didaerah-
daerah gempa, tetapi dikombinasikan dengan tulangan baja biasa ternyata beton
pratekan cukup kenyal, sehingga dapat memikul dengan baik perubahan-perubahan
bentuk yang diakibatkan oleh gempa.
c. P.W. Abeles
P.W. Abeles adalah seorang insinyur Inggris, yang sangat gigih mendongkrak
aliran ”full prestressing”, karena penggunaanya tidak kompetitif terhadap penggunaan
beton bertulang biasa dengan menggunakan baja tulangan mutu tinggi.
Penggunaan full prestressing ini tidak ekonomis, menurut berbagai penelitian biaya
struktur dengan beton pratekan dan full prestressing dapat sampai 3,5 atau 4 kali lebih
mahal dari pada struktur yang sama tetapi dari beton bertulang biasa dengan
menggunakan tulangan baja mutu tinggi. Dengan demikian timbullah gagasan baru
yang dikemukakan oleh P.W. Abeles untuk mengkombinasikan prinsip pratekan
dengan prinsip penulangan penampang atau dikenal dengan nama “partial
prestressing”. Yang mana didalam penampang diijinkan diadakannya bagi tulangan,
lebar retak dapat dikombinasikan dengan baik.
“Partial prestressing” telah disetujui oleh Chief Engineer’s Departement untuk
digunakan pada jembatan-jembatan kereta api di Inggris, dimana tegangan tarik boleh
terjadi sampai 45 kg/cm2 dengan lebar retak yang dikendalikan dengan memasang
baja tulangan biasa. Freyssinet sendiri menjelang akhir karirnya telah
mengakui juga bahwa “partial prestressing” mengembangkan struktur-struktur
tertentu. Begitupun dengan teori “load balancing” dari T.W. Lin yang ikut mendorong
dipakainya “partial prestressing” karena pertimbangannya kecuali segi ekonomis juga
segi praktisnya bagi perencanaan.

PENGERTIAN BETON PRATEGANG

Pengertian beton prategang menurut beberapa peraturan adalah sebagai berikut:


a. Menurut PBI – 1971
Beton prategang adalah beton bertulang dimana telah ditimbulkan tegangan-
tegangan intern dengan nilai dan pembagian yang sedemikian rupa
hingga tegangan-tegangan akibat beton-beton dapat dinetralkan sampai suatu taraf
yang diinginkan.
b. Menurut Draft Konsensus Pedoman Beton 1998
Beton prategang adalah beton bertulang yang dimana telah diberikan tegangan
dalam untuk mengurangi tegangan tarik potensial dalam beton akibat pemberian
beban yang bekerja.
c. Menurut ACI
Beton prategang adalah beton yang mengalami tegangan internal dengan besar
dan distribusi sedemikian rupa sehingga dapat mengimbangi sampai batas tertentu
tegangan yang terjadi akibat beban eksternal.

PRINSIP DAN CARA KERJA BETON PRATEGANG

Untuk memberikan memberikan gaya konsentris pada beton prategang bisa


dilakukan dengan dua cara yaitu :
a. Pre-tensioned Prestressed Concrete (pratarik), ialah konstruksi dimana tendon
ditegangkan dengan pertolongan alat pembantu sebelum beton mengeras dan
gaya konsentris dipertahankan sampai beton cukup keras.
b. Post-tensioned Prestressed Concrete (pasca tarik), adalah konstruksi dimana
setelah betonnya cukup keras, barulah dberikan gaya konsentris dengan menarik
kabel tendon.
Berikut penjelasan lebih khusus dari informasi diatas :
a. Pre-Tensioning ( Pra Tarik)
Metode ini baja prategang diberi gaya prategang dulu sebelum beton dicor,
oleh karena itu disebut pretension method. Adapun prinsip dari Pratarik ini
secara singkat adalah sebagai berikut :
 Tahap 1 : Siapkan bekisting ( formwork )
yang telah lengkap dengan lubang untuk
kabel tendon ( tendon duct ) yang
dipasang melengkung sesuai bidang
momen balok, setelah itu beton dicor (
gambar A ).
 Tahap 2 : Setelah beton di cor dan
sudah bisa memikul berat sendiri, tendon
atau kabel prategang dimasukkan ke
dalam Lubang Tendong (tendon duct),
selanjutnya ditarik untuk mendapatkan
gaya prategang. Metode pemberian gaya
prategang adalah dengan cara mengikat salah satu angker, kemudian ujung
angker lainnya ditarik ( ditarik dari satu sisi ). tetapi ada pula yang ditarik
dikedua sisinya kemudiang diangker secara bersamaan. Setelah diangkur
kemudiang dilakukan grouting pada lubang angker tadi (gambar B).
 Tahap 3 : Setelah diangkur, balok beton menjadi tertekan, jadi gaya
konsentris telah ditransfer kebeton. Karena tendon dipasang melengkung,
maka akibat gaya konsentris tendon memberikan beban merata kebalok
yang arahnya keatas, akibatnya bentuk balok melungkung keatas (gambar
C).
Untuk memudahkan transportasi dari pabrik ke site, maka biasanya beton prategang
dibuat dengan sistem post-tension ini dilaksanakan secara segmental ( balok dibagi-
bagi menjadi beberapa bagian, misalnya perbagian dibuat dengan panjang 1 sampai
dengan 3 m ).

TAHAP PEMBEBANAN

Tidak seperti beton konvensioanl, beton prategang mengalami beberapa tahap


pembebanan. Pada setiap tahap pembebanan harus dilakukan pengecekan atas kondisi
serat tekan dan serat tarik dari setiap penampang. Pada tahap tersebut berlaku tegangan
ijin yang berbeda-beda sesuai kondisi beton dan tendon. Ada dua tahap pembebanan
pada beton prategang, yaitu transfer dan service.
Tahap transfer adalah tahap pada saat beton sudah mulai mengering dan dilakukan
penarikan kabel prategang. Pada saat ini biasanya yang bekerja hanya beban mati
struktur, yaitu berat sendiri struktur ditambah beban pekerja dan alat. Pada saat ini
beban hidup belum bekerja sehingga momen yang bekerja adalah minimum, sementara
gaya yang bekerja adalah maksimum karena belum ada kehilangan gaya prategang.
Kondisi service (servis) adalah kondisi pada saat beton prategang digunakan
sebagai komponen struktur. Kondisi ini dicapai setelah semua kehilangan gaya
prategang dipertimbangkan. Pada saat ini beban luar pada kondisi yang maksimum
sedangkan gaya pratekan mendekati harga minimum.
MATERIAL BETON PRATEGANG

Beton adalah hasil dari pencampuran beberapa material berupa semen, air dan
agregat. dengan perbandingan berat campuran agregat kasar 44%, agregat halus 31%,
semen 18%, dan air 7%. setelah 28 hari beton akan mencapai kekuatan yang ideal yang
disebuta kuat tekan karakteristik. Kuat tekan karakteristik adalah tegangan yang telah
melampaui 95% dari pengukuran kuat tekan uniaksial yang diambil dari tes penekanan
standar, yaitu dengan kubus ukuran 15x15 cm, atau siliner dengan diameter 15 cm dan
tinggi 30 cm. Beton yang digunakan untuk beton prategang adalah beton yang
mempunyai kekuatan tekan yang tinggi dengan nilai f’c minimal 30 Mpa.
a. Baja : material baja yang biasa digunakan dalam pembuatan beton prategang
adalah sebagai berikut K
b. PC Wire, biasanya digunakan untuk baja prategang pada beton prategang
dengan sistem pratarik.
c. PC Strand, biasanya digunakan untuk baja prategang untuk beton prategang
dengan sistem pascatarik.
d. PC BAR, biasanya digunakan untuk baja prategang pada beton prategang
dengan sistem pratarik.
e. Tulangan biasa, yaitu tulangan yang bisa dipakai untuk beton konvensional
seperti besi polos dan besi ulir

KEUNGGULAN DAN KEKURANGAN BETON PRATEGANG

Beton Prategang ( Prestressed concrete ) mempunyai beberapa keunggulan bila


dibandingkan dengan beton konvensional biasa, antara lain:
a. Kelebihan dari segi teknis :
 Terhindarnya retak terbuka didaerah tarik, sehingga beton prategang akan
lebih tahan terhadap korosi.
 Kedap air, bagus digunakan untuk proyek yang dekat dengan perairan.
 Karena terbentuknya lawan lendut akibat gaya prategang sebelum beban
rencana bekerja, maka lendutan akhir setelah beban rencana bekerja, akan
lebih kecil dari pada beton bertulang biasa.
 Efisien karena dimensi penampang struktur akan lebih kecil atau langsing,
sebab seluruh luas penampang dipergunakan secara efektif.
 Jumlah penggunaan baja jauh lebih sedikit dari pada jumlah berat besi
penulangan pada konstruksi beton konvensional biasa.
 Ketahanan terhadap geser dan ketahanan terhadap puntirnya meningkat.
Kelebihan dari segi teknis ini akan mempengaruhi biaya untuk
memproduksi beton prategang itu sendiri, dan dari segi ekonomis beton
prategang juga memiliki beberapa kelebihan antara lain :
 Volume beton yang digunakan untuk produksi beton prategang lebih
sedikit
 Jumlah baja/besi yang digunakan untuk produksi beton prategang sedikit.
 Beton prategang akan lebih menguntungkan jika dibuat dalam jumlah
besar
 beton prategang hampir tidak memerlukan biaya pemeliharan, lebih tahan
lama karena, dapat membuat balok dengan bentang yang lebih panjang.
 Dengan menggunakan beton prategang bisa menghemat waktu
pelaksanaan konstruksi.
Adapun kekurangan dari penggunaan beton prategang adalah :
 Dengan ketahanan gesek balok dan ketahanan puntirnya bertambah, maka
struktur dengan bentang besar dapat langsing. Tetapi ini
menyebabkan natural frequency dari struktur berkurang, sehingga
menjadi dinamis instabil akibat getaran gempa/angin, kecuali bila struktur
itu memiliki redaman yang cukup atau kekakuannya ditambah.
 Penggunaan bahan-bahan bermutu tinggi mengakibatkan harga satuan
pekerjaan menjadi lebih tinggi.
 Pengerjaan membutuhkan menuntut ketelitian yang lebih tinggi dan
pengawasan yang lebih ketat dari pelaksana ahli.

SIFAT -SIFAT BAHAN DARI BETON PRATEGANG


1. Beton
Untuk beton pratekan diperlukan mutu beton yang tinggi (min K-300)
karena mempunyai sifat penyusutan dan rangkak yang rendah mempunyai
modulus elastisitas dan modulus tekan yang tinggi serta dapat menerima
tegangan yang lebih besar dibandingkan beton mutu rendah,. Sifat-sifat ini
sangat penting untuk menghindarkan kehilangan tegangan yang cukup besar
akibat sifat-sifat beton tersebut.
2. Baja Prategang
Baja mutu tinggi merupakan bahan yang umum dipakai pada struktur
beton prategang. Baja untuk beton prategang terdiri dari:
2.1. Kawat baja
Kawat baja disediakan dalam bentuk gulungan, kawat dipotong
dengan panjang tertentu dan dipasang di pabrik atau lapangan. Baja
harus bebas dari lemak untuk menjamin rekatan antara beton dengan
baja prategang.
2.2. Untaian kawat (strand)
Kekuatan batas strand ada 2 jenis yaitu 1720 MPa dan 1860 MPa,
yang lazim dipakai adalah strand dengan 7 kawat.
Tabel spesifikasi strand 7 kawat
Ø Nominal (mm) Luas Nominal mm2 Kuat Putus (kN)
6,35 23,22 40
7,94 37,42 64,5
9,53 51,61 89
11,11 69,68 120,1
12,70 92,9 160,1
15,24 139,35 240,2

2.3. Batang Baja


Batang baja yang digunakan untuk beton prategang disyaratkan
pada ASTM A 322, kekuatan batas minimum adalah 1000 MPa.
Modulus elastisitas 1,72 105 – 1,93.105 MPa. Batang baja mutu tinggi
tersedia pada panjang sekitar 24 m. Batang-batang baja tersedia sampai
Ø 34,9 mm.
3. Cara Pemberian Tegangan
a. Pretentioning : kabel ditarik dulu sebelum dicor
b. Post Tentioning : kabel ditarik setelah beton cukup keras
Pemberian pra tegangan bias penuh (full prestressing) atau sebagian saja
(partial prestressing).
c. Full Prestressing : tidak boleh ada bagian tarik
d. Partially Presstressing : boleh ada bagian tarik

4. Kehilangan Prategangan
a. Sehubungan dengan sifat-sifat baja:
1) Akibat penggelinciran pada waktu dongkrak dilepaskan
2) Akibat gesekan :
a) Dalam dongkrakan sendiri
b) Pada unit penjangkaran (tepi dongkrak)
c) Gesekan kabel dengan dinding pembungkus
3) Akibat rangkak
b. Sehubungan dengan sifat-sifat beton :
1) Akibat elastisitas beton
2) Akibat rangkak dan susut dari beton
3) Akibat perubahan bentuk kronstruksi (Lenturan)
4) System prestensioning 18%
5) System Post tensioning 15%
5. Pemeriksaan Tegangan-Tegangan pada Penampang Melintang
Untuk memeriksa tegngan-tegangan yang terjadi diserat atas dan bawah
pada suatu penampang yang mana telah diketahui dimensinya, besarnya gaya
prategang, awal dan transfer, letaknya kabel, serta besarnya momen lentur yang
bekerja, maka perlu ditinjau beberapa keadaan antara lain :
a. Keadaan awal
Super posisi :
1) Tegangan-tegangan akibat gaya prestesing awal
2) Tegangan akibat berat sendiri
b. Setelah kehilangan tegangan
Super posisi
c. Setelah beban luar bekerja
1) Tegangan akibat beben luar
2) Tegangan akhir (Super Posisi dari hasil 2 dan 3)

Berikut adalah salah satu contoh kasus aplikasi beton prategang dalam
suatu pekerjaan konstruksi
CONTOH APLIKASI BETON PRATEGANG DALAM SUATU
PEKERJAANN KONSTRUKSI
Sumber :
http://insinyursipil.blogspot.co.id/2015/01/apa-itu-beton-prategang.html
http://amriwidiangga.blogspot.co.id/2013/01/beton-prategang-prestressed-
concrete.html