Anda di halaman 1dari 22

MENENTUKAN pH ASAM, BASA, NETRAL PADA LARUTAN

Kelas XI

Guru pembimbing : Laily Istiyarini, S.Pd

KELAS XI IPA 2

ABI MAULANA AZIS

PEMERINTAH KABUPATEN LOMBOK BARAT

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

SMA NEGERI 1 GERUNG

Jln. Gatot Subroto Gerung, LOBAR, NTB


2016/2017

2
KATA PENGANTAR

Segala puji Tuhan semesta alam, yang hanya dengan pertolongannya kami dapat
menyelesaikan Laporan “KIMIA tentang IDENTIFIKASI dengan INDIKATOR ASAM
BASA” ini dengan baik.

Kami menyampaikan terimakasih kepada guru Kimia yang telah membimbing,


sehingga kami dapat menyelesaikan laporan ini. Dalam pembuatan laporan ini masih ada
kekurangan maupun kelebihannya, maka dari itu penulis berharap semua pihak dapat
memakluminya, serta dapat memberikan kritik dan sarannya untuk lebih baik lagi dalam
menyusun laporan.

Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan dapat digunakan dengan
sebaik-baiknya sesuai dengan apa yang diharapkan bersama.

Gerung, 6 Februari 2017

Penyusun

3
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.. ........................................................................................................ 1

KATA PENGANTAR.. ...................................................................................................... 2

DAFTAR ISI.. ..................................................................................................................... 3

BAB I PENDAHULUAN.. ................................................................................................. 4

A. Latar Belakang.. ................................................................................................ 4


B. Rumusan Masalah.. ........................................................................................... 4
C. Tujuan.. ............................................................................................................. 5
D. Manfaat.. ........................................................................................................... 5

BAB II LANDASAN TEORI.............................................................................................6

BAB III METODE PRAKTIKUM.....................................................................................10

A. Pelaksanaan Praktikum......................................................................................10
B. Alat dan Bahan..................................................................................................10
C. Langkah Kerja...................................................................................................11

BAB IV HASIL PRAKTIKUM.........................................................................................

A. Analisa Data......................................................................................................
B. Pembahasan.......................................................................................................

BAB V PENUTUP.............................................................................................................

A. Kesimpulan......................................................................................................
B. Saran................................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................................

LAMPIRAN.....................................................................................................................

4
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Asam dan Basa merupakan dua golongan zat kimia yang sangat penting.
Dalam kehidupan sehari-hari kita mengenal berbagai zat yang kita golongkan
sebagai asam, misalnya asam cuka, asam sitrun, asam jawa, asam belimbing, serta
asam lambung. Salah satu sifat asam adalah rasanya yang masam. Kita juga
mengenal berbagai zat yang kita golongkan sebagai basa, misalnya kapur sirih,
kaustik soda, air sabun, dan air abu. Salah satu sifat basa adalah dapat melarutkan
lemak, itulah sebabnya abu (abu gosok) digunakan untuk mencuci piring.
Meskipun asam dan basa dapat dibedakan dari rasanya, tetapi tidak disarankan
(dilarang) untuk menmcicipi asam atau basa yang ada di laboratorium. Asam dan
basa dapat dibedakan menggunakan zat tertentu yang disebut indikator atau
dengan menggunakan alat khusus.
Cara menentukan pH larutan, yaitu dengan menggunakan indikator asam basa,
indikator pH (indikator universal) atau pH-meter. Adakah cara lain untuk
menentukan pH selain dengan mengukur langsung? Dalam ilmu kimia (juga
dalam bidang ilmu lainnya) data hasil penelitian senantiasa dikumpulkan dan
didaftarkan sehingga dapat digunakan oleh orang lain. Dalam kaitannya dengan
pH larutan, data yang diperlukan adalah tetapan ionisasi asam. Apabila tetapan
ionisasi suatu asam diketahui, maka kita dapat menentukan pH-nya dengan
konsentrasi tertentu.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimana membedakan larutan asam, basa, dan netral?


2. Apakah sabun muka yang diuji pH-nya termasuk asam, basa, dan netral?
3. pH berapakah yang cocok digunakan sebagai pembersih wajah?

5
4. Dari air yang kamu amati, manakah air yang paling baik untuk dikonsumsi
dan jelaskan kriteria air yang baik

C. TUJUAN

1. Mendiskripsikan zat yang termasuk larutan asam, basa, dan netral.


2. Mendiskripsikan pH pada sabun muka yang termasuk asam basa dan netral
3. Mendiskripsikan ukuran ph yang cocok digunakan sebagai pembersih
wajah
4. Mendiskripsikan air yang paling baik untuk dikonsumsi dan jelaskan
kriteria air yang baik

D. MANFAAT

1. Dapat mengetahui zat yang termasuk larutan asam , basa, dan netral
2. Dapat mengetahui ph sabun muka yang termasuk larutan asam , basa dan
netral
3. Dapat mengetahui ukuran ph yang cocok digunakan sebagai pembersih wajah.
4. Dapat mengetahui air yang paling baik untuk dikonsumsi dan dapat
menjelaskan kriteria air yang baik.

6
BAB II
LANDASAN TEORI

A. TEORI ASAM dan BASA

Sifat asam dan basa dari suatu larutan dapat dijelaskan menggunakan beberapa
teori, yaitu teori asam basa Arrhenius, teori asam-basa Bronsted-Lowry, dan teori
asam-basa G.N. Lewis. Ketiga teori ini mempunyai dasar pemikiran yang berbeda,
tetapi saling melengkapi dan memperkaya. Hal-hal yang tidak bisa dijelaskan oleh
teori Arrhenius dapat dijelaskan dan dilengkapi oleh teori Bronsted-Lowry dan tidak
bertentangan dengan teori Arrhenius. Demikian juga teori G.N. Lewis dapat
melengkapi hal-hal terkait asam-basa yang tidak dapat dijelaskan oleh teori Bronsted-
Lowry.
1. Teori Asam-Basa Arrhenius
Svante Arrhenius (1887) mengemukakan bahwa asam adalah suatu zat
yang jika dilarutkan ke dalam air akan menghasilkan ion hidronium (H+).
Asam umumnya merupakan senyawa kovalen dan akan menjadi bersifat
asam jika sudah larut di dalam air. Sebagai contoh gas hodrogen klorida
bukan merupakan asam, tetapi jika sudah dilarutkan di dalam air akan
menghasilkan ion H+. Reaksi yang terjadi adalah:
HCI(aq) H+(aq) + CI-(aq)
Asam yang hanya menghasilkan sebuah ion H+ disebut sebagai asam
monoprotik atau asam berbasa satu, asam yang menghasilkan dua ion H+
setiap molekulnya disebut asam diprotik atau berbasa dua.
Menurut Arrhenius, basa adalah suatu senyawa yang di dalam air
(larutan) dapat menghasilkan ion OH-. Umumnya basa terbentuk dari
senyawa ion yang mengandung gugus hidroksida (-OH) di dalamnya.
Akan tetapi, amonia (NH3) meskipun merupakan suatu senyawa kovalen,
tetapi di dalam air termasuk senyawa basa, sebab setelah dilarutkan ke
dalam air dapat menghasilkan ion OH-.
Tidak semua senyawa yang mengandung gugus –OH merupakan suatu
basa. Contohnya CH3COOH dan C6H5OH justru merupakan asam.

7
Sementara itu, CH3OH tidak menunjukkan sifat asam atau basa di dalam
air.
2. Teori Asam-Basa Bronsted-Lowry

Penjelasan tentang asam dan basa menurut Svante Arrhenius tidak


memuaskan untuk menjelaskan tentang sifat asam-basa pada larutan yang
bebas air, atau pelarutnya bukan air. Sebagai contoh, asam asetat akan
bersifat asam jika dilarutkan dalam air, akan tetapi ternyata sifat asam
tersebut tidak tampak pada asam asetat dilarutkan dalam benzena.
Berdasarkan kenyataan tersebut, Johannes Bronsted dan Thomas Lowry
secara terpisah mengusulkan bahwa yang berperan dalam memberikan
sifat asam dan basa suatu larutan adalah ion H+ atau proton (ingat bahwa
hidrogen hanya mempunyai sebuah proton dan sebuah elektron, jadi jika
elektronnya dilepaskan menjadi ion +1, yang tinggal hanya proton saja).

Menurut teori Bronsted-Lowry, asam adalah spesi (ion atau molekul)


yang berperan sebagai proton donor (pemberi proton atau H+) kepada
suatu spesi yang lain. Basa adalah spesi (molekul atau ion) yang bertindak
menjadi proton akseptor (penerima proton atau H+).

3. Teori Asam-Basa Lewis


Konsep asam-basa menurut Bronsted-Lowry mempunyai keterbatasan,
trutama di dalam menjelaskan reaksi-reaksi yang melibatkan senyawa
tanpa proton (H+), misalnya reaksi antara senyawa NH3 dan BF3, serta
beberapa reaksi yang melibatkan senyawa kompleks.
Pada tahun 1932, ahli kimia G.N. Lewis mengajukan konsep baru
mengenai asam-basa, sehingga dikenal adanya asam Lewis dan basa
Lewis. Menurut konsep tersebut, yang dimaksud dengan asam Lewis
adalah suatu senyawa yang mampu menerima pasangan elektron dari
senyawa lain, atau akseptor pasangan elektron, sedangkan basa Lewis
adalah senyawa yang dapat memberikan pasangan elektron kepada
senyawa lain atau donor pasangan elektron. Konsep ini lebih
memperluas konsep asam-basa yang telah dikembangkan oleh Bronsted
Lowry. (Unggul Sudarmo, 2014)

8
B. INDIKATOR ASAM BASA

Indikator asam basa adalah suatu asam organik lemah atau basa organik lemah
yang mempunyai warna yang berbeda ketika berada dalam bentuk molekul dan
ionnya. Sebagai contoh, indikator asam mempunyai rumus H-Ind. Ketika terionisasi,
H-Ind akan membentuk ion H+ dan Ind-, dimana warna H-Ind berbeda dengan warna
Ind-, reaksinya:
H-Ind H+ + Ind-
molekul ion

warna A warna B

Jika konsentrasi ion H+ tinggi (larutan bersifat asam), maka kesetimbangan


akan bergeser ke kiri. Indikator H-Ind dominan dalam bentuk molekul sehingga
indikator berwarna A. Sebaliknya, jika konsentrasi ion OH- tinggi (larutan bersifat
basa), maka kesetimbangan akan bergeser ke kanan. Indikator dominan dalam bentuk
ion Ind- sehingga indikator menjadi berwarna B.
Indikator basa mempunyai rumus Ind-OH. Ketika terionisasi, Ind-OH akan
membentuk ion Ind+ dan OH-, dimana warna Ind-OH berbeda dengan warna Ind+,
reaksinya:
Ind-OH Ind+ + OH-
molekul ion

warna X warna Y

1. Membuat indikator asam basa dari bahan alam


Berbagai jenis zat warna yang dipisahkan dari tumbuhan kemungkinan juga
dapat digunakan sebagai indikator asam-basa, misalnya, daun mahkota bunga
(kembang sepatu, bogenvil, mawar, dan lain-lain), kunyit dan bit.
Pada pembuatan indikator cair, bahan dicuci dengan air mengalir agar bersih.
Bahan yang sudah dicuci kemudian dipotong kecil-kecil atau digerus dan
ditambahkan alkohol 70% sampai ± 5 mL. Kemudian, bahan didiamkan
semalaman agar pigmen warna larut dalam alkohol. Setelah semalam, larutan
disaring untuk mendapatkan filtratnya, yaitu ekstrak warna. Ekstrak tersebut
merupakan indikator yang siap digunakan. Ekstrak indikator alami ini perlu dicari
tentang pH-nya untuk memudahkan penggunaanya sebagai indikator pH. Caranya,
dengan meneteskan indikator tersebut kedalam sederet larutan pH dari pH 1
sampai pH 13. Daerah perubahan warna dan rentang pH-nya diamati dan dicatat

9
sehingga didapatkan tabel rentang pH dari masing-masing larutan indikator
tersebut. (Michael Purba, dkk 2012)

C. SABUN MUKA YANG BAIK BAGI WAJAH

Kebayang nggak kalau sabun mukamu sama dengan sabun cuci pakaian. Tentunya kita
jadi khawatir ya, gara-gara sabun muka wajah tidak menjadi bersih, malah menjadi lebih
kering bahkan menimbulkan jerawat karena tidak cocok dengan kulit kita. Kok bisa sama
dengan sabun cuci pakaian? Ya, karena rata-rata sabun muka di pasaran pH nya sama dengan
pH sabun cuci pakaian, kira-kira di atas 9.

Bagaimana cara memilih sabun muka yang bagus dan aman untuk kulit?

1. Perhatikan pH sabun mukamu.


Sabun muka yang bagus dan aman memiliki pH sesuai pH kulit sekitar 5-6.
Bagaimana cara mengecek pH nya? Bisa dengan kertas pH. Sabun muka yang pH nya
tinggi akan membuat kulit lebih kering bahkan iritasi.
2. Tidak mengandung sabun
Sabun dapat merusak lapisan luar kulit wajah dan menghilangkan kandungan minyak
yang diperlukan kulit wajah. Kulit wajah menjadi kering dan gatal jika menggunakan
sabun dalam jangka waktu yang lama. Sabun mengandung soda kaustik yang dapat
membuat kulit keriput. Soda tersebut juga membuat kulit wajah tipis dan mengelupas.
Cara yang paling mudah untuk mengetahui sabun mukamu mengandung sabun atau tidak
adalah dari busanya. Jika busanya banyak artinya mengandung sabun. (Anonim)

10
BAB III
METODE PRAKTIKUM

A. PELAKSANAAN PRAKTIKUM

1. Hari/Tanggal Praktikum : Jumat, 27 Januari 2017


2. Tempat Praktikum : SMAN 1 GERUNG
3. Waktu Praktikum : pukul 16.00-18.00 WITA

B. ALAT DAN BAHAN

1. ALAT
 Gelas plastik
 Label
 Keramik
 Pipet
2. BAHAN
 Indikator Universal
 Sabun muka (Nivea)
 Air sumur
 Air keran
 Air comberan
 Obat maag
 Ekstrak bunga sepatu

C. LANGKAH KERJA

1. Menghitung pH larutan
a. Siapkan alat dan bahan
b. Masukkan larutan pada masing-masing gelas yang telah di beri lebel nama
larutan.

11
c. Celupkan indikator universal ke dalam tiap larutan.
d. Kemudian cocokan warna yang tertera pada kemasan indikator universal.
e. Lihat pH dari larutan tersebut dan catat.
2. Menetukan larutan asam-basa
a. Siapkan alat dan bahan.
b. Tetesi masing-masing larutan pada keramik atau tempat lainnya.
c. Tetesi masing-masing larutan dengan ekstrak bunga sepatu.
d. Amati perubahan warna yang terjadi.
e. Catatlah perubahan warna pada masing-masing larutan.

12
BAB IV
HASIL PRAKTIKUM

A. ANALISA DATA

Tabel hasil praktikum.


No. Nama larutan Indikator pH Perubahan Warna

1. Sabun muka (Nivea) 8 Hijau

2. Air sumur 7 Tidak berubah

3. Air sungai 6 Merah

4. Air keran 6 Merah

5. Air comberan 6 Merah

6. Obat maag 9 Hijau

Pertanyaaan :

1. Dari zat tersebut manakah yang termasuk asam, basa, atau netral?
2. Apakah sabun muka yang kamu uji pH-nya termasuk asam, basa, dan netral?
3. pH berapakah yang cocok digunakan sebagai pembersih wajah?
4. Dari air yang kamu amati manakah air yang paling baik untuk dikonsumsi dan
jelaskan kriteria air yang baik?

Jawab :

1. Asam : air sungai, air keran dan air comberan


Basa : air sabun uka dan obat maag
Netral : air sumur
2. Sabun muka yang kami uji memiliki pH 8 sehingga sabun muka tersebut bersifat basa.
3. pH 5,5
4. Kriteria air yang baik dikunsumsi adalah air sumur, karena dari uji percobaan air
sumur bersifat netral.

13
B. PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini kita membahas tentang derajat keasaman. Dengan
melakukan praktikum ini kita bisa menentukan sifat asam dan basa dari beberapa
larutan dan juga menetukan harga pH dari larutan tersebut. Dalam praktikum ini
untuk mengetahui sifat dan nilai pH dari suatu senyawa digunakan kertas indikator
universal. Indikator universal ini akan berubah warna sesuai dengan nilai pH dari
larutan yang akan diuji. Nilai pH nya dapat dicari dengan mencocokan pada warna
yang tertera pada kemasan indikator universal.
Percobaan pertama yang telah kami lakukan yang bertujuan untuk:
1. Mendiskripsikan pH pada sabun muka yang termasuk asam basa dan netral
2. Mendiskripsikan ukuran ph yang cocok digunakan sebagai pembersih wajah
3. Mendiskripsikan air yang paling baik untuk dikonsumsi dan jelaskan kriteria air
yang baik.

Dari percobaan tersebut menghitung pH dari suatu larutan menggunakan


indikator universal. Yaitu mencelupkan indikator universal pada setiap larutan,
kemudian mencocokan warna pada kemasan indikator universal. Setelah mencocokan
lihat pH-nya. Hal itu membuktikan bahwa jika larutan memiliki pH<7 berarti larutan
tersebut bersifat asam, jika larutan memiliki pH>7 larutan tersebut bersifat basa , dan
jika larutan memiliki pH=7 larutan tersebut bersifat netral. Dari percobaan tersebut
dapat disimpulkan air yang baik untuk dikonsumsi sehari-hari adalah sumur karena
s.umur pH 7 dan bersifat netral. Sabun yang baik digunakan untuk wajah memiliki pH
sebanyak 5,5, sabun muka yang kita uji memiliki pH sebanyak jadi, sabun yang kami
uji tidak cocok digunakan untuk wajah karena memiliki pH lebih dari 5,5.

Percobaan kedua yang telah kami lakukan yang bertujuan untuk:

1. Mendiskripsikan zat yang termasuk larutan asam, basa, dan netral.

Dari percobaan tersebut menentukan zat yang termasuk asam, basa, atau netral
menggunakan ekstrak bunga sepatu. Yaitu meneteskan ekstrak bunga sepatu pada tiap
larutan, kemudian mengamati perubahan warna pada masing-masing larutan. Hal itu
membuktikan bahwa jika larutan setelah ditetesi ekstrak bunga sepatu berubah warna
menjadi merah maka larutan tersebut bersifat asam. Jika larutan setelah ditetesi
ekstrak bunga sepatu berubah warna menjadi hijau maka larutan tersebut bersifat

14
basa. Dan jika larutan setelah ditetesi ekstrak bunga sepatu tidak berubah warna maka
larutan tersebut bersifat netral. Dari percobaan tersebut dapat disimpulkan bahwa
larutan yang termasuk asam adalah: air sungai, air keran, dan air comberan. Larutan
yang bersifat basa adalah: obat maag, sabun muka (nivea). Dan larutan yang bersifat
netral adalah: air sumur.

15
BAB V

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan, maka simpulan dari praktikum ini adalah:
1. Larutan yang bersifat asam adalah larutan yang memiliki pH<7 dan larutan yang
bersifat basa adalah larutan yang memiliki pH>7, sedangkan larutan yang
memiliki pH=7 maka disebut larutan netral.
2. Larutan yang bersifat asam larutan yang berubah warna menjadi merah ketika
ditetesi dengan ekstrak bunga sepatu dan larutan yang bersifat basa adalah larutan
yang berubah warna menjadi hijau ketika ditetesi dengan ekstrak bunga sepatu,
sedangkan larutan yang bersifat netral adalah larutan yang tidak berubah warna
ketika ditetesi dengan ekstrak bunga sepatu.
3. Larutan yang bersifat asam : air sungai, air keran, air comberan
Larutan yang bersifat basa : obat maag dan sabun muka (nivea)
Larutan yang bersifat netral : air sumur

B. SARAN

1. Dalam mengukur suatu pH, pastikan larutan tersebut tidak tercampur dengan
larutan lain yang berbeda sifat asam-basanya.
2. Tidak tergesa-gesa dalam dalam mengukur pH suatu larutan, agar larutan tersebut
tidak tumpah.
3. Pengukuran pH suatu larutan harus dilakukan dengan teliti agar mendapat hasil
yang akurat.
4. Dalam menentukan sifat larutan, pastikan pipet dicuci telebih dahulu agar tidak
tercampur dengan larutan lain yang berbeda sifat asam-basanya.

16
DAFTAR PUSTAKA

http://nursajadidotcom.wordpress.com/2012/04/17/derajat-keasaman-nanu/22/11/2014
http://perpustakaancyber.blogspot.com/2013/06/cara-menentukan-menghitung-ph-dan-
poh.html.22/11/2014
Sudarmo, Unggul. 2014. KIMIA untuk SMA/MA kelas XI. Surakarta: Erlangga
Purba, Michael, Sunardi. 2012. KIMIA untuk SMA/MA kelas XI. Jakarta: Erlangga

17
LAMPIRAN-LAMPIRAN

18
19
20
21
22

Anda mungkin juga menyukai