Anda di halaman 1dari 20

Tahapan-Tahapan Metode Ilmiah

Tentang Pencemaran Udara

D
I
S
U
S
U
N

1. Cindy Sabrina
2. Ester Rosita J.P
3. Evriza Juwita Effendi
4. Nabila Ul’ya Wulandari
5. Ragil Pancawati
6. Yulieanti
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
2. Identifikasi Masalah
3. Pembatasan Masalah
4. Rumusan Masalah
5. Tujuan
6. Kegunaan Penelitian

BAB II LANDASAN TEORI & HIPOTESIS


1. Landasan Teori
2. Hipotesis

BAB III PEMBAHASAN

BAB IV KESIMPULAN

BAB V Metodelogi Penelitian


1. Tempat & Waktu Penelitian
2. Metode Penelitian
3. Instrumen Penelitian
4. Teknik Analisis Data

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
Polusi udara kota di beberapa kota besar di Indoesia telah sangat
memprihatinkan. Beberapa hasil penelitian tentang polusi udara dengan
segala resikonya telah dipublikasikan, termasuk resiko kanker darah.
Namun, jarang disadari entah berapa ribu warga kota yang meninggal setiap
tahunnya karena infeksi saluran pernapasan, asma, maupun kanker paru-
paru akibat polusi udara kota. Meskipun sesekali telah turun hujan langit di
kota-kota besar di Indonesia tidak biru lagi. Udara kota telah dipenuhi oleh
jelaga dan gas-gas yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Diperkirakan
dalam sepuluh tahun mendatang terjadi peningkatan jumlah penderita
penyakit paru-paru dan saluran pernapasan. Bukan hanya infeksi saluran
pernapasan akut yang kini menempati urutan pertama dalam pola penyakit
diberbagai wilayah di Indonesia, tetapi juga meningkatnya jumlah penderita
penyakit asma dan kanker paru-paru.
Di kota-kota besar, kontribusi gas buang kendaraan bermotor sebagai
sumber polusi udara mencapai 60-70%. Sedangkan kontribusi gas buang dari
cerobong asap industri hanya berkisar 10-15%, sisanya berasal dari sumber
pembakaran lain,misalnya dari rumah tangga, pembakaran sampah,
kebakaran hutan, dll. Sebenarnya banyak polutan udara yang perlu
diwaspadai, tetapi organisasi kesehatan dunia (WHO) menetapkan beberapa
jenis polutan yang dianggap serius.Polutan udara yang berbahaya bagi
kesehatan manusia, hewan,serta mudah merusak harta benda adalah
partikulat yang mengandung partikel aspa dan jelaga, hidrokarbon, sulfur
dioksida, dan nitrogen oksida. Semuanya diemisikan oleh kendaraan
bermotor. WHO memperkirakan bahwa 70% penduduk kota di dunia
pernah menghirup udara kotor akibat emisi kendaraan bermotor, sedagkan
10% sisanya menghirup udara yang bersifat marginal. Akibatnya fatal bagi
bayi dan anak-anak. Orang dewasa yang beresiko tinggi, misalnya wanita
hamil, usia lanjut, serta orang yang telah memiliki riwayat penyakit paru dan
saluran pernapasan menahun. Celakanya, para penderita maupun
keluarganya tidak menyadari bahwa berbagai akibat negatif tersebut berasal
dari polusi udara akibat emisi kendaraan bermotor yang semakin
memprihatinkan.
2. Identifikasi Masalah
1. Efek-efek berbagai dampak polusi udara yang belum diketahui sebagian
masyarakat di Indonesia
2. Masyarakat yang masih tidak mengetahui untuk mengurangi dampak
solusi udara
3. Pembatasan Masalah
Mengingat pembahasan dalam penelitian ini sangat luas bisa mencakup
berbagai hal maka pembahasannya akan dibatasi.
a) Menjelaskan beberapa uraian mengenai dampak solusi udara kepada
masyarakat yang kurang mengetahui efek-efek apa saja yang akan timbul
bila itu terjadi.
b) Dan mencakup juga dampak polusi udara yang disebabkan oleh
lingkungan.
4. Rumusan Masalah
Berdasarkan Uraian diatas maka dalam karya ilmiah ini akan diangkat
permasalahan:
 Apa sajakah dampak polusi uadara bagi kelangsungan hidup makhluk hidup
di bumi?
 Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasi pencemaran udara?
5. Tujuan
a. Mengetahui dampak polusi udara bagi kelangsungan hidup makhluk hidup
di bumi.
b. Menemukan solusi yang tepat untuk mengatasi pencemaran udara.
6. Kegunaan Penelitian
Untuk memberikan sebuah solusi untuk menangani dampak polusi
udara.

BAB II
LANDASAN TEORI & HIPOTESIS
Pencemaran udara adalah kehadiran satu atau lebih
substansi fisik, kimia, atau biologi diatmosfer dalam jumlah yang dapat
membahayakan kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan, mengganggu
estetika dan kenyamanan, atau merusak properti. Pencemaran udara dapat
ditimbulkan oleh sumber-sumber alami maupun kegiatan manusia.
Beberapa definisi gangguan fisik seperti polusi
suara, panas, radiasi atau polusi cahaya dianggap sebagai polusi udara. Sifat
alami udara mengakibatkan dampak pencemaran udara dapat bersifat
langsung dan lokal, regional, maupun global.
Secara umum definisi udara tercemar adalah perbedaan komposisi
udara aktual dengan kondisi udara normal dimana komposisi udara aktual
tidak mendukung kehidupan manusia. Bahan atau zat pencemaran udara
sendiri dapat berbentuk gas dan partikel. Banyak faktor yang dapat
menyebabkan pencemaran udara, diantaranya pencemaran yang
ditimbulkan oleh sumber-sumber alami maupun kegiatan manusia atau
kombinasi keduanya. Pencemaran udara dapat mengakibatkan dampak
pencemaran udara bersifat langsung dan lokal, regional, maupun global atau
tidak langsung dalam kurun waktu lama.
Gas oksigen merupakan komponen esensial bagi kehidupan makhluk
hidup, termasuk manusia. Komposisi seperti itu merupakan udara normal
dan dapat mendukung kehidupan manusia. Namun, akibat aktivitas manusia
yang tidak ramah lingkungan, udara sering kali menurun kualitasnya.Oleh
karena itu dengan dibuatnya makalah ini diharapkan dapat ditemukan
solusi alternatif untuk mengatasi bahayanya pencemaran udara. dan dengan
dilaksanakanya solusi alternatif tersebut diharapkan ada beberapa manfaat
yang dapat dirasakan misalnya berkurangnya polusi udara,dampak
kesehatan yang ditimbulkan akibat pencemaran udara, dampak terhadap
tanaman, Tanaman yang tumbuh di daerah dengan tingkat pencemaran
udara tinggi dapat terganggu pertumbuhannya dan rawan penyakit,
mengurangi efek rumah kaca, hujan asam, kerusakan lapisan ozon.
Bahan atau zat pencemaran udara sendiri dapat berbentuk gas dan
partikel. Dalam bentuk gas dapat dibedakan menjadi:
 Golongan belerang (sulfur dioksida, hidrogen sulfida, sulfat aerosol)
 Golongan nitrogen (nitrogen oksida, nitrogen monoksida, amoniak, dan
nitrogen dioksida)
 Golongan karbon (karbon dioksida, karbon monoksida, hidrokarbon)
 Golongan gas yang berbahaya (benzene, vinyl klorida, air raksa uap)
Sedangkan jenis pencemaran udara berbentuk partikel dibedakan
menjadi tiga, yaitu:
1. Mineral (anorganik) dapat berupa racun seperti air raksa dan timah
2. Bahan organik yang terdiri dari ikatan hidrokarbon, klorinasi alkan,
benzene
3. Makhluk hidup terdiri dari bakteri, virus, telur cacing.
Sementara itu, jenis pencemaran udara menurut tempat dan
sumbernya dibedakan menjadi dua, yaitu:
a) Pencemaran udara bebas meliputi secara alamiah (letusan gunung berapi,
pembusukan, dan lain-lain) dan bersumber kegiatan manusia, misalnya
berasal dari kegiatan industri, rumah tangga, asap kendaraan bermotor.
b) Pencemaran udara ruangan meliputi dari asap rokok, bau tidak sedap di
ruangan.
Jenis parameter pencemar udara didasarkan pada baku mutu udara
ambien menurut Peraturan Pemerintah Nomor 41 tahun 1999, meliputi:
1. Sulfur dioksida (SO2)
2. Karbon monoksida (CO)
3. Nitrogen dioksida (NO2)
4. Ozon (O3)
5. Hidro karbon (HC)
6. PM 10, Partikel debu ( PM 2,5 )
7. TSP (debu)
8. Pb (Timah Hitam)
Beberapa definisi gangguan fisik pada polusi udara diantaranya :
 Polusi udara.
 Panas.
 Radiasi.
Beberapa definisi gangguan kimia pada polusi udara diantaranya :
a) asap industri.
b) asap kendaraan bermotor.
c) asap pembangkit listrik.
d) asap kebakaran hutan.
e) asap rokok.
Beberapa definisi gangguan biologi pada polusi udara diantaranya :
1. timbunan gas metana pada lokasi urungan tanah.
2. timbunan gas metana pada tempat pembuangan sampah.
3. uap pelarut organik.

Efek Negatif Pencemaran Udara Bagi Kesehatan Tubuh


Tabel 1 menjelaskan tentang pengaruh pencemaran udara terhadap
makhluk hidup. Rentang nilai menunjukkan batasan kategori daerah sesuai
tingkat kesehatan untuk dihuni oleh manusia. Karbon monoksida, nitrogen,
ozon, sulfur dioksida dan partikulat matter adalah beberapa parameter
polusi udara yang dominan dihasilkan oleh sumber pencemar.
Dari pantauan lain diketahui bahwa dari beberapa kota yang diketahui
masuk dalam kategori tidak sehat berdasarkan ISPU (Indeks Standar
Pencemar Udara) adalah Jakarta (26 titik), Semarang (1 titik), Surabaya (3
titik), Bandung (1 titik), Medan (6 titik), Pontianak (16 titik), Palangkaraya (4
titik), dan Pekan Baru (14 titik). Satu lokasi di Jakarta yang diketahui
merupakan daerah kategori sangat tidak sehat berdasarkan pantauan
lapangan [1].

Tabel 1. Pengaruh Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU)


Karbon Sulfur
Renta Nitrogen
Kategori monoksida Ozon (O3) dioksida Partikulat
ng (NO2)
(CO) (SO2)
Luka pada Luka pada
Beberapa Beberapa
spesies spesies
tumbuhan tumbuhan
Tidak ada Sedikit Tidak ada
Baik 0-50 akibat akibat
efek berbau efek
kombinasi kombinasi
dengan SO2 dengan O3
(Selama 4 (Selama 4
Jam) Jam)
Perubahan Luka pada Luka pada Terjadi
51 – kimia darah Beberapa Beberapa penurunan
Sedang Berbau
100 tapi tidak spesies spesies pada jarak
terdeteksi tumbuhan tumbuhan pandang
Bau dan
kehilangan
Jarak
Peningkata warna.
Penurunan pandang
n pada Peningkata Bau,
kemampuan turun dan
kardiovask n Meningkat
Tidak 101 – pada atlit terjadi
ular pada reaktivitas nya
Sehat 199 yang pengotoran
perokok pembuluh kerusakan
berlatih debu di
yang sakit tenggoroka tanaman
keras mana-
jantung n pada
mana
penderita
asma
Meningkat Meningkat Olah raga Meningkat Meningkat
nya nya ringan nya nya
Sangat
200- kardiovask sensitivitas mengakibat sensitivitas sensitivitas
Tidak
299 ular pada pasien yang kan pada pada
Sehat
orang berpenyaki pengaruh pasien pasien
bukan t asma dan parnafasan berpenyaki berpenyaki
perokok bronchitis pada pasien t asma dan t asma dan
yang yang bronchitis bronchitis
berpenyakit berpenyaklt
Jantung, paru-paru
dan akan kronis
tampak
beberapa
kelemahan
yang
terlihat
secara
nyata
Berbaha 300 –
Tingkat yang berbahaya bagi semua populasi yang terpapar
ya lebih
Sumber: Bapedal [1]

Tabel 2. Sumber dan Standar Kesehatan Emisi Gas Buang


Pencemar Sumber Keterangan
Karbon Buangan kendaraan
Standar kesehatan: 10
monoksida bermotor; beberapa
mg/m3 (9 ppm)
(CO) proses industri
Sulfur Panas dan fasilitas Standar kesehatan: 80
dioksida (S02) pembangkit listrik ug/m3 (0.03 ppm)
Buangan kendaraan Standar kesehatan: 50
Partikulat
bermotor; beberapa ug/m3 selama 1 tahun;
Matter
proses industri 150 ug/m3
Nitrogen Buangan kendaraan Standar kesehatan: 100
dioksida bermotor; panas dan pg/m3 (0.05 ppm)
(N02) fasilitas selama 1 jam
Standar kesehatan: 235
Ozon (03) Terbentuk di atmosfir ug/m3 (0.12 ppm)
selama 1 jam
Sumber: Bapedal [2]

Tabel 2 memperlihatkan sumber emisi dan standar kesehatan yang


ditetapkan oleh pemerintah melalui keputusan Bapedal. BPLHD Propinsi
DKI Jakarta pun mencatat bahwa adanya penurunan yang signifikan jumlah
hari dalam kategori baik untuk dihirup dari tahun ke tahun sangat
mengkhawatirkan. Dimana pada tahun 2000 kategori udara yang baik
sekitar 32% (117 hari dalam satu tahun) dan di tahun 2003 turun menjadi
hanya 6.85% (25 hari dalam satu tahun) [3]. Hal ini menandakan Indonesia
sudah seharusnya memperketat peraturan tentang pengurangan emisi baik
sektor industri maupun sektor transportasi darat/laut. Selain itu tentunya
penemuan-penemuan teknologi baru pengurangan emisi dilanjutkan dengan
pengaplikasiannya di masyarakat menjadi suatu prioritas utama bagi
pengendalian polusi udara di Indonesia.

BAB III
PEMBAHASAN
Tulisan ini mengetengahkan sekilas pandang mengenai pencemaran
udara. pengertian, pengaruhnya terhadap kualitas lingkungan dan kesehatan
manusia serta teknologi terbaru untuk menguranginya. Semakin pesatnya
kemajuan ekonomi mendorong semakin bertambahnya kebutuhan akan
transportasi, dilain sisi lingkungan alam yang mendukung hajat hidup
manusia semakin terancam kualitasnya, efek negatif pencemaran udara
kepada kehidupan manusia kian hari kian bertambah. Untuk itulah tulisan
singkat ini dipersembahkan sebagai bahan awal untuk melangkah
menciptakan lingkungan yang sehat dan nyaman. Pencemaran udara adalah
masuknya, atau tercampurnya unsur-unsur berbahaya ke dalam atmosfir
yang dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan lingkungan, gangguan pada
kesehatan manusia secara umum serta menurunkan kualitas lingkungan.
Pencemaran udara dapat terjadi dimana-mana, misalnya di dalam
rumah, sekolah, dan kantor. Pencemaran ini sering disebut pencemaran
dalam ruangan (indoor pollution). Sementara itu pencemaran di luar
ruangan (outdoor pollution) berasal dari emisi kendaraan bermotor,
industri, perkapalan, dan proses alami oleh makhluk hidup. Sumber
pencemar udara dapat diklasifikasikan menjadi sumber diam dan sumber
bergerak. Sumber diam terdiri dari pembangkit listrik, industri dan rumah
tangga. Sedangkan sumber bergerak adalah aktifitas lalu lintas kendaraan
bermotor dan tranportasi laut. Dari data BPS tahun 1999, di beberapa
propinsi terutama di kota-kota besar seperti Medan, Surabaya dan Jakarta,
emisi kendaraan bermotor merupakan kontribusi terbesar terhadap
konsentrasi NO2 dan CO di udara yang jumlahnya lebih dari 50%.
Penurunan kualitas udara yang terus terjadi selama beberapa tahun
terakhir menunjukkan kita bahwa betapa pentingnya digalakkan usaha-
usaha pengurangan emisi ini. Baik melalui penyuluhan kepada masyarakat
ataupun dengan mengadakan penelitian bagi penerapan teknologi
pengurangan emisi.
Secara umum, terdapat 2 sumber pencemaran udara, yaitu
pencemaran akibat sumber alamiah (natural sources), seperti letusan
gunung berapi, dan yang berasal dari kegiatan manusia (anthropogenic
sources), seperti yang berasal dari transportasi, emisi pabrik, dan lain-lain.
Di dunia, dikenal 6 jenis zat pencemar udara utama yang berasal dari
kegiatan manusia (anthropogenic sources), yaitu Karbon monoksida (CO),
oksida sulfur (SOx), oksida nitrogen (NOx), partikulat, hidrokarbon (HC),
dan oksida fotokimia, termask ozon.
Di Indonesia, kurang lebih 70% pencemaran udara disebabkan oleh
emisi kendaraan bermotor. Kendaraan bermotor mengeluarkan zat-zat
berbahaya yang dapat menimbulkan dampak negatif, baik terhadap
kesehatan manusia maupun terhadap lingkungan, seperti timbal/timah
hitam (Pb), suspended particulate matter (SPM), oksida nitrogen (NOx),
hidrokarbon (HC), karbon monoksida (CO), dan oksida fotokimia (Ox).
Kendaraan bermotor menyumbang hampir 100% timbal, 13-44% suspended
particulate matter (SPM), 71-89% hidrokarbon, 34-73% NOx, dan hampir
seluruh karbon monoksida (CO) ke udara Jakarta. Sumber utama debu
berasal dari pembakaran sampah rumah tangga, di mana mencakup 41% dari
sumber debu di Jakarta. Sektor industri merupakan sumber utama dari
sulfur dioksida. Di tempat-tempat padat di Jakarta konsentrasi timbal bisa
100 kali dari ambang batas.
A. Sumber pencemaran udara
Banyak faktor yang dapat menyebabkan pencemaran udara,
diantaranya pencemaran yang ditimbulkan oleh sumber-sumber alami
maupun kegiatan manusia atau kombinasi keduanya. Pencemaran udara
dapat mengakibatkan dampak pencemaran udara bersifat langsung dan
lokal, regional, maupun global atau tidak langsung dalam kurun waktu lama.
Pencemar udara dibedakan menjadi pencemar primer dan pencemar
sekunder. Pencemar primer adalah substansi pencemar yang ditimbulkan
langsung dari sumber pencemaran udara. Karbon monoksida adalah sebuah
contoh dari pencemar udara primer karena ia merupakan hasil
dari pembakaran. Pencemar sekunder adalah substansi pencemar yang
terbentuk dari reaksi pencemar-pencemar primer di atmosfer.
Pembentukan ozon dalamsmog fotokimia adalah sebuah contoh dari
pencemaran udara sekunder.
Atmosfer merupakan sebuah sistem yang kompleks, dinamik, dan
rapuh. Belakangan ini pertumbuhan keprihatinan akan efek dari emisi polusi
udara dalam konteks global dan hubungannya dengan pemanasan
global, perubahan iklim dan deplesi ozon di stratosfer semakin meningkat.
B. Kegiatan manusia
 Transportasi
 Industri
 Pembangkit listrik
 Pembakaran (perapian, kompor, furnace, insinerator dengan berbagai
jenis bahan bakar)
 Gas buang pabrik yang menghasilkan gas berbahaya seperti (CFC)
C. Sumber alami
a) Gunung berapi
b) Rawa-rawa
c) Kebakaran hutan
d) Nitrifikasi dan denitrifikasi biologi
D. Sumber-sumber lain
1. Transportasi amonia
2. Kebocoran tangki klor
3. Timbulan gas metana dari lahan uruk/tempat pembuangan akhir sampah
4. Uap pelarut organik
F. Jenis-jenis pencemaran
a. Karbon Monoksida (CO)
Asap kendaraan merupakan sumber utama bagi karbon monoksida di
berbagai perkotaan. Data mengungkapkan bahwa 60% pencemaran udara di
Jakarta disebabkan karena benda bergerak atau transportasi umum yang
berbahan bakar solar terutama berasal dari Metromini. Formasi CO
merupakan fungsi dari rasio kebutuhan udara dan bahan bakar dalam proses
pembakaran di dalam ruang bakar mesin diesel. Percampuran yang baik
antara udara dan bahan bakar terutama yang terjadi pada mesin-mesin yang
menggunakan Turbocharge merupakan salah satu strategi untuk
meminimalkan emisi CO. Karbon monoksida yang meningkat di berbagai
perkotaan dapat mengakibatkan turunnya berat janin dan meningkatkan
jumlah kematian bayi serta kerusakan otak. Karena itu strategi penurunan
kadar karbon monoksida akan tergantung pada pengendalian emisi seperti
pengggunaan bahan katalis yang mengubah bahan karbon monoksida
menjadi karbon dioksida dan penggunaan bahan bakar terbarukan yang
rendah polusi bagi kendaraan bermotor.
b. Nitrogen Dioksida (NO2)
NO2 bersifat racun terutama terhadap paru. Kadar NO2 yang lebih
tinggi dari 100 ppm dapat mematikan sebagian besar binatang percobaan
dan 90% dari kematian tersebut disebabkan oleh gejala pembengkakan paru
(edema pulmonari). Kadar NO2 sebesar 800 ppm akan mengakibatkan 100%
kematian pada binatang-binatang yang diuji dalam waktu 29 menit atau
kurang. Percobaan dengan pemakaian NO2 dengan kadar 5 ppm selama 10
menit terhadap manusia mengakibatkan kesulitan dalam bernafas.
c. Sulfur Oksida (SOx)
Pencemaran oleh sulfur oksida terutama disebabkan oleh dua
komponen sulfur bentuk gas yang tidak berwarna, yaitu sulfur dioksida
(SO2) dan Sulfur trioksida (SO3), yang keduanya disebut sulfur oksida
(SOx). Pengaruh utama polutan SOx terhadap manusia adalah iritasi sistem
pernafasan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa iritasi tenggorokan
terjadi pada kadar SO2 sebesar 5 ppm atau lebih, bahkan pada beberapa
individu yang sensitif iritasi terjadi pada kadar 1-2 ppm. SO2 dianggap
pencemar yang berbahaya bagi kesehatan terutama terhadap orang tua dan
penderita yang mengalami penyakit khronis pada sistem pernafasan
kadiovaskular.
d. Ozon (O3)
Ozon merupakan salah satu zat pengoksidasi yang sangat kuat setelah
fluor, oksigen dan oksigen fluorida (OF2). Meskipun di alam terdapat dalam
jumlah kecil tetapi lapisan ozon sangat berguna untuk melindungi bumi dari
radiasi ultraviolet (UV-B). Ozon terbentuk di udara pada ketinggian 30km
dimana radiasi UV matahari dengan panjang gelombang 242 nm secara
perlahan memecah molekul oksigen (O2) menjadi atom oksigen, tergantung
dari jumlah molekul O2 atom-atom oksigen secara cepat membentuk ozon.
Ozon menyerap radiasi sinar matahari dengan kuat di daerah panjang
gelombang 240-320 nm.
e. Hidrokarbon (HC)
Hidrokarbon di udara akan bereaksi dengan bahan-bahan lain dan
akan membentuk ikatan baru yang disebut plycyclic aromatic hidrocarbon
(PAH) yang banyak dijumpai di daerah industri dan padat lalu lintas. Bila
PAH ini masuk dalam paru-paru akan menimbulkan luka dan merangsang
terbentuknya sel-sel kanker.
f. Khlorin (Cl2)
Gas Khlorin ( Cl2) adalah gas berwarna hijau dengan bau sangat
menyengat. Berat jenis gas khlorin 2,47 kali berat udara dan 20 kali berat gas
hidrogen khlorida yang toksik. Gas khlorin sangat terkenal sebagai gas
beracun yang digunakan pada perang dunia ke-1.Selain bau yang menyengat
gas khlorin dapat menyebabkan iritasi pada mata saluran pernafasan.
Apabila gas khlorin masuk dalam jaringan paru-paru dan bereaksi
dengan ion hidrogen akan dapat membentuk asam khlorida yang bersifat
sangat korosif dan menyebabkan iritasi dan peradangan. Gas khlorin juga
dapat mengalami proses oksidasi dan membebaskan oksigen seperti pada
proses yang terjadi di bawah ini.
g. Partikulat Debu (TSP)
Pada umumnya ukuran partikulat debu sekitar 5 mikron merupakan
partikulat udara yang dapat langsung masuk ke dalam paru-paru dan
mengendap di alveoli. Keadaan ini bukan berarti bahwa ukuran partikulat
yang lebih besar dari 5 mikron tidak berbahaya, karena partikulat yang lebih
besar dapat mengganggu saluran pernafasan bagian atas dan menyebabkan
iritasi.
h. Timah Hitam (Pb)
Gangguan kesehatan adalah akibat bereaksinya Pb dengan gugusan
sulfhidril dari protein yang menyebabkan pengendapan protein dan
menghambat pembuatan haemoglobin, Gejala keracunan akut didapati bila
tertelan dalam jumlah besar yang dapat menimbulkan sakit perut muntah
atau diare akut. Gejala keracunan kronis bisa menyebabkan hilang nafsu
makan, konstipasi lelah sakit kepala, anemia, kelumpuhan anggota badan,
kejang dan gangguan penglihatan.
G. Dampak Pencemaran Udara
1. Dampak kesehatan
Substansi pencemar yang terdapat di udara dapat masuk ke dalam
tubuh melalui sistem pernapasan. Jauhnya penetrasi zat pencemar ke dalam
tubuh bergantung kepada jenis pencemar. Partikulat berukuran besar dapat
tertahan di saluran pernapasan bagian atas, sedangkan partikulat berukuran
kecil dan gas dapat mencapai paru-paru. Dari paru-paru, zat pencemar
diserap oleh sistem peredaran darah dan menyebar ke seluruh tubuh.
Dampak kesehatan yang paling umum dijumpai adalah ISPA (infeksi
saluran pernapasan akut), termasuk di antaranya, asma, bronkitis, dan
gangguan pernapasan lainnya. Beberapa zat pencemar dikategorikan
sebagai toksik dan karsinogenik.
Studi ADB memperkirakan dampak pencemaran udara di Jakarta yang
berkaitan dengan kematian prematur, perawatan rumah sakit, berkurangnya
hari kerja efektif, dan ISPA pada tahun 1998 senilai dengan 1,8 trilyun rupiah
dan akan meningkat menjadi 4,3 trilyun rupiah di tahun 2015.
2. Dampak terhadap tanaman
Tanaman yang tumbuh di daerah dengan tingkat pencemaran udara
tinggi dapat terganggu pertumbuhannya dan rawan penyakit, antara
lain klorosis, nekrosis, dan bintik hitam. Partikulat yang terdeposisi di
permukaan tanaman dapat menghambat proses fotosintesis.
3. Hujan asam
pH normal air hujan adalah 5,6 karena adanya CO2 di atmosfer.
Pencemar udara seperti SO2 dan NO2 bereaksi dengan air hujan membentuk
asam dan menurunkan pH air hujan. Dampak dari hujan asam ini antara
lain:
Mempengaruhi kualitas air permukaan
Merusak tanaman
Melarutkan logam-logam berat yang terdapat dalam tanah sehingga
mempengaruhi kualitas air tanah dan air permukaan
Bersifat korosif sehingga merusak material dan bangunan
4. Efek rumah kaca
Efek rumah kaca disebabkan oleh keberadaan CO2, CFC, metana,
ozon, dan N2O di lapisantroposfer yang menyerap radiasi panas matahari
yang dipantulkan oleh permukaan bumi. Akibatnya panas terperangkap
dalam lapisan troposfer dan menimbulkan fenomenapemanasan global.
Dampak dari pemanasan global adalah:
Pencairan es di kutub
Perubahan iklim regional dan global
Perubahan siklus hidup flora dan fauna
5. Kerusakan lapisan ozon
Lapisan ozon yang berada di stratosfer (ketinggian 20-35 km)
merupakan pelindung alami bumi yang berfungsi
memfilter radiasi ultraviolet B dari matahari. Pembentukan dan penguraian
molekul-molekul ozon (O3) terjadi secara alami di stratosfer. Emisi CFC
yang mencapai stratosfer dan bersifat sangat stabil menyebabkan laju
penguraian molekul-molekul ozon lebih cepat dari pembentukannya,
sehingga terbentuk lubang-lubang pada lapisan ozon.
Kerusakan lapisan ozon menyebabkan sinar UV-B matahri tidak
terfilter dan dapat mengakibatkan kanker kulit serta penyakit pada tanaman.
Apa yang Harus Dilakukan?
Penanggulangan pencemaran udara tidak dapat dilakukan tanpa
menanggulangi penyebabnya. Mempertimbangan sektor transportasi sebagai
kontributor utama pencemaran udara, maka sektor ini harus mendapat
perhatian utama.
 menyerukan kepada pemerintah untuk memperbaiki sistem
transportasi yang ada saat ini, dengan sistem transportasi yang
lebih ramah lingkungan dan terjangkau oleh publik. Prioritas utama
harus diberikan pada sistem transportasi massal dan tidak berbasis
kendaraan pribadi.
 juga menyerukan kepada pemerintah untuk segera memenuhi
komitmennya untuk memberlakukan pemakaian bensin tanpa
timbal.
 Di sektor industri, penegakan hukum harus dilaksanakan bagi
industri pencemar.
Solusi
Solusi untuk mengatasi polusi udara kota terutama ditujukan pada
pembenahan sektor transportasi, tanpa mengabaikan sektor-sektor lain. Hal
ini kita perlu belajar dari kota-kota besar lain di dunia, yang telah berhasil
menurunkan polusi udara kota dan angka kesakitan serta kematian yang
diakibatkan karenanya.
1. Pemberian izin bagi angkutan umum kecil hendaknya lebih dibatasi,
sementara kendaraan angkutan massal, seperti bus dan kereta api,
diperbanyak.
2. Pembatasan usia kendaraan, terutama bagi angkutan umum, perlu
dipertimbangkan sebagai salah satu solusi. Sebab, semakin tua
kendaraan, terutama yang kurang terawat, semakin besar potensi untuk
memberi kontribusi polutan udara.
3. Potensi terbesar polusi oleh kendaraan bermotor adalah kemacetan lalu
lintas dan tanjakan. Karena itu, pengaturan lalu lintas, rambu-rambu, dan
tindakan tegas terhadap pelanggaran berkendaraan dapat membantu
mengatasi kemacetan lalu lintas dan mengurangi polusi udara.
4. Pemberian penghambat laju kendaraan di permukiman atau gang-gang
yang sering diistilahkan dengan “polisi tidur” justru merupakan biang
polusi. Kendaraan bermotor akan memperlambat laju
5. Uji emisi harus dilakukan secara berkala pada kendaraan umum maupun
pribadi meskipun secara uji petik (spot check). Perlu dipikirkan dan
dipertimbangkan adanya kewenangan tambahan bagi polisi lalu lintas
untuk melakukan uji emisi di samping memeriksa surat-surat dan
kelengkapan kendaraan yang lain.
6. Penanaman pohon-pohon yang berdaun lebar di pinggir-pinggir jalan,
terutama yang lalu lintasnya padat serta di sudut-sudut kota, juga
mengurangi polusi udara.
Pemberi insentif bagi kendaraan bermotor yang memakai bahan bakar
gas:
a) Keringanan pajak kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar gas
berupa PBBKB (Pajak Bahan Bakar Kendaran Bermotor). Ref. PERPU. No.21
tahun 1997
b) Pemberian keringanan pajak untuk bea-impor conversion kit, sehingga
harga jualnya dapat ditekan dan terjangkau oleh masyarakat
c) Peraturan pemerintah yang mewajibkan kepada Agen Tunggal Pemegang
Merk (ATPM) untuk memasang Catalytic Converter pada setiap kendaraan
baru yang sudah diproduksi
Pembuatan Bahan Bakar Nabati (BBN). Kebijakan pemerintah untuk
percepatan pembuatan BBN antara lain:
a. Peraturan Pemerintah (PP) No.5 tahun 2006 tentang kebijakan energi
nasional.
b. Instruksi Presiden (Inpres) No.1 tahun 2006 tentang penyediaan dan
pemanfaatan BBN.
c. Keputusan Presiden (Keppres) No.10 tahun 2006 tentang Tim Nasional
pengembangan BBN untuk percepatan pengurangan kemiskinan dan
pengangguran.

BAB IV
KESIMPULAN
Dampak Polusi Udara bagi kelangsungan makhluk hidup di bumi:
Mengganggu dan membahayakan kesehatan manusia, hewan, dan
tumbuhan
Dampak kesehatan yang paling umum dijumpai adalah ISPA (infeksi
saluran pernapasan akut), termasuk di antaranya, asma, bronkitis, dan
gangguan pernapasan lainnya. Beberapa zat pencemar dikategorikan
sebagai toksik dan karsinogenik.
1. Dampak terhadap tanaman
Tanaman yang tumbuh di daerah dengan tingkat pencemaran udara
tinggi dapat terganggu pertumbuhannya dan rawan penyakit, antara
lain klorosis, nekrosis, dan bintik hitam. Partikulat yang terdeposisi di
permukaan tanaman dapat menghambat proses fotosintesis.
 merusak estetika
 mengganggu kenyamanan
 merusak gedung, kantor, dan perumahan
2. Hujan asam
pH normal air hujan adalah 5,6 karena adanya CO2 di atmosfer.
Pencemar udara seperti SO2 dan NO2 bereaksi dengan air hujan membentuk
asam dan menurunkan pH air hujan. Dampak dari hujan asam ini antara
lain:
a. Mempengaruhi kualitas air permukaan
b. Merusak tanaman
c. Melarutkan logam-logam berat yang terdapat dalam tanah sehingga
d. mempengaruhi kualitas air tanah dan air permukaan
e. Bersifat korosif sehingga merusak material dan bangunan
3. Efek rumah kaca
Efek rumah kaca disebabkan oleh keberadaan CO2, CFC, metana,
ozon, dan N2O di lapisantroposfer yang menyerap radiasi panas matahari
yang dipantulkan oleh permukaan bumi. Akibatnya panas terperangkap
dalam lapisan troposfer dan menimbulkan fenomenapemanasan global.
Dampak dari pemanasan global adalah:
 Pencairan es di kutub
 Perubahan iklim regional dan global
 Perubahan siklus hidup flora dan fauna
4. Kerusakan lapisan ozon
Lapisan ozon yang berada di stratosfer (ketinggian 20-35 km)
merupakan pelindung alami bumi yang berfungsi
memfilter radiasi ultraviolet B dari matahari. Pembentukan dan penguraian
molekul-molekul ozon (O3) terjadi secara alami di stratosfer. Emisi CFC
yang mencapai stratosfer dan bersifat sangat stabil menyebabkan laju
penguraian molekul-molekul ozon lebih cepat dari pembentukannya,
sehingga terbentuk lubang-lubang pada lapisan ozon.
Kerusakan lapisan ozon menyebabkan sinar UV-B matahri tidak
terfilter dan dapat mengakibatkan kanker kulit serta penyakit pada tanaman.
Melihat kenyataan seperti dituliskan diatas, polusi udara merupakan
salah satu permasalahan lingkungan yang serius di Indonesia saat ini, sejalan
dengan semakin meningkatnya jumlah kendaraan bermotor dan
peningkatan ekonomi transportasi. Uji kelayakan emisi yang sejak beberapa
tahun terakhir didengung-dengungkan oleh pemerintah dan LSM ternyata
juga tidak berjalan dengan yang diharapkan. Jumlah kendaraan bermotor di
jalan raya kian hari semakin meningkat. Di wilayah DKI Jakarta, menambah
semakin terpuruknya kondisi lingkungan udara kita. Penulis berharap
semoga dengan kenaikan harga pokok bahan bakar minyak bagi kendaraan
yang ditetapkan pemerintah dapat menjadi salah satu momentum bagi kita
semua untuk melangkah berpikir tentang lingkungan udara yang sehat.
Kesadaran masyarakat akan pembatasan penggunaan kendaraan pribadi dan
didukung dengan penyediaan angkutan massal yang baik dan nyaman oleh
pemerintah akan menciptakan lingkungan udara yang sehat bagi masyarakat
Indonesia.
Solusi untuk mengatasi polusi udara kota terutama ditujukan pada
pembenahan sektor transportasi, tanpa mengabaikan sektor-sektor lain. Hal
ini kita perlu belajar dari kota-kota besar lain di dunia, yang telah berhasil
menurunkan polusi udara kota dan angka kesakitan serta kematian yang
diakibatkan karenanya.
1) Pembatasan usia kendaraan, terutama bagi angkutan umum, perlu
dipertimbangkan sebagai salah satu solusi. Sebab, semakin tua
kendaraan, terutama yang kurang terawat, semakin besar potensi
untuk memberi kontribusi polutan udara.
2) Potensi terbesar polusi oleh kendaraan bermotor adalah kemacetan
lalu lintas dan tanjakan. Karena itu, pengaturan lalu lintas, rambu-
rambu, dan tindakan tegas terhadap pelanggaran berkendaraan dapat
membantu mengatasi kemacetan lalu lintas dan mengurangi polusi
udara.
3) Pemberian penghambat laju kendaraan di permukiman atau gang-
gang yang sering diistilahkan dengan “polisi tidur” justru merupakan
biang polusi. Kendaraan bermotor akan memperlambat laju.
4) Uji emisi harus dilakukan secara berkala pada kendaraan umum
maupun pribadi meskipun secara uji petik (spot check). Perlu
dipikirkan dan dipertimbangkan adanya kewenangan tambahan bagi
polisi lalu lintas untuk melakukan uji emisi di samping memeriksa
surat-surat dan kelengkapan kendaraan yang lain.
5) Penanaman pohon-pohon yang berdaun lebar di pinggir-pinggir jalan,
terutama yang lalu lintasnya padat serta di sudut-sudut kota, juga
mengurangi polusi udara.
6) Pembuatan Bahan Bakar Nabati (BBN).

BAB V
Metodelogi Penelitian

1. Tempat & Waktu Penelitian


 Home, 25-12-2013
2. Metode Penelitian
 Observasi melalui media online.
Observasi dalam penelitian ini dilakukan oleh peneliti dan pengamat.
Observasi dalam penelitian ini adalah observasi langsung yaitu penelitian
dan pengamat melihat dan mengamati secara langsung, kemudian mencatat
perilaku dan kejadian yang terjadi pada keadaan sebenarnya.
Observasi dilakukan selama proses pembelajaran dari kegiatan awal
sampai kegiatan akhir. Observasi adalah instrumen yang sering dijumpai
dalam penelitian pendidikan. Dalam observasi ini penelitian lebih banyak
menggunakan salah satu dari panca indranya yaitu indra penglihatan.
Observasi akan lebih efektif jika informasi yang hendak diambil
berupa kondisi atau fakta alami, tingkah laku dan hasil kerja responden
dalam situasi alami. Sebaiknya observasi mempunyai keterbatasan dalam
menggali informasi yang berupa pendapat atau persepsi dari subyek yang
diteliti.
3. Instrumen Penelitian
 Media Online
4. Teknik Analisis Data
 Analisis Kualitatif
Data Kualitatif adalah berupa catatan-catatan yang biasanya cenderung
banyak dan menumpuk sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama
untuk dapat menganalisisnya secara saksama.