Anda di halaman 1dari 16

BAB II

TINJAUAN FUSTAKA

1. Geologi
1.1 Geologi Regional

Kepulauan Gebe adalah gugusan pulau yang terdiri dari Pulau Gebe, Pulau
Fau, Pulau Yoi, Pulau Uta, dan Pulau Sain. Umumnya daerah ini memiliki
panorama pantai dan laut yang mempesona. Pulau Gebe terletak antara 00 04’
02” – 00 11’ 24” Lintang Selatan dan 1290 18’ 39” Bujur Timur dengan
batas-batas wilayah sebagai berikut:

 Sebelah Utara : Batas alam Samudra Pasifik


 Sebelah Timur : Berbatasan dengan Kabupaten Raja Ampat – Papua
 Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Kabupaten Raja Ampat – Papua
 Sebelah barat : Berbatasan dengan Kecamatan Patani

4
Dari ukurannya, Pulau Gebe dapat dikategorikan sebagai pulau kecil
dengan panjang 44,6 Km dengan luas wilayah 153 Km2. Hal ini sesuai
dengan batasan yang telah ditetapkan UNESCO (1990) yakni pulau-pulau
kecil memiliki ukuran ≤ 10.000 km2 dengan jumlah penduduk ≤ 500.000
orang.
Letak pulau ini memanjang dengan arah Barat Laut Tenggara. Di beberapa
belahan Pulau ini terdapat sejumlah tanjung yakni Sebelah barat laut terdapat
tanjung Safa, sedangkan sebelah selatan terdapat tanjung Elingejo, tanjung
Magnonapo dan tanjung Ngetalngejo. Pantai Pulau Gebe kearah Utara Timur
lebih landai dibandingkan dengan kondisi pantai arah Selatan Barat.
Bagian tengah Pulau Gebe terletak bukit Elfanoen dengan ketinggian 450
m diatas permukaan laut. Bagian selatan bukit ini membentuk tanjung yang
lebar yaitu Tanjung Oeboelie. Bagian selatan Pulau Gebe juga melebar yaitu
antara Toeli Kalio sampai dengan batas sebelah tenggara.
Ada dua daerah yang lebar yaitu bukit Elfanoen dengan lebar 6 km dan di
sekitar daerah Toeli Kalio dengan lebar 6,8 km. Pulau Fau yang terletak di
depan Desa Kapaleo dengan luas 4,6 km2, pada desa tersebut hampir
seluruhnya mengandung endapan nikel.
Pulau Gebe terletak pada deretan pegunungan sirkum pasifik (The Cirkum
Pasific Belt) yang terdiri dari batuan berumurupper, mesozoik sampai dengan
lower tersier. Formasi batuan basa-ultrabasa sebagai batuan induk yang terdiri
dari herzburgit, gabro, serpentim sebagai batuan induk bijih nikel, tersingkap
di Pulau Gebe bagian selatan dan tengah. Instrusi batuan beku basa-ultrabasa
yang merupakan batuan induk dari bijih nikel, menerobos melalui rekahan-
rekahan batuan sekitarnya, sehingga akibat iklim tropis melalui proses
pelapukan dihasilkan bijih laterit nikel. Formasi batuan basa-ultrabasa ini
ditutupi oleh batu gamping dan batu pasir dan tersebar dibagian selatan Pulau
Gebe. Pulau-pulau sekitarnya seperti Pulau Fau, Pulau Halmahera, Pulau Obi,
Pulau Gag terdiri dari batuan basa-ultrabasa, yang memberikan indikasi
adanya endapan laterit nikel. Disamping itu bijih nikel terdapat juga di daerah
sekitarnya ialah di Pulau Halmahera, Pulau Obi dan Pulau Gag, yang mana

5
Pulau Gag ini termasuk Propinsi Irian Jaya (PT. Aneka Tambang UBPN
Operasi Gebe, 2004).
1. Geologi Lokal
2.1. Morfologi Lokal

Morfologi daerah IUP PT. Anugrah Sukses Mining merupakan


morfologi dengan kelerengan topografi yang bervariasi, yang dapat
dikelompokkan kedalam interval-interval tertentu. Terbentuknya pola
kelerengan tersebut memiliki kaitan erat terhadap kondisi material dan
struktur geologi. Oleh karenanya, pola kelerengan tertentu dari suatu wilayah
akan mencerminkan proses dan intensitas pembentukan. Dilain pihak,
kelompok derajat kelerengan dari suatu bentang alam memiliki peran kontrol
dalam pembentukan pelapukan suatu batuan, dimana pada kondisi-kondisi
tertentu derajat kelerengan dari suatu wilayah akan mengontrol sirkulasi air
beserta reagen-reagen lainnya apakah akan menjadikan air sebagai aliran
permukaan (surface run off) ataukah air akan meresap ke dalam lapisan tanah
(infiltrasi) yang selanjutnya akan mendukung proses-proses pelapukan batuan
di dalamnya.
Salah satu faktor utama dalam pembentukan nikel laterit adalah aspek
geomorfologi. Kemiringan yang datar dan bergelombang akan memudahkan
meresapnya air permukaan, sehingga membuat proses kerja pelapukan terjadi
secara intensif. Proses pelapukan adalah proses utama untuk membentuk
nikel laterit. Bertentangan dengan ini, kemiringan yang tinggi akan
memudahkan run off air, berarti lebih sedikit air menyusup ke tanah atau
batu. Sehingga membuat proses pelapukan tidak intensif untuk membentuk
laterit nikel atau bahkan tidak.
Gambar di bawah ini menerangkan bahwa ketebalan pelapukan mengikuti
bentuk dari suatu topografi. Pada topografi yang curam, jumlah air yang
mengalir (run off) akan lebih banyak dari pada air yang meresap dan
menyebabkan pelapukannya menjadi tidak intensif. Pada tempat dimana

6
terdapat keseimbangan, nikel akan mengendap melalui proses pelapukan
kimia.

a. Gambar 2. 3 Kontrol Topografi adalam Pembentukan Zona Laterit


(Ahmad,2008)

b. Gambar 2. 4 Profil Topografi dalam Pembentukan Zona Laterit


(Ahmad, 2008)

7
Menurut Van Zuidam (1983), morfologi suatu daerah dapat
diklasifikasikan berdasarkan morfogenesa dan morfometri-nya. Daerah IUP
PT.ASM berdasarkan genesa pembentukan dan relief hasil pembentukannya
yang ada dapat dibedakan menjadi 2 jenis morfologi, yakni morfologi
bergelombang miring dan morfologi perbukitan bergelombang miring.

Table 2. 1 Klasifikasi Relief Menurut Van Zuidam (1983)


Sudut Beda
Satuan relief Lereng Tinggi
(%) (M)
Data / Hampir datar 2. 0 – 2 3. < 5
Bergelombanng/ Miring landau 4. 3 – 7 5. 5 – 50
Bergelombang / Miring 6. 8 – 13 7. 50 – 75
9. 75 –
Berbukit bergelombang/ Miring 8. 14 – 20
200
11. 200 –
Berbukit tersayat tajam / Terjal 10. 21 – 55
500
Pergunungan tersayat tajam/ 12. 56 – 13. 500 –
Sangat tajam 140 1000
Pegunungan/ Sangat curam 14. > 140 15. > 1000

2.1.1 Bergelombanng/ Miring landau.


Penyebaran morfologi ini terutama menempati daerah bagian Utara dan
Selatan dari lokasi penyelidikan. Batuan penyusun utama daerah ini adalah
batuan ultramafik. Kenampakan bentuk morfologi pada satuan ini dicirikan
oleh daerah perbukitan dengan ketinggian berkisar antara 50 – 150 mdpl dan
kemiringan lereng berkisar 8 – 15 derajat. Proses eksogenik yang sampai saat
ini masih bekerja di daerah ini adalah pelapukan. Vegetasi umumnya berupa
hutan heterogen dan semak belukar.

8
2.1.2 Morfologi Pedataran
Penyebaran morfologi ini terutama menempati daerah bagian Tengah dari
lokasi penyelidikan. Batuan penyusun utama daerah ini adalah endapan
Aluvial. Kenampakan bentuk morfologi pada satuan ini dicirikan oleh daerah
pedataran ketinggian berkisar antara 0 –50 mdpl dan kemiringan lereng
berkisar 0 – 5 derajat. Proses eksogenik yang sampai saat ini masih bekerja di
daerah ini adalah pelapukan. Vegetasi umumnya berupa hutan heterogen dan
semak belukar.

Gambar 2. 5 Kenampakan Umum Morfologi di Lokasi IUP PT. ASM

2.2 Litologi
Berdasarkan karakteristik litologi dari masing-masing batuan yang dapat
dikenali dilapangan, maka litologi daerah penelitian dikelompokkan
berdasarkan satuan batuan yang dapat dipetakan yaitu satuan batuan
ultramafik.
2.2.1 Satuan Batuan Ultramafik
Satuan batuan ultramafik didaerah ini didominasi oleh peridotit.
Berdasarkan pengamatan petrologi yang dilakukan, peridotit umumnya telah
lapuk berwarna abu-abu kehijauan, sedangkan dalam kondisi segar berwarna

9
hitam kehijauan. Tekstur granular yang ada dengan xenomorphic olivine dan
piroksen, struktur masif, komposisi mineral utama berupa olivine, diikuti
piroksen.

Gambar 2.6 Kenampakan Batuan Ultramafik (Peridotite) pada lokasi IUP


PT.ASM

3. GENESA ENDAPAN NIKEL LATERIT


Nikel laterit adalah produk residual pelapukan kimia pada batuan
ultramafik. Proses ini berlangsung selama jutaan tahun dimulai ketika batuan
ultramafik tersingkap di permukaan bumi. Pelapukan pada peridotit
menyebabkan unsur-unsur dengan mobilitas rendah sampai immobile seperti
Ni, Fe dan Co mengalami pengayaan secara residual dan sekunder (Burger,
1996).
Berdasarkan proses pembentukannya endapan nikel laterit terbagi menjadi
beberapa zona dengan ketebalan dan kadar yang bervariasi. Daerah yang
mempunyai intensitas pengkekaran yang intensif kemungkinannya akan
mempunyai profil lebih tebal dibandingkan dengan yang pengkekarannya
kurang begitu intensif.

10
Perbedaan intensitas inilah yang menyebabkan ketidakteraturan dari
distribusi pengkayaan unsur-unsur pada profil laterit, karena pembentukan
endapan laterit sangat tergantung pada faktor-faktor batuan dasar (source
rock), laju pelapukan, struktur geologi, iklim, topografi, reagen-reagen kimia
dan vegetasi, dan waktu. Pengaruh iklim tropis di Indonesia mengakibatkan
proses pelapukan yang intensif, salah satunya wilayah Sulawesi Tenggara
merupakan daerah dengan sumberdaya bijih nikel yang cukup besar. Hal ini
didukung oleh pecahan bentukan geologi methamorphic belt di Timur dan
Tenggara. Selain itu kondisi ini juga tidak terlepas oleh iklim, reaksi kimia,
struktur, dan topografi Sulawesi yang cocok terhadap pembentukan nikel
laterit.
Endapan laterit (Ni) telah ditemukan pada daerah tropis dan subtropis dan
dihasilkan oleh pelapukan intens batuan beku ultrabasa, dengan konsentrasi
sekunder yang dihasilkan dari hubungan Ni-oksida dan mineral silikat
(Gleeson et al. 2003).
Pelapukan sangat erat kaitannya dengan proses kimia dan fisika yang
secara vertikal merupakan gambaran profil perubahan batuan ultramafik
menjadi endapan laterit. Profil perubahan batuan ultramafik ini termasuk
profil paleotopografi (Golightly, 1979) atau profil pelapukan (Butt, 1993).
Proses kimia dan fisika yang disebabkan oleh udara, air, suhu panas dan
kelembaban akan menghancurkan batuan tersebut menjadi soil dan clay.
Proses kimia dimulai pada batuan peridotit. Pada umumnya pelapukan ini
terdiri dari beberapa tingkat, yaitu: pelarutan, transportasi dan pengendapan
kembali mineral.
Pada pelarutan, faktor yang terpenting adalah pH dan kestabilan mineral
(Golightly,1979), sedangkan pada transportasi dan pengendapan kembali
faktor yang berpengaruh adalah iklim, topografi dan morfologi. Hasil
pelapukan akan ditransportasikan, kemudian diendapkan kembali. Proses ini
hanya akan terjadi pada permukaan tanah yang landai, keadaan morfologi
dan topografi yang tidak terlalu curam. Hasil pelapukan akan
ditransportasikan oleh air tanah atau air hujan. Unsur-unsur dengan mobilitas

11
kecil akan terakumulasi di zona gossan. Mobilitas unsur dipengaruhi oleh
berat jenis unsur, media transportasi, topografi dan lain-lain. Unsur-unsur
dengan mobilitas besar mengalami proses pencucian (leaching) dan migrasi,
akhirnya terakumulasi pada zona oksidasi dan reduksi. Peridotit yang banyak
mengandung olivin, magnesium silikat dan besi silikat (umumnya
mengandung 0,3% Ni), mengalami proses pelapukan secara kimiawi dan
dipengaruhi oleh air tanah yang kaya akan CO2 dari udara luar atau tumbuh-
tumbuhan mengubah olivin, menyebabkan sangat menurunnya kadar Mg dan
Ca yang terlarut oleh air hujan. Pelarutan itu menyebabkan kadar Al, Ni, Cr,
Co semakin tinggi (terjadi pengayaan). Oksidasi yang terbentuk , bereaksi
dengan air membentuk limonit yang terakumulasi pada zona oksidasi.
4FeO + 3 H2O +O22Fe2O3 3H2O
Akibat pengaruh peredaran air tanah terjadi migrasi unsur-unsur yang
mobile. Unsur Fe mempunyai mobilitas relatif kecil (0,01-0,03 mg), maka
akan terakumulasi pada zona limonit sebagai pengayaan residu. Si dengan
derajat mobilitas (0,5 – 1,0) dan Mg (1,0) mengalami proses pencucian
(leaching). Sedangkan Ni sendiri dengan derajat mobilitas (0,03 – 0,12)
mengalami proses pengayaan sekunder dan terakumulasi pada zona saprolite.
Proses kimia pada unsur Si dan Mg akan mengalami proses pencucian dan
migrasi yang kemudian akan mengikat unsur Ni dalam garnierit.
Berdasarkan cara terjadinya, endapan nikel dapat dibedakan menjadi 2
macam, yaitu endapan sulfida nikel – tembaga berasal dari mineral
pentlandit, yang terbentuk akibat injeksi magma dan konsentrasi residu (sisa)
silikat nikel hasil pelapukan batuan beku ultramafik yang sering disebut
endapan nikel laterit. Menurut Bateman (1950), endapan jenis konsentrasi
sisa dapat terbentuk jika batuan induk yang mengandung bijih mengalami
proses pelapukan, maka mineral yang mudah larut akan terusir oleh proses
erosi, sedangkan mineral bijih biasanya stabil dan mempunyai berat jenis
besar akan tertinggal dan terkumpul menjadi endapan konsentrasi sisa.

12
4. PROFIL ENDAPAN NIKEL LATERIT
Menurut Golightly (1981), profil endapan nikel laterit secara umum terjadi
dalam 3 tahap, yaitu : tahap 1 pengaruh water tabel terbentuk pada permukaan
batuan ultramafik; tahap 2 terjadi perubahan rejuvinasi topografi hingga letak
water table berubah dan terbentuk endapan nikel laterit di bawahnya. Tahap 3
pengaruh perubahan iklim membentuk formasi silica boxwork. Profil
pelapukan merupakan hasil proses pelapukan batuan ultramafik dipengaruhi
oleh fisika, kimia dan jenis batuan ultramafik (Butt, 1981). Pada gambar 2,
menunjukkan contoh profil pelapukan endapan nikel laterit ,dimana batuan
ultramafik serpentinized dunite mudah mengalami pelapukan dibanding
batuan ultramafik tak unserpentinized dunite. (Golightly, 1981).

Gambar 2. 7 Profil pelapukan endapan nikel laterit (Golightly, 1981).

Pelapukan proses fisika yang terjadi pada batuan ultramafik umumnya


oleh tektonik yang membentuk rekahan dan kemudian terisi oleh mineral
sekunder. Proses pelapukan kimia dapat diketahui dari mass balance dari
perubahan kadar magnesium oksida, silika, aluminium oksida dan nikel
oksida ( Colinet al, 1990). Pengayaan nikel terjadi pada batuan ultramafik
yang kaya akan mineral olivin dengan protolit dari proses metamorfisme.
Pengaruh iklim lembab pada batuan ofiolit (olivine - ortopiroksen peridotit,

13
harzburgit) menghasilkan nikel dengan kadar tinggi bersifat hidrous silika.
(Butt, 1993).

4.1 Lapisan tanah penutup

Lapisan tanah penutup biasanya disebut iron capping.Material lapisan


berukuran lempung,berwarna coklat kemerahan, biasanya terdapatjuga sisa-
sisa tumbuhan.Pengkayaan Fe terjadipada zona ini kerena terdiri dari
konkresi Feoksidamineral hematite (Fe2O3) dan chromiferous (FeCr2O4)
dengan kandungannikel relatif rendah.Tebal lapisan bervariasiantara 0 - 2 m.
Tekstur batuan asal tidak dapatdikenali lagi.Kandungan unsur Ni pada
zonaini <1% dan Fe >30%.

4.2 Zona limonit

Merupakan lapisan berwarna cokelat muda, ukuran butir lempung sampai


pasir, tekstur batuan asal mulai dapat diamati walupun masih sangat sulit,
dengan tebal lapisan berkisar antara 1 – 10 m. Lapisan ini tipis pada daerah
yang terjal, dan sempat hilang karena erosi pada zona limonit hampir seluruh
unsur yang mudah larut hilang terlindi, kadar MgO hanya tinggal kurang dari
2% berat dan kadar SiO2 berkisar 2-5% berat. Sebaliknya kadar hematite
menjadi sekitar 60 – 80% berat kadar Al2O3 maksimum 7% berat. Kandungan
Ni pada zona ini berada pada selang antara 1% sampai 1,4%. Zona ini di
dominasi oleh mineral goethite, disamping juga terdapat magnetit, hematit,
kromit, serta kuarsa sekunder pada goethite terikat nikel, krom, kobalt,
vanadium, serta aluminium.

4.3 Zona saprolit


Merupakan lapisan dari batuan dasar yang sudah lapuk, berupa bongkah-
bongkah lunak berwarna coklat kekuningan sampai kehijauan.Struktur dan
tekstur batuan asal masih terlihat. Perubahan geokimia zona saprolit yang
terletak di atas batuan asal ini tidak banyak, H2O dan nikel bertambah dengan
kadar Ni keseluruhan lapisan antara 2 – 4% sedangkan magnesium dan silikon

14
hanya sedikit yang hilang terlindi. Zona ini terdiri dari garnierit yang
menyerupai bentuk vein, mangan, serpentin, kuarsa sekunder yang bertekstur
boxwork (tekstur seperti jaring labalaba),krisopras dan beberapa tempat sudah
terbentuk limonit yang mengandung Fehidroksida.

4.4 Bedrock
Merupakan bagian terbawah dari profil nikel laterit, berwarna hitam
kehijauan, terdiri dari bongkah-bongkah batuan dasar dengan ukuran >75 cm,
dan secara umum sudah tidak mengandung mineral ekonomis. Kadar mineral
mendekati atau sama dengan batuan asal, yaitu dengan kadar Fe ± 5% Ni dan
Co antara 0,01 – 0,30%.

5. PROSES MINERALISASI PADA ENDAPAN NIKEL LATERIT


Proses mineralisasi laterit karena pelapukan kimia biasanya terjadi adanya
ketidakseimbangan air yang dekat permukaan, temperatur dan aktivitas
biologi. Pelapukan kimia dapat berupa proses hydrolysis, oxidation, hydration
dan solution, yang akan menghasilkan mineral baru yang berbeda dari mineral
asalnya. Perubahan yang terjadi pada batuan ultramafik menjadi laterit pada
zona bedrock, saprolit, transisi dan limonit dengan tahapan sebagai berikut :
Batuan ultramafik, dominan olivin (forsterit), piroksen (enstantite) dan
serpentin (lizardit), terkekarkan dan terlapukkan daerah sekitar kekar terlebih
dahulu. Mineral serpentine berupa hydrothermal mafic mineral (Ahmad,
2006), seperti lizardit dan mineral talk. Talk dapat terbentuk karena ubahan
dari serpentin pada temperatur 500 - 625° C, karena proses hydration, dengan
reaksi kimia dibawah ini, melepaskan air dan ion Mg terlarutkan.
Pelapukan tahap pertama ini akan melepaskan unsur Mg2+ dan Si2+, Fe, Ni, Al
menjadi ion-ion yang bersifat lepas. Mineral olivin akan terlarutkan lebih
dahulu, dilanjutkan oleh piroksen dan serpentin menurut Golightly (di dalam
Ahmad, 2006).Olivin yang lapuk, akan membentuk mineral smectite atau bisa
langsung menjadi goethite, sedangkan pelapukan piroksen dapat menghasilkan

15
talk atau serpentin. Mineral serpentine yang lebih bersifat stabil dari pada
olivin dan piroksen, tidak mudah terlapukkan, sehingga hampir di temukan
pada zona saprolit sampai batas atas. Mineral talk lebih bersifat stabil dari
serpentine, mineral ini hadir pada zona saprolit. Mineral talk yang hadir di
zona ini di perkirakan adalah mineral talk primer yang ridak mengalami proses
pelapukan, karena sifatnya yang stabil di bandingkan mineral yang lainnya.
Nikel terbentuk bersama mineral silikat kaya akan unsur Mg (olivin), olivin
adalah jenis mineral yang tidak stabil selama pelapukan berlangsung. Saprolit
adalah produk pelapukan pertama, meninggalkan sedikitnya 20% fabric dari
batuan aslinya (parent rock). Batas antara batuan dasar, saprolite dan
wathering front tidak jelas dan bahkan perubahannya gradasional.

Endapan nikel laterit dicirikan dengan adanya speroidal weathering


sepanjang lipatan dan patahan (boulder saprolit).Selama pelapukan
berlangsung, Mg larut dan Silika larut bersama air tanah.Ini menyebabkan
mengubah fabric dari batuan induknya.Sebagai hasilnya, Fe - Oxide
mendominasi dengan membentuk lapisan horizontal diatas saprolit yang
sekarang kita kenal sebagai Limonit.Benar bahwa Nikel berasosiasi dengan Fe
- Oxide terutama dari jenis Goethite.rata-rata nikel berjumlah 1.2 %.

6. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBENTUKAN ENDAPAN


NIKEL LATERIT
6.1 Batuan asal
Adanya batuan asal merupakan syarat utama untuk terbentuknya endapan
nikel laterit, macam batuan asalnya adalah batuan ultrabasa. Dalam hal ini
pada batuan ultrabasa tersebut terdapat elemen Ni yang paling banyak diantara
batuan lainnya - mempunyai mineral-mineral yang paling mudah lapuk atau
tidak stabil, seperti olivin dan piroksin - mempunyai komponen - komponen
yang mudah larut dan memberikan lingkungan pengendapan yang baik untuk
nikel.

16
6.2 Iklim
Adanya pergantian musim kemarau dan musim penghujan dimana terjadi
kenaikan dan penurunan permukaan air tanah juga dapat menyebabkan
terjadinya proses pemisahan dan akumulasi unsur-unsur. Perbedaan
temperatur yang cukup besar akan membantu terjadinya pelapukan mekanis,
dimana akan terjadi rekahan-rekahan dalam batuan yang akan mempermudah
proses atau reaksi kimia pada batuan.

6.3 Reagen-reagen kimia dan vegetasi


Yang dimaksud dengan reagen-reagen kimia adalah unsur-unsur dan senyawa-
senyawa yang membantu mempercepat proses pelapukan. Air tanah yang
mengandung CO2 memegang peranan penting didalam proses pelapukan
kimia. Asam-asam humus menyebabkan dekomposisi batuan dan dapat
merubah pH larutan. Asam-asam humus ini erat kaitannya dengan vegetasi
daerah. Dalam hal ini, vegetasi akan mengakibatkan penetrasi air dapat lebih
dalam dan lebih mudah dengan mengikuti jalur akar pepohonan akumulasi air
hujan akan lebih banyak.

6.4 Struktur
Struktur yang sangat dominan yang terdapat didaerah Tapunopaka ini
adalah struktur kekar (joint) dibandingkan terhadap struktur patahannya.
Seperti diketahui, batuan beku mempunyai porositas dan permeabilitas yang
kecil sekali sehingga penetrasi air sangat sulit, maka dengan adanya rekahan-
rekahan tersebut akan lebih memudahkan masuknya air dan berarti proses
pelapukan akan lebih intensif.

6.5 Topografi
Keadaan topografi setempat akan sangat mempengaruhi sirkulasi air
beserta reagen-reagen lain. Untuk daerah yang landai, maka air akan bergerak
perlahan-lahan sehingga akan mempunyai kesempatan untuk mengadakan
penetrasi lebih dalam melalui rekahan-rekahan atau pori-pori batuan.

17
Akumulasi andapan umumnya terdapat pada daerah-daerah yang landai
sampai kemiringan sedang, hal ini menerangkan bahwa ketebalan pelapukan
mengikuti bentuk topografi.Pada daerah yang curam, secara teoritis, jumlah
air yang meluncur (run off) lebih banyak daripada air yang meresap ini dapat
menyebabkan pelapukan kurang intensif.

6.6 Waktu
Waktu yang cukup lama akan mengakibatkan pelapukan yang cukup
intensif karena akumulasi unsur nikel cukup tinggi.

7. Eksplorasi Pengeboran
7.1 Pengertian Eksplorasi Pengeboran
Pengeboran eksplorasi dilakukan untuk mengetahui informasi geologi
dan mempelajari data geologi berupa batuan dasarnya, stratigrafi, struktur dan
mineralisasi dengan menggunakan alat bor untuk pengambilan contonya. dari
data hasil pengeboran inilah yang nantinya dapat dilakukan perhitungan
cadangan suatu prospect area serta melakukan rancangan area tambang.

Data yang diperoleh dari pengeboran dicatat dan disimpan sebagai


database. sampel pengeboran dibawa ke sample house untuk dilakukan
preparasi sample sebelum dianalisa mendapatkan data assay. Data hasil assay
ditampilkan dalam bentuk spreadsheet selanjutnya divalidasi untuk
menentukan ore dan non ore. Data yang sudah divalidasi kemudian
ditampilkan dalam bentuk peta dan sayatan vertikal untuk analisan dan
interpretasi geologi lebih lanjut.

7.2 Tahapan Eksplorasi Pengeboran


7.2.1 Perencanaan titik pengeboran inti,
7.2.2 Orientasi lapangan titik pengeboran inti.
7.2.3 Flagging Drill Hole dan pembuatan Pad.
7.2.4 Pembuatan Jaringa Air Sebagai Fluida Pemboran

18
8. Pengeboran Inti (Core Drilling)
8.1 Pengeboran Triple Tube
Pengeboran dilakukan untuk mendapatkan contoh (sample) bahan tambang
dikordinat dan kedalaman tertentu secara benar. Contoh (sample) yang
dihasilkan dari proses pengeboran yang benar akan di analisa untuk
memastikan jumlah kandungan bahan tambang di daerah yang dibor. Bila
dalam proses pengambilan contoh (sample) tidak memenuhi standar, maka
analisa yang dihasilkan akan tidak benar. Dengan menggunakan mesin bor
jenis Jackro 200 sample di ambil dengan kemampuan putaran (rotary)
menembus lapisan tanah atau batuan dan air sebagai fluida pemboran.

8.2 Logging Sample


logging sampel merupakan bagian dari kegiatan eksplorasi pengeboran
untuk mendapatkan data bawah permukaan dari sampel core yang berguna
untuk evaluasi dan validasi data serta interpretasi geologi bawah permukaan.
Pengambilan data di lakukan secara visual kenampakan dari core yang telah
tersedia pada core box.

8.3 Preparasi Sample


Preparasi sample adalah suatu proses pengambilan sampel yang
representatif untuk keperluan penyelidikan analisis. Pada kegiatan ini di
lakukan pemisahan sample original dan back_up dan pemberian QAQC
sample sebagai sample control.

19