Anda di halaman 1dari 12

ISPA adalah infeksi primer naso faring dan hidung yang sering mengenai bayi dan akan-anak

Penyebab Penyakit ISPA adalah Virus. Masa menular beberapa jam setelah gejala timbul 1-2 hari
sesudah gejala hilang. Komplikasi timbul akibat invasi sekunder bakteri patogeni seperti
pneumokokus, streptokokus, haemofilus influenza atau stafilokokus.
FAKTOR PENCETUS:

 KELELAHAN
 GIZI BURUK
 ANEMIA
 KEDINGINAN

GEJALA YANG DITIMBULKAN:

 Batuk
 Pilek
 Bersin-bersin
 Anoreksia
 Demam
 Mengik
 Ronkhi basah
 Nyeri otot
 Pusing
 Suara Parau

Perhitungan berat badan ideal:

BBI = 2n + 8 ; n = Umur dalam tahun

status berat badan= BBA/BBI x100%

Kurang 90% = status gizi kurang


90 – 110% = normal
110 – 120% = over weight
Lebih 120% = Obesitas

PENATALAKSANAAN DIIT
Diit yang diberikan pada penderita ISPA adalah diit tinggi kalori tinggi protein.
Tujuan
Memberikan makanan lebih banyak dari pada keadaan biasa untuk memenuhi kebutuhan energi dan
protein yang meningkat.
Mencegah dan mengurangi kerusakan jaringan tubuh.
Menambah berat badan hingga mencapai normal.

SYARAT-SYARAT
Tinggi energi dengan diberikan secara bertahap mulai dari 50 sampai 150 kkal/Kg BB untuk memenui
kebutuhan tubuh yang meningkat.
Tinggi protein 2,5 – 4 gram/Kg BB untuk memperbaiki jaringan yang rusak dan mempercepat
penyembuhan.
Cukup vitamin dan mineral.
Mudah cerna
Diberikan secara bertahap bila penyakit dalam keadaan berat.
Pemberian dengan porsi kecil tapi sering
Makanan yang dapat mengurangi nafsu makan seperti kue yang manis dan gurih tidak diberikan
dekat sebelum makan.

CARA PEMBERIAN
Porsi makanan biasa di tambah dengan makanan pokok lauk pauk dan susu.
Berikan makanan dengan porsi kecil dan sering (setiap 2 jam sekali).
Bentuk makanan disesuaikan kemampuan penderita.
Makanan tidak merangsang.
Menu menarik dan variatif
Ciptakan suasana yang menyenangkan
Berikan makanan dengan penuh kesabaran
Jumlah energi untuk diit TKTP berkisar 1700 sampai 2500 kalori dengan protein 60-93 gram untuk
sehari.

CONTOH MENU
Pagi : Nasi tim
Omelet telur
Tempe bacem
Ca sayuran
Susu
Jam 10.00 Kacang Hijau

Siang : Nasi tim


Bestik bola daging
Sup tahu & sayuran
Buah
Jam 16.00 Puding susu
Sore : Nasi Tim
Semur hati ayam
Sate tempe
Sayur bening
Buah

Jam 21.00 Susu


Biskuit

MAKANAN YANG HARUS DIBATASI


Makanan yang terlalu berbumbu seperti kue-kue manis dan goreng-gorengan
Makanan yang merangsang seperti ; krupuk pedas dan makanan ringan lainnya
Sayuran mentah seperti kol, sawi dsb.
Buah yang bergas seperti nangka, durian dan sebagainya.
Diet untuk Penyakit Infeksi & Demam
January 7, 2013 — Leave a comment

Penyakit infeksi disebabkan oleh masuknya mikroorganisme patogen ke dalam tubuh, baik
secara perinhalan (terhirup), peroral (termakan), parenteral, maupun melalui gigitan serangga.
Daerah tempat kuman penyakit masuk ke dalam tubuh, yang disebut juga Port d’entree, akan
mengalami tumor (pembengkakan), rubor (hiperemi atau kemerahan), kalor (panas atau
peningkatan suhu), dolor (nyeri) dan fungsiolesa (gangguan fungsi). Reaksi pembengkakan
merupakan salah satu reaksi pertahanan tubuh dengan tujuan membatasi infeksi.

Saat kuman penyakit masuk ke dalam tubuh, maka akan terjadi reaksi sistemik berupa
demam. Demam merupakan keadaan dimana terjadi kenaikan suhu tubuh yang lebih tinggi
dari suhu tubuh normal (>37 derajat celcius). Demam menyebabkan peningkatan laju
metabolisme basal atau BMR (Basal Metabolic Rate) sehingga memerlukan energi yang
lebih tinggi. Setiap kenaikan suhu tubuh sebesar 1 derajat celcius, maka BMR akan
meningkat sebesar 13%. Penyakit infeksi yang biasa disertai dengan demam antara lain tifus
abdominalis, hepatitis, dan infeksi saluran pernafasan atas (ISPA). Selain itu, penyakit infeksi
kronis, seperti tubercolosis, juga disertai dengan demam meskipun gejalanya tidak terlalu
nyata namun dapat berlangsung dalam waktu yang cukup lama sehingga kenaikan BMR tidak
boleh diabaikan.

Faktor Injury = 1 + (0,13 x [suhu tubuh saat demam – 37])

Selain menyebabkan kenaikan BMR, demam juga meningkatkan laju pernafasan (respiratory
rate) sehingga ekskresi cairan dari tubuh juga meningkat. Ekskresi cairan yang berlebbihan
akan menyebabkan dehidrasi, karena itu asupan cairan juga perlu diperhatikan. Kebutuhan
cairan adalah 100 cc untuk setiap 100 Kal. Umumnya, demam sering disertai dengan mual
dan muntah sehingga asupan cairan yang diperlukan lebih tinggi apalagi bila disertai pula
dengan diare.

Cairan yang diperlukan = {[Kebutuhan Energi Sehari (Kal)/100 Kal] x 100 cc } +


jumlah cairan yang hilang saat muntah & diare

Tujuan diet pada penderita demam adalah untuk memberikan makanan dalam bentuk lunak
atau saring yang mudah dicerna dan diserap oleh tubuh sesuai dengan kebutuhan gizi,
keadaan penyakit, dan daya terima pasien.

Syarat dietnya :

1. Kebutuhan energi dan protein ditentukan oleh berat ringannya penyakit yang diderita,
faktor injury disesuaikan dengan kenaikan suhu tubuh.
2. Makanan diberikan dalam bentuk cincang atau lunak tergantung daya terima pasien.
3. Disajikan dalam porsi sedang dalam 3 kali makan utama dan 2 kali selingan.
4. Cairan cukup terutama bila ada muntah.
5. Vitamin dan mineral cukup.
6. Mudah dicerna, rendah serat dan tidak berbumbu tajam.
https://id.scribd.com/doc/253727204/Pedoman-Pelayanan-Gizi-Pada-Pasien-Tuberkulosis-
Download
KASUS

Tn. I, usia 60 tahun, status menikah, dirawat di RS dengan diagnosis medis Ileus Obstruksi
Parsial ec. Recti 1/3 distal. Pasien dan istrinya bekerja sebagai petani dengan penghasilan
tidak tetap tergantung hasil panen. Pasien mempunyai 2 orang anak yang sudah tidak tinggal
dengan pasien. Sejak 3 bulan SMRS pasien mengeluh BAB bercampur darah, dan sempat
dirawat kelas III RS Jampang Kulon Sukabumi selama 4 hari dan dibiopsi. Dari hasil biopsy
pasien didiagnosis Ca recti dan harus menjalani operasi. Sejak 1 minggu SMRS pasien
mengeluh msulit BAB tetapi masih bisa buang angin, setiap BAB bercampur darah, dan keras
seperti kotoran kambing. Keluhan disertai nyeri perut hilang. BB pasien sekarang 48 Kg, dan
TB 163 cm.

Hasil pemeriksaan biokimia : Hb :9,1 g/dl (N = 13,5 – 17,5 g/dl), Hematokrit 27 % (N = 40-
52 %), Eritrosit 3,32 jl/UL (4,5-6,5 jt/UL), Leukosit 8200 /mm3 (N = 3800 – 10600/mm3),
trombosit 342.000/mm3 (N = 150.000-450.000/mm3), albumin 2,5 g/dl (N = 3,5-5 g/dl), dan
protein total 4,8 g/dl (N = 6,3-8,2 g/dl). Data klinis pasien adalah TD 110/70 mmHg, nadi
88x/menit, RR : 20x/menit, suhu afebris. Secara fisik pasien tampak kurus, lemah, pucat,
bising usus (+), dan hanya bisa berbaring di tempat tidur.

Sebelum sakit, pasien biasa makan nasi 2-3 x/hari, dengan lauk yang sering dikonsumsi telur,
ikan asin, tahu dan tempe. Pasien jarang mengkonsumsi buah dan sayuran, hanya 1-2
kali/minggu, meskipun istrinya sudah memasakkan sayur. Setelah sakit, pasien makan lebih
sedikit dari biasanya. Hasil recall 24 jam saat di RS didapatkan energi : 690 kal, Protein : 34
gram, lemak 20 gram, dan KH 67 gram. Standart makanan RS : Energi 1700 kalori, protein
68 gram, lemak 54 gram, dan karbohidrat 52 gram.

Selesaikanlah kasus tersebut berdasarkan langkah-langkah Proses Asuhan Gizi


Terstandar (PAGT) !

PENYELESAIAN KASUS

A. Gambaran Umum Pasien

Nama : Tn. I

Usia : 60 Tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Status : Menikah

Suku Bangsa : Jawa

Pekerjaan : Petani

Ruang/Kelas : Dahlia/III

Hari Perawatan : 5 (hari kelima)


Diagnosis Medis : Ileus Obstruksi Parsial ec. Recti 1/3 distal.

B. Proses Asuhan Gizi Terstandar

1. Pengkajian Gizi

Riwayat Gizi/Makanan :

Riwayat Nutrisi Dahulu :

Sebelum sakit, pasien biasa makan nasi 2-3 kali/hari, dengan lauk yang sering dikonsumsi
telur, ikan asin, tahu dan tempe. Pasien jarang mengkonsumsi buah dan sayuran, hanya 1-2
kali/minggu.

Riwayat Nutrisi Sekarang :

Pada saat sakit, pasien makan lebih sedikit dari biasanya, karena nafsu makan kurang.
Motivasi untuk menghabiskan makanan sangat kurang karena alasan diet/makanan RS terasa
hambar dan membosankan. Hasil recall konsumsi makan 24 jam terakhir saat di RS
didapatkan Energi 1090 kal, Protein : 34 gram, lemak : 20,3 gram, dan KH 166,5 gram.

Tabel 1. Tingkat Konsumsi Makan Pasien 24 Jam Terakhir

Energi (Kal) Protein (g) Lemak (g) KH (g)


Asupan Makan 1090 34 20,3 166,5
Standar Makanan RS 1700 68 54 320
% Tingkat Konsumsi 64,1 50 37,6 52
Kategori Tingkat Konsumsi Kurang Kurang Kurang Kurang

Penilaian :

Nafsu makan kurang, dan motivasi untuk menghabiskan makanan sangat kurang, karena
alasan diet/makanan RS terasa hambar dan membosankan.

Asupan makan dibandingkan dengan standart makanan RS : Energi : 64,1%, Protein : 50 %,


Lemak 37,6% dan KH : 52%. Nafsu makan (-), sehingga asupan makan : Kurang,
berdasarkan SK Kemenkes No:129/Menkes/SK/II/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal
Rumah Sakit, (point 11, Sub Gizi dengan indikator sisa makanan yang tidak termakan oleh
pasien menggunakan nilai standar <20%, artinya bahwa pasien dinilai memiliki asupan yang
normal apabila mampu menghabiskan makanan sebesar ≥ 80% dari standar makanan RS, dan
jika mengkonsumsi makanan < 80% dari standar makanan RS, pasien dinilai memiliki asupan
makan yang kurang).

Biokimia
Tabel 2. Hasil Pemeriksaan Biokimia Pasien

Jenis Pemeriksaan Hasil Pemeriksaan Nilai Normal Keterangan


Hb 9,1 g/dl 13,5-17,5 g/dl ↓ Anemia
Haematokrit 27% 40-52% ↓
Eritrosit 3,32 jt/UL 4,5 – 6,5 jt/UL ↓ Anemia
Albumin 2,5 g/dl 3,5-5 g/dl ↓ Hipoalbuminemia
Protein Total 4,8 g/dl 6,3 -8,2 g/dl ↓

Penilaian :

Pasien mengalami anemia, hipoalbuminemia.

Antropometri

BB : 48 kg, TB 163 cm, BBI = (TB-100) – 10% = 56,7 Kg

Perhitungan IMT : BB/(TB)2 = 48/(1,63)2 = 18.07 kg/m2

Penilaian :

Berdasarkan IMT, pasien memiliki status gizi BB Kurang (18,07 kg/m2), karena batasan BB
Kurang yaitu <18,5 kg/m2, menggunakan WHO WPR/IASO/IOTF dalam the Asia Pacific
Perspective : Redefining Obesity and its Treatment, dengan kategori :

<18,5 kg/m2 : BB kurang

18,5-22,9 kg/m2 : normal,

≥ 23 : BB lebih

23-24,9 kg/m2 : at risk (dengan resiko)

25-29,9 kg/m2 : obese I,

≥30 kg/m2 : obese II

Fisik Klinis
Fisik : Pasien sadar, secara fisik pasien tampak kurus, lemah, pucat, BU (+).

Tabel 3. Hasil Pemeriksaan Klinik

Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan Keterangan


1. Tekanan darah2. 110/70 mmHg84 120/80 mmHg80-
HipotensiNormal
Nadi x/menit 100x/menit
Normal
3. Suhu 370C 36-37,2 0C
Normal
4. Respirasi 28 x/menit 19-36 x/menit

Penilaian :

Tekanan darah rendah, secara fisik terdapat tanda-tanda malnutrisi (pasien tampak
kurus, dan lemah).

Riwayat Personal :

Sosial Ekonomi :

Pasien dan istrinya bekerja sebagai petani dengan penghasilan tidak tetap tergantung hasil
panen. Pasien mempunyai 2 orang anak yang sudah tidak tinggal dengan pasien.

Riwayat Penyakit Sekarang :

Saat ini menjalani perawatan di RS dengan diagnosis medis Ileus Obstruksi Parsial ec. Recti
1/3 distal.

Riwayat Penyakit Dahulu :

Sejak 3 bulan SMRS pasien mengeluh BAB bercampur darah, dan sempat dirawat di RS
Jampang Kulon Sukabumi selama 4 hari dan dibiopsi. Dari hasil biopsi pasien
didiagnosis Ca recti dan harus menjalani operasi. Sejak 1 minggu SMRS pasien mengeluh
sulit BAB tetapi masih bisa buang angin, setiap BAB bercampur darah dank eras seperti
kotoran kambing. Keluhan disertai nyeri perut hilang timbul.

Penilaian :

Pasien memiliki status ekonomi yang rendah, saat ini pasiendidiagnosis Ileus Obstruksi
Parsial ec. Ca Recti 1/3 distal, dan mengalami gangguan fungsi gastrointestinal.

2. DIAGNOSIS GIZI

NI.2.1 → Makanan dan minuman oral tidak adekuat (P) berkaitan dengan nafsu makan
kurang (E) ditandai dengan hasil recall Energi : 64,1%, Protein 50 %, Lemak 37,6%, dan KH
52%, (rata-rata tingkat konsumsi makan : 51%, termasuk kategori kurang) (S/S).
NI.5.1 → Peningkatan kebutuhan protein (P) berkaitan dengan penyakit pasien (E) ditandai
dengan asupan protein kurang (50%), hipoalbuminemia, anemia (S/S).

NC.1.4 → Gangguan fungsi GI (P) berkaitan dengan penyakit Ileus Obstruktif (E) ditandai
dengan rasa nyeri di perut (S/S).

NC.3.1 → BB kurang (P) berkaitan dengan riwayat penyakit pasien (Ca recti) dan malnutrisi
(E) ditandai dengan BBA (48 kg) <BBI (56,7 kg), IMT pasien 18,07 kg/m2 (S/S).

NB.1.3 → Tidak siap untuk berdiet (P) berkaitan dengan motivasi pasien yang kurang (E)
ditandai dengan pasien tidak mau menerima diet yang diberikan oleh RS, asupan makan rata-
rata hanya 51% (S/S).

3. INTERVENSI GIZI

Tujuan :

1. Meningkatkan asupan makanan sesuai dengan kebutuhan


2. Memberikan dukungan nutrisi enteral tinggi protein sehingga meningkatkan asupan
asupan protein, kadar hipoalbunemia, dan kadar Hb.
3. Memberikan makanan yang tidak memperberat fungsi gastrointestinal, sehingga
keluhan nyeri perut berkurang
4. Memperbaiki status gizi dan mempertahankan BB agar tidak jatuh pada kondisi
penurunan BB yang drastis.
5. Memberikan edukasi pemahaman pentingnya diet pasien untuk penyembuhan.

Prinsip Diet : Energi Tinggi, Protein Tinggi (ETPT)

Macam Diet : Diet ETPT.

Bentuk Makanan :

Makanan lunak (bubur), karena pasien memiliki keluhan nyeri perut, sering timbul.

Syarat :

1. Energi dihitung berdasarkan rumusan Harris Benedict, dengan memperhitungkan


basal, aktifitas dan faktor stres, Energi diberikan tinggi untuk memenuhi kebutuhan
basal metabolisme, aktifitas pada saat sakit, mengatasi infeksi pada ileus, dsb,..

Contoh Sumber Bahan Makanan : bubur, kentang, roti.

1. Protein tinggi, diberikan sebesar 2 g/kgBB/hari (21,7%) untuk membantu


meningkatkan kadar albumin, membantu dalam proses penyembuhan luka.

Contoh Sumber Bahan Makanan: ayam, daging, ikan.

1. Lemak cukup diberikan 20% dari kebutuhan energi total sebagai penghasil energi dan
cadangan energi tubuh terbesar.
Contoh Sumber Bahan Makanan : minyak, mentega.

1. Karbohidrat diberikan sebesar 58,3 % sebagai penghasil energi bagi pasien yang
sedang menjalani perawatan.

Contoh Sumber Bahan Makanan : bubur, kentang, roti.

1. Vitamin A diberikan sebesar,….. mg untuk meningkatkan imunitas tubuh.

Contoh Sumber Bahan Makanan : wortel, labu kuning, pepaya

1. Vitamin C diberikan sebesar….. untuk meningkatkan imunitas tubuh.

Contoh Sumber Bahan Makanan : jeruk

1. Makanan diberikan dengan porsi kecil tapi sering, dengan frekuensi makan : 3 x
makan utama, 2X selingan, dan 3 kali enteral.

Perhitungan Kebutuhan Energi dan Zat-zat Gizi

Perhitungan Kebutuhan Menurut Harris Benedict :

BEE = 66 + (13,7 x BB) + (5 x TB) – (6,8 x U)

= 66 + (13,7 x 48 Kg) + (5 x 163) – (6,8 x 60)

= 66 + 657,6 + 815 – 408 kal

= 1130,6 kal

TEE = 1130,6 kal x AF x IF

= 1130,6 kal x 1,2 x 1.3

= 1763,7 kal

Keterangan : BEE (Basal Energy Expenditure)

TEE (Total Energy Expenditure)

AF (Activity Factor), 1,2 Bedrest

IF (Injury Factor), 1,3 Ileus Obstruksi

Protein (gram) = 2 g/Kg BB

= 2 g x 48 kg

= 96 gram
% Protein = 96 gram x 4 kal/g x 100%

1763,7 kal

= 21,7%

Lemak = 20% x TEE

= 20% x 1763,7 kalori

= 352,74 kalori

Lemak (gram) = 352,74 kal : 9kal/gram = 39 gram

% Karbohidrat = 100 % – (% protein + % lemak)

= 100 % – (21,7% + 20%)

= 100% – 41,7%

= 58,3 %

Karbohidrat (kal) = 58,3% x TEE

= 58,3 % x 1763,7 kalori

= 1028,24 kalori

Karbohidrat (g) = 1028,24 kalori : 4 kal/gram

= 257,1 gram

Kebutuhan Vitamin dan Mineral : (AKG, 2004)

Vitamin A : 600 RE Vitamin D : 15 ug

Vitamin E : 15 mg Vitamin K : 65 ug

Tiamin : 1 mg Riboflavin : 1,3 mg

Niasin : 16 mg Asam Folat : 400 ug

Piridoksin : 1,7 mg Vitamin B12 : 2,4 ug

Vitamin C : 90 mg Kalsium : 800 mg

Fosfor : 600 mg Magnesium : 300 mg

Besi : 13 mg Yodium : 150 ug


Seng : 13,4 mg Selenium : 30 ug

Mangan : 2,3 mg Fluor : 3 mg

4. RENCANA MONITORING DAN EVALUASI

Parameter Target Pelaksanaan


Asupan Makan Asupan makan mencapai 100% dari kebutuhan Setiap hari
Antropometri BB naik dan status gizi normal Akhir Perawatan
Hari kedua pengamatan
Biokimia Hb, albumin, Protein Total
kasus
Pucat dan lemah berkurang, TD, nadi, respirasi,
Fisik Kljnis Setiap hari
suhu normal
Keluhan Nyeri perut berkurang/hilang Setiap hari
Sikap dan Mengubah perilaku terhadap diet RS (mau
Setiap hari
Perilaku menerima diet RS)

E. DAFTAR PUSTAKA

1. Almatsier, Sunita. 2010. Penuntun Diet. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.


2. Anggraeni, Adisty Cynthia. 2012. Asuhan Gizi Nutritional Care Process. Yogjakarta :
Graha Ilmu.
3. Gutawa, Miranti, dkk. 2011. Pengembangan Konsep Nutrition Care Process (NCP)
Proses Asuhan Gizi Terstandar (PAGT). Jakarta ; Persagi-ASDI, Abadi Publishing &
Printing.
4. Hartono, Andry. 2009. Asuhan Nutrisi Rumah Sakit, Diagnosis Konseling dan
Preskripsi. Jakarta : EGC Kedokteran.
5. Perkeni, Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. 2006. Konsensus Pengelolaan dan
Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia. Jakarta.
6. SK Kemenkes No:129/Menkes/SK/II/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal
Rumah Sakit,