Anda di halaman 1dari 53

BAB I

PENGUJIAN KONSISTENSI NORMAL SEMEN GRESIK

1.1 Uji Konsistensi Normal

1.1.1 Tujuan
Pengujian konsistensi normal semen, yaitu untuk mengetahui kadar air
normal semen yang digunakan untuk mengikat semen portland.

1.1.2 Dasar Teori


Konsistensi normal semen Portland adalah suatu kondisi standar yang
menunjukkan kebasahan pasta.Konsistensi normal dinyatakan dengan
banyak air yang dibutuhkan suatu pasta semen dalam kondisi plastis.
Untuk mengetahui berapa banyaknya air yang diperlukan, dilakukan
pengujian konsistensi. Menurut standar SII atau ASTM untuk uji
konsistensi dilakukan dengan menggunakan alat Vicat. Cara pengujiannya
dengan mencoba – coba presentase air, sehingga tercapai konsistensi.
Konsistensi tercapai apabila jarum vicat dengan diameter 10 mm masuk
kedalam pasta semen dalam waktu 30 detik sedalam 9 mm hingga 11mm.
Prosentase air untuk mencapai konsistensi lebih kurang 28%. Nilai ini
tergantung dari kehalusan semen, komposisi senyawa dalam semen, suhu
udara dan kelembaban disekitarnya. Hasil uji yang di dapat dalam hal ini
Faktor Air Semen (FAS) nantinya akan digunakan dalam uji semen
selanjutnya yaitu pada pengujian waktu pengikatan semen.
Rumus Konsistensi Normal
𝑩𝒆𝒓𝒂𝒕 𝑨𝒊𝒓
Konsistensi Normal = 𝑩𝒆𝒓𝒂𝒕 𝑺𝒆𝒎𝒆𝒏 𝒙𝟏𝟎𝟎%

1.1.3 Peralatan
1. Sarung Tangan
2. 1 cincin konik
3. Neraca atau timbangan

1
4. Stopwatch
5. Saringan No.100
6. Alas kaca
7. 1 set alat vicat
8. 1 set alat pengaduk (mixer)
9. Spatula

1 2 3 4

5 6 7 8 9

Gambar 1.1 : Peralatan Uji Konsistensi Normal

1.1.4 Benda Uji


1. Semen Gresik 300,0 gram
2. Takaran Air

1 2
Gambar 1.2 : Benda Uji Konsistensi Normal
1.1.5 Prosedur Pelaksanaan
1. Menyiapkan semen sebanyak 300 gr yang sudah diayak saringan no.
100

2
Gambar 1.3 : Proses Ayakan dan Semen 300 gram
2. Menyiapkan air sebanyak 28% dari berat semen (28% x 300 gram =
84gram air)

Gambar 1.4 : Takaran Air Sebanyak 84,0 gram


3. Mencampur semen dan air kedalam mixer diamkan selama 30 detik
agar terjadi hidrasi semen

Gambar 1.5 : Loyang Dengan Campuran Semen Air

4. Kemudian menjalankan mixer dengan kecepatan 1 (140 rpm) selama 30


detik

Gambar 1.6 : Mixer Kecepatan 1

5. Mematikan mixer selama 15 detik, sambil membersihkan pasta yang


menempel di pinggir mangkok pengaduk. Lalu naikkan kecepatan
mixer menjadi 2 (280 rpm) dan jalankan mixer selama 1 menit

3
Gambar 1.7 : Mixer Kecepatan 2
6. Menggambil adukan yang sudah berupa pasta dan membuat pasta
berbentuk seperti bola dengan tangan yang menggunkan sarung tangan,
kemudian dilemparkan 6 kali dari satu tangan ketangan yang lain
dengan jarak 30 cm

Gambar 1.8 : Pembentukan Pasta Dengan Dilempar-lempar


7. Memasukkan pasta kedalam cincin konik yang beralaskan kaca,
kelebihan pasta pada cincin konik diratakan dengan spatula sedikit demi
sedikit hingga pasta rata dengan cincin konik

Gambar 1.9 : Pasta Dalam Cincin Konik Yang Diratakan Dengan Spatula
8. Menyiapkan alat vicat dengan jarum 10 mm

Gambar 1.10 : Persiapan Pada Alat Vicat


9. Meletakkan cincin konik dibawah jarum, kemudian kontakan jarum
pada permukaan pasta dengan jarak antara jarum dan pasta ≤ 1 mm

4
Gambar 1.11 : Pengaturan Jarum 10mm Diatas Pasta
10. Mengatur skala baca alat vicat tepat pada angka 0
11. Menjatuhkan jarum selama 30 detik lalu mengunci.

Gambar 1.12 :Jarum Vicat Pada Pasta


12. Menghitung kedalaman jarum yang menembus pasta

1.1.6 Hasil Data dan Analisis


Tabel 1.1 Hasil Pengujian Konsistensi Normal

PEMERIKSAAN Benda Uji

I II III

Berat Air (A) gr 84 81 78,9

Berat Semen (B) gr 300 300 300

Penetrasi/penurunan mm 25;23;20 23;21;18 12;11;8,5

1.1.7 Pembahasan
Berat Air : BU1 28% x 300 = 84 gr

BU2 27% x 300 = 81 gr

BU3 26,3% X 300 = 78,9 gr

Berat Semen : 300 gr

5
Rumus Penetrasi :

25+23+20
BU1 = = 22,6 cm
3

23+21+18
BU2 = = 20,6 cm
3

12+11+8,5
BU3 = = 10,5 cm
3

Tabel 1.2 : Hasil dan Rata-Rata Pengujian Konsistensi Normal

Pemeriksaan Benda Uji

I II III

Berat Air (A) gr 28 % (84) 27% (81) 26,3% (78,9)

Berat Semen (B) gr 300 300 300

Penetrasi/Penurunan mm 25;23;20 23;21;18 12;11;8,5

Rata – rata 22,6 20,6 10,5

1.1.8 Kesimpulan
Setelah melakukan presentase 28% .Untuk itu maka perlu dilakukan
pengujian konsistensi normal, jika terlalu banyak air maka semen akan
terlalu encer apabila terlalu sedikit air maka semen tidak akan terikat
sempurna. Dan pada uji konsistesi normal kali ini semen gresik yang
kita uji hanya membutuhkan kadar air 26,3% dari 300 gram semen
yaitu 78,9 gram air.

1.1.9 Saran
Dalam melakukan pengujian konsistensi normal diperlukan ketelitian
dan kesabaran agar mencapai hasil yang pas.

6
BAB II

PENGUJIAN WAKTU IKAT AWAL SEMEN GRESIK

2.1 Uji Waktu Ikat Awal


2.1.1 Tujuan
Mengetahui waktu yang dibutuhkan untuk pengikatan semen Portland.
2.1.2 Dasar Teori
Semen jika dicampur dengan air akan membentuk bubuk / pasta yang
secara bertahap akan menjadi plastis, dan akhirnya menjadi kaku / keras.
Pada proses ini, tahap pertama dicapai ketika pasta semen cukup kaku
untuk menahan suatu tekanan.
Waktu untuk mencapai tahap awal ini disebut sebagai waktu ikat awal,
waktu tersebut dihitung sejak air dicampur semen. Waktu dari
percampuran semen dan air disebut waktu ikat awal 45 menit, dan waktu
sampai mencapai pasta menjadi masa keras disebut waktu ikat akhir lebih
kurang 8 (delapan jam). Ikat awal penting untuk diketahui, guna
memudahkan mengatur waktu pekerjaan beton, waktu transportasi,
penuangan / pengecoran, pemadatan dan perataan permukaan.
2.1.3 Peralatan
1. 1(satu) set alat vicat
2. Jarum berdiameter 1 mm.
3. Cincin konik sebagai cetakan dengan diameter 76 ± 0,5 mm, dan
tinggi 40 ± 1 mm, dengan permukaan bagian dalam harus rata dan
licin.
4. Kaca datar ,tebal 3(tiga) mm.
5. Spatula.
6. Neraca / timbangan digital dengan kapsitas max 3000 gram dengan
ketelitian 0,1%.
7. Mesin pengaduk (mixer).
8. Saringan No. 100.
9. Cawan.
10. Sarung tangan karet.

7
11. Sendok spesi.

1 2 3 4

5 6 7 8

9 10 11
Gambar 2.1 : Peralatan Uji ikat awal
2.1.4 Bahan Uji
1. Semen 300g
2. Air

1 2
Gambar 2.2 : Bahan Uji penurunan ikat awal

2.1.5 Prosedur Pelaksanaan


1. Pengujian waktu ikat awal semen, erat kaitannya dengan pengujian
konsistensi normal semen, sehingga prosedur 1-12 untuk prosedur
pengujian konsistensi normal sama dengan pengujian waktu ikat
awal.
2. Pada alat vicat jarum 10 mm diganti dengan jarum ukuran 1 mm.

8
Gamber 2.3 : Pergantian Jarum Vicat
3. Menjatuhkan jarum pada alat vicat setiap 15 menit sampai
mencapai penurunan ± 25 mm selama 30 detik, catat hasil bacaan
penurunan jarum vicat setiap 15 menit. (catatan :jarak antara titik-
titik setiap menjatuhkan jarum adalah ½ cm dan jarak titik dari
pinggir cincin konik tidak boleh kurang dari 1 cm).

Gambar 2.4 : Proses Penurunan Jarum Vicat

a.1 b.1 c.1

a.2 b.2 c.2

a.3 b.3 c.3

9
a.4 b.4 c.4

a.5 b.5 c.5

a.6 b.6 c.6

a.7 b.7 c.7


Gambar 2.5 : Hasil Penurunan ikat awal

2.1.4 Analisis Data


Tabel 2.1 : Data Pengujian waktu ikat awal.

waktu
waktu
penetrasi penurunan jarum vicat(mm)
pengujian
(menit)
0 8:24 a.1 42 b.1 41,5 c.1 40,5
15 8:48 a.2 40 b.2 40 c.2 37,5
30 9:08 a.3 40; b.3 39,5; c.3 39
45 9:24 a.4 41; b.4 39,5; c.4 38
60 9:47 a.5 34; b.5 32; c.5 27
75 10:06 a.6 27; b.6 25,5; c.6 24
90 10:24 a.7 24,7; b.7 24; c.7 23

10
2.1.7 Pembahasan
Perhitungan rata-rata :
42+41,5+40,5
Menit ke-0 = 41,3
3
40+40+37,5
Menit ke-15 = 39,17
3
40+39,5+39
Menit ke-30 = 39,5
3
41+39,5+38
Menit ke-45 = 39,5
3
34+32+27
Menit ke-60 = 31
3
27+25,5+24
Menit ke-75 = 25,5
3
24,7+24+23
Menit ke-90 = 23,9
3

Tabel 2.2 : Data penurunan waktu ikat awal


waktu
waktu
penetrasi penurunan jarum vicat(mm)
pengujian
(menit)
0 8:24 a.1 42 b.1 41,5 c.1 40,5
15 8:48 a.2 40 b.2 40 c.2 37,5
30 9:08 a.3 40; b.3 39,5; c.3 39
45 9:24 a.4 41; b.4 39,5; c.4 38
60 9:47 a.5 34; b.5 32; c.5 27
75 10:06 a.6 27; b.6 25,5; c.6 24
90 10:24 a.7 24,7; b.7 24; c.7 23

Perhitungan waktu ikat sesuai ketentuan, yaitu pada rata-rata 25


Rata-rata 25 berada diantara menit ke 75 dan 90
Selisih antara 75 dan 90 = 15 menit
Selisih antara 25,5 dan 23,9 = 1,6 ml
15
= 9,375 , jadi waktu yang dibutuhkan untuk penurunan 1 ml
1,6

adalah 9,375menit
25,5 – 25 = 0,5
0,5 x 9,375 = 4,6875
75 + 4,6875 = 79,6875

11
Jadi penurunan ikat awal yang harus sesuai dengan ketentuan atau
syarat yaitu saat penurunan mencapai angka 25 ml, dan penurunan
25 ml terjadi pada menit ke 79,6875.
Tabel 2.3 : Perhitungan rata-rata penurunan waktu ikat awal.
waktu
waktu
penetrasi penurunan jarum vicat(mm) rata-rata
pengujian
(menit)
0 8:24 a.1 42 b.1 41,5 c.140,5 41,3
15 8:48 a.2 40 b.2 40 c.2 37,5 39,17
30 9:08 a.3 40; b.3 39,5; c.3 39 39,5
45 9:24 a.4 41; b.4 39,5; c.4 38 39,5
60 9:47 a.5 34; b.5 32; c.5 27 31
75 10:06 a.6 27; b.6 25,5; c.6 24 25,5
79,6875 - - - - 25
90 10:24 a.7 24,7; b.7 24; c.7 23 23,9

2.1.8 Kesimpulan
Waktu pengikat kekekalan semen merupakan waktu yang dihitung
sejak air dicampur dengan semen hingga dicapai ketika pasta semen
memadat. Dari hasil pengujian pengikatan awal semen gresik , dibutuhkan
waktu 90 menit hingga diperoleh penurunan jarum sedalam 23,9 mm.
Percobaan ini sudah masuk range dibawah 25 mm. dan untuk penurunan
ikat awal pada rata-rata 25 ml terjadi saat menit ke 79,6875.
2.1.9 Saran
Dalam melakukan pengujian konsistensi normal diperlukan ketelitian
dan kesabaran agar mencapai hasil yang pas.

12
BAB III

PENGUJIAN BERAT JENIS (BJ) SEMEN

3.1 Uji BeratJenis


3.1.1 Tujuan
Menentukan nilai berat jenis (BJ) semen, mampu menjelaskan
prosedur pelaksanaan pengujian berat jenis, dan mampu
mempergunakan alat pengujian dengan terampil.
3.1.2 Dasar Teori
Berat jenis (BJ) semen adalah perbandingan antara berat isi kering
semen pada suhu kamar dengan berat isi air suling pada suhu 4oC yang
isinya sama dengan isi semen.
Berat jenis pada semen secara teoritis antara 3.1 sampai 3.3. Nilai
ini dapat berubah tergantung kondisi semennya. Selisih percobaan 1
dan percobaan 2 yang diizinkan dari percobaan ini adalah 0.01. Jika
semen tersebut pada waktu pembuatan dicampur dengan bahan lain,
seperti abu batu yang warnanya berupa semen atau semen tersebut
sudah ada yang mengeras maka berat jenisnya akan lebih rendah. Untuk
menguji berat jenis pada semen digunakan tabung Le chatelier.

Rumus Berat Jenis (BJ) Semen :

𝑩𝒆𝒓𝒂𝒕 𝑺𝒆𝒎𝒆𝒏
Berat Jenis (BJ) Semen = 𝒙𝒅
(𝑽𝟐−𝑽𝟏)

Ket: V1 = Pembacaan Pertama pada skala botol


V2 = Pembacaan Kedua pada skala botol
(V2-V1) = Isi Cairan yang dipindahkan oleh semen
d = Berat isi air pada 4oC (1gr/cm3)

13
3.1.3 Peralatan

1 2 3

4 5

Gambar 3.1 : Peralatan Uji Berat Jenis


Keterangan Gambar:
1. Botol Le chatelier
2. Wadah Stainless ( cawan )
3. Termometer 2 buah
4. PAN
5. Neraca analitik
3.1.4 Benda Uji

1 2 3

Gambar 3.2 : Benda Uji

Keterangan Gambar:
1. Semen PCC Gresik sebanyak 64gr
2. Minyak tanah
3. Air

14
3.1.5 Prosedur Pelaksanaan Percobaan Pertama
1. Siapkan minyak tanah lalu masukkan ke dalam botol le chatelier
hingga skala 0, lalu isi air sebanyak satu pertiga (1/3) dari wadah
stainless.

Gambar 3.3 : Pengisian Air Pada Cawan


2. Masukan botol le chatalier ke dalam wadah stainless. Setelah itu,
masukan termometer 1 ke dalam tabung le chatelier yang berisi
minyak tanah dan termometer 2 ke dalam wadah stainless yang berisi
air.

Gambar 3.4 : Pemasukan Termometer ke dalam botol dan cawan


3. Setelah suhu air dan minyak sama, kemudian baca skala pada botolle
chatelier.

Gambar 3.5 : Pembacaan Termometer

15
4. Ayak terlebih dahulu semen Gresik sehingga semen yang telah
mengeras akan tidak tercampur dengan semen yang masih murni
halus.

Gambar 3.6 : Pengayakan Semen


5. Timbang hasil ayakan sehingga mendapatkan semen seberat 64 gram.

Gambar 3.7 : Menimbang Semen


6. Kemudian masukan PCC Gresik sebanyak 64 gram ke dalam tabung
le chatelier secara perlahan.

Gambar 3.8 : Memasukkan Semen ke Dalam Botol Le chatelier


7. Masukan termometer 1 ke dalam tabung le chatelier yang berisi
minyak tanah dan termometer 2 ke dalam wadah stainless yang berisi
air.

16
Gambar 3.9 : Pemasukan Termometer Kebotol dan Cawan
8. Setelah suhu air dan suhu dalam botol le chateliersama, baca skala
dalam botol (V2).

Gambar 3.10 : Pembacaan Suhu

17
9. Hasil pembacaan pertama pada skala botol.

Gambar 3.11 : hasil pembacaan pertama pada skala botol

3.1.6 Prosedur Pelaksanaa Percobaan Kedua


1. Siapkan minyak tanah lalu masukkan ke dalam botol le chatelier
hingga skala 0, lalu isi air sebanyak satu pertiga (1/3) dari wadah
stainless.

Gambar 3.12 : Pengisian Air Pada Cawan


2. Masukan botol le chatalier ke dalam wadah stainless. Setelah itu,
masukan termometer 1 ke dalam tabung le chatelier yang berisi
minyak tanah dan termometer 2 ke dalam wadah stainless yang
berisi air.

Gambar 3.13 : Pemasukan Termometer ke dalam botol dan cawan

18
3. Setelah suhu air dan minyak sama, kemudian baca skala pada
tabung le chatelier.

Gambar 3.14 : Pembacaan Termometer


4. Ayak terlebih dahulu semen Gresik sehingga semen yang telah
mengeras akan tidak tercampur dengan semen yang masih murni
halus.

Gambar 3.15 : Pengayakan Semen


5. Timbang hasil ayakan sehingga mendapatkan semen seberat 64
gram.

Gambar 3.16 : Menimbang Semen


6. Kemudian masukan PCC Gresik sebanyak 64 gram ke dalam tabung
le chatelier secara perlahan.

19
Gambar 3.17 : Memasukkan Semen ke Dalam Botol Le chatelier
7. Masukan termometer 1 kedalam tabung le chatelier yang berisi
minyak tanah dan termometer 2 kedalam wadah stainless yang
berisi air.

Gambar 3.18 : Pemasukan Termometer Kebotol dan Cawan


8. Setelah suhu air dan suhu dalam botol le chateliersama, baca skala
dalam botol (V2).

Gambar 3.19 : Pembacaan Suhu

20
9. Hasil pembacaan kedua pada skala botol.

Gambar 3.20 : hasil pembacaan kedua pada skala botol

3.1.7 Analisa
Tabel 3.1: Hasil Pengujian Berat Jenis

PEMERIKSAAN BENDA UJI


1 2
Berat semen Gresik (gr) B 64 64
Pembacaan pertama pada skala botol V1 0 0
Pembacaan kedua pada skala botol V2 21 20.5
Isi cairan yang dipindahkan (cm3) V2-V1 21 20.5

3.1.8 Pembahasan
Perhitungan Hasil Percobaan:
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑆𝑒𝑚𝑒𝑛 64
Berat jenis semen 1 = 𝑥1 = 21 𝑥1 = 3.05 gr/cm3
(V2−V1)
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑆𝑒𝑚𝑒𝑛 64
Berat jenis semen 2 = 𝑥1 = 20.5 𝑥1 = 3.12 gr/cm3
(V2−V1)

Suhu yang di dapat:


 Suhu awal percobaan pertama minyak tanah dan air 25oC
 Suhu akhir percobaan pertama minyak tanahdan air 27oC
 Suhu awal percobaan kedua minyak tanahdan air 25oC
 Suhu akhir percobaan kedua minyak tanahdan air 27oC

21
Pada pengujian berat jenis semen PCC Gresik, percobaan
pertama diketahui bahwa berat jenis percobaan pertama adalah
3.05gr/cm3 dan berat jenis percobaan kedua adalah 3.12gr/cm3, maka
selisih dari kedua percobaan tersebut adalah 0.07gr/cm3 dan berat jenis
rata-rata dari keduanya adalah 3.085 gr/cm3. Lebih rendah berat Jenis
(BJ) pada semen secara teori antara 3,1 gr/cm3 sampai 3,3gr/cm3, dan
standar normal yaitu 3,15 gr/cm3.

Tabel 3.2: Hasil Perhitungan Berat Jenis

PEMERIKSAAN BENDA UJI


1 2
Berat semen Gresik (gr) B 64 64
Pembacaan pertama pada skala botol V1 0 0
Pembacaan kedua pada skala botol V2 21 20.5
Isi cairan yang dipindahkan (cm3) V2-V1 21 20.5
Berat jenis semen(gr/cm3) 3,05 3,12
Berat jenis rata rata(gr/cm3) 3,085

3.1.9 Kesimpulan
Angka ini masih termasuk diijinkan karena tidak jauh selisih dari 0.01.
Disimpulkan bahwa berat jenis PCC Gresik adalah rata rata dari kedua
percobaan, yaitu 3,085gr/cm3. Hasil percobaan tersebut lebih rendah
berat Jenis (BJ) pada semen secara teoritis antara 3,1 gr/cm3 sampai
3,3gr/cm3, dan standar normal yaitu 3,15 gr/cm3.

3.1.10 Saran
Saat melakukan percobaan disarankan untuk berhati-hati saat
memasukan semen ke dalam tabung Le chatelier agar tidak menempel
pada dinding tabung karena akan mempengaruhi hasil dari percobaan.

22
BAB IV
PENGUJIAN KEHALUSAN SEMEN GRESIK
4.1 Uji Kehalusan Semen
4.1.1 Tujuan
Mengetahui kehalusan semen Portland dan semen Gresik dengan
analisisi ayak menggunakan saringan No. 100 dan No. 200
4.1.2 Dasar Teori
Kehalusan semen Portland adalah suatu factor penting yang dapat
mempengaruhi kecepatan reaksi antar partikel semen dengan air,
dengan semakin halus semen Portland maka reaksi akan semakin cepat
untuk menguji kehalusan semen menggunakan alat ayakan yang
berdiameter 0.15 mm (ayakan nomer 100) dan ). 075 mm (ayakan
nomer 200). Benda uji memenuhi syarat kehalusan apabila 0% tertahan
diatas saringan nomer 100 dan maksimum 22% tertahan diatas saringan
nomer 200.

Rumus Kehalusan

𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑑𝑖 𝑠𝑎𝑟𝑖𝑛𝑔𝑎𝑛
Kehalusan ( F ) = 𝑥 100 %
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑆𝑒𝑚𝑢𝑙𝑎
𝐴
F1 = 𝑇
𝐵
F2 = 𝑇
𝐶
F3 = 𝑇

Ket : F = Kehalusan semen Gresik


A = Berat semen yang tertahan di saringanNo. 100 dan No.
200
B = Berat semen awal
T = Berat semen total

23
4.1.3 Peralatan
1. Timbangan
2. Ayakan 100 , Ayakan 200 dan Pan
3. Stopwatch

Gambar 4.1 : Peralatan Pengujian Kehalusan

4.1.4 Benda Uji


1. Semen PCC Gresik sebanyak 50 gram.

Gambar 4.2 : Semen Gresik 50 g Yang Akan Diayak

4.1.5 Prosedur Pelaksanaan


1. Ambil Semen Gresik sekira kiranya lebih dari 50 g.

Gambar 4.3: Mengabil Semen Gresik

24
2. Ayak Semen Gresik menggunakan ayakan No. 100 sampai
halus.

Gambar 4.4 : Saat Mengayak Semen yang Baru Diambil

3. Timbang semen yang sudah diayak tadi sebanyak 50 g.

Gambar 4.5 : Saat Mengambil Semen Gresik


4. Siapkan satu set saringan yang tersusun darisaringan No 100 paling
atas, No 200 dibawahnya dan paling bawah Pan.

Gambar 4.6 : Satu Set Saringan No.100 dan No.200

5. Timbang ayakan ukuran No. 100, No.200, dan Pan

Gambar 4.7 : Saat menimbang Ayakan Kosong Ayakan No. 100, No. 200,
dan Pan

25
6. Masukkan bahan kedalam saringan yang sudah tersusun rapi.

Gambar 4.8 : Penuangan Semen Kedalam Ayakan

7. Goyangkan saringan secara konstan selama 4 menit pertama.

Gambar 4.9 : Pengayakan Semen

8. Dilanjutkan menggerakkan saringan secara konstan, setiap 25 kali


gerakkan, putar saringan kira kira 60° sampai menit ke-10

Gambar 4.10 : Pemiringan Ayakan Sekitar 60o

9. Selanjutnya menimbang semen yang tertahan di atas masing-


masing saringan No. 100dan No. 200.

26
Gambar 4.11 : Penimbangan Sisa Ditiap Ayakan

10. Kemudian, menghitung dalam prosentase berat terhadap benda uji


semula.
4.1.6 Analisis
Tabel 4.1 : Ayakan Kosong
Ayakan Berat (g)

No. 100 408.9

No. 200 380.7

PAN 443.0

Sesudah Diayak

No. 100 = 408.9 – 408.9 = 0

No. 200 = 387.6 – 380.7 = 6.8

PAN = 486.2 – 443.0 = 43.2


Tabel 4.2 : Berat Semen Yang Tertahan Disaringan
Nomor Saringan Tertahan Individu (g)

No. 100 0

No. 200 6.8

Pan 43.2

27
4.1.7 Pembahasan

0
Berat semen tertahan di ayakan No. 100 : 50 𝑥 100% = 0
6.8
Berat semen tertahan di ayakan No. 200 : 𝑥 100 % = 13.6 %
50
43.2
Berat semen tertahan di PAN : 50 𝑥 100 % = 86.4 %

Tabel 4.3 : Presentase semen Yang Tertahan di Ayakan

Tertahan Individu (gram) Kehalusan


Nomor Saringan
%

No. 100 0.0 0%

No. 200 6.8 13.6 %

Pan 43.2 86.4 %

Jumlah 50.00 100 %

Pada percobaan pertama diketahui berat semen yang tertahan di


saringan No. 100 adalah 0g/0 %, sedangkan pada saringan No. 200
berat semen yang tertahan adalah 6.8g/13.6 % dan yang lolos di PAN
sebanyak 43.2g/86.4%. Pada pengujian kehalusan ini semua hasilnya
memenuhi syarat karena pada ayakan No. 100 yang tertahan adalah 0%,
pada ayakan No. 200 maksimal semen yang tertahan 11g/22%.

4.1.8 Kesimpulan
Pada percobaan tersebut dibuktikan bahwa kehalusan semen masih
bagus, semen gresik lolos semua pada saringan no. 100, tetapi tertahan
13.6 % di saringan no. 200. Hal ini akan berpengaruh pada waktu ikat
semen yang cenderung cepat.

4.1.9 Saran

Pada saat diayak, disarankan agar jangan sampai ada semen yang
tumpah karena akan mengakibatkan perbedaan total berat semen

28
BAB V

PENGUJIAN KEKEKALAN SEMEN (DENGAN KUE REBUS)

5.1 Uji Kekekalan Semen


5.1.1 Tujuan
Menentukan kekekalan semen Portland dengankue rebus
5.1.2 Dasar Teori
Kekekalan pasta untuk disebut juga sebagai kemulusan pasta
semen adalah merupakan suatu ukuran dari kemampuan pengembangan
dari bahan - bahan campurannya dan kemampuan untuk
mempertahankan volumenya setelah mengikat.
Ketidakmulusan suatu pasta semen disebabkan oleh terlalu
banyaknya jumlah kapur bebas yang pembakarannya tidak sempurna,
serta magnesia yang terdapat dalam campuran tersebut. Kapur bebas
akan mengikat air dan kemudian menimbulkan gaya-gaya ekspansi
yang akhirnya timbul retakan-retakan pada permukaan semen.

Rumusan Perhitungan Diameter dan Tebal Bahan Uji :


𝑷𝒆𝒏𝒋𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉𝒂𝒏 𝟒 𝒔𝒊𝒔𝒊 𝒅𝒊𝒂𝒎𝒆𝒕𝒆𝒓 𝒔𝒆𝒕𝒊𝒂𝒑 𝒔𝒂𝒎𝒑𝒍𝒆
𝟒
= 𝑯𝒂𝒔𝒊𝒍 𝒓𝒂𝒕𝒂 − 𝒓𝒂𝒕𝒂 𝒅𝒊𝒂𝒎𝒆𝒕𝒆𝒓

𝑷𝒆𝒏𝒋𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉𝒂𝒏 𝟒 𝒔𝒊𝒔𝒊 𝒌𝒆𝒕𝒆𝒃𝒂𝒍𝒂𝒏 𝒔𝒆𝒕𝒊𝒂𝒑 𝒔𝒂𝒎𝒑𝒍𝒆


𝟒
= 𝑯𝒂𝒔𝒊𝒍 𝒓𝒂𝒕𝒂 − 𝒓𝒂𝒕𝒂 𝒌𝒆𝒕𝒆𝒃𝒂𝒍𝒂𝒏

29
5.1.3 Peralatan

1 2 3 4

5 6 7 8 9
Gambar 5.1 : Peralatan Uji Kekekalan
1. Cincin besi berdiameter 10cm
2. Neraca analitik
3. Plat Kaca
4. Spatula
5. Mixer
6. Cawan
7. Saringan No.100
8. Jangka Sorong
9. Panci Rebus
5.1.4 Benda Uji

1 2
Gambar 5.2 : Bahan Uji Kekekalan Semen
1. Semen Gresik 650 gr
2. Air

5.1.5 Prosedur Pelaksanaan


1. Semen Menyiapkan semen sebanyak 650 gr yang sudah diayak no.
100

30
Gambar 5.3 : Takaran Semen
2. Menyiapkan air yang sesuai dengan ketika mencapai konsistensi
normal. (Kadar air = 26,3 % x 650gr =170,95gr)

Gambar 5.3 : Takaran Semen


3. Mencampur semen dan air kedalam mixer diamkan selama 15
detik.

Gambar 5.5 : Pencampuran Bahan Semen dan Air


4. Kemudian menjalankan mixer dengan kecepatan 1 (140 rpm)
selama 30 detik. Mematikan mixer selama 15 detik, sambil
membersihkan pasta yang menempel di pinggir mangkok
pengaduk. Kemudian menaikkan kecepatan mixer menjadi 2 (280
rpm) dan jalankan mixer selama 1 menit

Gambar 5.6 : Proses Pengadukan Bahan


5. Menggambil adukan yang sudah berupa pasta

Gambar 5.7 : Pengambilan Pasta Dari Loyang Mixer


6. Mencetak pasta seperti kue kedalam ring berdiameter 10 cm dan
tinggi bagian tengahnya 13 mm

31
Gambar 5.8 : Proses Pencetakan Pasta
7. Mendiamkan pasta selama 24 jam pada ruang lembab

Gambar 5.9 : Sebelum dan sesudah di diamkan


8. Mengukur diameter dan tebal bahan uji sebelum direbus
Uji Sample 1

Uji Sample 2

Uji Sample 3

32
Ujian Sample 4

Gambar 5.10 : Pengukuran Sampel Sebelum Direbus


9. Merebus pasta berupa kue selama 3jam

Gambar 5.11 : Saat Perebusan


10. Setelah itu mengangkat kue dan memperhatikan keadaan fisiknya

Gambar 5.12 : Pengamatan Pasta Kue Rebus


11. Mengukur diameter dan tebal bahan uji setelah direbus
Sampel 1

33
v
Sample 2

Sample 3

Sample 4

Gambar 5.13 : Pengukuran Sampel Setelah Direbus

34
6.3.5 Analisis
Tabel 5.1 : Dimensi Kue Sebelum Direbus

PEMERIKSAAN 1 2 3 4

Diameter Sample 1 10,11 10,07 10,06 10,17

Diameter Sample 2 10,10 10,20 10,20 10,06

Diameter Sample 3 10,46 10,46 10,46 10,47

Diameter Sample 4 10,16 10,16 10,17 10,11

Tebal Sample 1 0,66 0,65 0,64 0,61

Tebal Sample 2 0,59 0,54 0,57 0,52

Tebal Sample 3 0,60 0,62 0,61 0,61

Tebal Sample 4 0,60 0,64 0,63 0,67

Tabel 5.2 : Rata-Rata Dimensi Kue Rebus Setelah Direbus


PEMERIKSAAN 1 2 3 4 RATA-RATA
Diameter Sample 1 10,11 10,07 10,06 10,17 10,1025
Diameter Sample 2 10,10 10,20 10,20 10,06 10,14
Diameter Sample 3 10,46 10,46 10,46 10,47 10,4625
Diameter Sample 4 10,16 10,16 10,17 10,11 10,15
Tebal Sample 1 0,66 0,65 0,64 0,61 0,64
Tebal Sample 2 0,59 0,54 0,57 0,52 0,555
Tebal Sample 3 0,60 0,62 0,61 0,61 0,67
Tebal Sample 4 0,60 0,64 0,63 0,67 0,695

35
Tabel 5.3 : Dimensi Kue Rebus Setelah Direbus
PEMERIKSAAN 1 2 3 4

Diameter Sample 1 10,02 10,16 10,11 10,10

Diameter Sample 2 10,02 10,025 10,14 10,17

Diameter Sample 3 10,36 10,37 10,43 10,385

Diameter Sample 4 10,11 10,15 10,155 10,15

Tinggi Sample 1 0.67 0.68 0.66 0.71

Tinggi Sample 2 0.59 0.60 0.61 0.62

Tinggi Sample 3 0.61 0.66 0.656 0.61

Tinggi Sample 4 0.73 0.66 0.61 0.63

Table 5.4 : Rata-Rata Dimensi Kue Rebus Setelah Direbus


PEMERIKSAAN 1 2 3 4 RATA-RATA

Diameter Sample 1 10,02 10,16 10,11 10,10 10,0975

Diameter Sample 2 10,02 10,025 10,14 10,17 10,08875

Diameter Sample 3 10,36 10,37 10,43 10,385 10,39125

Diameter Sample 4 10,11 10,15 10,155 10,15 10,14125

Tebal Sample 1 0.67 0.68 0.66 0.71 0,68

Tebal Sample 2 0.59 0.60 0.61 0.62 0,605

Tebal Sample 3 0.61 0.66 0.656 0.61 0,634

Tebal Sample 4 0.73 0.66 0.61 0.63 0,6575

36
Tabel 5.5 : Keretakan Sample Sebelum Direbus

KONDISI KERETAKAN/PECAH PADA KUE REBUS SAAT KERING


(sebelum direbus)

Sample 1 Tidak ada pecah maupun keretakan

Sample 2 Pecah menjadi 3 keping

Sample 3 Pecah menjadi 4 keping

Sample 4 Pecah menjadi 3 keping

Tabel 5.6 : Keretakan Sample Setelah Direbus

KONDISI KERETAKAN/PECAH PADA KUE REBUS (setelah direbus)

Sample 1 Tidak ada pecah maupun keretakan

Sample 2 Pecah menjadi 3 keping

Sample 3 Pecah menjadi 5 keping

Sample 4 Pecah menjadi 3 keping

5.1.7 Pembahasan
Tabel 5.7 : Perbandingan Rata-rata Keseluruhan Sample
Rata-rata Rata-rata Rata-rata Rata-rata Kondisi Kondisi
Sample diameter diameter ketebalan ketebalan fisik fisik
awal akhir awal akhir awal akhir
(Pecah) (Pecah)
1 10,1025 10,0975 0,64 0,68 - -
2 10,14 10,08875 0,555 0,605 3 3
3 10,4625 10,39125 0,67 0,634 4 5
4 10,15 10,14125 0,695 0,6575 3 3

37
Pada pengujian kekekalan Semen Gresik di dapatkan hasil bahwa 4
buah kue rebus yang dibuat dan direbus selama 3 jam hanya ada 1 yang
tidak mengalami keretakan, keretakan maupun yang tidak retak tersebut
dapat dikarenakan beberapa factor yaitu :
 Kualitas semen yang telah lama terbuka sehingga sebagian ada
yang telah mengeras dan daya ikat yang rendah dan sebagian ada
yang daya ikat yang tinggi, sehingga sebagian dari sample ada yang
pecah dan ada juga yang tidak pecah
 Senyawa kapur pada semen belum padam sempurna, sehingga pada
saat mengering menjadi pecah dan timbul juga retakan kecil di
permukaan sample
 Kadar air yang pas menentukan kekekalan semen. Jika air yang
terlalu banyak akan mengakibatkan banyak rongga dari air yang
menguap sehingga retakanpun akan terjadi. Begitu juga sebaliknya,
jika kekurangan air akan mengakibatkan daya ikat semen akan
berkurang, bahkan ada yang tidak terjadi interaksi antara semen
dan air.

5.1.8 Kesimpulan
Pada pengujian kekekalan Semen Gresik dibutuhkan campuran air
yang pas serta kualitas semen pun juga diperlukan untuk membuat
kualitas adonan pasta yang optimal.

5.1.9 Saran
Pada saat melakukan pengujian disarankan untuk berhati-hati
dalam mencetak pasta pada ring dan memastikan tidak ada rongga
dalam adonan pasta, karena akan mengurangi kekuatan pasta.

38
BAB VI
PENGUJIAN KEKUATAN TEKAN MORTAR SEMEN GRESIK
6.1 Uji Meja Getar
6.1.1 Tujuan
1. Untuk mengetahui kadar air yang sesuai untuk digunakan sebagai
campuran mortar.
2. Menggunakan alat uji meja getar dengan terampil.
6.1.2 Dasar Teori
Berdasarkan referensi AASHTO, ASTM, dan PEDC Bandung
syarat pelebaran mortar yang memenuhi syarat setelah diuji di meja
getar, diameter pelebaran mortar harus antara 100 – 115% dari diameter
semula. Apabila syarat belum tercapai maka kadar yang digunakan
harus diubah, kadar air yang digunakan untuk pengujian sesuai standard
ASTM dimulai dari 30% dari berat semen yang digunakan.

6.1.3 Peralatan

1. Neraca
2. Wadah air
3. Spatula.
4. Alat pengaduk.
5. Setakan kubus 5x5x5 cm.
6. Meja getar

Gambar 6.1 : Peralatan Uji Tekan Mortar

39
6.1.4 Benda Uji
1. Semen Gresik
2. Air suling
3. Pasir silika.

Gambar 6.2 Bahan uji Tekan Mortar

6.1.5 Prosedur Pelaksanaan


1. Menimbang pasir silika sebanyak 1375 gram.

Gambar 6.3 : Menimbang Pasir Silika Sesuai Takaran

2. Menimbang semen sebanyak 500 gram.

Gambar 6.4 : Menimbang Semen Sesuai Takaran

3. Menimbang air sebanyak 150 gram (30% dari berat semen)

40
.

Gambar 6.5 : Menimbang Air Sesuai Takaran

4. Memasukan pasir silika secara perlahan bercampur semen dalam


mangkuk alat pengaduk.

Gambar 6.6 : Pencampuran Pasir Silika Dengan Semen

5. Memasukkan air ke dalam mixer.

Gambar 6.7 : Penuangan air Kedalam Loyang Mixer

6. Menjalankan mesin pengaduk dengan kecepatan +5 selama 30


detik.

41
Gambar 6.8 : Pengadukan Berkecepatan 1

7. Menghentikan mesin pengaduk, kemudian naikkan kecepatan putar


285 (kurang lebih 10 rpm) kita jalankan 10 detik.

Gambar 6.9 : Pengadukan Berkecepatan 2

8. Menghentikan mesin pengaduk dan bersihkan mangkuk, kemudian


biarkan mortar selama 75 detik.

Gambar 6.10 : Membiarkan Adonan Selama 75 Detik

9. Jalankan mesin pengaduk dengan kecepatan 285 (kurang lebih 10


rpm) selama satu menit.

42
Gambar 6.11 : Pengadukan Berkecepatan 2

10. Melakukan percobaan leleh dengan mengisi mortar ke dalam cincin


yang telah diletakkan di atas meja leleh, cincin isi dalam dua lapis,
dimana setiap lapis dipadatkan dengan cara ditumbuk sebanyak 20
kali. Ratakan permukaan mortar dengan sendok perata dan
angkatlah cincin kemudian getarkan meja leleh sebanyak 25 kali
selama 15 detik

Gambar 6.12 : Proses Uji Coba Meja Getar 1


11. Ukurlah diameter leleh, sekurang-kurang pada 4 tempat dan ambil harga
rata-ratanya. Apabila diameter leleh yang disyaratkan belum didapat,
ulangi langkah-langkah diatar dengan mengubah kadar air. (Kadar air
ditambah 2% dai berat total semen = 10gram)

43
Gambar 6.13 : Proses Uji Coba Meja Getar 2

6.1.6 Analisa

Tabel 6.1 : Rata-rata pelebaran mortar

No. Kadar Air D1 D2 D3

1 30% (150g) 13.5 16 15

2 32% (160g) 11 10 9.5

6.1.7 Pembahasan

Rumus perhitungan rata-rata pelebaran mortar


 Kadar air 30% (150 gram)
𝑑1+𝑑2+𝑑3+𝑑4
Rata-rata = 4
13.5+16+15+13
= 4

= 14.376 (cm)
 Kadar air 32% (160 gram)
𝑑1+𝑑2+𝑑3+𝑑4
Rata-rata = 4

11+10+9.5+11.5
= = 10.5 cm
4

44
Tabel 6.2 : Ukuran Mortar

UJI UKURAN (cm) Rata-Rata

D1 D2 D3 D4 (cm)

1 13.5 16 15 13 14.375

2 11 10 9.5 11.5 10.05

Hasil dari percobaan awal setelah uji meja getar mengalami keretakan
yang sangat tidak sesuai ketentuan karena rata-ratanya melebihi 14cm.
Dan pada saat setelah menambahkan 2% air dengan di uji meja getar lagi
sudah memenuhi.

6.2 Pencetakan Mortar


6.2.1 Tujuan
Agar dapat menggunakan alat pencetak mortar dengan terampil.
6.2.2 Dasar Teori

Referensi yang digunakan yaitu mengikuti standar SII. Cetakan yang


digunakan adalah kubus dengan ukuran 5x5x5=x cm. Cetakan diisi
sebanyak dua lapis dan tiap lapis dipadatkan dengan penumbuk
sebanyak 16 kali tumbukan setiap lapis.
6.2.3 Peralatan
1. Spatula
2. Cetakan Kubus 5x5x5

45
Gambar 6.14 : Peralatan

6.1.4 Prosedur Pemasangan


1. Setelah diameter leleh yang disyaratkan didapat, cetaklah mortar
dengan cetakkan kubus 5x5x5 cm, cetakkan diisi dalam dua lapis
dimana setiap lapisan dipadatkan dengan menumbuk sebanyak 16
kali dalam 4 putaran. Keseluruhanwaktu yang dipergunakan untuk
mencetak mortar tidak boleh lebih dari 2 menit.

Gambar 6.15 : Proses Pencetakan Mortar

2. Meratakanpermukaan mortar dengan sendok perata, kemudian


simpan di ruang lembab udara selama 14 jam.

Gambar 6.16 : Proses Pendiaman Mortar

46
3. Membuka cetakkan mortar

Gambar 6.17 : Proses Pembukaan Cetakan Mortar

4. Menimbang mortar setelah lepas dari cetakkan.

Gambar 6.18 : Proses Penimbangan Mortar

5. Mengukur mortar

Gambar 6.19 : Pengukuran mortar

6. Merendam mortar dalam air selama 24 jam.

47
Gambar 6.20 : Proses Perendaman

7. Menghitung berat setelah direndam

.
Gambar 6.21 : Pengukuran berat mortar setelah perendaman
8. Mengukur Mortar setelah selesai direndam

Gambar 6.22 : Pengukuran mortar setelah peredaman

48
6.3 Uji Tekan Mortar
6.3.1 Tujuan
1. Untuk mengetahui nilai kekuatan mortar pada umur tertentu agar
dapat menentukan mutu semen.
2. Agar dapat mempergunakan alat tekan mortar dengan terampil.
6.3.2 Dasar Teori
Kekuatan tekan mortar adalah beban di setiap satuan luas
permukaan benda uji sehingga menyebabkan mortar hancur. Kekuatan
mortar diperoleh dari benda uji berbentuk kubus yang berukuran 5x5x5
cm yang terbuatdaricampuran antara semen, pasir silica, dan air dengan
kadar tertentu.

𝑷
Kuat Tekan Mortar =𝑨(kg/cm2)

Keterangan: P = Beban maksimum (kg)


A = Luas permukaan benda uji (cm2)
6.3.3 Peralatan
1. Mesin uji tekan.

Gambar 6.23 : Mesin Uji Tekan

6.3.4 Prosedur Pelaksanaan


1. Meletakkan besi silinder pada mesin uji tekan.

49
Gambar 6.24 : Penataan Posisi Pada Alat Uji Tekan
2. Memutar tombol load rate hingga angka 4.

Gambar 6.25 : Memutar Tombol Load Rate


3. Menekan tombol start.

Gambar 6.26 : Menekan Tombol Start


4. Menunggu jarum merah bergerak hingga berhenti dan jarum hitam
turun.

Gambar 6.27 : Pengamatan Pada Layar Uji Tekan


5. Memutar tombol kecepatan load rate hingga angka 0 dan Amati
hasil uji tekan.

50
6.3.5 Analisis
Tabel 6.3 : Berat Mortar Sebelum di rendam air
Mortar Berat (gr)

1 282.3

2 273.3

3 281.4

Tabel 6.4 : Ukuran Mortar sebelum di rendam air


Tepi Kiri Tengah Tepi Kanan
MORTAR
1 5.11 5.12 5.1

2 5.13 5.11 5.1

3 5.11 5.1 5.1

Tabel 6.5 : Berat Mortar Setelah di rendam air


Berat (gr)
Mortar
1 282.1

2 274.7

3 283.0

Tabel 6.6 :Ukuran Mortar Setelah di rendam air


Tepi Kiri Tengah Tepi Kanan
MORTAR
1 5.1 5.1 5.11

2 5.1 5.1 5.09

3 5.09 5.1 5.1

51
6.3.6 Pembahasan

Hitungan Kuat Tekan Mortar

 Mortar 1
𝜌
Kuat Tekan Mortar =𝐴 (kg/cm2)
𝜌
65 = 25

𝜌 =1.625 (kg/cm2)
 Mortar 2
𝜌
Kuat Tekan Mortar =𝐴 (kg/cm2)
𝜌
58 = 25

𝜌 =1.450 (kg/cm2)
 Mortar 3
𝜌
Kuat Tekan Mortar =𝐴 (kg/cm2)
𝜌
55 = 25

𝜌 =1.375 (kg/cm2)

Kekuatan mortar dipengaruhi oleh kadar air jika campuran


kurang air maka semen tidak terikat dengan sempurna pada saat uji
getar dan sebaliknya jika kebanyakan air maka mortar akan terlalu
encer dan diameter lelehnya lebih 115% seperti semula.
6.3.7 Kesimpulan
Semakin banyak air, maka kandungan mortar akan mudah
hancur, begitu juga jika mortar kekurangan air, akan mudah rapuh
dan hancur.
6.3.8 Saran
1. Pada saat menggetarkan meja getar getaran harus konstan untuk
mengetahui hasil yang maksimal.
2. Pada saat menumbuk harus menumbuk dengan kuat agar
mortar padat

52
53