Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH ASURANSI DAN JAMINAN KESEHATAN

UNIVERSITAS ANDALAS

PENGENDALIAN BIAYA MELALUI REIMBURSEMENT

Kelompok 1 :
FEBBY SAVIOLA (1411211037)
INTAN PERTIWI SAHARANI (1411211038)
AGRITA DITRIVIONI (1411211020)
NOVIDA KASTUTI (1411211041)
AGUSTINA YUBELINA (1411219002)
HAFIFAH NANDA (1411211057)
RISKA HELFINA (1411211049)
MYARSIH CITRA AFRILIA (1411211065)
SHINTA REDANTI (1411211024)
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS ANDALAS

2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah
Asuransi dan Jaminan Kesehatan dengan baik meskipun banyak kekurangan di
dalamnya. Kami sangat berharap makalah ini dapat menambah wawasan serta
pengetahuan kita mengenai Pengendalian biaya melalui Reimbursement .

Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat


kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik,
saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan
datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang


membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami
sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila
terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan
saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.

Padang, 2 November 2015

Kelompok 1

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.....................................................................................................i
DAFTAR ISI..................................................................................................................ii
BAB I.............................................................................................................................1
PENDAHULUAN.........................................................................................................1
1.1 Latar Belakang..................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah.............................................................................................2
1.3 Tujuan...............................................................................................................2
BAB II............................................................................................................................3
PEMBAHASAN............................................................................................................3
2.1 Pengertian Biaya...............................................................................................3
2.2 Pengendalian Biaya..........................................................................................4
2.3 Pengertian Pengendalian Biaya Melalui Reimbursement................................6
2.4 Sistem Pengendalian Biaya Melalui Reimbursement.......................................6
2.5 Prosedur Klaim Penggantian Biaya (Reimbursement).....................................9
2.6 Faktor penghambat proses reimbursement.......................................................9
2.7 Adminitrasi reimbursement .........................................................................10
2.8 Kelebihan dan kekurangan Sistem Pembiayaan Kesehatan Reimbursement. 11
BAB III........................................................................................................................12
PENUTUP...................................................................................................................12
3.1 Kesimpulan.....................................................................................................12
3.2 Saran...............................................................................................................12

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Asuransi kesehatan adalah suatu sistem pembiayaan yang memberikan jaminan
penggantian sosial dalam menghadapi risiko yang disebabkan oleh gangguan
kesehatan (penyakit) baik penyakit yang dapat disembuhkan dengan pelayanan rawat
jalan maupun perawatan yang lebih intensif atau rawat inap. Keadaan tersebut
sebagai akibat adanya gangguan kesehatan dan menimbulkan kerugian yang
disebabkan pengeluaran biaya untuk pengobatan dan perawatan serta kerugian akibat
hilangnya waktu kerja (Wahyuni, 1995).
Kesehatan merupakan investasi untuk mendukung pembangunan ekonomi serta
memiliki peran penting dalam upaya penanggulangan kemiskinan. Pembangunan
kesehatan harus dipandang sebagai suatu investasi untuk meningkatkan kualitas
sumber daya manusia. Dalam pengukuran Indeks Pembangunan Manusia (IPM),
kesehatan adalah salah satu komponen utama selain pendidikan dan pendapatan
Dalam Undang-undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan ditetapkan bahwa
kesehatan adalah keadaan sejahtera dari fisik, mental dan sosial yang memungkinkan
setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Tanpa adanya kesehatan yang
baik memungkinkan sulitnya untuk hidup produktif. Saat ini, pelayanan kesehatan
belum dinikmati secara merata oleh penduduk Indonesia. Ini terjadi karena terdapat
beberapa perbedaan seperti jarak geografis, latar belakang pendidikan, keyakinan,
status sosial ekonomi, dan kurang cakupan jaminan kesehatan.
Salah satu sub sistem kesehatan nasional adalah subsistem pembiayaan
kesehatan. Jika ditinjau dari dari defenisi sehat, sebagaimana yang dimaksud oleh
WHO. Pelayanan kesehatan tidak terlepas pembiayaan kesehatan sebab di zaman
seperti ini apa bila kita berobat kerumah sakit atau ke dokter spesialis pasti
membutuhkan biaya. Telah disebutkan bahwa salah satu subsistem kesehatan adalah

1
subsistem pembiayaan kesehatan. Subsistem pembiayaan kesehatan membahas
mengenai pembiayaan untuk program kesehatan, yakni program-program yang
berhubungan erat dengan penerapan langsung ilmu dan teknologi kedokteran.
Pembatasan tentang subsistem pembiayaan kesehatan ini tercakup dalam suatu
cabang ilmu khusus yang dikenal dengan nama ekonomi kesehatan ( health
economic). Salah satu sistem pembiayaan kesehatan adalah sistem reimbursement
yaitu sistem penggantian biaya kesehatan oleh pihak perusahaan berdasar layanan
kesehatan yang dikeluarkan terhadap seorang pasien.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa itu biaya ?


2. Apa itu pengendalian biaya ?
3. Apa itu Pengendalian biaya melalui reimbursement ?
4. Bagaimana Sistem Pengendalian Biaya melalui reimbursement?
5. Bagaimana prosedur dari Reimbursement?
6. Apa saja faktor penghambat proses reimbursement?
7. Bagaimana Administrasi Reimbursement?
8. Apa kelebihan dan Kelemahan dari Reimbursement?

1.3 Tujuan
1. Menjelaskan apa itu biaya
2. Menjelaskan apa itu pengendalian biaya
3. Menjelaskan apa itu Pengendalian biaya melalui reimbursement
4. Menjelaskan bagaimana Sistem Pengendalian Biaya melalui reimbursement
5. Menjelaskan bagaimana prosedur dari Reimbursement
6. Menjelaskan apa saja faktor penghambat proses reimbursement
7. Menjelaskan bagaimana Administrasi Reimbursement
8. Menjelaskan apa kelebihan dan Kelemahan dari Reimbursement

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Biaya


Biaya merupakan bagian atau unsur dari harga pokok dan merupakan unsur yang
paling pokok dalam akuntansi biaya, untuk itu perlu dipahami terlebih dahulu
pengertian biaya. Untuk lebih jelasnya mengenai pengertian biaya, berikut ini dikutip
beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahli sebagai berikut :
Menurut Bambang Hariadi (2002 : 43) definisi biaya adalah “Nilai tukar yang
dikeluarkan atau pengorbanan sumber daya yang dikeluarkan untuk mencapai
manfaat pengorbanan ini dapat berupa uang atau materi lainnya yang dapat diukur
dengan uang”.
Menurut Munawir (2002 : 307) definisi biaya adalah “ nilai kas atau setara kas
yang dikorbankan untuk memperoleh barang dan jasa yng diperkirakan akan
memberikan manfaat saat kini atau masa depan pada organisasi atau pengorbanan
yang terjadi dalam rangka untuk memperoleh suatu barang dan jasa yang
bermanfaat”.
Menurut Darsono (2005 : 15) Biaya adalah kas dan setara kas yang dikorbankan
untuk memproduksi atau memperoleh barang atau jasa yang diharapkan akan
memperoleh manfaat atau keuntungan dimasa mendatang.
Menurut Horngren yang diterjemahkan oleh Desi Andriani (2005 : 34) Biaya
sebagai suatu sumber daya yang dikorbankan (Sacrifaid) atau dilepaskan (Forgone)
untuk mencapai tujuan tertentu.
Dari beberapa definisi tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa biaya adalah
pengorbanan ekonomis dari sumber-sumber yang diukur dalam unit moneter yang
dimaksudkan untuk memperoleh atau memproduksi barang dan jasa dan dapat
dikurangkan pada penghasilan, yang diharapkan dapat memberikan manfaat pada saat
ini atau di masa yang akan datang.

3
2.2 Pengendalian Biaya
Pengendalian pada prinsipnya dapat memperhatikan suatu kegiatan dan selalu
mengawasi aktivitas sehari-hari, maka pengendalian menurut Sondang. S.Giagian
Manajemen Personalia, (1999 : 16) menyatakan bahwa pengendalian biaya adalah
proses atau usaha yang sistimatis dalam penetapan standar pelaksanaan dengan tujuan
perencanaan, sistem informasi umpan balik, membandingkan pelaksanaan nyata
dengan perencanaan menentukan dan mengatur penyimpangan-penyimpangan serta
melakukan koreksi perbaikan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan, sehingga
tujuan tercapai secara efektif dan efisien dalam penggunaan biaya.
Kegiatan pengendalian biaya sangat erat hubungannya dengan fungsi-fungsi
manajemen lainnya, oleh karena kegiatan pengendalian ini dapat dilihat apakah
tujuan kegiatan yang telah direncanakan dapat dicapai dalam pelaksanaan secara riil.
Dilihat dari tahapan perencanaan dan pengendalian merupakan unsur-unsur
yang dominan dalam manajemen 20 % dari seluruh kegiatan yang dapat dilaksanakan
unsur fungsi pelaksanaan dalam pengendalian yang merupakan bagian terbesar dalam
manajemen. Kagiatan pengendalian mencukupi perencanaan, pengawasan,
monitoring, evaluasi dan koreksi.
Perencanaan dan pengendalian merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan
dalam pelaksanaan kegiatan. Pada pelaksanaan yang memerlukan usaha yang
sungguh-sungguh dan sangat tergantung pada sistem pengendalian yang efektif dan
sistem informasi yang digunakan.
Agar dapat melaksanakan pengendalian biaya yang efektif, oleh Tuana Kotta,
Petunjuk Pemeriksaan Umum (2002 : 115), maka seorang pimpinan atau pelaksanan
tugas memerlukan informasi, sebagai berikut :
1. Biaya yang digunakan apakah sesuai dengan hasil dari bagian pekerjaan yang telah
dilaksanakan. Jika terjadi perbedaan (lebih besar atau lebih kecil dari rencana
biaya) di mana dimana hal terjadi dan siapa yang bertanggung jawab dan apa
yang dikerjakan.
2. Merupakan biaya yang akan datang sesuai dengan rencana atau melebihi rencana.
Tanggung jawab pengendalian tidak hanya pada manajer saja tetapi merupakan

4
tanggungjawab semua orang yang terlihat pada aktivitas tersebut agar dapat
mengerjakan bagiannya dengan baik dan tepat waktu.

3. Menurut Suprityono, dalam pengertian yang sama, namun diungkapkan


dengan sederhana.
Pengendalian adalah proses untuk memberikan kembali menilai dan selalu
memonitor laporan-laporan apakah pelaksanaan tidak menyimpang dari tujuan yang
sudah ditentukan. Dalam pengeluaran uang diharuskan mempunyai catatan terpisah
agar segala pengeluaran dan pemasukan nampak kedua belah pihak dan bertanggung
jawab segala hal yang mungkin terjasi.
Nupriyoni dalam bukunya Konsep Panduan Perencanaan Anggaran Daerah,
(1998 : 5) berpendapat bahwa pengendalian bertumpu pada konsep umpan balik,
yang secara kontinyu mengharuskan adanya pengukuran pelaksanaan dan
pengambilan tindakan koreksi yang ditujulkan untuk menjamin pencapaian tujuan-
tujuan. Untuk proses pengendalian ini, maka yakni manajemen sedapat mungkin
mendapatkan informasi yang tepat dan up to date, agar para manajer dapat segera
mengadakan tindakan-tindakan pengendalian sebelum sesuatu penyimpangan serius.
Karena pengendalian yang teratur akan menghasilkan suatu pencapaian yang efektif.
Aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam proses pengendalian menurut
Glenn A. Welch (1999 : 9), sebagai berikut :
1. Measurement of performance against predetermined objec tive, plans and
standard.
2. Communication (reporting) of the result of the measure1 ment process to the
approriate individu and groups.

2.3 Pengertian Pengendalian Biaya Melalui Reimbursement


Sistem reimbursement merupakan sistem penggantian biaya klaim yang mana
Peserta harus membayar dahulu segala biaya di Rumah Sakit untuk kemudian
diajukan klaim penggantian kepada Penanggung.

5
Sistem reimbursement adalah sistem penggantian biaya kesehatan oleh pihak
perusahaan berdasar layanan kesehatan yang dikeluarkan terhadap seorang pasien.
Metode ini pada dasarnya mirip dengan fee for service, hanya saja dana yang
dikeluarkan bukan oleh pasien, tapi pihak perusahaan yang menanggung biaya
kesehatan pasien, namun berbeda dengan kapitasi karena metode ini melihat jumlah
kunjungan dan jenis layanan yang diberikan oleh provider.
Perusahaan asuransi yang menganut sistem reimbursement atau yang juga
dikenal dengan sebutan sistem penggantian mengharuskan kita sebagai peserta
asuransi untuk mengeluarkan uang terlebih dahulu untuk membayar biaya
pengobatan, biaya rumah sakit, biaya laboratorium dan biaya lainnya baru kemudian
kita dapat melakukan klaim dan menerima penggantian dari perusahaan asuransi
tempat dimana kita menjadi peserta asuransi kesehatan.
Dalam sistem reimbursement walaupun kita harus mengeluarkan uang terlebih
dahulu sebelum kita dapat menerima pelayanan kesehatan baru kemudian kita
menerima nilai pertanggungan kembali dari perusahaan asuransi setelah menyerahkan
dokumen dokumen administrasi lengkap (biasanya uang penggantian akan cair sekitar
7 hari sejak diserahkannya dokumen – dokumen administrasi rumah sakit dan biaya
yang diganti tidak 100% melainkan sesuai dengan perjanjian awal), namun
keuntungannya kita dapat menentukan sendiri di rumah sakit mana kita akan
memperoleh layanan kesehatan dan semuanya terserah pada kita.

2.4 Sistem Pengendalian Biaya Melalui Reimbursement


Sistem penggantian biaya kesehatan oleh pihak perusahaan berdasar layanan
kesehatan yang dikeluarkan terhadap seorang pasien. Metode ini pada dasarnya mirip
dengan fee for service, hanya saja dana yang dikeluarkan bukan oleh pasien, tapi
pihak perusahaan yang menanggung biaya kesehatan pasien, namun berbeda dengan
kapitasi karena metode ini melihat jumlah kunjungan dan jenis layanan yang
diberikan oleh provider.
Sistem penggantian, peserta asuransi harus mengeluarkan uang terlebih
dahulu guna membayar biaya pengobatan yang kemudian dapat kita klaim atau

6
meminta penggantian ke perusahaan asuransi dimana kita menjadi peserta asuransi.
Dengan sistem ini maka kita bebas memilih rumah sakit yang mana saja, namun
tentunya maksimal penggantian telah ditentukan dimuka.

Sudah jarang asuransi yang menggunakan sistem ini untuk pembayaran


klaimnya, karena banyak nasabah yang merasa kerepotan ketika harus membayar
terlebih dahulu semua biaya rumah sakitnya, kemudian menyiapkan seluruh berkas
dan mengisi formulir untuk mengajukan klaim ke perusahaan asuransi.

Namun, untuk perusahaan asuransi yang sudah menggunakan sistem cashless


terkadang juga masih harus menggunakan sistem reimbursement untuk pembayaran
klaimnya. Hal ini terjadi ketika nasabah berobat di rumah sakit yang tidak
bekerjasama dengan perusahaan asuransi, sehingga nasabah harus mengajukan
penggantian biaya pengobatan dengan sistem ini.

Perlu menjadi perhatian utama kita dalam melakukan klaim adalah


kelengkapan surat-surat administrasi yang menjadi syarat utama agar proses
penggantian biaya yang kita keluarkan dapat dibayar oleh perusahaan asuransi. Cepat
lambatnya pencairan dana klaim tergantung kepada pelayanan yang diberikan oleh
perusahaan asuransi, namun secara umum berkisar 7 hari kerja.

Bagi yang menganut sistem provider maka kita tidak perlu mengeluarkan uang
terlebih dahulu. Kita hanya dibekali dengan kartu keanggotaan asuransi kesehatan
guna mendapatkan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan di rumah sakit atau klinik
kesehatan yang telah kita pilih sebelumnya berdasarkan daftar rumah sakit yang
bekerja sama dengan perusahaan asuransi tersebut. Berikut adalah tata cara klaim
Asuransi kesehatan Rawat Inap atau Rawat Jalan Allianz,

Sistem “Reimbursement” juga bisa diartikan adalah pembayaran kembali kepada


peserta untuk jumlah yang diajukan sebagai kliam karena terjadinya suatu Penyakit /
Kecelakaan.

1. Peserta dan /atau Pemegang polis harus melengkapi:

7
a. Bukti pembayaran atas perawatan berupa kuitansi asli besrta perincian biaya-
biaya masing-masing tindakan dan / atau pelayanan kesehatan.
b. Formulir kliam Allianz yang telah diisi lengkap dan tandatangan peserta dan
bagian Resume Medis di isi lengkap dan telah ditandatangani oleh dokter
yang merawat dengan cap dari Rumah Sakit.
c. Surat rujukan dari dokter untuk perawatn dan pengobatan ke dokter spesialis,
pemeriksaan peunjang diagnostic dan fisioterapi
d. Salinan hasil pemerikasaan penunjang diagnostic dan salinan resep yang
berkaitn dengan perawatan
e. Apabila peserta telah mendapatkan perlindungan dari penanggungan lainnya
untuk manfaat Asuransi maka harus melampirkan:
I. Salinan document klaim lengkap yang harus telah dilegalisir oleh
penanggung lain tersebut, serta
II. Keterangan pembayaran asli dari penanggung lain tsb.

2. Semua persetujuan yang diperlukan setiap saat untuk memungkinkan Allianz


memperoleh catatan medis / Laporan dan /atau dokumen lain untuk mempermudah
Allianz dalam penyetujuan klaim peserta

3. Bila kliam disetujui oleh Allianz, maka pembayaran klaim akan dilakukan
selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kalender sejak dokumen lengkap telah
diterima Allianz.

2.5 Prosedur Klaim Penggantian Biaya (Reimbursement)


1. Langkah 1

Tertanggung/ Tanggungan bisa menjalani perawatan di seluruh rumah sakit di seluruh


dunia (sesuai Ketentuan Polis) .
2. Langkah 2

8
Tertanggung/ Tanggungan membayar terlebih dahulu tagihan pengobatan dan
perawatan yang telah dijalani .
3. Langkah 3

Tertanggung/ Tanggungan mengajukan klaim atas biaya perawatan yang telah


dikeluarkan kepada Penanggung.

Dokumen-dokumen klaim yang diperlukan adalah:

1) Lengkapi formulir klaim terbaru dengan benar

2) Fotokopi kartu identitas yang masih berlaku

3) Semua kuitansi (asli) untuk segala perawatan dan obat-obatan yang diterima

4) Surat Keterangan Dokter

5) Salinan resep

6) Rujukan laboratorium

7) Hasil pemeriksaan Lab/USG/Foto rontgen, dan lain-lain.

8) Surat Kuasa dari rumah sakit untuk keperluan permintaan keterangan tambahan
dari rumah sakit (jika diperlukan).

2.6 Faktor penghambat proses reimbursement


Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan lamanya proses Klaim Penggantian Biaya
(Reimbursement), antara lain:

a) Dokumen klaim yang dilampirkan belum lengkap.

b) Proses klaim masih memerlukan adanya informasi tambahan dari dokter,


rumah sakit ataupun dari nasabah.

c) Polis asuransi sudah lewat jatuh tempo sehingga perlu konfirmasi dahulu
tentang pembayaran premi tertunggak dari nasabah.

9
2.7 Adminitrasi reimbursement
Metode reimbursement membutuhkan sistem manajemen informasi dan
akuntansi yang relatif mahal. Tantangan terbesar adalah dalam menyiapkan klasifikasi
kasusnya sendiri. Klasifikasi kasus berbasis diagnosis ini bisa dibuat sederhana bisa
pula sangat rinci, yang masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihannya.
Sistem klasifikasi yang sederhana akan mudah dilakukan dan membutuhkan sistem
informasi dan akuntansi yang tidak begitu mahal. Adanya klasifikasi yang lebih rinci
akan lebih menguntungkan karena dapat menentukan kasus secara lebih spesifik dan
lebih adil dalam alokasi sumber daya untuk setiap kasus.
Di sini pembayaran dilakukan berdasarkan jumlah kunjungan peserta
(reimbursment) yang memanfaatkan pelayanan kesehatan. Makin banyak jumlah
kunjungan, maka makin besar uang yang diterima oleh penyedia pelayanan
kesehatan.Biaya administrasi metode relatif tinggi, baik bagi pembayar maupun bagi
dokter. Adanya sistem manajemen informasi, akuntansi, dan alur pendanaan yang
disiapkan untuk menerapkan metode akan memungkinkan penyediaan informasi
untuk menilai dan mengevaluasi protokol pelayanan (clinical pathway), tipe pasien,
case-mix, kinerja, dan pola epidemiologi.
Perusahaan membayar biaya pengobatan berdasarkan fee for services. Sistem
ini memungkinkan terjadinya over utilization. Penyelewengan biaya kesehatan yang
dikeluarkan pun dapat terjadi akibat pemalsuan identitas dan jenis layanan oleh
karyawan maupun provider layanan kesehatan. Reimbursment merupakan suatu
jumlah yang ditagih oleh pemberi jasa kepada penerima jasa yang berasal dari tagihan
pihak ketiga. Dengan demikian, pihak-pihak yang terlibat dalam reimbursement
adalah pemberi jasa selaku pihak yang menyerahkan jasa kepada konsumen
(penerima jasa), penerima jasa, dan pihak ketiga selaku pihak yang dilibatkan oleh
pemberi jasa melakukan penyerahan jasa kepada konsumen (penerima jasa).
Transaksi reimbursment ini ini umumnya dilakukan oleh perusahaan-perusahaan jasa
yang bekerja sama dengan pihak ketiga dalam melakukan kegiatan pemberian jasa
kepada konsumen (penerima jasa) antara lain perusahaan yang bergerak di bidang

10
usaha jasa freight forwarding yang dalam kegiatan operasionalnya bekerjasama
dengan pihak ketiga antara lain perusahaan pengangkutan/pengirim barang.
Dalam hal ini terjadi transaksi reimbursment, tagihan dari pihak ketiga akan
diteruskan oleh pemberi jasa kepada penerima jasa dengan atau tanpa ditambah
imbalan (mark up). Selanjutnya pembayaran dari penerima akan diteruskan oleh
pemberi jasa kepada pihak ketiga tersebut setelah dikurangi dengan imbalan mark up.
Jumlah penerima yang akan dicatat sebagai penghasilan/pendapatan oleh pemberi
jasa adalah jumlah pembayaran dari penerima jasa dikurangi dengan reimbursment.
Oleh karena itu, dokumen tagihan oleh pihak ketiga seharusnya dibuat langsung atas
nama penerima jasa (bukan pemberi jasa).

2.8 Kelebihan dan kekurangan Sistem Pembiayaan Kesehatan


Reimbursement
Kelebihan :
1. Dokter akan melakukan penangan dengan maksimal
2. Biaya kesehatan datang dari pihak perusahaan sehingga pasien tidak perlu
mengeluarkan biaya selain premi (bila ada premi)

Kekurangan :
1. Sering terjadi pemalsuan identitas dan dimanfaatkan oleh pihak lain
2. Sering terjadi adanya overutilisasi dari penyedia layanan kesehatan

11
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Sistem reimbursement merupakan sistem penggantian biaya klaim yang mana Peserta
harus membayar dahulu segala biaya di Rumah Sakit untuk kemudian diajukan klaim
penggantian kepada Penanggung. Saat ini sudah jarang asuransi yang menggunakan
sistem ini untuk pembayaran klaimnya, karena banyak nasabah yang merasa
kerepotan ketika harus membayar terlebih dahulu semua biaya rumah sakitnya,
kemudian menyiapkan seluruh berkas dan mengisi formulir untuk mengajukan klaim
ke perusahaan asuransi.
Metode reimbursement membutuhkan sistem manajemen informasi dan akuntansi
yang relatif mahal. Di sini pembayaran dilakukan berdasarkan jumlah kunjungan
peserta (reimbursment) yang memanfaatkan pelayanan kesehatan. Makin banyak
jumlah kunjungan, maka makin besar uang yang diterima oleh penyedia pelayanan
kesehatan.

3.2 Saran

Demikian makalah yang kami buat, kami sadar masih banyak kekurangan dan
kesalahan, maka dari itu kami harapkan kritik dan sarannya. Dan semoga makalah ini
dapat menambah wawasan dan bermanfaat untuk kita terutama untuk kami sendiri.

12
DAFTAR PUSTAKA

MedisOnline. Sistem Pembiayaan Kesehatan . 2009

Djuhaeni. E., 2007. Asuransi Kesehatan dan Managd Care. Modul belajar mengajar.
Bandung

http://library.upnvj.ac.id/pdf/s1akuntansi08/203112021/bab2.pdf

akademiasuransi.org

http://www.academia.edu/9283155/Sistem_pembiayaan_kesehatan

akademiasuransi.org

http://www.infoasuransi.net/klaim-asuransi/573-klaim-reimbursement-allianz-rawat-
inap--rawat-jalan.html

http://healthforindonesia.blogspot.co.id/2010/11/sistem-pembiayaan-layanan-
kesehatan.html

13
14

Anda mungkin juga menyukai